Junk Food/Fast Food VS Makanan Indonesia

Aku tak terlalu ingat jelas, kapan aku mulai kenal yang namanya junk food dan fast food. Mungkin pas remaja. Dan memang waktu itu di kotaku, makanan seperti itu hampir tidak ada. Yang ada ya makanan biasa, seperti soto, pecel, rawon, rujak petis, tahu telor, mi (goreng/rebus), bakso, dll. Waktu aku kecil, belum ada yang namanya ayam goreng Kentucky atau semacamnya. Jadi, kalau orang tuaku mengajak kami sekeluarga makan di luar, biasanya ya makannya soto atau bakso. Seingatku, yang paling sering kami kunjungi adalah soto atau bakso Pak Jan, depan kolam renang Purboyo. Sering itu bukan berarti setiap akhir pekan kami andok makan di luar. Tidak. Bisa bangkrut nanti. Tapi mungkin ya … sebulan sekali.

Kadang-kadang kalau tidak pergi keluar bersama-sama, Bapak akan pergi ke Kedai Pak Jan itu sambil membawa rantang aluminium untuk beli soto atau bakso di situ. Lebih ramah lingkungan ya? 🙂

Nah, menginjak remaja, seingatku mulai ada iklan-iklan tentang makanan cepat saji. Dan entah bagaimana aku mulai tahu tentang ayam dan kentang goreng, yang disajikan dengan minuman bersoda. Kalau lihat di iklan, kok tampaknya enak betul. Karena di kotaku belum ada makanan seperti itu, aku hanya bisa menikmatinya kalau sedang liburan ke Jogja. Seingatku dulu di Jalan Solo, dekat Museum Affandi ada Gelael dan di situ ada gerai ayam goreng Kentucky. Tapi bukan berarti, setiap ke Jogja lalu makan ayam goreng itu. Tidak. Tapi rasanya aku suka sekali kalau diajak makan ayam goreng itu. Rasanya seperti “naik pangkat”, mendadak seperti mbak-mbak atau mas-mas cakep di iklan-iklan makanan cepat saji itu. *Halah, lebay!*

Suatu ketika, dikabarkan ada gerai CFC hadir di kotaku. Mendadak gerai itu jadi tempat makan favorit. Senengnya minta ampun kalau bisa makan ke situ.

Sekarang waktu tinggal di Jakarta, aku jadi sangat biasa menjumpai gerai makanan semacam itu. Apalagi di sini di tiap sudut jalan ibaratnya ada mal. Dan di dalam mal, pasti ada gerai makanan cepat saji. Lalu apakah aku jadi lonjak-lonjak kegirangan kalau lihat dan mampir makan di gerai semacam itu? Sayangnya tidak. Kalau aku makan ayam goreng atau mampir makan di gerai makanan cepat saji, itu berarti selera makanku lagi error. Kacau. Alias, aku tidak tahu mau makan apa. Dan kadang aku makan di tempat seperti itu semata-mata karena tidak punya pilihan lain atau karena diajak teman (dan temanku maunya cuma makan ayam goreng).

Kalau mau jujur, sepertinya aku sudah sampai tahap bosan melihat fast food dan junk food itu. Bukan bosan karena dulu sering makan. Enggak juga. Wong nyatanya aku juga tidak sering makan junk food/fast food. Mungkin kebosananku itu karena menurutku, makanannya begitu-begitu saja. Dan belakangan, aku sering bermasalah dengan rasa gurihnya. Menurutku makanan-makanan itu terlalu asin. (Padahal aku suka makanan asin dan gurih.) Atau vetsinnya sudah terlalu banyak ya? Entahlah.

Akhirnya sekarang kalau makan di luar dengan suamiku, kami justru lebih memilih makanan Indonesia. Favorit kami adalah masakan Padang atau masakan Menado. Menurutku, makanan Indonesia rasanya lebih nendang. Rasanya juga lebih kaya, mungkin karena bumbunya macam-macam.

