Menengok Sepanjang Januari

Bulan Januari akan berakhir. Rasanya waktu seperti tergelincir. Apa saja yang sudah kulakukan?

Kalau dibilang aku sudah melakukan banyak hal, rasanya belum. Atau aku saja yang terlalu minder dan kurang menghargai diriku sendiri (serta hal-hal yang kulakukan)?

Aku mencoba menengok kembali apa yang sudah kulakukan sebulan ini.

Aku masih punya PR terjemahan. Jadi, itu masih kutekuni, sembari berharap bisa belajar lebih banyak lagi.

Ngomong-ngomong soal belajar, ternyata tawaran belajar justru kuterima dari dunia tulis-menulis. Aku belum bisa cerita banyak, tapi intinya aku senang sekali mulai belajar lagi. Sepertinya kabel-kabel di otakku mulai tersambung dikit-dikit.

Aku mencoba lebih rutin lagi membaca dan “sabar menghabiskan satu buku”. Kuakui aku tidak terlalu sabar dalam membaca satu buku. Kadang aku lompat sana, lompat sini. Tapi bulan ini satu buku selesai kubaca. Lumayaaan.

Bulan ini aku bikin sabun lagi. Semalam aku bikin sabun empat cetakan, jadi totalnya 12 potong x 4 = 48 potong sabun. Tahun kemarin sabun yang aku bikin tidak terlalu banyak. Stok selalu ada, tapi tidak banyak. Kalau buat aku dan orang rumah sih, cukup banget stoknya. Tahun ini aku berharap bisa bikin sabun lebih banyak lagi. Semoga enggak terlalu sering mager.

Akhir tahun lalu ada yang pesan sabun lengkuas sama aku. Itu sabun lengkuas pertama yang kubikin. Untuk membuat sabun lengkuas, aku menambahkan lengkuas bubuk dan beberapa campuran minyak atsiri sehingga baunya mirip jamu. Ternyata aku suka baunya. Aku berencana bikin lagi besok kalau sudah cukup selo.

Hmm, lumayan juga ya kalau dijembrengin begini.

3 Januari: (Semoga) Awal Tahun yang Baik

Hari ini bisa dibilang hari yang penting buatku. Hari ketika aku bisa bernapas lega. Proyek renovasi rumah sudah selesai. Rasanya aku tidak percaya aku bisa melewati proses ini. Mungkin buat sebagian orang, proses renovasi–mengecat, membetulkan kebocoran, mengganti seng yang rusak, menambah keramik pada dinding, serta berbagai urusan rumah lain–adalah hal yang sederhana. Buatku, ini suatu hal yang menantang. Pertama, menantang soal duitnya. Kedua, menantang soal emosi. Emosi ketika menghadapi diri sendiri dan emosi ketika menghadapi komentar/masukan serta pertanyaan orang-orang di sekitarku.

Awalnya hanya soal kebocoran di salah satu kamar. Kebocoran ini penyakit lama sebenarnya. Beberapa kali kami sudah memanggil tukang. Tapi rupanya tak pernah benar-benar tuntas dan akhirnya kebocoran yang kupikir masalah simpel itu butuh pengerjaan yang tidak sederhana. Namun, untungnya aku mendapat tukang yang cukup baik. Kami bisa berkomunikasi dengan baik dan sejauh ini hasilnya baik juga.

Setelah kebocoran selesai ditangani, mendengar masukan sana-sini, akhirnya ada beberapa bagian yang sebaiknya dikerjakan juga. Daaan… cukup lama aku mempekerjakan tukang. Sekali lagi, aku bersyukur tukang-tukangku itu bisa kupercaya.

Hari ini aku seperti habis berlari ratusan kilometer. Aku cuma pengin diam, bersantai-santai, dan tidak banyak berpikir. Atau, kalaupun berpikir aku pengin berpikir yang ringan ringan-ringan saja, misalnya merencanakan sabun apa yang akan kubikin minggu ini.

