Membuat Sabun: Sebuah Hiburan

Buatku, membuat sabun itu menyenangkan. Hiburan. Hiburan di tengah-tengah pekerjaan yang kadang seperti gerbong kereta.

Awalnya aku membuat sabun karena penasaran. Seorang teman mengajariku, lalu selanjutnya aku belajar sendiri. Sempat ikut pelatihan membuat sabun, tapi kurasa yang kudapat dari pelatihan sama saja dengan yang kupelajari sendiri. Hanya saja, lewat pelatihan itu aku jadi tahu apa bedanya mengaduk adonan sabun dengan mikser vs hand blender.

Sabun alami memang menarik untuk dipelajari dan dibuat. Aku senang membuat sabun karena bisa eksperimen pakai aneka bahan: lidah buaya, kopi, pepaya, kelor, melati, pandan, dll. Hasilnya kadang menggemaskan. Selain kupakai sendiri, aku bisa menjual sabun buatanku. Lumayan hasilnya. Belum terlalu banyak sih, karena aku belum fokus banget. Tapi menerima testimoni dari beberapa teman yang memakainya, aku jadi lebih semangat belajar membuat sabun lagi.

Di Indonesia, materi soal membuat sabun alami masih kurang. Selama ini aku banyak belajar lewat internet. Hampir semua materi yang kita butuhkan ada di website luar negeri. Tinggal pintar-pintar googling. Tentunya mesti bisa membaca teks bahasa Inggris dan memahaminya dengan baik. Hasil yang kupelajari itu aku praktikkan ketika membuat sabun sendiri. Misalnya, untuk membuat sabun susu, bekukan dulu susu cairnya. Waktu belum tahu, aku pernah langsung menambahkan susu bubuk ke adonan sabun yang hampir trace. Akibatnya? Gosong dong warna sabunku. Walau aku tahu gosong itu hanya soal warna, khasiatnya sama, pas lihat warna sabunku jadi cokelat, aku agak menyesal.

Aku sempat terpikir untuk membuat blog khusus soal sabun. Tapi apalah daya, pekerjaan masih mengantri seperti gerbong kereta. Jadi, selama ini aku hanya bikin dan menjual sabun saja. Kamu tertarik dan pengin tahu soal sabun buatanku? Follow IG-ku: @krismariana.menik.

Berikut ini beberapa sabun mandi yang pernah kubuat. Yang jelas, semua sabun mandi ini pakai minyak baru semua, yaaa (bukan jelantah).

Ini sabun pandan-beras. Terbuat dari sari pandan dan beras. Baunya kaya kue. 😀

 

Nah, ini sabun susu-cokelat. Kubikin swirl gitu polanya. Yang mendebarkan adalah saat aku memotongnya. Beda-beda pola yang terbentuk

 

 

Ini salah satu sabun favoritku. Terbuat dari tallow alias minyak yang diambil dari lemak sapi. Baunya susu banget, rasanya lembuuut di kulit. Bentuknya juga paling “rapi”, keras. Sabun ini made by order. Yang ribet adalah mesti menyiapkan tallow-nya lebih dulu.

 

Kamu suka sabun alami yang apa?

Advertisements

Kamu Ingin Menjadi Penerjemah?

Kemarin aku ikut seminar penerjemahan di kampusku dulu. Salah satu pembicara mengompori para peserta supaya menjadi penerjemah. Alasannya menjadi penerjemah itu asyik. Apalagi kalau bisa kerja di rumah. Bisa bekerja sambil pakai daster, mau kerja di mana saja bisa, dan konon penghasilannya besar. Bagi sebagian penerjemah, memang begitu adanya. Zaman dulu, untuk membeli mobil baru, cukup menerjemahkan tiga buku. Tiga buku saja! Iya, benar. Menggiurkan, bukan? Sekarang? No comment.

Masalahnya, bagaimana caranya? Benarkah begitu?

Menurutku tak ada kesuksesan dan kemakmuran yang tidak disertai kerja keras. Apa pun itu. Termasuk kalau kamu jadi penerjemah. Jangan terlalu mudah percaya bahwa menjadi penerjemah adalah jalan mudah untuk kaya. Jangan mudah percaya bahwa menjadi penerjemah lepas itu hidupmu bakal santai. Kalau mau sukses, ya jangan santai. Di mana-mana hukumnya begitu.

