Hari Keberuntungan?

Bulan Februari hampir berakhir. Rasanya waktu seperti tergelincir. Sebelum bulan ini berlalu, mestinya aku menulis beberapa hal. Tapi sudahlah. Beberapa catatan sudah kutulis di buku harian. Tapi ada satu hal yang perlu kucatat di blog ini. Penting buat kuingat.

Ini cerita agak basi sebetulnya. Tapi seperti yang kubilang, aku perlu mencatat cerita ini. Ceritanya bulan Januari kemarin aku tidak punya rencana untuk pulang ke Jogja atau ke Madiun lagi karena Desember lalu aku sudah cukup lama di Jogja. Lalu, kira-kira pertengahan bulan Januari, aku lupa tanggalnya, pagi-pagi ibuku menelepon. “Mbah Kung jatuh. Sekarang masuk rumah sakit.” Kurang lebih begitu kabar yang disampaikan Ibuk.

Oiya, untuk prolognya, perlu kuceritakan bahwa sebelumnya Mbah Kung sudah cukup lama agak kesulitan untuk jalan karena sempat jatuh kira-kira enam tahun lalu sehingga ada bagian kakinya yang patah dan tidak tersambung sempurna. Mbah Kung memakai alat bantu semacam tongkat untuk berjalan. Aku tidak tahu nama alatnya, tapi semacam kaki empat gitu deh. Semenjak memakai alat bantu itu, aktivitasnya menjadi sangat berkurang. Mbah Kung yang selama ini bertani kemudian meninggalkan sawah dan rumahnya di Kayuwangi lalu ikut dengan keluargaku di Madiun. Beberapa kali Mbah minta pulang, sempat juga kemauannya itu dituruti. Tapi wong sudah tidak bisa jalan dengan baik, sementara kalau di desanya sana, jalanan naik turun, tentu hal itu justru merepotkan Mbah sendiri dan orang-orang di sekitarnya. Lalu, demi praktisnya, Mbah Kung ikut dengan anaknya satu-satunya, yaitu Bapak. Rumah Mbah di Kayuwangi masih beberapa kali ditengok oleh orangtuaku–terutama Bapak. Sejak kejadian jatuh enam tahun silam, Mbah beberapa kali jatuh lagi. Mungkin karena keseimbangan tubuhnya sudah kurang baik. Kadang Mbah jatuh di rumah, pernah juga katanya jatuh di jalan ketika dia sedang jalan-jalan (tentunya dengan bantuan tongkat-kaki-empat itu) di sekitar rumah. Untuk ukuran orang yang tidak bisa berjalan sempurna, Mbah cukup jauh jalan kakinya. Kalau tidak salah, pernah mau jalan menuju pasar. Aku cuma geleng-geleng kalau mendengar cerita itu. Memang Mbah Kung ini orang yang keras kepala dan pekerja keras. Sebelum ikut ke Madiun, dulu waktu di desa dia masih mengurus sawah dan tegalan yang jaraknya lumayan dari rumah dan jalannya naik turun. Mungkin karena itu dia bisa cukup sehat sampai umur 90-an.

Oke, balik ke telepon ibuku tadi. Jadi, ibuku mengabarkan bahwa Mbah Kung masuk rumah sakit. Aku awalnya tidak terlalu khawatir karena kan Mbah sudah beberapa kali jatuh dan… baik-baik saja. Tapi Ibuk sempat mengatakan bahwa Mbah mengeluh sakit kepala sejak jatuh itu. Gegar otakkah? Suamiku kemudian mengusulkan supaya aku pulang menengok Mbah. Jadi, aku kemudian mencari tiket kereta ke Madiun dan hari yang kira-kira pas untuk pulang. Waktu itu Jakarta sering diguyur hujan. Aku agak malas sebetulnya jika mesti menembus hujan menuju stasiun. Takutnya perjalanan dari rumah ke stasiun mesti melewati daerah banjir. Males banget deh ah.

