Cerita Mengantri (di Quiznos)

Adakah orang yang senang mengantri? Aku tidak. Mungkin kebanyakan orang juga tidak. Tapi entah kalau ada ya. Mengantri gajian, mungkin lain ceritanya. Kamu pernah? Aku belum, hehe. Yang pernah sih antri mendapatkan uang ganti ongkos transport. Itu pun tidak sepenuhnya mengantri alias berjajar di depan pintu untuk masuk ruangan. Yang kulakukan adalah mengobrol dengan beberapa teman biar tidak terasa kalau benar-benar menunggu.

Soal mengantri, aku punya cerita baru. Ceritanya kemarin malam Oni mengajakku ke Quiznos. Beberapa kali dia menyebut nama itu dan pengin mencoba ke sana. Waktu googling, ternyata tempatnya tidak terlalu jauh dari rumah. Oke, deh cobain.

Waktu masuk ke sana, kulihat lumayan juga antriannya. Di sisi kanan, antrian agak rapi: orang berjajar menunggu dilayani oleh kasir. Yang di deretan kiri, berjubel tidak jelas. Karena sebenarnya tidak tahu mesti mengantri di sebelah mana, jadi kami antri di sisi kanan yang rapi itu. Kupikir model antrinya kaya di KFC atau McD, yang setelah bayar, kita nunggu sebentar trus makanan bisa langsung kita bawa ke meja. Rupanya tidak begitu. Ternyata setelah mengantri membayar di kasir, kami mesti ikut berjubel antri di lajur kiri untuk mengambil pesanan makanan.

Kami dapat nomor 210, sementara tidak jelas yang dilayani sudah sampai nomor berapa. Pelayan di belakang meja awalnya tidak menyebutkan angka. Mereka hanya sibuk membungkus. Pantas saja orang berjubel. Semua mau dilayani lebih dulu, kan? Namanya juga orang Indonesia. Susah disuruh tertib. Akhirnya Oni tanya-tanya ke pembeli lain, dan ternyata ketahuan yang dilayani baru nomor 195. Weh, suwi ki, batinku. Memang benar-benar lama. Keju nek kon ngadeg terus, cah! Seingatku baru setelah sampai angka 201, pelayan di balik layan menyerukan angka. Waktu sedang antri, sambil bercanda aku bilang sama Oni: “Mbak-mbak petugasnya tuh kalau ibarat main dinner dash, udah game over.” Lha suwine pol, jeee. Entah karena kurang cepat melayani, entah alat untuk pemanggangnya yang mesti ditambah atau gimana, aku nggak tahu deh. Namanya pembeli kan tahunya makanan disajikan dengan cepat, enak. Begitu kan?

 

IMG_20150726_190441
Antri dengan kemruyuknya…

Akhirnya tiba saatnya nomor kami disebutkan. Yang melayani adalah petugas yang tidak memakai seragam seperti karyawan lain. Mungkin atasan mereka? Entahlah. Dia pakai baju garis-garis vertikal. Saat sedang melayani sub pesanan kami, aku tanya: “Apakah selalu antri banyak begini?” Dia menjawab, “Iya, kalau weekend selalu begini.” Yeah… berarti kesimpulannya mereka tidak memberlakukan sistem mengantri yang lebih baik dong. Iya kan? Iya kan? Dan ini bukan kejadian yang pertama. Artinya, mereka tidak belajar. Apakah menunggu para pembeli punya inisiatif untuk tertib sendiri? Hihi. Tidak akan mungkin lah. Situ ngimpi apa ngelindur?

Mongomong, Quiznos ini apa sih? Kalau kata Om Wiki, Quiznos ini adalah restoran waralaba makanan cepat saji, yang pusatnya di Denver, Colorado. Utamanya mereka menyediakan toasted submarine sandwiches. Ini semacam roti tangkup trus diisi entah daging, keju, sayur. Silakan googling kalau mau tahu foto-fotonya karena aku kemarin malas memotret. Sudah capek antri, mesti memfoto makanannya juga? Keburu lapaaar…

Quiznos Sub ini lokasinya di Jalan Pemuda, Rawamangun. Sebelah baratnya Arion. Kalau nggak tahu barat sebelah mana, bawa kompas ya. 😀 😀 Kafe ini sebelahan dengan pom bensin. Tempat parkirnya lumayan luas, tempat duduk di dalam juga cukup banyak, plus ada tempat di atas. Tapi aku tidak naik, jadi tidak tahu bagian atasnya seperti apa.

Soal rasa makanan, hmmm… lumayan. Rotinya enak, empuk. Tapi entah kenapa, di lidahku after taste-nya agak gimanaaa, gitu. Mungkin dressingnya keasinan? Entahlah. Kalau soal rasa begini, kurasa subyektif. Aku pesan yang Traditional kemarin. Ukuran rotinya 6 inchi. Oh, iya, untuk ukuran ini sebenarnya aku agak kurang sreg. Orang Indonesia kan tidak biasanya dengan ukuran inchi ya? Kenapa mereka memakai kata inchi waktu bertanya ke pembeli? Kalau bilang, kira-kira 15 senti, begitu kan orang lebih cepet nangkapnya.