Oiya, satu lagi, hari ini aku senang karena bisa berkontak dengan seseorang yang menempati tempat istimewa di hatiku, di mana hari ini adalah hari istimewanya. Semoga ini adalah awal tahun yang membawa kebaikan untuk kita semua.

Mengapa Beryoga?

Kalau googling apa manfaat yoga, banyak banget ditemukan website yang membahasnya. Tapi kalau tanya padaku, jawabannya tentu personal.

Aku sudah lama ingin bisa yoga, seingatku ketika aku masih tinggal di Jakarta. Tapi selama di Jakarta aku belum menemukan tempat latihan yoga yang terjangkau, baik dari segi jarak dan biaya. Mungkin aku saja yang kurang gigih mencari tempat latihan, ya. Aku icip-icip latihan yoga hanya saat aku pulang ke Jogja. Tapi karena icip-icip, jadinya tidak maksimal. Lagi pula rumah kontrakan yang kutempati selama di Jakarta terlalu kecil dan barangku banyak. Jadi, tak ada tempat yang cukup untuk latihan sendiri.

Ketika aku pindah ke Jogja lagi, aku tidak segera ikut kelas yoga. Alasannya, macam-macam. Ada aja deh. Tapi dalam hati kecilku, aku masih ingin bisa berlatih yoga. Kadang aku melihat pose yoga youtube, kadang baca-baca buku tentang yoga. Aku berpikir, sepertinya bisa deh latihan sendiri di rumah. Kebetulan waktu itu beberapa temanku cerita tentang aplikasi untuk olahraga di rumah.

Suatu ketika–out of the blue–seorang temanku mengajakku untuk yoga di rumahnya. Tanpa babibu, aku langsung mengiyakan. Kebetulan rumah kami dekat, sekitar 5 menit naik motor dari rumahku, dan bisa lewat jalan kampung yang tidak ramai. Kami yoga seminggu sekali dengan didampingi seorang guru. Kegiatan yoga bersama itu sempat berhenti. Tapi kemudian saat awal pandemi kemarin, temanku mengajak yoga lagi. Kali ini seminggu dua kali.

Balik ke judul tulisan ini. Kenapa beryoga? Kaki kananku agak sakit. Sepertinya ini karena aku sempat salah posisi duduk cukup lama (tanpa sadar). Kupikir dengan yoga, sakit kakiku akan membaik atau sekurang-kurangnya tidak jadi lebih buruk.

Hanya itu?

Awalnya hanya itu. Tapi setelah latihan yoga selama ini, aku merasa yoga membantuku mengenal tubuhku. Misalnya, aku jadi tahu bagaimana sebaiknya aku berdiri sehingga berat badan tidak ditumpukan ke salah satu bagian saja. Aku dulu sering berdiri tidak imbang, yaitu menekuk salah satu kaki jadi berat tubuhku lebih condong ke kaki yang tegak. Akibatnya kaki bisa panjang sebelah.

Selain itu yoga membantuku mengurai emosi. Ada beberapa pose yoga untuk membuka dada. Pose-pose ini membantu mengurai emosi sedih. Memang tidak langsung hilang sedihnya, tapi jadinya tidak semakin sedih. Maklum, aku cenderung melankolis orangnya. Suatu kali aku merasa sangat sedih karena suatu hal. Lalu aku tidur telentang memasang balok yoga di punggung, di belakang dada. Aku jadi merasa baikan, lho.

Aku belum jago-jago amat berlatih yoga. Banyak pose yang belum kukuasai benar, tapi aku tidak ingin berhenti berlatih.

Alat Yoga Murah Meriah

Dulu, salah satu alasanku menunda-nunda untuk yoga adalah soal peralatannya. Sebenarnya yang paling utama hanyalah yoga mat. Waktu masih di Jakarta, aku mendapatkan yoga mat yang cukup miring harganya di sebuah apotek waralaba. Buatku, yoga mat itu murah jika dibandingkan yoga mat bermerek. Murah meriah deh, kualitasnya juga setara harganya. Seingatku dulu di bawah 100 ribu. Sekarang harganya berkisar 125.000 ribuan. Buatku harga segitu cukup miring, soalnya mat yang lain harganya bisa 3 atau bahkan 10 kali lipat. Untuk pemula, mat yang murah meriah pun cukup kurasa. Kalau akhirnya serius dan rutin beryoga, baru beli mat yang lebih bagus.

