Malam Mingguan di Jogja

Kisah malam mingguku rata-rata biasa. Nyaris flat–mulai dari ketika di asrama zaman kuliah dulu sampai sekarang. Kalau zaman SMP atau SMA, kayaknya agak meriah.

Ketika di asrama, aku biasanya tetap di unit (di kamar) ketika malam minggu. Walau saat itu pernah punya pacar, tapi pacarku itu nyaris enggak pernah ngapeli. Hahaha. Keciaaan! Soalnya dia tidak punya motor atau kalaupun ada motor, dia mesti berbagi dengan saudaranya. Ini bodonya aku atau gimana ya? Pilih pacar kok enggak bermodal gini? Wkwkwk. Pernah juga punya pacar yang lumayan cakep, aku diperlakukan seperti putri, kalau malam minggu rajin datang, e… tapi tidak lama kemudian putus karena beda agama dan aku sudah dapat warning dari orang tuaku. Ya sutra lah. Mau gimana lagi, daripada nanti malah sakit hati semua, ya kan? Intinya, selama kuliah, aku lebih sering nonton teman yang diapeli pacarnya di asrama ketimbang dipanggil ke ruang tamu karena ada tamu spesial.

Karena malam minggu menjomblo begitu, aku kadang ikut teman-teman jalan-jalan ke Jalan Solo atau ke Mirota. Itu adalah hiburan anak asrama waktu itu. Ke Jalan Solo untuk beli gethuk lindri di depan Ginza atau sekadar lihat-lihat di Gardena. Kalau ke Mirota, tujuannya untuk belanja bulanan atau sekadar window shopping.

Aku tidak terlalu banyak tahu (atau malah memang tidak tahu?) suasana malam minggu di pusat kota Jogja. Sungguh pergaulanku tidak keren, ya? Seingatku, paling aku ikut mengajar di YSS, lalu pulang diantar oleh relawan-relawan lain. Waktu itu memang belum dibolehkan membawa sepeda motor sendiri di asrama. Mesti ada izin khusus dari Suster. Dan aku baru bawa motor ketika menjelang lulus. Tapi seingatku aku agak jarang keluar asrama waktu itu. Jadi, memang aku kurang update mengenai suasana malam minggu di Jogja.

Itu tadi cerita zaman masih muda. Sekarang? Kalau sekarang, aku malah hampir selalu ngumpet di rumah ketika malam minggu atau long weekend. Alasannya sudah jelas: Jogja ramaiii pol! Banyak bus wisata dan kendaraan dari luar kota yang memenuhi jalan. Mau ke tempat makan penuh. Di jalan macet. Jadi, ketimbang cari masalah di luar, lebih baik tinggal di rumah saja. Aku aman, tentram, dan bahagia bersama kucing-kucingku.

Namun, semalam aku keluar dari kebiasaanku mengumpet saat malam minggu. Aku mesti ke Stasiun Tugu menjemput orang tuaku. Aku agak cemas, meskipun jalan menuju ke sana bukan rute sulit. Tapi aku tak bisa membayangkan kemacetannya. Dari rumah (rumahku di utara) sampai mendekati Jetis, perjalanan masih lumayan lancar. Ada kemacetan di beberapa titik, tapi lumayan lah. Tidak parah. Lalu, sampailah aku di jalan Mangkubumi dan hampir dekat stasiun. Astaga! Aku meratapi kebodohanku ketika baru sadar bahwa pintu keluar stasiun ada di Jalan Pasar Kembang. Baiklah, aku mesti ke arah Jembatan Kewek, lalu mengikuti jalan memutar ke arah Malioboro. E… lha kok ternyata jalan menuju Malioboro ditutup! Alamakjang! Aku mesti jalan sampai Kridosono, nih pikirku. Tapi ternyata jalan ke arah Malioboro yang dekat Kafe Legend itu ditutup juga. Pusing dong aku membayangkan mesti ke arah perempatan Tugu lagi karena macetnya di titik itu lumayan bikin pegel kaki menekan kopling.

Akhirnya aku jalan sampai Samsat, lalu ke selatan ke arah Ngampilan. Aku pikir, gila aja ya kalau aku mesti muter sampai PKU lalu masuk ke jalan Bayangkara. Sungguh rute yang panjang menuju stasiun. Aku pun menelepon teman “penguasa” yang tinggal di daerah sekitar situ untuk minta petunjuk arah. Aku kemudian belok ke arah Yamie Pathuk. Yihaaa… di jalan sesempit itu aku berpapasan dengan bus pariwisata yang segede bagong. Tapi aku bisa melewati tantangan itu dengan baik. Lalu aku belok ke arah Jalan Bayangkara. Ternyata kemacetan di sekitar Tugu dan jalan Mangkubumi tidak ada apa-apanya dibanding Jalan Bayangkara. Kendaraan besar kecil semua merayap. Kaki kiri yang menginjak kopling sudah menjerit-jerit. Saat itulah aku bisa berempati pada supir-supir taksi di Jakarta yang setiap hari menghadapi kemacetan.

Setelah melewati lautan kendaraan, sampailah aku di stasiun. Total perjalanan dari rumah plus muter-muter tidak karuan itu adalah 1,5 jam. Padahal wajarnya 45 menit saja sudah cukup.

Untung, pulangnya jalanan sudah cukup lancar. Hanya beberapa titik saja yang padat. Tapi Gejayan arah utara masih tetap memegang juaranya macet. 😀 😀 Aku sampai rumah sekitar pukul 10 malam.

Bagi orang yang tidak tinggal di Jogja, mungkin akan sulit membayangkan nama jalan atau daerah yang kusebut di atas. Namun, pendek kata, kalau kapan-kapan ingin ke Jogja dan malam mingguan di sini, terutama di daerah Malioboro dan sekitarnya, persiapkan mental menghadapi kemacetan. Kurasa kemungkinan akan sulit juga mengorder ojol. Kecuali kalau mau wisata kemacetan. 😀

Lalu, bagi orang yang naik kereta dan turun di stasiun Tugu pada hari Sabtu, terutama Sabtu malam, mungkin bisa mempertimbangkan naik kereta yang turunnya di Lempuyangan.

