Bagaimana Menggerakkan Orang Agar Mau Memilah Sampah?

Tadi siang pas mau buang sampah ke belakang rumah, seorang calon tetangga tanya: “Apakah nggak ada tukang sampah keliling?”

“Ada, tapi saya memilah sampah. Yang saya buang ke kebun belakang ini hanya sampah organik kok.”

Begitulah. Sudah sekian tahun ini aku memilah sampah. Sampah yang tidak bisa busuk, kubuang ke tukang sampah. Yang bisa busuk, kubuang ke kebun belakang. Iya, aku belum punya komposter, belum juga bikin biopori. Ini disebabkan oleh rasa malas dan keenakan punya “jugangan” alias lubang di belakang yang khusus untuk segala sampah yang bisa busuk. Dan iya, benar… aku belum ikut bank sampah. Pemilahan sampahnya baru sebatas sampah organik dan non-organik. Levelnya baru ecek-ecek kalau soal sampah begini.

Namun, mendengar pertanyaan calon tetangga tersebut aku jadi mikir, salah satu hal penting yang mesti ada di daerah perkampungan atau perumahan adalah tukang sampah keliling. Semua yang tidak berguna, serahkan saja pada mereka. Syukur-syukur mereka mau memilah dan membuat sampah organik itu jadi kompos. Tapi kalau aku jadi tukang sampah, kayaknya aku bakal bingung gimana mengatasi sampah yang tidak dipilah tersebut.

Urusan pemilahan sampah ini sepele memang, tapi harus dimulai. Mungkin perlu adanya gerakan masif pemilahan sampah. Paling efektif adalah menggerakkan ibu-ibu atau dimulai dari tingkat keluarga. Nah, setelah itu baru naik ke level RT, RW, dan seterusnya.

Cuma kalau melihat sampah yang bertebaran, saya jadi pesimis. Mana mungkin orang bisa memilah sampah kalau untuk membuang sampah di tempat yang semestinya saja susah. Mungkin perlu edukasi beberapa generasi, baru masyarakat kita sadar pentingnya memilah sampah.

Bagaimana menggerakkan orang mau memilah sampah? Ini PR juga. Mengharapkan pemerintah membuat aturan supaya tiap keluarga memilah sampah? Aduh, rasanya kok nggak mungkin ya? Wong soal zonasi sekolah saja orang-orang jadi gaduh. Kalau ditambah aturan pemilahan sampah, jangan-jangan orang malah minta ganti presidennya sekarang? Kadang untuk sebuah perubahan kecil, masyarakat gaduhnya tak karuan. Pusing dengarnya.

Lalu bagaimana?

Aku pikir salah satu cara paling efektif soal himbau-menghimbau begini adalah lewat agama. Masyarakat kita kan agamis banget nih, jadi kalau para pemuka agama bisa menghimbau umatnya mulai memilah sampah, rasanya umat ada deh yang mau mendengarkan dan menuruti. Mungkin awalnya cuma satu-dua orang yang melakukan. Tapi kalau tiap ada kegiatan keagamaan urusan sampah begini disentil, kurasa lama-lama jadi gerakan juga. Timbang pemuka agama hanya khotbah soal politik dan bikin gaduh, mending mereka menghimbau umatnya memilah sampah. Hasilnya bisa dinikmati banyak orang. Iya, kan?

Advertisements

Tak Cukup Hanya Mengirim Buku

Tulisan ini murni keinginan untuk mengungkapkan apa yang jadi ganjelan. Timbang nggak bisa tidur. 😀

Sekarang kulihat di masyarakat mulai tumbuh kesadaran soal literasi. Yang paling terlihat adalah adanya program pengiriman buku gratis ke taman bacaan terdaftar di TBM setiap tanggal 17. Itu keren. Bagaimanapun ongkos kirim itu lumayan memberatkan; apalagi kalau yang dikirim buku. Cukup mahal–setidaknya buatku.

