Alat Yoga Murah Meriah

Dulu, salah satu alasanku menunda-nunda untuk yoga adalah soal peralatannya. Sebenarnya yang paling utama hanyalah yoga mat. Waktu masih di Jakarta, aku mendapatkan yoga mat yang cukup miring harganya di sebuah apotek waralaba. Buatku, yoga mat itu murah jika dibandingkan yoga mat bermerek. Murah meriah deh, kualitasnya juga setara harganya. Seingatku dulu di bawah 100 ribu. Sekarang harganya berkisar 125.000 ribuan. Buatku harga segitu cukup miring, soalnya mat yang lain harganya bisa 3 atau bahkan 10 kali lipat. Untuk pemula, mat yang murah meriah pun cukup kurasa. Kalau akhirnya serius dan rutin beryoga, baru beli mat yang lebih bagus.

Setelah punya mat, PR selanjutnya adalah soal penyimpanannya. Kalau cuma digulung dan ditaruh di pojokan kamar sih bisa saja. Hanya saja, yoga mat yang dibiarkan tanpa baju cenderung berdebu. Males kan kalau pas mau memakainya malah kita repot bersih-bersih dulu. Mat yang debuan itu malah bisa bikin kita sakit. Jadi, benda kedua yang perlu dibeli adalah tas yoga mat. Kalau kita lihat di olshop, harga tas yoga mat bervariasi. Ada yang di bawah 50 ribu, ada yang sampai seratus ribu lebih. Aku tentu saja tidak mau beli yang mahal-mahal. Demi pengiritan, aku jahitin tas yoga ke penjahit terdekat. Aku lupa berapa biayanya, yang jelas jauh lebih murah. Memang agak repot karena aku mesti beli kain sendiri dan mencari contoh tas yoga mat untuk mendapatkan ukurannya. Tapi hal itu sebanding dengan murahnya. Waktu itu aku jahitin di penjahit kampung. Murah dan rapi. Aku puas. Setelah beli mat kedua, aku beli tas yoga mat yang murah di olshop. Harganya di bawah 50 ribu, tapi kainnya cukup tebal.

Ketika mulai agak rutin berlatih yoga, pelatih yogaku menyarankan aku memakai tali yoga. Sebelumnya aku pakai kain apa saja yang ada. Bahkan aku pernah pakai jarik untuk membantuku meluruskan kaki :D. Bisa sih, tapi kurang praktis. Waktu dipinjami tali yoga oleh pelatihku, aku merasakan kepraktisannya dan sangat membantu memaksimalkan gerakan. Tapi untuk selanjutnya masak mau pinjam terus? Aku lalu buka-buka olshop, dan harganya membuatku malas beli. Tali ukuran 2,5 meter saja harganya bisa di atas 50 ribu. Bahkan ada yang sampai 150 ribu. Aduh. Mahal amit, ya?

Aku lalu berpikir, kalau aku beli tali sendiri dan menjahitkan ke penjahit tas, kurasa lebih murah. Benar dugaanku. Aku cari tali sendiri di toko yang menjual aneka tali beserta gespernya. Lalu aku menjahitkannya ke penjahit tas. Tidak pakai lama, aku sudah punya tali yoga. Biayanya sekitar 20 ribu sudah sekalian dengan ongkos jahit. Kalau mau mendapatkan tali yang lebih bagus, biayanya bisa sampai 25-30 ribu. Yang jelas kita mesti mau repot-repot cari bahan sendiri dan ke penjahit. Kalau mau praktis, beli online. Dari pengalamanku, harga tidak berbohong. Tali yoga 20 ribuan yang ada di olshop rata-rata kurang bagus. Terlalu licin. Jauh lebih baik kalau mau berburu tali sendiri dan menjahitkannya.

Perlengkapan yoga ketiga yang membantuku adalah balok. Seperti halnya peralatan yoga lainnya, balok yoga harganya bervariasi. Ada yang muahal banget, ada yang cukup terjangkau. Dari yang harganya di bawah 50 ribu, sampai ada yang ratusan ribu. Ada yang bahannya dari kayu, ada yang dari gabus. Aku sendiri memilih balok yoga dari kayu.

