Karena Tak Ada Kenek

Belakangan ini, ketika naik metromini dari Rawamangun, kuperhatikan jarang ada  sopir yang diasisteni oleh kenek. Entah kenapa sekarang seperti itu. Mungkin para kenek itu minta honor mereka dinaikkan, dan para sopir (eh, atau malah pemilik metromini?) enggan memenuhi permintaan mereka. Barangkali daripada kuping mereka lama-lama jadi tebal karena para kenek mengomel minta agar honornya dinaikkan, ya mending mereka dirumahkan. Eh, ini cuma perkiraanku saja lo. Perkiraan yang asal. Yang tidak pakai mikir. Hehehe. Lagi pula aku kan bukan kenek, mana aku tahu soal beginian?

Nah, tidak adanya kenek ini sebenarnya agak merepotkan buatku. Kalau ada kenek, aku kadang tidak membayar dengan uang pas (2 ribu). Ya, bisa 5 ribu, 10 ribu, kadang ya 20 ribu. Sekalian menukarkan uang. Kan kadang aku betul-betul tak punya uang kecil. Dulu sih aku pernah membayar angkot/metromini dengan receh 100-200 rupiah sampai sejumlah 2 ribu. Si kenek itu sih tak pernah marah, tapi aku sekarang lebih suka memakai uang receh cepekan itu untuk membayar belanjaan di supermarket atau pasar. Sepertinya uang receh itu lebih berguna kalau di tempat perbelanjaan deh. Daripada aku dapat kembalian permen, kan mending aku bayar dengan uang receh.

Nah, karena sekarang tak ada kenek di metromini, agak repot juga. Biasanya penumpang membayar langsung kepada sopir pas akan turun. Kebayang repotnya dong? Sopir kan harus konsentrasi ke jalan. Dan di sela-sela konsentrasinya itu dia harus menerima uang dari penumpang. Kalau harus memberi kembalian, agak repot juga sepertinya. Aku sih takut kalau si sopir terlalu lama menghitung uang, bisa-bisa dia agak abai dengan kondisi jalan. Kalau kecelakaan bagaimana? Ih, serem deh! Karena itu aku kini mau tak mau harus sedia uang pas kalau akan naik metromini.

Kemarin aku naik metromini 03 jurusan Rawamangun-Senen. Karena sudah tahu bahwa sekarang banyak metromini yang tanpa kenek, aku sudah siapkan uang pas. Kira-kira di daerah Cempaka Putih, naik seorang perempuan. Dari baju yang dikenakan, tampaknya dia seorang baby sitter. Dia naik sendirian. Begitu naik, dia langsung asyik membaca koran. Dia duduk di belakang sopir. Tak lama kemudian, naik pula dari pintu belakang seorang lelaki. Lelaki ini mendadak ngoceh tak karuan. Oh, rupanya dia peminta-minta dengan nada agak menodong. Biasanya yang seperti ini aku cuek saja. Tak perlu diperhatikan. Biar saja. Asal dandananku tak mencolok, aku sih pede tak akan diapa-apain. Waktu dia minta uang, dia pakai acara mencolek-colek. Mirip kenek yang minta ongkos kepada penumpang, gitu lo. Karena sejak awal aku tahu bahwa orang ini cuma minta duit, ya aku cuek saja. Nah, waktu mencolek-colek si mbak baby sitter itu, si mbak langsung memberikan uang 10 ribu yang sejak tadi dipegangnya untuk membayar ongkos kepada sopir. Si baby sitter ini lalu minta kembalian. Ya, jelas dong lelaki peminta-minta itu tidak terima. Lagi pula, itu kan ibarat rejeki nomplok. Langsung deh, mbak baby sitter itu disemprot oleh lelaki itu. Mbak baby sitter itu pun mundur. Mengkeret. Barangkali aku pun mengkeret juga kalau dikata-katai oleh orang berwajah sangar.