Aku mengenal beberapa teman yang mau ikut sibuk dengan menjadi “simpul” pengiriman buku-buku yang akan disumbang. Jadi, kita tinggal berikan buku-buku tersebut, lalu dialah yang nanti menyatukan, mengemas, dan mengirimkan semua buku. Pihak yang akan menyumbang buku pun senang, to? Tinggal ngedrop buku, selesai. Beramal dengan menyumbang buku semudah belanja di warung.

Ada pula teman yang mau repot-repot membawa buku sampai ke daerah terpencil. Keren kan? Keren lah.

Namun, kupikir masih dibutuhkan langkah yang lebih jauh lagi yaitu melakukan pendampingan dalam membaca. Menyebarkan buku itu satu hal, sedangkan pendampingan adalah hal lain.

Aku pernah datang ke sebuah perpustakaan kecil di desa. Perpustakaan itu kecil dan kurang terurus. Sebetulnya di situ banyak anak kecil yang kurasa sangat membutuhkan perpustakaan. Memang di situ bukunya sedikit, tapi tak ada orang yang mengorganisir perpustakaan tersebut. Singkatnya tak ada orang yang membuat perpustakaan itu hidup. Buku-buku dibiarkan menumpuk tak dibaca.

Menghidupkan taman bacaan itu penting. Sama pentingnya dengan menyebarkan buku-buku sampai ke pelosok. Perpustakaan itu butuh orang yang bisa membacakan cerita dengan menarik (story telling), membaca lantang (read aloud), menyusun katalog, menata buku di rak supaya anak-anak (dan orang dewasa) tergugah membacanya, dan masih banyak lagi.

Ah, ya… aku kadang merasa bisanya ngomong doang. Kalau disuruh melakoni sebagai penggiat perpus, aku pasti punya banyak alasan. Levelku paling pol baru memilah buku yang ingin kusumbangkan dari koleksi buku-bukuku. Itu pun masih juga enggak sering-sering amat. Namun, kuharap soal menghidupkan taman bacaan itu semakin banyak yang memikirkannya. Atau barangkali memang sudah banyak yang memikir dan menggarapnya? Aku saja yang kuper kalau begitu.

Ngalor Ngidul tentang Penjenjangan Buku Anak

Beberapa waktu yang lalu aku mengobrol ngalor ngidul dengan seorang teman. Dari soal pengalamannya mengontrak rumah sampai angan-angan untuk membuat sanggar literasi anak. Ada satu pertanyaan yang terlontar dalam obrolan kami: Kenapa budaya baca orang Indonesia masih rendah. Temanku bilang, mungkin anak-anak mengalami “kekerasan” ketika belajar membaca.

Apa maksudnya? Itu semacam mengonsumsi makanan yang tidak sesuai dengan kemampuannya dalam mencerna. Kalau anak baru lahir, tentu tepatnya mengonsumsi ASI, bukan nasi pecel, kan? Kurasa hal yang sama berlaku untuk membaca buku.

Temanku kemudian bertanya: “Apakah di Indonesia ada penjenjangan buku anak?”

Aku kurang tahu. Selama ini aku tidak terlalu memperhatikan penjenjangan buku anak. Ketika aku membuka-buka koleksi buku anak milikku sendiri (terbitan beberapa penerbit Indonesia), kulihat memang jarang sekali ada informasi buku tersebut ditujukan untuk anak dengan kemampuan baca seperti apa. Kadang ada yang menuliskan di cover belakang bahwa buku ini untuk balita atau untuk anak umur sekian. Tapi jarang yang jelas penjenjangannya.

Penjenjangan buku itu perlu. Kenapa? Yang utama adalah agar anak bisa membaca buku sesuai kemampuannya. Kalau dia baru mengenal huruf, jangan disuguhi cerpen. Dia bisa “gelagepan” dan selanjutnya akan malas membaca.

