Apa yang Kamu Lakukan Saat Masuk Angin?

Hari-hari ini Jogja sering sekali hujan. Rasanya hampir setiap hari hujan. Kalau tidak hujan, mendung-mendung lah. Udara menjadi lembab, agak dingin. Yang agak repot tentu saja soal cucian. Lama keringnya.

Ditambah lagi beberapa waktu lalu aku mendapati ada kamar yang bocor. Hadeuh… Mesti memanggil tukang nih. Untung ada tetangga yang bisa dimintai tolong.

Di rumah aku dikepung penderita flu. Kakakku flu. Oni sempat batuk-batuk lagi. Aku sendiri masih bindeng dan tenggorokan kadang terasa tidak enak. Aku sempat berpikir, apa aku minum obat radang ya? Eh, tapi tempo hari ketika aku flu parah, aku mendapat informasi bahwa obat radang ternyata malah menurunkan imunitas tubuh. Jadi, sebaiknya tidak sembarangan mengonsumsi obat radang (tanpa resep dokter). Memang mestinya meningkatkan daya tahan tubuh. Kalau memang parah, mendingan ke dokter saja.

Beberapa waktu lalu aku chatting di WA dan mendapati bahwa temanku masuk angin. Ow… ow… Kasihan. Sampai muntah pula. Aduh. Mungkin cuaca yang kurang bersahabat ini tidak hanya terjadi di Jogja, tapi sampai di seberang pulau. Waktu kutanya, dia bilang dia mau tidur brukut (baca: pakai selimut tebal biar hangat). Aku sempat menyarankan dia supaya minum obat anti masuk angin yang dijual bebas. Aku biasanya minum Tolak Angin. Tapi dia bilang, dia tidak suka. Ya, sudahlah. Setiap orang memiliki cara masing-masing untuk mengatasi masuk angin. Semoga cepat sembuh ya, Kakaaak….

Dari informasi yang kudapat saat browsing, masuk angin sebenarnya gabungan dari kelelahan fisik, terlambat makan, dan stres pikiran. Akibatnya terbentuk gas berlebihan di lambung dan usus. Lalu usus terasa penuh, mulas, mual, dan… ujung-ujungnya bisa muntah. Biasanya orang masuk angin karena terpapar udara dingin. Misalnya, di ruangan ber-AC terlalu lama atau kehujanan. Selain itu, orang bisa masuk angin karena kurang tidur atau kurang istirahat. Jadi, ketika bangun pagi esok pagi, badan terasa tidak enak.

Aku sendiri sekarang berusaha tidak tidur terlalu malam. Paling malam jam 23.00 lah. Kalau bisa jam 22.00 sudah bobok manis. Mending bangun pagi-pagi daripada begadang lalu besoknya mangsuk ngain. Huh. Mana enak?

Mencegah masuk angin itu penting buatku. Soalnya kalau sudah masuk angin, bisa berlanjut deh. Bisa flu. Bisa diare. Kalau flu, aku takut kalau sampai batuk. Lama deh nanti sakitnya. Jadi, penting banget bagiku menjaga badan supaya tidak masuk angin.

Tapi kalau telanjur masuk angin bagaimana dong?

Pertama-tama, aku selalu punya stok Tolak Angin. Penting tuh. Selama ini aku paling cocok minum itu. Jarang mencoba yang lain-lain juga sih. Kalau badan sudah terasa agak tidak enak, cepet-cepet minum si tolak bala itu deh. Lalu selimutan brukut dan tidur.

Kedua, pakai bantal panas. Itu loh, bantal listrik yang bisa jadi anget. Ini membantu banget buatku. Dulu, aku demen banget kerokan. Tapi kebiasaan itu sudah lama kuganti dengan memakai bantal panas saat tubuhku terasa dingin. Paling enak bantal itu ditaruh di punggung. Rasanya kaya dipijit.

Ketiga, minum wedang jahe. Biasanya aku bikin sendiri. Lebih mantep rasanya. Aku biasanya bikin wedang menggunakan slow cooker. Praktis. Tidak usah nungguin. Tidak khawatir luber. Seringnya aku tambahkan kunyit dan sereh ke wedang jahe itu. Jadinya bukan wedang jahe lagi dong ya? Ha ha. Apalah namanya, pokoknya wedang aja deh.

Keempat, mandi air hangat. Aku jarang banget mandi air hangat. Tapi kalau lagi masuk angin, aku memaksa diri mandi air hangat.

Kelima, makan sup. Atau makan apa pun yang berkuah dan panas. Nyam! Yang penting perut kenyang. Badan hangat.

Kelima, jalan pagi. Buatku ini salah satu aktivitas yang membantu menghangatkan tubuh. Paling enak jalan pagi saat matahari masih belum terlalu panas. Jam 6 pagi paling pas, deh. Jadi, badan akan terpapar sinar matahari yang hangat.

Begitulah caraku untuk mengusir si angin yang membuat badan tidak enak. Kamu punya tips lain?

Advertisements

Misa Harian

Ini hari ke-3 pada tahun 2018. Aku membuka hari ini dengan ikut misa harian di Banteng. Memang beberapa waktu belakangan ini aku mulai ikut misa harian–sebuah kebiasaan yang lama sekali kutinggalkan.

Sebenarnya yang kurindukan dari misa harian adalah keheningan pagi ketika memasuki gereja dan duduk di bangku. Rasanya seperti dilingkupi keheningan yang damai.

Memang kadang ketika misa aku tidak bisa menghentikan pikiran dan ada saja distraksi yang membuatku kurang fokus saat mendengarkan bacaan dan homili. Biasanya ketika tersadar aku lalu mengatur napas dan berusaha kembali fokus.

Hmm, yah… fokus itu PR banget buatku.

Aku tak ingat apa yang menggerakkanku untuk kembali misa harian. Mungkin semacam ada rasa kangen. Kangen kesunyian. Kangen menembus dinginnya pagi dengan sepeda motor. Yang aku ingat, ketika aku ikut misa harian lagi setelah sekian lama, aku merasa dibuai kesunyian dan hal itu nikmat sekali. Membuatku ingin mengulangnya lagi.

Misa harian bukan menandakan aku semakin “suci”. Tidak. Aku masih merasa banyak hal yang perlu kubereskan dalam hidupku. Aku hanya butuh “teman” dan ketika misa, ketika menerima komuni, aku merasakan kehadiran “Teman” itu nyata. He’s within me. Terlibat dalam keseharianku, kebobrokanku. Tak semua teman bisa terlibat begitu dekat seperti itu. Bahkan malah putus asa.

Beberapa kali aku bertanya-tanya, “Don’t You give up on me?”

Soalnya aku sering dan mudah “give up” terhadap orang-orang yang menjengkelkan. Pada orang-orang yang melakukan kesalahan yang sama. Pada orang-orang yang tidak menunjukkan perubahan ke arah yang lebih baik. Kalau Tuhan give up sama aku, gimana dong?

Yah, pada akhirnya setiap perjalanan waktu adalah petualangan untuk menjadikan diri menjadi lebih baik.