Melihat hal itu, mbak baby sitter lalu “lapor” kepada sang sopir. Kurasa karena sang sopir menganggap jatah 2 ribu untuknya kini berada di tangan lelaki sangar itu, dia pun menyuruh mbak baby sitter untuk meminta kembali uangnya. Setelah eyel-eyelan disertai makian, akhirnya uang 10 ribu itu pun bisa kembali.

Hhh … aku yang mengetahui kejadian itu ikut lega. Awalnya aku agak ragu sih uang itu akan dikembalikan. Soalnya kasar betul lelaki peminta-minta itu. Kalau dia tiba-tiba mengeluarkan senjata tajam–cutter, pisau, atau sejenisnya–bagaimana? Ini kan ibu kota yang lebih kejam dari ibu tiri hihihi. Namanya juga naik metromini. Keselamatan penumpang harap tanggung sendiri-sendiri 😉

Jadi, moral ceritanya apa nih? Hehe, penting ya?

(1) Sediakan selalu uang receh atau uang pas saat naik kendaraan umum.

(2) Kalau ada orang yang colek-colek di bus, jangan langsung dikasih uang. Lalu, jangan baca koran melulu. Cek juga siapa yang colek-colek. Kalau yang mencolek kenek, baru dikasih duit. 😀

(3) Uang untuk bayar angkot sebaiknya tidak digenggam terus. Selain tangan kita jadi kotor karena kelamaan pegang uang, kita kadang jadi reflek memberikan uang saat dicolek, karena mengira yang mencolek adalah kenek. Padahal kan belum tentu. Kalau yang mencolek mas-mas sangar tukang todong? Mesti pakai acara eyel-eyelan minta balik duit kita segala kan males.

(4) Usahakan tidak berpenampilan mencolok saat naik kendaraan umum di Jakarta. Sekali lagi, ini ibu kota yang lebih kejam dari ibu tiri. 😀 Eh, menurut pengamatanku, orang yang suka minta-minta duit, biasanya lebih berani kepada perempuan yang tampak rapi dan alim. Hmm, mungkin aku salah juga. Tapi beberapa kali kulihat perempuan yang berkerudung dan perempuan yang berpenampilan rapi kadang lebih lama dicolek-coleknya. Justru ibu-ibu yang sudah berumur dan tampangnya agak judes, tidak terlalu lama dicolek-coleknya. Eh, tapi siapa tahu pengamatanku salah ya soal ini. Harap dikoreksi, ya. 🙂

Akhir kata, waspadalah kalau naik kendaraan umum di Jakarta. Dan jangan terlalu berharap ketemu kenek yang cakep seperti Delon. *Halah!*

Advertisements

Upin Ipin, Fizi, dan Pengangkut Sampah

Upin dan Ipin barangkali merupakan film cerita anak-anak yang cukup fenomenal saat ini. Aku sendiri tidak tahu sampai seberapa jauh film ini sudah merasuk pada anak-anak zaman sekarang. Namun yang jelas, saat ini kerap kali aku melihat beraneka mainan atau buku dengan gambar tokoh Upin dan Ipin. Sebenarnya, aku tidak terlalu suka dengan menjamurnya tokoh Upin dan Ipin di berbagai mainan anak-anak itu. Tetapi harus kuakui, aku menikmati menonton film anak-anak tersebut. Lucu, cerdik, dan khas anak-anak adalah kesan yang menempel setiap kali usai menyaksikan film tersebut. Walaupun satu film sudah diputar berulang kali, aku tak terlalu bosan menontonnya. Hmm, barangkali karena aku tidak punya televisi ya? Jadi aku menontonnya pun jarang-jarang, hanya pada saat mudik, berkunjung ke rumah teman atau saudara yang punya televisi