Aku merasa soal penjenjangan buku ini masih sedikit yang tahu. Mungkin, ya. Ini hanya perkiraanku sendiri. Aku sendiri belum terlalu lama tahu pentingnya penjenjangan buku anak; hanya gara-gara ikut workshop penulisan buku anak dengan Room to Read. Aku juga tak ingat buku-buku pertamaku di masa kecil. Aku hanya ingat waktu SD aku membaca Bobo, Ananda, dan ng… adakah buku lain yang kubaca? Lupa.

Soal penjenjangan buku ini kurasa perlu disosialisasikan. Penjenjangan buku itu perlu untuk mendongkrak tingkat literasi masyakat. Kenapa literasi masyarakat perlu ditingkatkan? Supaya masyarakat kita tidak bodoh. Masyarakat yang bodoh itu mudah sekali terguncang oleh berita atau informasi yang sesat. Tidak bisa membedakan mana fiksi dan mana nonfiksi. Apalagi sekarang zamannya internet, berita dan informasi mudah sekali tersebar. Kalau berita bohong tersebar dan dipercaya banyak orang, yang rugi kita sendiri.

Bagaimana caranya memilih bacaan yang tepat untuk anak?

Kalau anak masih belajar membaca, pilih buku dengan teks sedikit. Misalnya satu halaman berisi 1-2 kalimat. Satu kalimat terdiri 5-8 kata. Buku seperti itu biasanya tidak tebal, hanya sekitar 24-32 halaman. Mungkin ada orang tua yang memandang sebelah mata buku semacam itu: “Ah, bukunya tipis, teksnya sedikit, buat apa beli buku seperti itu?” Buku seperti itu malah berguna lho. Buku semacam itu menjadi jembatan agar anak lebih percaya diri untuk membaca.

Ada aturan bernama “five finger rules” yang bisa membantu kita dalam memilih bacaan untuk anak. Pertama-tama, ambil buku yang kira-kira menarik untuknya. Kemudian, mulailah membaca. Hitung kata yang tidak dimengerti anak. Kalau ada lima kata atau lebih yang tidak dipahami, berarti buku itu terlalu “berat” untuknya. Pilih buku yang lebih mudah.

Aku berharap penjenjangan buku lebih diperhatikan oleh guru, orang tua, orang-orang di balik dunia penerbitan.

Apa yang Kamu Lakukan Saat Masuk Angin?

Hari-hari ini Jogja sering sekali hujan. Rasanya hampir setiap hari hujan. Kalau tidak hujan, mendung-mendung lah. Udara menjadi lembab, agak dingin. Yang agak repot tentu saja soal cucian. Lama keringnya.

Ditambah lagi beberapa waktu lalu aku mendapati ada kamar yang bocor. Hadeuh… Mesti memanggil tukang nih. Untung ada tetangga yang bisa dimintai tolong.

Di rumah aku dikepung penderita flu. Kakakku flu. Oni sempat batuk-batuk lagi. Aku sendiri masih bindeng dan tenggorokan kadang terasa tidak enak. Aku sempat berpikir, apa aku minum obat radang ya? Eh, tapi tempo hari ketika aku flu parah, aku mendapat informasi bahwa obat radang ternyata malah menurunkan imunitas tubuh. Jadi, sebaiknya tidak sembarangan mengonsumsi obat radang (tanpa resep dokter). Memang mestinya meningkatkan daya tahan tubuh. Kalau memang parah, mendingan ke dokter saja.

Beberapa waktu lalu aku chatting di WA dan mendapati bahwa temanku masuk angin. Ow… ow… Kasihan. Sampai muntah pula. Aduh. Mungkin cuaca yang kurang bersahabat ini tidak hanya terjadi di Jogja, tapi sampai di seberang pulau. Waktu kutanya, dia bilang dia mau tidur brukut (baca: pakai selimut tebal biar hangat). Aku sempat menyarankan dia supaya minum obat anti masuk angin yang dijual bebas. Aku biasanya minum Tolak Angin. Tapi dia bilang, dia tidak suka. Ya, sudahlah. Setiap orang memiliki cara masing-masing untuk mengatasi masuk angin. Semoga cepat sembuh ya, Kakaaak….

