Kenangan Tepi Hutan Jati

“Kita berhenti di sini?” tanyamu. Kamu mengedarkan pandangan ke sekeliling. Aku yakin matamu yang bulat akan semakin bulat ketika aku mengajakmu berhenti di sini. Di tepi hutan jati, tak jauh dari rumahku.
“Ya,” jawabku pendek.
“Rumahmu kan sebelah sana?” tanyamu lagi, sambil menunjuk ke arah belakang kita.
“Memang. Tapi aku ingin membawamu ke sini dulu.” Aku terdiam cukup lama. Kudengar kamu mengembuskan napas panjang. “Aku ingin bercerita sedikit.”
“Oh… Baiklah.”
Ragu aku menggandengmu. Aku takut kamu melepaskan genggamanku. Tapi ternyata tidak. Tanganmu dingin. “Kamu kedinginan?”
“Sedikit,” jawabmu lirih.
Kulepaskan jaket hitamku. Kuminta kau mengenakannya.

“Ning, hutan jati ini warisan dari mbah buyutku. Aku biasa bermain di sini sejak kecil.”
“Asyik, ya, seperti punya hutan sendiri.”
“Ya, begitulah.”
“Mas Tok bermain dengan siapa saja di sini?”
“Adikku kan ada tiga. Dik Retno, Dik Yayuk, Dik Nok.”
“Mas Yus?”
“Mas Yus juga.”
Kugandeng tanganmu sambil menyusuri jalan kecil di tengah hutan kecil ini.
“Kamu lihat cahaya lampu di ujung jalan itu?”
“Ya.”
“Itu rumah Bude. Bude Yati.” Kuhentikan langkahku di jalan setapak ini. Kamu ikut berhenti. “Suatu hari, Ibu menyuruhku ke rumah Bude Yati. Malam-malam.”
“Mas Tok masih kecil?”
“Sudah agak besar. Kelas satu SMP. Waktu itu sedang musim libur. Kau tahu kan, sejak SMP aku sudah meninggalkan rumah. Aku masuk sekolah berasrama. Tapi aku ingat betul, waktu itu aku pulang liburan. Menjelang sore Dik Nok tiba-tiba demam. Ibu memintaku ke rumah Bude Yati, memintakan obat penurun panas.”
“Lalu?”
“Sebetulnya aku takut menembus hutan jati dan menyusuri jalan setapak ini.”
“Pasti gelap ya?”
“Ya, seperti sekarang. Tapi mendongaklah.” Bulan purnama mengintip di balik daun-daun jati.
“Cantik sekali bulannya, ya Mas.”
“Bulan itu seperti menghiburku, membuatku lebih berani. Bulan itu menemani langkahku sampai ke rumah Bude Yati.” Aku terdiam sejenak. “Aku tak pernah melupakan saat itu, Ning. Kehadiranmu mengingatkanku akan bulan di malam itu. Kehadiranmu selalu menguatkanku. Menghiburku.” Kuraih kedua tanganmu. Perlahan kutarik dirimu lebih dekat ke pelukanku. Kau tak menolak. Kucium puncak kepalamu, lalu keningmu. “Aku menyayangimu, Ning. Jadilah bulanku.” Di dadaku aku bisa merasakan kamu mengangguk.

Kenangan di tepi hutan jati itu tak pernah lepas dari ingatanku. Jika aku ditanya apa peristiwa terindah yang pernah kualami, jawabannya adalah peristiwa dua dekade lalu. Ketika pertama kalinya kupeluk gadis itu, saat bulan purnama di awal Juli.

Advertisements

Apakah Kamu Bercita-cita Jadi Presiden?

Terus terang aku lupa apa cita-citaku ketika aku masih kecil. Ah, ya… partner in crime-ku selalu bilang ingatanku tidak seperti gajah. Alias, mudah lupa. Dan aku betul-betul tidak ingat. Mungkin yang kuingat dulu adalah aku mesti rajin membuat PR. Jangan sampai lupa. Kalau lupa, itu memalukan. Satu hal yang kuingat adalah rasa tidak enak ketika aku sampai lupa mengerjakan PR atau lupa membawa buku tertentu ke sekolah. Biasanya aku akan deg-degan, berkeringat dingin, dan perut melilit. Sungguh tidak enak.