Salah satu adegan film yang aku ingat betul adalah ketika Cik Gu (Bu Guru) memberi tugas kepada Upin Ipin serta serta teman-temannya di seluruh kelas untuk menggambarkan cita-cita mereka. Yang aku ingat, Jarjit menempelkan gambar polisi yang menangkap pencuri. Apakah Jarjit bercita-cita jadi polisi? Oh, tidak. Lalu, dia jadi pencurinya dong? Tidak juga. Rupanya dia ingin jadi pembawa berita di televisi. Ceritanya, ia akan mengabarkan kejadian semacam itu di televisi. Cara penyampaian yang unik. Lalu keunikan yang kedua adalah cita-cita Fizi. Dia menggambarkan dirinya sedang naik di belakang mobil pengangkut sampah. Awalnya, tentu dia ditertawakan oleh seluruh kelas. Tetapi Cik Gu dengan bijaknya memberi penjelasan bahwa cita-cita Fizi itu mulia. Coba kalau tidak ada petugas pengangkut sampah? Apa jadinya lingkungan kita? Bakalan bau dan jelas tidak sehat.

Siang ini baru saja gerbang halaman depan rumahku dibuka. Rupanya tukang sampah datang. Lelaki berkaus cokelat itu mengambil kantong-kantong plastik berisi sampah dari tong sampah di dekat pohon kelapa dekat pagar. Kantong-kantong itu ia kumpulkan dalam satu keranjang bambu. Setelah itu, ia menyapu bagian dalam tong sampah dan membuang air hujan yang menggenang di dalamnya. Tak sampai 10 menit ia melakukan itu semua. Kemudian ia membawa sampah-sampah kami dalam gerobak sampahnya.

Aku tak tahu, apakah Fizi pernah menyaksikan petugas pengangkut sampah yang biasa bertugas di lingkungan tempat tinggalku. Hmm, barangkali bukan Fizi secara literal ya? Maksudku, sang penggagas cerita tersebut tentunya. Cerita Upin dan Ipin memang buatan Malaysia, dan barangkali di sana petugas pengangkut sampah tampak lebih rapi. Barangkali, lo ya? Wong aku belum pernah ke Malaysia. 🙂

Aku rasa, dari sekian banyak anak yang bersekolah di Indonesia tidak ada yang bercita-cita menjadi petugas pengangkut sampah seperti lelaki yang kusaksikan siang ini. Mungkin, pengangkut sampah itu pun tidak menghendaki anaknya meneruskan pekerjaan ayahnya. Siapa sih yang ingin berkotor-kotor mengangkut sampah? Kupikir, semulia-mulianya pekerjaan mengangkut sampah, pekerjaan itu dianggap pekerjaan kelas bawah.

Bagaimanapun, sampah itu perlu dikelola. Banyak hal yang aku pikir bisa dilakukan untuk itu. Yang paling gampang adalah dengan memilah sampah. Dengan memilah sampah itu saja, petugas pengangkut sampah kupikir sudah cukup terbantu pekerjaannya. (Dari pengalamanku, dipisahnya sampah organik dan nonorganik membuat bak sampah menjadi relatif tidak berbau.) Yang kedua barangkali para petugas pengangkut sampah ini bisa lebih diberdayakan lagi. Mereka tak hanya mengangkut sampah, tetapi bisa membuat bank sampah. Bank sampah adalah suatu wadah di mana warga bisa mengumpulkan sampah nonorganik dan mereka bisa mendapatkan uang (karena sampah anorganik itu bisa didaur ulang dan menghasilkan uang). Soal bank sampah ini bisa dilihat di sini.

Aku berharap kelak ada film (anak-anak) yang menggambarkan tentang pengolahan sampah. Jadi Fizi tak hanya bercita-cita menjadi pengangkut sampah, tetapi menjadi pengolah sampah. Semoga pula orang-orang yang kini telah mengelola sampah terus menjadi inspirasi bagi kita. Dan kita semua akhirnya menjadi lebih bijak dalam memandang dan mengurus sampah.

