Masak Spageti Yuuuk …

Dulu waktu aku belum menikah dan tinggal berdua saja dengan kakakku, memasak adalah urusan berdua. Jadi, aku dan kakakku sama-sama bisa memasak. Yaaa, nggak jago-jago amat sih. Masak menu sehari-hari saja, yang gampang-gampang. Masak sup, aneka tumis, sayur bening, orak-arik telur dan wortel, sayur asem. Pokoknya yang gampang dan nggak ribet. Namanya juga anak perantauan, jadi maunya yang simpel. Tapi memang selera kakakku dan aku sedikit beda sih. Dia suka masakan bersantan, aku kurang suka. Dia suka pedas, aku kurang suka. Tapi nggak terlalu masalah sih. Nah karena berdua bisa masak ala kadarnya begitu, jadi masaknya bisa gantian. Hal ini paling terasa membantu saat salah satu dari kami sakit. Jadi, yang sakit bisa dimasakin.

Waktu aku menikah, acara masak gantian ini berubah. Suamiku tidak bisa masak. Jadi, ya dia mesti belajar. Yang ngajari? Aku. Haha. Padahal aku masak ya cuma bisa-bisaan. Dan aku bukan guru yang baik, karena nggak sabar sama muridnya. 😀 😀 Cara yang paling sederhana untuk mengajari masak adalah dengan memintanya membantuku saat memasak. Jadi kan tahu tuh seberapa banyak bawang putih yang dipakai, garamnya seberapa, pakai kecap atau enggak. Ya gitu deh. Tapi kadang tidak selamanya dia bisa ikut masak sih. Soalnya dia kan lebih banyak di luar rumah. Pas libur saja bisanya.

Tapi dia sebenarnya murid yang suka berinisiatif. Maunya belajar sendiri! Lalu masak apa dong?

Ceritanya, beberapa waktu yang lalu kami suka makan spageti. Lalu pengin masak sendiri. Sekarang kan banyak tuh bumbu spageti yang sudah jadi. Tinggal beli daging cincang. Sebenarnya kami nggak sering masak spageti itu, karena pertama, mesti beli daging dulu. Dan aku pengennya, kalau bisa, belinya pas mau masak. Jadi masih segar dagingnya. Padahal kadang kan maunya masak pas sore atau malam. Sudah malas deh mau keluar rumah ke swalayan. Dan kedua, daging kan tidak murah to? Jadi mesti hemat-hemat. Tapi kalau pengin spageti, dia bisa masak sendiri. Kan gampang tuh. Aku tidak terlalu banyak membantu.

Akhir tahun kemarin, adik suamiku menikah. Pas acara resepsi, salah satu menunya adalah spageti. Tapi, spageti yang dihidangkan waktu itu tanpa daging. Loh, ternyata bisa ya masak spageti tanpa daging? Sama sekali tanpa pengganti jamur (bukan spageti vegetarian). Jadi, tampilannya cuma putih saja dan ada bawang putih yang masih utuh. Rasanya? Menurut kami sih enak. (Kalau ayahku kurang suka sih… hihihi. Lidah orang beda-beda ya.) Tapi suamiku suka banget tuh.

Sepulang dari sana, penasaran dong dia. Akhirnya googling deh. O…ternyata itu namanya spagetti aglio et olio. Bumbunya sederhana banget, cuma pakai minyak zaitun, garam, bawang putih (digeprek dan dibiarkan utuh), oregano, rosemary. Kalau mau lebih enak lagi, dikasih tomat ceri dan peterseli cincang. Setelah tahu bumbunya sesederhana itu, dia mulai praktik. Dan aku nggak ikut-ikut hihi. Pokoknya cuma nyobain hasil masakan 😀 Awalnya rasanya masih agak kurang pas, tapi nggak pantang menyerah dong. Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya berhasil … berhasil … berhasil! Rasanya sudah mirip dengan masakan di hotel waktu adiknya menikah. Nyam… nyam.

Nah, ceritanya tadi siang, dia masak lagi. Aku cuma bantu menggeprek bawang putih saja, dan meniriskan spageti. Mau kubocorin cara masaknya? Simak baik-baik ya …

Bahan yang perlu disiapkan:
Spageti, kira-kira untuk tiga piring.
Bawang putih. Empat siung (agak besar) dimemarkan lalu diiris tipis-tipis, dan empat atau lima butir (yang agak kecil) dibiarkan utuh.
Garam kira-kira 1 sendok teh kurang dikit, boleh dikurangi kalau tidak suka asin. Tapi menurutku segitu sudah cukup pas. Kalau dia sih cuma pakai jumput tangan.
Minyak zaitun kira-kira 3-4 sendok makan. Biasanya sih nggak pakai takaran, tapi agak banyak. Sedikit lebih banyak dibanding kalau untuk menumis biasa.
Oregano secukupnya.
Rosemary secukupnya.
Tomat ceri 3-4 butir dibelah dua
Daun peterseli cincang. Peterseli ambil dua batang saja, diambil daunnya lalu diiris/dicincang.

Cara masak:
1. Rebus air sampai mendidih. Masukkan spageti. Masak selama 10 menit. Kalau terlalu lama bisa lembek, kurang enak. Setelah matang, tiriskan. Biar tidak lengket, dikasih minyak zaitun sedikit. Mentega juga boleh, tapi lebih enak pakai minyak zaitun. Dikit kok pakainya, paling 1 sendok teh saja.

