Sibuk Sih, Tapi Tetap Siap Melayani Kan Mestinya?

Peristiwa ini sudah terjadi beberapa bulan lalu, tetapi kurasa masih bisa dipetik pelajarannya…

Tak jauh dari tempat tinggalku, ada sebuah apotek yang ramai. Kata temanku, apotek itu memang terkenal murah. Dia pernah membandingkan harga obat di apotek itu dengan apotik lain, dan selisihnya cukup lumayan. Aku tak ingat berapa selisihnya, tetapi lebih kalau hanya seribu atau dua ribu rupiah.

Antrian di apotek itu cukup lumayan sehingga kadang aku agak malas kalau mau membeli obat di situ. Kalau yang mau dibeli obat yang harganya cukup mahal, barangkali tak apalah kalau mesti mengantre lama. Tetapi kalau hanya membeli obat bebas yang tak menguras kantong–katakanlah satu bungkus obat masuk angin–masakan aku mesti antre cukup lama? Selisih beberapa ratus perak, tak membuatku miskin mendadak bukan?

Namun hari itu aku memilih beli obat di apotek itu. Aku perlu membeli obat batuk. Awalnya aku hendak memilih ke apotik sebelahnya, tetapi dari luar aku lihat apotek itu tak seramai biasanya–walaupun dibandingkan apotek lainnya dia lebih ramai. Ah, tak apalah jika harus mengantre sebentar. Begitu masuk, kulihat ada beberapa titik yang dijaga oleh petugas. Aku kemudian bertanya kepada salah satu petugas. Petugas ini tidak kelihatan santai, dia cukup sibuk melihat-lihat daftar. Rupanya dia bertugas memanggil satu per satu pembeli resep obat untuk mengambil obat yang dipesan. Agak ragu juga aku mengganggu si bapak itu. Tetapi petugas yang lain kulihat juga sama sibuknya. Jika nanti aku dijawab dengan kurang ramah, ya tak apa. Itu risiko belanja di tempat yang ramai.

“Pak, ada obat batuk X?” tanyaku. Sekilas aku berpikir, jangan-jangan aku mesti menunggu lama untuk mendapatkan jawaban nih? Aku masih saja khawatir mendapat perlakuan kurang ramah dan lama. Namun, di luar dugaan, bapak itu menjawab dengan nada ramah sambil mengatakan bahwa obat yang kumaksud bisa dibeli langsung pada petugas di kasir. Kekhawatiranku sirna. Di sela-sela kesibukannya, bapak ini masih bisa memberi pelayanan yang baik.

Pelayanan yang baik membuatku berpikir akan kejadian beberapa bulan yang lalu. Ceritanya, aku dimintai tolong oleh saudaraku untuk mengurus pengambilan uang deposit di sebuah apartemen (Permat* Hija* Residenc*). Mereka dulu memang sempat tinggal di apartemen yang terletak di daerah Permata Hijau, tak jauh dari ITC. Sewaktu meninggalkan apartemen itu, rupanya uang deposit mereka belum bisa cair. Aku sendiri kurang tahu mengapa bisa seperti itu (mestinya setelah penyewa keluar, uangnya bisa langsung cair ya?). Setelah beberapa bulan, uang deposit itu baru bisa diambil. Namun, karena saudaraku tidak lagi berada di Indonesia, mereka mempercayakan urusan ini kepadaku. Kami pikir setelah aku menyerahkan surat kuasa dari saudaraku kepada pihak pengelola apartemen, urusan pengambilan uang deposit itu bisa segera selesai. Rupanya tidak semudah itu.

