Love in Time of Corona

Sore ini hujan mengguyur Jogja. Ngemplak ding, tepatnya. Cuaca jadi lebih dingin. Segar. Kupikir hujan bakal berhenti sekitar jam 16.30. Tapi kok jam 5 lewat masih cukup deras? Aku mulai berpikir kakakku nanti bakal kehujanan, dong? Soal dia pulang dari kampus hujan-hujan, itu sudah biasa. Tapi yang tidak biasa adalah sekarang kan musim corona. Haish. Kalau kehujanan bisa masuk angin dan daya tahan tubuh bakal turun. Ketimbang nanti kenapa-napa, aku menawari untuk menjemputnya pakai mobil. Mumpung belum terlalu malam dan hujan tidak terlalu deras.

Baiklah, aku berangkat sendiri. Menyetir saat hujan bukan keahlianku. Agak deg-degan juga karena aku mesti nyetir sendiri. Mesti ekstra fokus mengingat air hujan yang mengenai kaca depan itu sesekali membuat pandangan ke depan jadi blawur. Selain itu, aku mesti berjuang melawan dinginnya AC mobil. Untung jarak rumah dan kampus tidak terlalu jauh. Pokoknya super hati-hati dan berdoa.

Saat lewat Stadion Maguwo kulihat beberapa warung makan masih buka. Semakin dekat Stadion, tampak beberapa penjual makanan kecil dan minuman berjualan di bawah rintik hujan. Mendadak aku nggrantes. Di antara seruan dan ajakan supaya orang tetap di rumah saja, masih ada orang yang berjualan di bawah rintik hujan. Aku tahu ini bukan pilihan yang mudah. Ada temanku yang bercerita bahwa pendapatannya diperoleh secara harian. Kalau satu hari tidak bekerja, ya tidak punya uang. Tidak ada bos yang menggaji setiap bulan. Bosnya ya diri sendiri, merangkap karyawan, dan HRD. Singkat kata, mesti bekerja tiap hari. Kalau tidak kerja, ya tidak bisa makan. Titik. Menurutku orang-orang seperti itu adalah kelompok yang rentan. Mereka bisa terpapar virus saat menghabiskan waktu di jalan. Paling tidak karena terpapar udara dingin, stamina tubuh bisa turun. Yeah, itu aku sih yang kalau kedinginan dikit bisa mendadak masuk angin. Tapi tetep saja sih kurasa orang bisa sakit kalau sering terpapar udara dingin malam hari dalam jangka panjang. Siapa yang tidak nggrantes dan sedih melihat orang-orang yang terpaksa bekerja di luar rumah seperti itu?

Seumur-umur baru pertama kali ini aku dibombardir dengan berita tentang wabah seperti ini. Rasanya capek juga. Kadang aku ingin menutup kuping dan mata dari segala berita soal corona. Tapi kok sulit ya? Hampir semua orang membicarakannya–baik di dunia nyata maupun di dunia maya, mulai dari bangun tidur sampai mau tidur lagi. Seakan-akan ini perang dengan musuh tak terlihat. Menyebalkan. Kalau kita perang dan tahu musuhnya ada di mana, kita bisa melipir. Tapi kalau musuhnya tak terlihat begini, sepertinya harus pasang kuda-kuda terus. Capek tauk!

Meskipun demikian, aku berusaha melihat sisi positif selama wabah ini. Aku jadi lebih rajin menyapu, mengepel, dan mengelap meja makan/dapur. Aku jadi rajin masak. Tiap kali makan kuusahakan ada sayur baru. Minimal kalau masak sayur bisa untuk makan dua kali. Habis masak, aku bersihkan dapur. Tidak hanya nyuci alat masak, piring, dan gelas, tapi juga mengepel! Semacam kurang kerjaan saja. Biasanya, sudah bagus aku mau nyuci alat masak dan piring kotor. Ngepel? Nanti dulu lah. Sekarang, lantai berpasir sedikit, langsung ambil sapu. Begitu ada kesempatan, ambil pel. Capek? Iya. Tapi lantai yang bersih ternyata nyaman. Kupikir wabah ini membuatku jadi melihat lagi ke dalam diri. Berusaha menyayangi diri sendiri dan orang-orang di sekitarku–sahabat serta keluarga.

