Berburu Vaksin

Awal-awal ada berita soal vaksin covid-19, aku sudah cukup antusias. Aku mau divaksin! Aku sudah capek hidup dalam kecemasan bakal amprokan sama mbak corona dan akibatnya yang mengerikan. Memang ada kekhawatiran juga vaksin itu akan berdampak tidak menyenangkan pada tubuh. Tapi setelah aku membaca beberapa artikel, aku pikir kekhawatiranku itu bisa diminimalkan.

Aku pun menunggu-nunggu kapan vaksin covid-19 mulai disebar ke masyarakat. Ketika kelompok lansia dan golongan pekerja khusus (guru, pemuka agama, dll.) mulai dapat vaksin, aku semakin tidak sabar. Di kampungku sendiri, vaksinasi kelompok lansia dikoordinir oleh kader PKK. Baguslah, pikirku. Soalnya kalau membayangkan simbah-simbah itu mesti mengisi formulir online atau mesti mendaftar sendiri ke RS, rasanya kasihan juga, ya. Bagi yang punya anak cucu dan melek internet, urusan formulir online tidak masalah. Tapi bagi yang buta internet, urusan vaksin bisa jadi gagal karena masalah pendaftaran lewat internet tersebut. Untungnya para kader PKK bisa mengoordinir simbah-simbah untuk vaksin bersama.

Kupikir setelah kelompok lansia dikoordinir untuk menerima vaksin, pengurus wilayah (RT/RW/Dukuh) akan segera mengurus penerima vaksin golongan usia berikutnya. Namun, rupanya harapan tinggal harapan. Sepertinya pemangku kebijakan dari pusat pun tidak memberikan perintah agar urusan vaksin itu dikoordinir sampai wilayah terkecil. Jadi, diadakanlah vaksinasi massal di beberapa titik, selain di beberapa RS tertentu.

Singkat cerita, vaksin covid-19 harus diburu sendiri-sendiri. Aku sendiri berpikir akan mendaftar ke RS terdekat. Tapi rupanya ada teman yang berbaik hati mendaftarkan aku. Aku nebeng komunitas gereja. Hampir saja aku gagal vaksin karena beberapa hari sebelumnya, temanku mengabari bahwa ia positif covid. Waduh! Padahal selang 2 hari sebelumnya aku baru ketemu dia, ke rumahnya, sempat ngobrol-ngobrol juga. Kabar bahwa temanku itu positif kuterima ketika aku agak pilek. Berbagai pikiran muncul. Jangan-jangan … jangan-jangan … Mesti isoman dong?

Aku pun segera tes untuk mengecek diriku sendiri. Untungnya aku negatif. Legaaaa banget. Aku kemudian menambah jam tidur, makan yang banyak, menambah asupan vitamin dan buah. Dalam kurun waktu yang tidak terlalu lama, aku tidak pilek lagi dan saat hari H vaksin, aku lebih fit.

Apakah setelah aku vaksin, selesai begitu saja? Tentu tidak. Beberapa orang di rumah belum vaksin dan kami pun lanjut berburu vaksin. Ternyata tidak semudah itu mendaftar untuk vaksin. Ketika mau daftar ke RS, mesti antri dan dapatnya masih lama sekali. Daftar bulan ini, dapatnya bisa sebulan atau dua bulan lagi. Kelamaan, Bro! Ketika dapat info ada vaksinasi massal dan ada link atau nomor kontaknya, tidak serta-merta bisa dikontak. Tapi akhirnya aku dapat info dari teman bahwa kalau mau vaksin di PKU kota, bisa daftar H-1, asal mau datang pagi-pagi sekali. Subuh sudah sampai sana. Benar juga, setelah antri ambil nomor jam 4 pagi, dapat deh nomor untuk vaksin besoknya.

Nah, seluruh orang di rumah sudah vaksin.
Sudah selesai?
Oh, belum.

Ada satu temanku yang kesulitan mendapatkan vaksin. Dia sudah berusaha mencari ke RS terdekat, tapi pendaftaran sudah penuh. Orang yang mau vaksin ternyata banyak sekali. Waktu kuberi tahu bisa mendaftar ke PKU asal datang subuh-subuh, dia tidak berani keluar rumah sepagi itu. Hm, ya … maklum sih. Memang butuh keberanian untuk menyusuri jalan saat hari masih gelap.

Aku kemudian menawarkan diri mencarikan vaksin. Awalnya memang mau ke PKU, tapi ada teman yang berbaik hati memberikan slot vaksinnya (karena dia sendiri sudah dapat dari teman yang lain).

Hari ini aku cukup lega orang-orang terdekat dan teman-temanku banyak yang sudah vaksin. Semoga segera terbentu herd immunity. Semoga pandemi bisa segera dikendalikan.

Hari Raya yang Personal

Lebaran hari kedua, berapa nastar yang sudah masuk mulut?