Pengalamanku, aku bisa mendapatkan balok yoga yang cukup murah dengan memesannya ke tukang kayu terdekat. Yang jelas, aku sudah menyertakan ukuran ketika memesannya. Ukuran balok yoga bisa dicari di internet. Ukurannya kurang lebih sama. Pilih tukang kayu yang karyanya cukup halus. Ini yang agak PR. Tapi kalau malas pesan di tukang kayu, beli di olshop saja. Ada yang harganya di bawah 50 ribu dan sudah bagus. Minimal miliki balok yoga sepasang untuk membantu kita melakukan gerakan yoga.

Pekerjaan Impian

Seharusnya aku membaca materi yang mesti kutulis ulang, tetapi kenyataannya aku malah menulis untuk mengisi blog ini.

Apa yang mau kutulis? Sebenarnya tak ada, tak penting-penting amat. Aku hanya ingin mengingat pada akhir bulan Oktober tahun ini, aku mendapat pekerjaan yang sebenarnya kubayangkan sudah lama. Menulis. Itu saja. Bayarannya tidak banyak karena ini baru pertama kali. Dan aku tidak sedang mencari uang. Bukannya tidak butuh duit lagi, sih. Emang siapa yang tidak butuh duit? Haiya, zaman pandemi begini, duit masih sangat dibutuhkan.

Aku mesti membaca materi yang diberikan padaku, lalu aku menuliskannya ulang dengan bahasaku sendiri. Senang? Ya, senang. Tapi bukan kesenangan yang membuatku seketika bersorak. Aku senang dan menikmati saat mengerjakannya. Dapat wawasan baru, iya, karena aku membaca suatu materi. Kedua, aku punya kesempatan menarikan jariku di keyboard. Menulis itu semacam latihan yoga. Kalau tidak sering berlatih, badan tak akan pernah lentur. Harus latihan meskipun hanya sebentar. Rutin, kalau bisa. (Yang terakhir ini yang sulit.)

Ngomong-ngomong soal pekerjaan, aku bertanya-tanya pada diriku sendiri: Apakah aku sudah mendapatkan pekerjaan impian?

Lama aku memikirkan jawabannya. Kemudian aku berkesimpulan: Mungkin iya, tapi mungkin juga belum. Aku mungkin belum sampai pada taraf yang benar-benar puncak barangkali, ya? Tapi… aku dulu ingin punya buku sendiri. Hal itu sudah terlaksana. Tapi ada buku lain yang masih kuimpikan untuk kutulis. Apa itu? Rahasia ah! Nanti aku ditodong melulu kapan selesai buku itu. Haha.

Lebih dari semua itu, aku senang dengan pekerjaanku saat ini. Menulis, menerjemah, dan sesekali menyunting naskah. Belakangan aku pun senang membuat sabun. Ini lebih dekat ke hobi, tapi hasilnya cukup menyenangkan.

Semoga kamu pun memiliki pekerjaan impian.

Let’s Have Fun Today!

Kemarin malam aku baru saja mengirimkan pekerjaan. Rasanya lega luar biasa. Walaupun masih ada pekerjaan lain yang menunggu, tetap saja rasanya melegakan ketika aku berhasil mengirimkan pekerjaan. Sebelum tidur aku mulai memikirkan apa yang ingin kukerjakan hari ini. Anggap saja hari ini aku libur dulu. Tepatnya meliburkan diri.

Kalimat “Let’s have fun today!” terngiang di telingaku sepanjang hari ini. Lalu apa yang kukerjakan untuk bersenang-senang? Membuat sabun! Yeay! Beberapa waktu terakhir ini urusan persabunan agak terbengkalai. Sempat bikin sabun, tapi rasanya ada yang kurang. Sepertinya aku agak buru-buru dan bras-brus kerjanya. Jadi ada sabun yang kurang oke deh. Ah, syudahlah. Bisa kuperbaiki sih, tapi kan sebenarnya agak malesin.

Buatku membuat sabun masuk dalam kategori bersenang-senang. Semacam memompa semangat. Tapi kadang aku kelamaan berpikir, mau bikin sabun yang apa ya? Beneran bisa lama banget aku memikirkannya. Bolak balik menengok bahan-bahannya doang, tapi eksekusinya tidak disegerakan. Dasar!