Hmm … kalau kamu, suka fast food/junk food atau makanan Indonesia?

Advertisements

Kakak, Bunda, dan Bu Haji

Awal-awal tinggal di Jakarta dulu, aku suatu kali diajak temanku untuk membeli susu buat anaknya yang masih balita. Aku menemani dia itung-itung supaya mengenal tempat perbelanjaan yang tidak terlalu jauh dari tempat tinggalku. Sesampainya di bagian penjualan susu, pramuniaga yang berjaga dengan sigapnya langsung mendekati kami, “Silakan Bunda.” Kepalaku langsung merekam sebutan Bunda tersebut. Oh, jadi sebutan ini ya yang dipakai untuk ibu-ibu. Memang sih sebutan “bunda” itu kesannya gimana gitu ya. Manis-manis lembut kayaknya.

Berikutnya, temanku mengajakku ke bagian penjualan popok sekali pakai. Istilah kerennya: pampers. Sekali lagi, pramuniaga yang bertugas, dengan fasihnya memanggil kami “bunda”. Walaupun aku cuma menemani temanku, aku ikut dipanggil bunda juga. Tapi rupanya sebutan bunda itu tidak melulu dilekatkan padaku saat aku berjalan dengan temanku. Kadang kalau aku sedang jalan sendiri di toko swalayan, para pramuniaga juga memanggilku bunda. Padahal menurutku, penampilanku “nggak bunda banget” deh. Menurutku lo, ya. Atau barangkali mereka “tertipu” dengan rambut putihku? 😀 Nah, sejak saat itu aku jadi agak gimana gitu kalau dengar istilah bunda. Kesannya kok ada udang di balik bakwan. Hmm … seperti mau bersikap manis, tapi sebetulnya mau jualan. Nggak tulus. Berlebihan? Mungkin. Tapi itulah yang ada di pikiranku. Sampai-sampai aku berpikir, seandainya kelak punya anak, aku nggak mau dipanggil bunda oleh anakku. Hihihi. Segitunya ya?

Selain sebutan “bunda”, sebutan yang lazim kudengar saat di toko adalah sebutan “kakak”. Biasanya bunyinya begini nih, “Boleh Kakaaaak ….” Dan seruan ini seragam hampir di semua toko atau pusat perbelanjaan di Jakarta. Ya ampun! Aku heran, siapa sih yang pertama kali menggunakan kalimat seruan itu? Dan cara pengucapan serta nadanya sama lo. Heran nggak sih? Coba deh jalan-jalan di Jakarta, maka kamu akan biasa dengan kalimat seruan ini.

Selain sebutan Bunda dan Kakak, ada lagi sebutan yang menurutku agak aneh. Bagiku lo, ya. Mungkin bagi kebanyakan kalian tidak. Begini ceritanya, dulu waktu awal mau pindah ke Jakarta, suamikulah yang cari rumah kontrakan. Waktu itu dia bilang begini, “Di depan rumah kita ada Bu Haji yang jualan lauk dan sayur matang.” Aku langsung menangkapnya begini, Oh … jadi ibu penjual lauk itu pernah naik haji. Sampai sekarang sebetulnya aku tidak tahu juga sih si ibu itu pernah naik haji atau tidak. Tapi aku melihat di sini sepertinya ada kebiasaan bahwa ibu-ibu yang berkerudung biasa dipanggil Bu Haji. Jadi dulu satu gang di tempat tinggalku yang lama ada beberapa Bu Haji. Dan aku tidak pernah memverifikasi atau menegaskan atau mencari tahu (halah banyak amat sih istilahnya), apakah mereka pernah naik haji betul atau tidak. Dan itu tidak penting bagiku. Sampai suatu kali aku naik bus patas, lalu di kejauhan ada sekelompok ibu-ibu berkerudung. Mereka memberi isyarat untuk naik bus yang kutumpangi. Nah, pas ibu-ibu itu naik, kondekturnya bilang, “Mari Bu Haji!” Nah, aku seketika jadi bertanya-tanya, apakah kondektur ini kenal dengan ibu-ibu itu ya? Maksudku, apakah kondektur itu benar-benar tahu bahwa ibu-ibu itu memang pernah naik haji? Adakah teman-teman yang bisa menjelaskan hal ini?