Aku tak banyak makan nastar kali ini. Enggak beli, enggak bikin, enggak pula dapat kiriman. Hanya kemarin saja nebeng makan nastar di rumah Budhe. Paling banyak 10 biji nastar kayaknya. 😀

Lebaran kali ini sepi. Karena pandemi, masih banyak pembatasan di sana-sini. Jadi, acara kunjung-kunjung pun sangat berkurang. Kali ini aku hanya berkunjung ke rumah Budhe. Budhe-nya Maya sebenarnya, bukan Budhe asli dari keluargaku. Sebenarnya ada pula Pakdhe, kakaknya Ibuk yang merayakan lebaran yang harus dikunjungi. Tapi aku sudah mengunjungi Pakdhe sebelum lebaran. Hanya demi mengatur waktu saja, sih. Kalau dalam sehari mengunjungi 2 rumah, rasanya capek dan memakan waktu. Tidak mungkin hanya datang dan 10 menit kemudian pulang. Kalau mengunjugi Budhe (dan Tante) tak bisa sebentar. Pasti ada acara makan dan mengobrol. Dan aku senang dengan Budhe karena beliau selalu hangat kepadaku meskipun aku bukan keponakan asli.

Sebenarnya aku cukup senang dengan lebaran kali ini yang sepi. Bukan karena aku tidak merayakan, tetapi karena apa ya … aku merasa hari raya yang sepi itu lebih personal rasanya. Bahkan untuk hari Paskah atau Natal, aku senang yang sepi-sepi saja. Dulu (sebelum pandemi), paling hanya pulang ke rumah orang tua.

Sebelum pandemi, ada satu acara yang masih terasa canggung untuk kulakukan meskipun dulu waktu masih kecil, tiap tahun selalu kulakukan. Apa itu? Sungkeman. Sungkeman tidak bisa dilepaskan dari keluarga besarku sejak kecil. Rasanya itu salah satu kebiasaan orang Jawa. Waktu Simbah masih sugeng, kami semua akan sungkem urut dari Simbah sampai ke om dan tante. Ini masih mending buatku karena toh mereka masih ada hubungan darah. Yang kurang kusukai dari acara sungkeman di keluargaku adalah tangis-tangisannya. Aduh, aku terganggu sekali. Sungkem selalu diwarnai dengan derai air mata. Mungkin meminta maaf dan minta restu dari orang yang lebih tua itu terasa menyentuh hati ya? Tapi aku tidak suka. Aku tidak suka suasana yang mengharu biru. Pokoknya tidak suka aja.

Beberapa tahun lalu, karena aku tinggal di kampung, acara kunjung-kunjung saat lebaran masih menjadi suatu kewajiban. Dan aku mau tak mau harus ikut acara kunjungan ke tetangga serta sungkem itu meskipun bukan kepada kerabatku. Aku merasa canggung dan aneh saja sih rasanya. Mungkin itu hanya sebatas simbol dan penghormatan. Tapi tetap saja aku melakukan itu karena “mau tak mau”. Ketimbang dianggap alien dan jadi gunjingan orang se-RT, mending ikut kebiasaan saja. Dan syukurlah sekarang aku tidak perlu melakukannya dengan alasan pandemi.

Ya, salah satu hal positif dari pandemi ini adalah membuat suasana menjadi personal. Ucapan selamat hari raya kukirim secara personal pula ke teman atau kenalan yang aku rasa tidak akan keberatan jika kuberi ucapan. Dalam ucapan itu kusebut nama, kusampaikan selamat setulus hati. Aku khawatir jangan-jangan ada orang yang kalau dapat ucapan selamat dari orang yang beda keyakinan justru membuatnya tidak damai sejahtera. Dan pandemi membuat hal itu menjadi “sah” dan baik-baik saja. Tidak ada lagi kewajiban untuk beramai-ramai dan terpaksa ikut “rombongan”. Tidak apa-apa kan kalau aku merasa lega?

Bangsa Spanduk

Kemarin ada pertemuan PKK di kampung. Sebenar-benarnya, aku sungguh amat malas ikutan. Masa-masa mesti jaga jarak begini malah ada pertemuan? Tapi aku kemarin akhirnya memutuskan ikut karena aku mesti tahu apakah aku nunggak bayar iuran dan arisan. Enggak enak banget kalau jadi batu sandungan orang lain hanya gara-gara duit sekitar sepuluh ribuan. Aku pun ingin bayar sekalian untuk beberapa bulan supaya besok-besok bisa bolos kalau ada pertemuan. Lagi pula di grup ibuk-ibuk ada foto yang menunjukkan peserta bisa duduk di luar pakai kursi dan jarak antar kursi cukup lebar. Biasanya di dalam sekretariat dan duduk lesehan gitu. Kan mana bisa jaga jarak ya?

Kemarin rupanya ada petugas dari puskesmas memberi penyuluhan soal kesehatan masyarakat dan pola makan. Informasi yang disampaikan para petugas puskesmas itu sebetulnya sudah banyak beredar yaitu bahwa selama pandemi ini kita melakukan adaptasi kebiasaan baru, mesti jaga jarak, pakai masker, dan rajin cuci tangan. Lalu pola makan mesti dijaga, banyak makan sayur dan buah, karbohidrat sudah harus dikurangi bagi ibu-ibu yang sudah 30 tahun ke atas, dan sebagainya, dan seterusnya.