Dari informasi yang kudapat saat browsing, masuk angin sebenarnya gabungan dari kelelahan fisik, terlambat makan, dan stres pikiran. Akibatnya terbentuk gas berlebihan di lambung dan usus. Lalu usus terasa penuh, mulas, mual, dan… ujung-ujungnya bisa muntah. Biasanya orang masuk angin karena terpapar udara dingin. Misalnya, di ruangan ber-AC terlalu lama atau kehujanan. Selain itu, orang bisa masuk angin karena kurang tidur atau kurang istirahat. Jadi, ketika bangun pagi esok pagi, badan terasa tidak enak.

Aku sendiri sekarang berusaha tidak tidur terlalu malam. Paling malam jam 23.00 lah. Kalau bisa jam 22.00 sudah bobok manis. Mending bangun pagi-pagi daripada begadang lalu besoknya mangsuk ngain. Huh. Mana enak?

Mencegah masuk angin itu penting buatku. Soalnya kalau sudah masuk angin, bisa berlanjut deh. Bisa flu. Bisa diare. Kalau flu, aku takut kalau sampai batuk. Lama deh nanti sakitnya. Jadi, penting banget bagiku menjaga badan supaya tidak masuk angin.

Tapi kalau telanjur masuk angin bagaimana dong?

Pertama-tama, aku selalu punya stok Tolak Angin. Penting tuh. Selama ini aku paling cocok minum itu. Jarang mencoba yang lain-lain juga sih. Kalau badan sudah terasa agak tidak enak, cepet-cepet minum si tolak bala itu deh. Lalu selimutan brukut dan tidur.

Kedua, pakai bantal panas. Itu loh, bantal listrik yang bisa jadi anget. Ini membantu banget buatku. Dulu, aku demen banget kerokan. Tapi kebiasaan itu sudah lama kuganti dengan memakai bantal panas saat tubuhku terasa dingin. Paling enak bantal itu ditaruh di punggung. Rasanya kaya dipijit.

Ketiga, minum wedang jahe. Biasanya aku bikin sendiri. Lebih mantep rasanya. Aku biasanya bikin wedang menggunakan slow cooker. Praktis. Tidak usah nungguin. Tidak khawatir luber. Seringnya aku tambahkan kunyit dan sereh ke wedang jahe itu. Jadinya bukan wedang jahe lagi dong ya? Ha ha. Apalah namanya, pokoknya wedang aja deh.

Keempat, mandi air hangat. Aku jarang banget mandi air hangat. Tapi kalau lagi masuk angin, aku memaksa diri mandi air hangat.

Kelima, makan sup. Atau makan apa pun yang berkuah dan panas. Nyam! Yang penting perut kenyang. Badan hangat.

Kelima, jalan pagi. Buatku ini salah satu aktivitas yang membantu menghangatkan tubuh. Paling enak jalan pagi saat matahari masih belum terlalu panas. Jam 6 pagi paling pas, deh. Jadi, badan akan terpapar sinar matahari yang hangat.

Begitulah caraku untuk mengusir si angin yang membuat badan tidak enak. Kamu punya tips lain?

Misa Harian

Ini hari ke-3 pada tahun 2018. Aku membuka hari ini dengan ikut misa harian di Banteng. Memang beberapa waktu belakangan ini aku mulai ikut misa harian–sebuah kebiasaan yang lama sekali kutinggalkan.

Sebenarnya yang kurindukan dari misa harian adalah keheningan pagi ketika memasuki gereja dan duduk di bangku. Rasanya seperti dilingkupi keheningan yang damai.

Memang kadang ketika misa aku tidak bisa menghentikan pikiran dan ada saja distraksi yang membuatku kurang fokus saat mendengarkan bacaan dan homili. Biasanya ketika tersadar aku lalu mengatur napas dan berusaha kembali fokus.

Hmm, yah… fokus itu PR banget buatku.