Seingatku, Bapak ingin aku jadi dokter. Tapi jelas saja aku tolak keinginan itu. Aku takut melihat darah. Pokoknya yang berbau suntik dan darah begitu aku takut. Lagi-lagi membuat perutku mulas, berkeringat dingin, dan tulang seperti dilolosi. Aku tidak suka. Biarlah orang-orang pemberani saja yang jadi dokter. Bahkan aku pun tak berminat jadi istri dokter. Serius. Walaupun aku tidak pernah punya pacar dokter–atau minimal mahasiswa kedokteran–aku tak berminat. Aku pilih yang… ah, mau tahu saja kalian. 😀 😀

Mungkin karena cita-citaku tidak jelas begitu akhirnya aku hanya mengikuti minatku saja. Eh, ya… seingatku aku pernah ingin jadi arsitek; pernah juga ingin menjadi wartawan. Tapi aku memang tidak serius mengejar cita-citaku. Lagi-lagi aku mengikuti minatku saja, yaitu bahasa Inggris. Walaupun tidak jago-jago amat, tapi lumayanlah. Setidaknya nafkahku dari sini, yaitu menjadi penerjemah (buku). Sebagian orang mengatakan “Wah, asyik ya kerjaannya” ketika kuceritakan pekerjaanku saat ini.

Oke, sebetulnya aku mau bilang kalau aku ini agak-agak GR yang tidak pada tempatnya ketika aku tahu Pak Jokowi berulang tahun pada tanggal yang sama denganku. Sepertinya tanggal 21 Juni adalah tanggal bagus sehingga pada tanggal itu memunculkan orang-orang yang kuanggap hebat. Eh, aku tidak bermaksud kampanye ya.

Begini, suatu hari aku bilang ke ibuku, “Aku kalau jadi Jokowi, tidak mau nyapres.” Ibuku bertanya, “Kenapa?” Karena untuk jadi capres itu melelahkan. Setidaknya itu menurut pandanganku. Aku membayangkan kalau jadi Jokowi, aku akan sakit kepala tidak sembuh-sembuh selama jadi capres. Jadi gubernur DKI saja aku ogah. Apa enaknya? Orang-orang Jakarta itu nyebelin. (Maap ye…) Tapi selama tinggal di Jakarta, aku merasa orang di kota ini lebih susah diatur. Masalah sepele saja misalnya, soal memakai helm. Dulu, waktu aku tinggal di Madiun, mana berani aku naik sepeda motor tanpa memakai helm? Aku sempat merasakan ketika peraturan pemakaian helm ditetapkan. Waktu itu memakai helm semacam paksaan. Terasa menyebalkan memang. Dan saat itu para pengendara motor yang tidak memakai helm betul-betul ditilang. Bagiku, si anak penakut ini, ditilang itu bagaikan ditakut-takuti masuk penjara. Mengerikan! Akibatnya, sampai sekarang aku merasa perlu pakai helm jika naik motor–walaupun jarak dekat. Memang harus begitu kan? Demi keselamatan pribadi juga kan? Tapi berbeda ketika aku di Jakarta. Kuakui aku beberapa kali melanggar peraturan: tidak mengenakan helm saat naik motor. Aku memang hanya dibonceng sih. Tapi teman yang memboncengkan aku hanya bilang: “Tenang saja, tidak apa-apa.” Dan memang tidak terjadi apa-apa. Banyak orang naik motor tidak memakai helm di sini. Banyak, banyak sekali! Bahkan ketika polisi melihatnya, mereka tidak ditegur, disemprit, atau dapat peringatan. Itu terjadi berulang kali dan saat itu aku lewat jalan protokol! Bayangkan. Kalau di Madiun, aku pasti tidak akan berani melakukannya. Sampai sekarang pun, aku tidak akan berani. Jadi, aku menyimpulkan, orang Jakarta lebih berani melanggar aturan. Kebayang kan betapa dibutuhkan ketegasan dan hati seluas samudera untuk jadi gubernur DKI, memimpin masyarakat yang susah diatur dan punya permasalahan yang kompleks? Ah, aku sih ogah. Capek lahir batin. Tapi kok Pak Jokowi mau sih? Apalagi dia suka blusukan begitu. Mungkin simbahku akan bilang, dia itu wong sing ra duwe kesel. Tidak punya rasa capek.

Oh, ya balik ke soal capres tadi. Iya, jadi capres itu melelahkan. Aku membayangkan akan menangis berapa kali ya kalau selama masa kampanye aku dapat fitnahan kiri kanan, atas bawah. Dibilang kafirlah, dibilang antek asinglah, dan entah apa lagi. Pernahkah kamu difitnah? Aku lupa. Lagi-lagi aku memang pelupa. Tapi aku ingat, ketika mendengar selentingan tidak mengenakkan tentang diriku saja, rasanya sangat mengesalkan! Tapi mau tidak mau harus menelan itu semua kan kalau kita maju jadi capres. Setidaknya itu yang terjadi sekarang. Setidaknya itu yang menimpa kedua capres kita. Banyak orang bermulut tajam dan menghalalkan segala cara agar capres jagoannya menang. Memang jahat. Mengerikan isi otak manusia itu.