Harga makanannya mahal, menurutku. Kemarin kami habis 60-an ribu hampir 70 ribu. Itu kami hanya pesan satu plus air mineral botol. Dengan mengeluarkan uang yang kira-kira hampir sama, kami bisa makan di Restoran Padang Sederhana dengan lauk yang meriah. Hahaha. Nggak apple to apple sih kalau membandingkan jenis makanannya. Ini hanya membandingkan besaran uang yang mesti dikeluarkan dan tingkat rasa kenyang, kok.

Apakah aku akan balik ke sana? Hmm… kalau ditanya begitu, aku kayaknya akan mikir-mikir deh. Kalau ada yang mentraktir, kalau tidak pakai nunggu lama, kalau tidak pas lapar banget, mungkiiiin… masih mau. Tapi kalau enggak, kok kayaknya aku mending ke tempat makan yang lain ya? Mungkin aku bukan termasuk sasaran pasar mereka sih, karena yang jelas Quiznos ini membuatku mesti merogoh kantong agak dalem, dan jelas ini akan sangat jarang kulakukan. Plus karena antrinya itu membuat maleeezz. Namanya restoran cepat saji, masak nunggu makanannya pakai lama? Mending beli nasi Padang kan? Lebih cepet, lebih meng-Indonesia. 😀 😀

Advertisements

Sebelum Lebaran Tiba …

Kalau ada satu hal yang kusyukuri setiap kali lebaran tiba adalah soal aku tidak wajib mudik. Simbah yang wajib kusowani pada saat hari raya sudah seda (meninggal) semua. Plus aku tidak merayakan Idul Fitri, jadi Bapak dan Ibu tidak mewajibkan aku untuk pulang. Bagiku, membayangkan mudik saat lebaran itu sesuatu yang “malesin” banget. Mesti rebutan beli tiket yang harganya melejit. Oh, enggak deh. Pertama, aku bukan orang yang suka rebutan. Kedua, kalau bisa pulang saat tiket murah, kenapa mesti pulang saat tiket mahal? Hmmm…

Sudah lebih dari lima kali lebaran kuhabiskan di Jakarta. Awalnya dulu kubayangkan lebaran bakal membuat Jakarta mendadak lengang dan super sepi. Nyatanya tidak persis begitu. Masih ada daerah yang cukup ramai kok. Jalan Sudirman-Thamrin sih wajar kalau sepi. Itu kan daerah perkantoran. Kantor mana yang masih buka di saat lebaran?

Tapi lebaran di Jakarta itu mesti menerapkan tips tersendiri. Tadi pagi aku ke pasar. Niatku hanya membeli sayur untuk kumasak hari ini saja. Lebaran masih hari Jumat depan, kan? Jadi kalau mau menimbun sayuran, kupikir bisa dua hari lagi. Tips pertama yang selalu kuingat adalah belilah sayur cukup banyak sebagai persediaan karena saat lebaran, pasar biasanya sepi. Tapi waktu bertemu dengan penjual sayur langgananku, aku agak heran. Kok sayur bawaannya sedikit? Waktu kutanya, ternyata hari ini dia terakhir berjualan di pasar. Besok sudah libur. Waduh… Sebetulnya masih ada sih beberapa penjual sayur lain. Tapi kalau si bapak sayur ini besok sudah libur, bisa jadi besok beberapa penjual sayur juga libur. Waaaa… pegimana, nih? Dan rencanaku belanja sayur untuk hari ini saja batal. Aku belanja pula beberapa jenis sayur yang bisa tahan disimpan agak lama: wortel, brokoli, kentang… eh, kentang tidak termasuk sayur ya? Untungnya aku bawa uang lebih.

Tips kedua yang wajib dilakukan adalah menyetok persediaan air mineral galonan. Dan puji Tuhan, abang tukang air galonan belum mudik. Ahay! Air minum sebanyak 3 galon kini duduk manis di sudut rumah. Legaaaa.

Yang perlu kupikirkan untuk beberapa hari ke depan adalah menyiapkan persediaan buah-buahan. Hari ini aku masih punya persediaan pepaya agak besar yang mungkin bisa untuk tiga hari. Nah, sebelum lebaran tiba, aku mesti menyetok buah lagi. Semoga harganya tidak mahal banget.

Perjalanan Hati di Suatu Sabtu Pagi

Sampai hari terakhir bulan Mei, aku belum posting apa pun di sini? Ya ampun. Keterlaluan memang. Aku kadang tidak tahu apa yang terjadi dengan diriku kenapa bisa males banget begini. Memang sih tidak dosa kalau blog ini dibiarkan nganggur. Tapi kan gimana gitu, ya. Aku suka tidak enak sendiri.