Dua bulan setelah aku memberikan surat kuasa itu, pihak pengelola apartemen mengatakan bahwa surat kuasa dari saudaraku itu ada kalimat yang keliru, jadi uang deposit mereka masih belum bisa cair. Dalam pembicaraan di telepon aku meminta agar Ibu Sh*nti (bagian legal) mengirimkan email atau sms tentang poin-poin yang mesti kami lengkapi dalam surat kuasa. Bukan tanpa alasan aku meminta beliau menulis email itu. Alasanku, surat kuasa itu pada awalnya dibuatkan oleh seorang pegawai apartemen tersebut, di bagian marketing. Jadi, kami pikir, itu adalah form yang sudah baku, yang biasa dipakai oleh apartemen tersebut. Ternyata, surat itu keliru juga dan tidak diakui oleh bagian legal. Lha piye iki? Lagi pula, jika Bu Sh*nti hanya menyampaikan informasi secara lisan, bisa saja di kemudian hari tidak diakui bukan? Kalau mereka bertanya: “Mana buktinya saya pernah mengatakan seperti itu?” aku jelas tidak punya bukti dan saksi. Lagi pula, kelambatan mereka menangani urusan seperti ini membuat kepercayaanku kepada pengelola apartemen ini berkurang. Bayangkan, dua bulan setelah aku menyerahkan surat kuasa, bisa-bisanya Bu Sh*nti mengatakan dia baru menerima surat kuasa itu pada hari kami bicara per telepon. Wah, surat kuasa itu jalan-jalan ke mana ya selama dua bulan ini?

Permintaanku kepada Bu Sh*nti untuk menulis email itu justru dijawab begini: “Saya sibuk. Pekerjaan saya banyak, jadi saya tidak bisa mengirim email yang Ibu minta.” Bukannya mendapat penyelesaian yang bisa menguntungkan kedua belah pihak, Bu Sh*nti ini justru memberikan jawaban yang membuat kupingku merah. Ya, lagi pula kalau dia sibuk, perlukah dia menjawab seperti itu? Katakanlah dia punya pekerjaan yang menggunung, apakah dia perlu memberitahukannya kepadaku? Dan mestinya jika dia bisa bekerja dengan efektif, urusan pengembalian uang deposit yang cukup sepele itu bisa diselesaikan dalam waktu singkat bukan? Apakah Ag*ng Podomor* selaku pengelola apartemen itu tidak pernah memberi pelatihan kepada para karyawannya agar bersikap ramah kepada konsumen? Dan jujur saja, aku jadi kasihan kepada orang-orang yang sudah kepincut dengan apartemen tersebut. Anggap saja uang deposit saudara kami itu tidak dikembalikan, paling-paling saudaraku itu hanya rugi sekian juta. Tetapi coba bayangkan jika para pembeli apartemen senilai sekian milyar itu mengalami kerugian karena pengelolaan apartemen yang tidak profesional? Bisa dibayangkan kerugiannya, dan tentu saja kedongkolan yang dirasakan dong. πŸ™‚

Jawaban yang ramah di sela-sela kesibukan. Kemauan untuk mendengarkan konsumen. Bekerja secara profesional dan efektif. Semua itu hanyalah sebagian dari tindakan yang bisa membuat para konsumen memberikan penilaian positif dan loyal terhadap produsen. Dan sangat mungkin para konsumen yang mendapat perlakuan seperti ini menjadi pelanggan dan dengan sukarela memberi rekomendasi kepada teman-teman tentang suatu produk atau jasa.

Saat ini masalah uang deposit itu sudah selesai. Butuh waktu berbulan-bulan ditambah kedongkolan yang tidak perlu untuk menyelesaikan masalah sepele macam itu. Aku merasa mereka terlalu lambat kerjanya dan tampak jelas tidak ada koordinasi yang baik antar bagian.

Namun, dari semua ini aku mendapat pelajaran penting:
1. Bersikap ramah kepada konsumen, meskipun mungkin hanya lewat telepon, email, atau sms itu sangat penting. Kalau konsumen lari semua, produsen mau kasih makan apa kepada pegawainya?
2. Berhati-hatilah dalam memilih apartemen. Meskipun dalam hal ini yang mengalami langsung adalah saudaraku, aku jadi tahu bahwa apartemen baru dan yang cukup mahal belum tentu memberikan pelayanan yang baik. Bahkan dengar-dengar ada orang yang sudah mencicil apartemen, tetapi kemudian apartemen itu tak terwujud. Ini kan repot, apalagi ini menyangkut uang yang tidak sedikit. Hal ini terutama penting bagi para calon pembeli/penyewa apartemen (di Jakarta).
3. Lebih saksama dalam membuat surat kuasa. Jika kita tidak tahu banyak masalah hukum, ada baiknya meminta pertimbangan kepada orang yang lebih tahu di bidang ini. Bisa saja, kalimat yang kita buat dianggap kurang tepat atau keliru oleh pihak yang menerima surat tersebut.

