Biar Jadul Asal Keren

Suatu malam aku naik angkot. Saat di dalam angkot itu, telingaku disuguhi lagu-lagu Indonesia masa kini dari sebuah stasiun radio. Yang kubilang lagu-lagu masa kini itu adalah lagu-lagu yang diputar oleh hampir semua radio–terutama stasiun radio yang mengusung lagu-lagu Indonesia saja. Sebut sajalah nama penyanyi atau band yang terkenal saat ini, pasti ada: Peterpan, ST 12, D’masiv, Anang-Syahrini, dan entah apa lagi. Aku tak terlalu ingat nama-nama mereka. Tapi kira-kira seperti itulah. Sewaktu lagu-lagu itu diperdengarkan, suamiku berkata, “Ini lagu-lagu gampang nih. Kuncinya paling C-F-G.” Dan aku baru sadar, bahwa lagu-lagu mereka itu memang mudah diterima di telinga masyarakat dan mudah untuk ditirukan. Mudah ditirukan? Menurutku sih begitu, karena acara televisi Idola Cilik menyanyikan lagu-lagu yang sedang tren sekarang kan? Anak kecil pun bisa meniru. Kalau dibandingkan lagu anak kecil, berani taruhan, kunci yang dipakai tidak jauh berbeda. Dan para pengamen dengan suara pas-pasan pun menyanyikan lagu-lagu itu.

Aku ingat, tahun lalu aku mendapat bingkisan dari sebuah stasiun radio yang jargonnya menyiarkan musik Indonesia. Ceritanya, saat aku sedang mendengarkan suatu acara mereka, aku mengirim SMS dan SMS yang dibacakan akan mendapat CD dari bintang tamu itu. Waktu itu, radio tersebut mengundang seorang bintang tamu. Menurutku, bintang tamu mereka itu agak lain dari biasanya, yaitu musisi jazz Donny Suhendra. Kenapa tamu mereka kubilang lain dari biasanya? Karena kuamati, lagu-lagu atau instrumen karya Donny Suhendra itu hanya disuguhkan saat acara itu saja. Dia bukan musisi yang membuat lagu-lagu yang ngetren. Lagi pula, jazz bukan musik yang populer di negeri ini, bukan? Sebelum dan sesudah ia datang ke studio radio tersebut, rasanya lagu-lagunya pun tidak pernah diperdengarkan. Anggaplah aku yang kurang awas dalam mendengarkan lagu-lagu mereka, tetapi menurutku radio itu tetap paling sering menyiarkan lagu-lagu yang memang sedang tren. Lagu-lagu Donny Suhendra lenyap entah ke mana. Oh, aku tidak bilang bahwa lagu-lagu yang sedang tren 100% buruk, hanya saja, menurutku tidak keren. Dan jujur saja, aku bosan. Kok itu-itu saja sih lagunya? Yang kubilang itu-itu saja maksudku: lagunya cemen, kunci-kuncinya kurang variatif, dan syairnya pun kurang oke dan cenderung cengeng. Pertanyaannya: Apakah memang para musisi Indonesia itu hanya bisa menciptakan lagu atau instrumen seperti itu?

Mendengarkan lagu-lagu zaman sekarang mau tak mau membuatku membandingkan lagu-lagu yang kudengar saat aku masih SD-SMP dulu. Aku besar di era ’80-an. Jadul sih. Saat itu, aku masih sering mendengarkan lagu-lagu yang dibawakan Fariz RM, Sheila Majid, Dedy Dukun dan Dian Pramana Putra, Indra Lesmana, Harvey Malaiholo, Vina Panduwinata. Menurutku, lagu-lagu mereka lebih bagus. Entah apa yang membuat bagus, tetapi jika aku mendengarkan lagu-lagu tersebut, kesanku musiknya lebih kaya. Kalau mengingat band yang muncul waktu itu pun, rasanya juga lebih oke. Dewa 19, misalnya. Dari pengetahuanku tentang musik yang biasa-biasa ini, aku mendapat kesan Dewa 19 waktu itu warna musiknya lebih keren dibandingkan yang sekarang. Dan dulu Kla Project juga masih sering muncul dan membawakan lagu-lagu baru mereka keren.

Aku tak tahu apa-apa tentang dunia radio dan apa sebenarnya yang terjadi di balik pemilihan lagu-lagu yang disuguhkan kepada pendengar. Tetapi kalau saat menyetel radio dan mendapati hanya lagu itu-itu saja yang diputar, aku jadi bertanya-tanya: Ke mana sih para musisi yang bisa menciptakan lagu-lagu bagus? Apakah jangan-jangan mereka memang tidak diberi tempat oleh radio-radio kita? Rasanya jarang sekali–kalau tidak mau mengatakan hampir tidak pernah–mendengar lagu-lagu atau instrumen karya anak negeri yang memang bagus.