Aku ingat, dulu waktu SD aku pernah terpilih jadi ketua kelas. Tapi untungnya cuma sekali. Dan itu sangat tidak mengenakkan. Ketika guru kelas keluar, aku wajib mencatat nama teman-temanku yang ramai sendiri. Wah, padahal kalau guru sedang tidak di tempat paling asyik kalau kita ikut membuat gaduh kan? Iya, itu memang ide anak badung. Mungkin itu sebabnya aku tidak suka jadi ketua kelas. Jadi pemimpin itu sulit–menurutku. Dalam pikiranku, idealnya seorang pemimpin itu mesti orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri. Maksudku, idealnya pemimpin itu tulus, tidak punya kepentingan pribadi. Kalau orang itu punya banyak kepentingan, selama memimpin dia akan sibuk memenuhi keinginannya sendiri lalu lupa bahwa dia perlu mengurusi rakyatnya.

Aku rasa, jika saat ini ada anak yang bercita-cita jadi presiden, itu ibaratnya dia bercita-cita jadi santo/a. Jadi orang suci. Orangtuanya wajib tirakat puasa Senin-Kamis bertahun-tahun barangkali agar cita-cita anaknya terkabul. Dan dari kecil si anak mesti latihan menahan hawa nafsu, plus dia harus cerdas. Jadi, waktu menjadi presiden dia sudah melepaskan segala keinginan dan benar-benar mengabdi untuk bangsa dan negara. Mudahkah? Kurasa itu jalan yang terjal. Tidak semua orang mampu. Karena untuk jadi pemimpin, apalagi menjadi presiden sebuah negara, selain diperlukan otak yang cukup cerdas, diperlukan ketulusan. Namanya juga mau mengabdi, kan? Kalau dia punya banyak kepentingan, nanti salah-salah dia mengabdi dirinya sendiri atau sibuk mencari proyek untuk memakmurkan dirinya sendiri.

Ah, tulisan ini sudah terlalu panjang kurasa. Semakin membosankan. Jadi kuakhiri saja. Aku hanya berharap, presiden kita nantinya orangnya tulus dan baik. Sederhana ya? Kalau soal pintar, aku rasa walaupun itu perlu, juga dia juga perlu bisa mengumpulkan orang-orang pintar untuk menjadi pembantunya. Tentunya orang-orang itu juga tulus dan ikhlas. Menurutku lebih sulit menjadi orang tulus dan berhati bersih daripada menjadi orang pintar. Orang pintar banyak, tapi yang hatinya bersih? Adakah? Semoga ada. Kalau tidak, yaaa… mungkin perlu beberapa generasi lagi agar bangsa ini maju–sebelum tergilas oleh kebodohannya sendiri.

Soal Copras-Capres

Belakangan ini, masalah copras-capres jadi bahan pembicaraan di mana-mana. Bahkan ketika aku ke pasar, para pedagang yang menunggui dagangannya ikut membicarakan capres favoritnya. Salah satu percakapan yang kudengar dari salah seorang pedagang sayur begini: “Kalau capres yang katanya ganteng itu, pedulinya sama karyawan-karyawan. Kalau yang satu lagi, lebih peduli sama kita, orang kecil.” Gitu katanya.

Ya, memang untuk masalah copras-capres ini, aku tidak terlalu banyak bicara di FB atau twitter. Seingatku, kalau pasang-pasang tautan atau tulis komentar di FB atau Twitter, aku memang jarang. Tapi kalau chatting, yaaa beberapa kali lah. 😀 Meskipun ngobrolnya dengan orang-orang itu-itu saja. Soal memasang tautan, aku merasa aku perlu berhati-hati karena di luar sana banyak kampanye hitam. Begitu pula ada tautan yang katanya begini, atau begitu. Aku merasa, kalau tidak tahu persis kebenarannya, tidak baik kalau aku ikut pasang tautan tersebut. Ya, itu pendapatku pribadi sih. Kalian boleh punya pendapat yang berbeda.

Dari awal aku sudah memantapkan pilihan bahwa aku akan memilih capres yang ulang tahunnya sama denganku. 😀 😀 *kode* Apa pun kata orang deh, aku lihat dia orang yang mau bekerja keras. Bukan orang yang tidak mau turun ke bawah atau tukang suruh. Karena apa? Karena aku paling tidak suka punya pemimpin yang hanya bisa menyuruh. Kalau tukang suruh, banyak yang mau. Dan bukankah para pejabat kita ciri khasnya begitu ya? Konon kabarnya begitu sih. Tapi rasanya aku jarang sekali melihat pemimpin yang mau berbaur dengan orang kecil. Jadi, sekali ada orang yang seperti itu, nah… itu bisa jadi teladan yang baik. Cocoklah kalau begitu.