Menurutku jadi penerjemah itu untung-untungan. Kalau memang jalanmu di situ, ya jadilah. Kalau tidak, ya susah juga. Kenapa begitu? Pertama-tama karena tidak ada jalur yang jelas untuk menjadi penerjemah. Kalau kamu mau jadi dokter, jelas ada sekolahnya, ada jalurnya. Kalau kamu mau jadi pengacara, jelas ada jalurnya juga. Kalau penerjemah? Pernah dengar ada sekolah vokasi untuk penerjemah? Setahuku yang ada hanya kursus. Setelah kursus, belum tentu kamu bakal langsung bisa praktik dan memasang tarif tinggi. Malah kemungkinan calon klienmu akan menawar tarifmu serendah mungkin. Jangan tersinggung. Banyak kok yang mengalami. Penerjemah senior saja sering diminta menurunkan harga, kok kamu penerjemah kemarin sore mau pasang harga tinggi. Siapa elu? Untuk mengawali karier, kamu bisa iseng menerjemahkan buku atau artikel lalu kamu pajang di akun media sosial atau blog pribadimu. Hitung-hitung promosi dan pamer karya. Namun, kalau kamu berharap bisa langsung dapat klien yang bisa memberimu honor 200 ribu per lembar, rasanya berdoa dan ikut kursus saja belum cukup. Itulah yang kumaksud dengan kerja keras. Jalannya berliku. Rata-rata penerjemah yang kukenal itu tersesat. Awalnya tidak berniat menjadi penerjemah, e… ternyata ada yang menawari pekerjaan. Mulanya hanya satu-dua orang. Lama-lama banyak. Itu yang kumaksud dengan untung-untungan. Kamu mesti sigap menangkap peluang.

Jika ada yang bertanya padaku, bagaimana caranya menjadi penerjemah buku? Jawaban paling gampang adalah melamarlah ke penerbit. Sertakan contoh hasil terjemahanmu dan teks aslinya. Masalahnya, belum tentu lamaranmu bakal langsung ditanggapi. Yang melamar ke penerbit tidak hanya kamu. Buanyaaak! Kamu mesti bersaing dengan para pelamar lain. Belum lagi kalau surat lamaranmu terselip. Atau mungkin sang editor tidak sempat membuka email lamaranmu. Selain itu, penerbit pasti sudah punya penerjemah langganan. Iya kalau hasil terjemahanmu nanti sesuai dengan keinginan editor. Kalau tidak? Analoginya: Kamu punya penjual kue langganan. Biarpun ada toko kue baru yang promosinya gencar, kamu mungkin tetap lebih suka beli kue di penjual kue langgananmu. Kamu sudah tahu kualitas kuenya, harganya juga bersahabat.

Ada yang bilang untuk menjadi penerjemah ikutlah asosiasi ini, jadilah member di direktori anu, dan sebagainya… dan seterusnya. Masalahnya, setelah kamu jadi anggota, apakah kamu langsung dapat terjemahan dengan bayaran yang bikin para pegawai kantoran iri? Belum tentu. Kamu tentu harus bisa tampak menonjol sebagai anggota ini dan itu. Inilah yang kumaksud dengan kerja keras. Supaya tampak menonjol dan bisa mendapat kepercayaan, kamu mesti kerja keras. Kamu mesti kreatif. Terserah bagaimana caramu. Mau jadi penerjemah tanpa dibayar dulu kek, bikin website yang postingannya menarik kek, sering-sering menjawab pertanyaan yang dilontarkan di grup kek, sering posting contoh hasil terjemahan kek… terserah. Jangan salah, banyak kok penerjemah yang tidak menjadi anggota asosiasi. Mereka lancar-lancar saja ordernya, tuh. Ada pula yang bilang bahwa dengan menjadi anggota ini atau itu, order akan mengalir. Apa iya? Belum tentu. Bisa juga kamu dicueki. Lagi-lagi, jangan tersinggung ya. Memang begitulah dunia. Iklan selalu terdengar manis.

