Dua Puluh Tujuh

Ning, semalam kulihat bulan.
Seperti yang kita saksikan 27 tahun yang lalu, Mas Tok?
Seperti yang selalu kulihat di matamu.

 

Ning
Aku tak pernah mengira bisa menjalani hari-hari tanpamu selama ini. Dua puluh tujuh tahun bukan waktu yang singkat. Sejak kau meninggalkan kotaku, pertemuan kita bisa dihitung dengan jari. Mungkin sepuluh kali lebih, tapi belum tentu tiga atau empat tahun sekali kita bertemu.

Aku menyaksikanmu dari kejauhan. Seperti menatap elang yang terbang gagah di awan. Meliuk, berputar dengan sayap nan panjang terentang. Dirimu begitu jauh dari jangkauan.

Namun aku seperti menemukanmu lagi hari-hari ini. Dalam layar kaca, dalam gadget kecil yang bisa kubawa-bawa. Kita melemparkan harap. Mereka-reka rencana jika ada perjumpaan–seperti lagu Dinda di Mana. Kau pupus rinduku satu-satu, dengan suaramu yang kudengar dari jauh.

Tok
Aku tak pernah lupa padamu. Sesosok gadis malu-malu yang duduk di sudut halaman parkir gereja. Dan aku jatuh hati padamu.

Siapa yang bisa melarang seseorang jatuh hati? Walau semua akan menyebutkan seluruh batasan di antara kita, tetapi kita toh sempat mencuri waktu. Menggenggam tangan dalam beberapa perjalanan. Menatap bulan di tepi sawah, pinggir hutan jati.

Ning, kata novel yang kubaca, sebaiknya seseorang menikah dengan cinta pertamanya.

 

Seandainya bisa, Mas Tok. Seandainya keberanian ini tumbuh sejak dulu kala. Seandainya bisa.
Mestinya kau culik diriku, lalu kita terbang bersama ke balik awan. Melupakan segala apa kata orang dan mewujudkan impian.

Seberapa Dalam?

Tok
Seberapa jauh ingatanmu dan seberapa kuatnya perasaanmu tentang kita?

Ning
Aku tak pernah mengukur. Tapi denganmu walau setelah berlalu belasan tahun, rasa itu masih sangat kuat, Mas. Aku kadang merasa, hanya aku sendiri yang merasakannya. Banyak hal dan kesibukan yang menggulungmu. Kurasa aku sendirian…

Tok
Sebenarnya sampai sekarang aku masih merasakannya, Dik Ning. Jangan merasa sendirian lagi. Rinduku pun tidak ringan.

 

Apakah Pertemuan Daring Membuatmu Bahagia?

Belum lama ini aku terlibat sebuah proyek menulis yang membuatku ikut-ikutan seperti para pekerja kantoran lain, yaitu ikut pertemuan daring alias rapat online alias video conference. Apa pun sebutannya, pada intinya adalah acara rapat lewat zoom. Sadar bahwa aku gaptek, aku mengontak teman untuk mengajariku jarak jauh. Tentunya lewat zoom juga.

Seneng dong rasanya. Bagaimanapun karena lama tidak bertemu teman, begitu bisa ketemu walau hanya lewat bantuan internet, rasanya bisa memupus jarak yang selama ini terbentang gara-gara wabah. Lumayan bisa ngobrol-ngobrol.

Hari H rapat daring pun tiba. Aku sempat merasa agak excited awalnya. Oh, begini ya rapat daring tuh, begitu pikirku. Asyik juga ya. Dulu kupikir hal seperti ini hanya ada di film-film, tetapi sekarang rapat daring sudah menjadi kenyataan hidup.

Aku tak ingat berapa lama aku tahan mendengarkan paparan orang selama rapat itu. Tetapi rasanya tidak lama. Mungkin hanya tahan sekitar 30 menit pertama. Sesudahnya aku butuh jalan-jalan, berganti suasana. Jadi, selama bukan jatahku untuk presentasi, aku mengendorkan konsentrasi dan menyusun kata-kata yang hendak kusampaikan nanti.

Untungnya selama rapat daring, aku bisa mematikan fitur video, sehingga aku bisa sambil peregangan di samping kursi 😀 atau melangkah ke dapur untuk memanasi sayur.

