Minyak Jelantah Menjadi Berkah

Di rumah aku berusaha memilah sampah organik dan anorganik. Yang gampang busuk, kubuang di kebon belakang. Plastik dan teman-temannya yang sulit busuk kubuang lewat jasa tukang sampah yang datang dua hari sekali. Yang agak repot adalah ketika akan membuang minyak goreng bekas (jelantah). Walaupun tidak banyak, cukup merepotkan.

Aku tidak ingat bagaimana awalnya aku memanfaatkan minyak jelantah tersebut menjadi sabun. Yang kuingat, suatu siang, aku, bersama dua orang teman–Mbak Imel, dan Mbak Ira–mencoba mengolah minyak jelantah di rumah Mbak Ira untuk dijadikan sabun. Ng… mungkin waktu itu untuk persiapan percobaan di Pasar Sasen? Mungkin ya. Aku lupa.

Sempat bertanya-tanya juga dulu soal cara menjernihkan minyak jelantah supaya baunya yang tidak enak itu bisa berkurang. Setelah googling, ada beberapa cara menjernihkan minyak jelantah. (Silakan googling sendiri, ya.) Cara penjernihan yang paling mudah menurutku memakai arang.

Aku sudah beberapa kali mencoba membuat sabun minyak jelantah ini. Mulai dari jelantah bekas warung penyetan sampai jelantah rumah tangga. Ada yang baunya ikan banget, ada yang baunya gorengan tempe. Hasilnya pun macam-macam. Awalnya sabun jelantah yang kami buat baunya masih kurang enak. Namun belakangan sudah lumayan. Terakhir aku memakai air pandan sebagai cairan pembuat sabun, maka setelah jadi, sabun warnanya kehijauan dan ketika samar-samar ada aroma pandan juga.

Sabun jelantah bisa dipakai untuk mencuci piring, mencuci baju, atau sekadar cuci tangan. Menurutku sabun tersebut cukup kesat dan bersih.

Begini cara membuat sabun jelantah.

Bahan:
– Minyak jelantah setengah liter (kurang lebih 450 gram)
– Arang secukupnya. Ditumbuk atau jadikan potongan kecil-kecil.
– Soda api 61 gram
– Pandan 5 lembar, rajang supaya mudah diblender
– Air 123 gram (jangan menggunakan air PAM)

Alat yang dibutuhkan:
* Hand blender
* Timbangan (lebih baik memakai timbangan digital supaya mendapatkan angka yang presisi)
* Wadah stainless steel atau wadah plastik yang tahan panas (jangan memakai wadah dari aluminium). Wadah ini dipakai pada saat mencampur soda api + air, dan saat mencampur larutan soda api + minyak
* Cetakan silikon. Jika tidak punya cetakan silikon, bisa memakai cetakan puding, tetapi alasi dulu dengan plastik tahan panas supaya ketika sabun sudah jadi, mudah dilepas.

Alat pengaman:
+ Masker
+ Kacamata pelindung
+ Sarung tangan

Cara membuat:

Selama proses pembuatan sabun gunakan alat pengaman, ya. Jangan sampai air soda api terkena mata atau kulit.

(1) Masukkan arang ke dalam minyak jelantah. Untuk mudahnya dua-duanya dalam kondisi dingin. Alternatif lain: masukkan arang yang membara ke dalam minyak jelantah. Biarkan dingin. Setelah dingin lalu saring. Belakangan arang kudiamkan selama semalam di dalam minyak jelantah, baru disaring.

(2) Buat air pandan: blender pandan dengan air, lalu saring. Takar airnya menjadi sebanyak 123 gram.

(3) Masukkan soda api ke air pandan. Jangan terbalik: Jangan sampai air pandan yang dituang ke soda api karena bisa meledak. Aduk soda api sampai benar-benar larut lalu biarkan dingin atau sampai suhu ruang. Uap yang keluar selama proses ini jangan sampai terhirup dan jangan sampai airnya terpercik ke mata. Jadi, penting untuk memakai masker serta kacamata pelindung. Selain itu, lakukan proses ini di tempat yang berventilasi bagus.

