Bisnis VS Menghargai Teman

Beberapa hari yang lalu seorang teman mengirimiku pesan via FB. Isinya simpel, kurang lebih dia menawariku untuk bergabung dalam bisnis MLM-nya. Jujur saja, aku kurang suka mendapat pesan seperti itu. Masih mending kalau pesannya berisi sapaan. Ya, namanya juga teman. Saling say hello, wajar saja menurutku. Tapi kalau mak bedunduk, ujug-ujug, tiba-tiba muncul hanya untuk menawari barang dagangan atau bisnis, aku kok merasa semacam dimanfaatkan ya?

Sebetulnya aku berpikir untuk menjawab tawarannya dengan penolakan yang halus. Toh ini teman. Memang sih, dia ini bukan teman haha-hihi yang sering mengontak. Hampir tak pernah mengontak malahan. Tapi aku hanya ingin menanggapi dengan wajar, layaknya seorang teman. Menurutku–saat itu–kupikir lebih baik bilang tidak daripada diam saja. Tapi ketika membaca statusnya yang muncul tak lama kemudian, aku jadi males-semalesnya untuk memberikan tanggapan kepadanya. Kurang lebih dia mengatakan bahwa selama menjalankan bisnis itu dia biasa mengalami ditolak, diremehkan, di-remove karena statusnya isinya melulu soal MLM-nya dia, dan dijauhi teman karena takut diprospek. Entah kenapa aku akhirnya memilih untuk tidak menjawab sama sekali pesannya. Membaca statusnya yang seperti itu seperti mendengar seorang pengamen yang mengatakan, “Kalau Bapak/Ibu memberi uang, saya doakan Anda sejahtera. Bagi yang tidak memberi, berarti Anda pelit.” Mungkin ini perasaanku saja. Tapi bagiku, itu menyebalkan. Menurutku, dia menyebalkan karena tiba-tiba mengontakku hanya karena bisnis MLM-nya.

Apakah ini artinya aku anti MLM?

Entah anti, entah tidak aku tidak menjawab dengan tegas. Leda-lede, yo ben. Aku pernah ikut jadi anggota MLM, tapi alasanku ikut adalah karena aku memang berniat membeli produknya. Kalau jadi anggota, kan dapat diskon tuh. Tapi aku tidak suka jualannya. Mungkin ada yang menganggapku bodoh, wong sudah jadi anggota MLM kok tidak sekalian jualan. Ya, kan suka-suka aku, dong. Tapi yang jelas, satu hal yang aku sangat tidak sreg dengan cara penjualan MLM itu adalah sikap si pelaku bisnis itu sendiri. Contohnya? Ya, seperti temanku yang kuceritakan di atas tadi. Orang itu lama sekali tidak menyapa, status-status FB-nya 90% hanya berisi promosi jualannya plus mewartakan bahwa jika ikut bisnisnya orang akan mendapat uang sekian juta dalam hitungan sekian bulan, bisa ke luar negeri, bisa ini dan itu. Menurutku itu kok terlalu egois dan menyamaratakan impian semua orang. Tidak semua orang punya cita-cita untuk ke luar negeri dan punya banyak uang. Lagi pula, kalau hanya itu yang “dijual”, memangnya kamu yakin bahwa dengan begitu dunia akan jadi lebih baik? Sekali lagi, aku tidak yakin bahwa hal yang penting di dunia ini adalah materi yang berlimpah.

Seorang temanku yang lain pernah cerita ketika dia diprospek untuk ikut sebuah MLM. Dia waktu itu ditanya, “Mbak, pengin nggak bisa jalan-jalan ke luar negeri gratis?”
“Enggak.”
“Pengin nggak punya passive-income?”
“Enggak.”
“Lalu, cita-cita Mbak apa dong?”
“Aku pengin di Indonesia tidak ada pengangguran.”
Eh, ini tidak bercanda lo. Serius. Temanku ini memang cukup aktif memberdayakan masyarakat. Karena dia hobi merajut, dia suka mengajari orang-orang untuk merajut. Kupikir apa yang dia katakan sesuai dengan apa yang dilakukannya. Masih bagusan begitu menurutku.