Kiranya pelajaran yang kuterima ini, bisa menjadi pelajaran bagi kita semua.

Advertisements

Sang Legenda

Sebelum mengunggah tulisan ini, aku melongok kamus sebentar. Karena tak punya KBBI (payah ya? kerjanya nguplek-uplek kalimat, malah tak punya KBBI :D), aku mengintip kamus Longman. Entah kenapa ya, aku malas beli KBBI. Agak panjang menjelaskannya, bisa jadi satu tulisan tersendiri deh.

Oke, jadi apa yang kutemukan dalam kamus Longman untuk kataΒ legend yang diterjemahkan legenda dalam bahasa Indonesia?

Legend punya empat arti:
1 [countable] an old, well-known story, often about brave people, adventures, or magical events: the legend of Rip Van Winkle who slept for 100 years (Kisah kuno, yang sudah terkenal, kerap kali tentang orang yang pemberani, petualangan, atau peristiwa-peristiwa yang ajaib. Kalau di Indonesia, contohnya legenda Malin Kundang kali ya?)

2 [uncountable] all stories of this kind: Celtic legend (Semua cerita yang berjenis legenda)

3 [countable] someone who is famous and admired for being extremely good at doing something: Pele, Maradona, and other footballing legends (Orang yang terkenal dan dikagumi karena melakukan suatu hal yang luar biasa bagus)

4 [countable usually singular]
Β Β  Β a) literary words that have been written somewhere, for example on a sign: A sign above the door bore the legend `patience is a virtue’. (Kata-kata yang tertulis di suatu tempat, misalnya untuk suatu tanda.)

b) old-fashioned the words that explain a picture, map etc (ini untuk pemakaian kuno; yaitu kata-kata yang menjelaskan suatu gambar, peta, dll).

Untuk arti yang keempat ini sepertinya jarang dikenal ya? Aku tidak tahu berapa arti kata legenda dalam KBBI.

Nah, ceritanya hari Minggu yang lalu aku datang ke reuni asramaku, Syantikara. Eh, sebenarnya untukku istilah reuni agak kurang tepat. Kenapa? Karena kalau reuni berarti kita akan bertemu teman-teman lama kan? Padahal untukku tidak begitu, karena di acara itu aku justru bertemu orang-orang baru. Bingung kan? πŸ˜€

Jadi, reuni kemarin itu dihadiri oleh kakak-kakak asramaku yang angkatannya jauh di atasku. Aku angkatan paling muda di acara itu, dan cuma aku satu-satunya angkatan ’96. Yang angkatannya di atasku adalah Mbak Nana Lystiani, angkatan ’90. Jelas, aku belum pernah bertemu dengan kakak-kakak asrama itu. Bagaimana mau ketemu? Kebanyakan dari mereka masuk asrama pada tahun 80-an, sedangkan aku, tahun 80-an masih balita hehe. Lumayan jauh kan selisih umurnya? πŸ™‚

Awalnya aku ragu, karena kok sepertinya teman-teman yang seangkatan denganku atau yang tak terlalu jauh selisih angkatannya tidak ada yang datang ya? Aku sebenarnya sudah sempat memberitahu temanku yang angkatan ’98 yang rumahnya tak jauh dari rumahku, tetapi dia tidak bisa datang. Jadi, yo uwis, aku datang sendiri sebagai wakil angkatan ’96. πŸ˜€ Tapi barangkali aku kurang gencar dalam memberi pengumuman ya? Maafkan aku ya teman-teman seangkatan ….

Sebenarnya yang mendorongku datang ke acara itu karena di acara reuni itu acara utamanya adalah memberikan dukungan kepada Kak Mimi yang akan dipindahtugaskan ke Sungailiat. Siapa Kak Mimi? Bagiku, Kak Mimi adalah seorang legenda di asrama kami. Sr. Ben, kepala asrama kami, beberapa kali menyebut namanya sebagai teladan anak asrama. Ya, Kak Mimi adalah hakim tipikor, yang di masyarakat biasa dikenal dengan nama Albertina Ho. Dia inilah yang menyidang Gayus, Cirus Sinaga, dan Anand Khrisna. Dari media massa yang kubaca, sepertinya Bu Allbertina Ho ini cukup disegani karena kelurusan dan ketegasannya. Dulu Sr. Ben pernah menceritakan bahwa ketika ia menjadi hakim, dia mendapat rumah dinas, dan rumah dinas itu masih belum ada perabotannya. Lalu ada pengusaha yang memberinya kursi tamu. Namun, pemberian itu ditolaknya. Kabarnya untuk kasus-kasus yang ditanganinya, Kak Mimi ini tidak pernah mau menerima sogokan. Di Indonesia, hal seperti ini agak aneh barangkali ya? Padahal, bukankah sudah semestinya demikian?