Setelah punya mat, PR selanjutnya adalah soal penyimpanannya. Kalau cuma digulung dan ditaruh di pojokan kamar sih bisa saja. Hanya saja, yoga mat yang dibiarkan tanpa baju cenderung berdebu. Males kan kalau pas mau memakainya malah kita repot bersih-bersih dulu. Mat yang debuan itu malah bisa bikin kita sakit. Jadi, benda kedua yang perlu dibeli adalah tas yoga mat. Kalau kita lihat di olshop, harga tas yoga mat bervariasi. Ada yang di bawah 50 ribu, ada yang sampai seratus ribu lebih. Aku tentu saja tidak mau beli yang mahal-mahal. Demi pengiritan, aku jahitin tas yoga ke penjahit terdekat. Aku lupa berapa biayanya, yang jelas jauh lebih murah. Memang agak repot karena aku mesti beli kain sendiri dan mencari contoh tas yoga mat untuk mendapatkan ukurannya. Tapi hal itu sebanding dengan murahnya. Waktu itu aku jahitin di penjahit kampung. Murah dan rapi. Aku puas. Setelah beli mat kedua, aku beli tas yoga mat yang murah di olshop. Harganya di bawah 50 ribu, tapi kainnya cukup tebal.

Ketika mulai agak rutin berlatih yoga, pelatih yogaku menyarankan aku memakai tali yoga. Sebelumnya aku pakai kain apa saja yang ada. Bahkan aku pernah pakai jarik untuk membantuku meluruskan kaki :D. Bisa sih, tapi kurang praktis. Waktu dipinjami tali yoga oleh pelatihku, aku merasakan kepraktisannya dan sangat membantu memaksimalkan gerakan. Tapi untuk selanjutnya masak mau pinjam terus? Aku lalu buka-buka olshop, dan harganya membuatku malas beli. Tali ukuran 2,5 meter saja harganya bisa di atas 50 ribu. Bahkan ada yang sampai 150 ribu. Aduh. Mahal amit, ya?

Aku lalu berpikir, kalau aku beli tali sendiri dan menjahitkan ke penjahit tas, kurasa lebih murah. Benar dugaanku. Aku cari tali sendiri di toko yang menjual aneka tali beserta gespernya. Lalu aku menjahitkannya ke penjahit tas. Tidak pakai lama, aku sudah punya tali yoga. Biayanya sekitar 20 ribu sudah sekalian dengan ongkos jahit. Kalau mau mendapatkan tali yang lebih bagus, biayanya bisa sampai 25-30 ribu. Yang jelas kita mesti mau repot-repot cari bahan sendiri dan ke penjahit. Kalau mau praktis, beli online. Dari pengalamanku, harga tidak berbohong. Tali yoga 20 ribuan yang ada di olshop rata-rata kurang bagus. Terlalu licin. Jauh lebih baik kalau mau berburu tali sendiri dan menjahitkannya.

Perlengkapan yoga ketiga yang membantuku adalah balok. Seperti halnya peralatan yoga lainnya, balok yoga harganya bervariasi. Ada yang muahal banget, ada yang cukup terjangkau. Dari yang harganya di bawah 50 ribu, sampai ada yang ratusan ribu. Ada yang bahannya dari kayu, ada yang dari gabus. Aku sendiri memilih balok yoga dari kayu.