Aku berpikir, kenapa ya untuk hal seperti itu perlu mendatangkan petugas dari puskesmas? Tidakkah itu informasi yang sudah jamak diketahui? Informasi yang diberikan sifatnya top-down. Sesudahnya memang ada tanya jawab, tapi terlalu singkat. Perlu ada jalur khusus untuk menampung pertanyaan-pertanyaan itu dan membahasnya.

Yang agak lucu adalah sesudah kegiatan tersebut para peserta diajak foto bersama! Lha… tadi diminta untuk jaga jarak, apa gunanya dong? Mana ada ceritanya foto bersama dengan jaga jarak mengingat peserta yang hadir lebih dari 50 orang?

Jadi, aku memilih pulang. Mungkin kita ini bangsa “spanduk”. Apa maksudnya? Kita biasa kan melihat slogan-slogan pada spanduk yang ada di jalan-jalan. Misalnya: Kita tegakkan persatuan dan kesatuan bangsa; Kita menjunjung tinggi toleransi, Masyarakat Sehat, Bangsa Kuat. Kenyataannya? Masih ada gerakan intoleransi, gerakan hidup sehat juga gitu-gitu aja. Jadi, singkatnya kalau sudah ditulis di spanduk, sudah cukuplah.

Berubah itu sulit kok. Aku sadar itu. Memang paling mudah ditulis doang. Diobrolin doang. Pelaksanaan itu nanti-nanti saja kalau ada pemeriksaan oleh petugas. Hidup tak usah dibuat serius.

Apakah Kamu Sulit Tidur?

Tadi siang salah seorang teman bertanya di grup, “Adakah yang tahu obat yang bisa membantu kita untuk deep sleep (tidur nyenyak)?” Ia mengeluh suaminya sulit tidur karena banyak pikiran.

Pertanyaan itu mendapat beberapa jawaban. Ada yang bilang minum CTM saja. Ada yang bilang pakai obat tidur yang dijual bebas di pasaran. Googling saja mereknya.

Salah seorang teman menjawab, dia tidak bisa menyarankan apa pun karena dia tidak pernah mengalami hal itu. Dia mudah sekali tidur. Ia bisa langsung tidur nyenyak meskipun sedang ada masalah.

Aku sendiri 50:50. Kadang susah tidur, tapi tidak sampai tidak bisa tidur sama sekali. Kalau sudah capek banget, ya tidur. Kalau sedang gelisah atau banyak pikiran, kadang aku beberapa kali terbangun pada tengah malam. Aku hanya jarang bisa tidur siang. Kalau mengantuk dan capek sekali, baru tidur siang. Tapi umumnya aku tidak tidur siang. Sempat timbul rasa bersalah dalam hatiku kalau tidur siang. Mestinya aku bisa mengerjakan ini dan itu, tapi kalau tidur siang kan hanya tidur doang.

Tidur doang?

Aku lalu mencoba mencari tahu kenapa kita perlu tidur. Apa iya kita memang butuh tidur cukup lama? Dengan googling, aku menemukan banyak jawaban yang lengkap. Ketika kita tidur terjadi penguatan ingatan. Pada saat kita dalam kondisi bangun, otak kita menyerap banyak sekali informasi. Nah, ketika tidur, fakta dan pengalaman yang didapat selama kita bangun diproses dan disimpan. Semua informasi dikelompokkan dalam ingatan jangka pendek dan jangka panjang. Proses itu disebut konsolidasi. Biasanya setelah bangun tidur, orang cenderung bisa mengingat lebih baik.

Tubuh kita sendiri membutuhkan tidur untuk proses perbaikan dan peremajaan, perbaikan otot, perbaikan jaringan, dan memadukan serta menyelaraskan hormon.

Orang dewasa membutuhkan waktu tidur selama 7-9 jam. Lama ya? Jadi, kalau kita mau bangun jam 5 pagi, sebaiknya kita tidur maksimal pukul 22.00. Pas tujuh jam. Atau malah pukul 8 sudah siap selimutan.

Aku rata-rata tidur jam 23.00. Bangun jam 6 atau 7. Tapi kadang jam 5 sudah kebangun. Anggaplah sudah pas waktu tidurku. Sayang aku kadang terbangun tengah malam.

Bagaimana kalau kurang tidur? Sayangnya kita tidak bisa menyaur utang tidur. Kalau sudah kurang, ya kurang saja. Nggak bisa dibayar. Mestinya sih tubuh kita protes ya. Kita mungkin merasa tidak butuh tidur. Maunya mengerjakan ini, itu. Pergi ke sana, ke sini. Tapi rupanya tubuh kita sangat-sangat membutuhkan tidur. Kalau kurang tidur, imunitas tubuh dan daya ingat kita menurun. Kurang tidur juga membuat berat badan kita naik. Hanya itu? Tidak, dong. Orang yang kurang tidur sangat berisiko terkena diabetes. Aku sendiri merasa nggregesi kalau kurang tidur. Selain itu memang rasa-rasanya aku jadi lebih mudah gemuk kalau sering begadang.