Ya, untuk jadi penerjemah bisa lewat jalur mana saja. Itu karena belum ada jalur khusus yang sudah terstruktur–begitu menurut pengamatanku sejauh ini. Menjadi penerjemah tersumpah saja sampai sekarang belum jelas jalur dan caranya, kok. Jadi penerjemah itu ibarat kamu ingin jualan kue. Caranya bisa macam-macam. Pokoknya asal para calon pembelimu itu tahu bahwa kamu pembuat kue yang wuenak. Kamu bisa menyebar brosur, bisa jualan kue di depan rumah, bisa kirim kue gratisan ke blogger yang jadi buzzer lalu minta agar kuemu dipromosikan lewat blognya. Terserah, deh. Intinya, kamu harus kerja keras dan itu tidak mudah.

Jadi, jangan tergiur setiap ucapan manis tentang nikmatnya menjadi penerjemah. Semua butuh kerja keras. Sembari kamu berusaha untuk menjadi penerjemah, tetap lakukan hal lain yang kamu sukai, misalnya membatik, memasak, menjahit, menyulam, merajut, jalan-jalan, menulis, dan lain-lain. Jadi, kalau kamu tidak berhasil menjadi penerjemah, kamu tidak galau. Siapa tahu kamu malah sukses menjadi penulis yang bayarannya berkali lipat daripada penerjemah. Siapa tahu hasil rajutanmu lebih laku daripada terjemahanmu. Ya, kan? Ya, kan? Ikutlah kegiatan di luar rumah. Dengan begitu, banyak orang lebih mengenal kamu plus kemampuanmu.

Menurutku menjadi penerjemah hanyalah salah satu pilihan jalan hidup. Masih banyak pilihan lain–yang juga membahagiakan dan memberikan rejeki. Kalau ada yang bilang jadilah penerjemah karena bisa begini dan begitu… tetaplah kembali ke nasihat lama: Semua itu butuh kerja keras. Ora usah gumunan, ojo penginan–jangan mudah terkesima, jangan gampang pengin ini dan itu.

Kamu tetap ingin menjadi penerjemah? Bekerja keraslah. Carilah jalanmu–entah bagaimana caranya. Jadilah kreatif. Kalau setelah jungkir balik kamu merasa tidak bisa menjadi penerjemah sukses, jangan galau. Rejeki itu ada di mana-mana.

Aku sih penginnya jalan-jalan, bikin sabun, masak, nulis picture book. Banyak maunya, ya? Emang.

Sabun lan Tangga

Durung suwe iki, aku iseng-iseng sinau gawe sabun. Nyenengake tenan. Aku iso nggunaake bahan-bahan sing ono ning cedakku: pandan, lidah buaya, kates, susu, lan liya-liyane.

Aku banjur duwe sabun pirang-pirang. Sakwijining dina, ono tanggaku dolan ning omahku, jenenge Mbak N. Deweke weruh sabun pirang-pirang sing tak tata ning ruang tengah. “Kuwi opo?” pitakone. Aku nuli crita yen aku lagi eksperimen gawe sabun. Deweke gumun lan takon piye critane kok aku iso gawe sabun, saka opo bahanne, lan sak teruse. Aku crita opo anane. Pas deweke bali, aku nyangoni sabun. “Ayo dijajal, sapa ngerti cocok.”

Ora let suwe, tanggaku crita yen deweke cocok gawe sabunku. Aku melu seneng amarga sabun gaweanku cocok kanggo deweke. Mbak N usul, “Mbok jajal ditawakne pas arisan.” Sakjane aku ki isinan. Nanging apa salahe dicoba? Idep-idep latihan dodolan lan promosi. Sapa ngerti payu siji-loro.