Aku datang ke acara reuni itu dengan nebeng Mbak Nana. Aku juga belum pernah bertemu dengan Mbak Nana sebelumnya. Iyalah, dia angkatan 90, aku 96. Anak asrama biasa tinggal di Syantikara 5 tahun, bahkan banyak yang belum genap 5 tahun sudah keluar dan kos di luar. Aku sengaja nebeng karena aku buta daerah yang akan dituju, BSD. Katrok ya? Tiga tahun di Jakarta, tapi belum pernah sampai BSD. Sebenarnya ada bus patas dari dekat tempat tinggalku yang sampai BSD, tapi daripada aku nyasar dan kebingungan di jalan, aku nebeng. Memang aku jarang pergi sendiri di Jakarta. Jadi, hanya sedikit tempat yang cukup akrab bagiku. Entah kenapa, ingatanku pernah nyasar di Jakarta masih membuatku takut. Hehe. Padahal kalau di kota lain, rasanya aku nggak setakut ini. Kayaknya sudah parno duluan bakal dijahati sama orang asing. Dan aku pun ke acara itu diantar suamiku. Hihihi. Soalnya, ya takut kalau nyasar. Jadi, aku datang ke rumah Mbak Nana di daerah Slipi dan bertemu dengan Rheiner, putranya yang berumur 2,5 tahun. Rheiner ini menggemaskan, suka main mobil-mobilan, dan cukup hapal beberapa macam mobil. πŸ™‚

Oke deh, sampai di sana aku bertemu dengan mbak-mbak yang belum pernah kutemui. Tapi mereka baik-baik dan ramah sih. Jadi, aku tak merasa asing banget. Memang jadinya aku sempat membayangkan, kalau ketemu teman-teman seangkatan, pasti lebih seru lagi. Hehe. Mbak Lilis yang punya rumah langsung menyuguhi tekwan yang yummy! Dan di situ tersedia banyak makanan enak yang membuatku kekenyangan dalam waktu singkat.

Suasananya saat itu benar-benar mengingatkan pada asrama. Semua tampaknya dalam mood yang riang. Semacam acara rekreasi zaman asrama dulu. (Rekreasi adalah acara sebulan sekali di asrama, di mana para warga diwajibkan hadir semua. Acaranya biasanya di ruang tamu, duduk di bawah, mengobrol, makan bersama, dan suster biasanya akan memberikan wejangan atau beberapa informasi.) Di sudut kulihat Kak Mimi sedang mengobrol. Aku sempat berkenalan sebentar. Dan rasanya geli waktu menyebut aku angkatan 96. Kak Mimi angkatan 79, itu berarti aku masih berusia setahun waktu dia masuk kuliah. πŸ˜€

Setelah semua makan, Mbak Emil meminta kami semua berkumpul. Kami pun duduk melingkar. Kak Mimi duduk di tengah-tengah, lalu dihadapkan dengan Mbak Anas (Anastasia Mustika Widjaja) dan Mbak Lilis (Maria Noerlistijaningsih) Ceritanya kaya di ruang sidang. Setelah haha-hihi sebentar, Kak Mimi pun bercerita pengalamannya saat menyidang Gayus. Seru deh. Begitu pun dia juga bercerita tentang alasan dia menetapkan hukuman 7 tahun bagi Gayus juga bagaimana ia diputuskan untuk dipindah ke Sungailiat. Kami menyimak cerita Kak Mimi dengan serius. Dari ceritanya, kutangkap Kak Mimi orang yang memegang prinsip, tegas, dan berani. (Khas Syantikara kah? :D)

Acara ini ditutup dengan berfoto di tangga rumah Mbak Lilis. Kalau dulu di asrama kami suka berfoto di tangga belakang unit UGAL, sekarang tangga di depan rumah Mbak Lilis, dijadikan tempat berfoto juga. πŸ™‚