Pentingnya Naik Kendaraan Umum di Jakarta

Selama di Jakarta, aku ke mana-mana naik kendaraan umum. Ini termasuk sesuatu yang baru bagiku karena sebelumnya saat masih di Madiun atau di Jogja, aku biasanya naik sepeda ontel atau sepeda motor. Waktu tinggal di asrama aku juga naik kendaraan umum ding. Tapi itu untuk jarak yang tidak terlalu jauh. Dan begitu keluar asrama, aku kembali bermotor ria.

Dan kini, setelah sekian belas tahun terbiasa naik sepeda motor ke mana-mana, aku mesti membiasakan diri naik kendaraan umum? Rasanya? Aneh. Hehehe. Awalnya rasanya tidak bebas dan ini bisa dibilang salah satu cara untuk melatih kesabaran. Sungguh. Soalnya kita mesti menunggu datangnya kendaraan umum yang (seringnya) tidak bisa diprediksi–kecuali memang kendaraannya banyak sih. Dan belum lagi soal kelakuan sopir dan para penumpangnya yang kadang ajaib. Kalau ketemu sopir yang anteng mengemudikan kendaraannya, Anda mesti bersyukur. Yang sering kujumpai adalah sopir dan para penumpang yang merokok. 😦 Bayangkan, dalam kendaraan umum yang padat, kadang masih saja ada penumpang yang merokok. Pengen kubanting deh rasanya tuh orang. Mbok ya jangan egois to. Sudah di dalam angkot itu kita berebut oksigen, e … masih ditambahi asap rokok.

Sabtu pagi yang lalu, ada temanku yang posting di FB cerita tentang anaknya yang “mengomel” karena sang ibu (ya temanku itu tadi) mengajak anaknya naik kendaraan umum ketika mau ke pusat perbelanjaan. Si anak bilang, coba kalau ibu mau belajar menyetir, kan mereka tidak perlu “menderita” di dalam angkot. Yah, memang harus diakui bahwa naik kendaraan umum di Jakarta–dan kupikir di Indonesia pada umumnya–itu bukan pengalaman yang kurang menyenangkan. Tapi ya, kalau kita mau ambil sisi positifnya selalu bisa saja sih. Itu tergantung kreativitas kita saja kan? 😉

Nah, dari postingan temanku itu tadi, aku bertanya-tanya, “Sebetulnya anak perlu nggak diajak atau diperkenalkan naik kendaraan umum?” Pertanyaan ini berlaku bagi orang yang punya kendaraan pribadi atau yang selalu punya uang lebih untuk naik taksi. Menurutku, meskipun naik kendaraan umum itu tidak enak, kurasa seorang anak perlu diajak naik kendaraan umum. Kenapa? Karena inilah wajah Indonesia yang sebenarnya. Hihihi … segitunya! Rasanya memang tidak terlalu berlebihan sih aku ngomong begitu. Karena dalam kendaraan umum kita bisa tahu “O … ternyata sopir angkot itu suka ngebut karena harus berebut penumpang. yang kalau dihitung kasar, rata-rata itu seharga dua atau tiga ribu rupiah (saja).” Yaaa … pemikiran-pemikiran semacam itulah. Ini Indonesia banget kan ya? 😀 Dan sungguh, perlu kutegaskan lagi, naik kendaraan umum itu adalah salah satu cara terampuh melatih kesabaran. 😀

