Apakah Pertemuan Daring Membuatmu Bahagia?

Belum lama ini aku terlibat sebuah proyek menulis yang membuatku ikut-ikutan seperti para pekerja kantoran lain, yaitu ikut pertemuan daring alias rapat online alias video conference. Apa pun sebutannya, pada intinya adalah acara rapat lewat zoom. Sadar bahwa aku gaptek, aku mengontak teman untuk mengajariku jarak jauh. Tentunya lewat zoom juga.

Seneng dong rasanya. Bagaimanapun karena lama tidak bertemu teman, begitu bisa ketemu walau hanya lewat bantuan internet, rasanya bisa memupus jarak yang selama ini terbentang gara-gara wabah. Lumayan bisa ngobrol-ngobrol.

Hari H rapat daring pun tiba. Aku sempat merasa agak excited awalnya. Oh, begini ya rapat daring tuh, begitu pikirku. Asyik juga ya. Dulu kupikir hal seperti ini hanya ada di film-film, tetapi sekarang rapat daring sudah menjadi kenyataan hidup.

Aku tak ingat berapa lama aku tahan mendengarkan paparan orang selama rapat itu. Tetapi rasanya tidak lama. Mungkin hanya tahan sekitar 30 menit pertama. Sesudahnya aku butuh jalan-jalan, berganti suasana. Jadi, selama bukan jatahku untuk presentasi, aku mengendorkan konsentrasi dan menyusun kata-kata yang hendak kusampaikan nanti.

Untungnya selama rapat daring, aku bisa mematikan fitur video, sehingga aku bisa sambil peregangan di samping kursi 😀 atau melangkah ke dapur untuk memanasi sayur.

Setelah tiga atau empat kali rapat daring, aku merasa kewajiban tatap muka lewat internet ini membutuhkan suatu energi yang tidak sedikit. Aku tak tahu penyebabnya, tetapi mungkin aku kurang bisa menangkap bahasa tubuh seseorang di seberang sana. Aku hanya berpegang pada suara yang rasanya lama-lama di telingaku terasa tidak nyaman. Apalagi aku bukan orang yang gemar mendengar. Maksudku, aku kurang bisa menyerap informasi lewat pendengaran. Aku lebih suka membaca dan melihat. (Mungkin itu sebabnya nilai listening-ku dulu waktu kuliah mentok di B. Hampir bisa dipastikan C sebetulnya.)

Sebagai makhluk introver, aku rupanya lama-lama kurang bisa menikmati rapat daring–walau hal itu membuatku tidak harus bertemu langsung dengan orang. Tetapi entah kalau rapat itu senang-senang saja alias ngobrol tak jelas juntrungannya.

Mungkin aku cocoknya berteman dengan wajan, loyang, dan panci di dapur untuk menghasilkan sup atau kue bolu. Atau sibuk menakar minyak dan soda api supaya minyak bisa berkawan akrab dengan air dan menjadi sabun. Tetapi aku kadang pengen juga ketemu (sedikit) teman dan mengobrol sehingga menghangatkan hati yang rindu terhantam social distancing.

Kesan Misa Online

Beberapa bulan yang lalu, aku sudah berencana akan pulang pada Paskah tahun ini. Saat kulihat jadwal, lingkungan tidak dapat tugas besar saat Tri Hari Suci. Jadi aku bisa pulang, pikirku. Tapi aku masih menimbang-nimbang, akan naik mobil sendiri atau naik kereta. Belum sempat aku membuat keputusan, himbuan #dirumahsaja sudah mulai digaungkan. Dan demi menjaga kesehatan kita semua, aku batal pulang. Angan-angan Paskahan di rumah bareng Bapak dan Ibuk pupus.

Selama Tri Hari Suci aku ikut misa online. Memang ada yang aneh ya. Tapi lama-lama jadi biasa. Yang kurang adalah kita tidak bisa terima komuni. Tetapi kapan lagi bisa misa dengan Bapak Uskup langsung, datang kurang 5 menit, dan duduk paling “depan”? Selain itu, aku bisa “main-main” ke gereja lain, ke Jakarta, ke Pontianak, ke Semarang, dsb.

Ada teman di FB yang bilang dia merasa belum misa walau mengikuti misa online. Kalau buatku, rasanya yah separuh misa, separuh enggak. Tapi seperti kujelaskan tadi, aku mulai cukup terbiasa. Mungkin terasa praktis ya. Sempat agak terharu, tapi cuma di misa pertama saja. Selanjutnya baik-baik saja. Aku merasa gereja saat ini membuat terobosan dengan cepat.

