Obat Malas

Aku tidak ingat sejak kapan sandal dari busa itu mulai ada di teras belakang rumahku. Tepatnya hanya beberapa jengkal di pinggir depan pintu kamar mandi. Rasanya keberadaan sandal itu sudah masuk hitungan bulan–tak hanya hitungan minggu atau hari. Memang sudah lama sih kubiarkan dia ada di situ.

Sebetulnya aku sudah berencana untuk menyikatnya sejak sandal itu teronggok begitu saja di rak sepatu depan. Sandal itu sebenarnya adalah sandal khusus untuk di dalam rumah. Tapi apa daya, waktu itu ada yang mendadak memakainya untuk lari-larian di halaman. Ya sudahlah. Mau  tak mau harus dicuci kan? Masalahnya memang aku agak dongkol waktu itu pada si pemakai sandal itu. Wong di depan jelas-jelas ada beberapa sandal lo, kok ya dia itu pilih sandal yang duduk manis di dalam rumah. Benar-benar mau menambah kerjaanku saja. Jadi, ya begitulah. Campuran antara dongkol dan malas, menimbulkan penundaan yang tak ketulungan.

Tapi entah apa sebabnya, kok sekonyong-konyong, sore itu aku mengambil sandal yang tampak butut itu untuk kusikat. Mungkin aku sudah gemas dengan diriku sendiri. Dan ya begitu saja, rasa malas yang tercampur rasa dongkol itu akhirnya bisa kubabat dengan langsung menyikat sandal butut itu. Pokoknya sikat saja, bleh!

Setelah selesai menyikatnya, aku jadi tersadar, “Oo … jadi caranya membabat kemalasan itu adalah dengan mengerjakan apa yang selama ini kutunda-tunda.” Sesederhana itu, tampaknya.

Sekarang sepertinya begitu saja deh formula yang mau kupakai kalau aku mulai kumat malasnya dan mulai menunda-nunda melakukan sesuatu yang sebetulnya penting. Semoga ini tak hanya jadi tulisan. Setidaknya, tulisan ini jadi pengingat buatku kalau lagi malas. Hehe.

Nah, jangan malas lagi ya! (Ngomong sambil ngaca …)