Tetapi kemarin sore aku sedikit terhibur saat menyetel sebuah stasiun radio dan mendengar sebuah instrumen lagu Keroncong Kemayoran yang dibawakan oleh Dewa Budjana, Tohpati, dan Balawan. Kereeen banget! Padahal hanya instrumen lagu daerah. Tetapi lagu memang sudah digubah dengan sangat bagus. Pemutaran instrumen itu membuatku lega bahwa para musisi Indonesia yang karyanya memang jempolan masih mendapat tempat di sebuah stasiun radio lokal. Dan para musisi bagus itu masih berkarya … walaupun mungkin–hanya mungkin lo–karya mereka jarang diputar di radio-radio lokal kita. Mungkinkah karya-karya mereka hanya diperdengarkan di panggung internasional? Semoga saja begitu.

Kupikir jika radio-radio lokal hanya memutar lagu-lagu yang sedang tren, selera musik masyarakat kita tidak akan meningkat. Anak-anak muda pun mungkin tahunya hanya lagu warna musiknya tidak kaya. Ah, rasanya kalau begini aku lebih bersyukur besar di era 80-an. Lagu-lagunya lebih bagus. Biar jadul, asal keren kan?

Advertisements

Dari Eskalator Sampai Nasi Berkat

Teknologi apa yang pertama kali “membiusmu”–membuatmu berdecak kagum dan merasa dirimu hebat saat bersentuhan dengannya?

Kalau kupikir-pikir, teknologi yang membiusku pertama kali adalah eskalator atau boso Jowo-nya tangga berjalan. Seingatku, aku pertama kali melihat dan memakai eskalator ketika masih SD. Waktu itu aku biasa menghabiskan waktu ke Jogja saat libur sekolah tiba. Bisa seminggu lebih kuhabiskan waktu di sana. Biasanya bersama kakakku. Dan di sana, waktu itu omku–adik ibuku yang paling kecil–masih kuliah. Jadi, saat omku ada waktu, aku dan kakakku akan membonceng motor Honda Pitung (Pitung–singkatan dari pitung puluh atau tujuh puluh), dan kami akan keluar masuk toko-toko besar di Malioboro atau Jalan Solo.

Wah, aku serasa jadi anak kampung masuk kota! Aku terkesan melihat berbagai barang bagus yang dipajang di toko-toko itu. Dan aku terperangah ketika melihat eskalator! Wiiih, kereeen! Mungkin begitu kata anak sekarang. Kalau dulu sih, kayaknya belum ada istilah keren :p Coba pikir, dengan melompat ke salah satu anak tangganya, kita akan terbawa lantai yang dihubungkan dengan eskalator itu. Tak perlu bersusah payah untuk mendaki setiap anak tangganya, tak perlu terengah-engah dan kehabisan napas untuk sampai di lantai yang dituju.

Ketika pertama kali menjajal naik eskalator, aku sempat deg-degan. Yah, maklum wong ndeso… Berkali-kali aku diingatkan untuk berhati-hati supaya jangan sampai kakiku terjepit. Dan rasanya tegang juga ketika hendak melangkah ke anak tangga pertama yang membawaku ke lantai berikutnya. Bisa nggak ya? Bisa nggak ya? Ih, deg-degan looo! Bagaimana kalau aku jatuh? Bagaimana kalau aku salah melangkah? Belum lagi, bagaimana saat sampai di puncak tangga? Jangan sampai terlambat melompat! Aku membayangkan, kalau aku sampai telat melompat, aku akan gepeng karena masuk ke putaran eskalator yang masuk ke bawah. Hahaha! Sepertinya aku kebanyakan menonton film kartu ala Walt Disney … teringat Donald yang gepeng tetapi tidak mati ketika terlindas mobil. 😀

Hi hi … konyol juga kalau mengenang saat itu. Aku yang tinggal di kota kecil, terbengong-bengong saat melihat teknologi di sebuah kota yang lebih besar dari kota kelahiranku–yang jaraknya hanya empat atau lima jam dengan naik bus. Jarak yang tak terlalu jauh, tetapi tetap saja ada perbedaan yang membuatku terperangah (setidaknya pada saat itu).