Demo? Ngeblog Saja Deh ….

Hal yang mau kuceritakan ini berlangsung pada hari Kamis yang lalu tanggal 12 Mei lalu. Telat ya nulisnya? 😀

Kamis siang itu, aku meluncur ke seputaran Sudirman. Niatnya adalah makan siang dengan suamiku. Jarang-jarang sih bisa ada waktu kosong di sela-sela dia mengajar, jadi ketika ada kesempatan kami pun berniat makan siang bareng. Sekalian mencari sepatu sandal buatnya karena miliknya sekarang sudah menunjukkan tanda-tanda bisa jebol saat dipakai.

Aku sengaja naik bus patas 16 dari Rawamangun. Sengaja memilih bus itu karena bus itu berangkatnya tak jauh dari rumah serta lewat depan kantor suamiku dan bisa langsung menuju ke tempat tujuan. Perjalanan dari terminal Rawamangun sampai kantor suamiku sih lancar. Tetapi waktu sampai Dukuh Atas, jalan Sudirman menunjukkan kemacetan yang tidak biasa. Ada apa nih? Bus yang kami tumpangi lewat jalur lambat. Jalan agak pelan.

Aku masih bertanya-tanya, ada apa ya? Ada pejabat mau lewat? Ada mobil mogok?

Rupanya ada iring-iringan metromini di jalur cepat. Di belakangnya ada mobil polisi yang mengiringi. Di atap metromini itu banyak anak muda duduk seenaknya. Ada yang memukul drum. Kalau tidak salah satu atau dua orang yang berdiri (menari-nari?). Ada yang menarik-narik batang-batang pohon yang ada di pinggir jalan. Mereka berteriak-teriak tak jelas. Yah, pokoknya tidak karuanlah.

Di bagian depan ada pemuda (yang juga duduk di atas atap metromini) yang memegang pengeras suara. Di depan Atmajaya kami turun. Dan saat itulah aku bisa mendengar teriakan mereka. Ooo, rupanya mereka sedang menghujat pemerintah. Kata-katanya kasar sekali. Banyak umpatan yang mereka lontarkan.

Inilah “nikmatnya” kemacetan yang diakibatkan oleh demonstrasi. Sebel? Iya. Tetapi aku tak habis pikir, kenapa mereka melakukan hal itu. Untuk menyuarakan suara rakyat? Agar didengar oleh pihak yang berkepentingan? Oke deh, terserah lah apa maunya mereka. Yang jelas mereka sudah mengganggu kepentingan umum. Dan kalau mereka hendak menyampaikan suara rakyat, aku sebagai bagian dari rakyat kok rasanya tidak suka ya? Penyampaian mereka yang penuh umpatan dan perilaku mereka yang tidak karuan itu membuat sakit telinga dan sakit mata. Aku berpikir, apa tidak ada cara yang lebih baik, lebih sopan, lebih elegan, dan lebih terhormat?

Oke, memang banyak hal yang tidak aku setujui dengan pemerintahan saat ini. Mulai dari soal penegakan hukum sampai sikap anggota DPR yang memalukan, mulai dari masalah HAM sampai TKI, dan sebagainya. Mungkin mereka juga merasakan hal yang sama. Mereka kini punya cukup nyali untuk menyampaikan ketidakpuasan rakyat. Dan anggaplah nanti mereka bisa duduk di pemerintahan, kok rasanya aku tidak setuju ya?  Apa jaminan mereka lebih baik dari pemerintahan sekarang? Dengan kelakuan mereka yang petakilan tidak karuan itu, jelas mereka sama buruknya.

Dengar-dengar, orang-orang yang berdemo itu memang dibayar. Kurasa memang masuk akal. Siapa sih yang mau berpanas-panas di siang hari bolong untuk berteriak-teriak seperti itu? Lagi pula menilik perilaku dan baju yang mereka kenakan, rasanya kok mereka itu pengangguran ya? Entahlah, penilaianku ini benar atau tidak.