Cuma itu bersenang-senangnya? Sebenarnya aku ingin ke pasar tadi pagi. Tapi hujan. Batal deh. Bagi sebagian orang, hujan adalah saat yang ditunggu. Tapi bagiku tidak. Jujur saja aku kurang suka hujan. Hujan membuatku berpikir seribu kali untuk ke luar rumah. Aku tak suka memakai jas hujan. Tak bisa pakai kacamata pula. Sungguh menyiksa berkendara tanpa kacamata.

Untungnya aku masih punya persediaan kale dan selada di lemari es. Jadi aku bisa makan sayur cukup banyak hari ini. Ditambah masih ada sup ikan sedikit. Jadi, cukuplah. Sayur dan protein hewani. Semoga bisa lebih cepat kurus πŸ˜€ :D.

Bersenang-senang berikutnya adalah menulis blog. Sebenarnya pas tanggal 30 September kemarin aku mau menulis sesuatu tentang penerjemahan. Niatnya pengin ikut meramaikan Hari Penerjemahan, tapi kok ya tidak sempat menulis apa pun. Sebagai penerjemah yang benar-benar lepas (baca: tidak selalu menerjemah setiap hari), aku merasa masih sering berlindung di balik jubah profesi penerjemah. Paling tidak, di KTP profesiku masih penerjemah.

Itulah yang kulakukan untuk bersenang-senang hari ini. Besok aku ingin bersenang-senang lagi. Semoga tidak hujan. Jadi, aku bisa keluar rumah dengan leluasa.

Hal-hal Kecil yang Menyenangkan

1. Bisa bangun pagi-pagi, ketika hari masih sejuk dan syahdu
2. Tempat tidur dengan sprei yang baru diganti
3. Mandi dan ganti baju bersih
4. Masuk rumah pas sebelum hujan turun
5. Mencium aroma kue yang baru matang
6. Mencicipi kue yang baruuuu saja matang
7. Ketemu teman lama dan masih nyambung ketika diajak ngobrol
8. Dapat paket berisi kue atau jajanan (ya ampun, makanan lagi!)
9. Jalan pagi pas matahari masih hangat
10. Menginjak tanah berumput (apalagi pas tanah itu barusan disiram)
11. Ketemu kucing lucu dan dia mau disayang-sayang
12. Ketemu anjing lucu dan dia senang dielus-elus
13. Ke pasar pagi-pagi banget, pas semua sayuran masih lengkap dan banyaaaak!
14. Bisa yoga minimal 30 menit
15. Ada yang mau bantuin nyuci piring
16. Ada yang mau bantuin jemur cucian
17. Lantai yang barusan dipel
18. Air putih hangat yang diminum pagi hari
19. Bisa menikmati aroma bunga di halaman yang segar
20. Makan mi rebus atau bakso pas sore

Nanti kutambah kalau ingat yang lain.

Apakah Pertemuan Daring Membuatmu Bahagia?

Belum lama ini aku terlibat sebuah proyek menulis yang membuatku ikut-ikutan seperti para pekerja kantoran lain, yaitu ikut pertemuan daring alias rapat online alias video conference. Apa pun sebutannya, pada intinya adalah acara rapat lewat zoom. Sadar bahwa aku gaptek, aku mengontak teman untuk mengajariku jarak jauh. Tentunya lewat zoom juga.

Seneng dong rasanya. Bagaimanapun karena lama tidak bertemu teman, begitu bisa ketemu walau hanya lewat bantuan internet, rasanya bisa memupus jarak yang selama ini terbentang gara-gara wabah. Lumayan bisa ngobrol-ngobrol.

Hari H rapat daring pun tiba. Aku sempat merasa agak excited awalnya. Oh, begini ya rapat daring tuh, begitu pikirku. Asyik juga ya. Dulu kupikir hal seperti ini hanya ada di film-film, tetapi sekarang rapat daring sudah menjadi kenyataan hidup.