Pengalamanku, aku bisa mendapatkan balok yoga yang cukup murah dengan memesannya ke tukang kayu terdekat. Yang jelas, aku sudah menyertakan ukuran ketika memesannya. Ukuran balok yoga bisa dicari di internet. Ukurannya kurang lebih sama. Pilih tukang kayu yang karyanya cukup halus. Ini yang agak PR. Tapi kalau malas pesan di tukang kayu, beli di olshop saja. Ada yang harganya di bawah 50 ribu dan sudah bagus. Minimal miliki balok yoga sepasang untuk membantu kita melakukan gerakan yoga.

Pekerjaan Impian

Seharusnya aku membaca materi yang mesti kutulis ulang, tetapi kenyataannya aku malah menulis untuk mengisi blog ini.

Apa yang mau kutulis? Sebenarnya tak ada, tak penting-penting amat. Aku hanya ingin mengingat pada akhir bulan Oktober tahun ini, aku mendapat pekerjaan yang sebenarnya kubayangkan sudah lama. Menulis. Itu saja. Bayarannya tidak banyak karena ini baru pertama kali. Dan aku tidak sedang mencari uang. Bukannya tidak butuh duit lagi, sih. Emang siapa yang tidak butuh duit? Haiya, zaman pandemi begini, duit masih sangat dibutuhkan.

Aku mesti membaca materi yang diberikan padaku, lalu aku menuliskannya ulang dengan bahasaku sendiri. Senang? Ya, senang. Tapi bukan kesenangan yang membuatku seketika bersorak. Aku senang dan menikmati saat mengerjakannya. Dapat wawasan baru, iya, karena aku membaca suatu materi. Kedua, aku punya kesempatan menarikan jariku di keyboard. Menulis itu semacam latihan yoga. Kalau tidak sering berlatih, badan tak akan pernah lentur. Harus latihan meskipun hanya sebentar. Rutin, kalau bisa. (Yang terakhir ini yang sulit.)

Ngomong-ngomong soal pekerjaan, aku bertanya-tanya pada diriku sendiri: Apakah aku sudah mendapatkan pekerjaan impian?

Lama aku memikirkan jawabannya. Kemudian aku berkesimpulan: Mungkin iya, tapi mungkin juga belum. Aku mungkin belum sampai pada taraf yang benar-benar puncak barangkali, ya? Tapi… aku dulu ingin punya buku sendiri. Hal itu sudah terlaksana. Tapi ada buku lain yang masih kuimpikan untuk kutulis. Apa itu? Rahasia ah! Nanti aku ditodong melulu kapan selesai buku itu. Haha.

Lebih dari semua itu, aku senang dengan pekerjaanku saat ini. Menulis, menerjemah, dan sesekali menyunting naskah. Belakangan aku pun senang membuat sabun. Ini lebih dekat ke hobi, tapi hasilnya cukup menyenangkan.

Semoga kamu pun memiliki pekerjaan impian.

Let’s Have Fun Today!

Kemarin malam aku baru saja mengirimkan pekerjaan. Rasanya lega luar biasa. Walaupun masih ada pekerjaan lain yang menunggu, tetap saja rasanya melegakan ketika aku berhasil mengirimkan pekerjaan. Sebelum tidur aku mulai memikirkan apa yang ingin kukerjakan hari ini. Anggap saja hari ini aku libur dulu. Tepatnya meliburkan diri.

Kalimat “Let’s have fun today!” terngiang di telingaku sepanjang hari ini. Lalu apa yang kukerjakan untuk bersenang-senang? Membuat sabun! Yeay! Beberapa waktu terakhir ini urusan persabunan agak terbengkalai. Sempat bikin sabun, tapi rasanya ada yang kurang. Sepertinya aku agak buru-buru dan bras-brus kerjanya. Jadi ada sabun yang kurang oke deh. Ah, syudahlah. Bisa kuperbaiki sih, tapi kan sebenarnya agak malesin.

Buatku membuat sabun masuk dalam kategori bersenang-senang. Semacam memompa semangat. Tapi kadang aku kelamaan berpikir, mau bikin sabun yang apa ya? Beneran bisa lama banget aku memikirkannya. Bolak balik menengok bahan-bahannya doang, tapi eksekusinya tidak disegerakan. Dasar!