Hari Sabtu yang lalu aku ditawari untuk ikut ke rumah susun Cipinang Besar Selatan. RPI (Resourceful Parenting Indonesia) punya kegiatan pendampingan untuk para orangtua di sana. Karena tidak tahu di mana persisnya rusun tersebut, aku janjian dengan Pak Hengky sekitar pukul 9 pagi dan dia bersedia menunggu di depan Hotel Nalendra. Aku naik bajaj ke sana. Kupikir supir bajaj tahu tempat itu, tapi dia sama tidak tahunya denganku. Untungnya tidak kesasar. Waktu sampai di depan Hotel Nalendra, Pak Hengky sudah menunggu. Duh, telat deh aku. Waktu akan berangkat aku pakai acara sakit perut. Dan aku ini kan bukan morning person. Jadi, aku selalu lambat kalau harus aktivitas pagi. Nyawanya susah ngumpul.

Ternyata rusun itu cukup luas. Ada tiga menara (tower). Walaupun tidak bisa dibilang bersih banget, tapi rusun itu sudah lumayanlah. Lebih rapi dibandingkan rumah-rumah yang ada di gang sempit yang ada di Jakarta.

Aku menunggu acara berlangsung di sebuah ruangan yang saat hari biasa dijadikan PAUD. Ruangan itu lega, pencahayaan bagus. Tanpa lampu, matahari bisa masuk. Nyaman untuk belajar anak-anak. Tak lama mataku tertuju pada sebuah rak yang berisi beberapa majalah dan buku. Sepertinya itu adalah rak buku untuk anak-anak yang belajar di PAUD itu. Penasaran, kudekati rak itu. Entah kenapa aku mendadak ingin menangis. Buku-buku anak yang ada di situ sedikit. Semuanya buku terjemahan. Bukannya aku bilang buku terjemahan itu buruk ya, tapi kurasa akan lebih bagus jika buku-bukunya memuat konteks lokal. Salah satu kelemahan buku terjemahan yang ada di situ adalah nama-nama tokoh di buku itu sulit dilafalkan oleh anak (aku tidak perlu menyebutkan judulnya). Dari workshop bersama Room to Read lalu, agar anak senang membaca, diperlukan buku yang sesuai. Kurasa kalau untuk anak usia PAUD, lebih baik buku yang disajikan adalah buku level 1 dan 2. Ciri buku level 1 dan 2 adalah kalimat-kalimatnya sangat sederhana. Rata-rata kalimat per halaman sekitar 0-2 kalimat untuk buku level 1 dan 1-3 kalimat untuk buku level 2. Temanya juga jangan yang rumit, sederhana, dengan situasi yang familiar untuk anak. Singkat kata, menurutku buku-buku di sana terlalu sulit.

Sekitar pukul 10.30 acara dimulai. Pak Hengky membagikan pentingnya pengasuhan anak yang benar pada anak usia dini, karena ibarat membangun rumah, pengasuhan anak usia dini bagaikan membangun fondasi. Namanya fondasi harus kokoh, kan? Setelah dijelaskan cukup panjang, ibu-ibu yang datang dibagi dalam dua kelompok. Mereka lalu diminta untuk membuat target: apa yang akan dilakukan bersama anak setiap hari selama 15 menit selama dua minggu ke depan. (Misalnya, membaca buku bersama anak, berolahraga, mendongeng, dll.) Selama diskusi itu ibu-ibu yang hadir diminta berbagi jika ada kendala. Rata-rata kendalanya bermuara pada komunikasi yang kurang baik dengan pasangan dan anak. Cukup panjang sebenarnya sharing mereka. Tapi aku merasa kurang enak jika dibeberkan di sini.

Yang membuatku senang dengan kegiatan ini adalah ibu-ibu itu cukup antusias. Itu bukti bahwa mereka mau maju.

Menurutku yah, sebetulnya banyak sekali pasangan yang tidak siap punya anak. Bukan, bukan berarti mereka menikah terpaksa dan akhirnya punya anak. Tapi banyak orangtua yang tidak tahu bagaimana mengasuh anak dengan baik. Tidak tahu bagaimana berkomunikasi secara efektif dengan anaknya. Tidak tahu bagaimana membangun komunikasi yang saling menguatkan dengan pasangan. Jadi, sebetulnya tidak terlalu mengherankan jika salah satu efek sampingnya terjadi kekerasan (baik suami kepada istri, atau ibu/ayah kepada anak). Ditambah lagi dengan beban ekonomi yang berat, membuat orang semakin stres. Keluarga bukan menjadi tempat untuk mendapatkan peneguhan, malah jadi sumber stres tersendiri.