Aku bertanya-tanya misa online seperti ini akan ada sampai kapan. Ada yang memperkirakan sampai akhir Mei. Tetapi aku pikir sepertinya bakal lama. Hitungan 1-2 bulan tidak cukup–mengingat orang Indonesia sangat sulit disiplin. Aku membayangkan, seandainya dua bulan lagi gereja sudah mengadakan misa, apakah aku akan mulai ke gereja lagi? Sepertinya aku akan berpikir-pikir dahulu. Rasanya lebih aman misa online di rumah begini. Apalagi mengingat orang Indonesia kurang disiplin, flu sedikit masih ke gereja, salaman kiri kanan. Wah, aku jadi parno sendiri. Apakah mungkin di gereja duduknya saling berjarak? Butuh berapa kali misa? Apakah bangku gereja akan cukup?

Sepertinya akan ada “new normal” gara-gara ada wabah corona ini. Mulai dari sekadar keluar pakai masker sampai misa online. Aku merasa tidak masalah jika tidak ke gereja selama beberapa bulan dan tidak komuni selama berminggu-minggu. Justru kali ini aku bisa belajar beragama secara lebih personal. Lagi pula ini demi tujuan yang lebih besar, yaitu demi keselamatan bersama. Jadi, kurasa ini tidak masalah. Bahkan kurasa ada sisi positifnya, yaitu orang-orang sakit yang selama ini sulit sekali ke gereja jadi bisa “ikut” misa. Dengan adanya misa online, mereka merasa tersapa dan dijangkau.

Sebelum tulisan ini berakhir, aku mengucapkan selamat Paskah untuk teman-teman yang merayakan. Semoga kita dimampukan untuk mencintai sesama lebih dalam. Have a happy and healthy Easter!

Love in Time of Corona

Sore ini hujan mengguyur Jogja. Ngemplak ding, tepatnya. Cuaca jadi lebih dingin. Segar. Kupikir hujan bakal berhenti sekitar jam 16.30. Tapi kok jam 5 lewat masih cukup deras? Aku mulai berpikir kakakku nanti bakal kehujanan, dong? Soal dia pulang dari kampus hujan-hujan, itu sudah biasa. Tapi yang tidak biasa adalah sekarang kan musim corona. Haish. Kalau kehujanan bisa masuk angin dan daya tahan tubuh bakal turun. Ketimbang nanti kenapa-napa, aku menawari untuk menjemputnya pakai mobil. Mumpung belum terlalu malam dan hujan tidak terlalu deras.

Baiklah, aku berangkat sendiri. Menyetir saat hujan bukan keahlianku. Agak deg-degan juga karena aku mesti nyetir sendiri. Mesti ekstra fokus mengingat air hujan yang mengenai kaca depan itu sesekali membuat pandangan ke depan jadi blawur. Selain itu, aku mesti berjuang melawan dinginnya AC mobil. Untung jarak rumah dan kampus tidak terlalu jauh. Pokoknya super hati-hati dan berdoa.

Saat lewat Stadion Maguwo kulihat beberapa warung makan masih buka. Semakin dekat Stadion, tampak beberapa penjual makanan kecil dan minuman berjualan di bawah rintik hujan. Mendadak aku nggrantes. Di antara seruan dan ajakan supaya orang tetap di rumah saja, masih ada orang yang berjualan di bawah rintik hujan. Aku tahu ini bukan pilihan yang mudah. Ada temanku yang bercerita bahwa pendapatannya diperoleh secara harian. Kalau satu hari tidak bekerja, ya tidak punya uang. Tidak ada bos yang menggaji setiap bulan. Bosnya ya diri sendiri, merangkap karyawan, dan HRD. Singkat kata, mesti bekerja tiap hari. Kalau tidak kerja, ya tidak bisa makan. Titik. Menurutku orang-orang seperti itu adalah kelompok yang rentan. Mereka bisa terpapar virus saat menghabiskan waktu di jalan. Paling tidak karena terpapar udara dingin, stamina tubuh bisa turun. Yeah, itu aku sih yang kalau kedinginan dikit bisa mendadak masuk angin. Tapi tetep saja sih kurasa orang bisa sakit kalau sering terpapar udara dingin malam hari dalam jangka panjang. Siapa yang tidak nggrantes dan sedih melihat orang-orang yang terpaksa bekerja di luar rumah seperti itu?

Seumur-umur baru pertama kali ini aku dibombardir dengan berita tentang wabah seperti ini. Rasanya capek juga. Kadang aku ingin menutup kuping dan mata dari segala berita soal corona. Tapi kok sulit ya? Hampir semua orang membicarakannya–baik di dunia nyata maupun di dunia maya, mulai dari bangun tidur sampai mau tidur lagi. Seakan-akan ini perang dengan musuh tak terlihat. Menyebalkan. Kalau kita perang dan tahu musuhnya ada di mana, kita bisa melipir. Tapi kalau musuhnya tak terlihat begini, sepertinya harus pasang kuda-kuda terus. Capek tauk!