Dua yang Pergi

Seminggu terakhir ini ada dua orang di lingkunganku yang meninggal. Yang pertama meninggal mendadak, yang kedua sebenarnya sudah sakit sekitar semingguan.

Kalau dibilang sedih, mungkin tidak sedih banget karena jujur saja aku tidak punya kedekatan emosi yang kuat dengan keduanya. Tapi aku kenal baik dengan dua bapak tersebut. Aku hanya merasa seperti ada yang kosong.

Aku nyaris tidak pernah bertemu Pak W, bapak yang meninggal pertama itu. Sejak pandemi, aku tidak pernah ikut kegiatan di lingkungan. Hampir tidak ada kegiatan juga, sih. Dan aku tidak pernah ketemu beliau misa di gereja (sejak adanya misa luring). Dasarnya aku juga jarang misa sejak pandemi, sih.

Berbeda dengan Pak A, aku beberapa kali bertemu beliau di gereja karena beliau biasanya bertugas tata laksana (yang membantu umat menemukan nomor kursinya). Aku yang biasanya datang mepet dan agak lari-lari masuk gereja, sering merasa lega ketika melihat Pak A. Beliau biasanya membantuku menemukan nomor kursiku. Jadi, aku bisa duduk sebelum romo muncul di altar. Seminggu sebelum beliau meninggal, aku sempat bertemu dengannya di gereja.

Menurutku, dua bapak ini meninggal dalam waktu yang cepat. Bisa dibilang mendadak. Yang satu beneran mendadak karena sebelumnya tidak sakit. Yang satu lagi, mendadak stroke dan akhirnya pergi. Betapa tipis jarak antara ada dan tiada–antara hidup dan mati.

Selama mengikuti doa memule (peringatan orang meninggal), aku mengamati ada orang-orang yang tinggalnya agak jauh, yang rajin ikut doa. Bahkan termasuk mereka yang kurang dekat dengan kedua almarhum. Kehadiran orang-orang seperti ini sungguh menguatkan. Ya, cuma hadir saja sudah cukup membantu. Karena kalau yang datang doa sedikit, mesti rasa duka itu akan terasa lebih menggigit.

Dari peristiwa meninggalnya dua bapak tersebut, aku merasa bahwa ketika seseorang meninggal, yang diingat sering kali bukan hal-hal besar atau tindakan heroik mereka. Yang sering membekas justru hal kebaikan yang sederhana, kecil, dan sepertinya sepele.

Cerita Yogurt

Karena sering sekali makan yogurt, hampir bisa dipastikan aku selalu memiliki persediaan yogurt di lemari es. Selain itu, aku juga selalu punya persediaan susu UHT di lemari persediaan makanan. Jadi, kalau persediaan yogurt menipis, aku bisa langsung membuat yogurt yang baru.

Dulu, aku memakai yogurt yang dijual di swalayan untuk sebagai biang. Yang paling sering kupakai adalah merek Biokul plain. Banyak yang merekomendasikan merek itu sebagai starter, dan aku tidak tertarik mencoba merek lain. Kenapa ya? Takut gagal sepertinya, sih. Namun, belakangan aku mencoba memakai bibit berbentuk serbuk. Dulu aku takut-takut mencoba memakai bibit serbuk. Pertama, karena aku tidak tahu seperti apa rasa yogurt jika memakai bibit serbuk. Kedua, rata-rata harga starter bubuk agak mahal ya dibandingkan Biokul. Ketiga, aku khawatir pembuatan yogurt memakai bibit serbuk harus memakai yogurt maker. Sebenarnya aku punya yogurt maker, tetapi dulu jarang kupakai karena pertama kali mencobanya, yogurtku tidak jadi seperti yang kuharapkan. Jadi, yogurt maker itu menganggur lama sekali. Aku pikir, o … barangkali karena yogurt maker ini harganya murah (tidak sampai 100 ribu), jadi yogurt yang dihasilkan tidak bagus.

Suatu kali, aku browsing di marketplace dan entah bagaimana aku sampai di lapak penjual bibit yogurt yang berbentuk serbuk. Di situ ditunjukkan caranya membuat yogurt. Ternyata mudah sekali, seperti cara yang kupakai selama ini, yaitu hanya memakai stoples kaca yang diselimuti handuk/serbet. Melihat harganya per bungkus yang tidak terlalu mahal (sekitar 20-an ribu), aku lalu membelinya.

Sejak saat itu, aku selalu membuat yogurt dengan menggunakan starter serbuk. Menurutku starter serbuk ini lebih praktis karena aku bisa menyimpan starter yang masih bungkusan di dalam freezer. Kalau Biokul kan masa kedaluarsanya lebih pendek dan tidak bisa disimpan di freezer. Jadi, starter serbuk lebih praktis penyimpanannya dan masa kedaluarsanya lebih lama.

Setelah itu, aku berani mencoba memakai starter bubuk lain. Suatu kali, aku membeli starter merek lain (dari lapak lain). Ketika kucoba kubuat, … jeng jeng … kok hasilnya tidak seperti yang kuharapkan? Padahal, masa fermentasinya sudah sesuai petunjuk. Seingatku sudah 12 jam lebih, deh. Yogurt itu masih belum set dan rasanya masih kurang asam. Lalu aku teringat yogurt maker yang sudah ngendon lama di lemari. Segera kutuang yogurt yang sedang difermentasi itu ke yogurt maker. Dalam waktu sekitar 2 jam, yogurt itu jadi! Yeay! Jadinya bagus sekali. Kental dan tidak terlalu asam. Sejak saat itu, aku selalu membuat yogurt memakai yogurt maker murah yang lama nganggur itu.