(4) Masukkan larutan soda api ke dalam minyak jelantah yang telah disaring. Aduk dengan hand blender sampai mencapai kekentalan yang menyerupai susu kental manis atau mayones.

(5) Tuang ke dalam cetakan yang telah disiapkan. Diamkan semalam. Potong sabun menjadi ukuran yang diinginkan, lalu angin-anginkan di tempat yang berventilasi bagus. Setelah 3-4 minggu, sabun bisa digunakan.

 

Seperti ini hasil jadinya

Aku mendapat pertanyaan-pertanyaan umum berkaitan dengan pembuatan sabun minyak jelantah ini:
1. Bagaimana kalau minyak berbau ikan?
Dari pengalamanku, aku pernah memakai minyak jelantah yang berbau ikan. Untuk mengurangi bau, campur dengan minyak jelantah bekas gorengan non-ikan. Tapi rata-rata, aku mencampur berbagai minyak jelantah yang kudapat dari teman-teman. Kalau masih ragu, pakailah minyak jelantah yang tidak bekas untuk menggoreng ikan. Pemakaian arang di awal berguna untuk mengurangi aroma yang kurang enak dalam minyak.

2. Bagaimana kalau tidak memakai hand blender?
Sebenarnya bisa saja memakai mikser, tapi dari pengalamanku butuh proses lebih lama untuk mencapai kekentalan yang pas. Sebagai perbandingan, jika memakai hand blender, proses pengadukan butuh waktu 2-3 menit. Jika memakai mikser setidaknya butuh waktu 15-20 menit. Konon kalau diaduk manual (tanpa mesin alias pakai tangan) bisa 1 jam. Yang penting, pisahkan alat yang biasa dipakai untuk membuat sabun dengan alat masak lainnya.

3. Apakah sabun ini aman, mengingat salah satu bahannya adalah soda api?
Aman. Dalam proses pembuatan sabun, larutan soda api yang tercampur dengan minyak akan mengalami saponifikasi dan akhirnya jadilah sabun. Agar soda api benar-benar hilang, sabun yang baru jadi perlu diangin-anginkan selama 3-4 minggu. Setelah itu aman dipakai. Silakan googling mengenai penggunaan soda api dalam pembuatan sabun. Sudah banyak yang memberi penjelasan di luar sana.

Selamat mencoba!

Catatan:
Dalam mengutak-atik resep ini, aku perhitungkan minyak jelantahnya dari minyak sawit semua.

Saatnya Penerbit Turun Gunung

Entah sudah berapa kali aku mendengar pembicaraan soal menurunnya penjualan buku dan majalah. Oplah menurun. Majalah banyak yang tutup. Ada yang bilang sekarang adalah zaman senjakala bagi penerbit. Kadang ikut deg-degan ketika mendengar kabar seperti itu.

Beberapa kali aku berpikir bahwa penerbit mungkin ada baiknya “turun gunung” menyapa langsung para pembacanya. Bukan sekadar lewat toko buku. Bukan hanya waktu ada acara peluncuran buku. Tapi benar-benar datang dan mengajak sebanyak mungkin orang untuk membaca.

Apa itu membaca? Menurutku membaca itu tidak hanya soal mengeja. Membaca itu menangkap makna. Jadi, kalau ada tulisan: Tini makan singkong, perlu juga dilihat konteksnya. Singkong dimakan Tini sebagai kudapan? Sebagai makanan sehari-hari? Sebagai ganjal perut setelah dua hari tidak makan?