Barangkali kalau teknologi memang bisa membius; membuat kita kagum. Tetapi kadang ada saja perbedaan budaya atau kebiasaan antara kota kecil dan kota besar atau desa dengan kota besar yang membuat orang terheran-heran. Mungkin ini pula yang dirasakan Mbah Wir. Ya, sebut saja begitu namanya. Lagi pula aku tak tahu nama panjangnya. Nah, Mbah Wir ini sebagian besar hidupnya dihabiskan di sebuah desa di perbatasan Jogja dan Klaten. Suatu kali ia diminta oleh salah satu dari keluarga besarku yang di Jakarta untuk tinggal bersama mereka. Suasana kota besar rupanya membuatnya terheran-heran. Salah satunya orang kota yang menanami halaman dengan rumput. Ia berkomentar, “Rumput kok ditanam. Kalau di desa saya, rumput itu tak ada yang menanam. Bahkan dibabat untuk makan ternak.” He he he. Orang kota menanam rumput, orang desa mengambil rumput.

Seperti Mbah Wir, kebiasaan di tempat kelahiranku yang adem ayem di mana semua terasa dekat juga kadang membuatku terheran-heran saat aku berada di kota besar macam Jakarta ini. Hal terakhir yang membuatku heran adalah ketika akhir pekan kemarin aku jalan-jalan ke Kelapa Gading. Saat itu, karena lapar aku dan suamiku mampir ke food court. Sambil berjalan untuk mencari makanan yang kira-kira pas dinikmati di siang hari itu, aku melewati sebuah stan makanan. Di situ salah satu menunya adalah: Nasi Berkat. Rasanya geli aku melihat menu itu. Bayangkan, di tempat kelahiranku tak ada yang menjual nasi berkat. Nasi berkat itu “makanan gratis”, yang dibagikan ke tetangga saat keluarga kita punya hajat. Biasanya nasi berkat itu diberikan kepada orang-orang yang datang ke rumah untuk sembayang untuk memohon keselamatan (dalam bahasa Jawa, upacaranya disebut slametan). Tapi di Jakarta, nasi berkat kok dijual. Oalah ….  Lagi pula, kalau memang mau menjual nasi dengan menu yang mirip nasi berkat, apa tidak bisa cari nama lain ya? Kreatif sedikit, tentu bisa kan?

Susahnya Berbahasa Indonesia

Semalam aku mendengarkan radio. Saat itu ada perbincangan yang membahas UN (Ujian Nasional) anak SMA. Rupanya dari hasil UN kemarin, banyak anak yang nilai bahasa Indonesianya jeblok. Dan dari semua mata pelajaran yang diujikan, nilai bahasa Indonesia inilah yang rata-rata nilainya paling jelek. Bahkan di Yogyakarta, 5.000 lebih siswa harus mengulang UN untuk ujian bahasa Indonesia.

Kenapa bisa begitu? Dari pembicaraan dengan nara sumber, dikatakan bahwa salah satu alasannya adalah karena banyak murid dan mungkin juga guru menyepelekan bahasa Indonesia. Misalnya, kalau di suatu sekolah dibutuhkan guru matematika, maka akan dicari guru matematika yang paling bagus. Tetapi kalau yang dibutuhkan guru bahasa Indonesia, dicarinya asal yang bisa berbahasa Indonesia. Pemikirannya: Toh semua bisa berbahasa Indonesia kan? Benarkah? Yaaa, kalau dilihat dari hasil UN tadi, kelihatan kalau tidak semua siswa (dan mungkin juga gurunya) mahir berbahasa Indonesia.

Perbincangan di radio itu mengingatkanku pada beberapa peristiwa. Salah satunya berkaitan dengan pekerjaanku. Begini, suatu kali aku mendapat pekerjaan untuk mengedit naskah berbahasa Indonesia yang akan diterbitkan.

“Siapa penulisnya?” tanyaku kepada teman yang memberi pekerjaan.
“Penulisnya banyak bergerak di bidang pendidikan,” jawabnya.
Oke deh. Mestinya tulisannya sudah cukup enak dibaca dong. Tetapi rupanya perkiraanku keliru. Tulisannya masih kacau. Ada bagian yang tidak jelas mana subjek dan predikatnya. Beberapa ide melompat-lompat. Wah, kalau orang yang bergerak di bidang pendidikan saja tulisannya masih kacau, bagaimana dengan yang lain ya?

Peristiwa yang lain adalah ketika suamiku ditawari menerjemahkan naskah dari sebuah departemen pemerintahan. Kalau tidak salah, naskah itu mau dibuat buklet dua bahasa. Waktu mengerjakan terjemahan naskahnya, suamiku lama-lama jadi jengkel sendiri. Kenapa? “Bahasa Indonesianya kacau!” begitu katanya. Ada banyak kalimat yang tidak jelas apa maksudnya. Kalau seperti itu, penerjemahan ke bahasa Inggris jadi sulit. Wong naskah bahasa aslinya sudah kacau kok …. Padahal kalau bahasa Indonesianya sudah bagus, penerjemahan ke bahasa lain akan jauh lebih mudah.