Oya, begini caraku membuat yogurt.
Tanpa yogurt maker:

  1. Siapkan susu UHT atau susu pasteurisasi.
  2. Siapkan pula starter yogurt. Bisa pakai Biokul plain, starter serbuk, atau yogurt sebelumnya.
  3. Panaskan susu, tapi tidak sampai mendidih. Kalau punya termometer khusus untuk makanan, cek suhunya sekitar 42 derajat Celsius. Jangan terlalu panas, supaya starter yogurt tidak rusak/mati.
  4. Masukkan starter ke dalam susu hangat, lalu aduk.
  5. Tuang susu yang sudah diberi starter tersebut ke dalam stoples kaca bersih.
  6. Tutup stoples. Selimuti dengan handuk atau serbet. Tujuannya supaya susu di dalam stoples tersebut tetap hangat selama proses fermentasi.
  7. Diamkan susu sekitar 8 jam sampai menjadi yogurt.
  8. Cek kekentalan dan rasa yogurt. Kalau dirasa sudah jadi, masukkan yogurt ke dalam lemari es.

Dengan yogurt maker:

  1. Siapkan susu UHT atau susu pasteurisasi.
  2. Siapkan pula starter yogurt. Bisa pakai Biokul plain, starter serbuk, atau yogurt sebelumnya.
  3. Masukkan susu ke dalam yogurt maker lalu masukkan pula starter yogurt. Aduk perlahan.
  4. Nyalakan yogurt maker lalu diamkan susu yang sudah diberi starter yogurt tersebut selama sekitar 6-8 jam.
  5. Setelah proses fermentasi selesai, masukkan yogurt yang sudah jadi ke dalam kulkas. Tanda yogurt sudah jadi: sudah set dan rasanya asam.

Dari pengalamanku membuat yogurt selama ini, berikut ini beberapa hal yang kupelajari.

  1. Untuk membuat yogurt, susu sebaiknya dalam kondisi hangat. Itulah gunanya yogurt maker, yaitu menjaga agar susu tetap hangat selama proses fermentasi. Tidak panas, ya, tapi hangat suam-suam. Bakteri yogurt itu suka suhu yang hangat. Kalau terlalu panas, dia bisa mati. Ketika memakai yogurt maker, aku tidak perlu memanaskan susu lebih dulu di kompor. Susu bisa langsung dituang ke yogurt maker, lalu masukkan bibit. Bibit itu bisa dari yogurt sebelumnya, bisa juga bibit baru (serbuk/yogurt yang dijual di pasaran).
  2. Tiap bibit yogurt bisa menghasilkan yogurt yang berbeda rasanya. Ada yang asam sekali, ada yang asamnya sedang. Aku lebih suka yogurt yang tidak terlalu asam.
  3. Yogurt yang sudah jadi tidak bisa set atau misah (banyak sekali whey-nya)? Kemungkinan terlalu lama proses fermentasinya atau susu terlalu panas.
  4. Hasil yogurt terlalu encer? Mungkin hal itu dipengaruhi kualitas susu. Aku pernah memakai susu segar, dan hasil yogurtnya encer sekali. Aku pernah membaca, supaya yogurt yang dihasilkan cukup set/kental, mesti ditambahkan susu bubuk. Aku pernah memakai cara ini, dan memang jadinya yogurt lebih kental. Tapi aku meninggalkan cara ini karena kalau memakai susu cair kemasan (UHT atau pasteurisasi), hasilnya lebih stabil dan aku tidak perlu memanaskan susu lebih dulu. Apakah kalau begini susu segar tidak bisa dipakai untuk membuat yogurt? Bisa kok. Ada beberapa teman yang membuat yogurt dari susu segar dan jadinya bagus. Kurasa waktu itu aku gagal karena susu yang kupakai kualitasnya kurang bagus. Aku pernah membuat yogurt memakai susu dari peternakan biara Rawaseneng dan hasilnya bagus.
  5. Apakah perlu memakai yogurt maker? Tidak juga sih, aku dulu hanya pakai stoples kaca. Tapi belakangan aku memang memilih pakai yogurt maker. Aku merasa hasilnya lebih stabil dan lamanya fermentasi lebih terukur. Dengan yogurt maker, aku biasanya melakukan fermentasi yogurt sekitar 6-8 jam.

Begitulah pengalamanku membuat yogurt selama ini. Apakah kamu pernah membuat yogurt sendiri di rumah?

Belanja di Warung: Seperti Belanja pada Saudara Sendiri

Salah satu tempat favoritku adalah pasar. Iya, pasar tradisional, tepatnya. Asal pasarnya tidak becek-becek amat, aku suka menyusuri gang-gang di dalam pasar. Bagiku pasar adalah tempat untuk mendapatkan energi positif dan semangat. Hampir tak pernah kurasakan suasana sedih ketika aku berada di pasar. Rata-rata pedagang di sini cukup ramah. Ketika pagi-pagi sedang butuh suntikan semangat, aku akan berangkat ke pasar.

Namun, karena jarak pasar dari rumahku agak lumayan, aku lebih sering belanja di warung sayur. Warung sayur ini biasanya buka pagi sampai siang. Tapi ada pula yang bukanya agak siang, lalu tutupnya malam. Warung sayur langgananku ada tiga. Jaraknya tidak terlalu jauh. Yang paling dekat hanya sekitar 5 menit jalan kaki dari rumah. Satu lagi, sekitar 10 menit dari rumah jalan kaki. Yang terakhir, agak jauh, sehingga aku perlu naik motor–mengingat jalan raya depan gang rumahku cukup ramai, tak ada trotoar pula, aku merasa tidak nyaman berjalan kaki sampai agak jauh.

Bahan-bahan yang disediakan di warung sayur ini sebenarnya cukup untuk memenuhi kebutuhan masak harian. Lagi pula, masakanku biasanya hanya membutuhkan sawi, kangkung, bayam, terong, timun, wortel … tahu, tempe. Begitu-begitu saja. Kecuali aku mau masak agak istimewa, barulah aku mancal sepeda motor ke pasar.