Cuma itu bersenang-senangnya? Sebenarnya aku ingin ke pasar tadi pagi. Tapi hujan. Batal deh. Bagi sebagian orang, hujan adalah saat yang ditunggu. Tapi bagiku tidak. Jujur saja aku kurang suka hujan. Hujan membuatku berpikir seribu kali untuk ke luar rumah. Aku tak suka memakai jas hujan. Tak bisa pakai kacamata pula. Sungguh menyiksa berkendara tanpa kacamata.

Untungnya aku masih punya persediaan kale dan selada di lemari es. Jadi aku bisa makan sayur cukup banyak hari ini. Ditambah masih ada sup ikan sedikit. Jadi, cukuplah. Sayur dan protein hewani. Semoga bisa lebih cepat kurus 😀 :D.

Bersenang-senang berikutnya adalah menulis blog. Sebenarnya pas tanggal 30 September kemarin aku mau menulis sesuatu tentang penerjemahan. Niatnya pengin ikut meramaikan Hari Penerjemahan, tapi kok ya tidak sempat menulis apa pun. Sebagai penerjemah yang benar-benar lepas (baca: tidak selalu menerjemah setiap hari), aku merasa masih sering berlindung di balik jubah profesi penerjemah. Paling tidak, di KTP profesiku masih penerjemah.

Itulah yang kulakukan untuk bersenang-senang hari ini. Besok aku ingin bersenang-senang lagi. Semoga tidak hujan. Jadi, aku bisa keluar rumah dengan leluasa.

Hal-hal Kecil yang Menyenangkan

1. Bisa bangun pagi-pagi, ketika hari masih sejuk dan syahdu
2. Tempat tidur dengan sprei yang baru diganti
3. Mandi dan ganti baju bersih
4. Masuk rumah pas sebelum hujan turun
5. Mencium aroma kue yang baru matang
6. Mencicipi kue yang baruuuu saja matang
7. Ketemu teman lama dan masih nyambung ketika diajak ngobrol
8. Dapat paket berisi kue atau jajanan (ya ampun, makanan lagi!)
9. Jalan pagi pas matahari masih hangat
10. Menginjak tanah berumput (apalagi pas tanah itu barusan disiram)
11. Ketemu kucing lucu dan dia mau disayang-sayang
12. Ketemu anjing lucu dan dia senang dielus-elus
13. Ke pasar pagi-pagi banget, pas semua sayuran masih lengkap dan banyaaaak!
14. Bisa yoga minimal 30 menit
15. Ada yang mau bantuin nyuci piring
16. Ada yang mau bantuin jemur cucian
17. Lantai yang barusan dipel
18. Air putih hangat yang diminum pagi hari
19. Bisa menikmati aroma bunga di halaman yang segar
20. Makan mi rebus atau bakso pas sore

Nanti kutambah kalau ingat yang lain.

Apakah Pertemuan Daring Membuatmu Bahagia?

Belum lama ini aku terlibat sebuah proyek menulis yang membuatku ikut-ikutan seperti para pekerja kantoran lain, yaitu ikut pertemuan daring alias rapat online alias video conference. Apa pun sebutannya, pada intinya adalah acara rapat lewat zoom. Sadar bahwa aku gaptek, aku mengontak teman untuk mengajariku jarak jauh. Tentunya lewat zoom juga.

Seneng dong rasanya. Bagaimanapun karena lama tidak bertemu teman, begitu bisa ketemu walau hanya lewat bantuan internet, rasanya bisa memupus jarak yang selama ini terbentang gara-gara wabah. Lumayan bisa ngobrol-ngobrol.

Hari H rapat daring pun tiba. Aku sempat merasa agak excited awalnya. Oh, begini ya rapat daring tuh, begitu pikirku. Asyik juga ya. Dulu kupikir hal seperti ini hanya ada di film-film, tetapi sekarang rapat daring sudah menjadi kenyataan hidup.