Balik lagi ke soal penerbit yang mengajak orang untuk membaca. Kadang kupikir penjualan buku menurun, minimnya minat baca, itu juga karena penerbit kurang turun gunung. (Habis gini ditoyor editor.) Sebenarnya buku bagus itu banyak. Yang ingin membaca kurasa juga banyak. Tapi kenapa buku-buku itu seperti tidak sampai ke (calon) pembaca yang haus bacaan? Ini semacam cinta tak sampai. Ngenes kan? Bikin buku yang bagus itu tidak mudah, biayanya pun tidak sedikit. Tapi begitu terbit, penjualannya kadang (atau sering?) mak plekenyiiik… Puk puk editor. Apalagi katanya minat baca masyarakat rendah. Jadi, bisnis buku itu kesannya suram.

Namun, kalau kita peduli soal gizi untuk tubuh, mestinya kita peduli pula soal “gizi” untuk otak. Hei, kamu tahu nggak kalau otak itu organ terpenting di tubuh kita? Kalau otak kita hanya dijejali ide-ide sampah, hidupmu bakal suram. Makanan untuk otak salah satunya adalah buku yang bagus. Buku yang menginspirasi. Buku yang menambah wawasan. Lalu, kalau daya serap buku di masyarakat makin berkurang, bukan tidak mungkin ini tanda-tanda kemunduran peradaban. Jadi, balik lagi ke tadi… membaca buku itu penting.

Belakangan aku berpikir bahwa penerbit itu ada baiknya membuat semacam gerakan meningkatkan minat baca. Ternyata, apa yang selama ini kupikirkan, dilakukan oleh Penerbit Kanisius. Dalam rangka ulang tahunnya yang ke-95, Kanisius membuat gerakan untuk mengajak masyarakat membaca, yaitu dengan membentuk Sahabat Literasi. Salah satu kegiatannya adalah dengan turun ke Malioboro, lalu mengajak orang-orang yang saat itu ada sana untuk membaca. Selain di Malioboro, gerakan ini juga dilakukan di kereta Prameks Jogja-Solo, di bus TransJogja, di sekolah Mangunan. Menurutku ini suatu gerakan yang unik. Kuharap hal ini dilakukan secara berkesinambungan. Dan semoga diikuti oleh para penerbit lain.

Nderek mangayubagyo, Kanisius. Teruslah menerbitkan buku-buku bermutu.

Tempat Ngopi Paling Enak?

Belum lama ini aku ditanya oleh seorang teman, “Di mana tempat ngopi paling enak?”

Aku menggeleng. Terus terang aku sudah lama tidak ngopi di luar.

Dulu, aku bisa dengan cepat menjawab bahwa Klinik Kopi adalah tempat ngopi yang asyik. Tapi itu dulu. Dulu, ketika Klinik Kopi menempati PSL Sanata Dharma di belakang Toga Mas. Tempatnya asyik, lapang, di antara pohon-pohon jati. Menurutku ini semacam oase di tengah Jogja yang semakin sumpek oleh hotel-hotel dan macet. Sekarang setelah Klinik Kopi menempati tempat yang baru, aku malah jarang ke sana. Padahal lebih dekat rumah.

Akhir bulan lalu, ada teman yang mengajakku ke Klinik Kopi. Jika tidak mengingat teman-teman ini tinggal di luar Jogja, aku rasa aku akan menolak ajakan mereka. Setelah AADC memang Klinik Kopi makin banyak dikenal. Banyak orang ingin mencoba mencicipi kopi di sana. Namun, aku teringat kunjungan terakhirku ke sana. Waktu itu aku merasa Klinik Kopi tidak seperti dulu. Terlalu ramai. Sentuhan personalnya semakin jauh berkurang.

Tapi baiklah… aku coba ke sana lagi. Aku tiba di Klinik Kopi pukul 15.30, setengah jam lebih awal dari jam bukanya. Kupikir aku akan dapat urutan pertama. Ternyata sudah ada orang yang datang lebih dulu. Beberapa waktu kemudian, orang-orang mulai berdatangan–sementara Klinik Kopi belum buka. Klinik baru buka pukul 16.00. Dari pengalamanku, sebaiknya datang awal ke Klinik Kopi. Soalnya antrinya banyaaaak. Malesin dah.