Aku tak ingat berapa lama aku tahan mendengarkan paparan orang selama rapat itu. Tetapi rasanya tidak lama. Mungkin hanya tahan sekitar 30 menit pertama. Sesudahnya aku butuh jalan-jalan, berganti suasana. Jadi, selama bukan jatahku untuk presentasi, aku mengendorkan konsentrasi dan menyusun kata-kata yang hendak kusampaikan nanti.

Untungnya selama rapat daring, aku bisa mematikan fitur video, sehingga aku bisa sambil peregangan di samping kursi πŸ˜€ atau melangkah ke dapur untuk memanasi sayur.

Setelah tiga atau empat kali rapat daring, aku merasa kewajiban tatap muka lewat internet ini membutuhkan suatu energi yang tidak sedikit. Aku tak tahu penyebabnya, tetapi mungkin aku kurang bisa menangkap bahasa tubuh seseorang di seberang sana. Aku hanya berpegang pada suara yang rasanya lama-lama di telingaku terasa tidak nyaman. Apalagi aku bukan orang yang gemar mendengar. Maksudku, aku kurang bisa menyerap informasi lewat pendengaran. Aku lebih suka membaca dan melihat. (Mungkin itu sebabnya nilai listening-ku dulu waktu kuliah mentok di B. Hampir bisa dipastikan C sebetulnya.)

Sebagai makhluk introver, aku rupanya lama-lama kurang bisa menikmati rapat daring–walau hal itu membuatku tidak harus bertemu langsung dengan orang. Tetapi entah kalau rapat itu senang-senang saja alias ngobrol tak jelas juntrungannya.

Mungkin aku cocoknya berteman dengan wajan, loyang, dan panci di dapur untuk menghasilkan sup atau kue bolu. Atau sibuk menakar minyak dan soda api supaya minyak bisa berkawan akrab dengan air dan menjadi sabun. Tetapi aku kadang pengen juga ketemu (sedikit) teman dan mengobrol sehingga menghangatkan hati yang rindu terhantam social distancing.

Mengiur Waktu

Bulan puasa tahun ini lain rasanya. Kuamati tetanggaku sudah tidak menyalakan petasan lagi. Aku baru menyadarinya kemarin. Kok tumben setelah buka, tidak ada bunyi dar der dor. Biasanya suara yang membikin aku melompat dan menyumpah-nyumpah itu terus berdentuman walau sudah diprotes. Aku bersyukur atas hal itu. Entah mereka akhirnya sadar diri atau memang sedang berhemat sehingga tidak membeli petasan.

Hal lain lagi yang berbeda adalah dibagikannya takjil setiap setiap sore dari rumah ke rumah. Tahun-tahun sebelumnya takjil dibagikan di musola, sehingga otomatis warga muslim saja yang menikmati dan bergiliran membuat takjil. Karena setiap sore aku menerima bingkisan takjil berisi lauk, aku jadi tidak enak sendiri. Tidak urunan kok dikasih melulu? Rasanya semacam menerima “nasi tonjokan” dari orang yang punya hajat. Kalau sudah menerima nasi tonjokan, secara tersirat wajib menyumbang. Kalau tidak menyumbang, tidak tahu malu namanya.

Jadilah aku kemudian berinisiatif tanya kepada salah seorang tetangga. Singkat kata, aku mau ikut urunan. Tapi aku kan sebenarnya bertetangga dengan kakak (dan ipar) sendiri. Awalnya yang mau urunan cuma aku, tapi aku jadi berpikir, masak saudara sendiri tidak diajak? Akhirnya aku mengajaknya dan aku merasa ada sedikit miskomunikasi, yang membuatku merasa diabaikan atau jadi semacam makhluk invisible yang unrecognized. Rasanya aku memang mudah baper untuk hal seperti itu. Ya, aku memang cenderung berada di belakang layar. Tidak suka tampil. Suaraku juga tidak cukup lantang. Jadi mestinya wajar kalau tidak didengar. Ah, sudahlah. Aku berusaha ngepuk-puk diriku sendiri. It’s OK to be not OK, kan? Aku hanya ingin menangis untuk diriku sendiri. Menangisi kekonyolanku sendiri. Ini semua kutuliskan untuk ngudar rasa. Semacam melepaskan simpul di hati supaya tidak terus-menerus menyakiti hati sendiri.