Aku tak ingat berapa lama aku tahan mendengarkan paparan orang selama rapat itu. Tetapi rasanya tidak lama. Mungkin hanya tahan sekitar 30 menit pertama. Sesudahnya aku butuh jalan-jalan, berganti suasana. Jadi, selama bukan jatahku untuk presentasi, aku mengendorkan konsentrasi dan menyusun kata-kata yang hendak kusampaikan nanti.

Untungnya selama rapat daring, aku bisa mematikan fitur video, sehingga aku bisa sambil peregangan di samping kursi 😀 atau melangkah ke dapur untuk memanasi sayur.

Setelah tiga atau empat kali rapat daring, aku merasa kewajiban tatap muka lewat internet ini membutuhkan suatu energi yang tidak sedikit. Aku tak tahu penyebabnya, tetapi mungkin aku kurang bisa menangkap bahasa tubuh seseorang di seberang sana. Aku hanya berpegang pada suara yang rasanya lama-lama di telingaku terasa tidak nyaman. Apalagi aku bukan orang yang gemar mendengar. Maksudku, aku kurang bisa menyerap informasi lewat pendengaran. Aku lebih suka membaca dan melihat. (Mungkin itu sebabnya nilai listening-ku dulu waktu kuliah mentok di B. Hampir bisa dipastikan C sebetulnya.)

Sebagai makhluk introver, aku rupanya lama-lama kurang bisa menikmati rapat daring–walau hal itu membuatku tidak harus bertemu langsung dengan orang. Tetapi entah kalau rapat itu senang-senang saja alias ngobrol tak jelas juntrungannya.

Mungkin aku cocoknya berteman dengan wajan, loyang, dan panci di dapur untuk menghasilkan sup atau kue bolu. Atau sibuk menakar minyak dan soda api supaya minyak bisa berkawan akrab dengan air dan menjadi sabun. Tetapi aku kadang pengen juga ketemu (sedikit) teman dan mengobrol sehingga menghangatkan hati yang rindu terhantam social distancing.

Mengiur Waktu

Bulan puasa tahun ini lain rasanya. Kuamati tetanggaku sudah tidak menyalakan petasan lagi. Aku baru menyadarinya kemarin. Kok tumben setelah buka, tidak ada bunyi dar der dor. Biasanya suara yang membikin aku melompat dan menyumpah-nyumpah itu terus berdentuman walau sudah diprotes. Aku bersyukur atas hal itu. Entah mereka akhirnya sadar diri atau memang sedang berhemat sehingga tidak membeli petasan.

Hal lain lagi yang berbeda adalah dibagikannya takjil setiap setiap sore dari rumah ke rumah. Tahun-tahun sebelumnya takjil dibagikan di musola, sehingga otomatis warga muslim saja yang menikmati dan bergiliran membuat takjil. Karena setiap sore aku menerima bingkisan takjil berisi lauk, aku jadi tidak enak sendiri. Tidak urunan kok dikasih melulu? Rasanya semacam menerima “nasi tonjokan” dari orang yang punya hajat. Kalau sudah menerima nasi tonjokan, secara tersirat wajib menyumbang. Kalau tidak menyumbang, tidak tahu malu namanya.

Jadilah aku kemudian berinisiatif tanya kepada salah seorang tetangga. Singkat kata, aku mau ikut urunan. Tapi aku kan sebenarnya bertetangga dengan kakak (dan ipar) sendiri. Awalnya yang mau urunan cuma aku, tapi aku jadi berpikir, masak saudara sendiri tidak diajak? Akhirnya aku mengajaknya dan aku merasa ada sedikit miskomunikasi, yang membuatku merasa diabaikan atau jadi semacam makhluk invisible yang unrecognized. Rasanya aku memang mudah baper untuk hal seperti itu. Ya, aku memang cenderung berada di belakang layar. Tidak suka tampil. Suaraku juga tidak cukup lantang. Jadi mestinya wajar kalau tidak didengar. Ah, sudahlah. Aku berusaha ngepuk-puk diriku sendiri. It’s OK to be not OK, kan? Aku hanya ingin menangis untuk diriku sendiri. Menangisi kekonyolanku sendiri. Ini semua kutuliskan untuk ngudar rasa. Semacam melepaskan simpul di hati supaya tidak terus-menerus menyakiti hati sendiri.