Melihat orang-orang yang berdemo itu, aku jadi berpikir bahwa seberapa pun baiknya hal yang sebenarnya hendak kita sampaikan, tetapi jika cara yang dipakai mengganggu orang lain, orang tak tidak akan menghormati kita. Selain itu kupikir cara kita menyampaikan idealisme, cita-cita, pendapat, rasa tidak puas, atau apa pun itu akan menunjukkan kualitas kita. Kalau cara menyampaikannya buruk, mengganggu orang lain, dan terlebih dengan menggunakan kekerasan, itu kan justru menunjukkan betapa bodohnya orang tersebut, alias “ndak kreatip”. Mendingan ngeblog daripada demo plus teriak-teriak di siang hari bolong hehehe. 😀

Mengintip Kecantikan Indonesia dalam The Mirror Never Lies

Ada pertanyaan yang kadang bergema di benakku: “Apakah aku sudah mengenal Indonesia? Seberapa kenal?” Pertanyaan ini belum menemukan jawaban yang pasti. Entahlah. Mau dijawab sudah kenal, tapi kok rasanya belum kenal-kenal amat. Tapi kalau dijawab belum, kok rasanya keterlaluan. Bagaimanapun, sebagai orang Jawa yang lahir dan besar di Pulau Jawa, aku merasa hidupku ya seputar Jawa. Ketika suatu kali aku berkunjung ke Pulau Bali dan Belitung, sempat terbersit dalam pikiranku, “Eh, ini bagian dari Indonesia juga ya? Ternyata Indonesia itu bukan cuma Jawa dan Jawa dan Jawa.” (Ya iyalah… baru sadar ya? Kasihan deh aku. Hahaha.) Melihat Indonesia dari pulau lain selalu memberikan kesan lain dalam diriku tentang Indonesia. Kesan itu ya soal keindahannya, soal keragaman budayanya, soal Indonesia itu sendiri. Kemarin aku mendapat sekilas perenungan untuk menjawab pertanyaan di atas dari film yang kutonton.

Kemarin aku dan suamiku nonton film, judulnya The Mirror Never Lies (Laut Bercermin). Pertama kali melihat poster film Indonesia itu, aku sebenarnya tak ingin terlalu berharap mengingat film terakhir “?” yang kutonton rasanya biasa-biasa saja. Jangan-jangan film ini juga mengecewakan. (Eh, ini bukan karena isu pluralisme yang ada di film “?”. Tetapi lebih karena film “?” tidak nendang. Mungkin si pembuat film terlalu terbebani untuk menyampaikan pesan, jadi sisi sinematografinya tidak tergarap dengan baik. Biasa sangat.) Entah kenapa ya, kalau ada label film Indonesia, kok aku belakangan agak tak yakin bakal bagus. Apalagi belakangan yang paling mendominasi adalah film pocong dan kawan-kawannya. (Gambar dipinjam dari sini.)

Oke, jadi bagaimana film tersebut?

“Film ini settingnya di Wakatobi,” kata suamiku.
Eh, Wakatobi itu di mana sih? Rasanya pernah dengar. Ketahuan kan kalau pelajaran geografiku buruk? 😀
“Berkisah tentang suku Bajo,” lanjutnya.
Apa itu suku Bajo? Aku memang pernah membeli buku yang mengisahkan perjalanan seorang antropolog Perancis yang sempat menghabiskan waktu beberapa bulan bersama orang Bajo. Tetapi, aku baru membaca sekilas buku itu dan belum kubaca lebih detail. Niatnya sebelum nonton ingin membaca buku itu dulu, tetapi tumpukan baju kotor lebih memaksaku untuk mencuci daripada melewatkan waktu membaca buku. 😦

Buku "Orang Bajo" yang masih menunggu untuk dibaca lebih saksama

Lanjut dulu saja deh.