Masih cerita di hari Sabtu yang lalu, aku naik angkot ke sebuah pusat perbelanjaan dengan suamiku. Angkot yang kami tumpangi itu cukup sepi. Sampai agak jauh, penumpangnya hanya kami berdua. Di depan pak sopir ditemani seorang lelaki setengah baya. Mereka bercakap-cakap dalam bahasa Jawa dengan suara yang agak keras, jadi aku bisa mendengar isi obrolan mereka. Menarik cerita mereka. Ini sedikit kutipan obrolan mereka:
+ Jadi sopir sekarang itu kalau sehari dapat 100-150 ribu, seperti tidak dapat apa-apa. Apalagi kalau keluarga kita ada di sini. Habis sudah uang segitu untuk makan dan keluarga.
– Tapi Bapak kan enak, sudah jadi sopir pribadi.
+ Ah, ya sama saja. Kalau kamu dapat majikan yang baik, itu baru enak. Kalau tidak, kamu ibaratnya cuma bisa menangis.
– Betul juga Pak.

Mendengar percakapan mereka, mendadak aku teringat salah satu isi spanduk seorang calon gubernur DKI. Kira-kira seperti ini isinya: “Enak tinggal di Jakarta. Banyak gratisannya. Sekolah gratis, layanan kesehatan gratis.” Aku jadi penasaran, itu si bapak yang nyalon jadi gubernur pernah naik angkot nggak ya keliling Jakarta? Kalau belum, aku ingin menyarankan, “Pak, coba deh seminggu sekali menyamar jadi warga biasa dan naik kendaraan umum keliling Jakarta. Mungkin Bapak bisa dapat masukan yang lebih cerdas untuk masang tulisan di spanduk.”

Dari Payung Sampai Say Hello To Yellow

Baru kemarin posting, sekarang sudah posting lagi. Tumben rajin ya? 😀

Sebetulnya aku cuma ingin menuliskan beberapa hal yang kuanggap penting; daripada besok-besok kelupaan.

Rumah-Gloria

Oke, aku ingin bercerita tentang beberapa hal yang kualami kemarin. Kemarin aku datang ke MOI (Kelapa Gading), ada ICRE (Indonesian Christian Retail Expo) /pameran buku Kristen. Sebetulnya acaranya sudah berlangsung dari hari Kamis tanggal 10 lalu. Tapi kemarin ada teman yang hendak memutar film pendek di sana, jadi aku sengaja datang hari Senin.

Sebelum ke MOI aku harus mampir ke kantor distributor buku Gloria dulu. Waktu aku beli buku di sana tempo hari, payungku ketinggalan. Bagiku, payung adalah salah satu “harta” karena dia adalah teman yang bisa diandalkan di hari panas dan hujan. Dulu aku kurang begitu peduli dengan payung. Tapi sejak di Jakarta, payung adalah andalanku. Kalau panas menyengat, payung itu bisa melindungi kepalaku. Lumayanlah ketimbang langsung terpapar sinar matahari. Lagi pula, kantor itu searah kalau aku mau MOI.

Setelah dari Gloria, aku melanjutkan perjalanan untuk ke MOI. Jadi aku mesti keluar dari kompleks pertokoan dan berjalan menyeberangi perempatan Jalan Perintis ke arah Kelapa Gading. Menyeberangi jalan itu bagaikan menyeberangi samudera menurutku. Lebar dan ya ampun … kendaraan seperti tumpah. Sumpe deh, menyeberangi jalan itu dengan jalan kaki di bawah sinar matahari terik bukan hal yang menyenangkan.

Saat akan menyeberang, kulihat ada seorang pedagang yang memakai sepeda (entah jualan apa) yang juga menyeberang. Aku berusaha untuk ikut dengan si bapak itu. Lumayan kan kalau ada teman menyeberang. Ketika sampai di separator jalan, ada satu bapak tukan sol sepatu yang mau menyeberang juga.