Menjelang pukul 16.00, gembok pagar Klinik Kopi mulai dibuka. Sesuai urutan, aku dapat antrian nomor 2. Waktu kami dilayani, kami masuk berempat termasuk satu anak temanku. Orang-orang makin banyak yang datang. Mas Pepeng masih mengenaliku. Tapi dari caranya melayani kami, aku merasa seolah tergesa-gesa. Iya, iya yang datang sudah banyak. Yang butuh diladeni banyak. Wajar kalau cepat. Tapi dulu Klinik Kopi tidak seperti itu.

Dulu di Klinik Kopi orang bisa saling mengenal. Dari yang semula tidak kenal sama sekali, karena kopi kami jadi bisa saling berbincang. Tapi sekarang suasana itu tak kurasakan lagi.

Klinik Kopi makin berkembang, makin dikenal. Aku ikut senang menyaksikannya. Tetapi secara pribadi aku berkata pada diriku sendiri, aku tidak akan ke sana lagi. Mungkin kalau ada teman yang minta diantar, aku masih mau mengantar. Tapi hanya sebatas mengantar. Tidak ngopi di sana lagi.

Teman Unik dan Kebetulan

Sudah tanggal 4 Januari. Aku terlambat memenuhi kebiasaanku untuk menulis di blog ini setiap tanggal 3 Januari. Baiklah, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Tanggal 1 kemarin aku bertemu dengan teman lama, Ayung. Dulu kami seasrama. Sebenarnya agak unik pertemanan kami. Semasa di asrama, aku tidak terlalu dekat. Tidak pernah satu unit. Biasa saja.

Aku mulai sering berkontak dengannya saat tahun-tahun terakhir aku tinggal di Jakarta. Rumahnya dan kontrakanku tidak terlalu jauh. Naik angkot dua kali kalau tidak salah. Plus jalan kaki sedikit. Beberapa kali kami ketemu untuk makan dan ngobrol ngalor ngidul cukup lama. Dari obrolan itu aku tahu bahwa ternyata adiknya adalah mahasiswa kakakku. Dia pun bercerita punya kakak yang tinggal di Jogja. Tapi aku belum kenal kakaknya waktu itu.

Waktu aku pindah ke Jogja, aku mulai berkontak kembali dengan beberapa teman lamaku. Dari kontak-kontakan itu, aku akhirnya terhubung dengan kakaknya Ayung. Dan, tak hanya itu, suamiku, sekarang jadi guru (informal) anak-anak kakaknya Ayung. Anak-anak itu homeschooling, dan suamiku membantu mereka belajar matematika plus plus. Plus main boardgame, plus baca buku, plus mancing ikan. Macam-macam deh. Kalau dibilang guru, rasanya kok tidak “guru banget”. Menurutku sih, ya. Seperti teman bermain sambil belajar.

Sewaktu mengobrol kemarin, aku dan Ayung merasa lucu menyaksikan kebetulan-kebetulan di antara kami itu. Sepertinya keluargaku dan keluarganya terkait hubungan guru dan murid. “Jangan-jangan di kehidupan kita yang dulu, kita punya hubungan apa gitu, ya?” kata Ayung. Haha. Aku hanya tertawa. Mungkin juga. Semuanya seperti kebetulan. Tidak terencana.

Aku merasa pertemanan kami unik. Semoga tetap unik. 😉

Pertemuan di Bawah Rumpun Bambu

Harus kuakui aku pelupa. Aku lupa kapan terakhir kita bertemu. Lima tahun? Kurasa lebih. Pasti lebih.

Samar-samar kuingat pertemuan terakhir kita. Kita belanja di ITC, bukan? Lalu pulangnya naik taksi bersama. Aku pun samar-samar ingat kita sempat ke gereja bersama. Sungguh aku lupa apakah benar kita sempat misa bersama sebelum kamu pulang. Tapi beberapa kali kita memang misa bersama. Aku ingat kita naik bajaj berdua dan kamu membayari ongkosnya. Dari situ aku belajar menaksir berapa ongkos bajaj yang wajar. Aku tahu, kamu tetap memberikan ongkos yang semestinya pada tukang bajaj–tidak kemahalan, tidak pula kemurahan.

