Sisa Kenangan

Natal kemarin kulalui di Madiun. Ya, tiba-tiba saja aku pengin pulang. Seperti ada yang memanggilku pulang.

Di rumah aku “meneruskan” flu, batuk, pilek. Heran, kali ini sakit fluku cukup lama. Aku sampai empat kali ke dokter untuk memeriksakan flu yang nggak sembuh-sembuh ini. Sebetulnya yang mengganggu “hanya” batuk yang kemudian mengakibatkan sesak napas. Beberapa malam aku tak bisa tidur nyenyak karena batuk-batuk. Ternyata batuk itu capek, ya.

Sesampainya di Madiun, aku pun ke Dokter Andi, dokter langganan sejak kecil, untuk periksa. Kulihat ruang tunggu dan ruang periksanya masih seperti dulu. Hanya kursi di ruang tunggu yang agak berubah. Di meja masih ada Alkitab yang kurasa bisa dibawa pulang. Aku sempat tergoda ingin mengambil satu eksemplar, tapi kupikir… ah di rumah aku sudah punya Alkitab.

Obat dari dr. Andi sebenarnya tak jauh berbeda dengan obat yang kuminum selama dua minggu terakhir kemarin. Tapi dr. Andi membuat racikan yang dimasukkan ke kapsul. Entah karena sugesti atau karena memang sudah waktunya sembuh, batukku membaik.

Selama di rumah Madiun aku jadi berpikir-pikir bagaimana rumah ini kelak. Bagaimana kalau Bapak dan Ibu sudah semakin tua dan kesulitan mengurus rumah ini, sementara kami rasanya tidak terbayang jika harus menetap di Madiun (lagi seperti dulu). Rumah ini adalah rumah keluarga besar sebenarnya. Aku hanya berharap kelak tidak ada perselisihan. Kadang aku agak-agak gimana gitu kalau membayangkan suatu saat nanti aku tidak bisa pulang lagi ke sana. Ada banyak kenangan yang sulit untuk dibiarkan menguap begitu saja. Tapi kakakku bilang, mungkin suatu saat rumah ini mesti kita relakan sebagai kenangan. Terus terang aku mendadak nggrantes.

Kupikir, semakin bertambahnya usia, semakin banyak kenangan, semakin banyak pula yang harus dilepaskan. Harapan masa lalu yang tidak tercapai, keinginan yang jika dipikir-pikir malah memberatkan jika terus digenggam, kenangan–baik yang buruk maupun yang baik. Mungkin selama ini kita menyimpan harapan pada orang (-orang) yang diam-diam kita kasihi, orang (-orang) yang diam-diam kita doakan, tapi entah kenapa mereka sepertinya malah membuat hati kita nggrantes, terluka. You know who lah. Hal-hal seperti itu kurasa perlu direlakan saja. Cuma nyrimpeti jalan kita melulu. Oh, ya… baiklah, mendoakan mereka kurasa tetap baik, tapi menata batin dan hati supaya tersedia hati yang cukup lapang untuk menampung hal-hal penting lain kurasa lebih penting.

Advertisements

Membuat Sabun: Sebuah Hiburan

Buatku, membuat sabun itu menyenangkan. Hiburan. Hiburan di tengah-tengah pekerjaan yang kadang seperti gerbong kereta.

Awalnya aku membuat sabun karena penasaran. Seorang teman mengajariku, lalu selanjutnya aku belajar sendiri. Sempat ikut pelatihan membuat sabun, tapi kurasa yang kudapat dari pelatihan sama saja dengan yang kupelajari sendiri. Hanya saja, lewat pelatihan itu aku jadi tahu apa bedanya mengaduk adonan sabun dengan mikser vs hand blender.

Sabun alami memang menarik untuk dipelajari dan dibuat. Aku senang membuat sabun karena bisa eksperimen pakai aneka bahan: lidah buaya, kopi, pepaya, kelor, melati, pandan, dll. Hasilnya kadang menggemaskan. Selain kupakai sendiri, aku bisa menjual sabun buatanku. Lumayan hasilnya. Belum terlalu banyak sih, karena aku belum fokus banget. Tapi menerima testimoni dari beberapa teman yang memakainya, aku jadi lebih semangat belajar membuat sabun lagi.

Di Indonesia, materi soal membuat sabun alami masih kurang. Selama ini aku banyak belajar lewat internet. Hampir semua materi yang kita butuhkan ada di website luar negeri. Tinggal pintar-pintar googling. Tentunya mesti bisa membaca teks bahasa Inggris dan memahaminya dengan baik. Hasil yang kupelajari itu aku praktikkan ketika membuat sabun sendiri. Misalnya, untuk membuat sabun susu, bekukan dulu susu cairnya. Waktu belum tahu, aku pernah langsung menambahkan susu bubuk ke adonan sabun yang hampir trace. Akibatnya? Gosong dong warna sabunku. Walau aku tahu gosong itu hanya soal warna, khasiatnya sama, pas lihat warna sabunku jadi cokelat, aku agak menyesal.

Aku sempat terpikir untuk membuat blog khusus soal sabun. Tapi apalah daya, pekerjaan masih mengantri seperti gerbong kereta. Jadi, selama ini aku hanya bikin dan menjual sabun saja. Kamu tertarik dan pengin tahu soal sabun buatanku? Follow IG-ku: @krismariana.menik.

Berikut ini beberapa sabun mandi yang pernah kubuat. Yang jelas, semua sabun mandi ini pakai minyak baru semua, yaaa (bukan jelantah).

Ini sabun pandan-beras. Terbuat dari sari pandan dan beras. Baunya kaya kue. 😀

 

Nah, ini sabun susu-cokelat. Kubikin swirl gitu polanya. Yang mendebarkan adalah saat aku memotongnya. Beda-beda pola yang terbentuk

 

 

Ini salah satu sabun favoritku. Terbuat dari tallow alias minyak yang diambil dari lemak sapi. Baunya susu banget, rasanya lembuuut di kulit. Bentuknya juga paling “rapi”, keras. Sabun ini made by order. Yang ribet adalah mesti menyiapkan tallow-nya lebih dulu.

 

Kamu suka sabun alami yang apa?