Akhirnya kupilih berangkat ke Madiun hari Sabtu tanggal 19 Januari. Sebetulnya aku bisa pulang hari Jumat sore tanggal 18. Tapi aku pikir, berangkat Sabtu sore lebih aman karena kalau Jumat sore Jakarta cenderung lebih macet kan? Dan aku supermales menghadapi kemacetan Jakarta… apalagi sering hujan begini. Aku memilih naik kereta Bangunkarta. Kereta itu lewat Semarang. Menjelang keberangkatanku, Jakarta hujan dereeeesss… Lewat internet kubaca kabar mengenai genangan air plus banjir di mana-mana. Waduh, gimana berangkat ke stasiun nanti, pikirku. Sempat terpikir untuk membatalkan keberangkatan. Tapi kok? Untungnya hujan pun reda. Berangkatlah aku naik taksi ke Gambir. Oiya, itu aku pulang sendiri tanpa ditemani suami karena dia mesti ngantor. Bagiku tidak masalah. Toh aku pulang ke rumah sendiri. Waktu akan naik taksi, aku baru sadar kalau uang yang kubawa mepet. Kalau untuk sekadar naik taksi dan beli makan di kereta, cukuplah. Sekali lagi, aku pikir, toh aku pulang ke rumah sendiri. Nanti sesampainya di rumah, aku akan segera ke ATM untuk ambil uang.

Di Gambir aku memutuskan beli oleh-oleh dan makan untuk di kereta. Sebetulnya kupikir aku tak perlu bawa oleh-oleh. Wong duit mepet lo, sempat-sempatnya mikir beli oleh-oleh. Ah, tapi sudahlah. Pukul 17.35 kereta Bangunkarta yang kutumpangi akhirnya berangkat. Tak lama kemudian aku memakan bekalku dan… tidur. Uh, nyaman banget pikirku. Sebelahku kosong pula. Jadi, bisa sedikit selonjor.

Sekitar pukul delapan, aku terbangun ketika kurasakan HP-ku bergetar. Kupikir ini hanya chatting dari teman. Tapi kok terus-terusan bergetar ya? Dengan mata masih lengket, aku membuka tas dan kulihat ada SMS dari suamiku. Katanya ibuku beberapa kali menelepon, tapi tidak kuangkat. Ya iyalah, wong aku tidur. Tak lama kemudian ada telepon masuk. Ternyata kakakku.
“Kowe mengko muduno Semarang utawa Solo yo.” (Kamu nanti turun Semarang atau Solo, ya.)
“He, lha ngopo?” (Memangnya kenapa?)
“Mbah Kung meh digawa ning Kayuwangi.” (Mbah Kung akan dibawa ke Kayuwangi.)
Otakku yang masih belum nyambung ini cuma berpikir, ooh barangkali Mbah sudah agak baikan.
Tapi kemudian kakakku melanjutkan, “Mbah Kung wis seda.” (Mbah Kung sudah meninggal.)
Gusti, nyuwun ngapuro. Lord, have mercy on me. Aku langsung melek. Kantukku hilang.   “Kowe iso to budal ning Kayuwangi dewe?” (Kamu bisa kan ke Kayuwangi sendiri?)
“Ya. Ya. Iso.” (Ya, ya. Bisa.)

Aku hanya berpikir, masak sampai sebesar ini aku tidak bisa jalan sendiri ke sana sih? Selama ini aku belum pernah ke rumah Mbah sendiri. Selalu ada teman. Entah dengan keluargaku, suamiku, atau kakakku. Memang, rumah Mbah Kung itu nun jauh di sana. Agak pelosok, maksudnya. Terbayang mesti naik bus, pindah naik angkot, lalu ngojek. Tapi… berarti sampai Semarang aku pasti sudah tengah malam. Njuk piye? Sementara aku buta dengan kota Semarang alias belum pernah ke sana. Hanya lewat. Dan, astaga… duitku kayaknya tinggal 50-an ribu. Sempurna! Dalam hati aku berdoa, Tuhan temani aku.

Seketika aku ingat kakak asramaku yang tinggal di Semarang, Mbak Elisa Rini. Aku segera mengontaknya dan kukatakan maksudku untuk menumpang sebentar di rumahnya tengah malam nanti. Dia memberiku petunjuk menuju rumahnya. Yang jelas, aku mesti naik taksi. Agak deg-degan juga aku kalau mesti naik taksi sendiri tengah malam di kota yang kurang kukenal baik. Soal duit taksi, Mbak Rini bilang, ongkos taksi nanti bisa dibayar di rumahnya. Ah, tapi semoga di stasiun Tawang nanti ada ATM, pikirku.

Sejak mendengar berita itu aku tak bisa tidur. Beberapa kali berkelebat kenangan ketika bertemu Mbah Kung terakhir, beberapa kata-kata beliau, pertemuan demi pertemuan. Kesadaranku mengatakan bahwa kini Mbah sudah lebih baik keadaannya. Ya, ya. Sugeng tindak, Mbah, kataku dalam hati.