Balik ke soal takjil tadi. Untuk takjil yang dibagikan, ada beberapa warga yang membentuk kelompok lalu urunan dan memasak bersama. Untuk urusan kebersamaan, boleh lah. Yang top banget adalah mereka memasak dalam jumlah banyak dalam kondisi puasa. Aku lupa pernah membaca di mana, sebenarnya puasa itu saat untuk “beristirahat” atau mengurangi kegiatan sehingga kemudian orang akan punya waktu untuk beribadah. Lagi pula, kurasa saat puasa kondisi fisik seseorang semestinya tidak sekuat kalau tidak puasa. Jadi tidak perlu melakukan pekerjaan berat yang menguras tenaga semacam angkat-angkat barang berat. Yang kuamati kemarin saat rewang untuk pembuatan takjil, tukang masaknya puasa semua. Dan memasak dalam jumlah banyak itu tidak mudah. Mesti mengangkat wajan besar atau baskom besar berisi bahan yang tidak ringan. Dan semua itu dilakukan perempuan! Tak ada bapak-bapak yang membantu sama sekali. Duh, Dek… Aku jadi bertanya-tanya, kenapa seperti ini ya? Apa sih yang dicari? Urunan uang membuat takjil saja tidak enteng bagi sebagian orang pada masa pandemi seperti sekarang. Ditambah mesti melakukan pekerjaan fisik yang menguras tenaga. Sebagai kaum rebahan dan tukang ketik seperti aku, hal seperti itu tidak masuk dalam pikiran. Namun, aku tahu dan paham betul bahwa tuntutan dari masyarakat sangat besar dan berat sehingga nyaris tak bisa terhindarkan. Seperti urusan “nasi tonjokan” itulah. Orang yang kuat pasti bisa dengan cueknya tidak peduli dengan hal seperti ini. Tapi buat orang yang berhati lemah atau yang biasa-biasa saja, pasti mau tak mau bakal kepikiran. Hidup di kampung tidak selamanya mudah sih.

Aku bisa bernapas lega urusan takjil ini selesai kemarin. Seharian kemarin aku sudah merelakan waktu yang mestinya kupakai untuk menyelesaikan terjemahan dan tulisan. Aku sudah urunan waktu dan tenaga serta sedikiiit uang. Mungkin tak berarti buat mereka. Jadi, sekarang mau balik ke laptop lagi. Ada yang mesti kukerjakan supaya aku tidak kehilangan pekerjaan.

Di Sini Saja Cukup

Aku merasa menulis di blog ini merupakan kewajiban kecil terhadap diriku sendiri. Aku butuh catatan untuk mengingat-ingat. Ingatan sering kali menjadi harta karun yang membuat senyum terkembang. Kadang aku terheran-heran, bagaimana bisa aku membuat tulisan seperti itu.

Belakangan aku merasa tidak perlu menyebarkan tulisan di blog ini lewat akun medsosku karena kebanyakan ini hanya catatan untuk diriku sendiri. Kalau sesekali ada orang yang ikut membacanya, silakan. Tetapi tulisan-tulisan di sini terutama untuk diriku sendiri.

Dulu aku merasa “butuh” banyak pembaca. Aku mengalami masa ketika aku beberapa kali bertemu teman sesama narablog. Tetapi aku lagi-lagi lebih suka berdiam di balik layar.

Kini aku menulis seperti ini saja. Sesukaku. Kadang lama tidak menulis. Sekalinya menulis, aku tidak “woro-woro”. Sempat aku terpikir untuk memiliki buku harian. Tetapi aku malas menyimpan tumpukan buku. Rakku sudah penuh dan aku tak ingin menambahnya dengan berjilid-jilid buku harian. Jadi, di (blog) sini saja cukup.

Apakah Kamu Berubah?

Banyak orang mengatakan rutinitas hidupnya berubah gara-gara corona. Yang biasanya berangkat ke kantor pagi-pagi, kini bisa bangun lebih siang dan bisa memilih tidak mandi. Mandi dirapel sekalian sore. Aku sempat mengalami perubahan: tidur lebih tertib–tidak lebih dari jam 10 malam; masak setiap hari dan sama sekali tidak absen; jalan pagi setiap pagi, dan lain-lain.