Tapi, kalau kita susah tidur, bagaimana dong? Aku pernah mengalaminya. Dan itu tidak enak banget. Tengah malam, saat semua orang tidur, aku malah kelop-kelop dan tidak mengantuk sama sekali. Badan capek, tapi mata tidak mau merem. Satu-satunya cara yang sering kupakai untuk mengatasi hal itu adalah dengan mengatur napas. Slow breathing. Tarik napas 4 hitungan, lalu keluarkan 6 hitungan. Usaha itu cukup manjur buatku.

Nah, kalau tidak bisa tidur, apa yang kamu lakukan?

Bahan bacaan:

Seni Berjualan di Masa Pandemi

Pada masa pandemi ini beberapa mendadak menjadi penjual. Mulai dari jualan batik sampai keripik, mulai dari ayam goreng sampai dandang. Aku ikut grup WA paroki yang isinya para penjual. Sampai hari ini, aku lebih sering menjadi pengamat. Beli sesekali, dan lihat-lihat siapa yang jual.

Aku pernah juga membeli daster dari teman lingkungan. Niatanku untuk beli adalah mayoni atau ikut melarisi barang dagangannya. Secara kualitas barang, luamayan lah. Diantar sampai rumah pula, tanpa ongkir. Kurasa dia sudah memperhitungkan ongkirnya (dan semestinya begitu ya supaya tidak tekor).

Selain itu, aku pernah juga pesan kolang kaling dari teman yang lain. Awalnya hanya karena lihat status WA-nya, e … kok pengin. Aku lalu beli. Selain pengin, aku juga senang bisa ikut mayoni jualan teman.

Pada dasarnya aku cukup senang bertransaksi dengan teman sendiri. Ada sentuhan personalnya, walau mungkin berbalut basa-basi. Tapi senang juga bisa say hello dengan alasan jual beli. Kalau barangnya bagus, bukan tidak mungkin aku belanja lagi. Kadang aku tahu kalau beli dengan teman harganya sedikit di atas harga pasaran. Tapi aku tidak masalah harga barang agak tinggi, asalkan tidak kebangetan dan kualitasnya bagus.

Beberapa hari yang lalu aku tertarik membeli roti dari salah seorang penjual di grup WA paroki. Aku sama sekali belum kenal si penjual. Aku hanya tertarik beli produk yang ia tawarkan, yaitu roti tawar seharga 10.000 serta roti manis lain. Makanan biasa sih, tapi entah karena apa, aku kok tertarik. Spontan saja aku mengontak beliau dan kusebutkan roti yang kumau. Aku sekalian bertanya apakah ada minimal pembelian. Pikirku, kalau aku beli beberapa potong roti, bisa diantar. Tapi setelah dia tahu alamat rumahku, jawabannya: “Jauh, ya.”

Duh!

Aku mendadak kecewa. Ditambah pula roti yang hendak kubeli itu baru ada siang beberapa hari kemudian (padahal persediaan roti tawar di rumah sudah menipis). Kekecewaan itu muncul karena walau aku membeli beberapa potong roti, rupanya tidak ada pengantaran. Toh ketika aku tahu alamat si penjual, sebenarnya tidak jauh-jauh amat lho (buatku jarak sekitar 5 km tidak jauh).

Yang menambah kekecewaanku adalah pagi hari, ketika roti itu hendak kuambil, ada penjual roti keliling lewat rumahku! Iiih! Ngeselin! Tahu gitu kan aku tidak pesan roti. Mending beli dari tukang roti keliling yang lewatnya tidak bisa ditebak. (Kompleks rumahku memang jarang sekali ada orang jualan.)

Dari beberapa pengalaman belanja lewat teman, kupikir-pikir ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh para penjual (dadakan) ini:
1. Rajin-rajinlah promosi barang dagangan. Walau awalnya sepi pembeli, tapi kalau rajin promosi, kurasa pasti ada yang beli juga. Apalagi kalau barang jualannya khas, misalnya makanan khas daerah Jawa Timur, orang biasanya akan lebih mudah ingat.

2. Sopan dan ramah terhadap pembeli. Terutama kalau ada pembeli baru, jawab pertanyaan mereka dengan kata-kata yang sopan. Oya, aku juga biasanya mengingat siapa penjual yang bahasanya rapi, tidak suka menyingkat pesan. Capek baca pesan yang banyak singkatannya. Buat mata editor, tulisan seperti itu bikin sakit mata.

3. Buatlah paketan. Misalnya kalau kamu jualan roti yang harga per potongnya 5 ribu, buatlah paket dengan harga menarik. Misalnya buat paket isi aneka roti seharga 50 ribu, atau roti dan susu aneka rasa seharga sekian ribu. Paketan seperti itu lebih menarik daripada orang mesti berpikir sendiri barang apa saja yang hendak dibeli.

4. Buat aturan yang jelas mengenai pembelian, pembayaran, dan pengantaran. Misalnya kalau barang belum ada (harus pesan lebih dulu), jelaskan kapan barang siap. Soal pengantaran juga perlu dijelaskan di muka: apakah bisa COD, ada ongkos kirim tambahan, atau kalau belanja sekian ribu bebas ongkir, dan sebagainya.