Entah kenapa ya, aku jadi terharu melihat dua bapak ini. Aku sendiri cuma membawa tas yang kuselempangkan di pundak, dan tujuanku selanjutnya adalah ke mal, untuk menonton pameran. Tapi dua bapak itu? Mereka berpanas-panas untuk mencari penghidupan. Aku sendiri sebetulnya tidak menikmati menyeberangi jalanan yang bagaikan samudera di bawah matahari yang terik. Tapi angkot yang akan kutumpangi ada di seberang. Mau tak mau mesti jalan kaki kan?

Kendaraan umum vs Kendaraan pribadi

Pengalamanku menyeberang jalan ini entah bagaimana mengingatkan aku pada pertanyaan yang dilontarkan tetanggaku ketika pertama kali dia pindah ke kontrakan sebelahku.
“Tidak punya kendaraan ya, Mbak?”
“Enggak.”
“Kenapa?”
“Oh, saya ke mana-mana naik kendaraan umum kok. Itung-itung untuk mengurangi kemacetan Jakarta.”

Dan tetangga baruku itu lalu melanjutkan dengan menjelaskan bahwa dia punya dua mobil karena dia bekerja di bank. Dan dia bertugas untuk mencairkan dana yang jumlahnya milyaran. Jadi, biar kliennya percaya, maka dia mesti naik mobil, gitu deh. Eh ini beneran omongan dia sendiri lo. Cuma yang membuatku heran, kenapa tiap hari yang dia pakai ke kantor adalah sepeda motornya ya? Yang menurutku ajaib adalah, di sela-sela jam kantornya, dia selalu sempat pulang ke rumah kira-kira 1 jam untuk manasi mobil. Baru kali ini aku lihat ada pegawai bank yang bisa pulang untuk sekadar manasi mobil. Aku mulai kepo deh! Hihihi. Ya sutra lah, biar itu urusan tetanggaku. Kali dia memang yang punya bank. 😀

Jawabanku kedengarannya terlalu idealis barangkali. Dan memang sampai sekarang aku dan suamiku belum berminat untuk membeli kendaraan sendiri. Entah ya, kok rasanya punya kendaraan sendiri di Jakarta itu tidak terlalu menarik. Kenapa? Membayangkan harus mengendarai kendaraan sendiri di tengah kemacetan? Oh no! Membayangkannya saja sudah capek duluan. Mendingan aku menyeberang jalan panas-panas saja deh. Kalau badan masih kuat ya naik kendaraan umum. Kalau tidak, sediakan saja uang ekstra untuk naik taksi. Kalau tidak, ya di rumah saja. 😀

Cheng Cheng Po dan Say Hello to Yellow

Oke, lanjut ke perjalananku ke MOI. Akhirnya aku sampai di MOI dan bisa menikmati hawa dingin buatan di dalamnya. Sekitar pukul 15.00, aku sudah bersiap duduk di salah satu kursi-kursi yang ada depan panggung. Ada dua film pendek yang diputar. Yang pertama berjudul Cheng Cheng Po, dan yang kedua berjudul Say Hello To Yellow. Dua-duanya film anak-anak dengan tema besar multikultur.

Film Cheng Cheng Po ini mendapat Piala Citra tahun 2008. Ceritanya tentang seorang anak Cina bernama Han yang kesulitan membayar uang sekolah. Ia terancam tidak bisa mengikuti ulangan umum. Akhirnya teman-teman membantu dengan membuat atraksi barongsai sederhana di dekat lapak bakpau ibu Han. Sederhana sih ide ceritanya. Tapi yang menarik bagiku adalah kreativitas anak-anak membuat barongsai sederhana dari kandang burung. Dan sentuhan terakhirnya juga menarik, yaitu ketika anak-anak membuat musik yang mengiringi tarian barongsai dengan alat musik sekadarnya (kalau tidak salah pakai peralatan dapur), tak jauh dari situ ada musola. Melihat atraksi dan musik itu, si penjaga musola lalu memukul bedug sehingga musik mereka menjadi lebih meriah.