Pas dina arisan, aku teka karo nggawa sabun. Aku tawa ning ibu-ibu sing rawuh. Ndilalah pas dina kuwi Mbak N lagi ana keperluan dadi ora isa teka arisan. Nanging ana Bu M sing dadi “lurah”. Lurah-lurahan maksude, ya. Ora ana sing wani nyanggah Bu M kuwi. Kabeh kudu nurut, yen ora nurut isa dijothak saklawase urip. Pas aku nawakne sabunku, jawabe Bu M kaya ngene, “Aku ora tuku wong aku ora sabunan.” Aku mak plenggong… Apa iya to ana wong sing ora sabunan babar blas? Nanging aku banjur kelingan biyen Bu M kuwi tau mbuwak panganan sing tak kei amarga deweke wedi aku nyampuri bahan sing ora halal ning panganan kuwi. Uga deweke wedi aku nganggo peralatan sing ora halal. O… paham aku saiki, deweke mesti khawatir sabun gaweanku ora halal.

Let pirang dina, Mbak N kanda karo aku. “Bu M ra gelem tuku sabunmu, to? Deweke crita karo aku. Deweke wedi yen kowe gawe sabun ora halal soale kowe nonmuslim.”

Dadi wong sing agamane beda ki kadang sok serbasalah. Ning yo ora papa. Saya suwe aku wis biasa ngadepi kaya ngono kuwi. Untunge sing nolak aku mung Bu M.

Malaikat Pamomong dan Sowan “Ibuk”

Ketika masih kecil dulu, aku belum punya jam beker. Aku baru punya jam beker itu ketika SMP. Pemberian. Sepertinya bukan kado ulang tahun atau peristiwa penting. Tapi aku lupa. Yang jelas, jam beker itu masih kupakai sampai sekarang. Pernah rusak sekali, tapi diperbaiki dan bisa berjalan lagi sampai sekarang. Awet ya.  Aku suka sekali dengan jam beker itu.

Ketika belum punya jam beker, sesekali aku mesti bangun pagi-pagi banget kalau aku harus mengikuti suatu kegiatan atau acara. Misalnya, mau berangkat darmawisata dan naik bus pagi-pagi. Malamnya aku biasanya mbanyaki dan takut kalau bangun kesiangan. Ibuk dan Bapak biasanya akan ngayem-ngayemi dan bilang akan membangunkanku. Tapi namanya tukang mbanyaki dan mbingungi, aku tetap cemas. Kalau aku ketinggalan bus gimana? Biasanya Ibuk lalu bilang ke aku begini: “Minta sama malaikat pamomong supaya membangunkan kamu jam 4.” Agak tidak percaya, tapi tetap kulakukan.

Dan berhasil!

Selalu berhasil seingatku. Aku selalu bangun persis atau kira-kira kurang 5 menit dari waktu yang kuminta.

Kemarin aku bertemu teman lama. Ngobrol ngalor ngidul. Panjang kali lebar. Ngobrol sama dia enaknya tidak dihakimi–bahwa aku mesti begini, begitu. Tidak saling mengunggulkan bahwa aku sudah begini, kamu pun mestinya juga sudah mencapai ini dan itu. Sebenarnya aku berangkat menemui dia dalam kondisi tidak fit. Hidung meler dan tenggorokan sudah berteriak-teriak karena hampir radang. Tapi pas mengobrol dengannya, aku seperti mendapat energi cukup positif sehingga bisa duduk beberapa jam untuk saling mendengarkan.

Lalu sampailah kami pada suatu obrolan lama tentang “unfinished business” dengan beberapa orang di masa lalu dan masa sekarang. Salah satu saran darinya mengingatkanku pada pesan ibuku: “Cobalah ajak bicara sang malaikat pelindung—alias malaikat pamomong. Ajak bicara dalam tataran jiwa.”

Haish! Berat amat ya.

Pengalaman dibangunkan pagi-pagi dulu membuatku percaya bahwa malaikat pelindung itu ada dan kita bisa minta tolong kepadanya. Entah bagaimana teorinya, tapi aku mau mencoba. Setidaknya, obrolan kami kemarin mengingatkanku untuk lebih banyak berdoa–hal yang akhir-akhir ini rada mbleret dan mbuh ra karuan.

Jadi, ya… aku mau coba memulai lagi sesuatu yang sudah lama kutinggalkan. Plus mau sowan Ibuk Maria lagi–yang pasti cuma geleng-geleng kepala melihatku yang masih begitu-begitu saja.

Sancta Maria, Mater Dei, ora pro nobis peccatoribus, nunc et in hora mortis nostrae.