Meskipun demikian, aku berusaha melihat sisi positif selama wabah ini. Aku jadi lebih rajin menyapu, mengepel, dan mengelap meja makan/dapur. Aku jadi rajin masak. Tiap kali makan kuusahakan ada sayur baru. Minimal kalau masak sayur bisa untuk makan dua kali. Habis masak, aku bersihkan dapur. Tidak hanya nyuci alat masak, piring, dan gelas, tapi juga mengepel! Semacam kurang kerjaan saja. Biasanya, sudah bagus aku mau nyuci alat masak dan piring kotor. Ngepel? Nanti dulu lah. Sekarang, lantai berpasir sedikit, langsung ambil sapu. Begitu ada kesempatan, ambil pel. Capek? Iya. Tapi lantai yang bersih ternyata nyaman. Kupikir wabah ini membuatku jadi melihat lagi ke dalam diri. Berusaha menyayangi diri sendiri dan orang-orang di sekitarku–sahabat serta keluarga.

Semoga kita semua bisa melalui masa sulit ini dengan tabah. Semoga kita dan orang-orang yang kita kasihi senantiasa sehat. Tunjukkan perhatian dan sayang untuk mereka, ya! Jangan lupa berdoa.

Adakah Cara Cerdik Menghindari Plastik?

Beberapa waktu lalu, aku kebagian menyiapkan snack untuk latihan koor lingkungan. Aku berpikir, jajanan apa yang bisa disuguhkan tetapi tidak nyampah banyak? Terutama jangan ada bungkus plastiknya. Aku langsung terpikir untuk menyiapkan pisang rebus. Sebetulnya pisangnya tidak direbus, tetapi dikukus. Tapi namanya tetap pisang rebus, bukan pisang kukus.

Oke, satu snack sudah terpecahkan. Tinggal satu lagi. Apa ya? Kalau pesan kue, biasanya mesti dibungkusi plastik satu per satu tiap irisannya. Sementara kalau bikin kue bolu sendiri, aku tidak cukup percaya diri dan terutama waktunya bakal uyel-uyelan alias tidak cukup.

Aku lalu ingat tetanggaku biasa membuat tahu bakso. Tapi dia mesti ditanya dulu, apakah bisa membuatkan 25-30 buah saja? Jumlah yang terlalu sedikit menurutku. Untungnya setelah dinego dan ditanya, dia menyanggupi. Dan aku mewanti-wanti, “Jangan dibungkusi plastik satu-satu ya, Mbak.”

“Nanti nggak rapi kalau tidak pakai plastik,” jawabnya.

“Tidak apa-apa. Nanti saya bawa wadah sendiri.”

Kulihat dia masih agak bingung. Aku tahu, dia memang golongan orang yang rapi. Baginya, bakso tahu telanjang tanpa baju plastik akan tampak tidak elok. Tidak sopan. Tapi aku sebagai pemesan benar-benar tidak ingin menambahi jumlah sampah plastik. Lagi pula, umur bungkus plastik hanya hitungan jam. Setelah itu dibuang, jadi penghuni bak sampah beberapa hari, lalu dibawa ke TPA. Hal seperti ini yang tidak kuinginkan.

Urusan bungkus ini memang agak repot, terutama untuk penjual makanan–serta penjual berbagai produk lainnya. Bagaimanapun, bungkus plastik ini memungkinkan sebuah produk bisa menjangkau konsumen yang tempatnya lebih jauh dan tampak bersih–walau sebenarnya aku sering bertanya-tanya, apakah plastik pembungkus itu benar-benar bersih? Kan tidak ada yang mengecek kebersihannya. Kalau tidak ingin berurusan dengan bungkus/wadah plastik, solusinya adalah konsumen membawa wadah sendiri.

Aku sendiri sebagai pembuat (dan kadang macak jadi penjual) sabun mengalami rumitnya menghindari plastik. Untungnya aku masih bisa membungkus sabun dengan kertas dan besek. Aku kadang juga mengumpulkan kardus bekas snack yang masih bersih untuk mengirim sabun bagi pembeli luar kota. Tapi sayangnya, aku masih belum bisa lepas dari selotip plastik dan biasanya aku melapisi wadah terluar dengan plastik untuk mengamankan paket itu dari air (hujan atau keciprat air apa pun selama di jalan).

Aku kadang berharap pemerintah lebih serius mengurusi sampah-sampah plastik ini. Ini bukan soal pilihan karena bumi sepertinya sudah kepayahan menangani sampah plastik. Dan bumi ini cuma satu. Sampah-sampah yang tak terurai itu tidak akan terselesaikan dengan sendirinya kalau tidak kita tangani. Apakah kita mesti menghilangkan plastik sepenuhnya? Apa saja yang bisa kita lakukan dengan sampah-sampah tak terurai ini? Kamu punya solusi?

Apakah Aku Mesti Ikut Kulwap?