Setelah tiga atau empat kali rapat daring, aku merasa kewajiban tatap muka lewat internet ini membutuhkan suatu energi yang tidak sedikit. Aku tak tahu penyebabnya, tetapi mungkin aku kurang bisa menangkap bahasa tubuh seseorang di seberang sana. Aku hanya berpegang pada suara yang rasanya lama-lama di telingaku terasa tidak nyaman. Apalagi aku bukan orang yang gemar mendengar. Maksudku, aku kurang bisa menyerap informasi lewat pendengaran. Aku lebih suka membaca dan melihat. (Mungkin itu sebabnya nilai listening-ku dulu waktu kuliah mentok di B. Hampir bisa dipastikan C sebetulnya.)

Sebagai makhluk introver, aku rupanya lama-lama kurang bisa menikmati rapat daring–walau hal itu membuatku tidak harus bertemu langsung dengan orang. Tetapi entah kalau rapat itu senang-senang saja alias ngobrol tak jelas juntrungannya.

Mungkin aku cocoknya berteman dengan wajan, loyang, dan panci di dapur untuk menghasilkan sup atau kue bolu. Atau sibuk menakar minyak dan soda api supaya minyak bisa berkawan akrab dengan air dan menjadi sabun. Tetapi aku kadang pengen juga ketemu (sedikit) teman dan mengobrol sehingga menghangatkan hati yang rindu terhantam social distancing.

Sepotong Teks di Pagi Mendung

Ning kepada Tok

Mendung sejak pagi. Hatiku ikut murung. Aku mencoba mencari semangat dengan membuka akun media sosialmu. Kulihat ada beberapa video yang kamu buat. Tetapi sepertinya membuka akunmu itu bukan pilihan yang tepat. Aku seperti terhantam meteor rindu bertubi-tubi, sehingga aku malah ingin bergelung sambil menangis mengingat dirimu.

Kukirim teks pendek. “Apakah mencintaimu itu suatu kebodohan dan kesia-siaan, Mas Tok?”

Lama tak ada jawaban. Aku berpikir, kamu sudah memulai kesibukan. Jadi barangkali kiriman teks pendekku tak akan terbaca atau malah “nyrimpet-nyrimpeti” langkah. Tapi sesungguhnya aku hanya mencari rengkuhan hangatmu dari jauh.

Sarapan pagiku kulewati dengan sedikit tergesa karena aku terlalu lama di tempat tidur. Rapat daring akan segera dimulai dan pikiranku masih berkelana padamu. Tulisan yang harus kupresentasikan kubaca sekilas. Sementara itu otakku mulai meluncurkan kata-kata tentang dirimu. Tentang pertanyaan-pertanyaan yang harusnya kusampaikan kepadamu tetapi sepertinya mandeg ketika sampai di mataku sehingga menimbulkan sumber air mata.

Aku tak tahu kenapa aku tercipta dengan otak yang memiliki jalan pikiran seperti ini. Yang membuat pikiranku rajin bergulir seputar tentang dirimu. Ingatan akan kenangan masa lalu bersamamu seperti berjalan beriringan dengan masa kini, tentang tepi hutan jati, tentang bulan yang mengintip dari balik awan, tentang genggaman sepanjang jalan ke Sendangsono, tentang berbatang-batang cokelat, tentang diary biru darimu dengan sepotong tulisan di halaman terdepan. Semua beriringan dengan beberapa tumpuk tugas tulisan yang harus kubuat, dengan laporan-laporan, dengan pesanan kue-kue yang mesti selesai akhir minggu, dengan setumpuk cucian, dengan urusan-urusan sepele sehari-hari yang tak pernah selesai.

Dorongan untuk menangis masih berdenyut di ujung mata.

Aku baru saja menyalakan laptop ketika kudengar pesan singkat masuk. “Tentu saja tidak bodoh dan sia-sia, Dik Ning.”

Mas Tok, rindu ini tak akan pernah selesai. Kamu tahu itu.

Di luar kulihat matahari sedikit menyembul. Seperti memberi secercah harapan.

Mengiur Waktu

Bulan puasa tahun ini lain rasanya. Kuamati tetanggaku sudah tidak menyalakan petasan lagi. Aku baru menyadarinya kemarin. Kok tumben setelah buka, tidak ada bunyi dar der dor. Biasanya suara yang membikin aku melompat dan menyumpah-nyumpah itu terus berdentuman walau sudah diprotes. Aku bersyukur atas hal itu. Entah mereka akhirnya sadar diri atau memang sedang berhemat sehingga tidak membeli petasan.