Satu hal lagi yang mengusikku adalah: “Apa artinya kemiskinan?” Mungkin kemiskinan bukan semata-mata orang tidak punya uang untuk membeli makan atau memenuhi kebutuhan hidup. Kemiskinan yang kulihat salah satunya adalah kurangnya atau tidak adanya akses untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Salah satunya yang kudapati tadi adalah tidak adanya buku yang sesuai. Bagi sebagian kalangan, buku dianggap tidak penting. Tapi buku menurutku sumber untuk menambah wawasan. Kalau otak tidak diisi, menurutku nantinya akan berbahaya juga. Kurasa jika orang-orang seperti mereka lebih diberdayakan, diasah ketrampilannya, ditambah wawasannya, dunia ini akan berubah.

Di Hari Nyepi Ini…

Pagi tadi aku terbangun dan mendengar suara kokok ayam tertawa milik tetangga. Yang pertama kupikirkan saat itu juga adalah hal-hal yang akan kulakukan hari ini. Aku sudah membuat daftar di kepalaku. Tapi kemudian aku mulai mencoba menarik napas dalam-dalam dan entah bagaimana, aku berpikir sepertinya aku sudah merusak pagi ini dengan daftar ini-itu dalam kepalaku. Kenapa aku lupa mensyukuri hal-hal kecil yang begitu dekat dengan diriku? Aku lupa bersyukur bahwa aku terbangun di rumah yang walaupun masih mengontrak, rumah ini memberi naungan yang cukup nyaman buatku. Aku lupa bersyukur bahwa telingaku masih normal, masih bisa mendengar suara ayam berkokok. Aku lupa menyadari bahwa aku bisa menarik napas dalam-dalam. Aku cukup sehat, aku bisa beraktivitas dengan baik. Rasanya mensyukuri hal-hal kecil seperti itu perlu lebih dibiasakan. Menurutku, bersyukur adalah seni melihat dan merasa bahagia dengan hal-hal yang dekat dan yang berada dalam jangkauanku. Memang dengan bersyukur, hati rasanya lebih ringan. Tidak kemrungsung atau seperti diburu-buru.

Sejak beberapa hari lalu, suamiku memintaku untuk menemaninya olahraga panahan di Senayan. Dia janjian dengan beberapa temannya. Kami berangkat sekitar pukul 8 lewat–setelah insiden mencari power bank yang ternyata nyelip di tumpukan baju (ya ampun!). Kupikir tadinya mau naik busway. Tapi suamiku bilang, “Nggak keburu. Naik taksi saja.” Okelah…

Kami dapat taksi BB. Supirnya–menurutku–agak masam tampangnya. Kurang senyum. Tapi tak apalah. Asal nyupirnya tidak gobras-gabrus alias ngebut tidak aturan. Memang dia nyupirnya biasa saja, tapi setelah sampai simpang Megaria (dari arah jalan Proklamasi), dia ambil arah Menteng. “Lho, kok lewat sini, Bang?” Aku heran. Padahal dia sebetulnya bisa belok kiri langsung ke jalan Diponegoro. Pertanyaan itu dijawab, “Sama saja. Nanti juga tembusnya dekat HI.” Sebetulnya aku agak kurang suka dengan pilihan arah yang diambil pak supir. Menurutku lebih jauh. Tapi sudahlah. Malas berdebat. Aku ambil positifnya saja, aku bisa melihat suasana baru daerah Menteng, jalan yang jarang kulewati (karena aku biasanya lebih sering lewat jalan Diponegoro).

Saat di taksi, aku sempat membuka FB lewat android dan membaca postingan salah seorang teman. Aku baru sadar ini hari Nyepi. Temanku share tulisan Gobind Vashdev yang menulis sekilas tentang Nyepi. Bagus juga ya Nyepi ini. Ini adalah hari raya keagamaan di mana umatnya diajak untuk hening. (Begitu pemahamanku, tolong koreksi jika keliru atau kurang tepat, ya.) Rasanya keheningan itu perlu karena sepanjang tahun kita biasanya begitu sibuk melakukan ini dan itu, pikiran melompat ke sana ke mari. Yah, aku merasa ucapan “Aku sibuk” rasanya sudah menjadi semacam label yang mungkin tanpa sadar dirasa membanggakan. Orang senang jika sibuk. Atau, mungkin lebih tepatnya, orang senang jika dianggap sibuk, karena sibuk berarti kita menjadi orang penting. Mungkin ya….

Syukurlah lalu lintas cukup lancar. Tidak ada kemacetan. Kami tiba di Senayan lebih awal daripada teman-teman yang lain. Jadinya, kami malah menunggu agak lumayan lama. Sebenarnya, aku agak kurang suka dengan hal seperti ini. Aku malas menunggu. Sambil menunggu aku mengamati beberapa orang yang latihan memanah. Asyik juga kelihatannya. Sayangnya lapangan memanah di Senayan kurang terawat–menurutku. Bukan buruk sih. Tapi kurasa kalau lebih dirawat, bisa jauh lebih rapi. Biasalah, Indonesia gitu loh. Olahraga bukan dianggap hal penting oleh pemerintah, jadi yaaa … gitu deh. Karena semalam hujan, lapangan bagian tepinya sebagian tergenang air.