Minimal empat hal itu dulu deh. Nanti kalau ingat hal lain aku tambahkan.

Ke Mana Sampahmu Berakhir?

Selama belasan tahun tinggal di sini, aku tidak terlalu kesulitan membuang sampah organik. Yang kumaksud sampah organik adalah apa saja yang bisa busuk. Mulai dari daun kering, gagang kangkung dan bayam, kulit bawang, nasi yang tak habis dimakan tapi sudah mulai berair di rice cooker, daging alot yang tak bisa ditelan, dan seterusnya, dan sebagainya. Semua yang bisa busuk itu umumnya akan berbau, terutama kalau dicampur dengan sampah anorganik. Kebayang kan bau sampah sisa makanan yang dimasukkan kresek? Aduhai dan amboi banget. Selama ini dengan tenang kumasukkan sampah-sampah organik itu ke lubang di tanah belakang. Ketika lubang itu sudah penuh, tinggal gali tanah di sebelahnya. Begitu seterusnya. Asal tidak diisi dahan pohon yang besar-besar, lubang tersebut tidak cepat penuh.

Singkat cerita, kakakku hendak membuat rumah di tanah belakang. Ini sudah rencana lama sebenarnya. Persoalan yang seketika timbul adalah: Lalu di mana membuang sampah organik?

Aku tak pernah sampai hati menitipkan sampah organik ke bapak sampah yang berkeliling dua hari sekali. Tak akan pernah. Aku selalu teringat pengalamanku ketika ikut pelatihan di Malang dan salah satu tugas yang diberikan adalah aku harus ikut seorang pemulung, mencari sampah anorganik yang masih laku dijual. Mengoyak plastik sampah rumah tangga lalu mencari kardus atau botol air mineral yang telah bercampur sisa makanan itu sangat… sangat… sangat… menjijikkan. Kalau lihat bentuknya saja sih masih agak mending, tapi baunya sangat menusuk hidung. Duuuuuh! Kalau soal kotornya, bisa cuci tangan. Tapi bau sampah basah itu seperti menempel berhari-hari di tanganku. Jadi, aku berjanji tidak akan pernah mencampur sampah organik dan anorganik dalam satu wadah. Kalau tidak amat sangat terpaksa, tak akan pernah pula aku memasukkan sampah yang bisa membusuk itu ke dalam plastik.

Sebenarnya, aku telah lama berpikir untuk memiliki komposter. Dalam imajinasiku yang sempurna, aku menginginkan komposter dari gerabah. Minimal dari pot gerabah. Tapi rupanya niatku kurang bulat untuk mencari komposter dari gerabah. Yang paling dekat, mudah, dan murah adalah menggunakan pot plastik.

Ketika akhirnya lubang tanah di lahan belakang tak ada, satu-satunya pilihan adalah menggunakan pot plastik yang kupunya. Rasanya “semedhot” alias merasa kehilangan saat tak ada lagi kemudahan membuang sampah di lubang tanah. Aku betulan nyesek.

Namun, aku segera mendapatkan keasyikkan baru dengan komposter baruku itu. Sedikit-sedikit aku masukkan sampah basah ke pot plastik itu. Awalnya hanya kutumpuk-tumpuk saja, tanpa kuaduk. Dan ketika suatu hari aku mengaduknya… aku amati isi komposter itu cenderung becek. Baunya kurang sedap. Karena masih amatiran, aku lalu googling dan mencari tahu penyebabnya. Rupanya aku kurang menambah materi karbon. Materi karbon di sini adalah sampah organik kering, cokelat. Misalnya daun kering, sekam, serbuk gergaji, serpihan kardus, kertas, dan sebagainya. Selain itu aku belum menambahkan bioaktivator untuk mempercepat proses pembusukan dan mengurangi bau busuk.

Untungnya tetanggaku adalah pembuat mebel kayu. Jadi, aku dengan mudah meminta serbuk gergaji berapa pun yang kubutuhkan. Untuk bioaktivator, aku memakai larutan EM4. Selesai sudah masalah komposter becek dan bau.

Singkatnya, untuk membuat kompos yang dibutuhkan adalah:

-Pot
-Tanah (ditaruh di lapisan paling bawah)
-Sampah dapur (materi hijau)
-Serbuk gergaji dan daun kering (materi cokelat)
-Larutan EM4 (bioaktivator)
-Sotil kayu yang tidak terpakai untuk mengaduk

Bahan dan alat di atas bisa diganti-ganti. Silakan mencari alternatif dan memakai bahan yang ada di sekitar rumah. Jangan takut gagal. Kalau masih ragu, buat komposnya di luar rumah, asal di tempat yang tidak terkena hujan.

Caranya?
Taruh tanah pada dasar pot. Selain tanah, sebenarnya bisa ditambahkan pupuk kandang. Pupuk kandang mengandung banyak sekali mikroorganisme yang bisa membantu mempercepat pengomposan. Tapi aku sendiri tidak pakai karena tidak sempat beli.