 

24 Tahun yang Lalu

Harusnya aku melanjutkan pekerjaan terjemahanku, tapi memajang tulisan di blog rasanya lebih menggoda.

Beberapa hari yang lalu seorang teman memasang foto waktu dia liburan di Grape, di daerah Dungus. Sekitar 15 km dari Madiun. Mendadak aku sengkring-sengkring. Hutan jati dan sungai yang banyak batu besarnya itu mengingatkan aku ketika berkemah di bumi perkemahan Kresek (tak jauh dari Grape–seingatku). Saat itu aku masih SMP kelas 3 kalau tidak salah.

Seingatku, itu adalah kemah terakhir yang kuikuti ketika aku masih remaja. Hawa bumi perkemahan sangat dingin bagiku. Kami tidur di tenda dan alasnya hanya tikar. Kalau disuruh mengulang tidur di tenda, rasanya aku akan pikir-pikir deh. Punggungku sekarang lebih menuntut tempat tidur yang nyaman. Beberapa waktu lalu aku pernah tidur di rumah seorang saudaraku dan hanya beralas karpet, dan pas bangun tidur rasanya kaya digebuki. Aku kapok tidur di bawah tanpa alas yang cukup tebal.

Ketika melihat foto temanku yang sedang berlibur tersebut, aku seketika mulai menghitung berapa lama ya aku tidak pergi ke daerah sana lagi? Jelas sudah lama sekali—tapi jejak kenangan itu masih kuingat dengan sangat jelas.

Aku hanya ingat tanggalnya, yaitu 1 Juli 1993. Berarti hari ini sudah 24 tahun berlalu, ya. Aku masih sengkring-sengkring rasanya.

Minyak Jelantah Menjadi Berkah

Di rumah aku berusaha memilah sampah organik dan anorganik. Yang gampang busuk, kubuang di kebon belakang. Plastik dan teman-temannya yang sulit busuk kubuang lewat jasa tukang sampah yang datang dua hari sekali. Yang agak repot adalah ketika akan membuang minyak goreng bekas (jelantah). Walaupun tidak banyak, cukup merepotkan.

Aku tidak ingat bagaimana awalnya aku memanfaatkan minyak jelantah tersebut menjadi sabun. Yang kuingat, suatu siang, aku, bersama dua orang teman–Mbak Imel, dan Mbak Ira–mencoba mengolah minyak jelantah di rumah Mbak Ira untuk dijadikan sabun. Ng… mungkin waktu itu untuk persiapan percobaan di Pasar Sasen? Mungkin ya. Aku lupa.

Sempat bertanya-tanya juga dulu soal cara menjernihkan minyak jelantah supaya baunya yang tidak enak itu bisa berkurang. Setelah googling, ada beberapa cara menjernihkan minyak jelantah. (Silakan googling sendiri, ya.) Cara penjernihan yang paling mudah menurutku memakai arang.

Aku sudah beberapa kali mencoba membuat sabun minyak jelantah ini. Mulai dari jelantah bekas warung penyetan sampai jelantah rumah tangga. Ada yang baunya ikan banget, ada yang baunya gorengan tempe. Hasilnya pun macam-macam. Awalnya sabun jelantah yang kami buat baunya masih kurang enak. Namun belakangan sudah lumayan. Terakhir aku memakai air pandan sebagai cairan pembuat sabun, maka setelah jadi, sabun warnanya kehijauan dan samar-samar ada aroma pandan juga.

Sabun jelantah bisa dipakai untuk mencuci piring, mencuci baju, atau sekadar cuci tangan. Menurutku sabun tersebut cukup kesat dan bersih. Kalau mencuci alat masak yang berminyak banget memang tidak sekesat kalau pakai sabun cuci piring cair yang ada di pasaran. Namun, untuk mencuci piring bekas makan, bersih kok. Yang jelas, sabun ini tidak pakai deterjen. Mungkin perlu dicoba dipakai oleh orang yang memang alergi banget dengan sabun yang mengandung deterjen.

Begini cara membuat sabun jelantah.