Menjelang pukul 10, beberapa teman suamiku datang. Dan mereka mulai latihan memanah. Sebenarnya aku agak penasaran juga dengan olahraga ini setelah sempat menyaksikan beberapa orang latihan. Tapi tanganku mudah sekali bermasalah. Kalau salah urat atau ketarik nggak jelas, bisa-bisa sembuhnya semingguan deh. Beberapa bulan lalu, gara-gara cuma memikser adonan kue, tanganku sempat sakit. Dan aku jadi susah mengetik selama beberapa hari. Jadi, kuputuskan tidak ikut mencoba memanah. Cukuplah jadi penonton yang baik.

Pulang dari Senayan, kami mampir ke Kokas. Niatnya sih mau menservis laptop yang baterainya error. Waktu tanya ke petugas, dijawab ternyata tempat servis itu tutup karena… ini tanggal merah, hari raya Nyepi. Ealah… kenapa aku tidak sadar ya? Padahal tadi waktu di taksi, saat berangkat ke Senayan, kan aku sudah membaca postingan soal Nyepi.

Ya, sudahlah. Di Kokas toh sebenarnya suamiku ada janji bertemu temannya. Jadi, yaaa… tidak rugi-rugi amat.

Hari ini mencoba mensyukuri segala hal yang aku alami. Oya, ada satu hal yang kurasa perlu kutulis di sini, mengutip dari status Gobind. Meher Baba, seorang Sufi dari India mengatakan, ” Pikiran yang cepat adalah pikiran yang sakit, pikiran yang pelan adalah pikiran yang sehat, dan pikiran yang hening adalah Pikiran Ilahi.” Ini mengingatkanku supaya tidak menjejalkan begitu banyak hal dalam pikiranku, tidak menatanya, sehingga memutar pikiranku lebih cepat, lalu akhirnya jadi cemas sendiri.

Selamat merayakan Nyepi buat teman-teman yang merayakan. 🙂

Meminjam Bumi

Kurasa ada dua jenis orang ketika mencuci tangan di wastafel.

Jenis I:
Buka keran, membasahi tangan. Setelah itu mengambil sabun dan membiarkan keran air tetap terbuka. Setelah kedua belah tangan disabuni, dibasuh dengan air dari keran yang masih mengalir tadi. Setelah selesai, keran dimatikan.

Jenis II:
Hampir sama seperti orang jenis pertama, tapi bedanya, sebelum mengambil sabun, keran air dimatikan terlebih dahulu. Tujuannya sederhana, agar air bersih tidak terbuang percuma. Setelah tangan disabun, baru keran dibuka lagi untuk membilas. Setelah selesai, keran dimatikan.

Kamu termasuk jenis yang mana?

Beberapa waktu lalu, aku janjian dengan temanku, Adel, untuk makan di sebuah rumah makan tak jauh dari rumah kami berdua. Temanku ini mengajak anaknya yang masih TK, Hiero. Sebelumnya aku mau cerita hubungan dengan Hiero ini. Entah bagaimana hubunganku dengan Hiero itu rasanya antara benci dan rindu. Haha, lebay istilahnya ya. Jadi begini ceritanya, hubungan kami ini dimulai sejak Hiero masih ada di dalam perut ibunya. Waktu Adel hamil Hiero, kami beberapa kali jalan berdua, entah makan bareng, belanja, atau sekadar ngerumpi sambil jalan-jalan. Waktu Hiero sudah lahir, aku kadang main ke rumahnya. Nah, biasanya kalau aku pamit pulang, dia pasti nangis menahanku tidak boleh pulang. Repotnya kalau sudah malam dan mau tidak mau aku harus pulang. Dia nangisnya sampai lama banget. Kasihan emak dan bapaknya yang sibuk menenangkan dia saja sih. Jadi kalau bisa, aku pulang pas dia sudah tidur. Orang Jawa bilang, istilah dilimpe. Hahaha. Sekarang Hiero sudah agak besar. Tapi anak itu sepertinya perasa dan suka ngambek. Aku termasuk tante iseng yang kadang-kadang membuat dia ngambek lalu ujung-ujungnya nangis. Nah, kalau sudah ngambek, aku dan Hiero jadi sebel. Ish… pokoknya gitu deh. Kalau dia sudah sebel sama aku, dia biasanya bilang begini, “Tante Nik pulang sana!” Haha. Aku antara geli dan sebel kalau dia mulai ngomong begitu. Tapi kalau kami lama tidak ketemu, suka kangen. Jadi, begitulah cerita hubungan benci dan rinduku dengan Hiero.