Aku tak ingat apa yang menggerakkanku untuk kembali misa harian. Mungkin semacam ada rasa kangen. Kangen kesunyian. Kangen menembus dinginnya pagi dengan sepeda motor. Yang aku ingat, ketika aku ikut misa harian lagi setelah sekian lama, aku merasa dibuai kesunyian dan hal itu nikmat sekali. Membuatku ingin mengulangnya lagi.

Misa harian bukan menandakan aku semakin “suci”. Tidak. Aku masih merasa banyak hal yang perlu kubereskan dalam hidupku. Aku hanya butuh “teman” dan ketika misa, ketika menerima komuni, aku merasakan kehadiran “Teman” itu nyata. He’s within me. Terlibat dalam keseharianku, kebobrokanku. Tak semua teman bisa terlibat begitu dekat seperti itu. Bahkan malah putus asa.

Beberapa kali aku bertanya-tanya, “Don’t You give up on me?”

Soalnya aku sering dan mudah “give up” terhadap orang-orang yang menjengkelkan. Pada orang-orang yang melakukan kesalahan yang sama. Pada orang-orang yang tidak menunjukkan perubahan ke arah yang lebih baik. Kalau Tuhan give up sama aku, gimana dong?

Yah, pada akhirnya setiap perjalanan waktu adalah petualangan untuk menjadikan diri menjadi lebih baik.

Membuat Sabun: Sebuah Hiburan

Buatku, membuat sabun itu menyenangkan. Hiburan. Hiburan di tengah-tengah pekerjaan yang kadang seperti gerbong kereta.

Awalnya aku membuat sabun karena penasaran. Seorang teman mengajariku, lalu selanjutnya aku belajar sendiri. Sempat ikut pelatihan membuat sabun, tapi kurasa yang kudapat dari pelatihan sama saja dengan yang kupelajari sendiri. Hanya saja, lewat pelatihan itu aku jadi tahu apa bedanya mengaduk adonan sabun dengan mikser vs hand blender.

Sabun alami memang menarik untuk dipelajari dan dibuat. Aku senang membuat sabun karena bisa eksperimen pakai aneka bahan: lidah buaya, kopi, pepaya, kelor, melati, pandan, dll. Hasilnya kadang menggemaskan. Selain kupakai sendiri, aku bisa menjual sabun buatanku. Lumayan hasilnya. Belum terlalu banyak sih, karena aku belum fokus banget. Tapi menerima testimoni dari beberapa teman yang memakainya, aku jadi lebih semangat belajar membuat sabun lagi.

Di Indonesia, materi soal membuat sabun alami masih kurang. Selama ini aku banyak belajar lewat internet. Hampir semua materi yang kita butuhkan ada di website luar negeri. Tinggal pintar-pintar googling. Tentunya mesti bisa membaca teks bahasa Inggris dan memahaminya dengan baik. Hasil yang kupelajari itu aku praktikkan ketika membuat sabun sendiri. Misalnya, untuk membuat sabun susu, bekukan dulu susu cairnya. Waktu belum tahu, aku pernah langsung menambahkan susu bubuk ke adonan sabun yang hampir trace. Akibatnya? Gosong dong warna sabunku. Walau aku tahu gosong itu hanya soal warna, khasiatnya sama, pas lihat warna sabunku jadi cokelat, aku agak menyesal.

Aku sempat terpikir untuk membuat blog khusus soal sabun. Tapi apalah daya, pekerjaan masih mengantri seperti gerbong kereta. Jadi, selama ini aku hanya bikin dan menjual sabun saja. Kamu tertarik dan pengin tahu soal sabun buatanku? Follow IG-ku: @krismariana.menik.

Berikut ini beberapa sabun mandi yang pernah kubuat. Yang jelas, semua sabun mandi ini pakai minyak baru semua, yaaa (bukan jelantah).

Ini sabun pandan-beras. Terbuat dari sari pandan dan beras. Baunya kaya kue. 😀

 

Nah, ini sabun susu-cokelat. Kubikin swirl gitu polanya. Yang mendebarkan adalah saat aku memotongnya. Beda-beda pola yang terbentuk

 

 

Ini salah satu sabun favoritku. Terbuat dari tallow alias minyak yang diambil dari lemak sapi. Baunya susu banget, rasanya lembuuut di kulit. Bentuknya juga paling “rapi”, keras. Sabun ini made by order. Yang ribet adalah mesti menyiapkan tallow-nya lebih dulu.