Bahan:
– Minyak jelantah setengah liter (kurang lebih 450 gram)
– Arang secukupnya. Ditumbuk atau jadikan potongan kecil-kecil.
– Soda api 61 gram
– Pandan 5 lembar, rajang supaya mudah diblender
– Air 123 gram (jangan menggunakan air PAM). Lebih baik memakai akuades atau air distilasi. Karena di rumahku air sumurnya masih bagus, aku pakai air sumur biasa.

Alat yang dibutuhkan:
* Hand blender
* Timbangan (lebih baik memakai timbangan digital supaya mendapatkan angka yang presisi)
* Wadah stainless steel atau wadah plastik yang tahan panas (jangan memakai wadah dari aluminium). Wadah ini dipakai pada saat mencampur soda api + air, dan saat mencampur larutan soda api + minyak
* Cetakan silikon. Jika tidak punya cetakan silikon, bisa memakai cetakan puding, tetapi alasi dulu dengan plastik tahan panas atau kertas cokelat yang biasa untuk bungkus nasi supaya ketika sabun sudah jadi, mudah dilepas. Dulu aku pernah bikin sabun memakai cetakan puding plastik, hasilnya sabun sulit dilepas dari cetakan.

Alat pengaman:
+ Masker
+ Kacamata pelindung
+ Sarung tangan

Cara membuat:

Selama proses pembuatan sabun gunakan alat pengaman, ya. Jangan sampai air soda api terkena mata atau kulit. Kalau terkena kulit, akan terasa sedikit gatal dan panas seperti terbakar.

(1) Masukkan arang ke dalam minyak jelantah. Untuk mudahnya dua-duanya dalam kondisi dingin. Alternatif lain: masukkan arang yang membara ke dalam minyak jelantah. Biarkan dingin. Setelah dingin lalu saring. Belakangan arang kudiamkan selama semalam di dalam minyak jelantah, baru disaring.

(2) Buat air pandan: blender pandan dengan air, lalu saring. Takar airnya menjadi sebanyak 123 gram.

(3) Masukkan soda api ke air pandan. Jangan terbalik: Jangan sampai air pandan yang dituang ke soda api karena bisa meledak. Aduk soda api sampai benar-benar larut lalu biarkan dingin atau sampai suhu ruang. Uap yang keluar selama proses ini jangan sampai terhirup dan jangan sampai airnya terpercik ke mata. Jadi, penting untuk memakai masker serta kacamata pelindung. Selain itu, lakukan proses ini di tempat yang berventilasi bagus.

(4) Masukkan larutan soda api ke dalam minyak jelantah yang telah disaring. Aduk dengan hand blender sampai mencapai kekentalan yang menyerupai susu kental manis atau mayones.

(5) Tuang ke dalam cetakan yang telah disiapkan. Diamkan semalam. Potong sabun menjadi ukuran yang diinginkan, lalu angin-anginkan di tempat yang berventilasi bagus. Setelah 3-4 minggu, sabun bisa digunakan. Lebih bagus lagi kalau didiamkan sampai 2-3 bulan.

 

Seperti ini hasil jadinya

Aku mendapat pertanyaan-pertanyaan umum berkaitan dengan pembuatan sabun minyak jelantah ini:
1. Bagaimana kalau minyak berbau ikan?
Dari pengalamanku, aku pernah memakai minyak jelantah yang berbau ikan. Untuk mengurangi bau, campur dengan minyak jelantah bekas gorengan non-ikan. Tapi rata-rata, aku mencampur berbagai minyak jelantah yang kudapat dari teman-teman. Kalau masih ragu, pakailah minyak jelantah yang tidak bekas untuk menggoreng ikan. Pemakaian arang di awal berguna untuk mengurangi aroma yang kurang enak dalam minyak.

2. Bagaimana kalau tidak memakai hand blender?
Sebenarnya bisa saja memakai mikser, tapi dari pengalamanku butuh proses lebih lama untuk mencapai kekentalan yang pas. Sebagai perbandingan, jika memakai hand blender, proses pengadukan butuh waktu 2-3 menit. Jika memakai mikser setidaknya butuh waktu 15-20 menit. Konon kalau diaduk manual (tanpa mesin alias pakai tangan) bisa 1 jam. Yang penting, pisahkan alat yang biasa dipakai untuk membuat sabun dengan alat masak lainnya.