Oke, balik ke urusan cuci tangan dan makan di restoran tadi. Sambil menunggu makanan kami datang, Hiero diminta cuci tangan oleh ibunya. Awalnya ibunya yang mau mengantar dia cuci tangan, tapi Hiero menolak. “Mau sama Tante Nik aja.” Iya, begitu tuh dia kalau belum ngambek sama aku. Suka manja-manja gimana gitu deh. 😀 😀 Akhirnya aku temani dia cuci tangan. Setelah dia membuka keran dan mengambil sabun, kulihat dia tidak mematikan keran. Aku pun menegur dia, “Hiero, kalau setelah ambil sabun, kerannya dimatikan dulu ya? Biar air bersihnya tidak kebuang sia-sia. Hiero mesti jaga air bersih soalnya nanti makin lama, air bersih susah didapat. Hiero bakal hidup lebih lama dari Tante Nik. Jadi, Hiero akan butuh air bersih lebih banyak lagi. Oke?” Aku tidak tahu dia mengerti ucapanku apa tidak. Tapi dia mengangguk-angguk mendengarnya.

Dilihat dari segi umur, aku dan Hiero usia kami terpaut jauh. Tadi aku mengatakan bahwa Hiero akan hidup lebih lama dari aku. Memang aku tidak bisa menebak umur manusia, tapi dari hitungan nalar manusia, benar seperti itu kan? Kurasa Hiero dan generasi dia selanjutnya akan punya tantangan lebih besar lagi dalam mengelola lingkungan. Zaman sekarang lingkungan kita saja sudah banyak tercemar. Apalagi nanti kalau Hiero sudah seumur aku ya? Seberapa tinggi lagi pencemaran lingkungan yang terjadi? Apakah air bersih akan sama mudah didapatnya seperti sekarang? Atau bakal lebih sulit? Atau pemerintah ke depan akan menerapkan pengelolaan air bersih dengan lebih canggih? Aku rasa tidak bijak juga kalau kita take for granted air bersih yang selama ini kita pakai.

Untuk urusan seperti ini barangkali aku terkesan riwil dan lebay bagi sebagian (besar?) orang. Tapi aku merasa yang kulakukan ini baik. Menjaga dan tidak menyia-nyiakan air bersih itu penting dan perlu ditanamkan sejak anak masih kecil. Siapa yang bisa mengajari? Orang yang lebih dewasa tentunya–guru, orang tua, kerabat, saudara, dll. Kita meminjam bumi yang kita tempati ini dari anak cucu kita. Ya, kalau tidak punya anak atau cucu, anggap saja kita pinjam dari anak atau cucu tetangga atau saudara. 😀 Kalau memang punya anak dan cucu, mestinya lebih sadar dong. Namanya meminjam, mestinya dikembalikan dengan baik dong. Iya kan?

Nah, dalam hal mencuci tangan, kamu termasuk orang jenis pertama atau kedua?

Apakah Kamu Masih Mendengarkan Radio?

Tulisanku ini tercipta setelah baca tulisan DV yang ini. Lalu aku teringat akan foto yang pernah kuunggah di akun FB-ku. Foto radio lawas punya Mbah Kung. Radio itu kudapati tergeletak di salah satu kamar rumah Mbah, lalu kufoto. Situasi saat itu, siang hari. Di ruang tamu dan ruang tengah para tamu masih banyak yang datang melayat Mbah Kung.

radio punya Mbah Kakung
radio punya Mbah Kakung

Oke, jadi ceritanya suatu kali aku pulang ke Jogja. Karena selama tinggal di Jakarta aku (dulu) cukup sering menyetel radio, aku pun iseng-iseng pengin dengar seperti apa sih siaran radio di Jogja? Sebelum menyalakan radio, ingatanku mau tak mau terbang ke masa-masa kuliah dulu. Dulu, saat tinggal di asrama Syantikara, salah satu “kekayaan” yang kumiliki adalah radio. Sementara beberapa teman lain punya walkman (duh, itu barang mewah waktu itu), aku sudah cukup puas punya radio. Jangan bayangkan radio kecil imut dan cantik ya. Radioku ukurannya hampir sama dengan radio punya Mbah itu, hanya saja lebih modern sedikit sentuhannya. Lalu kekayaan keduaku adalah earphone. Kenapa? Karena kalau mendengarkan radio di asrama tidak boleh disetel dengan suara keras, bisa mengganggu teman seunit yang sedang belajar. (Satu unit itu terdiri dari dua ruang belajar, masing-masing dipakai oleh empat anak. Jadi, kami belajar bersama.) Padahal sih tanpa radio pun kadang kehadiranku cukup mengganggu teman yang lain karena suka mengobrol dengan Mbak Tutik. Hahaha. *Dijewer Sr. Ben deh.*  Stasiun radio yang sering kudengarkan saat itu: Rakosa, GCD (yang khasnya: “radio Bukit Patuk Gunung Kidul… ting tung ting tung… radio yang sebaiknya Anda tahu.), Yasika, Swaragama (waktu itu radio ini masih baru, jadi sering muter lagu-lagu saja), trus yang terakhir Geronimo (tapi Geronimo itu paling jarang kudengarkan).