Sikap pelaku MLM yang menurutku kurang etis adalah ketika bertemu teman, yang diomongin hanya soal bisnisnya melulu. Setiap orang kan punya fokus perhatian sendiri-sendiri. Dan menurutku, jika aku mendapat perlakuan seperti itu, aku merasa dimanfaatkan. Orang itu mendekati aku hanya kalau ada maunya. Dia tidak membangun pertemanan layaknya seorang teman. Fokusnya hanya pada dirinya sendiri dan keuntungan yang dia bayangkan akan dia dapatkan jika berhasil membangun downline. Jadi, wajar kan kalau teman-teman dia yang lain akhirnya menyingkir karena males diprospek. Dan dengar-dengar tidak jarang orang “terpaksa” bergabung dengan suatu bisnis MLM karena merasa tidak enak dengan teman yang mengajaknya.

Yah, pada akhirnya kupikir setiap orang punya pilihan masing-masing. Mau ikut bisnis MLM atau tidak, itu terserah saja, tapi jangan paksa orang lain untuk selalu mengikuti jalanmu dan hargailah temanmu. Itu saja.

Sebuah Catatan (Sebelum Dibuang)

Radio adalah salah satu sumber bagiku untuk mendapatkan berita. Belakangan aku agak jarang juga sih menyetel radio, lebih tepatnya tidak sesering dulu. Kebanyakan sekarang buka internet saja. Kalau televisi kutonton saat aku pulang ke Jogja. Itu pun karena ada TV kabel di rumah. Jadi, yang kutonton ya film-film saja. Jarang banget menonton televisi lokal. Gaya ya? Hehe. Ya, begitulah. Soalnya selain di sini juga tidak punya TV, di kepalaku sudah teracuni pemikiran bahwa acara televisi lokal banyak yang buruk.

Ketika mendengarkan radio, kadang aku iseng mencatat kalau ada informasi penting. Seringnya kucatat di kertas bekas. Sempat juga aku berniat mengetik catatan-catatan itu dan membuat file khusus. Tapi yah, dasar males … akhirnya kadang hanya tergeletak di depan komputer saja. Soalnya aku berpikir, “Ah, hal seperti ini kan bisa kudapat di buku lain. Googling juga bisa. Jadi, ngapain mesti repot-repot mengetiknya?” Kadang catatan-catatan itu akhirnya kubuang.

Beberapa waktu lalu kebetulan aku menemukan satu catatan yang rasanya sayang untuk kubuang. Catatan itu tentang tanah dan biopori. Kupikir aku akan membuangnya begitu saja. Tapi aku pikir kalau aku menuliskannya di blog, ada gunanya untuk orang lain. Dan ini bisa jadi pengingat untukku.

Tanah memiliki pori-pori. Pori-pori ini berfungsi untuk menyerap air. Nah, jika tanah tertutup semua oleh bangunan, disemen, atau banyak pohon ditebang, maka air tidak sempat tersimpan dalam tanah. Air langsung ke sungai. Akibatnya, air sungai meningkat dan ini bisa mengakibatkan banjir.

Karena itu, buatlah lubang biopori di halaman rumah. Lubang itu kira-kira 30 cm kedalamannya dan isilah dengan sampah organik. Sampah tersebut akan diurai oleh binatang/cacing. Cacing akan membentuk lubang-lubang dalam tanah (pori-pori) yang bisa menyerap air.

Sebisa mungkin sisakan sebidang tanah di halaman rumah kira-kira 1-2 meter persegi saja untuk menyerap air atau untuk ditanami tanaman perdu.

Begitu saja catatan itu. Singkat ya. Tapi kurasa ini penting. Tidak semua orang peduli akan hal ini. Apalagi di perkotaan, di mana halaman rumah banyak yang disemen dan tidak tersisa secuil tanah pun. Nah, sudahkah kalian memiliki/membuat lubang biopori?