Hal lain lagi yang berbeda adalah dibagikannya takjil setiap setiap sore dari rumah ke rumah. Tahun-tahun sebelumnya takjil dibagikan di musola, sehingga otomatis warga muslim saja yang menikmati dan bergiliran membuat takjil. Karena setiap sore aku menerima bingkisan takjil berisi lauk, aku jadi tidak enak sendiri. Tidak urunan kok dikasih melulu? Rasanya semacam menerima “nasi tonjokan” dari orang yang punya hajat. Kalau sudah menerima nasi tonjokan, secara tersirat wajib menyumbang. Kalau tidak menyumbang, tidak tahu malu namanya.

Jadilah aku kemudian berinisiatif tanya kepada salah seorang tetangga. Singkat kata, aku mau ikut urunan. Tapi aku kan sebenarnya bertetangga dengan kakak (dan ipar) sendiri. Awalnya yang mau urunan cuma aku, tapi aku jadi berpikir, masak saudara sendiri tidak diajak? Akhirnya aku mengajaknya dan aku merasa ada sedikit miskomunikasi, yang membuatku merasa diabaikan atau jadi semacam makhluk invisible yang unrecognized. Rasanya aku memang mudah baper untuk hal seperti itu. Ya, aku memang cenderung berada di belakang layar. Tidak suka tampil. Suaraku juga tidak cukup lantang. Jadi mestinya wajar kalau tidak didengar. Ah, sudahlah. Aku berusaha ngepuk-puk diriku sendiri. It’s OK to be not OK, kan? Aku hanya ingin menangis untuk diriku sendiri. Menangisi kekonyolanku sendiri. Ini semua kutuliskan untuk ngudar rasa. Semacam melepaskan simpul di hati supaya tidak terus-menerus menyakiti hati sendiri.

Balik ke soal takjil tadi. Untuk takjil yang dibagikan, ada beberapa warga yang membentuk kelompok lalu urunan dan memasak bersama. Untuk urusan kebersamaan, boleh lah. Yang top banget adalah mereka memasak dalam jumlah banyak dalam kondisi puasa. Aku lupa pernah membaca di mana, sebenarnya puasa itu saat untuk “beristirahat” atau mengurangi kegiatan sehingga kemudian orang akan punya waktu untuk beribadah. Lagi pula, kurasa saat puasa kondisi fisik seseorang semestinya tidak sekuat kalau tidak puasa. Jadi tidak perlu melakukan pekerjaan berat yang menguras tenaga semacam angkat-angkat barang berat. Yang kuamati kemarin saat rewang untuk pembuatan takjil, tukang masaknya puasa semua. Dan memasak dalam jumlah banyak itu tidak mudah. Mesti mengangkat wajan besar atau baskom besar berisi bahan yang tidak ringan. Dan semua itu dilakukan perempuan! Tak ada bapak-bapak yang membantu sama sekali. Duh, Dek… Aku jadi bertanya-tanya, kenapa seperti ini ya? Apa sih yang dicari? Urunan uang membuat takjil saja tidak enteng bagi sebagian orang pada masa pandemi seperti sekarang. Ditambah mesti melakukan pekerjaan fisik yang menguras tenaga. Sebagai kaum rebahan dan tukang ketik seperti aku, hal seperti itu tidak masuk dalam pikiran. Namun, aku tahu dan paham betul bahwa tuntutan dari masyarakat sangat besar dan berat sehingga nyaris tak bisa terhindarkan. Seperti urusan “nasi tonjokan” itulah. Orang yang kuat pasti bisa dengan cueknya tidak peduli dengan hal seperti ini. Tapi buat orang yang berhati lemah atau yang biasa-biasa saja, pasti mau tak mau bakal kepikiran. Hidup di kampung tidak selamanya mudah sih.

Aku bisa bernapas lega urusan takjil ini selesai kemarin. Seharian kemarin aku sudah merelakan waktu yang mestinya kupakai untuk menyelesaikan terjemahan dan tulisan. Aku sudah urunan waktu dan tenaga serta sedikiiit uang. Mungkin tak berarti buat mereka. Jadi, sekarang mau balik ke laptop lagi. Ada yang mesti kukerjakan supaya aku tidak kehilangan pekerjaan.

Di Sini Saja Cukup

Aku merasa menulis di blog ini merupakan kewajiban kecil terhadap diriku sendiri. Aku butuh catatan untuk mengingat-ingat. Ingatan sering kali menjadi harta karun yang membuat senyum terkembang. Kadang aku terheran-heran, bagaimana bisa aku membuat tulisan seperti itu.