Ya, aku banyak lupa kejadian pada saat pertemuan terakhir kita. Yang kuingat adalah beberapa kali kita berkabar lewat SMS. Lalu aku sempat meneleponmu sebentar. Seingatku kamu hanya mengatakan kondisimu sedikit kurang baik karena sulit berjalan? Ya, ampun. Aku sungguh lupa. Tapi saat itu aku sadar kamu pasti memang tidak baik-baik saja. Mestinya aku pergi dan menengokmu. Tapi aku memang punya seribu alasan yang menahanku untuk tidak pergi melihatmu. Mungkin kamu tahu sekarang karena kurasa tak ada lagi yang bisa kusembunyikan darimu.

Seandainya kamu masih punya waktu, mestinya kemarin kita masih bisa berkabar. Oh, tentu saja aku punya banyak pertanyaan untukmu. Bukan pertanyaan basa-basi. Aku tak bisa benar-benar berbasa-basi padamu karena denganmu aku selalu punya banyak cerita yang bisa dibagi. Mungkin aku akan sengaja membeli nomor khusus agar bisa meneleponmu cukup panjang. Hei, kamu pernah juga kan membeli nomor dari provider tertentu agar kita mengobrol cukup lama? Aku ingat kok.

Hari ini, setelah lewat lima tahun, aku baru “berani” dan berkesempatan datang menemuimu. Sebelumnya aku membayangkan akan duduk berdua saja denganmu. Bayanganku, “rumahmu” hanya bata tertata rapi, di bawah naungan rumpun bambu. Tapi ternyata lebih bagus. Kurasa kalau kamu bisa memilih, kamu akan memilih tegel keramik yang warna biru, kan–seperti warna kesukaanmu? Tapi ternyata tegel “rumahmu” berwarna pink. Dalam hati aku tertawa. Mungkin kalau bisa berseloroh langsung padamu, aku akan bilang, “Haiyah, jebule warnane pink, Mbak! Hehe.”

Kamu memilih rumah terakhir yang syahdu, dikelilingi bambu petung yang besar-besar. Aku takjub bambu-bambu yang begitu gagah di sekeliling rumahmu. Bambu-bambu itu jauh lebih besar daripada bambu yang tumbuh tak jauh dari rumahku. Kamu masih ingat, kan?

Di rumahmu masih ada sisa bunga tabur yang sudah layu. Itu artinya belum lama ini ada yang menyambangimu. Ada yang mendoakan dan mengajakmu berbincang dalam hati. Kamu memang dikelilingi orang-orang yang mencintaimu, setiap orang seolah menyimpan ruang untuk memajang kenangan yang baik tentang dirimu.

Sebenarnya aku takut akan butuh banyak tisu saat datang mengunjungimu. Mungkin itu pula yang menahanku untuk datang berkunjung. Tapi hari ini aku mesti berbangga pada diriku sendiri bahwa aku cukup bisa menguasai diri.

Malam ini, seolah kenangan demi kenangan keluar dari kotaknya. Berserak melingkupiku. Menyergapku dengan kepungan rasa. Aku memang lupa bagaimana pertemuan-pertemuan terakhir kita. Tapi tentu saja aku ingat bagaimana kita berjalan keluar dari unit lalu naik ke kafe untuk makan siang setelah kita “mager” lalu tertidur di unit, padahal mestinya kita lebih rajin menggarap skripsi. Aku ingat kita pernah menyusuri jalan Solo, membeli klepon. Aku ingat teh hangat yang kamu buatkan. Rasanya aku pun masih ingat aroma losion yang kamu pakai setelah mandi.