Namun seingatku hal itu hanya berlangsung sekitar pertengahan Maret sampai awal April. Waktu itu aku merasa lebih tegang. Setiap hari membaca berita tentang corona lalu mulai eneg. Eneg secara literal. Jadi, aku merasa pusing dan deg-degan tiap kali ada berita si virus. Tidak bisa tidak membacanya. Mata seperti otomatis mengunyah berita, tapi kepala akhirnya kekenyangan dengan segala macam info.

Sebelum bulan puasa berlangsung, aku sempat mencuri-curi beli makan di luar. Belinya di dekat-dekat sini, misalnya soto di selatan kampung. Hanya saja sekarang kalau beli makan dari luar, aku bawa rantang sendiri dan tidak lupa memakai masker. Namun, aku masih sering memasak kok. Cuma ada hari-hari ketika memasak menu sederhana terasa melelahkan–misalnya hanya sekadar bikin orak-arik.

Awal-awal, aku tiap hari melakukan gerakan yoga suryanamaskar. Minimal 25 menit setiap hari, dilanjutkan jalan pagi sambil berjemur. Rajin kan? Tapi sekarang, rebahan di kasur sambil main game atau membuka medsos betul-betul menggoda. Yang terjadi adalah, aku merasa tidak segesit kemarin-kemarin. Dengan aktivitas harian lebih banyak duduk, rebahan tentu bukan perpaduan yang tepat.

Sepertinya lama-kelamaan, tingkat keteganganku menghadapi corona mulai kendur. Yang kukhawatirkan, aku juga makin tidak waspada. Seperti pernah kubaca dalam sebuah buku, menunggu musuh datang saat perang adalah saat yang membosankan. Padahal kalau masa wabah begini, mestinya jangan sampai si musuh datang. Tak ada yang mau sakit. Tetapi aku masih rajin cuci tangan kok. Untung saja kebiasaan cuci tangan ini menempel cukup erat.

Aku lalu bertanya-tanya, apakah aku berubah? Seperti pendapatku yang dulu-dulu, aku pikir manusia itu sulit berubah. Cenderung begitu-begitu saja. Berubah itu tidak enak. Seperti menyuruh anak kecil yang lagi enak-enaknya main game di sofa, lalu disuruh menyapu seluruh rumah. Lho, gak ndelok aku lagi lapo? Sampeyan ae sing nyapu, Rek! Pasti banyak sekali alasan untuk menolak. Dorongan dari luar memang bisa mengubah seseorang, tetapi kesadaran dari dalamlah yang betul-betul menghasilkan perubahan. Perubahan yang timbul dari kesadaran itulah yang biasanya lebih langgeng.

Di satu sisi, timbul sebersit kesadaran bahwa bila aku rutin beryoga, keluhan pada kakiku akan berkurang–yang mana sangat menguntungkan aku. Namun, menggerakkan kaki dan tangan untuk menggelar matras saja kadang diganduli banyak godaan. Rasa-rasanya butuh niat sebesar galaksi untuk mengusir keengganan.

Talang dan (te)Tangga

Sudah lama aku merasa was-was dengan talang rumahku. Masih ada sisa abu letusan gunung di sana. Entah abu Merapi atau Kelud, aku tak tahu persis. Walau jumlahnya tidak terlalu banyak, tetapi cukup untuk menumbuhkan satu-dua rumput kecil. Aku pikir kalau ada hujan deras, tumpukan abu yang menjelma menjadi semacam tanah dan lumut akan ikut arus. Tetapi coba pikir, sudah berapa lama ya letusan gunung itu terjadi? Sudah melewati hitungan tahun, tetapi toh sisa abu itu masih ada.

Aku bukannya tidak berusaha membersihkannya. Aku sudah mencoba menggosoknya dengan tongkat. Tetapi tidak hilang juga. Aku hanya bisa pasrah. Semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk dengan talang air itu.

