Catatan Minggu Biasa Ke-32

Kemarin aku bangun siang. Kebiasaan buruk. 😦 Tapi aku memang belakangan, entah kenapa lebih suka tidur larut. Akibatnya, bangunku siang. Lalu aku malas misa pagi. Biasanya aku paling suka misa Minggu jam 06.30. Jadi, pulang misa tidak terlalu siang. Meskipun ada misa kedua dan ketiga, aku malas pergi. Aku misa sore saja, pikirku. Risikonya kehujanan. Tapi biarlah, nanti lihat apa kata hatiku. Aku malas misa beneran apa tidak.

Tepat seperti dugaanku, sore kemarin mendung. Herannya, niatku untuk misa tidak surut. Tumben. Biasanya aku mengkeret saat melihat mendung tebal. Pikirku, kalaupun hujan lebat, biar saja. Aku sudah sedia payung di tasku. Toh aku pergi misa untuk “kangen-kangenan” dengan sang pembuat hujan dan mendung. Kalau Dia mau bikin hujan, aku sudah di rumah-Nya.

Bacaan misa kemarin adalah soal janda miskin yang mempersembahkan seluruh nafkahnya (Markus 12:38-44).  Aku sudah sering mendengar bacaan ini. Sudah hafal rasanya. Tapi kemarin rasanya kok bisa seperti mak nyes waktu mendengarnya. Waktu khotbah Romo mengatakan, janda miskin itu tidak lekat dengan hartanya, sehingga dia pribadi yang bebas. Kelekatan hanya akan membuat kita hidup dalam kecemasan dan kekhawatiran. Padahal kita dipanggil untuk menjadi manusia bebas. Kalau aku memparafrase pesan itu, mestinya kita ikhlas dalam memberi dan tidak lekat dengan harta yang kita punya.

Kurasa, kelekatan tidak hanya soal harta. Rasa senang yang berlebihan, kebencian, kecemburuan, sebutlah semua yang membuat kita tidak bebas, akhirnya membuat kita terkungkung dan kerdil.

Lalu aku sendiri bagaimana?

Aku merasa masih banyak PR yang harus kubereskan. Sering kali aku menetapkan syarat dan batasan agar bahagia dan lepas bebas. Mesti bisa begini atau begitu, mesti punya ini dan itu, mesti yang ini terpenuhi, yang itu juga. Jadinya aku melow sendiri dan tidak bebas. Hih, payah betul aku nih.

Kadang aku rasa, hidup ini sebaiknya seperti siap berangkat kapan saja. Tas sudah dikemas dan siap dicangklong. Tak perlu bawa barang banyak, jadi perjalanan terasa lebih enteng. Tapi aku lebih suka menambah isi tas, membongkar isinya dan membuatnya berceceran di sekitar diriku. Lalu aku mengeluh. Dan setiap kali melihat hal yang menarik, aku ingin mengambilnya. Padahal kalau dibawa serta, hanya akan menambah beban perjalanan.

Lalu kemarin aku sempat merenungkan soal rejeki. Rejeki itu apa? Apa mesti uang? Mestinya tidak, ya? Rejeki itu salah satunya adalah aku bisa ikut misa tanpa terlambat dan pulang tidak kehujanan (padahal mendung sudah cukup tebal). Rejeki itu juga kawan-kawan yang lucu-lucu, yang memberi inspirasi, yang menyemangati. Rejeki itu adalah hati yang bebas. Rejeki itu bisa bangun dengan cukup sehat. Rejeki itu masih bisa makan setiap hari walaupun sederhana. Rejeki itu ditelepon Bapak dan Ibu (eh, mestinya aku yang menelepon, ya? Hihi… dasar anak kurang pengertian.) Rejeki itu bisa ketemu Coco—anjing temanku yang lucu dan senang menciumku. Jadi, yaaa… hidup itu mestinya bersyukur. Nggak cuma melow-melow nggak jelas.

Semua itu benar-benar perlu kuingat. Bagaimanapun, hidup ini mestinya memberi arti. Memberi yang terbaik. Berbuat maksimal—seperti janda miskin yang memberikan seluruh nafkahnya itu.