Setelah itu masukkan sampah dapur. Sebaiknya sampah dapur tersebut sudah diiris kecil-kecil supaya lebih cepat menjadi kompos. Selanjutnya pada lapisan teratas tata daun kering atau bahan cokelat lain misalnya serbuk gergaji atau sekam. Setiap tiga hari sekali siram dengan larutan EM4 dan diaduk-aduk supaya oksigen bisa masuk.

Usahakan isi komposter ini dalam kondisi lembap. Jika terlalu basah, masukkan bahan cokelat untuk menyerap kelebihan cairan tersebut. Kalau terlalu kering, sirami dengan larutan EM4.

Selama ini aku memasukkan sampah basah hampir setiap hari ke dalam komposter dan hampir setiap hari kuaduk-aduk. Aku memasukkan sisa protein hewani pula ke situ. Muncul belatung dan magot, tapi aku sama sekali tidak masalah. Komposter agak berbau hanya ketika kondisinya terlalu berair dan hal ini bisa disiasati dengan serbuk gergaji. Selanjutnya komposter tidak berbau dan bisa melanjutkan kelangsungan hidupnya sendiri. Sungguh menyenangkan punya komposter!

Apakah Pertemuan Daring Membuatmu Bahagia?

Belum lama ini aku terlibat sebuah proyek menulis yang membuatku ikut-ikutan seperti para pekerja kantoran lain, yaitu ikut pertemuan daring alias rapat online alias video conference. Apa pun sebutannya, pada intinya adalah acara rapat lewat zoom. Sadar bahwa aku gaptek, aku mengontak teman untuk mengajariku jarak jauh. Tentunya lewat zoom juga.

Seneng dong rasanya. Bagaimanapun karena lama tidak bertemu teman, begitu bisa ketemu walau hanya lewat bantuan internet, rasanya bisa memupus jarak yang selama ini terbentang gara-gara wabah. Lumayan bisa ngobrol-ngobrol.

Hari H rapat daring pun tiba. Aku sempat merasa agak excited awalnya. Oh, begini ya rapat daring tuh, begitu pikirku. Asyik juga ya. Dulu kupikir hal seperti ini hanya ada di film-film, tetapi sekarang rapat daring sudah menjadi kenyataan hidup.

Aku tak ingat berapa lama aku tahan mendengarkan paparan orang selama rapat itu. Tetapi rasanya tidak lama. Mungkin hanya tahan sekitar 30 menit pertama. Sesudahnya aku butuh jalan-jalan, berganti suasana. Jadi, selama bukan jatahku untuk presentasi, aku mengendorkan konsentrasi dan menyusun kata-kata yang hendak kusampaikan nanti.

Untungnya selama rapat daring, aku bisa mematikan fitur video, sehingga aku bisa sambil peregangan di samping kursi 😀 atau melangkah ke dapur untuk memanasi sayur.

Setelah tiga atau empat kali rapat daring, aku merasa kewajiban tatap muka lewat internet ini membutuhkan suatu energi yang tidak sedikit. Aku tak tahu penyebabnya, tetapi mungkin aku kurang bisa menangkap bahasa tubuh seseorang di seberang sana. Aku hanya berpegang pada suara yang rasanya lama-lama di telingaku terasa tidak nyaman. Apalagi aku bukan orang yang gemar mendengar. Maksudku, aku kurang bisa menyerap informasi lewat pendengaran. Aku lebih suka membaca dan melihat. (Mungkin itu sebabnya nilai listening-ku dulu waktu kuliah mentok di B. Hampir bisa dipastikan C sebetulnya.)

Sebagai makhluk introver, aku rupanya lama-lama kurang bisa menikmati rapat daring–walau hal itu membuatku tidak harus bertemu langsung dengan orang. Tetapi entah kalau rapat itu senang-senang saja alias ngobrol tak jelas juntrungannya.

Mungkin aku cocoknya berteman dengan wajan, loyang, dan panci di dapur untuk menghasilkan sup atau kue bolu. Atau sibuk menakar minyak dan soda api supaya minyak bisa berkawan akrab dengan air dan menjadi sabun. Tetapi aku kadang pengen juga ketemu (sedikit) teman dan mengobrol sehingga menghangatkan hati yang rindu terhantam social distancing.

Kesan Misa Online

Beberapa bulan yang lalu, aku sudah berencana akan pulang pada Paskah tahun ini. Saat kulihat jadwal, lingkungan tidak dapat tugas besar saat Tri Hari Suci. Jadi aku bisa pulang, pikirku. Tapi aku masih menimbang-nimbang, akan naik mobil sendiri atau naik kereta. Belum sempat aku membuat keputusan, himbuan #dirumahsaja sudah mulai digaungkan. Dan demi menjaga kesehatan kita semua, aku batal pulang. Angan-angan Paskahan di rumah bareng Bapak dan Ibuk pupus.

Selama Tri Hari Suci aku ikut misa online. Memang ada yang aneh ya. Tapi lama-lama jadi biasa. Yang kurang adalah kita tidak bisa terima komuni. Tetapi kapan lagi bisa misa dengan Bapak Uskup langsung, datang kurang 5 menit, dan duduk paling “depan”? Selain itu, aku bisa “main-main” ke gereja lain, ke Jakarta, ke Pontianak, ke Semarang, dsb.