Namun, kemarin hari lalu, saat hujan deras, mendadak aku dikejutkan dengan suara keras seperti barang jatuh. Waduh, apa ya? Apakah ada genteng jatuh? Apakah ada tembok jebol? Aku sudah berpikir yang bukan-bukan. Maling? Hujan-hujan begini?

Ternyata talangku patah! Eh, bukan patah sih, tetapi klem sambungannya lepas, jadi satu bagian talang turun dan menimbulkan air terjun kecil yang dengan sukses menciprat ke ruang tengah. Bagus banget, dah!

Malam itu juga aku mengirim WA kepada tetanggaku yang biasa kumintai tolong untuk membereskan masalah rumah. Untungnya berjodoh. Si bapak menyanggupi hari ini membereskan talang. Bapak ini cukup sibuk biasanya dan dia adalah “pria panggilan” yang banyak pelanggannya.

Pagi tadi aku terbangun dan langsung ingat pada talangku. Lalu aku teringat bahwa aku tidak punya tangga yang cukup tinggi untuk mencapai talang. Nanti si bapak tukang itu pakai tangga apa dong untuk membetulkan talang? Sebetulnya aku punya tangga, tetapi ada tetanggaku yang lain yang meminjam tangga itu dan lama sekali tidak dikembalikan. Malahan dia bilang, “Tangganya aku rawat di rumahku ya?” Menyebalkan kan? Dan bodohnya aku iyain saja waktu itu. Pikirku, ah nanti beli tangga lagi saja.

Tetapi saat talang rusak di masa wabah di mana aku mesti berhemat-hemat supaya dompet tak cepat sekarat, membeli tangga baru bukan pilihan. Aku pun memilih menagih tangga ke tetangga yang notorious itu. Dan tetanggaku bilang, tangga itu tidak ada padanya. Dipinjam saudaranya yang tinggal di daerah utara sana. Tetapi aku niatku menagih tidak surut. Toh tangga itu milikku, kan? “Mintta tolong tangganya dikembalikan, ya Bu. Saya sedang butuh. Kalau pagi ini tidak bisa, saya tunggu sampai nanti siang. Betul ya, nanti siang saya tunggu.” Dua kali kutegaskan supaya dia mengembalikan tangga. Dalam hati aku sebetulnya merasa dimanfaatkan oleh tetangga yang notorious ini. Sebagai pendatang yang beragama minoritas (hanya 1-2 rumah yang beragama minoritas di sini, dan beberapa kali kudengar bahwa mereka “kecolongan” atas kehadiran kami), aku sempat merasa sebagai warga kelas dua. Tapi aku pikir, aku tak mengganggu mereka. Jadi, biarlah. Selama ini tetangga-tetangga terdekat cukup baik walau kadang ada yang yaaah… gitu deh, tetapi hal itu tak terlalu kupikirkan. Saat ini aku berusaha meminta hakku. Dan aku tidak salah dong ya?

Singkat kata, bapak tukang yang hendak membetulkan talang sudah siap. Betul perkiraanku, tak ada tangga. Tangga yang ada tidak cukup tinggi. Sementara tangga yang kutagih belum tiba. Lalu bagaimana? Untungnya ada tetangga satu lagi yang punya tangga cukup tinggi dan kokoh. Talang pun diturunkan dan dibersihkan! Ah, aku jadi lega saat aku bisa ikut membersihkan talang yang sudah lama kucemaskan karena sisa abu gunung masih menggumpal itu. Aku ikut menyikatnya sampai bersih!

Siang tadi, sebelum jam 12, talangku sudah beres dan rapi. πŸ™‚ Lalu tangga milikku yang kutagih itu akhirnya dikembalikan–setelah talang dibetulkan. Happy ending ceritanya. Dan aku siap menanti hujan–soalnya hari ini panaaasss sekali!