Aku senang bisa datang ke acara reuni itu. Aku merasa, Syantikara ini seperti keluarga besar yang kompak sampai sekarang. Dan jika melihat cukup banyak eks Syantikara yang datang di acara itu, aku merasa betapa kedekatan yang timbul saat tinggal di Syantikara masih terasa sampai sekarang. Menurutku, Syantikara bagaikan rumah kedua tempat kami semua bisa belajar tentang pentingnya kebersamaan dan menjadi satu keluarga. Dan aku senang bisa bertemu serta berkenalan dengan sang legenda, Kak Mimi. πŸ™‚

Semoga sukses di tempat tugas yang baru, Kak Mimi. Kami semua mendoakanmu.

Berikut ini tautan tentang “sang legenda”:
http://metrotvnews.com/read/newsvideo/2011/09/21/136336/Albertina-Ho-Srikandi-Pengadil-yang-Tegas

http://www.detiknews.com/read/2011/09/21/153324/1727448/608/hakim-albertina-ho-tak-tergiur-mercedes-benz

Mudik dan E-KTP

Sekitar dua minggu yang lalu, Ibu meneleponku memintaku supaya pulang ke Madiun. Wah, padahal aku belum ada rencana pulang dalam waktu dekat. Dan pekerjaanku masih banyak. Kalau aku pulang, akan banyak waktu yang terpotong di perjalanan. Belum lagi capeknya. Aku tak ingin bercapek-capek kalau sedang banyak pekerjaan. Walaupun bisa membawa pulang pekerjaan, biasanya tak bisa bekerja dengan maksimal.

Tapi Ibu bilang, ini urusan e-ktp.
Wah, e-ktp sudah sampai Madiun, ya?

Aku memang masih ber-KTP Madiun walaupun tiga tahun terakhir ini tinggal di Jakarta. Sengaja aku tidak pindah KTP, karena pak RT di tempat tinggalku dulu (di Klender) mematok tarif Rp 250.000 untuk mengurus KTP baru. Aku mau mengurus sendiri tidak boleh. Katanya, “Sama saja, nanti di kelurahan akan dimintai uang juga.” Jadi, Pak RT tak mau memberiku surat jalan. Ya sudah. Aku urung pindah KTP. Menurutku, itu sudah termasuk korupsi. Kalau aku membayarnya, berarti aku menyetujui tindakannya. Selain itu di tempat tinggalku yang sekarang, kata beberapa tetangga, Pak RTnya juga sama matrenya. (Aku heran, kenapa di ibu kota ini untuk mengurus KTP saja mesti berhadapan dengan “preman” ya?) Akhirnya aku tetap ber-KTP Madiun saja. Toh sejak awal aku tidak berniat menghabiskan sisa hidupku di ibu kota. Jadi masih akan pindah-pindah.

Sebenarnya aku ingin menunda untuk urusan e-ktp ini. Tetapi kupikir, daripada ribet di kemudian hari, aku sendiri yang repot. Selama bisa menghindari berurusan dengan pemerintah, sebaiknya tidak cari masalah kan? Akhirnya aku pun pulang.

Akhirnya Jumat tanggal 14 lalu aku pulang ke Madiun. Dari Jakarta pukul 15.00 naik kereta Senja Kediri. Keretanya bersih, dan walaupun kereta bisnis pedagang tidak ikut terus dalam kereta. Pedagang hanya masuk kalau kereta berhenti di stasiun besar. Lagi pula berhentinya tidak lama. Setelah kereta jalan, para pedagang itu pun turun. Ini berbeda dengan kereta bisnis jurusan ke Jogja. Dalam kereta bisnis ke Jogja biasanya pedagang masuk dan ikut terus dalam kereta sepanjang perjalanan. Tidak nyaman. Dan kurasa ini mengganggu keamanan kereta.