Ada teman di FB yang bilang dia merasa belum misa walau mengikuti misa online. Kalau buatku, rasanya yah separuh misa, separuh enggak. Tapi seperti kujelaskan tadi, aku mulai cukup terbiasa. Mungkin terasa praktis ya. Sempat agak terharu, tapi cuma di misa pertama saja. Selanjutnya baik-baik saja. Aku merasa gereja saat ini membuat terobosan dengan cepat.

Aku bertanya-tanya misa online seperti ini akan ada sampai kapan. Ada yang memperkirakan sampai akhir Mei. Tetapi aku pikir sepertinya bakal lama. Hitungan 1-2 bulan tidak cukup–mengingat orang Indonesia sangat sulit disiplin. Aku membayangkan, seandainya dua bulan lagi gereja sudah mengadakan misa, apakah aku akan mulai ke gereja lagi? Sepertinya aku akan berpikir-pikir dahulu. Rasanya lebih aman misa online di rumah begini. Apalagi mengingat orang Indonesia kurang disiplin, flu sedikit masih ke gereja, salaman kiri kanan. Wah, aku jadi parno sendiri. Apakah mungkin di gereja duduknya saling berjarak? Butuh berapa kali misa? Apakah bangku gereja akan cukup?

Sepertinya akan ada “new normal” gara-gara ada wabah corona ini. Mulai dari sekadar keluar pakai masker sampai misa online. Aku merasa tidak masalah jika tidak ke gereja selama beberapa bulan dan tidak komuni selama berminggu-minggu. Justru kali ini aku bisa belajar beragama secara lebih personal. Lagi pula ini demi tujuan yang lebih besar, yaitu demi keselamatan bersama. Jadi, kurasa ini tidak masalah. Bahkan kurasa ada sisi positifnya, yaitu orang-orang sakit yang selama ini sulit sekali ke gereja jadi bisa “ikut” misa. Dengan adanya misa online, mereka merasa tersapa dan dijangkau.

Sebelum tulisan ini berakhir, aku mengucapkan selamat Paskah untuk teman-teman yang merayakan. Semoga kita dimampukan untuk mencintai sesama lebih dalam. Have a happy and healthy Easter!

Love in Time of Corona

Sore ini hujan mengguyur Jogja. Ngemplak ding, tepatnya. Cuaca jadi lebih dingin. Segar. Kupikir hujan bakal berhenti sekitar jam 16.30. Tapi kok jam 5 lewat masih cukup deras? Aku mulai berpikir kakakku nanti bakal kehujanan, dong? Soal dia pulang dari kampus hujan-hujan, itu sudah biasa. Tapi yang tidak biasa adalah sekarang kan musim corona. Haish. Kalau kehujanan bisa masuk angin dan daya tahan tubuh bakal turun. Ketimbang nanti kenapa-napa, aku menawari untuk menjemputnya pakai mobil. Mumpung belum terlalu malam dan hujan tidak terlalu deras.

Baiklah, aku berangkat sendiri. Menyetir saat hujan bukan keahlianku. Agak deg-degan juga karena aku mesti nyetir sendiri. Mesti ekstra fokus mengingat air hujan yang mengenai kaca depan itu sesekali membuat pandangan ke depan jadi blawur. Selain itu, aku mesti berjuang melawan dinginnya AC mobil. Untung jarak rumah dan kampus tidak terlalu jauh. Pokoknya super hati-hati dan berdoa.

Saat lewat Stadion Maguwo kulihat beberapa warung makan masih buka. Semakin dekat Stadion, tampak beberapa penjual makanan kecil dan minuman berjualan di bawah rintik hujan. Mendadak aku nggrantes. Di antara seruan dan ajakan supaya orang tetap di rumah saja, masih ada orang yang berjualan di bawah rintik hujan. Aku tahu ini bukan pilihan yang mudah. Ada temanku yang bercerita bahwa pendapatannya diperoleh secara harian. Kalau satu hari tidak bekerja, ya tidak punya uang. Tidak ada bos yang menggaji setiap bulan. Bosnya ya diri sendiri, merangkap karyawan, dan HRD. Singkat kata, mesti bekerja tiap hari. Kalau tidak kerja, ya tidak bisa makan. Titik. Menurutku orang-orang seperti itu adalah kelompok yang rentan. Mereka bisa terpapar virus saat menghabiskan waktu di jalan. Paling tidak karena terpapar udara dingin, stamina tubuh bisa turun. Yeah, itu aku sih yang kalau kedinginan dikit bisa mendadak masuk angin. Tapi tetep saja sih kurasa orang bisa sakit kalau sering terpapar udara dingin malam hari dalam jangka panjang. Siapa yang tidak nggrantes dan sedih melihat orang-orang yang terpaksa bekerja di luar rumah seperti itu?

Seumur-umur baru pertama kali ini aku dibombardir dengan berita tentang wabah seperti ini. Rasanya capek juga. Kadang aku ingin menutup kuping dan mata dari segala berita soal corona. Tapi kok sulit ya? Hampir semua orang membicarakannya–baik di dunia nyata maupun di dunia maya, mulai dari bangun tidur sampai mau tidur lagi. Seakan-akan ini perang dengan musuh tak terlihat. Menyebalkan. Kalau kita perang dan tahu musuhnya ada di mana, kita bisa melipir. Tapi kalau musuhnya tak terlihat begini, sepertinya harus pasang kuda-kuda terus. Capek tauk!