Malam ini, aku teringat “pertemuan” kita tadi siang di bawah rumpun bambu. Aku tak ingin lupa, jadi aku perlu mencatatnya sedikit di sini. Aku juga sempat memotret fotomu yang dipajang di ruang tamu. Boleh kan kusimpan di sini untuk kenang-kenangan?

Mbak Tut...
Mbak Tut…

Hari ini aku merasa lega karena pada akhirnya aku bisa datang menyaksikan rumah peristirahatanmu yang terakhir. Aku perlu berterima kasih pada Mbak Rini. Tanpanya aku mungkin tak akan pernah berani datang berkunjung.

Tentu saja aku masih kangen padamu. Kusadari kini bahwa setiap rasa kangen tak selalu harus dituntaskan. Kurasa kangen itu perlu. Kangen itu menjaga kenangan agar tetap hidup di dalam hati.

Oya, selamat Natal ya. Pesta natalmu di sana pasti lebih meriah karena dalam keabadian kamu pasti telah merasakan cinta.

 

 
26 Desember 2016.
Tulisan untuk mengenang kunjungan ke makam Mbak Tutik (S. Yuni Hariastuti).

Agama yang Membosankan

Di sebuah arisan yang kuikuti, ada seorang ibu yang tampaknya selalu berusaha menjadi bintang tamu. Sebut saja namanya Bu Alamakjan. Bu Alamakjan ini terkesan ramah di awal. Dia suka menyapa, tanya kabar. Ng… basa-basi sih. Tapi kesan ramah itu segera berubah. Di balik keramahannya itu dia sering curhat lebay. Dia sering merasa menjadi korban menurutku.

Suatu kali, tak lama setelah dia datang arisan, dia menggelar drama. Dia cerita bahwa di lingkungan tempat tinggalnya ada yang memelihara tuyul. Dan dia cerita heboh banget. Sampai mau nangis. Lalu dia bilang bahwa memelihara tuyul itu terlarang bagi agama, bahwa hanya Tuhan yang patut disembah, bahwa hidup di dunia ini hanya sebentar, jadi apalah gunanya menuhankan harta? Tak lupa dia mengutip ayat kitab sucinya bla… bla… bla. Di akhir cerita dia bilang semoga pemelihara tuyul itu segera bertobat. Ya, ya … Bu Alamakjan ini paling sering membahas agama. Hampir semua bidang kehidupan dia pandang dari sudut pandang agama. Semua dia kaitkan dengan ayat-ayat.

Biasanya kalau dia sudah mulai berceramah soal agama, aku tak ambil pusing. Dia mau bilang bahwa agamanya yang terbaik pun, aku iyain saja. Maksudku biar dia segera ganti topik sih. Kupingku sudah cukup tebal mendengar pembicaraan soal agama. Tapi tidak soal petasan. Petasan? Ceritanya, pada bulan puasa lalu, anak lelaki yang selalu dia banggakan itu menyalakan petasan di dekat rumahku. BOOOM! BOOOM! BOOOM! Suaranya menggelegar. Biyuuuh! Aku kaget pol. Aku sudah bisa menebak, tak akan ada orang di sekitar rumah kami yang protes dengan suara petasan itu. Apalagi kalau yang menyalakan petasan adalah anak Bu Alamakjan. Sudah jadi pengertian tidak tertulis bahwa jangan sampai membuat perkara dengan Bu Alamakjan sekeluarga. Salah-salah bakalan dimusuhi seumur hidup. Tapi entah apa yang merasukiku saat itu, aku langsung menyampaikan keberatanku padanya. Kubilang aku terganggu dengan suara petasan yang sangat keras itu. Apa coba jawabannya? “Tolong dimaklumi ya. (Membunyikan petasan) Itu termasuk dalam kebiasaan kami menjalankan agama.” Aku lupa bagaimana persisnya ucapan dia. Tapi pada intinya, membunyikan petasan itu tidak bertentangan dengan ajaran agamanya. Kira-kira begitu ucapan dia. Sumpah aku mau ngakak. Heloo… petasan disebut di ayat mana sih? Jadi menimbulkan polusi suara itu boleh ya?