Punya Anak? Siapkan Orang/Pihak “Menganggur” untuk Mengurusnya

Beberapa waktu yang lalu temanku di Fb mengirimi tautan tulisan di dunia maya tentang pengasuhan anak. Satu hal yang masih kuingat dari tulisan itu kira-kira bunyinya begini: “Kenapa ada orang tua (terutama ibu) yang berusaha mati-matian untuk mendapatkan anak (mungkin dengan berbagai terapi), tapi setelah mendapatkan anak, tak lama setelah anak mereka lahir, mereka cepat-cepat kembali bekerja.” Bagiku tulisan itu cukup menohok untuk seorang wanita pekerja yang memiliki anak. Jujur saja pertanyaan itu menggemakan pertanyaan yang selama ini tersimpan di sudut hati. Tapi barangkali aku ini hanyalah seorang pengamat yang nyinyir. Wong, punya anak belum. Meski demikian, boleh kan aku punya pendapat?

Begini, dari pengamatanku selama ini, aku melihat bahwa jika satu pasangan suami-istri memiliki anak, maka mereka mesti menyiapkan seseorang atau institusi (daycare, misalnya) yang siap sedia merawat anak tersebut sepenuhnya. Gambarannya begini: kalau kedua orang tua itu bekerja, maka mereka mesti tahu ke mana akan menitipkan anak mereka selama mereka bekerja. Entah dititipkan ke suatu daycare, ke nenek-kakeknya, ke saudara, ke … siapa pun deh yang mereka percaya. Dan menurutku, kerabat atau daycare yang akan dipilih tersebut sudah disiapkan ketika anak itu belum lahir. Misalnya, ketika si ibu sudah hamil sekian bulan. Misalnya lo. Bagiku–yang lagi-lagi hanya pengamat ini–jika pengasuh atau daycare itu baru dicari menjelang si ibu harus kembali bekerja, bakal merepotkan. Menurutku, kalau orang tua “nubyak-nubyak” alias rempong alias heboh mencari pengasuh baru saat anak harus ditinggal bekerja, itu tindakan yang tidak bertanggung jawab. Lah, ini soal kemanusiaan, kan? Lagi pula, ini anak (kalian) sendiri. Anak tidak minta dilahirkan. Tugas orang tua yang menyiapkan pengasuhan anak sejak awal. Jadi, kupikir tidak selayaknya orang tua beranggapan: “Lihat gimana nanti deh” untuk urusan pengasuh.

Beberapa pasangan yang kukenal, mereka cukup beruntung memiliki saudara atau orang tua/mertua yang bisa dititipi anak mereka ketika si bapak atau ibu kembali bekerja. Biasanya orang-orang dekat itu tinggalnya tidak jauh dari mereka. Misalnya, satu kompleks, atau tetanggaan, atau malah tinggal serumah dengan mereka. Kadang kalau iseng aku menyebutnya: Siapkan orang “menganggur” yang bisa dipercaya yang bisa dititipi anak selagi orang tua si anak bekerja. Terlalu kasar kah? Hihihi. Maaf… maaf. Tapi bukankah kenyataannya begitu? Kalau salah satu orang tua tidak ada yang “mengalah” untuk tinggal di rumah dan mengurus anak plus rumah, berarti perlu ada orang lain yang mengurusnya kan?

Sebetulnya, menyadari kenyataan seperti ini, diperlukan daycare atau tempat penitipan anak di sekitar tempat kerja kedua orang tua si anak. Aku sendiri kurang tahu apakah hal seperti ini sudah umum di Indonesia. Mungkin kalau ada, tarifnya cukup mahal (?).

Melihat beberapa orang tua yang rempong mencari pengasuh anak ketika mereka hendak kembali bekerja (dan kadang ikut “merasa repot” atau minimal “terpaksa ikut berpikir” karena urusan pengasuh tersebut), belakangan aku sangat menghormati seorang ayah/ibu yang memilih tidak bekerja untuk mengurus anak di rumah. Atau setidaknya, si ayah/ibu memilih pekerjaan part-time sehingga punya cukup waktu untuk mendampingi anak. Dan memang pada kenyataannya, pemerintah kita masih belum terlalu peduli soal ini. Aku hanya berpikir, seandainya pemerintah memang peduli, mungkin baik jika ada penitipan bayi/anak yang cukup terjangkau tarifnya di sekitar lingkungan kerja/perumahan. Atau mungkin pemerintah bisa membuat kebijakan yang mendukung para orang tua dalam pengasuhan anak. Ya, lagi-lagi, aku memang bisanya “ngomong doang”. Hehehe, namanya juga pengamat kan?