Dulu, ketika aku baru awal-awal bekerja sebagai editor, aku juga baru sadar bahwa aku tidak mahir berbahasa Indonesia seperti yang aku bayangkan sebelumnya. Ketika menghadapi naskah mentah, ada saja hal-hal yang membuatku sadar bahwa ternyata aku tidak pintar-pintar amat berbahasa Indonesia. Biasanya sih soal penggunaan tanda baca. Kadang aku juga tidak tahu mana kata yang baku dan mana yang tidak.

Dari perbincangan di radio semalam, aku mendapat informasi bahwa soal UN yang diujikan kepada anak SMA beberapa waktu lalu isinya banyak yang berupa teks bacaan. Mereka banyak diminta untuk menentukan mana ide utama dalam sebuah paragraf. Jadi, jika dibandingkan dengan soal ujian bahasa Indonesia beberapa tahun lalu (mungkin pas zaman aku sekolah dulu) memang jenis soalnya berbeda. Barangkali soal yang sekarang lebih menekankan keterampilan berbahasa ya? Bukan asal hapal tanda baca dan macam-macam arti imbuhan. Eh, ini perkiraanku saja lo. Soalnya aku juga tidak melihat dan membaca langsung soal UN tersebut.

Barangkali kalau kita mau jujur, kita cenderung lebih menganggap penting bahasa asing. Eh kita? Aku aja kaleee … hi hi hi. Padahal kalau kita tidak menguasai bahasa utama kita dengan baik (dalam hal ini bahasa Indonesia), belajar bahasa asing akan lebih sulit. Kalau dari pengalamanku aku melihat orang yang bisa berbahasa Indonesia dengan sangat baik, memiliki kemampuan bahasa asing yang baik pula.

Ngomong-ngomong, pernahkah punya pengalaman sulitnya berbahasa Indonesia?

Sebuah Cerita (untuk Tommy dan Edna)

Ini cerita lama sebenarnya. Berawal kira-kira dua tahun yang lalu. Seorang teman, Mas Wiji, menawariku membuat cerita untuk komik.
“Komik?” tanyaku.
“Iya. Bisa kan? Tema besarnya tentang multikulturalisme,” katanya.
“Terus terang aku belum pernah membuatnya, Mas,” jawabku. “Tetapi aku akan mencobanya.”
“Baiklah,” jawabnya.
“Nanti siapa yang menggambar, Mas?” tanyaku.
“Teman kita sendiri. Tommy namanya. Nanti aku kenalkan. Dia di Jakarta.”
Aku tidak tanya lebih lanjut. Aku belum kenal siapa dia. Katanya, dia pernah menang lomba apa gitu. Aku sih iya iya saja. Yang penting, aku coba menulis ceritanya dulu.

Kami berkenalan lewat e-mail. Dan aku mengirimkan cerita ke Tommy. Aku paling tanya-tanya lewat YM apakah ceritanya sudah cukup panjangnya, atau perlu ditambah beberapa detail lagi. Maklum, aku masih awam banget untuk menulis cerita komik. Sampai cerita itu selesai, aku juga belum pernah ketemu Tommy.

“Contoh hasil gambarnya dia seperti apa, Mas?” tanyaku pada Mas Wiji suatu kali.
“Lihat di Kompas. Biasanya ada kok. Nanti cari saja yang ada namanya: Thomdean.”
Tak berapa lama Mas Wiji datang sambil membawa Kompas dan menunjukkan gambar Thomdean di harian Kompas. Rupanya namanya Tommy Thomdean. Dia dulu kuliah di UGM, Jogja dan sepertinya cukup aktif di PMK (Persekutuan Mahasiswa Kristen) sewaktu mahasiswa dulu.

Wah, aku jadi nggak PD. Lha wong aku baru belajar nulis cerita, sedangkan dia karyanya sudah skala nasional bahkan sudah mendunia–itu kalau kutilik dari biodatanya di web pribadinya. Tapi tak apalah. Yang penting mencoba.