Zaman sekarang memang zamannya WA dan kulwap jadi menjamur. Kulwap alias kuliah di grup WA rasa-rasanya makin sering kudengar. Misalnya kemarin di sebuah grup yang kuikuti, Bu Admin memprovokasi anggota grup untuk ikut kelas membuat sabun. “Kali ini kelasnya offline, ya,” begitu ocehnya di grup. Lalu, beberapa anggota grup mulai mengajukan usul, “Bikin kelas online dong, Bu. Biar yang dari luar kota bisa ikutan.”

Bu Admin dengan gegap gempita lalu menanggapi: Setelah gurunya siap, bakal diadakan kelas online. Begitulah Bu Admin yang gemar memprovokasi itu menyenangkan jamaahnya.

Sesungguhnya, aku bertanya-tanya kenapa orang sepertinya haus kelas online dan merasa perlu ikut kulwap. Sepenting apa sih ilmu yang disebarkan di kulwap itu?

Emang aku tidak pernah ikut kulwap?

Pernah dong. Haha. Dan setelah mengikuti kulwap, aku merasa kulwap-kulwap itu tidak penting-penting amat–terutama yang berbayar mahal. Kalau kamu cukup belajar, kulwap mahal itu hanya mengulangi pelajaran yang sudah kamu ketahui.

Aku pernah ikut beberapa macam kulwap. Tidak sering sih, tapi yah 1-2 kali lah. Aku ikut kulwap pertama-tama karena penasaran dengan pemberi materi. Biasanya pemateri sudah punya nama dan dipandang memiliki keahlian tertentu. Dari kulwap-kulwap yang kuikuti, aku merasa aku sudah cukup paham dengan semua yang disampaikan. Lho, tapi kok aku ikut? Ya, begitulah aku. Aku kan orangnya suka penasaran. Selain itu, aku merasa perlu “mengintip” apa sih yang bakal dia omongkan? Apa itu namanya kalau bukan penasaran bin kepo?

Kulwap itu berguna kalau kita ingin tahu sekilas materi yang disampaikan. Misalnya nih, kamu pengin tahu cara membuat sabun dan kamu sama sekali belum pernah tahu cara membuatnya. Kalau seperti itu, bolehlah kamu ikut kulwap. Kalau kamu ingin belajar lebih jauh, mendingan ikut kelas offline. Lagi pula kelas online itu jamaahnya suka ribut dan menanyakan hal-hal yang membutuhkan kesabaran bagi yang ikut menyimak. (Mungkin itu sebabnya aku tidak cocok menjadi guru. Membaca pertanyaan yang jawabannya sudah sangat jelas di awal saja aku merasa senewen.)

Namun, hal lain yang aku pertanyakan kenapa banyak orang gegap gempita ikut kulwap adalah apakah mereka tidak pernah browsing internet lalu membuka YouTube atau situs web yang membagikan hal-hal serius yang ingin mereka pelajari? Semua rasanya ada deh. Mulai dari bikin klepon sampai cara menulis novel. Mulai dari dari memasak sayur lodeh sampai cara belajar bahasa Arab. Semua ada. Lalu kenapa masih ikut kulwap ya? Oh, mungkin orang-orang itu sama penasarannya denganku. 😀

Sekian kali aku ikut kulwap, ada satu hal yang selalu kulakukan setelah masuk grup: mulai berhitung berapa banyak keuntungan yang diraup sang pemateri. Anggaplah tiap peserta membayar Rp50.000 dan jumlah peserta yang ikut kulwap 100 orang. Maka total uang yang diperoleh adalah Rp50.000 x 100 = Rp5.000.000. Lima juta, Sodara-sodara. Uang sebanyak itu diperoleh dalam tempo singkat dan tepat. Begitulah cara cepat untuk mendapatkan uang yang lumayan: Rajin-rajinlah bikin kulwap. Maka tidak heran kalau Bu Provokator itu gemar mengoceh dan mengompori orang untuk ikut kelas yang dia bikin.

Sekarang, kamu jadi pengin ikut kulwap atau malah pengin bikin kulwap?

Kewajiban Lima Tahunan

Apa itu? Mengurus perpanjangan SIM.

Tahun ini aku mesti memperpanjang SIM C. Ini tahun yang istimewa dalam pengurusan SIM karena aku pindah alamat. Lebih tepatnya, KTP-ku ganti. Alamatnya sih ya di situ-situ saja. Cuma dulu KTP-ku selalu Madiun (tempat tinggal asalku) dan waktu tinggal di Jakarta aku tidak ganti KTP karena mahal! Awal aku tinggal di Jakarta belum zamannya Ahok, sih. Jadi, Pak RT mematok tarif Rp250.000 untuk mengurus KTP baru. Ogah dong, ya. Lagian aku tidak ingin menetap di Jakarta. Lupakan saja punya KTP Jakarta. Menjelang aku pindah baru deh ada Ahok. Itu pun sudah hampir pergantian gubernur (yang akhirnya Ahok dilengserkan).