Menjelang pukul 1 dini hari, ada pengumuman di kereta. Kereta akan berhenti di stasiun Poncol (bukan stasiun Tawang seperti yang seharusnya) karena stasiun Tawang banjir. Ketika kereta sudah akan berhenti, aku segera mendekat ke pintu keluar gerbong. Kulihat ada kondektur dan seorang bapak setengah baya. Aku tanya ke petugas tersebut, “Pak kalau ke perumahan Pasadena, jauh nggak dari Poncol?” Ternyata lebih dekat. Gusti, matur nuwun. Setidaknya ongkos taksinya lebih murah, pikirku. Ketika aku bertanya begitu, bapak setengah baya tersebut mengatakan bahwa rumahnya juga di Pasadena. “Kalau Mbak mau, bisa bareng saya. Itu kalau Mbak percaya sama saya lo.” Ng… aku masih diam. Ikut bapak ini nggak ya? tanyaku dalam hati. Bisakah dia dipercaya? Sempat takut kalau bapak ini punya niat jahat. Tapi, hatiku tidak memberikan sinyal bahaya. Sepertinya dia baik. Bapak itu mengenakan jaket bertuliskan IKAPI. Mungkinkah dia orang yang bekerja di penerbitan? Atau pekerja buku seperti aku?

Setelah kereta berhenti, aku mengekor bapak itu. Kami naik taksi bersama. Dia duduk di depan, aku di belakang sopir. Di jalan sempat ngobrol-ngobrol. “Mbak, Anda beruntung sudah ditunjukkan jalan sama Tuhan,” begitu kata si bapak. “Saya punya anak seumur Mbak.” Begitu kira-kira ucapannya. Aku sampai di perumahan Mbak Rini. Dia dan suaminya sudah menunggu. di dekat jalan masuk menuju rumahnya. Aku turun dan tidak diminta untuk ikut membayar taksi. Satu pertolongan kuterima. Matur nuwun. Terima kasih.

Aku masuk rumah Mbak Rini. Lalu aku dibuatkan teh hangat, disiapkan handuk kering. Ditambah lagi aku dipinjami baju untuk tidur. Ah, ya. Pertolongan itu tampak sepele, tapi sangat… sangat membantu. Aku hanya bawa baju sedikit. Sementara di rumah Mbah tidak ada persediaan baju untukku. Setelah mengobrol sedikit dan cuci muka, aku tidur. Sempat terpikir aku tidak bisa tidur. Tapi ternyata aku malah bangun agak terlambat.

Pukul 06.00 aku baru bangun. Hujan deras mengguyur Semarang. Setelah mandi, sarapan, aku mengobrol beberapa saat dengan Mbak Rini. Dulu aku sempat pengin main ke rumah dia di Semarang, tapi ndilalah kersaning Allah, aku mampir ke rumahnya dalam rangka “mengantarkan” Mbah Kung. Sekitar pukul 7 aku melanjutkan perjalanan ke Kayuwangi, dengan diantar Mbak Rini sekeluarga naik mobil ke pemberhentian bus… setelah sebelumnya sedikit putar-putar mengantarkan aku mencari ATM.

Catatan penting yang kupetik selama dua hari itu adalah pertolongan yang tulus itu hangatnya seperti matahari pagi. Pertolongan yang mungkin tampak sepele, tapi sungguh menyentuh hati. Kebaikan itu seperti selimut yang menghangatkan hati di kala kepergian Mbah Kung sempat menyisakan rasa kehilangan.

Terima kasih terutama untuk Mbak Rini, Mas Diksi, dan Ian. Terima kasih sudah memberi tumpangan. Rasanya jadi seperti punya saudara di Semarang. Terima kasih kepada semua teman yang telah mengucapkan bela sungkawa. Perhatian kalian semua turut menghangatkan hati.

*Kenangan 40 hari meninggalnya Mbah Kung Sugito.

Secuil Surga

Ceritanya, malam-malam aku lapar. Jam kecil di depan monitor komputerku menunjukkan pukul 21.30. Sudah lewat jam makan. Salahku juga tadi sore hanya makan roti secuil dan berharap roti itu bisa mengganjal perut sampai malam. Sayangnya, naga di perutku berontak. Hahaha. Mana kenyang dia hanya disumpal dengan sepotong roti? Daripada nanti malam aku tidak bisa tidur karena lapar, mending makan to? Lagian kenapa mesti menahan lapar? Kayak orang susah saja. 😀 😀 Di dapur masih ada nasi dan sedikit sayur masakanku sendiri. Sebetulnya tak terlalu selera sih. Maunya masak mi instan. Tapi aku pikir, sayang juga kalau sayur itu tidak kuhabiskan.