Film kedua, bercerita tentang anak kota yang pindah ke desa. Dia membawa HP yang tampak keren ke sekolah seolah-olah untuk membuat teman-teman barunya menjadi terkesan. Padahal … di situ tak ada sinyal! Hihihi. Orang-orang di kampung itu biasanya naik ke sebuah bukit kalau mau menelepon. Cerita ini menyentil dampak teknologi pada anak-anak. Menurutku, film ini lucu dan cerdas. 😀 Sepertinya bisa kujadikan tontonan saat aku bosan dan bete. :p

Oya, kalau tertarik dengan film ini, mungkin bisa menghubungi teman-teman Yayasan Sahabat Gloria. Setahuku film ini dibagi gratis dan dibuat untuk anak-anak. Bisa dijadikan bahan diskusi pula untuk mereka.

Wah … lumayan panjang ya tulisanku untuk cerita sepele tentang seharian kemarin. 😀

Pisang

Salah satu makanan kegemaranku adalah pisang rebus atau pisang kukus (sama saja nggak sih?). Dan aku paling suka jika pisangnya adalah pisang kepok kuning. Lainnya itu, aku kurang suka sebetulnya. Jadi, tepatnya yang aku sukai adalah pisang kepok kuning rebus.

Di masa-masa awal aku di Jakarta, aku tidak terlalu mudah mencari pisang kepok kuning di pasar. Kalaupun ada, harganya cenderung mahal. (Mungkin aku saja yang kurang pintar mencari pisang kepok di pasar.) Saat itu, aku mulai mencari pisang lain yang bisa kumasak, dan aku menemukan pisang tanduk. Ini pisang baru, bagiku. Bagiku lo ya. Mungkin tidak bagi teman-teman yang lain. Dan memang aku baru makan pisang tanduk itu ya pas aku di Jakarta. Sebelumnya aku hanya tahu pisang susu, pisang raja, pisang kepok, dan pisang uter.

Sejak mengenal pisang tanduk, aku kadang-kadang membelinya saat ke pasar. Karena kurang suka makanan yang digoreng, aku biasanya mengukusnya. Atau kadang aku bakar di atas wajan antilengket, lalu ditaburi keju dan cokelat mesis. Enaaak! Ada satu penjual langgananku dulu saat di Pasar Perumnas Klender. Pisang tanduknya memang tak terlalu besar;biasanya ia jual 5 ribu dapat 3. Biasanya saat bulan puasa, pisang tanduk harganya mendadak melejit. Jadi, aku absen makan pisang tanduk selama bulan puasa. Biar teman-teman yang berpuasa saja yang mengonsumsinya. Aku tak cari camilan yang lain saja. 😀

Selain pisang tanduk, pisang lain yang kukenal pertama kali saat di Jakarta adalah pisang uli. Awalnya karena ada pedagang makanan yang lewat di rumahku dulu. “Buuuus ….!” begitu si bapak menjajakan dagangannya. Aku penasaran dong. Waktu dia lewat, kulihat dia ternyata menjajakan aneka makanan yang direbus, tape ketan, telur asin, dan apa lagi ya? Lupa aku. Yang jelas, dia tidak menjual gorengan. Yang pertama kali menarik perhatianku adalah pisang rebus dan kacang bulat-bulat yang akhirnya aku tahu itu namanya kacang bogor. Dua makanan itu yang akhirnya sering kubeli. Waktu pertama kali memakan pisang rebus itu, aku mikir kok ini pisangnya bukan pisang kepok ya? Tidak seenak pisang kepok kuning sih, tapi lumayanlah. Harganya juga tidak mahal-mahal amat. Seingatku seribu dapat tiga atau dua.