Sungguh, aku semakin tak tertarik dengan orang yang sering sekali membahas agama. Kendati dia hapal ribuan ayat dan bisa mencocokkan setiap aspek kehidupan dengan ayat-ayat yang dia baca, aku tak tertarik.

Kurasa orang seperti Bu Alamakjan itu selalu ada di sekitarku. Barusan di perkumpulan bapak-bapak, ada seorang bapak yang begitu datang langsung menyampaikan khotbah. Melakukan ini dosa, melakukan itu larangan bagi agama, bla… bla. Padahal sebelum bapak itu datang, para tamu membahas cara menanam pisang yang baik, pengaruh hujan untuk penanaman padi, dan hal-hal praktis di sekitar tempat tinggalku.

Agama buatku lebih pas kalau langsung dipraktikkan. Buat apa membaca kitab suci berkali-kali, tapi perilakunya menjadi batu sandungan bagi orang lain? Khotbah, dakwah, atau apa pun namanya hanya akan tampak menggelikan jika tak dibarengi perilaku yang dilandasi akal sehat. Kurasa tak perlu terlalu sering mengutip ayat. Cobalah persering memakai akal sehat. Atau barangkali memakai akal sehat lebih sulit? Entahlah.

Ketika Kembali ke Kampus Lagi…

Hari ini akan kucatat sebagai hari yang penting dalam hidupku. Hari ini pertama kalinya aku diundang untuk berbagi pengalaman sebagai penerjemah dan penulis di kelas mahasiswa S2 Kajian Bahasa Inggris Sanata Dharma.

Aku sebenarnya tidak jago-jago amat dalam menerjemah. Pengalamanku sedikit sekali dibandingkan para begawan penerjemah di luar sana yang telah menghasilkan segepok dolar. Aku sempat bertanya-tanya, bakalan grogi tidak ya berhadapan dengan teman-teman mahasiswa? Aku hampir tidak pernah mengajar. Pengalamanku sebagai guru les hanya satu kali dan aku merasa tidak cocok sebagai guru. Aku merasa tidak bisa mengajar dan kurang cerdas menghadapi pertanyaan yang tidak terduga.

Beberapa hari sebelumnya aku sudah diberi kisi-kisi apa saja yang perlu kubahas di kelas tersebut. Aku sempat browsing dan mencatat sedikit poin-poin yang perlu kusampaikan tadi pagi sebelum berangkat. Kelas dimulai pukul 11 dan aku mesti menemui bapak dosen. Jadi, aku mesti berangkat lebih awal. Sempat terbayang, bagaimana kalau tengah-tengah kelas aku lapar? Ooow… tak kubayangkan jauh dari kulkas dan dapur. >,<

Sebelum ke Sanata Dharma aku mampir ke Kanisius menemui editor untuk membahas nasib naskahku. Beberapa komentar yang kuterima tentang naskahku yang semata wayang itu memang sempat membuatku baper dengan suksesnya. Namun, pertemuan dengan editor hari ini membuatku sedikit lega.

Oke, balik ke urusan kampus. Aku pun menuju kampus. Saat mendekati kampus, aku merasa semacam “pulang” ketika menghirup aroma khas bunga mahoni (?). Ya, semacam itulah. Bagi yang pernah kuliah di Sadhar kurasa bisa paham aroma khas itu. Wangi lembut dan segar. Selain itu untuk mengantisipasi kelaparan, aku mampir beli bakso Dab Supri di kantin. Suasana kampus Realino yang sudah cukup kukenal mengurangi sedikit rasa grogiku.

Pada awal sesi berbagi pengalaman itu, aku menceritakan bagaimana aku bisa kesasar menjadi penerjemah. Ya, aku menjadi penerjemah karena aku menghindar menjadi guru. Begitu lulus kuliah, lowongan yang banyak muncul adalah lowongan untuk menjadi guru, lowongan kerja di Jakarta, dan lowongan di luar Jawa. Ketiganya adalah hal yang kurang menarik buatku. Aku tidak suka menjadi guru, aku malas pergi ke Jakarta, dan aku tidak membayangkan jika terdampar di luar Jawa. Cemen? Iya. Haha.