Rasa lapar ini mengantarkanku pada kenangan saat masih di asrama dulu. (Memang ya, tinggal di asrama itu bagiku banyak kenangannya…) Sekitar pukul 9 atau 10 malam, kadang aku atau salah seorang teman unit ada yang kelaparan. Karena masih harus begadang–entah karena mengerjakan tugas atau besoknya ujian–maka kami akan ke dapur unit yang merangkap ruang tamu untuk memasak mi instan. Sebagai gambaran, asrama kami dibagi atas beberapa unit yang masing-masing unit terdiri dari ruang belajar, kamar tidur, ruang ganti, dan yang terakhir ruang tamu. Jangan bayangkan ruang tamu itu tempat untuk menerima tamu dari luar. Itu adalah ruang tamu untuk sesama warga asrama saja. Ruang tamu untuk tamu dari luar ada sendiri. Nah, di ruang tamu itu ada beberapa kursi, wastafel, dan rak untuk menyimpan gula, teh, dll. Di situ ada pula kompor. Kompor itu bukan bagian dari fasilitas asrama, tapi biasanya ada salah satu dari kami yang membawa (lengkap dengan wajan dan sodet untuk memasak). Waktu itu masih zaman kompor minyak (terdengar jadul banget ya?). Jadi, salah satu tugas unit adalah membersihkan dan mengganti sumbu kompor. Oke, cerita tentang dapur asrama cukup sekian dulu.

Saat salah satu dari kami memasak mi instan, kadang ada satu atau dua orang teman yang ikut nimbrung. Entah ikut memasak mi instan, entah ikut icip-icip saja. Pokoknya akhirnya kami meriung saja di ruang tamu itu. Kadang ada yang berbaik hati membuat teh. Semangkuk mi instan itu kadang dihabiskan berdua atau tergantung siapa yang mau ikut meramaikan suasana. Dan siapa yang memasak mi instan biasanya gantian. Misalnya malam ini aku, besok temanku yang lain. Begitu saja. Sambil makan kami biasanya mengobrol santai. Ada yang berbagi gosip (biasaaaa, perempuan gitu lo! Kalau nggak bergosip, mana bisa? Hihi), ada yang cerita pengalaman di kampus, ada yang cerita tentang keluarganya, pacarnya, adiknya, kakaknya, simbahnya… apa saja. Obrolan itu bisa berlangsung seru diiringi tawa terbahak-bahak.

Mengingat pengalaman itu, aku merasa itu adalah salah satu indahnya tinggal di asrama. Dulu aku menganggap acara makan mi instan ramai-ramai itu adalah sesuatu yang wajar. Biasa. Saat berlangsung, aku tidak mengira bahwa kebersamaan makan mi itu menimbulkan kehangatan tersendiri di dalam hati ketika mengenangnya. Aku tak mengira bahwa sesuatu yang dulu kuanggap wajar, kini kuanggap kenangan indah. Kebersamaan dengan teman seunit–tertawa bersama, obrolan ngalor-ngidul, minum teh dan makan mi bersama–menjadi harta dalam hati. Memang kalau ditimbang-timbang, sesuatu yang kini tampak biasa dan sederhana, bisa jadi itu adalah secuil surga. Mungkin aku perlu lebih membuka mata menyadari keindahan di sekitarku.

Kamu sendiri, punya kenangan indah makan mi instan?

Cerita Banjir

Tahu kan Jakarta sering banjir beberapa hari belakangan ini? Meskipun tidak punya televisi, aku bisa menebak tayangan tentang banjir di Jakarta pasti lumayan sering ditayangkan. Ya iyalah, semua stasiun televisi skala nasional kan adanya di Jakarta. Jelas mereka merasakan langsung akibat banjir itu. Dan karena mereka punya “corong”, mereka jadi rajin koar-koar.

Ngomong-ngomong soal banjir, tempo hari seorang teman mengeluh dia kena macet dalam perjalanan ke tempat kerja. Butuh empat jam untuk sampai tempat dia mencari nafkah itu. Gile ye? Empat jam itu setara perjalanan naik bus Madiun-Jogja. Dia cerita, bajunya kuyup karena terpaksa jalan kaki turun dari angkot. “Kendaraan sama sekali tidak gerak,” lapornya. “Aku sempat keciprat air karena ada motor melintas seenaknya. Trus aku kejar orang itu, sampai lampu merah kupukul pundaknya. Kuomelin dia.” Aku tertawa campur iba mendengar ceritanya. Aku bisa membayangkan seperti apa kesalnya keciprat air di jalan. Apalagi jika kita berada di posisi lemah, misalnya sebagai pejalan kaki, sementara yang menciprati kita adalah mobil bagus. Bawaannya pengen nampol kan?