Setiap kali ke pasar, aku mesti membawa uang lebih banyak. Soalnya, aku sering tergoda melihat sayur-sayur segar. Atau kalau awalnya mau beli ikan patin, lalu di lapak penjual ikan ada ikan tuna segar atau ikan nila, aku kan jadi tergoda juga. Minimal ada dua lembar uang lima puluhan ribu di dompet, baru aku merasa aman ketika ke pasar.

Berbeda ketika aku ke warung sayur. Karena umumnya sayur di warung tidak semeriah di pasar, aku cukup PD hanya membawa uang dua puluh ribu. Bahkan belanjaku kadang kurang dari dua puluh ribu.

Suatu kali aku dengan pedenya berangkat ke warung sayur terdekat. Waktu itu aku belum terlalu sering belanja di situ. Aku hanya ingin beli seikat kangkung seharga dua ribu rupiah. Ketika hendak membayar, aku buka bawah jok motorku karena seingatku dompetku belum kupindahkan dari bawah jok. Tapi ternyata dompetku tak ada! Buru-buru aku bilang ke pemilik warung, “Bu, ngapunten. Dompet kula kentun teng griya. Kula wangsul rumiyin mendhet dompet. Kula tinggal kangkunge.” (Bu, maaf. Dompet saya ketinggalan. Saya pulang dulu, ambil dompet. Kangkungnya biar di sini dulu.)

Namun, ibu itu menjawab begini, “Mpun, kangkunge dibeta mawon. Mbayare suk-suk mawon, mboten napa-napa.” (Sudah, bawa saja kangkungnya. Bayarnya besok-besok pun tak apa.)

Aku agak terkejut mendengar jawaban ibu pemilik warung. Kalau di toko (modern), tentu aku tak akan dibolehkan membawa pulang belanjaan tanpa bayar–walau sudah jadi pelanggan tetap sekalipun.

Hal serupa terjadi ketika aku belanja di warung sayur lain, yang lokasinya agak jauh dari rumah. Di situ aku biasa membeli pisang raja. Pisang yang dijual biasanya bagus-bagus. Sebetulnya harganya agak lebih murah dibanding harga pisang raja dengan kualitas sebagus itu di pasar. Tapi namanya pisang raja, kalau bagus, harganya lebih mahal dibanding pisang kepok, misalnya. Kadang ibu pemilik warung bilang begini, “Bawa dulu pisangnya, Mbak. Bayarnya boleh besok.” Aku paling hanya tertawa. Kalau duitku cukup, ya aku beli. Kalau tidak, ya besok aku datang lagi sambil membawa cukup uang. Kalau masih jodoh, biasanya aku masih dapat pisang raja yang bagus.

Selama ini aku tak pernah membawa pulang belanjaan tanpa membayarnya terlebih dahulu, walau si penjual membolehkan atau menawari. Aku hanya takut lupa dan malah lupa bayar. Aku rasa para penjual di sini memiliki kepercayaan cukup tinggi pada pelanggannya. Kenapa, ya? Aku sendiri merasa belanja di warung itu rasanya lebih seperti belanja ke teman atau saudara sendiri. Mungkin begitu pula yang dirasakan penjual terhadap para pelanggannya. Alasan lain belanja di warung adalah bagi-bagi rejeki; biar uangnya berputar ke tetangga terdekat.

Berburu Vaksin

Awal-awal ada berita soal vaksin covid-19, aku sudah cukup antusias. Aku mau divaksin! Aku sudah capek hidup dalam kecemasan bakal amprokan sama mbak corona dan akibatnya yang mengerikan. Memang ada kekhawatiran juga vaksin itu akan berdampak tidak menyenangkan pada tubuh. Tapi setelah aku membaca beberapa artikel, aku pikir kekhawatiranku itu bisa diminimalkan.

Aku pun menunggu-nunggu kapan vaksin covid-19 mulai disebar ke masyarakat. Ketika kelompok lansia dan golongan pekerja khusus (guru, pemuka agama, dll.) mulai dapat vaksin, aku semakin tidak sabar. Di kampungku sendiri, vaksinasi kelompok lansia dikoordinir oleh kader PKK. Baguslah, pikirku. Soalnya kalau membayangkan simbah-simbah itu mesti mengisi formulir online atau mesti mendaftar sendiri ke RS, rasanya kasihan juga, ya. Bagi yang punya anak cucu dan melek internet, urusan formulir online tidak masalah. Tapi bagi yang buta internet, urusan vaksin bisa jadi gagal karena masalah pendaftaran lewat internet tersebut. Untungnya para kader PKK bisa mengoordinir simbah-simbah untuk vaksin bersama.

Kupikir setelah kelompok lansia dikoordinir untuk menerima vaksin, pengurus wilayah (RT/RW/Dukuh) akan segera mengurus penerima vaksin golongan usia berikutnya. Namun, rupanya harapan tinggal harapan. Sepertinya pemangku kebijakan dari pusat pun tidak memberikan perintah agar urusan vaksin itu dikoordinir sampai wilayah terkecil. Jadi, diadakanlah vaksinasi massal di beberapa titik, selain di beberapa RS tertentu.

Singkat cerita, vaksin covid-19 harus diburu sendiri-sendiri. Aku sendiri berpikir akan mendaftar ke RS terdekat. Tapi rupanya ada teman yang berbaik hati mendaftarkan aku. Aku nebeng komunitas gereja. Hampir saja aku gagal vaksin karena beberapa hari sebelumnya, temanku mengabari bahwa ia positif covid. Waduh! Padahal selang 2 hari sebelumnya aku baru ketemu dia, ke rumahnya, sempat ngobrol-ngobrol juga. Kabar bahwa temanku itu positif kuterima ketika aku agak pilek. Berbagai pikiran muncul. Jangan-jangan … jangan-jangan … Mesti isoman dong?