Love in Time of Corona

Sore ini hujan mengguyur Jogja. Ngemplak ding, tepatnya. Cuaca jadi lebih dingin. Segar. Kupikir hujan bakal berhenti sekitar jam 16.30. Tapi kok jam 5 lewat masih cukup deras? Aku mulai berpikir kakakku nanti bakal kehujanan, dong? Soal dia pulang dari kampus hujan-hujan, itu sudah biasa. Tapi yang tidak biasa adalah sekarang kan musim corona. Haish. Kalau kehujanan bisa masuk angin dan daya tahan tubuh bakal turun. Ketimbang nanti kenapa-napa, aku menawari untuk menjemputnya pakai mobil. Mumpung belum terlalu malam dan hujan tidak terlalu deras.

Baiklah, aku berangkat sendiri. Menyetir saat hujan bukan keahlianku. Agak deg-degan juga karena aku mesti nyetir sendiri. Mesti ekstra fokus mengingat air hujan yang mengenai kaca depan itu sesekali membuat pandangan ke depan jadi blawur. Selain itu, aku mesti berjuang melawan dinginnya AC mobil. Untung jarak rumah dan kampus tidak terlalu jauh. Pokoknya super hati-hati dan berdoa.

Saat lewat Stadion Maguwo kulihat beberapa warung makan masih buka. Semakin dekat Stadion, tampak beberapa penjual makanan kecil dan minuman berjualan di bawah rintik hujan. Mendadak aku nggrantes. Di antara seruan dan ajakan supaya orang tetap di rumah saja, masih ada orang yang berjualan di bawah rintik hujan. Aku tahu ini bukan pilihan yang mudah. Ada temanku yang bercerita bahwa pendapatannya diperoleh secara harian. Kalau satu hari tidak bekerja, ya tidak punya uang. Tidak ada bos yang menggaji setiap bulan. Bosnya ya diri sendiri, merangkap karyawan, dan HRD. Singkat kata, mesti bekerja tiap hari. Kalau tidak kerja, ya tidak bisa makan. Titik. Menurutku orang-orang seperti itu adalah kelompok yang rentan. Mereka bisa terpapar virus saat menghabiskan waktu di jalan. Paling tidak karena terpapar udara dingin, stamina tubuh bisa turun. Yeah, itu aku sih yang kalau kedinginan dikit bisa mendadak masuk angin. Tapi tetep saja sih kurasa orang bisa sakit kalau sering terpapar udara dingin malam hari dalam jangka panjang. Siapa yang tidak nggrantes dan sedih melihat orang-orang yang terpaksa bekerja di luar rumah seperti itu?

Seumur-umur baru pertama kali ini aku dibombardir dengan berita tentang wabah seperti ini. Rasanya capek juga. Kadang aku ingin menutup kuping dan mata dari segala berita soal corona. Tapi kok sulit ya? Hampir semua orang membicarakannya–baik di dunia nyata maupun di dunia maya, mulai dari bangun tidur sampai mau tidur lagi. Seakan-akan ini perang dengan musuh tak terlihat. Menyebalkan. Kalau kita perang dan tahu musuhnya ada di mana, kita bisa melipir. Tapi kalau musuhnya tak terlihat begini, sepertinya harus pasang kuda-kuda terus. Capek tauk!

Meskipun demikian, aku berusaha melihat sisi positif selama wabah ini. Aku jadi lebih rajin menyapu, mengepel, dan mengelap meja makan/dapur. Aku jadi rajin masak. Tiap kali makan kuusahakan ada sayur baru. Minimal kalau masak sayur bisa untuk makan dua kali. Habis masak, aku bersihkan dapur. Tidak hanya nyuci alat masak, piring, dan gelas, tapi juga mengepel! Semacam kurang kerjaan saja. Biasanya, sudah bagus aku mau nyuci alat masak dan piring kotor. Ngepel? Nanti dulu lah. Sekarang, lantai berpasir sedikit, langsung ambil sapu. Begitu ada kesempatan, ambil pel. Capek? Iya. Tapi lantai yang bersih ternyata nyaman. Kupikir wabah ini membuatku jadi melihat lagi ke dalam diri. Berusaha menyayangi diri sendiri dan orang-orang di sekitarku–sahabat serta keluarga.

Semoga kita semua bisa melalui masa sulit ini dengan tabah. Semoga kita dan orang-orang yang kita kasihi senantiasa sehat. Tunjukkan perhatian dan sayang untuk mereka, ya! Jangan lupa berdoa.