 

Kamu suka sabun alami yang apa?

Kamu Ingin Menjadi Penerjemah?

Kemarin aku ikut seminar penerjemahan di kampusku dulu. Salah satu pembicara mengompori para peserta supaya menjadi penerjemah. Alasannya menjadi penerjemah itu asyik. Apalagi kalau bisa kerja di rumah. Bisa bekerja sambil pakai daster, mau kerja di mana saja bisa, dan konon penghasilannya besar. Bagi sebagian penerjemah, memang begitu adanya. Zaman dulu, untuk membeli mobil baru, cukup menerjemahkan tiga buku. Tiga buku saja! Iya, benar. Menggiurkan, bukan? Sekarang? No comment.

Masalahnya, bagaimana caranya? Benarkah begitu?

Menurutku tak ada kesuksesan dan kemakmuran yang tidak disertai kerja keras. Apa pun itu. Termasuk kalau kamu jadi penerjemah. Jangan terlalu mudah percaya bahwa menjadi penerjemah adalah jalan mudah untuk kaya. Jangan mudah percaya bahwa menjadi penerjemah lepas itu hidupmu bakal santai. Kalau mau sukses, ya jangan santai. Di mana-mana hukumnya begitu.

Menurutku jadi penerjemah itu untung-untungan. Kalau memang jalanmu di situ, ya jadilah. Kalau tidak, ya susah juga. Kenapa begitu? Pertama-tama karena tidak ada jalur yang jelas untuk menjadi penerjemah. Kalau kamu mau jadi dokter, jelas ada sekolahnya, ada jalurnya. Kalau kamu mau jadi pengacara, jelas ada jalurnya juga. Kalau penerjemah? Pernah dengar ada sekolah vokasi untuk penerjemah? Setahuku yang ada hanya kursus. Setelah kursus, belum tentu kamu bakal langsung bisa praktik dan memasang tarif tinggi. Malah kemungkinan calon klienmu akan menawar tarifmu serendah mungkin. Jangan tersinggung. Banyak kok yang mengalami. Penerjemah senior saja sering diminta menurunkan harga, kok kamu penerjemah kemarin sore mau pasang harga tinggi. Siapa elu? Untuk mengawali karier, kamu bisa iseng menerjemahkan buku atau artikel lalu kamu pajang di akun media sosial atau blog pribadimu. Hitung-hitung promosi dan pamer karya. Namun, kalau kamu berharap bisa langsung dapat klien yang bisa memberimu honor 200 ribu per lembar, rasanya berdoa dan ikut kursus saja belum cukup. Itulah yang kumaksud dengan kerja keras. Jalannya berliku. Rata-rata penerjemah yang kukenal itu tersesat. Awalnya tidak berniat menjadi penerjemah, e… ternyata ada yang menawari pekerjaan. Mulanya hanya satu-dua orang. Lama-lama banyak. Itu yang kumaksud dengan untung-untungan. Kamu mesti sigap menangkap peluang.

Jika ada yang bertanya padaku, bagaimana caranya menjadi penerjemah buku? Jawaban paling gampang adalah melamarlah ke penerbit. Sertakan contoh hasil terjemahanmu dan teks aslinya. Masalahnya, belum tentu lamaranmu bakal langsung ditanggapi. Yang melamar ke penerbit tidak hanya kamu. Buanyaaak! Kamu mesti bersaing dengan para pelamar lain. Belum lagi kalau surat lamaranmu terselip. Atau mungkin sang editor tidak sempat membuka email lamaranmu. Selain itu, penerbit pasti sudah punya penerjemah langganan. Iya kalau hasil terjemahanmu nanti sesuai dengan keinginan editor. Kalau tidak? Analoginya: Kamu punya penjual kue langganan. Biarpun ada toko kue baru yang promosinya gencar, kamu mungkin tetap lebih suka beli kue di penjual kue langgananmu. Kamu sudah tahu kualitas kuenya, harganya juga bersahabat.