Semoga kita semua bisa melalui masa sulit ini dengan tabah. Semoga kita dan orang-orang yang kita kasihi senantiasa sehat. Tunjukkan perhatian dan sayang untuk mereka, ya! Jangan lupa berdoa.

Apakah Aku Mesti Ikut Kulwap?

Zaman sekarang memang zamannya WA dan kulwap jadi menjamur. Kulwap alias kuliah di grup WA rasa-rasanya makin sering kudengar. Misalnya kemarin di sebuah grup yang kuikuti, Bu Admin memprovokasi anggota grup untuk ikut kelas membuat sabun. “Kali ini kelasnya offline, ya,” begitu ocehnya di grup. Lalu, beberapa anggota grup mulai mengajukan usul, “Bikin kelas online dong, Bu. Biar yang dari luar kota bisa ikutan.”

Bu Admin dengan gegap gempita lalu menanggapi: Setelah gurunya siap, bakal diadakan kelas online. Begitulah Bu Admin yang gemar memprovokasi itu menyenangkan jamaahnya.

Sesungguhnya, aku bertanya-tanya kenapa orang sepertinya haus kelas online dan merasa perlu ikut kulwap. Sepenting apa sih ilmu yang disebarkan di kulwap itu?

Emang aku tidak pernah ikut kulwap?

Pernah dong. Haha. Dan setelah mengikuti kulwap, aku merasa kulwap-kulwap itu tidak penting-penting amat–terutama yang berbayar mahal. Kalau kamu cukup belajar, kulwap mahal itu hanya mengulangi pelajaran yang sudah kamu ketahui.

Aku pernah ikut beberapa macam kulwap. Tidak sering sih, tapi yah 1-2 kali lah. Aku ikut kulwap pertama-tama karena penasaran dengan pemberi materi. Biasanya pemateri sudah punya nama dan dipandang memiliki keahlian tertentu. Dari kulwap-kulwap yang kuikuti, aku merasa aku sudah cukup paham dengan semua yang disampaikan. Lho, tapi kok aku ikut? Ya, begitulah aku. Aku kan orangnya suka penasaran. Selain itu, aku merasa perlu “mengintip” apa sih yang bakal dia omongkan? Apa itu namanya kalau bukan penasaran bin kepo?

Kulwap itu berguna kalau kita ingin tahu sekilas materi yang disampaikan. Misalnya nih, kamu pengin tahu cara membuat sabun dan kamu sama sekali belum pernah tahu cara membuatnya. Kalau seperti itu, bolehlah kamu ikut kulwap. Kalau kamu ingin belajar lebih jauh, mendingan ikut kelas offline. Lagi pula kelas online itu jamaahnya suka ribut dan menanyakan hal-hal yang membutuhkan kesabaran bagi yang ikut menyimak. (Mungkin itu sebabnya aku tidak cocok menjadi guru. Membaca pertanyaan yang jawabannya sudah sangat jelas di awal saja aku merasa senewen.)

Namun, hal lain yang aku pertanyakan kenapa banyak orang gegap gempita ikut kulwap adalah apakah mereka tidak pernah browsing internet lalu membuka YouTube atau situs web yang membagikan hal-hal serius yang ingin mereka pelajari? Semua rasanya ada deh. Mulai dari bikin klepon sampai cara menulis novel. Mulai dari dari memasak sayur lodeh sampai cara belajar bahasa Arab. Semua ada. Lalu kenapa masih ikut kulwap ya? Oh, mungkin orang-orang itu sama penasarannya denganku. 😀