3. Apakah sabun ini aman, mengingat salah satu bahannya adalah soda api?
Aman. Dalam proses pembuatan sabun, larutan soda api yang tercampur dengan minyak akan mengalami saponifikasi dan akhirnya jadilah sabun. Agar soda api benar-benar hilang, sabun yang baru jadi perlu diangin-anginkan selama 3-4 minggu. Setelah itu aman dipakai. Silakan googling mengenai penggunaan soda api dalam pembuatan sabun. Sudah banyak yang memberi penjelasan di luar sana.

Selamat mencoba!

Catatan:
Dalam mengutak-atik resep ini, aku perhitungkan minyak jelantahnya dari minyak sawit semua.

Saatnya Penerbit Turun Gunung

Entah sudah berapa kali aku mendengar pembicaraan soal menurunnya penjualan buku dan majalah. Oplah menurun. Majalah banyak yang tutup. Ada yang bilang sekarang adalah zaman senjakala bagi penerbit. Kadang ikut deg-degan ketika mendengar kabar seperti itu.

Beberapa kali aku berpikir bahwa penerbit mungkin ada baiknya “turun gunung” menyapa langsung para pembacanya. Bukan sekadar lewat toko buku. Bukan hanya waktu ada acara peluncuran buku. Tapi benar-benar datang dan mengajak sebanyak mungkin orang untuk membaca.

Apa itu membaca? Menurutku membaca itu tidak hanya soal mengeja. Membaca itu menangkap makna. Jadi, kalau ada tulisan: Tini makan singkong, perlu juga dilihat konteksnya. Singkong dimakan Tini sebagai kudapan? Sebagai makanan sehari-hari? Sebagai ganjal perut setelah dua hari tidak makan?

Balik lagi ke soal penerbit yang mengajak orang untuk membaca. Kadang kupikir penjualan buku menurun, minimnya minat baca, itu juga karena penerbit kurang turun gunung. (Habis gini ditoyor editor.) Sebenarnya buku bagus itu banyak. Yang ingin membaca kurasa juga banyak. Tapi kenapa buku-buku itu seperti tidak sampai ke (calon) pembaca yang haus bacaan? Ini semacam cinta tak sampai. Ngenes kan? Bikin buku yang bagus itu tidak mudah, biayanya pun tidak sedikit. Tapi begitu terbit, penjualannya kadang (atau sering?) mak plekenyiiik… Puk puk editor. Apalagi katanya minat baca masyarakat rendah. Jadi, bisnis buku itu kesannya suram.

Namun, kalau kita peduli soal gizi untuk tubuh, mestinya kita peduli pula soal “gizi” untuk otak. Hei, kamu tahu nggak kalau otak itu organ terpenting di tubuh kita? Kalau otak kita hanya dijejali ide-ide sampah, hidupmu bakal suram. Makanan untuk otak salah satunya adalah buku yang bagus. Buku yang menginspirasi. Buku yang menambah wawasan. Lalu, kalau daya serap buku di masyarakat makin berkurang, bukan tidak mungkin ini tanda-tanda kemunduran peradaban. Jadi, balik lagi ke tadi… membaca buku itu penting.

Belakangan aku berpikir bahwa penerbit itu ada baiknya membuat semacam gerakan meningkatkan minat baca. Ternyata, apa yang selama ini kupikirkan, dilakukan oleh Penerbit Kanisius. Dalam rangka ulang tahunnya yang ke-95, Kanisius membuat gerakan untuk mengajak masyarakat membaca, yaitu dengan membentuk Sahabat Literasi. Salah satu kegiatannya adalah dengan turun ke Malioboro, lalu mengajak orang-orang yang saat itu ada sana untuk membaca. Selain di Malioboro, gerakan ini juga dilakukan di kereta Prameks Jogja-Solo, di bus TransJogja, di sekolah Mangunan. Menurutku ini suatu gerakan yang unik. Kuharap hal ini dilakukan secara berkesinambungan. Dan semoga diikuti oleh para penerbit lain.

Nderek mangayubagyo, Kanisius. Teruslah menerbitkan buku-buku bermutu.