Jadi, singkat kata aku sekarang punya KTP Jogja. Eh, Sleman ding tepatnya. SIM-ku yang dulu adalah SIM dari Madiun. Nah, aku berniat mengganti dari SIM C Madiun menjadi SIM C Jogja.

Bagaimana caranya?

Aku pikir aku mesti ke Madiun, mengurus pencabutan berkas, lalu mengurus perpindahan SIM C di Samsat Sleman. Untungnya sekarang zaman internet. Aku sempat googling dan ternyata tidak perlu seperti itu. Caranya mudah saja, yaitu cukup mengurus di Samsat tempat tinggalku sekarang–Samsat Sleman.

Karena rada-rada tidak percaya awalnya, bulan lalu aku datang ke Samsat Sleman untuk tanya-tanya. Oleh petugas aku diminta untuk cek online dan ternyata untuk mengurus perpanjangan SIM baru bisa dilakukan kira-kira dua minggu sebelum SIM tersebut habis masa berlakunya. Jadi, ketika aku datang bulan Mei yang lalu, aku datang terlalu awal. Bulan Juni inilah aku mesti mengurusnya. Dan sebelum SIM-ku benar-benar kedaluarsa, dua hari yang lalu aku mengurus perpanjangannya.

Nah, begini cara perpanjangan SIM pindah alamat:
1. Datang ke Samsat tujuan (kalau aku berarti di Samsat Sleman) kira-kira dua minggu sebelum SIM habis masa berlakunya.
2. Cek online. Cek online ini waktunya tidak lama. Cuma antri sebentar lalu kita akan dapat selembar kertas kecil yang tulisannya kuecil-keciiil.
3. Cek kesehatan. Untuk cek kesehatan ini, siapkan foto kopi KTP dan SIM lama. Biasanya di sekitar tempat cek kesehatan ini ada jasa foto kopi. Kalau belum punya foto kopinya, bisa foto kopi di situ. Biaya administrasinya sebesar Rp 25.000, dan dibayarkan di tempat cek kesehatan tersebut. Yang diujikan pada tes kesehatan adalah cek mata, cek tekanan darah, cek buta warna.
4. Bayar biaya perpanjangan SIM di BRI. Kalau di Samsat Sleman ada BRI di depan pintu masuk pengurusan SIM. Biayanya sebesar Rp 75.000.
5. Mengisi formulir.
6. Foto, cap jari, tanda tangan, dan ditanya alamat plus pekerjaan sama petugas.
7. Mengambil SIM yang sudah jadi. Untuk mengambil SIM baru ini wajib menyerahkan SIM lama.

Tidak sulit, kan? Yang lama adalah antrinya. Awalnya aku terkaget-kaget melihat antrian yang banyak sekali. Tetapi aku sudah niat mengurus sendiri dan ternyata tidak terlalu lama menurutku. Aku tiba di kantor Samsat sekitar pukul 8.30. Sekitar jam 12-an sudah selesai. Pengurusan perpanjangan SIM dilayani pukul 8.00 – 11.00. Sedangkan untuk mengurus SIM baru dilayani pukul 8.00 – 10.00.

Tips:
1. Makan kenyang sebelum berangkat dan bawa minum. Soalnya cukup lama kan antrinya, jangan sampai kelaparan di sana.
2. Kalau bisa datang lebih pagi, lebih baik.
3. Pakai pakaian berkerah yang rapi. Jangan pakai kaos oblong ya. Soalnya ini kan mau foto resmi untuk SIM. Seingatku kemarin ada yang diminta keluar untuk ganti baju rapi karena orang itu pakai kaos oblong dan celana selutut.
3. Bawa bacaan supaya tidak bosan selama menunggu.
4. Siapkan ponsel yang sudah diisi daya penuh.
5. Siapkan hati untuk antri yang panjang.

Memilih Mesin Cuci: Satu atau Dua Tabung?

Aku tidak ingat kapan mulanya aku benar-benar mengenal mesin cuci. Zaman aku masih kecil, mesin cuci adalah barang mewah. Tapi makin lama, mesin cuci dianggap sebagai suatu alat yang wajar di rumah-rumah.

Di keluargaku sendiri, mesin cuci (dua tabung) baru benar-benar hadir di rumah ketika aku duduk di bangku SMP kalau tidak salah. Sebelum ada mesin cuci, kami mencuci manual–alias kucek pakai tangan.

Waktu itu Mak’e (pengasuhku) masih hidup. Begini komentarnya waktu ada mesin cuci di rumah: “Apa ya bisa bersih kalau cuma diputer-puter begitu?” Jadi, dia tetap mengucek sendiri bajunya walau sudah tersedia mesin cuci. Tapi seingatku, lama-lama dia memakai alat itu juga setelah sekian lama. Atau setidaknya, dia hanya pakai alat pengeringnya? Lupa, dah.

