Cerita Guru

Hidupku dikelilingi oleh guru. Minimal di keluarga inti. Bapak guru, Ibu menjelang pensiunnya akhirnya menjadi guru (sebelumnya adalah penyuluh; mirip-mirip kan kerjaannya?), kakakku akhirnya memilih jadi dosen (walaupun dia kadang mengatakan tidak bisa mengajar), dan suamiku guru juga.

Karena dikelilingi oleh para guru, aku sering mendengar pengalaman mereka. Suatu kali ketika aku pulang ke Jogja, aku menemukan tumpukan kertas berisi tulisan “kesan dan pesan” para mahasiswa kakakku. Ada satu pesan yang membuatku geli, isinya kurang lebih begini: Tetap rajin senyum, ya Pak. Hahaha! Dosen kok yang dilihat “kemampuan” senyumnya.

Cerita tentang guru-murid serta interaksi di kelas/sekolah paling banyak kudengar dari suamiku. Biasanya kalau ada kejadian heboh, dia akan langsung buka suara begitu masuk rumah. Seperti beberapa hari yang lalu. Begitu buka pintu, dia langsung bilang, “Parah deh! Muridku ada yang dihukum karena mencuri.”
“Emang apa yang dicuri?” tanyaku.
“Kue kering.”
“Ya ampun. Kok bisa sih?”
“Ceritanya dia itu mau ngerjain temannya. (Di tempat suamiku mengajar memang selalu disediakan kue kering untuk mahasiswa dan dosen.) Tadi kue keringnya baru aja diisi ke toples. Jadi, toples itu masih penuh banget. Nah, tuh anak langsung ambil toples, isinya dituang ke tas temannya. Anak itu nggak tahu kalau ada CCTV. Ketahuan deh.”
Aku hanya geleng-geleng.
“Bisa-bisa dia dikeluarin,” tambahnya.
Aku juga tidak habis pikir, kenapa juga ngerjain teman pakai acara menuang kue kering ke dalam tas temannya.

Semalam suamiku bercerita lagi. Kali ini soal pengalaman dia mengajar kelas GMAT. Sebagai seorang pengajar GMAT, dia kadang diminta mengajar ke instansi-instansi baik milik swasta maupun milik pemerintah. Oya, GMAT adalah semacam ujian yang harus ditempuh jika seseorang hendak kuliah di luar negeri, terutama bagi yang mau mengambil MBA. Jangan tanya aku lebih lanjut soal GMAT karena aku juga tidak banyak tahu. Mending google saja kalau memang penasaran. ^.^ Beberapa waktu lalu dia berkesempatan mengajar di sebuah instansi pemerintah. Sebut saja instansi XYZ. Setiap kali dia mengajar di situ, dia bawaannya suka kesel. Masalahnya cuma satu: murid-muridnya sangat malas. Jadi, instansi XYZ itu menyediakan beasiswa ke luar negeri untuk beberapa karyawannya. Bisa dibilang, mereka yang sudah terseleksi itu sudah pasti akan disekolahkan ke luar negeri. Tapi mau tidak mau memang mereka harus menempuh ujian GMAT. Masalahnya, karena sudah ada kepastian akan berangkat, mereka justru bermalas-malasan. Misalnya, kelas yang harusnya dimulai pukul 8.00, harus diundur pukul 9.00 karena murid-muridnya masih ngopi-ngopi entah di mana. Kadang ada juga yang terlambat datang karena mereka belanja di mal dulu. Ya, ya … memang mengesalkan kalau punya murid yang malas.

Lain ceritanya kalau suamiku mengajar untuk instansi milik swasta. Dia biasanya akan lebih semangat. Dia bercerita bahwa di instansi swasta ini, orang yang dapat beasiswa benar-benar harus berkompetisi. Jadi hanya yang benar-benar bagus, yang akan diberangkatkan. Setiap hari dipasang kemajuan yang telah dicapai setiap murid. Dengan begitu setiap orang akan terpacu. Misalnya, dalam rangka pemberian beasiswa, instansi ABC melakukan seleksi di seluruh cabangnya di Indonesia. Di awal terseleksi 700 orang, lalu disaring lagi sampai akhirnya hanya terpilih 3 kelas yang isinya belasan orang. Dari tiga kelas itu pun kabarnya akan disaring lagi. Mendengarnya pun aku sudah mules. Hihi. Tadi aku sempat mengintip buku yang jadi pegangan suamiku untuk mengajar, aku jadi tambah mules lagi hahaha. Sudah puyeng duluan membaca soal matematika (dalam bahasa Inggris). Ditambah harus menghapalkan kosakata sebanyak 15 halaman setiap hari. Hihihi. Sedaaaap!