Advertisements

Sepotong Perjumpaan

Aku sering membayangkan menghabiskan senja denganmu. Diawali dengan menyeduh teh dan kopi, mengudap makanan kecil, lalu kita menghabiskan waktu menikmati matahari tenggelam di beranda rumah kita kelak, tempat kita berdua menghabiskan usia kita yang beranjak senja. Aku mengharapkan waktu berjalan dengan lambat sembari kunikmati wajahmu. Aku akan menghitung rambut putihmu yang mulai banyak, mengamati matamu di balik kacamata, dan memasang telinga baik-baik untuk menyimpan semua ceritamu. Kurasa tawamu masih seperti dulu, seperti dua puluh tahun silam saat jantung kita sama-sama berdebar kala mata kita berjumpa.

Tapi bagaimanapun aku tak akan menampik pertemuan yang kita lakukan dengan mencuri waktu di antara jadwal padatmu.

“Berapa lama waktu yang kaupunya, Mas Tok?”
“Sebenarnya ingin selamanya denganmu, Ning. Tapi kau sudah hafal seperti apa jadwalku, kan?”

Aku mengangguk. Mungkin kau adalah orang terpenting di dunia ini, dengan segudang kegiatan, rapat demi rapat, seminar demi seminar, dan entah apa lagi.

“Setelah ini Mas Tok kembali ke penginapan naik apa?”
“Naik kendaraan umum. Apakah rutemu sejalan denganku?”

Tanpa berpikir panjang, aku mengangguk. Aku tahu, mengikutimu berarti berjalan lebih jauh. Tapi bukankah itu berarti waktuku bersamamu semakin panjang?

“Nanti aku turun di Utan Kayu, sementara itu, Mas Tok bisa melanjutkan perjalanan,” jawabku.

Bus yang membawa kita pun tiba. “Sini kubawakan tasmu,” katamu. Aku selalu tersentuh dengan perhatian kecilmu.

Bus tidak padat, dan kita pun duduk bersebelahan. Kurasakan tanganmu menggenggam tanganku. Kebiasaan lama, batinku sambil tersenyum. Kau masih seperti dulu. Dan ingatanku melayang pada perjalanan panjang kita, dari pelataran gereja hingga Sendangsono. Sepanjang itulah kita berbagi cerita dan tak sedetik pun kaulepas genggaman tanganmu.

Jam tanganku menunjukkan pukul lima kurang lima. Matahari mulai redup. “Mas Tok, jangan pergi lagi,” bisikku di telingamu. Matamu menjadi sendu. Aku ingin menangis.

Waktu bergerak, halte demi halte kita lewati, itu berarti kita menuju perpisahan. Aku mulai mengenali daerah tempat aku harus berganti kendaraan pulang.

“Mas, sebentar lagi aku turun.”

Tanganmu menggenggamku semakin erat.

Ketika petugas menyebutkan halte tempat aku turun, kau mengangsurkan tas lalu mencium pipiku dengan cepat. “Hati-hati, Dik Ning.”

Aku mengangguk. Kulangkahkan kakiku ke luar bus. Aku tak bisa melabeli apa yang bergolak dalam hatiku. Sedih, bahagia, resah. Tabungan rinduku pecah dengan pertemuan singkat ini, sekaligus kembali terisi dengan seribu harapan akan pertemuan kembali.

Aku yakin kita bertemu lagi. Semoga dengan waktu yang lebih lama.

Malam itu lagu My All milik Mariah Carey berputar entah berapa kali, menyemarakkan kerinduan yang mulai memenuhi lorong hatiku.

I am thinking of you
In my sleepless solitude tonight
If it’s wrong to love you
Then my heart just won’t let me be right
‘Cause I’ve drowned in you
And I won’t pull through
Without you by my side

…..

I’d give my all to have
Just one more night with you
I’d risk my life to feel
Your body next to mine
‘Cause I can’t go on
Living in the memory of our song
I’d give my all for your love tonight