Belakangan aku merasa tidak perlu menyebarkan tulisan di blog ini lewat akun medsosku karena kebanyakan ini hanya catatan untuk diriku sendiri. Kalau sesekali ada orang yang ikut membacanya, silakan. Tetapi tulisan-tulisan di sini terutama untuk diriku sendiri.

Dulu aku merasa “butuh” banyak pembaca. Aku mengalami masa ketika aku beberapa kali bertemu teman sesama narablog. Tetapi aku lagi-lagi lebih suka berdiam di balik layar.

Kini aku menulis seperti ini saja. Sesukaku. Kadang lama tidak menulis. Sekalinya menulis, aku tidak “woro-woro”. Sempat aku terpikir untuk memiliki buku harian. Tetapi aku malas menyimpan tumpukan buku. Rakku sudah penuh dan aku tak ingin menambahnya dengan berjilid-jilid buku harian. Jadi, di (blog) sini saja cukup.

Apakah Kamu Berubah?

Banyak orang mengatakan rutinitas hidupnya berubah gara-gara corona. Yang biasanya berangkat ke kantor pagi-pagi, kini bisa bangun lebih siang dan bisa memilih tidak mandi. Mandi dirapel sekalian sore. Aku sempat mengalami perubahan: tidur lebih tertib–tidak lebih dari jam 10 malam; masak setiap hari dan sama sekali tidak absen; jalan pagi setiap pagi, dan lain-lain.

Namun seingatku hal itu hanya berlangsung sekitar pertengahan Maret sampai awal April. Waktu itu aku merasa lebih tegang. Setiap hari membaca berita tentang corona lalu mulai eneg. Eneg secara literal. Jadi, aku merasa pusing dan deg-degan tiap kali ada berita si virus. Tidak bisa tidak membacanya. Mata seperti otomatis mengunyah berita, tapi kepala akhirnya kekenyangan dengan segala macam info.

Sebelum bulan puasa berlangsung, aku sempat mencuri-curi beli makan di luar. Belinya di dekat-dekat sini, misalnya soto di selatan kampung. Hanya saja sekarang kalau beli makan dari luar, aku bawa rantang sendiri dan tidak lupa memakai masker. Namun, aku masih sering memasak kok. Cuma ada hari-hari ketika memasak menu sederhana terasa melelahkan–misalnya hanya sekadar bikin orak-arik.

Awal-awal, aku tiap hari melakukan gerakan yoga suryanamaskar. Minimal 25 menit setiap hari, dilanjutkan jalan pagi sambil berjemur. Rajin kan? Tapi sekarang, rebahan di kasur sambil main game atau membuka medsos betul-betul menggoda. Yang terjadi adalah, aku merasa tidak segesit kemarin-kemarin. Dengan aktivitas harian lebih banyak duduk, rebahan tentu bukan perpaduan yang tepat.

Sepertinya lama-kelamaan, tingkat keteganganku menghadapi corona mulai kendur. Yang kukhawatirkan, aku juga makin tidak waspada. Seperti pernah kubaca dalam sebuah buku, menunggu musuh datang saat perang adalah saat yang membosankan. Padahal kalau masa wabah begini, mestinya jangan sampai si musuh datang. Tak ada yang mau sakit. Tetapi aku masih rajin cuci tangan kok. Untung saja kebiasaan cuci tangan ini menempel cukup erat.

Aku lalu bertanya-tanya, apakah aku berubah? Seperti pendapatku yang dulu-dulu, aku pikir manusia itu sulit berubah. Cenderung begitu-begitu saja. Berubah itu tidak enak. Seperti menyuruh anak kecil yang lagi enak-enaknya main game di sofa, lalu disuruh menyapu seluruh rumah. Lho, gak ndelok aku lagi lapo? Sampeyan ae sing nyapu, Rek! Pasti banyak sekali alasan untuk menolak. Dorongan dari luar memang bisa mengubah seseorang, tetapi kesadaran dari dalamlah yang betul-betul menghasilkan perubahan. Perubahan yang timbul dari kesadaran itulah yang biasanya lebih langgeng.

Di satu sisi, timbul sebersit kesadaran bahwa bila aku rutin beryoga, keluhan pada kakiku akan berkurang–yang mana sangat menguntungkan aku. Namun, menggerakkan kaki dan tangan untuk menggelar matras saja kadang diganduli banyak godaan. Rasa-rasanya butuh niat sebesar galaksi untuk mengusir keengganan.

Satu Mei

Ning kepada Tok

Aku sudah lupa apakah hari benar-benar berganti. Apakah minggu berganti bulan sejak adanya pandemi ini. Apakah kita hanya menghitung jam yang hanya jalan di tempat?