Film itu menceritakan kisah seorang gadis pra-remaja bernama Pakis (Gita Lovalista). Ayahnya hilang di lautan. Ia sekarang tinggal dengan ibunya, Tayung (Atiqah Hasiolan), yang kini menjadi tulang punggung keluarga. Tayung dan Pakis sering berselisih. Masalahnya, Pakis masih berharap ayahnya akan pulang sembari terus menghidupkan kenangan dengan sang ayah, sedangkan Tayung berusaha untuk realistis dan berusaha menerima bahwa suaminya memang sudah tiada. Bagaimanapun perilaku Pakis yang sering berkutat dengan cermin pemberian ayahnya dan beberapa kali pergi ke paranormal untuk menanyakan keberadaan sang ayah, membuat Tayung sedih. Tetapi dia berusaha menyembunyikan kedukaannya itu lalu ia mulai memakai pupur putih di wajahnya.

Pakis berteman dekat dengan Lubo (Eko), seorang bocah lelaki teman sekelasnya. Menurutku dia menjadi penyeimbang karakter Pakis yang sering sedih. Bocah itu ceria dan sering membantu Pakis.

Suatu hari, datanglah Tudo (Reza Rahadian), seorang pemuda Jakarta yang meneliti lumba-lumba. Awalnya Pakis kurang suka dengan Tudo. Tetapi lama-lama Pakis sering membantu Tudo juga–tentunya dengan Lubo dan salah seorang kawannya yang suka bernyanyi Kutta (Inal). Kisah film itu berkembang di sekitar para tokoh itu: Pakis, Tayung, Tudo, dan Lubo.

Bagiku yang menarik dari film itu adalah gambaran tentang suku Bajo yang kental. Kekentalan itu tampak dari bahasa yang dipakai, yaitu bahasa orang Bajo. Jangan khawatir, ada terjemahan bahasa Indonesianya kok. Lalu ditambah lagi, pengambilan gambar cukup detail tentang keseharian masyarakat Bajo (tentang kasuami, pasar tempat mereka berjual-beli, kaum lelaki yang mencari ikan, dll) dan upacara adat mereka (upacara perjodohan serta penguburan). Dan yang paling keren adalah gambar-gambar pemandangan alam di sana. Cantik sekali. (Foto dipinjam dari sini.)


Hal lain yang menarik adalah tokoh utama film itu Pakis, dimainkan oleh gadis asli suku Bajo, Gita Lovalista. Aktingnya tidak canggung. Selain itu, Lubo, yang dimainkan oleh Eko juga anak suku Bajo. Kalau diminta menilai akting antara Eko dan Gita, bagiku lebih asyik si Eko. Yang lucu adalah adegan ketika Eko memberi makan burung camar peliharaannya. Lucu banget. Dia mengulur-ulur memberi makan, dan kepala si camar ikut bergerak mengikuti gerakan tangan Lubo. Hihihi, jadi geli sendiri kalau ingat. (Gambar dipinjam dari sini.)

Persahabatan Pakis, Lubo, dan Kutta

Menurutku, film ini cocok untuk mempromosikan pariwisata daerah Sulawesi Tenggara, terutama soal suku Bajo dan daerah Wakatobi. Gambar-gambarnya di film itu amat menawan: langit yang biru, gumpalan awan yang seperti kapas, laut yang jernih, pemandangan bawah laut yang aduuuh … keren banget deh!!! Saat menyaksikan itu aku jadi bangga jadi orang Indonesia. Indonesia memang cantik pemandangan alamnya. 🙂

Kalau mau mengulik kekurangan film ini, yaitu ceritanya kurang kuatnya dalam menarik emosi penonton. Aku termasuk penonton yang cengeng, yang kalau ada adegan mengharukan sedikiiit saja, pasti mataku sudah panas. Tetapi kemarin aku tak sampai keluar bioskop dengan mata merah. Hehehe. Tetapi yang aku suka adalah, film ini tidak menggurui. Jadi, orang-orang yang sering mengharapkan bisa menarik pelajaran moral dari film (eh, ini penting ya?), kurasa akan kecewa. 😀