Aku pun segera tes untuk mengecek diriku sendiri. Untungnya aku negatif. Legaaaa banget. Aku kemudian menambah jam tidur, makan yang banyak, menambah asupan vitamin dan buah. Dalam kurun waktu yang tidak terlalu lama, aku tidak pilek lagi dan saat hari H vaksin, aku lebih fit.

Apakah setelah aku vaksin, selesai begitu saja? Tentu tidak. Beberapa orang di rumah belum vaksin dan kami pun lanjut berburu vaksin. Ternyata tidak semudah itu mendaftar untuk vaksin. Ketika mau daftar ke RS, mesti antri dan dapatnya masih lama sekali. Daftar bulan ini, dapatnya bisa sebulan atau dua bulan lagi. Kelamaan, Bro! Ketika dapat info ada vaksinasi massal dan ada link atau nomor kontaknya, tidak serta-merta bisa dikontak. Tapi akhirnya aku dapat info dari teman bahwa kalau mau vaksin di PKU kota, bisa daftar H-1, asal mau datang pagi-pagi sekali. Subuh sudah sampai sana. Benar juga, setelah antri ambil nomor jam 4 pagi, dapat deh nomor untuk vaksin besoknya.

Nah, seluruh orang di rumah sudah vaksin.
Sudah selesai?
Oh, belum.

Ada satu temanku yang kesulitan mendapatkan vaksin. Dia sudah berusaha mencari ke RS terdekat, tapi pendaftaran sudah penuh. Orang yang mau vaksin ternyata banyak sekali. Waktu kuberi tahu bisa mendaftar ke PKU asal datang subuh-subuh, dia tidak berani keluar rumah sepagi itu. Hm, ya … maklum sih. Memang butuh keberanian untuk menyusuri jalan saat hari masih gelap.

Aku kemudian menawarkan diri mencarikan vaksin. Awalnya memang mau ke PKU, tapi ada teman yang berbaik hati memberikan slot vaksinnya (karena dia sendiri sudah dapat dari teman yang lain).

Hari ini aku cukup lega orang-orang terdekat dan teman-temanku banyak yang sudah vaksin. Semoga segera terbentu herd immunity. Semoga pandemi bisa segera dikendalikan.

Hari Raya yang Personal

Lebaran hari kedua, berapa nastar yang sudah masuk mulut?

Aku tak banyak makan nastar kali ini. Enggak beli, enggak bikin, enggak pula dapat kiriman. Hanya kemarin saja nebeng makan nastar di rumah Budhe. Paling banyak 10 biji nastar kayaknya. 😀

Lebaran kali ini sepi. Karena pandemi, masih banyak pembatasan di sana-sini. Jadi, acara kunjung-kunjung pun sangat berkurang. Kali ini aku hanya berkunjung ke rumah Budhe. Budhe-nya Maya sebenarnya, bukan Budhe asli dari keluargaku. Sebenarnya ada pula Pakdhe, kakaknya Ibuk yang merayakan lebaran yang harus dikunjungi. Tapi aku sudah mengunjungi Pakdhe sebelum lebaran. Hanya demi mengatur waktu saja, sih. Kalau dalam sehari mengunjungi 2 rumah, rasanya capek dan memakan waktu. Tidak mungkin hanya datang dan 10 menit kemudian pulang. Kalau mengunjugi Budhe (dan Tante) tak bisa sebentar. Pasti ada acara makan dan mengobrol. Dan aku senang dengan Budhe karena beliau selalu hangat kepadaku meskipun aku bukan keponakan asli.

Sebenarnya aku cukup senang dengan lebaran kali ini yang sepi. Bukan karena aku tidak merayakan, tetapi karena apa ya … aku merasa hari raya yang sepi itu lebih personal rasanya. Bahkan untuk hari Paskah atau Natal, aku senang yang sepi-sepi saja. Dulu (sebelum pandemi), paling hanya pulang ke rumah orang tua.

Sebelum pandemi, ada satu acara yang masih terasa canggung untuk kulakukan meskipun dulu waktu masih kecil, tiap tahun selalu kulakukan. Apa itu? Sungkeman. Sungkeman tidak bisa dilepaskan dari keluarga besarku sejak kecil. Rasanya itu salah satu kebiasaan orang Jawa. Waktu Simbah masih sugeng, kami semua akan sungkem urut dari Simbah sampai ke om dan tante. Ini masih mending buatku karena toh mereka masih ada hubungan darah. Yang kurang kusukai dari acara sungkeman di keluargaku adalah tangis-tangisannya. Aduh, aku terganggu sekali. Sungkem selalu diwarnai dengan derai air mata. Mungkin meminta maaf dan minta restu dari orang yang lebih tua itu terasa menyentuh hati ya? Tapi aku tidak suka. Aku tidak suka suasana yang mengharu biru. Pokoknya tidak suka aja.

Beberapa tahun lalu, karena aku tinggal di kampung, acara kunjung-kunjung saat lebaran masih menjadi suatu kewajiban. Dan aku mau tak mau harus ikut acara kunjungan ke tetangga serta sungkem itu meskipun bukan kepada kerabatku. Aku merasa canggung dan aneh saja sih rasanya. Mungkin itu hanya sebatas simbol dan penghormatan. Tapi tetap saja aku melakukan itu karena “mau tak mau”. Ketimbang dianggap alien dan jadi gunjingan orang se-RT, mending ikut kebiasaan saja. Dan syukurlah sekarang aku tidak perlu melakukannya dengan alasan pandemi.

Ya, salah satu hal positif dari pandemi ini adalah membuat suasana menjadi personal. Ucapan selamat hari raya kukirim secara personal pula ke teman atau kenalan yang aku rasa tidak akan keberatan jika kuberi ucapan. Dalam ucapan itu kusebut nama, kusampaikan selamat setulus hati. Aku khawatir jangan-jangan ada orang yang kalau dapat ucapan selamat dari orang yang beda keyakinan justru membuatnya tidak damai sejahtera. Dan pandemi membuat hal itu menjadi “sah” dan baik-baik saja. Tidak ada lagi kewajiban untuk beramai-ramai dan terpaksa ikut “rombongan”. Tidak apa-apa kan kalau aku merasa lega?