Aku baru bertemu Tommy ketika ia sudah menyelesaikan gambar untuk komik itu. Anaknya menyenangkan. Kesanku sih, kartun banget. Halah, piye kuwi jal? Hehehe. Dan aku “pangling” dengan cerita yang kubuat. Cerita yang menurutku biasa-biasa saja, jadi tampak beda. Memang tidak sia-sia deh meminta Tommy menggambar komik itu. Aku puas sekali dengan hasil karyanya.

komik dengan tema multikulturalisme yg kubuat dengan TommySesuai “pesanan” Mas Wiji untuk membuat cerita multikultur, aku mengangkat cerita tentang perbedaan suku dan agama. Tentunya untuk anak-anak dong. Komik ini menjadi salah satu sarana pendidikan multikulturalisme yang digagas Mas Wiji dan teman-temannya yang tergabung di Persekutuan Sahabat Gloria. Kali ini mereka bekerja sama dengan Public Affair Section Kedutaan Besar Amerika Serikat. Mas Wiji dan teman-temannya memiliki sanggar yang memang menaruh perhatian pada pendidikan anak-anak. Mereka biasa melakukan pendampingan anak-anak di Gunung Kidul. Dan multikulturalisme ini menjadi salah satu bagian dari kurikulum mereka. Diharapkan setelah menerima pendidikan multikulturalisme, anak-anak nantinya (setelah mereka besar) bisa menerima perbedaan suku, agama, budaya dan berbagai perbedaan lainnya, dan bukannya menjadikan perbedaan itu sebagai pemisah, tetapi justru bisa bekerja sama dengan baik.

Komik itu selesai. Dan aku pindah ke Jakarta. Tetapi aku jarang ketemu Tommy. Seingatku aku baru tiga kali ketemu dia. Kalau ketemu obrolan kami tak jauh-jauh dari keinginan untuk membuat karya bersama lagi, entah itu komik, buku bergambar, atau apalah. Terakhir Tommy menawarkan komik multikultur itu ke sebuah penerbit, dan mendapatkan tanggapan yang bagus; tetapi harus ditambah beberapa detail lagi.

Ketika pertama kali bertemu Tommy–sebenarnya pertemuan itu tak sengaja–aku diperkenalkan juga pada Edna. Dia wartawan Kompas. Sepertinya mereka dekat. Tetapi laki-laki dan perempuan yang tampak dekat, belum tentu pacaran kan? Dan aku juga tidak tanya seperti apa relasi mereka.

Beberapa minggu lalu, ketika aku sedang online di siang hari, aku melihat Tommy juga sedang online. Tumben. Aku ber-“say Hi” padanya dan chatting sebentar. Kalau dengan dia obrolannya tak jauh-jauh dari gambar dan tulisan. Tapi tak lama kemudian dia tampak off, dan beberapa saat ada e-mail masuk darinya. Di situ ada attachment suatu gambar. Gambar apa ya?

Rupanya undangan. Undangan pernikahan Tommy dan Edna–Tommy Thomdean dan Edna Caroline Pattisina. Undangannya khas Tommy. Namanya juga tukang gambar, undangannya pun dihiasi hasil coretan Tommy. Gambar rel yang melambangkan mereka. Kalau boleh aku menginterpretasikan gambar itu, kira-kira artinya dua pribadi yang berbeda tetapi memiliki arah yang sama dan masing-masing tetap bisa mengembangkan diri. Aku senang mendapat kabar itu. Rasanya mereka memang pasangan yang cocok. Memang aku jarang bertemu mereka, tetapi menurutku sih, mereka dua orang yang menyenangkan dan tampak bersemangat. Jadi, cocok kalau mereka memutuskan untuk menikah.

Mereka menikah tanggal 1 Mei 2010 hari Sabtu kemarin. Kupikir aku tak bisa menghadiri pemberkatan mereka, karena aku ada rencana pulang ke Jogja. Tapi rencanaku kuundur. Dan Sabtu kemarin, pagi-pagi aku dan suamiku, Oni, berangkat ke Gereja Imanuel yang terletak di depan Stasiun Gambir. Gerejanya keren loh! Aku yang baru sekali itu masuk gereja selain gereja Katolik, terkagum-kagum melihat bangunannya. Tampak megah dan syahdu. Ketika kami memasuki gerbang, kulihat Tommy dan Edna sedang naik mobil pengantin dan mereka melambaikan tangan saat melihat kami.

Pemberkatan berlangsung lancar. Edna cantik dengan gaun pengantin putihnya, dan Tommy dengan yakin menggandeng Edna ke depan altar. Koornya bagus sekali. Aku terharu ketika mereka mengucapkan janji pernikahan. Aku jadi ingat waktu aku dan Oni menikah dulu. He he… Tidak kusangka, dua tahun kemudian, tepatnya dua tahun lewat enam hari kemudian, temanku Tommy dan Edna menikah.

Selamat ya Tommy dan Edna! Semoga menjadi keluarga yang bisa menjadi berkat buat orang-orang di sekeliling kalian dan karya-karya kalian terus berkualitas! 🙂