Dari cerita soal mengajar di instansi swasta dan pemerintah itu, memang kelihatan sekali bedanya mental pegawai swasta dan pemerintah ya. Gampangannya, yang swasta lebih berkualitas, sedangkan yang pemerintah kualitasnya minus. Dan yang membuat suamiku merasa “tidak rela” adalah murid-muridnya yang pegawai negeri itulah yang pada akhirnya ikut mengatur tata kelola pemerintahan kita. Yah, barangkali mulai dari sekarang aku perlu mengiklaskan diri jika kira-kira 10 tahun ke depan negara kita masih belum ada kemajuan. (Padahal zaman sekolah dulu, di pelajaran IPS atau PMP (?) tahun 2000-an Indonesia sudah akan mengalami tinggal landas… Mungkin maksudnya, tinggal di landasan.)

//

Obrolan tentang Pencarian

Pagi ini aku teringat obrolan soal pekerjaan, soal panggilan hidup.

+ Kemarin Ratri (teman kami) cerita soal cowok yang lagi dekat dengan dia.
– Pacar barunya?
+ Ng … nggak tahu. Kayaknya bukan, atau belum? Nggak tahu deh. Lagi pedekate kayaknya.
– Apa dia bilang?
+ Dia bilang, mereka punya minat yang sama, sama-sama suka baca buku. Dulu mereka teman satu kampus, satu jurusan. Teman lama.
– Lalu?
+ Katanya si cowok ini sudah lama nggak bekerja.
– Oh.
+ Padahal menurutku kalau sama-sama dari jurusan Bahasa Inggris, nggak akan susah-susah kok cari kerja. Asal nggak terlalu pilih-pilih ya.
– Semua orang, kalau nggak suka pilih-pilih kerjaan, benernya ada saja kerjaan yang bisa dilakukan.
+ Gitu ya?
– Itu menurutku sih.
+ Kayaknya emang dia pilih-pilih banget deh. Kapan hari Ratri nunjukin dia lowongan kerja ngajar bahasa Inggris di pertambangan. Tapi cowok itu nggak mau.
– Kenapa nggak mau?
+ Katanya pekerjaan semacam itu cocok untuk anak yang baru lulus, bukan buat dia.
– Emang dia dulu kerja di mana?
+ Di perusahaan gede. Di penghasil banyak duit dot com. Di luar sana.
– Oh, gitu.
+ Gaji di Indonesia kali kalah jauh sama gaji di luar.
– Emang. Kayaknya sih gitu.
+ Tapi kalau dia nggak kerja-kerja, kan akhirnya tabungan dia selama kerja habis dong.
– Ya, kan dia sendiri yang membuat habis.
+ Benernya orang cari kerja itu mesti gimana sih?
-Cari kerja atau cari panggilan hidup?
+ Dua-duanya.
– Idealnya memang begitu. Tapi kadang nggak bisa. Pekerjaan seseorang kadang bukan panggilan hidupnya.
+ Iya emang sih. Sayang sebetulnya kalau kaya gitu.
-Setiap orang punya panggilan hidup masing-masing.
+ Gimana caranya bisa tahu?
– Cuma kamu yang tahu. Butuh kejernihan batin untuk mengetahuinya. Misalnya, kerbau punya badan yang besar, tenaga kuat. Dia memang dipakai untuk membajak. Atau ayam, dia punya daging yang enak dan telornya bisa dimakan. Kotorannya juga bisa dimanfaatkan untuk pupuk. Binatang saja punya “panggilan” masing-masing.
+ Kalau manusia?
– Manusia lebih dari binatang kan? Dia punya otak, punya hati. Setiap orang punya talenta dan minat sendiri-sendiri. Itu harus digali.
+ Caranya menggali?
– Seperti yang aku bilang tadi, butuh kejernihan batin.
+ Caranya?
– Meditasi, misalnya. Atau bisa dengan menuliskan kelebihan, kekurangannya. Tulis hobinya apa saja. Minatnya apa. Intinya adalah melihat ke dalam, melihat diri sendiri.
+ Bagaimana kita tahu bahwa pekerjaan kita adalah panggilan hidup kita atau bukan?
– Orang yang menemukan panggilan hidupnya akan merasa lebih bersemangat dalam bekerja. Orang yang menjalani panggilan hidupnya akan merasa bahagia dengan apa yang dilakukannya. Dan biasanya pekerjaan itu memberi dampak positif kepada orang-orang di sekitarnya.
+ Gitu ya?
– Teorinya sih gitu. Hehehe. Tapi aku yakin kok setiap orang memiliki panggilan masing-masing. Dan panggilan hidup itu biasanya membawa seseorang pada kebaikan.
+ Trus kalau kaya temannya Ratri gitu gimana? Dia kan galau tuh belum dapat-dapat kerja.
– Kali minimal dia kerjakan apa yang memang dia mau deh. Meskipun awalnya itu mungkin tidak menghasilkan banyak uang. Kerjakan hal-hal kecil dengan cinta yang besar, begitu kata Bunda Teresa. Meskipun kita hidup butuh uang, tapi kan hidupmu nggak mesti dikendalikan oleh uang to?