Sekian kali aku ikut kulwap, ada satu hal yang selalu kulakukan setelah masuk grup: mulai berhitung berapa banyak keuntungan yang diraup sang pemateri. Anggaplah tiap peserta membayar Rp50.000 dan jumlah peserta yang ikut kulwap 100 orang. Maka total uang yang diperoleh adalah Rp50.000 x 100 = Rp5.000.000. Lima juta, Sodara-sodara. Uang sebanyak itu diperoleh dalam tempo singkat dan tepat. Begitulah cara cepat untuk mendapatkan uang yang lumayan: Rajin-rajinlah bikin kulwap. Maka tidak heran kalau Bu Provokator itu gemar mengoceh dan mengompori orang untuk ikut kelas yang dia bikin.

Sekarang, kamu jadi pengin ikut kulwap atau malah pengin bikin kulwap?

Sebuah Pertanyaan dan Tentang Mengumpulkan Harta di Surga

Kadang ada satu pertanyaan yang tiba-tiba muncul di kepalaku. Pertanyaan itu terus membayangi sampai ditemukan jawaban yang cukup memuaskan. Kadang jawaban itu lama sekali baru ketemu. Kadang ketemunya tidak langsung utuh, tetapi satu-satu. Kadang pertanyaan itu muncul, kadang pergi lagi.

Belakangan ini, ada satu pertanyaan yang muncul: Apa yang sebenarnya aku inginkan?

Aku mencoba menebak-nebak mengapa muncul pertanyaan ini. Mungkin aku ini terlihat sibuk tapi tidak jelas tujuannya. Tidak fokus. Oh, ya betul, mungkin karena tidak fokus itulah pertanyaan itu datang. Aku memang sering tidak fokus. Mau ke sini, ke sana, tapi akhirnya tidak ke mana-mana. Lalu, apa yang sebenarnya aku inginkan? Apa tujuan yang di depan?

Samar-samar ada sih jawabannya. Tetapi ya gitu, masih samar.

Sampai pagi ini.

Aku takjub aku bisa bangun sepagi itu tanpa alarm padahal semalam aku tidur larut. Sebelum tidur aku memang berkata dalam hati. “Aku ingin ikut misa harian besok pagi.” Dan pas jam 5 aku bangun. Melawan dinginnya pagi yang membekukan, aku berangkat ke gereja Banteng.

Bacaan misa hari ini adalah tentang mengumpulkan harta di surga. “Bukan tentang menjadi apa atau siapa,” begitu khotbah Romo, “tetapi apakah kita sudah mengupayakan seluruh usaha kita untuk mengumpulkan harta di surga.” Harta di surga di sini maksudnya adalah keutamaan-keutamaan hidup. Karena di mana harta kita berada, di situlah hati kita berada.

Aku seperti mendapat sedikit pencerahan dari apa yang kudengar dan apa yang kualami pagi ini. Pertama, ketika aku bisa bangun pagi tanpa menunda-nunda, itu berarti aku sudah tahu apa yang kuinginkan: Misa pagi. Kedua, soal mengarahkan keinginanku, yaitu pada keutamaan-keutamaan hidup. Ini PR besar dan mesti dibuat lebih detail.

Ditambah aku pagi ini mendapat telepon, dan suara di seberang bertanya soal pembuatan sabun. Lalu aku bercerita bahwa tempo hari aku menunjukkan demo pembuatan sabun di sebuah paroki di sini.

Samar-samar aku mendapat jawaban apa yang kuinginkan. Tidak hanya keinginan pribadi sih, tetapi aku lebih dari itu. Maksudnya, supaya yang kuinginkan, yang kulakukan tidak menguntungkan aku pribadi, tetapi memberi manfaat pada banyak orang.

Hiburan untuk Seorang Teman

Semalam aku bermobil dengan teman masa kecilku. Kami mengingat-ingat hal-hal yang silam. Dulu aku hampir setiap hari ke rumahnya. Berkat dia aku bisa baca Lima Sekawan, STOP, Candy Candy, dll. Hampir semua buku bagus masa kecil yang kubaca itu koleksinya. Gimana aku nggak demen temenan sama dia? Haha.