Aku sampai Madiun hari Sabtu pukul 02.30 dini hari. Sampai di rumah langsung tidur lagi. Pagi aku bangun, badanku pegal-pegal. Duh, begini deh kalau naik kereta malam. Tidurnya tidak nyenyak. Aku lalu bilang ke ibuku mau jalan-jalan pagi. Ibu lalu menjawab mau menemaniku jalan-jalan. Oke deh. Ibu lalu mengajakku jalan sampai Lapangan Gulun. Kira-kira 15 menit jalan kaki dari rumah. Ternyata lapangan Gulun ini sekarang jadi lapangan yang dipakai untuk jalan kaki masyarakat. Cukup ramai juga. Kebanyakan yang jalan kaki adalah orang yang sudah berumur. Ada juga kakek-kakek yang sedang belajar jalan lagi (tampaknya habis kena stroke). Di salah satu sisi lapangan ada bagian yang diberi batu kerikil, semacam untuk pijat refleksi. Dan di situ cukup banyak orang memakainya. Setelah kira-kira 30 menit jalan keliling lapangan, aku mencoba bagian yang berkerikil tersebut. Wuah, rasanya nyos banget! Hehe. Setelah jalan-jalan dan kena matahari pagi, badan jadi lebih segar. Gejala masuk angin sudah hilang. Ternyata obat masuk angin itu mudah saja ya. Jalan pagi dan kena sinar matahari.

Sorenya untuk urusan e-ktp ini, aku diminta datang ke kelurahan Oro-oro Ombo hari Sabtu pukul 18.00-20.00. Untung di rumah aku masih ada baju hem, jadi tak perlu pinjam atasan. Aku membayangkan, antriannya bakal panjang. Mesti duduk berjam-jam menunggu giliran. Tetapi ternyata tidak. Waktu aku sampai di sana, aku hanya perlu mengantri satu orang. Sebelumnya aku menyampaikan kepada petugas bahwa nama yang tercantum di KTPku terakhir keliru. Kurang, lebih tepatnya. Nama belakangku hanya ditulis Widyaning, bukannya Widyaningsih seperti dalam akte kelahiran. Petugas yang ada saat itu kebanyakan adalah anak muda. Sepertinya mahasiswa. Mereka awalnya kurang paham waktu aku menjelaskan bahwa namaku keliru. Kata bapakku, petugas yang dulu mengatakan nama dalam KTPku keliru karena tidak cukup tempatnya. Repot memang kalau punya nama cukup panjang. Sebenarnya aku lebih suka disingkat saja. Mbak-mbak petugas yang masih muda itu mengatakan sepertinya permintaanku itu tidak bisa dipenuhi. Si Mbak mengatakan, “Kalau kemarin itu ada kasus, minta ditambah gelar. Itu bisa. Tapi kalau namanya diperbaiki, belum pernah.”
Aku dengan sedikit ngeyel berkata, “Lha kalau nama saya disingkat trus dikasih gelar, bagaimana?”
“Kayaknya nggak bisa, Bu.”
Wah, bagaimana dong? Padahal bagiku, gelar itu tidak penting. Tapai kalau agar namaku bisa diperbaiki, aku harus mencantumkan gelar, ya apa boleh buat? Dan aduh, kok aku dipanggil Bu ya sama mbak-mbak itu? Tampangku sudah tua ya? Hehe. Memang sih, rambutku sudah banyak yang putih, tapi kan masih berjiwa muda πŸ˜€

Sewaktu aku memberi penjelasan panjang lebar itu (dengan ditambah penjelasan dari kedua orangtuaku yang ikut juga saat itu), tiba-tiba datang seorang bapak-bapak. Mbak-mbak petugas di garda depan itu lalu berkata, “Nah, ini ada Bapak X. Dia petugasnya Bu,” katanya.

Ibuku yang melihat bapak-bapak itu langsung berkata, “Lo, Dik X to yang bertugas? Njenengan yang mengurusi e-ktp?”
“Inggih, Bu,” jawabnya sopan.
Woalah … ternyata dia temannya ibuku waktu masih berkantor dulu. Bapak itu kemudian mengatakan bahwa namaku bisa diganti sesuai dengan akta kelahiran, asal aku belum difoto.

Akhirnya tak lama kemudian aku difoto, diambil sidik jari, tanda tangan, dan foto iris. Untuk foto iris ini, alatnya semacam teropong. Untuk itu semua hanya memakan waktu sekitar 5-10 menit. Rasanya lebih lama eyel-eyelan dengan petugas tadi daripada untuk foto dan lain-lain itu.