Meskipun demikian, aku berusaha melihat sisi positif selama wabah ini. Aku jadi lebih rajin menyapu, mengepel, dan mengelap meja makan/dapur. Aku jadi rajin masak. Tiap kali makan kuusahakan ada sayur baru. Minimal kalau masak sayur bisa untuk makan dua kali. Habis masak, aku bersihkan dapur. Tidak hanya nyuci alat masak, piring, dan gelas, tapi juga mengepel! Semacam kurang kerjaan saja. Biasanya, sudah bagus aku mau nyuci alat masak dan piring kotor. Ngepel? Nanti dulu lah. Sekarang, lantai berpasir sedikit, langsung ambil sapu. Begitu ada kesempatan, ambil pel. Capek? Iya. Tapi lantai yang bersih ternyata nyaman. Kupikir wabah ini membuatku jadi melihat lagi ke dalam diri. Berusaha menyayangi diri sendiri dan orang-orang di sekitarku–sahabat serta keluarga.

Semoga kita semua bisa melalui masa sulit ini dengan tabah. Semoga kita dan orang-orang yang kita kasihi senantiasa sehat. Tunjukkan perhatian dan sayang untuk mereka, ya! Jangan lupa berdoa.

Adakah Cara Cerdik Menghindari Plastik?

Beberapa waktu lalu, aku kebagian menyiapkan snack untuk latihan koor lingkungan. Aku berpikir, jajanan apa yang bisa disuguhkan tetapi tidak nyampah banyak? Terutama jangan ada bungkus plastiknya. Aku langsung terpikir untuk menyiapkan pisang rebus. Sebetulnya pisangnya tidak direbus, tetapi dikukus. Tapi namanya tetap pisang rebus, bukan pisang kukus.

Oke, satu snack sudah terpecahkan. Tinggal satu lagi. Apa ya? Kalau pesan kue, biasanya mesti dibungkusi plastik satu per satu tiap irisannya. Sementara kalau bikin kue bolu sendiri, aku tidak cukup percaya diri dan terutama waktunya bakal uyel-uyelan alias tidak cukup.

Aku lalu ingat tetanggaku biasa membuat tahu bakso. Tapi dia mesti ditanya dulu, apakah bisa membuatkan 25-30 buah saja? Jumlah yang terlalu sedikit menurutku. Untungnya setelah dinego dan ditanya, dia menyanggupi. Dan aku mewanti-wanti, “Jangan dibungkusi plastik satu-satu ya, Mbak.”

“Nanti nggak rapi kalau tidak pakai plastik,” jawabnya.

“Tidak apa-apa. Nanti saya bawa wadah sendiri.”

Kulihat dia masih agak bingung. Aku tahu, dia memang golongan orang yang rapi. Baginya, bakso tahu telanjang tanpa baju plastik akan tampak tidak elok. Tidak sopan. Tapi aku sebagai pemesan benar-benar tidak ingin menambahi jumlah sampah plastik. Lagi pula, umur bungkus plastik hanya hitungan jam. Setelah itu dibuang, jadi penghuni bak sampah beberapa hari, lalu dibawa ke TPA. Hal seperti ini yang tidak kuinginkan.

Urusan bungkus ini memang agak repot, terutama untuk penjual makanan–serta penjual berbagai produk lainnya. Bagaimanapun, bungkus plastik ini memungkinkan sebuah produk bisa menjangkau konsumen yang tempatnya lebih jauh dan tampak bersih–walau sebenarnya aku sering bertanya-tanya, apakah plastik pembungkus itu benar-benar bersih? Kan tidak ada yang mengecek kebersihannya. Kalau tidak ingin berurusan dengan bungkus/wadah plastik, solusinya adalah konsumen membawa wadah sendiri.

Aku sendiri sebagai pembuat (dan kadang macak jadi penjual) sabun mengalami rumitnya menghindari plastik. Untungnya aku masih bisa membungkus sabun dengan kertas dan besek. Aku kadang juga mengumpulkan kardus bekas snack yang masih bersih untuk mengirim sabun bagi pembeli luar kota. Tapi sayangnya, aku masih belum bisa lepas dari selotip plastik dan biasanya aku melapisi wadah terluar dengan plastik untuk mengamankan paket itu dari air (hujan atau keciprat air apa pun selama di jalan).

Aku kadang berharap pemerintah lebih serius mengurusi sampah-sampah plastik ini. Ini bukan soal pilihan karena bumi sepertinya sudah kepayahan menangani sampah plastik. Dan bumi ini cuma satu. Sampah-sampah yang tak terurai itu tidak akan terselesaikan dengan sendirinya kalau tidak kita tangani. Apakah kita mesti menghilangkan plastik sepenuhnya? Apa saja yang bisa kita lakukan dengan sampah-sampah tak terurai ini? Kamu punya solusi?