– Mungkin setiap orang perlu bertanya, “Apa fungsiku di dunia ini?” Ayam saja punya tugas di sini: bertelur, memberikan dagingnya untuk dijadikan makanan manusia, kotorannya untuk pupuk. Itu sumbangsih ayam bagi dunia. Manusia tentunya juga begitu. Apalagi manusia kan lebih dari binatang. Mungkin kalau sampai akhir hidupnya seseorang nggak juga menemukan panggilan hidupnya, sumbangsihnya adalah ketika dia mati, dia bisa jadi pupuk.
+ (Membayangkan kuburan dijadikan kebun sayur dan buah-buahan … 😀 :D)

Bibi

Ada beberapa hal yang untuk mengawalinya rasanya maleees banget, tapi kalau sudah dilakukan, sebetulnya sangat menguntungkan dan membuat nyaman. Dua di antaranya adalah mandi dan nyapu/ngepel rumah. Kalau mandi, sebetulnya aku lebih rajin dibanding suamiku. 😀 Dan paling senang kalau bisa mandi air hangat. Cuma, aku sering nggak sabar kalau harus masak air dulu. Untuk nyapu/ngepel, itu ada kaitannya dengan bertempur melawan diri sendiri. Haiyah, bahasaku… 🙂 Tahu kan maksudku? Setelah rumah dibersihkan, disapu dan dipel, rasanya kan nyaman. Nah tapi untuk mulai beres-beres, mengambil sapu di belakang, dan seterus … dan seterusnya sampai lantai rumah terasa bersih, itu butuh kemauan. Dulu aku pernah berniat menyapu dan mengepel rumah sehari dua kali. Tapi acara itu hanya berlangsung paling pol satu minggu. Niatnya adalah sekalian olahraga. Tapi kemalasanku memang tidak ada duanya! Hehehe. Setelah itu, standarnya diturunkan jadi sehari sekali. Kalau penyakit malas mulai menggerogoti sedikit, maka acara nyapu dan ngepel menjadi dua hari sekali. Nah, kalau sudah lebih dari itu, berarti memang akunya lagi error. Hihi. Padahal menyapu dan mengepel rumah yang kutinggali saat ini (di Jakarta), tidak terlalu makan waktu dan tenaga. Wong rumah seuplik gitu. Tinggal set… set… set… bersih deh.

Waktu masih tinggal di Jogja, seorang kakak sepupuku memberiku saran, “Cari pembantu saja. Jadi kamu pulang kerja, rumah sudah bersih. Kaya aku nih… aku sengaja cari pembantu pocokan (tidak menginap atau pulang hari-red), tugasnya cuma nyapu, ngepel, nyuci baju, setrika. Pulang kerja sudah nggak sibuk lagi ngurus rumah.”

Aku menggeleng mendengar saran itu. Kupikir aku masih bisa mengerjakannya sendiri. Lagi pula aku merasa rumah yang kutinggali di Jogja itu tidak terlalu besar (jika dibandingkan rumah keluargaku di Madiun). Untuk menyapu dan mengepel, perlu waktu kira-kira satu jam. Kurang lebih ya. Kalau mau cepat, ya 45 menit. Waktu itu aku tinggal dengan kakakku dan kalau dia tidak terlalu sibuk (nggak sesibuk sekarang), dia mau kumintai tolong untuk menyapu.