Setelah beberapa dekade berlalu, masalah kebersihan mesin cuci masih dipertanyakan oleh seorang sepupuku. Sebetulnya dia punya mesin cuci juga (2 tabung), tapi sampai sekarang dia tidak pernah memakai alat itu. Alasannya sama seperti Mak’e: “Nggak bersih. Kan cuma diputer-puter doang bajunya.” Biasanya komentarnya itu akan disambar oleh kakaknya, “Jadi, orang barat itu bajunya nggak bersih semua? Kan mereka semua nyuci baju pakai mesin cuci.” Tapi si adik biasanya hanya diam saja tak punya jawaban yang cetar membahana untuk menangkis komentar itu. Ia teguh kukuh mengandalkan ucekan. Jadi, meskipun punya cucian bertumpuk-tumpuk, dikejar deadline, mesti mengurus orang sakit di rumah, dia masih mengucek baju yang banyaknya seabrek-abrek.

Aku dulu juga meragukan kemampuan mesin cuci. Karena penasaran, aku googling dong. Apa iya, mencuci pakaian menggunakan mesin cuci bisa bersih? Apakah karena daya bersih sabun saja? Ternyata kuncinya justru pada perputaran air yang konstan selama proses pencucian. Karena adanya perputaran air, kotoran yang ada di antara serat benang yang kecil itu bisa hilang. Tentu saja dengan adanya sabun, proses mencuci jadi lebih maksimal.

Oke, setelah rasa penasaran itu dibereskan, mari kita bahas soal pemilihan mesin cuci. Kamu lebih suka memakai mesin cuci satu atau dua tabung?

Selama beberapa tahun terakhir ini, aku mengandalkan mesin cuci satu tabung di rumah. Dulu ibuku yang membelikan mesin cuci tersebut. Alasannya: “Kan kalian pada sibuk. Kalau pakai yang satu tabung, nyuci bisa ditinggal.” Aku awalnya kurang setuju karena mesin cuci satu tabung lebih mahal. Sayang uangnya. Tapi lama-lama aku menikmati memakai mesin cuci satu tabung.

Bulan lalu mesin cuci yang dibelikan ibuku itu rusak. Tombolnya waktu dipencet tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Waduh, kok ya mesin itu rusak pas rada-rada bokek begini. Tapi aku berpikir, “Ah… dunia belum berakhir walau mesin cuci rusak.” Aku sempat terpikir untuk menservisnya saja. Tapi karena umur mesin cuci itu sudah lama banget (sekitar 10 tahun lebih rasanya), dan belakangan performanya menurun, aku berpikir akan beli mesin cuci baru.

Pertanyaannya: Beli mesin cuci satu tabung atau dua tabung?

Awalnya kupikir mau beli yang dua tabung saja. Jauh lebih murah. Ini semata-mata alasan finansial–berhubung rada bokek. Tapi setelah lewat banyak pertimbangan, aku memutuskan beli yang satu tabung. Tak apalah menunda dulu belinya. Sampai uangnya cukup, baru kubeli, begitu pikirku. Ndilalah aku baru dapat transferan royalti buku. Puji Tuhaaan…! Duitnya bisa untuk membeli mesin cuci.

Alasanku memutuskan beli mesin cuci satu tabung adalah:
1. Lebih hemat tempat.
Ternyata tempat yang tersedia tidak cukup untuk mesin cuci dua tabung. Mesin cuci dua tabung lebih lebar, sedangkan mesin cuci satu tabung lebih ramping.

2. Lebih praktis.
Ini alasan yang utama sebenarnya. Kalau mesin cuci dua tabung, mesti ditungguin. Setelah proses cuci dan bilas, kita mesti memindahkan semua baju ke bagian pengering. Tidak bisa langsung beres. Aku benar-benar terbantu dengan kepraktisan mesin cuci satu tabung itu. Begitu mesin cuci bekerja, aku bisa konsentrasi mengerjakan hal lain. Benar-benar mencuci sendiri dan mengurangi capek.

Jadi, kalau bingung memilih mesin cuci satu atau dua tabung, pertimbangkan apa yang lebih kamu utamakan. Kalau mau hemat uang, ya pilih yang dua tabung. Kalau mau hemat waktu plus nggak capek, pilih yang satu tabung. Cus! Silakan memutuskan.

Setelah Tak Kerja Kantoran, Ngapain?

Beberapa minggu lalu, aku menemui seorang teman yang akan pensiun. Aku merasa cukup berutang budi padanya karena beberapa belas tahun lalu dia telah memberiku kesempatan untuk melakukan kerja sampingan menjadi penyunting lepas untuk majalah yang digawanginya. Aku kurang tahu apakah istilah menyunting sudah tepat. Yang kulakukan adalah memperbaiki kalimat dan mencari kalau-kalau ada salah ketik. Selain menyunting artikel yang akan terbit, aku juga sesekali menulis. Kadang ulasan buku, kadang artikel lepas biasa. Pernah juga dia memberiku pekerjaan berupa terjemahan. Hal itu kulakukan dulu semasa aku masih kerja kantoran.