Eh, aku melamunnya terlalu lama sepertinya.

Iya, jadi akhirnya aku menyetel radio dan sampai di sebuah stasiun radio. Lagi-lagi aku tidak ingat stasiun radio apa itu… 😀 😀 Tapi yang kuingat betul aku seperti tak bisa membedakan aku sedang mendengarkan radio di mana. Aku yang sehari-hari tinggal di Jakarta dan cukup akrab mendengar gaya bicara penyiar dengan logat dan gaya bahasa orang Jakarta (bukan Betawi, sih menurutku, tapi Jakarta yang lu gue, gitu deh), jadi berkata dalam hati, “Aku ki ning Jogja, je… kok penyiare le ngomong nggo boso Jakarta ki piye jaaal?” (Aku sedang di Jogja, tapi kok penyiarnya bicara dengan logat Jakarta?) Aku tidak terlalu lama menyetel radio itu. Kecewa? Ah, itu istilah yang terlalu berlebihan barangkali. Tapi begini maksudku, yang kuinginkan adalah radio dengan nuansa lokal, tapi ternyata kok…? Mungkin bahasa Jakarta itu sangat menarik bagi sebagian (besar?) orang, sehingga mereka merasa perlu mengadopsinya dan memakainya dalam segala hal. Salah seorang temanku pernah mengatakan bahwa dia lebih nyaman bicara dengan bahasa ala anak Jakarta, padahal dia besar di Jogja. Ealah…! Padahal dari tadi aku ngecipris pakai bahasa Jawa dengannya. Tapi mungkin aku perlu move on. Maksudnya, ya barangkali selera pasar kebanyakan adalah bukan orang seperti aku. Seperti orang-orang Jakarta itulah. Bukan aku yang selera ndeso dan memang ndeso ini. 😀 😀 Harap maklum ya, Teman-teman. Dari dulu sampai sekarang aku sering disindir kalau aku medok saat berbicara dalam bahasa Indonesia. Memang lidah ndeso ini susah untuk diajak lebih berselera kota.

Ngomong-ngomong apakah sampai sekarang aku masih sering mendengarkan radio? Kadang-kadang dan bisa dikatakan jarang. Pun ketika kembali ke Jakarta dan hiburanku kebanyakan adalah lewat radio serta internet, aku sekarang jarang mendengarkan radio. Pertama, karena radioku sempat soak. Jadi males kan kalau dengar radio yang bunyinya kaya tas kresek? Kedua, lama-lama bosan juga dengar radio. Kenapa bosan? Ini sebetulnya mirip dengan alasan kekecewaan ketika menyetel radio di Jogja tadi. Ketika itu aku berpikir, kalau ada orang asing yang datang ke Indonesia lalu mendengarkan radio, kira-kira apa ya pendapat mereka? Banyak kan radio di sini yang memutar lagu-lagu barat? Jangan-jangan mereka akan berkata, “Lha aku ki ning endi to? Ning Indonesia opo ning Amerikah?” (Aku berada di mana ya? Di Indonesia atau di Amerika?) Eh, tentunya dia tidak “mbatin” dalam bahasa Jawa ya–kecuali dia orang Suriname, mungkin? 😀 Ya, terserah saja sih kalau radio-radio itu memutar lagu barat. Nanti kita kuper deh kalau tidak tahu lagu atau kabar dari dunia luar. Tapi sejujurnya, aku kangen mendengarkan lagu-lagu daerah, cerita-cerita lokal dari berbagai penjuru Indonesia, atau apa pun lah yang berbau Indonesia disiarkan lewat radio. Tiap radio memang punya kekhasan masing-masing, sih. Itu terserah mereka. Barangkali aku saja yang ngoyoworo atau terlalu muluk-muluk ingin ada rasa Indonesia yang bisa memenuhi selera ndesoku ini di radio yang kudengar. (Sebetulnya rasa Indonesia itu yang seperti apa ya? Kok aku mendadak bingung?) Tapi aku yakin kok, masih ada radio yang menyiarkan “rasa Indonesia”. Setidaknya kapan hari aku kesasar ke RRI dan mendengar ulasan pernikahan adat suku Sasak. Di situ diputar juga lagu-lagu daerah. Rasanya mak nyes, gitu deh. Halah lebay! 😀

Nah, kamu apakah masih mendengarkan radio? Radio seperti apa yang kamu sukai?

Cerita Banjir

Tahu kan Jakarta sering banjir beberapa hari belakangan ini? Meskipun tidak punya televisi, aku bisa menebak tayangan tentang banjir di Jakarta pasti lumayan sering ditayangkan. Ya iyalah, semua stasiun televisi skala nasional kan adanya di Jakarta. Jelas mereka merasakan langsung akibat banjir itu. Dan karena mereka punya “corong”, mereka jadi rajin koar-koar.