Aku sempat berpikir, bagaimana ya pelaksanaan e-ktp di Jakarta? Jika di Madiun, hampir tak banyak kendala. Kata ayahku, untuk satu RT di daerah kami, memang tidak semua diminta datang saat yang sama. Bergilir. Dan saudaraku yang rumahnya tak jauh dari kami, diminta datang pukul 20.00. Jarak rumah dengan kelurahan tempat untuk foto itu juga tak jauh. Naik motor lima menit sampai, deh.

Dari pengalamanku pulang kemarin itu, aku bersyukur besar di kota kecil. Di kota kecil, apa-apa mudah dan relatif aman. Ke pasar dekat, fasilitas penunjang kesehatan juga mudah dijangkau. Biaya hidup juga relatif murah. Jalanan di Madiun cukup lebar dan jarang sekali jalanan yang rusak. Mungkin bagi orang yang pertama kali datang ke sana, yang agak membingungkan adalah banyak jalan yang satu arah. Tetapi menurutku itu tak soal, karena arus lalu lintas jadi lebih rapi.

Ngomong-ngomong bagaimana e-ktp di daerahmu? Semoga lancar dan tidak banyak kendala.

Siapa yang Naik Angkot di Jakarta?

Ini cerita hari Minggu yang lalu. Agak terlambat aku menuliskannya. Jadi begini, suamiku selama dua minggu ke depan dapat tugas dari kantornya untuk mengajar di sebuah sekolah tinggi di daerah Bintaro. Tidak setiap hari, hanya Senin, Rabu, dan Jumat. Ini baru pertama kali dia diminta mengajar di sana. Dia hanya diminta mengajar materi persiapan tes GMAT untuk mendapatkan beasiswa.

Aku selama ini jarang sekali ke Bintaro. Pernah sih ke sana, tetapi selama ini kalau ke sana selalu nebeng saudara yang rumahnya tak jauh dari daerah tersebut. Karena ini terbilang “daerah baru” bagi kami, kami mencari-cari rute yang paling mudah untuk ke sana. Sebenarnya cukup banyak kendaraan ke sana. Bisa naik feeder busway dari depan Ratu Plasa, bisa pula naik kereta komuter. Tapi karena Senin pagi sebelum pukul 8 suamiku harus sudah sampai sana, ini jadi masalah. Kereta yang bisa membawanya ke sana tanpa terlambat adalah kereta pukul 06.25 dari stasiun Tanah Abang. Padahal, jarak dari rumah ke stasiun Tanah Abang cukup lumayan. Jika berangkat pagi-pagi, rasanya agak sulit mengandalkan metromini atau kopaja. Kalau kopajanya ngetem lama, bisa tak dapat kereta kan? Dan siapa yang bisa menjamin kopaja tak akan ngetem?

Oya, untuk mendapatkan informasi tentang jadwal kereta itu pun butuh cara berliku. Awalnya aku tanya ke teman-teman yang rumahnya di Bintaro, tanya juga ke teman yang biasa naik kereta dari dan ke arah sana. Sebagian besar temanku memang menjawab, tetapi ada pula yang tidak. Sebagian besar, hanya mengatakan naik kereta saja dari Tanah Abang lalu turun stasiun Pondok Ranji. Tapi jam berapa saja keretanya? Tak ada yang bisa menjawab. Ya, memang bukan pegawai PT KAI sih, ya… tentu tak hapal jadwal kereta. Hehe. Kebanyakan tahunya adalah jadwal kereta sore ke arah Bintaro/Serpong. Lah, kami kan butuhnya kereta yang pagi. Memang melawan arus sih. Kebanyakan orang pada pagi hari naik kereta dari Serpong ke Jakarta, bukan sebaliknya. Memang melawan arus itu agak repot ya. Hehe. Susah dapat informasinya.

Akhirnya kami coba browsing internet, mencari jadwal kereta. Sampai di situs PT KAI, kami kesulitan membaca jadwal yang tertulis di sana. Kalau ada yang bisa membaca jadwal kereta di sana dengan mudah, tolong kasih tahu aku ya. Mungkin aku yang terlalu bodoh hanya untuk membaca jadwal. Akhirnya dapat juga infonya, tapi itu pun dari sebuah situs lain.

Untuk memastikan, kami ke stasiun terdekat, yaitu ke Manggarai. Ternyata, di sana justru tidak banyak membantu. Kereta paling pagi ke arah Serpong pukul 7.30-an. Suamiku bisa terlambat dong mengajarnya. Jadi, memang mau tak mau harus ke Tanah Abang pagi-pagi.