Kupikir-pikir, dia adalah salah satu orang yang berjasa membuatku merasa lebih PD dalam melakukan pekerjaan yang bersangkutan dengan buku, teks, artikel, dan semacamnya. Dan berkat dia pula, aku punya sedikit uang tambahan selain gaji tetap yang kuterima di kantor.

Ketika aku bertemu dengannya–sebelum sempat aku bertanya–dia mengatakan dia belum tahu apa yang akan dilakukan setelah pensiun nanti. Kalau dilihat perawakannya, dia masih jauh dari definisi tua. Masih segar bugar. Aku jadi membayangkan, kalau aku jadi dia, apa ya yang akan kulakukan? Pengalaman banyak, waktu banyak, tetapi barangkali kurang terbiasa mencari pekerjaan sambilan.

Aku bisa paham jika orang setelah pensiun mengalami post power syndrom. Karyawan biasa saja bisa mengalami itu, apalagi orang yang terbiasa memegang jabatan. Pekerjaan kantoran itu sedikit banyak menempelkan identitas pada kita. Dulu aku pernah merasa useless setelah tak lagi ngantor. Padahal dulu aku sendiri yang memilih mengundurkan diri (resign). Kan ikut suami ke luar kota. Kalau nggak resign, masak kantornya aku bawa? 😀

Tadi pagi, kakakku cerita ia ketemu seseorang yang akan diakhiri kontraknya oleh sebuah NGO. Usianya masih sangat muda. Tapi dia terbiasa kerja ikut orang. Waktu ditanya, apa yang akan dilakukan setelah kontraknya habis? Dia menjawab tidak tahu.

Menurutku mahasiswa dan orang-orang sekolahan sekarang pada umumnya tidak disiapkan untuk mandiri. Setelah lulus, pertanyaan yang muncul adalah: Kerja di mana? Berapa gajinya? Kalau bekerja di perusahaan bonafid dan gaji tinggi, langsung derajatnya melejit. Keren deh. Selain itu, sekarang banyak orang setelah lulus S1 cenderung langsung melanjutkan S2. Mungkin harapannya setelah lulus S2, bisa bekerja di perusahaan yang jauh lebih bonafid dan bergaji jauh lebih tinggi. Semakin keren. Orang-orang seperti ini kurasa yang akhirnya gamang ketika mesti pensiun dini, ketika kontrak tidak diperpanjang. Mungkiiiin, lho ya. Aku bilang begitu karena melihat orang-orang di sekitarku begitu.

Mengalami gamang dan galau setelah tidak ngantor itu biasa. Namanya juga lepas dari sebuah kebiasaan. Tapi kurasa kalau kita masih sehat walafiat, tubuh masih lengkap, masih muda, banyak yang bisa dilakukan. Itu modal yang sangat besar. Kalau bisa sih sebetulnya sebelum hari H pensiun, mesti mulai melakukan sesuatu. Entah itu berkebun, nulis blog, memasak, bikin sabun (eh itu kan aku, ya?) … apa sajalah. Kalau hasilnya bisa dijual, ya dijual. Lumayan bisa untuk tambah-tambah beli garam–begitu kata Ibuk. Yang jadi tantangan adalah kalau uang pensiun tidak cukup untuk hidup dan bayar tagihan. Lalu bagaimana? Ng… aku belum pernah mengalaminya. Jadi tidak bisa memberi solusi.

Aku hanya berpegang pada motto orang Jawa: Ubet, ngliwet. Kalau kita berusaha, pasti hasilnya bisa untuk hidup. Jadi, begitulah.

Don’t worry be happy. Yuk ubet, ben iso ngliwet.

Bagaimana Menggerakkan Orang Agar Mau Memilah Sampah?

Tadi siang pas mau buang sampah ke belakang rumah, seorang calon tetangga tanya: “Apakah nggak ada tukang sampah keliling?”

“Ada, tapi saya memilah sampah. Yang saya buang ke kebun belakang ini hanya sampah organik kok.”

Begitulah. Sudah sekian tahun ini aku memilah sampah. Sampah yang tidak bisa busuk, kubuang ke tukang sampah. Yang bisa busuk, kubuang ke kebun belakang. Iya, aku belum punya komposter, belum juga bikin biopori. Ini disebabkan oleh rasa malas dan keenakan punya “jugangan” alias lubang di belakang yang khusus untuk segala sampah yang bisa busuk. Dan iya, benar… aku belum ikut bank sampah. Pemilahan sampahnya baru sebatas sampah organik dan non-organik. Levelnya baru ecek-ecek kalau soal sampah begini.