Ngomong-ngomong soal banjir, tempo hari seorang teman mengeluh dia kena macet dalam perjalanan ke tempat kerja. Butuh empat jam untuk sampai tempat dia mencari nafkah itu. Gile ye? Empat jam itu setara perjalanan naik bus Madiun-Jogja. Dia cerita, bajunya kuyup karena terpaksa jalan kaki turun dari angkot. “Kendaraan sama sekali tidak gerak,” lapornya. “Aku sempat keciprat air karena ada motor melintas seenaknya. Trus aku kejar orang itu, sampai lampu merah kupukul pundaknya. Kuomelin dia.” Aku tertawa campur iba mendengar ceritanya. Aku bisa membayangkan seperti apa kesalnya keciprat air di jalan. Apalagi jika kita berada di posisi lemah, misalnya sebagai pejalan kaki, sementara yang menciprati kita adalah mobil bagus. Bawaannya pengen nampol kan?

Meskipun rumahku tidak kena banjir, hujan superderas ditambah berita bahwa banyak jalanan yang tergenang air cukup tinggi membuatku memilih mengurung diri di rumah. Aku tak ingin konyol terjebak macet gara-gara banjir. Duh, amit-amit. Membaca ocehan teman-teman di dunia maya ketika mereka terjebak macet dan banjir saja membuatku eneg. Kebayang kalau aku sendiri yang harus mengalaminya. Matur nuwun, kamsia, enggak deh. Sebisa mungkin tidak.

Seperti biasa, saat hujan seperti ini yang menjadi masalah buatku adalah… cucian! Dengan tempat jemuran terbatas, kesabaranku diuji ketika hujan terus mengguyur. Lagi pula, kalau tidak hujan, matahari tampak malas. Hanya muncul sebentar. Jadi kangen matahari deh.

Saat seperti ini aku bersyukur bahwa listrik di rumah tidak mati. Air PAM juga masih lancar dan bersih. Aku tetap bisa bekerja di rumah. Tapi, suamiku mesti berangkat ke tempat kerjanya seperti biasa. Nah, ada satu cerita dari suamiku yang masih kuingat sampai sekarang. Ceritanya, pagi itu hujan deras sekali. Pol deh derasnya. Sebelum berangkat, suamiku mengecek dari internet daerah mana yang kira-kira macet parah. Dia kemudian memutuskan untuk naik metromini 49 yang lewat Utan Kayu. Kata suamiku, dia cukup beruntung lewat situ karena meski macet, tidak terlalu parah. Dia naik dari terminal Rawamangun–terminal terdekat dari rumah. Waktu bus itu sedang ngetem, suamiku sempat mengobrol dengan sang supir. Jalanan yang macet dan di mana-mana banjir, membuat si supir baru dapat dua rit sejak pukul 4 pagi (padahal saat itu sudah pukul 9 lebih, eh atau malah hampir pukul 10 pagi ya?). Supir itu kemudian bercerita soal saudara (atau tetangganya, lupa deh aku) yang awalnya tinggal di Kampung Pulo. Seperti diketahui, Kampung Pulo adalah daerah langganan banjir. Kini saudaranya itu pindah di daerah Klender dan tak mau balik lagi ke Kampung Pulo. Apa penyebabnya? Semata karena banjir? Rupanya tidak sesederhana itu. Ceritanya, ketika daerah itu dilanda banjir, si saudara itu berkemas hendak mengungsi. Saat itu tak disangka ada sesuatu yang tertinggal dan hanyut oleh banjir. Tahu apa yang hanyut? Anaknya yang berusia dua tahun! Aku yang mendapat cerita itu hanya terlongo-longo. Kok bisa? Bisa-bisanya anak sampai kelupaan “diangkut”? Ah, entahlah. Mungkin si orang tua terlalu panik?

Aku kadang berpikir, betapa ringkihnya Jakarta ini. Kena hujan deras saja langsung banjir. Jelas ini merugikan banyak orang. Ditambah lagi banjir pasti menimbulkan kemacetan. Kalau macet begitu, berapa banyak BBM yang terbuang sementara nun jauh di ujung Indonesia sana masih banyak orang yang butuh BBM. Berapa pula banyak waktu yang terbuang sia-sia hanya karena orang terjebak banjir dan kena macet? Belum lagi kalau sampai ada bayi hanyut segala. Halah… halah… Bagiku sendiri, suasana hujan dan banjir ini membuat sayuran jadi mahal. Kangkung yang biasanya cukup kutukar dengan uang dua ribuan, kini jadi lima ribu.

Aku berharap Jakarta bisa lebih baik lagi kondisinya. Selain itu yang menurutku penting adalah semoga kota-kota lain bisa belajar dari Jakarta. Kalau bisa, cukup Jakarta saja deh yang mengalami kekonyolan seperti ini. Maksudku, yang kena hujan deras saja langsung banjir. Semoga kota-kota lain juga berbenah, jangan sampai kaya Jakarta rusaknya.