Karena Senin kemarin adalah hari pertamanya, maka dia tak ambil risiko. Untung aku punya saudara yang rumahnya tak jauh dari sekolah tinggi tersebut. Akhirnya, aku minta izin untuk menginap supaya Senin pagi suamiku tak kerepotan. Jadi, Minggu sore aku dan suamiku menginap di rumah saudaraku. Karena tak pernah ke sana naik kendaraan umum, aku hanya tanya setelah turun di stasiun Pondok Ranji, nanti naik angkot apa? Saudaraku hanya bilang, nanti banyak angkot warna putih di sana. Naik itu saja, katanya. Kami dikasih pula ancer-ancernya, nanti kira-kira turun mana. Tapi aku tak mendapat informasi, mesti naik angkot nomor berapa, jurusan apa. Maklum, saudaraku ini tak pernah naik kendaraan umum. Selama ini kalau bepergian naik kendaraan pribadi atau taksi, dan baru dua bulan terakhir ini saja naik kereta komuter. Tapi kalau ke stasiun, ya naik kendaraan pribadi.

Aku dan suamiku akhirnya bermodal semangat, “Let’s get lost!” Toh kami bawa peta. Dan kami memang angkoter sejati. Ke mana-mana naik angkot. Lagi pula, ini kan masih Indonesia, kalau tanya masih bisa pakai bahasa Indonesia dan senyasar-nyasarnya paling ke mana sih? Nggak sampai ke daerah antah berantah kan? Hehe. Dan kami tak nyasar. Supir angkot yang kami tanyai tak memberi info keliru.

Namun, dari pengalaman itu, aku jadi bertanya-tanya, sebenarnya siapa sih yang mau naik angkot di Jakarta? Semua orang pasti sudah tahu betapa buruknya layanan kendaraan umum di Jakarta. Sopir metromini yang terkenal suka ngebut, angkot yang penuh dan panas, adanya penodongan dan bahkan belakangan ini pemerkosaan di kendaraan umum, dan kadang kalau belum sampai tujuan kita bisa dioper, dialihkan ke kendaraan lain yang lebih penuh. Sama sekali tidak nyaman. Aku kadang berpikir, kalau orang tua naik kendaraan umum, bagaimana ya? Ibu temanku pernah cerita bahwa ia sampai nangis waktu harus naik turun metromini. Uangnya tak cukup untuk naik taksi atau bajaj. Ia diturunkan dengan buru-buru dan langsung terpapar polusi. Yah, bagi orang yang sudah berumur, pengalaman seperti itu tidaklah mengenakkan. Aku tak sepenuhnya menyalahkan orang yang akhirnya memilih naik kendaraan pribadi. Aku yakin, orang yang mampu pasti memilih naik mobil pribadi daripada harus mengalami kekonyolan-kekonyolan yang tidak penting saat naik kendaraan umum. Tapi sampai kapan akan seperti ini?

Buatku, transportasi umum yang bisa diandalkan itu penting. Kalau tidak, semua orang pasti akan beralih ke kendaraan pribadi. Dan kalau kebanyakan orang naik kendaraan pribadi, jalanan akan makin penuh, kemacetan di mana-mana. Aku merasa, pemerintah tak punya niat baik untuk memperbaiki kendaraan umum. Aku baru tiga tahun di Jakarta, tetapi sama sekali tidak melihat adanya perbaikan yang signifikan dalam hal ini. Bahkan TransJakarta pun kubilang tak bisa diandalkan. Kalau jam sibuk, antrinya bisa setengah jam lebih. Dan lihat saja betapa panjangnya antrian di halte bus TransJakarta. Belum lagi kita akan didorong-dorong saat mengantri. Kadang bus yang ditunggu tak datang-datang. Kadang ada yang lewat, tetapi tidak mengangkut penumpang.

Jadi, sebenarnya siapa sih yang naik kendaraan umum di Jakarta ini? Mestinya kalau kendaraan umum di Jakarta ini bisa diandalkan, para walikota, pak gubernur, dan para pejabat lain kalau ke kantor selalu naik angkot tanpa pengawalan khusus ya? Buktinya, tidak kan?