Namun, mendengar pertanyaan calon tetangga tersebut aku jadi mikir, salah satu hal penting yang mesti ada di daerah perkampungan atau perumahan adalah tukang sampah keliling. Semua yang tidak berguna, serahkan saja pada mereka. Syukur-syukur mereka mau memilah dan membuat sampah organik itu jadi kompos. Tapi kalau aku jadi tukang sampah, kayaknya aku bakal bingung gimana mengatasi sampah yang tidak dipilah tersebut.

Urusan pemilahan sampah ini sepele memang, tapi harus dimulai. Mungkin perlu adanya gerakan masif pemilahan sampah. Paling efektif adalah menggerakkan ibu-ibu atau dimulai dari tingkat keluarga. Nah, setelah itu baru naik ke level RT, RW, dan seterusnya.

Cuma kalau melihat sampah yang bertebaran, saya jadi pesimis. Mana mungkin orang bisa memilah sampah kalau untuk membuang sampah di tempat yang semestinya saja susah. Mungkin perlu edukasi beberapa generasi, baru masyarakat kita sadar pentingnya memilah sampah.

Bagaimana menggerakkan orang mau memilah sampah? Ini PR juga. Mengharapkan pemerintah membuat aturan supaya tiap keluarga memilah sampah? Aduh, rasanya kok nggak mungkin ya? Wong soal zonasi sekolah saja orang-orang jadi gaduh. Kalau ditambah aturan pemilahan sampah, jangan-jangan orang malah minta ganti presidennya sekarang? Kadang untuk sebuah perubahan kecil, masyarakat gaduhnya tak karuan. Pusing dengarnya.

Lalu bagaimana?

Aku pikir salah satu cara paling efektif soal himbau-menghimbau begini adalah lewat agama. Masyarakat kita kan agamis banget nih, jadi kalau para pemuka agama bisa menghimbau umatnya mulai memilah sampah, rasanya umat ada deh yang mau mendengarkan dan menuruti. Mungkin awalnya cuma satu-dua orang yang melakukan. Tapi kalau tiap ada kegiatan keagamaan urusan sampah begini disentil, kurasa lama-lama jadi gerakan juga. Timbang pemuka agama hanya khotbah soal politik dan bikin gaduh, mending mereka menghimbau umatnya memilah sampah. Hasilnya bisa dinikmati banyak orang. Iya, kan?

Tak Cukup Hanya Mengirim Buku

Tulisan ini murni keinginan untuk mengungkapkan apa yang jadi ganjelan. Timbang nggak bisa tidur. 😀

Sekarang kulihat di masyarakat mulai tumbuh kesadaran soal literasi. Yang paling terlihat adalah adanya program pengiriman buku gratis ke taman bacaan terdaftar di TBM setiap tanggal 17. Itu keren. Bagaimanapun ongkos kirim itu lumayan memberatkan; apalagi kalau yang dikirim buku. Cukup mahal–setidaknya buatku.

Aku mengenal beberapa teman yang mau ikut sibuk dengan menjadi “simpul” pengiriman buku-buku yang akan disumbang. Jadi, kita tinggal berikan buku-buku tersebut, lalu dialah yang nanti menyatukan, mengemas, dan mengirimkan semua buku. Pihak yang akan menyumbang buku pun senang, to? Tinggal ngedrop buku, selesai. Beramal dengan menyumbang buku semudah belanja di warung.

Ada pula teman yang mau repot-repot membawa buku sampai ke daerah terpencil. Keren kan? Keren lah.

Namun, kupikir masih dibutuhkan langkah yang lebih jauh lagi yaitu melakukan pendampingan dalam membaca. Menyebarkan buku itu satu hal, sedangkan pendampingan adalah hal lain.

Aku pernah datang ke sebuah perpustakaan kecil di desa. Perpustakaan itu kecil dan kurang terurus. Sebetulnya di situ banyak anak kecil yang kurasa sangat membutuhkan perpustakaan. Memang di situ bukunya sedikit, tapi tak ada orang yang mengorganisir perpustakaan tersebut. Singkatnya tak ada orang yang membuat perpustakaan itu hidup. Buku-buku dibiarkan menumpuk tak dibaca.

Menghidupkan taman bacaan itu penting. Sama pentingnya dengan menyebarkan buku-buku sampai ke pelosok. Perpustakaan itu butuh orang yang bisa membacakan cerita dengan menarik (story telling), membaca lantang (read aloud), menyusun katalog, menata buku di rak supaya anak-anak (dan orang dewasa) tergugah membacanya, dan masih banyak lagi.

Ah, ya… aku kadang merasa bisanya ngomong doang. Kalau disuruh melakoni sebagai penggiat perpus, aku pasti punya banyak alasan. Levelku paling pol baru memilah buku yang ingin kusumbangkan dari koleksi buku-bukuku. Itu pun masih juga enggak sering-sering amat. Namun, kuharap soal menghidupkan taman bacaan itu semakin banyak yang memikirkannya. Atau barangkali memang sudah banyak yang memikir dan menggarapnya? Aku saja yang kuper kalau begitu.