Semalam aku bertanya padanya: Anakmu sudah pacaran? Anaknya cewek dan sudah mau masuk SMA. Kebayang dong anak umur segitu kan sedang mulai naksir-naksiran. Dan aku penasaran pengin tahu bagaimana dia menghadapi anak remajanya itu. Tapi akhirnya kami malah nostalgia membahas cowok gebetan masa remaja. (Sekarang di mana mas ganteng yang bikin deg-deg an itu ya?)

Dia bilang, masa-masa itu adalah masa terindahnya. Aku pun merasa begitu.

Sekarang kami bertemu lagi dalam suasana yang berbeda. Semalam, saat hujan deras, aku menemani dia mengantar nasi berkat ke beberapa kerabatnya. Nasi berkat peringatan 7 hari ayahnya. Sebetulnya aku sedang tidak selo-selo amat. Tapi aku merasa perlu menemani dia. Aku merasa cuma itu yang bisa kulakukan mengingat sumbangan uang yang kuberikan padanya tidak banyak. Waktu ayahnya sakit aku tidak sempat bezuk, dan tahu-tahu dikabari ayahnya sudah meninggal.

Di antara tawanya yang renyah mengingat masa lalu kami dan kendati beberapa kali mengatakan bahwa ayahnya sudah bahagia, dia beberapa kali mengatakan bahwa dia sekarang sudah tidak punya papa lagi. Aku merasa tidak bisa memberikan hiburan yang sepantasnya dan secukupnya. Apakah cerita nostalgia kami itu cukup menghibur?

Kepada semua orang dia menyebutku sahabat masa kecilnya. Bagiku, istilah sahabat itu lebih dari sekadar teman. Ya, kami cukup dekat dulu. Tapi seiring berjalannya waktu, ada masa kami jauh dan tak berkabar. Ketika ayahnya berpulang kemarin, aku merasa tidak banyak membantu. Sahabat macam apa aku ini? Jadi, ketika dia mengajakku supaya menemani mengantar nasi berkat, aku langsung mengiyakan. Setidaknya aku punya waktu untuk menemaninya sebentar.

Aku berjanji berdoa buat dia. Semoga ini bisa jadi hiburan.

Jangan Menunggu Sakit untuk Tetap Sehat

Hari ini aku batal masak untuk menu makan malam. Tadinya aku berniat masak tumis sawi. Tapi karena sore tadi diberi tahu Bapak bahwa ada kerabat yang sakit, jadilah aku dan kakakku ke rumah sakit untuk bezuk.

Sebut saja Om W. Katanya dia mengalami penyumbatan di otak. Yang tadi kulihat kaki dan tangannya lemas (aku lupa yang lemas ini sisi kiri atau kanan). Lalu, ada lendir yang sulit keluar sampai harus dilubangi tenggorokannya. Singkat kata, aku nggak tega melihatnya.

Kata istri Om W, awal sakitnya beliau adalah hipertensi. “Kalau makan enak suka sembunyi-sembunyi,” keluh istrinya. “Jadinya ya begini.”

Dalam perjalanan pulang, aku mengobrol dengan kakakku membicarakan Om W. Dulu beliau tampak sehat. Kalau melihat rumahnya yang besar dan luas, tergolong sangat mampu. Tapi kalau melihat kondisi kesehatannya sekarang, semua seperti tidak ada gunanya.

Kakakku bilang, mendengar penuturan istri Om W tentang sulitnya Om W mengatur diet, maka selagi masih sehat melatih penguasaan diri itu penting. Minimal soal mengatur pola makan–mana yang harus dimakan dan mana yang perlu dihindari. Tapi manusia kan sukanya nunggu sakit dulu, baru sibuk diet. Itu pun mesti diawasi oleh anggota keluarga terdekat, entah pasangan, anak, atau saudara.