Pra produksi film ini memakan waktu 3 tahun. Film ini disutradarai oleh seorang gadis berumur 25 tahun, Kamila Andini, yang kurasa berhasil dimemetik pelajaran dari sang ayah, Garin Nugroho. Sebagai film pertama hasil penyutradaraannya, film ini bagus banget. Dan, yah, film ini menggambarkan Indonesia dari sisi lain. Kurasa, bangsa ini memerlukan film-film serupa, yaitu film yang menunjukkan ceruk-ceruk cantik dari Indonesia. Semoga ke depan, film horor dan film cinta-cintaan tak bermutu tidak mendominasi bioskop di Indonesia.

Untuk mengetahui film ini lebih jauh bisa berkunjung ke sini.

Sungai (yang Membuat Bebal)

Tak jauh dari tempat tinggalku sekarang, ada sebuah sungai. Di atas sungai itu ada jembatan kecil. Jembatan itu aku sering lewati setelah aku turun dari angkot dan hendak menuju gang menuju rumahku.

Saat aku lewat, aku kerap menengok ke arah sungai tersebut. Layaknya sungai-sungai yang ada di kota besar, sungai itu kotor. Airnya memang masih mengalir. Tetapi di sana-sini teronggok sampah. Macam-macam sampahnya, kebanyakan adalah plastik, kaleng, gabus, dan bahkan beberapa hari lalu aku melihat ada kursi rotan yang dibuang di sana.

Di ibu kota ini, aku cukup sering melihat sungai yang kotor. Ada yang airnya cokelat kehijauan. Ada yang benar-benar hitam. Yang paling parah adalah sungai di depan mal besar di seputar Jakarta Utara; airnya hitam dan sepertinya tak mengalir.

Sekarang, saat melihat sungai yang kotor, aku jadi merasa biasa-biasa saja. Paling-paling hanya terlintas pikiran, “Ih, sungai ini kotor sekali sih.” Dan setiap kali melihat sungai yang kotor membelah kota ini, aku tak terkejut lagi. Lagi pula, adakah orang yang tinggal di sini yang masih terkejut melihat sungai yang kotor? Kurasa tak ada.

Sungai yang kotor dan hal itu dianggap wajar. Anehkah? Awalnya aku merasa hal itu biasa saja. Dan aku juga biasa membanding-bandingkannya dengan sungai yang mengalir di dekat rumah kakekku di sekitar Ambarawa sana. Sungainya bersih. Jernih. Tidak hitam dan mandeg. Lalu aku berpikir, “Wajar saja jika sungai itu bersih. Itu kan masih di desa, di kaki bukit.”

sungai kecil di dekat rumah kakekku.

Eng ing eng …. Sebentar, sepertinya perlu dipikir lagi. Pertanyaannya, kenapa sih kita tak bisa merasa aneh saat melihat sungai yang kotor?  Jawabannya: Karena sudah biasa. Ya, sesederhana itu kurasa. Kita sudah biasa disuguhi dengan fakta bahwa semua sungai di kota Jakarta ini kotor. (Kurasa sih begitu. Maaf, ini tak pakai survey. Tetapi yang selama ini kulihat memang tak ada yang bersih.) Masalahnya, kalau kita tak lagi peka dan menganggap wajar hal seperti itu, ini kan sebenarnya keliru to? Lama-lama kita jadi bebal. Lalu menganggap bahwa hal seperti itu yaaaa, diterima saja.

Kupikir kesadaran itu perlu. Mengasah kepekaan juga perlu. Kalau kita menganggap wajar hal yang sebenarnya tidak wajar, kupikir itu suatu peringatan bagi kita. Jangan-jangan aku sendiri sudah bebal juga ya? 😦