Meskipun rumahku tidak kena banjir, hujan superderas ditambah berita bahwa banyak jalanan yang tergenang air cukup tinggi membuatku memilih mengurung diri di rumah. Aku tak ingin konyol terjebak macet gara-gara banjir. Duh, amit-amit. Membaca ocehan teman-teman di dunia maya ketika mereka terjebak macet dan banjir saja membuatku eneg. Kebayang kalau aku sendiri yang harus mengalaminya. Matur nuwun, kamsia, enggak deh. Sebisa mungkin tidak.

Seperti biasa, saat hujan seperti ini yang menjadi masalah buatku adalah… cucian! Dengan tempat jemuran terbatas, kesabaranku diuji ketika hujan terus mengguyur. Lagi pula, kalau tidak hujan, matahari tampak malas. Hanya muncul sebentar. Jadi kangen matahari deh.

Saat seperti ini aku bersyukur bahwa listrik di rumah tidak mati. Air PAM juga masih lancar dan bersih. Aku tetap bisa bekerja di rumah. Tapi, suamiku mesti berangkat ke tempat kerjanya seperti biasa. Nah, ada satu cerita dari suamiku yang masih kuingat sampai sekarang. Ceritanya, pagi itu hujan deras sekali. Pol deh derasnya. Sebelum berangkat, suamiku mengecek dari internet daerah mana yang kira-kira macet parah. Dia kemudian memutuskan untuk naik metromini 49 yang lewat Utan Kayu. Kata suamiku, dia cukup beruntung lewat situ karena meski macet, tidak terlalu parah. Dia naik dari terminal Rawamangun–terminal terdekat dari rumah. Waktu bus itu sedang ngetem, suamiku sempat mengobrol dengan sang supir. Jalanan yang macet dan di mana-mana banjir, membuat si supir baru dapat dua rit sejak pukul 4 pagi (padahal saat itu sudah pukul 9 lebih, eh atau malah hampir pukul 10 pagi ya?). Supir itu kemudian bercerita soal saudara (atau tetangganya, lupa deh aku) yang awalnya tinggal di Kampung Pulo. Seperti diketahui, Kampung Pulo adalah daerah langganan banjir. Kini saudaranya itu pindah di daerah Klender dan tak mau balik lagi ke Kampung Pulo. Apa penyebabnya? Semata karena banjir? Rupanya tidak sesederhana itu. Ceritanya, ketika daerah itu dilanda banjir, si saudara itu berkemas hendak mengungsi. Saat itu tak disangka ada sesuatu yang tertinggal dan hanyut oleh banjir. Tahu apa yang hanyut? Anaknya yang berusia dua tahun! Aku yang mendapat cerita itu hanya terlongo-longo. Kok bisa? Bisa-bisanya anak sampai kelupaan “diangkut”? Ah, entahlah. Mungkin si orang tua terlalu panik?

Aku kadang berpikir, betapa ringkihnya Jakarta ini. Kena hujan deras saja langsung banjir. Jelas ini merugikan banyak orang. Ditambah lagi banjir pasti menimbulkan kemacetan. Kalau macet begitu, berapa banyak BBM yang terbuang sementara nun jauh di ujung Indonesia sana masih banyak orang yang butuh BBM. Berapa pula banyak waktu yang terbuang sia-sia hanya karena orang terjebak banjir dan kena macet? Belum lagi kalau sampai ada bayi hanyut segala. Halah… halah… Bagiku sendiri, suasana hujan dan banjir ini membuat sayuran jadi mahal. Kangkung yang biasanya cukup kutukar dengan uang dua ribuan, kini jadi lima ribu.

Aku berharap Jakarta bisa lebih baik lagi kondisinya. Selain itu yang menurutku penting adalah semoga kota-kota lain bisa belajar dari Jakarta. Kalau bisa, cukup Jakarta saja deh yang mengalami kekonyolan seperti ini. Maksudku, yang kena hujan deras saja langsung banjir. Semoga kota-kota lain juga berbenah, jangan sampai kaya Jakarta rusaknya.