Kalau datang ke rumah sakit dan melihat kondisi orang-orang sakit, rasanya sungguh yang kuminta hanyalah sehat. Diberi kesehatan, mestinya bisa berbuat lebih banyak. Dan yang terpenting adalah mempertahankan kesehatan. Jangan menunggu sakit untuk menjaga kesehatan. Peringatan ini penting untuk selalu kuingat dan dijalankan.

Hadiah pada Minggu Pagi

Minggu pagi kemarin aku sebenarnya sudah memasang alarm agar bisa bangun sebelum jam 5. Alarm berbunyi, tapi aku tidur lagi. 😀 Kupikir tambah tidur 5 menit lagi deh. Eh… kok bablas sampai hampir jam 5.15. Yah, kesiangan deh kalau mau misa jam 5.30 pikirku.

Aku pikir, aku mau misa jam 7.00 saja. Tapi aku keasyikan di depan komputer, dan terlalu mepet kalau mau misa di Banteng. Akhirnya kuputuskan misa di Kapel Belarminus, Mrican. Itu pun aku agak buru-buru. Duh, aku memang buruk soal manajemen waktu. Padahal sudah mandi awal, lo. Tapi kok ya menunda-nunda berangkatnya. Menyebalkan betul aku nih.

Aku tiba di Kapel Belarminus ketika misa sudah dimulai. Untung sepi, jadi aku masih dapat tempat duduk di sayap timur. Efek lebaran mungkin. Jadi, masih banyak orang yang mudik. Gereja ikut berkurang umatnya.

Bacaan Injil kemarin adalah perumpaan kerajaan Allah. Kerajaan Allah itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di tanah. Setelah ditaburkan ke tanah, tanpa disadari oleh sang penabur, biji itu tumbuh dan menjadi lebih besar daripada segala sayuran lain serta mengeluarkan cabang-cabang yang besar pula. Romo menjelaskan bahwa kerajaan Allah itu merupakan suatu daya yang luar biasa di mana Tuhan bekerja di dalamnya. Mungkin kita tidak menyadarinya, tetapi hasilnya tampak dan berlimpah-limpah. Contohnya adalah Bunda Teresa di Kalkuta. Yang ia lakukan sebenarnya sederhana, yaitu menolong orang miskin yang sekarat. Hmm, nggak sederhana juga kali, ya? Ini mah, luar biasa. Tapi ia tentu tidak bercita-cita membuat gerakan yang besar. Intinya sih, lakukan suatu karya baik, dan lihatlah hasilnya di kemudian hari. Biasanya karya baik akan bergulir dan menular. Begitulah.

Mendengar hal itu, aku lalu ingat hal-hal yang ingin kukerjakan, tetapi masih banyak keragu-raguan yang membuatku mandeg. Setidaknya, khotbah Romo kemarin memantik semangatku.

Menjelang komuni, Romo memberi pengumuman: “Yang berulang tahun bulan ini, silakan maju ke dekat altar.” Aduh, aku deg-degan. Maju nggak ya? Selalu begitu deh. Aku malu untuk urusan maju dan tampil di depan begitu. Tapi aku akhirnya maju. Ternyata sudah ada beberapa orang yang maju. Lumayan banyak temannya–walau nggak kenal juga. Dan… pas komuni, kami boleh menerima komuni dalam dua rupa: roti dan anggur. Huhuhu… sukses mau nangis deh. Tapi aku tahan-tahan.

Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku menerima komuni dalam dua rupa. Yang kuingat, dulu pas di asrama pernah “nyicip” anggur pas unitku tugas. Itu sudah berapa tahun yang lalu? Dua puluh tahun lebih? Dulu aku sempat berpikir, rasanya tidak ada lagi kesempatan untuk menerima komuni dua rupa. Waktu sakramen pernikahan dulu aja enggak. Kapan lagi? Tak ada momen misa khusus lagi, pikirku. Tidak kusangka aku bisa menerima roti dan anggur.