Balik ke soal takjil tadi. Untuk takjil yang dibagikan, ada beberapa warga yang membentuk kelompok lalu urunan dan memasak bersama. Untuk urusan kebersamaan, boleh lah. Yang top banget adalah mereka memasak dalam jumlah banyak dalam kondisi puasa. Aku lupa pernah membaca di mana, sebenarnya puasa itu saat untuk “beristirahat” atau mengurangi kegiatan sehingga kemudian orang akan punya waktu untuk beribadah. Lagi pula, kurasa saat puasa kondisi fisik seseorang semestinya tidak sekuat kalau tidak puasa. Jadi tidak perlu melakukan pekerjaan berat yang menguras tenaga semacam angkat-angkat barang berat. Yang kuamati kemarin saat rewang untuk pembuatan takjil, tukang masaknya puasa semua. Dan memasak dalam jumlah banyak itu tidak mudah. Mesti mengangkat wajan besar atau baskom besar berisi bahan yang tidak ringan. Dan semua itu dilakukan perempuan! Tak ada bapak-bapak yang membantu sama sekali. Duh, Dek… Aku jadi bertanya-tanya, kenapa seperti ini ya? Apa sih yang dicari? Urunan uang membuat takjil saja tidak enteng bagi sebagian orang pada masa pandemi seperti sekarang. Ditambah mesti melakukan pekerjaan fisik yang menguras tenaga. Sebagai kaum rebahan dan tukang ketik seperti aku, hal seperti itu tidak masuk dalam pikiran. Namun, aku tahu dan paham betul bahwa tuntutan dari masyarakat sangat besar dan berat sehingga nyaris tak bisa terhindarkan. Seperti urusan “nasi tonjokan” itulah. Orang yang kuat pasti bisa dengan cueknya tidak peduli dengan hal seperti ini. Tapi buat orang yang berhati lemah atau yang biasa-biasa saja, pasti mau tak mau bakal kepikiran. Hidup di kampung tidak selamanya mudah sih.

Aku bisa bernapas lega urusan takjil ini selesai kemarin. Seharian kemarin aku sudah merelakan waktu yang mestinya kupakai untuk menyelesaikan terjemahan dan tulisan. Aku sudah urunan waktu dan tenaga serta sedikiiit uang. Mungkin tak berarti buat mereka. Jadi, sekarang mau balik ke laptop lagi. Ada yang mesti kukerjakan supaya aku tidak kehilangan pekerjaan.

Di Sini Saja Cukup

Aku merasa menulis di blog ini merupakan kewajiban kecil terhadap diriku sendiri. Aku butuh catatan untuk mengingat-ingat. Ingatan sering kali menjadi harta karun yang membuat senyum terkembang. Kadang aku terheran-heran, bagaimana bisa aku membuat tulisan seperti itu.

Belakangan aku merasa tidak perlu menyebarkan tulisan di blog ini lewat akun medsosku karena kebanyakan ini hanya catatan untuk diriku sendiri. Kalau sesekali ada orang yang ikut membacanya, silakan. Tetapi tulisan-tulisan di sini terutama untuk diriku sendiri.

Dulu aku merasa “butuh” banyak pembaca. Aku mengalami masa ketika aku beberapa kali bertemu teman sesama narablog. Tetapi aku lagi-lagi lebih suka berdiam di balik layar.

Kini aku menulis seperti ini saja. Sesukaku. Kadang lama tidak menulis. Sekalinya menulis, aku tidak “woro-woro”. Sempat aku terpikir untuk memiliki buku harian. Tetapi aku malas menyimpan tumpukan buku. Rakku sudah penuh dan aku tak ingin menambahnya dengan berjilid-jilid buku harian. Jadi, di (blog) sini saja cukup.