Karierku sebagai penerjemah dimulai ketika aku menjadi penerjemah inhouse di Gloria (Renungan Harian). Adapun aku mulai menikmati uang dari menulis adalah ketika aku sempat menulis di majalah keluarga Familia (Kanisius) dan ketika tulisanku di web Glorianet dibukukan.

Pertanyaan yang kuterima setelah berbagi pengalaman itu adalah: Bagaimana jika kita yang bukan “siapa-siapa” ini bisa mendapat orderan yang lancar?

Begini, penerjemah itu macam-macam bidang keahliannya. Mau jadi penerjemah di bidang apa? Mau ahli mengalihbahasakan teks bidang hukum, medis, teknik? Macam-macam. Aku pada awalnya banyak bergelut dengan teks rohani, lalu ke fiksi, lalu materi yang umum-umum saja. Pengalamanku sebagai editor inhouse di Gloria sangat membantuku mempertajam keterampilan alih bahasa plus menambah jejaring tentunya. Maka untuk menjawab pertanyaan di atas, aku menyarankan pada mereka yang tertarik sebagai penerjemah untuk pertama-tama melamar sebagai penerjemah di suatu instansi. Ini adalah cara cepat untuk mendapatkan pengalaman. Kurasa ada saja instansi yang membutuhkan orang-orang baru dan masih ingin belajar. Kedua, menjadi anggota di ProZ.com atau Translatorcafe.com. Selain itu, sekarang banyak website yang menjadi perantara freelancer dan end client atau agensi. Ketiga, jadikan akun media sosial kita sebagai etalase yang baik sehingga orang lain mengetahui keterampilan yang kita miliki. Keempat–sayangnya ini lupa kusebutkan–menjadi penerjemah volunter.

Pertanyaan lain yang juga kuingat betul adalah: Apa tips untuk menulis dan membuat buku sampai bisa terbit? Ini pertanyaan klise, tapi menarik. Untuk menjadi penulis yang baik, pertama-tama perbanyak bacaan. Bacaan itu ibarat makanan bagi otak. Soal teknik menulis itu bisa dipelajari dengan cepat jika kita memperbanyak bacaan. Kedua, miliki pembaca pertama (first reader) yang bisa diandalkan. Mereka sangat membantu dalam memberi masukan soal tulisan kita. Mana yang perlu dipangkas, mana yang perlu dieksplorasi lebih dalam, dll. Ketiga, kenal dengan editor secara langsung. Ini agak sulit. Tetapi bukan tidak mungkin. Sekarang zamannya medsos. Untuk kenal dengan editor bisa dengan aktif di grup-grup penulisan yang banyak bertebaran di medsos. Ada saja kok editor yang mencari penulis lewat grup di medsos. Jika kita kenal dengan editor, kita bisa berdiskusi tentang naskah kita langsung dan memolesnya sedemikian rupa sehingga kemungkinan naskah kita dilirik lebih besar.

Setelah sesi sharing pengalaman ini, aku sempat berbincang dengan bapak dosen. Pada kesempatan inilah aku menyampaikan beberapa hal yang berkaitan dengan dunia penerjemahan. Misalnya tentang pentingnya ada kursus penerjemahan di kampus. Ini adalah salah satu cara strategis untuk memperbaiki kualitas penerjemah dan nantinya akan meningkatkan kualitas hasil terjemahan secara menyeluruh (termasuk soal tarif dan kebijakan pemerintah–menurutku).

Ya, bagiku hari ini adalah hari yang penting. Hari ketika aku kembali ke kampus lagi. Yang kubagikan hari ini tidak banyak, tetapi kuharap bisa berguna bagi teman-teman yang mendengarkan pengalamanku tadi.