Kali ini aku benar-benar merasakan “pelukan” yang sangaaaat erat. Terima kasih, Yesus! Cinta-Mu membuatku meleleh.

Cerita Lebaran 2018

Seperti biasanya, Idulfitri kulalui dengan di rumah saja. Maksudnya, aku tidak ke luar kota. Membayangkan penuhnya kendaraan umum membuatku enggan untuk mudik. Hanya berkunjung ke tetangga kiri-kanan. Kebiasaan ini rasanya tidak bisa ditinggalkan ya. Walau tidak merayakan Idulfitri, aku dan keluargaku tetap ikut “ujung-ujung” ke tetangga. Yang dekat-dekat saja, terutama yang sudah sepuh. Selain itu aku ke rumah Maya (iparku) di Ngasem untuk bertemu Budhe dan Tante yang berlebaran.

Saat lebaran, suguhan yang paling ditunggu-tunggu biasanya adalah tape ketan. Tapi kali ini tape ketan kurang terasa gregetnya karena tape buatanku ternyata lebih enak. Hahaha. Aku mencicipi tape di dua rumah tetanggaku, dan agak kecewa. Tape itu kurasa belum terlalu lama diperam. Teksturnya kurang lembut dan kurang berasa alkoholnya.

Lebaran kali ini keluargaku mendapat opor, krecek, kering tempe, lontong, dan ketupat. Semuanya itu dari tetangga dan Budhe. Jadi, aku tidak perlu memasak setidaknya selama 1 hari. Padahal aku sudah menyetok sayuran, takut nanti pas lebaran tidak ada yang jual makanan dan sayuran segar. Sebelum lebaran hari H aku sudah bertanya ke penjual makanan yang biasa kudatangi. Ada yang sebagian sudah buka pada H+2. Kulihat rata-rata penjual bakso sudah buka juga. Jadi, sebetulnya cukup aman jika aku tidak masak pun.

Opor dan teman-temannya itu menghiasi meja makan di rumah sampai 2 hari. Setelah itu, mulut dan perut rasanya kangen sayuran. Untungnya di kebun belakang bisa memetik kecombrang dan sayur pepaya papua (entah apa nama latinnya, yang jelas ini sayur andalan kalau lagi malas pergi beli sayur di pasar/warung). Tinggal beli toge, wortel, dan tempe. Sambel pecel masih ada di kulkas.

Nah, bagaimana lalu lintas Yogya selama lebaran? Saat H-1, jalanan agak lengang. Hari itu aku pergi ke rumah temanku di dekat Plengkung Wijilan. Aku tidak mengalami kemacetan yang berarti. Malah rasanya agak lengang. Ini di daerah kota ya. Tapi menurut laporan temanku yang lain, ring road lumayan macet. Mungkin jalanan mulai dipenuhi oleh para pemudik dari luar kota.

Waktu lebaran hari pertama, jalanan benar-benar sepiii. Seneng deh. Jadi, aku ke Ngasem cukup cepat. Nggak ada macet-macetnya sama sekali.

Lebaran hari kedua, aku nggak pergi-pergi. Lebaran hari ke-3, malamnya aku pergi nonton Ketoprak Conthong yang judulnya Sang Presiden di Societet. Jalanan maceeet. Beneran aku takjub melihat Yogya bisa semacet itu. Untungnya aku naik motor, jadi bisa mlipir lewat gang dan jalan kampung. Bahkan sampai pukul 11 malam pun jalanan di tengah kota masih ramai. Mobil-mobil luar kota memenuhi jalanan. Dalam hati aku bertanya-tanya, “Kalau semacet ini, apanya yang mau dinikmati?” Dan sayangnya kendaraan umum di Yogya ini buruk. Amat sedikit. Jadi, tidak heran kalau jalanan penuh mobil pribadi.

Ah, kalau aku sih… libur lebaran paling enak sebetulnya di rumah saja. Hasilnya? Ada terjemahan yang selesai dan beberapa potong sabun. Hehe. Bagaimana cerita lebaranmu?