Ngomong-ngomong soal capres ini, salah seorang yang biasa kuajak bicara tak lain dan tak bukan adalah suamiku. Yang kami bicarakan bukan melulu soal si capres ini begini, capres itu begitu. Satu hal yang biasa dikatakan suamiku adalah, demokrasi itu idealnya didukung oleh pendidikan yang baik bagi warganya. Kalau warganya masih bodoh, jangan salahkan kalau yang naik adalah pemimpin yang tidak baik atau hanya mau memikirkan kepentingan pribadi/golongannya sendiri. Selain itu, dalam demokrasi suara satu orang baik sama nilainya satu suara orang brengsek. Oke, dulu aku memang sering golput. Pas pemilu legislatif kemarin aku memang golput. Tapi untuk pemilu presiden besok aku tak ingin golput. Bagiku, kali ini suaraku penting untuk kuperjuangkan demi Indonesia yang lebih baik. Sampai tanggal 9 Juli besok, orang boleh ngomong apa saja soal capres favoritnya. Tapi pertarungan yang sebenarnya adalah tanggal 9 Juli nanti. Aku ingin memperjuangkan suaraku karena kali ini aku yakin dengan pilihanku dan aku tak ingin orang-orang brengseklah yang menguasai negara ini. Sekian.

13

Bukan, aku bukan penggemar angka 13. Angka favoritku 7. Dan belakangan kadang aku suka angka 8 atau 9. Tapi kalau diminta memilih, aku suka angka 7. Angka 7 itu pas. Kalau ujian, dapat nilai 7, kan lumayan. Bisa lulus. Kecuali syarat lulus nilainya harus 8 ya. Ah, tapi kalau soal nilai ujian, aku lebih suka dapat 8–setidak-tidaknya.

Tapi ini tanggal 13. Tiga belas Juni, tepatnya. Dan aku hampir melupakan tanggal ini. Memang aku selalu lupa tanggal belakangan ini. Lupa hari juga. Sepertinya waktu meluncur begitu saja. Yang jadi penanda sekarang hari apa biasanya suamiku. Maksudku, aku bisa tanya ke dia sekarang hari apa kalau dia masuk kerja setiap hari. Kalau sudah Sabtu atau Minggu, itu artinya dia libur. Sesekali saja dia ada kelas sih kalau Sabtu. Tapi tidak selalu. Yang jadi masalah seringkali adalah tanggal. Aku sering lupa. 😦

Yang membuatku teringat hari ini tanggal 13 karena kemarin di FB beberapa temanku menyebutkan besok (jadi, artinya hari ini) adalah tanggal 13 dan hari Jumat. Memangnya kenapa kalau tanggal 13 jatuh hari Jumat? Nggak tahu juga sih (malas googling). Tapi aku langsung teringat film seri horor Friday 13th zaman TVRI masih jaya. (Eh, ada nggak sih serial ini di Youtube atau malah ada yang jual?) Kalau yang tahu film ini, pasti orang jadul deh. 😀 😀 Iya, kan?

Beberapa belas tahun lalu, aku selalu ingat tanggal 13. Ini ulang tahun sahabatku, mbakyu ketemu gede, Mbak Tutik. Dia teman sekamar waktu kami masih menghuni Asrama Syantikara. Dua malam yang lalu aku mimpi ketemu dia. Lebih tepatnya dalam mimpiku aku telpon-telponan dengan dia. Aku lupa pembicaraan kami persisnya apa. Tapi dalam mimpiku aku agak kaget menerima telepon darinya karena di pikiranku dalam mimpi itu, dia sedang pergi (dan kenyataannya dia sudah meninggal).

Aku senang dalam mimpi bisa bicara sebentar dengan dia. Itu jadi semacam tombo kangen, penawar rindu. Dan rasa-rasanya di saat-saat tertentu kami “bertemu” dalam mimpi. Pernah waktu itu aku pengin sekali mengobrol dengan dia, lalu dia muncul dalam mimpiku dan aku terbangun dengan setengah menangis. Ya ampun, baru sekali itu aku terbangun dengan agak terisak seperti itu. Dalam mimpiku waktu itu dia justru bilang, “Wis, ora usah nangis…” Tapi sepertinya gara-gara ucapannya itu aku malah menangis.

Baiklah, aku tak ingin berpanjang-panjang dan bermelo ria di sini. Biarlah tulisan ini jadi pengingat ulang tahun Mbak Tutik.

Aku isih kelingan ulang tahunmu, Mbak Tut. Kangen ngeteh dan ngemil gorengan lagi denganmu sore-sore di ruang tamu unit.