Bangsa Spanduk

Kemarin ada pertemuan PKK di kampung. Sebenar-benarnya, aku sungguh amat malas ikutan. Masa-masa mesti jaga jarak begini malah ada pertemuan? Tapi aku kemarin akhirnya memutuskan ikut karena aku mesti tahu apakah aku nunggak bayar iuran dan arisan. Enggak enak banget kalau jadi batu sandungan orang lain hanya gara-gara duit sekitar sepuluh ribuan. Aku pun ingin bayar sekalian untuk beberapa bulan supaya besok-besok bisa bolos kalau ada pertemuan. Lagi pula di grup ibuk-ibuk ada foto yang menunjukkan peserta bisa duduk di luar pakai kursi dan jarak antar kursi cukup lebar. Biasanya di dalam sekretariat dan duduk lesehan gitu. Kan mana bisa jaga jarak ya?

Kemarin rupanya ada petugas dari puskesmas memberi penyuluhan soal kesehatan masyarakat dan pola makan. Informasi yang disampaikan para petugas puskesmas itu sebetulnya sudah banyak beredar yaitu bahwa selama pandemi ini kita melakukan adaptasi kebiasaan baru, mesti jaga jarak, pakai masker, dan rajin cuci tangan. Lalu pola makan mesti dijaga, banyak makan sayur dan buah, karbohidrat sudah harus dikurangi bagi ibu-ibu yang sudah 30 tahun ke atas, dan sebagainya, dan seterusnya.

Aku berpikir, kenapa ya untuk hal seperti itu perlu mendatangkan petugas dari puskesmas? Tidakkah itu informasi yang sudah jamak diketahui? Informasi yang diberikan sifatnya top-down. Sesudahnya memang ada tanya jawab, tapi terlalu singkat. Perlu ada jalur khusus untuk menampung pertanyaan-pertanyaan itu dan membahasnya.

Yang agak lucu adalah sesudah kegiatan tersebut para peserta diajak foto bersama! Lha… tadi diminta untuk jaga jarak, apa gunanya dong? Mana ada ceritanya foto bersama dengan jaga jarak mengingat peserta yang hadir lebih dari 50 orang?

Jadi, aku memilih pulang. Mungkin kita ini bangsa “spanduk”. Apa maksudnya? Kita biasa kan melihat slogan-slogan pada spanduk yang ada di jalan-jalan. Misalnya: Kita tegakkan persatuan dan kesatuan bangsa; Kita menjunjung tinggi toleransi, Masyarakat Sehat, Bangsa Kuat. Kenyataannya? Masih ada gerakan intoleransi, gerakan hidup sehat juga gitu-gitu aja. Jadi, singkatnya kalau sudah ditulis di spanduk, sudah cukuplah.

Berubah itu sulit kok. Aku sadar itu. Memang paling mudah ditulis doang. Diobrolin doang. Pelaksanaan itu nanti-nanti saja kalau ada pemeriksaan oleh petugas. Hidup tak usah dibuat serius.

Apakah Kamu Sulit Tidur?

Tadi siang salah seorang teman bertanya di grup, “Adakah yang tahu obat yang bisa membantu kita untuk deep sleep (tidur nyenyak)?” Ia mengeluh suaminya sulit tidur karena banyak pikiran.

Pertanyaan itu mendapat beberapa jawaban. Ada yang bilang minum CTM saja. Ada yang bilang pakai obat tidur yang dijual bebas di pasaran. Googling saja mereknya.

Salah seorang teman menjawab, dia tidak bisa menyarankan apa pun karena dia tidak pernah mengalami hal itu. Dia mudah sekali tidur. Ia bisa langsung tidur nyenyak meskipun sedang ada masalah.

Aku sendiri 50:50. Kadang susah tidur, tapi tidak sampai tidak bisa tidur sama sekali. Kalau sudah capek banget, ya tidur. Kalau sedang gelisah atau banyak pikiran, kadang aku beberapa kali terbangun pada tengah malam. Aku hanya jarang bisa tidur siang. Kalau mengantuk dan capek sekali, baru tidur siang. Tapi umumnya aku tidak tidur siang. Sempat timbul rasa bersalah dalam hatiku kalau tidur siang. Mestinya aku bisa mengerjakan ini dan itu, tapi kalau tidur siang kan hanya tidur doang.

Tidur doang?

Aku lalu mencoba mencari tahu kenapa kita perlu tidur. Apa iya kita memang butuh tidur cukup lama? Dengan googling, aku menemukan banyak jawaban yang lengkap. Ketika kita tidur terjadi penguatan ingatan. Pada saat kita dalam kondisi bangun, otak kita menyerap banyak sekali informasi. Nah, ketika tidur, fakta dan pengalaman yang didapat selama kita bangun diproses dan disimpan. Semua informasi dikelompokkan dalam ingatan jangka pendek dan jangka panjang. Proses itu disebut konsolidasi. Biasanya setelah bangun tidur, orang cenderung bisa mengingat lebih baik.

Tubuh kita sendiri membutuhkan tidur untuk proses perbaikan dan peremajaan, perbaikan otot, perbaikan jaringan, dan memadukan serta menyelaraskan hormon.

Orang dewasa membutuhkan waktu tidur selama 7-9 jam. Lama ya? Jadi, kalau kita mau bangun jam 5 pagi, sebaiknya kita tidur maksimal pukul 22.00. Pas tujuh jam. Atau malah pukul 8 sudah siap selimutan.

Aku rata-rata tidur jam 23.00. Bangun jam 6 atau 7. Tapi kadang jam 5 sudah kebangun. Anggaplah sudah pas waktu tidurku. Sayang aku kadang terbangun tengah malam.