Nah, masalah timbul ketika aku pindah ke Jakarta dan hanya kakakku yang menempati rumah Jogja. Sepertinya kebanyakan laki-laki memang tidak terlalu peduli apakah rumah sudah dipel atau belum, ya? Dan dia sudah mulai sangat sibuk. Rumah menjadi jarang kena sentuh sapu dan pel. Kan tidak mungkin mendatangkan aku hanya untuk menyapu dan mengepel rumah? Hehe. *Aku serasa pembantu pocokan saja deh…*

Akhirnya, masalah bersih-bersih rumah itu ditanggulangi dengan mempekerjakan asisten rumah tangga kakak sepupuku. Nama asisten itu Mbak Pur. Awalnya aku tidak terlalu berharap banyak pada asisten. (Iya, aku sudah tinggal di Jakarta sih, tapi kan cukup sering ke Jogja juga.) Dan sebenarnya aku punya semacam kekhawatiran kalau-kalau aku tidak cukup cocok dengan asisten. Sering kan kita dengar perselisihan antara asisten rumah tangga dan pemilik rumah? Kadang masalahnya tidak penting-penting amat, tapi kalau kesalahan kecil yang sama berulang terus, kan nyebelin juga. Iya kan? Nah, aku paling malas tuh berurusan dengan hal-hal seperti itu. Kalau ujung-ujungnya berantem, lebih baik tidak usah. Tapi untuuuung banget, Mbak Pur itu tidak seperti yang kukhawatirkan. Aku sama sekali tidak pernah ada masalah dengan dia. Dan aku puas dengan pekerjaannya. Rapi dan bersih. Plus orangnya tidak neko-neko. Semoga hubungan kerja sama kami awet. Eh tepatnya, yang mempekerjakan Mbak Pur itu kakakku, aku hanya ikut menikmati hasil kerjanya. 🙂

Soal asisten rumah tangga ini aku punya cerita lain. Aku punya teman yang rumahnya tak terlalu jauh dari tempat tinggalku di sini. Kawanku ini punya asisten rumah tangga juga, yang biasa dipanggil Bibi. Entah siapa namanya, tapi kalau menyebut Bibi, ya cuma itu orangnya. Entah bagaimana, aku merasakan suatu kedekatan tersendiri dengan Bibi. Padahal aku jarang sih ke rumah temanku itu. Mungkin karena aku merasa Bibi selalu ramah menyambut aku dan suamiku. Ramahnya tidak dibuat-buat.

Perempuan yang sudah cukup senja usia itu biasanya punya cerita untuk kami. Cerita ketika dia dulu jadi transmigran, ketika dia ngidam pete dan dapat pete buanyak banget, ketika dia minum jamu yang membuat badannya jadi lebih gemuk, dan sebagainya, dan sebagainya. Karena pasar tempat kami belanja, aku pernah satu-dua kali bertemu dia di pasar. “Non, non … kok lama nggak main ke rumah? Ayo mampir,” begitu biasanya dia bilang sambil tersenyum lebar. Aku biasanya hanya cengengesan kalau ditanya begitu. “Iya, Bi. Nanti deh kapan-kapan.” Aku pikir, nanti deh kapan-kapan kan masih bisa ketemu Bibi. Lagi pula habis dari pasar dan menenteng belanjaan trus mampir-mampir kan ribet. Terakhir aku bertemu Bibi ketika dia ada di halaman rumah kawanku dan aku kebetulan lewat. Dia menawariku mampir. “Ayo, aku bikinin teh dulu.” Tapi aku menolak karena waktu itu aku hendak ke rumah adik iparku. “Lain kali deh, Bi.” Setiap kali melewati rumah temanku, aku sering berharap menjumpai Bibi di depan. Bertemu Bibi selalu menyegarkan hati.

Sore tadi, aku mendapat telepon dari kawanku yang mengabarkan bahwa Bibi meninggal hari Minggu kemarin. Aku seperti tak percaya sampai beberapa kali mengulangi pertanyaan apakah Bibi itu yang dimaksud. Lagi pula suara di telepon yang putus-putus memperburuk penyampaian berita itu. Tapi memang benar Bibi sudah meninggal. Hari yang mendung dan dingin ini membuat hatiku semakin kelabu. Ah, Bibi …ternyata aku tidak akan pernah sempat lagi menikmati teh bikinan Bibi. Semoga tenang istirahatmu, Bibi.