Besoknya waktu beli lagi, aku tanya ke si penjual, “Pak, ini pisang apa sih?”
“Pisang uli,” jawabnya ramah. Dan memang bapak itu ramah serta suka bercanda. Kalau belanjaanku habisnya 3 ribu, dia bilangnya “tiga juta” dengan suara keras dan agak-agak serak. Sejak itu aku jadi pelanggannya. Cukup sering aku beli makanan sama dia. Walaupun ada penjual makanan rebusan selain bapak itu, aku tak pernah beli ke pedagang lain. Selalu dia. Entah kenapa. Sepertinya memang begitu kebiasaanku. Kalau sudah langganan ke satu pedagang, aku malas berpindah ke pedagang lain–kecuali pedagang itu mulai rese atau tidak ramah lagi.

Sejak pindah ke Rawamangun, tidak kudengar lagi suara “Buuuus …!” seperti di Klender. Tapi aku kadang suka beli pisang uli di pasar pagi yang tak jauh dari rumah. Pedagang pisang yang jadi langgananku cuma satu. Si bapak penjual pisang itu tak hanya jualan pisang (uli), tapi justru lebih berjualan sayur. Dan memang aku sering beli sayur sama dia.

Kemarin si bapak penjual sayur itu memajang beberapa sisir pisang uli. Ada satu sisir pisang uli yang tampak cakep. Jadi pengin beli. Lalu kutanya, “Berapa Pak?”
“Lima ribu,” katanya. Hmmm, agak mahal pikirku. Tapi pisang uli itu cukup besar dan satu sisir isinya banyak. Ya sudah deh, aku beli aja. Sudah agak lama aku tidak makan pisang kukus. Malas nawar, lalu ulurkan uang 10 ribu. Dan, ternyata aku dapat kembalian 6 ribu. Hehehe. Memang kebiasaan deh si bapak ini; kalau aku nggak nawar malah biasanya kembaliannya dilebihin. 🙂

Catatan Seorang Silent Reader

Ada beberapa blog yang biasa aku kunjungi. Ada yang teratur aku kunjungi, ada yang tidak. Dari beberapa blog itu, aku kadang memberi komentar, kadang ya baca-baca saja. Kalau tulisannya terlalu pribadi, biasanya aku tidak meninggalkan jejak. Misalnya, si penulis menceritakan sakitnya, aku biasanya baca diam-diam saja. Kalau sudah berteman dengan narablog tersebut, ya kadang aku nulis komentar.

Aku biasa membaca blog teman–entah teman jauh atau teman dekat. Suka aja. Membaca tulisan yang mungkin kesannya remeh temeh, tentang hal sehari-hari yang juga biasa aku jumpai, kadang membuatku merasa tidak sendirian.

Tapi seperti yang sudah aku katakan tadi, aku tidak selalu memberi komentar. Baca-baca saja.

Nah, salah satu blog yang aku ikuti adalah blognya Femi.

Femi ini seingatku kukenal ketika awal-awal aku kerja dulu. Atau pas akhir masa kuliahku ya? Lupa deh. Aku tidak kenal dekat. Aku kenal dia waktu aku bergabung di Sanggar Talenta. Ini adalah sanggar penulisan. Biasanya sanggar ini mengadakan diskusi dan kemudian sama-sama membuat tulisan. Anggotanya tidak terlalu banyak. Isinya anak muda semua. Dan Femi salah satu anggotanya.

Kami biasanya berkumpul di Kanisius. Dan memang dulunya beberapa tulisan anak Sanggar Talenta yang berupa buku antologi diterbitkan oleh Kanisius. Aku terus-terang kurang begitu tahu tentang sejarah awal sanggar ini. Wong aku ikutnya pas terakhir-terakhir.

Waktu itu kami sempat menghasilkan satu buku antologi. Senang rasanya. Seingatku itu adalah pertama kalinya tulisanku muncul dalam bentuk buku. Sempat pula mau membuat buku antologi berikutnya. Tapi entah mengapa (sepertinya) batal. Sampai sekarang tidak ada kabarnya naskah itu. Padahal kami sudah dibayar.