Bagaimana kalau kurang tidur? Sayangnya kita tidak bisa menyaur utang tidur. Kalau sudah kurang, ya kurang saja. Nggak bisa dibayar. Mestinya sih tubuh kita protes ya. Kita mungkin merasa tidak butuh tidur. Maunya mengerjakan ini, itu. Pergi ke sana, ke sini. Tapi rupanya tubuh kita sangat-sangat membutuhkan tidur. Kalau kurang tidur, imunitas tubuh dan daya ingat kita menurun. Kurang tidur juga membuat berat badan kita naik. Hanya itu? Tidak, dong. Orang yang kurang tidur sangat berisiko terkena diabetes. Aku sendiri merasa nggregesi kalau kurang tidur. Selain itu memang rasa-rasanya aku jadi lebih mudah gemuk kalau sering begadang.

Tapi, kalau kita susah tidur, bagaimana dong? Aku pernah mengalaminya. Dan itu tidak enak banget. Tengah malam, saat semua orang tidur, aku malah kelop-kelop dan tidak mengantuk sama sekali. Badan capek, tapi mata tidak mau merem. Satu-satunya cara yang sering kupakai untuk mengatasi hal itu adalah dengan mengatur napas. Slow breathing. Tarik napas 4 hitungan, lalu keluarkan 6 hitungan. Usaha itu cukup manjur buatku.

Nah, kalau tidak bisa tidur, apa yang kamu lakukan?

Bahan bacaan:

Seni Berjualan di Masa Pandemi

Pada masa pandemi ini beberapa mendadak menjadi penjual. Mulai dari jualan batik sampai keripik, mulai dari ayam goreng sampai dandang. Aku ikut grup WA paroki yang isinya para penjual. Sampai hari ini, aku lebih sering menjadi pengamat. Beli sesekali, dan lihat-lihat siapa yang jual.

Aku pernah juga membeli daster dari teman lingkungan. Niatanku untuk beli adalah mayoni atau ikut melarisi barang dagangannya. Secara kualitas barang, luamayan lah. Diantar sampai rumah pula, tanpa ongkir. Kurasa dia sudah memperhitungkan ongkirnya (dan semestinya begitu ya supaya tidak tekor).

Selain itu, aku pernah juga pesan kolang kaling dari teman yang lain. Awalnya hanya karena lihat status WA-nya, e … kok pengin. Aku lalu beli. Selain pengin, aku juga senang bisa ikut mayoni jualan teman.

Pada dasarnya aku cukup senang bertransaksi dengan teman sendiri. Ada sentuhan personalnya, walau mungkin berbalut basa-basi. Tapi senang juga bisa say hello dengan alasan jual beli. Kalau barangnya bagus, bukan tidak mungkin aku belanja lagi. Kadang aku tahu kalau beli dengan teman harganya sedikit di atas harga pasaran. Tapi aku tidak masalah harga barang agak tinggi, asalkan tidak kebangetan dan kualitasnya bagus.

Beberapa hari yang lalu aku tertarik membeli roti dari salah seorang penjual di grup WA paroki. Aku sama sekali belum kenal si penjual. Aku hanya tertarik beli produk yang ia tawarkan, yaitu roti tawar seharga 10.000 serta roti manis lain. Makanan biasa sih, tapi entah karena apa, aku kok tertarik. Spontan saja aku mengontak beliau dan kusebutkan roti yang kumau. Aku sekalian bertanya apakah ada minimal pembelian. Pikirku, kalau aku beli beberapa potong roti, bisa diantar. Tapi setelah dia tahu alamat rumahku, jawabannya: “Jauh, ya.”

Duh!

Aku mendadak kecewa. Ditambah pula roti yang hendak kubeli itu baru ada siang beberapa hari kemudian (padahal persediaan roti tawar di rumah sudah menipis). Kekecewaan itu muncul karena walau aku membeli beberapa potong roti, rupanya tidak ada pengantaran. Toh ketika aku tahu alamat si penjual, sebenarnya tidak jauh-jauh amat lho (buatku jarak sekitar 5 km tidak jauh).

Yang menambah kekecewaanku adalah pagi hari, ketika roti itu hendak kuambil, ada penjual roti keliling lewat rumahku! Iiih! Ngeselin! Tahu gitu kan aku tidak pesan roti. Mending beli dari tukang roti keliling yang lewatnya tidak bisa ditebak. (Kompleks rumahku memang jarang sekali ada orang jualan.)

Dari beberapa pengalaman belanja lewat teman, kupikir-pikir ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh para penjual (dadakan) ini:
1. Rajin-rajinlah promosi barang dagangan. Walau awalnya sepi pembeli, tapi kalau rajin promosi, kurasa pasti ada yang beli juga. Apalagi kalau barang jualannya khas, misalnya makanan khas daerah Jawa Timur, orang biasanya akan lebih mudah ingat.

2. Sopan dan ramah terhadap pembeli. Terutama kalau ada pembeli baru, jawab pertanyaan mereka dengan kata-kata yang sopan. Oya, aku juga biasanya mengingat siapa penjual yang bahasanya rapi, tidak suka menyingkat pesan. Capek baca pesan yang banyak singkatannya. Buat mata editor, tulisan seperti itu bikin sakit mata.

3. Buatlah paketan. Misalnya kalau kamu jualan roti yang harga per potongnya 5 ribu, buatlah paket dengan harga menarik. Misalnya buat paket isi aneka roti seharga 50 ribu, atau roti dan susu aneka rasa seharga sekian ribu. Paketan seperti itu lebih menarik daripada orang mesti berpikir sendiri barang apa saja yang hendak dibeli.

4. Buat aturan yang jelas mengenai pembelian, pembayaran, dan pengantaran. Misalnya kalau barang belum ada (harus pesan lebih dulu), jelaskan kapan barang siap. Soal pengantaran juga perlu dijelaskan di muka: apakah bisa COD, ada ongkos kirim tambahan, atau kalau belanja sekian ribu bebas ongkir, dan sebagainya.

Minimal empat hal itu dulu deh. Nanti kalau ingat hal lain aku tambahkan.

Ke Mana Sampahmu Berakhir?