Ada yang bilang untuk menjadi penerjemah ikutlah asosiasi ini, jadilah member di direktori anu, dan sebagainya… dan seterusnya. Masalahnya, setelah kamu jadi anggota, apakah kamu langsung dapat terjemahan dengan bayaran yang bikin para pegawai kantoran iri? Belum tentu. Kamu tentu harus bisa tampak menonjol sebagai anggota ini dan itu. Inilah yang kumaksud dengan kerja keras. Supaya tampak menonjol dan bisa mendapat kepercayaan, kamu mesti kerja keras. Kamu mesti kreatif. Terserah bagaimana caramu. Mau jadi penerjemah tanpa dibayar dulu kek, bikin website yang postingannya menarik kek, sering-sering menjawab pertanyaan yang dilontarkan di grup kek, sering posting contoh hasil terjemahan kek… terserah. Jangan salah, banyak kok penerjemah yang tidak menjadi anggota asosiasi. Mereka lancar-lancar saja ordernya, tuh. Ada pula yang bilang bahwa dengan menjadi anggota ini atau itu, order akan mengalir. Apa iya? Belum tentu. Bisa juga kamu dicueki. Lagi-lagi, jangan tersinggung ya. Memang begitulah dunia. Iklan selalu terdengar manis.

Ya, untuk jadi penerjemah bisa lewat jalur mana saja. Itu karena belum ada jalur khusus yang sudah terstruktur–begitu menurut pengamatanku sejauh ini. Menjadi penerjemah tersumpah saja sampai sekarang belum jelas jalur dan caranya, kok. Jadi penerjemah itu ibarat kamu ingin jualan kue. Caranya bisa macam-macam. Pokoknya asal para calon pembelimu itu tahu bahwa kamu pembuat kue yang wuenak. Kamu bisa menyebar brosur, bisa jualan kue di depan rumah, bisa kirim kue gratisan ke blogger yang jadi buzzer lalu minta agar kuemu dipromosikan lewat blognya. Terserah, deh. Intinya, kamu harus kerja keras dan itu tidak mudah.

Jadi, jangan tergiur setiap ucapan manis tentang nikmatnya menjadi penerjemah. Semua butuh kerja keras. Sembari kamu berusaha untuk menjadi penerjemah, tetap lakukan hal lain yang kamu sukai, misalnya membatik, memasak, menjahit, menyulam, merajut, jalan-jalan, menulis, dan lain-lain. Jadi, kalau kamu tidak berhasil menjadi penerjemah, kamu tidak galau. Siapa tahu kamu malah sukses menjadi penulis yang bayarannya berkali lipat daripada penerjemah. Siapa tahu hasil rajutanmu lebih laku daripada terjemahanmu. Ya, kan? Ya, kan? Ikutlah kegiatan di luar rumah. Dengan begitu, banyak orang lebih mengenal kamu plus kemampuanmu.

Menurutku menjadi penerjemah hanyalah salah satu pilihan jalan hidup. Masih banyak pilihan lain–yang juga membahagiakan dan memberikan rejeki. Kalau ada yang bilang jadilah penerjemah karena bisa begini dan begitu… tetaplah kembali ke nasihat lama: Semua itu butuh kerja keras. Ora usah gumunan, ojo penginan–jangan mudah terkesima, jangan gampang pengin ini dan itu.

Kamu tetap ingin menjadi penerjemah? Bekerja keraslah. Carilah jalanmu–entah bagaimana caranya. Jadilah kreatif. Kalau setelah jungkir balik kamu merasa tidak bisa menjadi penerjemah sukses, jangan galau. Rejeki itu ada di mana-mana.

Aku sih penginnya jalan-jalan, bikin sabun, masak, nulis picture book. Banyak maunya, ya? Emang.