Waktu berlalu. Aku tak pernah mendengar kabar tentang sanggar itu lagi. Suatu kali, awal-awal aku membuat blog, aku menemukan blog Femi. Isinya tentang hal-hal sehari-hari yang ia alami. Dari blognya itu aku tahu Femi beberapa waktu lalu hampir setiap akhir pekan pulang ke Jogja (dia bekerja di Jakarta). Walaupun kedua orang tuanya sudah meninggal, dia masih pulang ke Bumijo.

Salah satu tulisan Femi yang aku ingat (sepertinya tidak dipasang di blognya), adalah tulisan tentang ibunya. Tulisan itu kubaca ketika aku hadir saat doa peringatan ibunya yang berpulang. Seingatku itu adalah tulisan yang membuatku langsung mengharu biru. Aku lupa tulisan itu seperti apa. Tapi di dalam tulisan itu aku merasakan rasa sayang Femi terhadap ibunya. Tulisan Femi di blognya juga khas: singkat dan personal. Aku kadang-kadang membaca blognya–diam-diam. Lagi pula komentar di blognya juga ditutup, jadi aku tidak pernah menulis komentar di sana.

Lalu kemarin sore aku mendapat kabar bahwa Femi adalah salah satu penumpang pesawat Sukhoi yang naas. Aku masih tidak percaya. Aku masih berharap dia baik-baik saja. Tapi jika mengikuti berita, hanya keajaiban yang membuatnya bisa selamat. Ah, dia masih muda ….

Fem, padahal aku ingin membaca kelanjutan blogmu.

Blog Femi yang lain:

http://femi.blogdrive.com/

http://femiadi.wordpress.com/

Ini juga ditulis oleh Femi: http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=1059

Dan ini tentang Femi: http://www.mediaindonesia.com/read/2012/05/10/318757/37/5/Dukungan-Femi-Si-Wartawan-Cerdas-terus-Mengalir

 

 

 

Obat Malas

Aku tidak ingat sejak kapan sandal dari busa itu mulai ada di teras belakang rumahku. Tepatnya hanya beberapa jengkal di pinggir depan pintu kamar mandi. Rasanya keberadaan sandal itu sudah masuk hitungan bulan–tak hanya hitungan minggu atau hari. Memang sudah lama sih kubiarkan dia ada di situ.

Sebetulnya aku sudah berencana untuk menyikatnya sejak sandal itu teronggok begitu saja di rak sepatu depan. Sandal itu sebenarnya adalah sandal khusus untuk di dalam rumah. Tapi apa daya, waktu itu ada yang mendadak memakainya untuk lari-larian di halaman. Ya sudahlah. Mau  tak mau harus dicuci kan? Masalahnya memang aku agak dongkol waktu itu pada si pemakai sandal itu. Wong di depan jelas-jelas ada beberapa sandal lo, kok ya dia itu pilih sandal yang duduk manis di dalam rumah. Benar-benar mau menambah kerjaanku saja. Jadi, ya begitulah. Campuran antara dongkol dan malas, menimbulkan penundaan yang tak ketulungan.

Tapi entah apa sebabnya, kok sekonyong-konyong, sore itu aku mengambil sandal yang tampak butut itu untuk kusikat. Mungkin aku sudah gemas dengan diriku sendiri. Dan ya begitu saja, rasa malas yang tercampur rasa dongkol itu akhirnya bisa kubabat dengan langsung menyikat sandal butut itu. Pokoknya sikat saja, bleh!

Setelah selesai menyikatnya, aku jadi tersadar, “Oo … jadi caranya membabat kemalasan itu adalah dengan mengerjakan apa yang selama ini kutunda-tunda.” Sesederhana itu, tampaknya.

Sekarang sepertinya begitu saja deh formula yang mau kupakai kalau aku mulai kumat malasnya dan mulai menunda-nunda melakukan sesuatu yang sebetulnya penting. Semoga ini tak hanya jadi tulisan. Setidaknya, tulisan ini jadi pengingat buatku kalau lagi malas. Hehe.

Nah, jangan malas lagi ya! (Ngomong sambil ngaca …)