Kadang aku tak ingat, apakah sebagai manusia, kita ini menguasai waktu atau waktu yang mengikat kita?

Dan sejak pandemi, kadang waktu memupus harapan.

Tetapi lagu First of May kirimanmu tadi siang membuatku memiliki harapan lagi. Minggu benar-benar telah berganti menjadi bulan.

Terima kasih ya atas lagu First of May-nya The Bee Gees, ya Mas Tok.

 

Tok kepada Ning

Minggu-minggu pandemi sering kali membuatku merasa sepi. Banyak kegiatan yang harus kuhabiskan di dalam ruangan sendiri. Memang sesekali aku meeting lewat internet, bertemu banyak wajah. Tetapi seperti kubilang padamu, Ning, rasanya sepo. Hambar.

Harus kuakui sapaanmu yang nyaris setiap hari, seperti membuka harapan. Ada hatimu yang mencinta, yang memberi rasa pada kehampaan.

Ning yang manis, terima kasih atas pelukan doamu.

Talang dan (te)Tangga

Sudah lama aku merasa was-was dengan talang rumahku. Masih ada sisa abu letusan gunung di sana. Entah abu Merapi atau Kelud, aku tak tahu persis. Walau jumlahnya tidak terlalu banyak, tetapi cukup untuk menumbuhkan satu-dua rumput kecil. Aku pikir kalau ada hujan deras, tumpukan abu yang menjelma menjadi semacam tanah dan lumut akan ikut arus. Tetapi coba pikir, sudah berapa lama ya letusan gunung itu terjadi? Sudah melewati hitungan tahun, tetapi toh sisa abu itu masih ada.

Aku bukannya tidak berusaha membersihkannya. Aku sudah mencoba menggosoknya dengan tongkat. Tetapi tidak hilang juga. Aku hanya bisa pasrah. Semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk dengan talang air itu.

Namun, kemarin hari lalu, saat hujan deras, mendadak aku dikejutkan dengan suara keras seperti barang jatuh. Waduh, apa ya? Apakah ada genteng jatuh? Apakah ada tembok jebol? Aku sudah berpikir yang bukan-bukan. Maling? Hujan-hujan begini?

Ternyata talangku patah! Eh, bukan patah sih, tetapi klem sambungannya lepas, jadi satu bagian talang turun dan menimbulkan air terjun kecil yang dengan sukses menciprat ke ruang tengah. Bagus banget, dah!

Malam itu juga aku mengirim WA kepada tetanggaku yang biasa kumintai tolong untuk membereskan masalah rumah. Untungnya berjodoh. Si bapak menyanggupi hari ini membereskan talang. Bapak ini cukup sibuk biasanya dan dia adalah “pria panggilan” yang banyak pelanggannya.

Pagi tadi aku terbangun dan langsung ingat pada talangku. Lalu aku teringat bahwa aku tidak punya tangga yang cukup tinggi untuk mencapai talang. Nanti si bapak tukang itu pakai tangga apa dong untuk membetulkan talang? Sebetulnya aku punya tangga, tetapi ada tetanggaku yang lain yang meminjam tangga itu dan lama sekali tidak dikembalikan. Malahan dia bilang, “Tangganya aku rawat di rumahku ya?” Menyebalkan kan? Dan bodohnya aku iyain saja waktu itu. Pikirku, ah nanti beli tangga lagi saja.

Tetapi saat talang rusak di masa wabah di mana aku mesti berhemat-hemat supaya dompet tak cepat sekarat, membeli tangga baru bukan pilihan. Aku pun memilih menagih tangga ke tetangga yang notorious itu. Dan tetanggaku bilang, tangga itu tidak ada padanya. Dipinjam saudaranya yang tinggal di daerah utara sana. Tetapi aku niatku menagih tidak surut. Toh tangga itu milikku, kan? “Mintta tolong tangganya dikembalikan, ya Bu. Saya sedang butuh. Kalau pagi ini tidak bisa, saya tunggu sampai nanti siang. Betul ya, nanti siang saya tunggu.” Dua kali kutegaskan supaya dia mengembalikan tangga. Dalam hati aku sebetulnya merasa dimanfaatkan oleh tetangga yang notorious ini. Sebagai pendatang yang beragama minoritas (hanya 1-2 rumah yang beragama minoritas di sini, dan beberapa kali kudengar bahwa mereka “kecolongan” atas kehadiran kami), aku sempat merasa sebagai warga kelas dua. Tapi aku pikir, aku tak mengganggu mereka. Jadi, biarlah. Selama ini tetangga-tetangga terdekat cukup baik walau kadang ada yang yaaah… gitu deh, tetapi hal itu tak terlalu kupikirkan. Saat ini aku berusaha meminta hakku. Dan aku tidak salah dong ya?