Selama belasan tahun tinggal di sini, aku tidak terlalu kesulitan membuang sampah organik. Yang kumaksud sampah organik adalah apa saja yang bisa busuk. Mulai dari daun kering, gagang kangkung dan bayam, kulit bawang, nasi yang tak habis dimakan tapi sudah mulai berair di rice cooker, daging alot yang tak bisa ditelan, dan seterusnya, dan sebagainya. Semua yang bisa busuk itu umumnya akan berbau, terutama kalau dicampur dengan sampah anorganik. Kebayang kan bau sampah sisa makanan yang dimasukkan kresek? Aduhai dan amboi banget. Selama ini dengan tenang kumasukkan sampah-sampah organik itu ke lubang di tanah belakang. Ketika lubang itu sudah penuh, tinggal gali tanah di sebelahnya. Begitu seterusnya. Asal tidak diisi dahan pohon yang besar-besar, lubang tersebut tidak cepat penuh.

Singkat cerita, kakakku hendak membuat rumah di tanah belakang. Ini sudah rencana lama sebenarnya. Persoalan yang seketika timbul adalah: Lalu di mana membuang sampah organik?

Aku tak pernah sampai hati menitipkan sampah organik ke bapak sampah yang berkeliling dua hari sekali. Tak akan pernah. Aku selalu teringat pengalamanku ketika ikut pelatihan di Malang dan salah satu tugas yang diberikan adalah aku harus ikut seorang pemulung, mencari sampah anorganik yang masih laku dijual. Mengoyak plastik sampah rumah tangga lalu mencari kardus atau botol air mineral yang telah bercampur sisa makanan itu sangat… sangat… sangat… menjijikkan. Kalau lihat bentuknya saja sih masih agak mending, tapi baunya sangat menusuk hidung. Duuuuuh! Kalau soal kotornya, bisa cuci tangan. Tapi bau sampah basah itu seperti menempel berhari-hari di tanganku. Jadi, aku berjanji tidak akan pernah mencampur sampah organik dan anorganik dalam satu wadah. Kalau tidak amat sangat terpaksa, tak akan pernah pula aku memasukkan sampah yang bisa membusuk itu ke dalam plastik.

Sebenarnya, aku telah lama berpikir untuk memiliki komposter. Dalam imajinasiku yang sempurna, aku menginginkan komposter dari gerabah. Minimal dari pot gerabah. Tapi rupanya niatku kurang bulat untuk mencari komposter dari gerabah. Yang paling dekat, mudah, dan murah adalah menggunakan pot plastik.

Ketika akhirnya lubang tanah di lahan belakang tak ada, satu-satunya pilihan adalah menggunakan pot plastik yang kupunya. Rasanya “semedhot” alias merasa kehilangan saat tak ada lagi kemudahan membuang sampah di lubang tanah. Aku betulan nyesek.

Namun, aku segera mendapatkan keasyikkan baru dengan komposter baruku itu. Sedikit-sedikit aku masukkan sampah basah ke pot plastik itu. Awalnya hanya kutumpuk-tumpuk saja, tanpa kuaduk. Dan ketika suatu hari aku mengaduknya… aku amati isi komposter itu cenderung becek. Baunya kurang sedap. Karena masih amatiran, aku lalu googling dan mencari tahu penyebabnya. Rupanya aku kurang menambah materi karbon. Materi karbon di sini adalah sampah organik kering, cokelat. Misalnya daun kering, sekam, serbuk gergaji, serpihan kardus, kertas, dan sebagainya. Selain itu aku belum menambahkan bioaktivator untuk mempercepat proses pembusukan dan mengurangi bau busuk.

Untungnya tetanggaku adalah pembuat mebel kayu. Jadi, aku dengan mudah meminta serbuk gergaji berapa pun yang kubutuhkan. Untuk bioaktivator, aku memakai larutan EM4. Selesai sudah masalah komposter becek dan bau.

Singkatnya, untuk membuat kompos yang dibutuhkan adalah:

-Pot
-Tanah (ditaruh di lapisan paling bawah)
-Sampah dapur (materi hijau)
-Serbuk gergaji dan daun kering (materi cokelat)
-Larutan EM4 (bioaktivator)
-Sotil kayu yang tidak terpakai untuk mengaduk

Bahan dan alat di atas bisa diganti-ganti. Silakan mencari alternatif dan memakai bahan yang ada di sekitar rumah. Jangan takut gagal. Kalau masih ragu, buat komposnya di luar rumah, asal di tempat yang tidak terkena hujan.

Caranya?
Taruh tanah pada dasar pot. Selain tanah, sebenarnya bisa ditambahkan pupuk kandang. Pupuk kandang mengandung banyak sekali mikroorganisme yang bisa membantu mempercepat pengomposan. Tapi aku sendiri tidak pakai karena tidak sempat beli.

Setelah itu masukkan sampah dapur. Sebaiknya sampah dapur tersebut sudah diiris kecil-kecil supaya lebih cepat menjadi kompos. Selanjutnya pada lapisan teratas tata daun kering atau bahan cokelat lain misalnya serbuk gergaji atau sekam. Setiap tiga hari sekali siram dengan larutan EM4 dan diaduk-aduk supaya oksigen bisa masuk.

Usahakan isi komposter ini dalam kondisi lembap. Jika terlalu basah, masukkan bahan cokelat untuk menyerap kelebihan cairan tersebut. Kalau terlalu kering, sirami dengan larutan EM4.

Selama ini aku memasukkan sampah basah hampir setiap hari ke dalam komposter dan hampir setiap hari kuaduk-aduk. Aku memasukkan sisa protein hewani pula ke situ. Muncul belatung dan magot, tapi aku sama sekali tidak masalah. Komposter agak berbau hanya ketika kondisinya terlalu berair dan hal ini bisa disiasati dengan serbuk gergaji. Selanjutnya komposter tidak berbau dan bisa melanjutkan kelangsungan hidupnya sendiri. Sungguh menyenangkan punya komposter!