Singkat kata, bapak tukang yang hendak membetulkan talang sudah siap. Betul perkiraanku, tak ada tangga. Tangga yang ada tidak cukup tinggi. Sementara tangga yang kutagih belum tiba. Lalu bagaimana? Untungnya ada tetangga satu lagi yang punya tangga cukup tinggi dan kokoh. Talang pun diturunkan dan dibersihkan! Ah, aku jadi lega saat aku bisa ikut membersihkan talang yang sudah lama kucemaskan karena sisa abu gunung masih menggumpal itu. Aku ikut menyikatnya sampai bersih!

Siang tadi, sebelum jam 12, talangku sudah beres dan rapi. 🙂 Lalu tangga milikku yang kutagih itu akhirnya dikembalikan–setelah talang dibetulkan. Happy ending ceritanya. Dan aku siap menanti hujan–soalnya hari ini panaaasss sekali!

Kesan Misa Online

Beberapa bulan yang lalu, aku sudah berencana akan pulang pada Paskah tahun ini. Saat kulihat jadwal, lingkungan tidak dapat tugas besar saat Tri Hari Suci. Jadi aku bisa pulang, pikirku. Tapi aku masih menimbang-nimbang, akan naik mobil sendiri atau naik kereta. Belum sempat aku membuat keputusan, himbuan #dirumahsaja sudah mulai digaungkan. Dan demi menjaga kesehatan kita semua, aku batal pulang. Angan-angan Paskahan di rumah bareng Bapak dan Ibuk pupus.

Selama Tri Hari Suci aku ikut misa online. Memang ada yang aneh ya. Tapi lama-lama jadi biasa. Yang kurang adalah kita tidak bisa terima komuni. Tetapi kapan lagi bisa misa dengan Bapak Uskup langsung, datang kurang 5 menit, dan duduk paling “depan”? Selain itu, aku bisa “main-main” ke gereja lain, ke Jakarta, ke Pontianak, ke Semarang, dsb.

Ada teman di FB yang bilang dia merasa belum misa walau mengikuti misa online. Kalau buatku, rasanya yah separuh misa, separuh enggak. Tapi seperti kujelaskan tadi, aku mulai cukup terbiasa. Mungkin terasa praktis ya. Sempat agak terharu, tapi cuma di misa pertama saja. Selanjutnya baik-baik saja. Aku merasa gereja saat ini membuat terobosan dengan cepat.

Aku bertanya-tanya misa online seperti ini akan ada sampai kapan. Ada yang memperkirakan sampai akhir Mei. Tetapi aku pikir sepertinya bakal lama. Hitungan 1-2 bulan tidak cukup–mengingat orang Indonesia sangat sulit disiplin. Aku membayangkan, seandainya dua bulan lagi gereja sudah mengadakan misa, apakah aku akan mulai ke gereja lagi? Sepertinya aku akan berpikir-pikir dahulu. Rasanya lebih aman misa online di rumah begini. Apalagi mengingat orang Indonesia kurang disiplin, flu sedikit masih ke gereja, salaman kiri kanan. Wah, aku jadi parno sendiri. Apakah mungkin di gereja duduknya saling berjarak? Butuh berapa kali misa? Apakah bangku gereja akan cukup?

Sepertinya akan ada “new normal” gara-gara ada wabah corona ini. Mulai dari sekadar keluar pakai masker sampai misa online. Aku merasa tidak masalah jika tidak ke gereja selama beberapa bulan dan tidak komuni selama berminggu-minggu. Justru kali ini aku bisa belajar beragama secara lebih personal. Lagi pula ini demi tujuan yang lebih besar, yaitu demi keselamatan bersama. Jadi, kurasa ini tidak masalah. Bahkan kurasa ada sisi positifnya, yaitu orang-orang sakit yang selama ini sulit sekali ke gereja jadi bisa “ikut” misa. Dengan adanya misa online, mereka merasa tersapa dan dijangkau.

Sebelum tulisan ini berakhir, aku mengucapkan selamat Paskah untuk teman-teman yang merayakan. Semoga kita dimampukan untuk mencintai sesama lebih dalam. Have a happy and healthy Easter!