2. Siapkan wajan teflon. Tuangkan minyak zaitun, dikasih garam, tunggu sampai agak panas. Apinya sedang saja. Lalu masukkan bawang yang utuh dan tomat ceri yang sudah dibelah dua. Tumis, sambil tomat cerinya ditekan-tekan biar agak hancur.

3. Kalau tomat sudah agak lembek, masukkan bawang putih cincang. Tumis. Lalu masukkan rosemary. Kalau suka sih, agak banyak nggak apa-apa. Biar wangi. Masak bawang putihnya mesti hati-hati, jangan sampai berubah warna jadi cokelat. Bisa pahit. Jadi, pas masak jangan pakai api besar ya. Apinya cenderung kecil sih.

4. Kalau baunya sudah harum, masukkan spageti yang sudah ditiriskan tadi. Diaduk-aduk sampai bumbunya merata, sambil ditambahkan oregano dan daun peterseli cincang. Kalau sudah rata, diangkat. Jadi, deh. Siap dihabiskan. 🙂

Spageti oglio et olio siap dihabiskan. 🙂

Gampang kan? Silakan mencoba ya! 🙂

Pengingat Manis di Dunia Maya

Sebenarnya aku ingin melanjutkan cerita waktu aku ke Jogja akhir tahun lalu. Tapi ya … belakangan ini banyak hal yang terjadi. Awalnya hardiskku rusak. Data-data hilang. Termasuk beberapa pekerjaan dan beberapa arsip foto. Untung sebagian ada yang sudah kusimpan di flashdisk. Kalau foto sebagian sudah aku unggah di FB. Aku teledor juga sih. Sebenarnya hati kecilku sudah mengingatkan agar menyimpan ulang semua pekerjaan di flashdisk. Tapi ya sudah. Untungnya pula pekerjaan yang mesti kuulang tidak sulit. Jadi cepat waktu mengerjakan ulang. Pokoknya dilihat positifnya saja deh. Hehehe. Kata temanku, pelajaran yang bagus mahal harganya. Masuk sekolah aja sekarang mahal banget kan? 😀 Yang penting semangat tidak hilang kan? Itu yang penting dan selalu kuingatkan pada diriku sendiri. Jangan menyerah walaupun beberapa calon tulisanku hilang. Jangan mundur walaupun ada bagian pekerjaan yang hilang. Katanya sih, orang yang sukses itu orang yang selalu bangkit walau sudah gagal beberapa kali. Yay! (Tepuk tangan buat diriku sendiri.)

Lalu, aku flu nggak sembuh-sembuh. Sakit sembuh. Sakit sembuh …. Sampai bosen harus tidur terus. Sekarang sih sudah mendingan. Semoga nggak tepar lagi.

Beberapa hari yang lalu aku dapat kabar ada seorang kakak asramaku dulu yang sakit, mengalami kondisi kritis, lalu akhirnya dipanggil Bapa. Sebenarnya aku tidak pernah kenal dan ketemu dia secara langsung. Angkatannya jauh di atasku. Kalau tidak salah sebaya dengan Kak Mimi. Tapi berkat grup Syantikara di FB aku jadi kenal dia. Namanya, Tabita Simawati Gunawan. Dia pernah juga menuliskan komentar di blogku, di halaman “yang di balik layar.” Siapakah dia? Dia seorang jurnalis, penerjemah, dan petarung yang tangguh dengan penyakitnya. Ada kanker yang bercokol di payudaranya. Tapi yang menarik adalah, dia tidak pantang menyerah. Lihat blognya di sini: ayomari.blogspot.com. Setiap kali aku membaca blognya, aku melihat keceriaan dan semangat pantang menyerah yang selalu ia tuangkan dalam tulisannya. Dia banyak bercerita tentang sakitnya, tentang kelemahannya sebagai manusia biasa, tetapi tidak ada kata menyerah. Kadang aku terharu membaca tulisan-tulisannya. Dan jujur saja Kak Tabita ini mengingatkanku pada sahabatku, Mbak Tutik

Aku kemudian berpikir, wah untung ya Kak Tabita menulis blog. Dan kurasa blog itu akan jadi warisan yang berharga di dunia maya yang selalu bisa dikunjungi setiap orang. Ngomong-ngomong soal warisan blog ini aku teringat pada alm. Pak Mula Harahap. Dia menulis blog juga semasa masih hidup. Coba tengok blognya di sini. Ceritanya lucu-lucu lo. Cerita tentang masa kecilnya. Dan dia jujur sekali dengan dirinya, termasuk cerita yang menurutku bisa memerahkan wajah. Tapi dia bercerita saja. Mungkin dia ingin dikenang sebagai seorang bapak, opa, paman, teman yang lucu dan ceria. Di bagian awal blognya, dia sudah merencanakan blog ini bisa jadi tempat peziarahan yang manis untuk mengenangnya. Dia menulis begini “Kalau para kekasih hati saya menziarahi makam saya … mereka cukup melakukan ziarah dengan sekali klik dan tiba di makam saya, yaitu blog saya ini.” Dia juga banyak membagikan pengalaman, pengetahuan/pemahaman yang ia miliki. Tulisan-tulisannya di blog sudah dibukukan oleh penerbit Gradien Mediatama, berjudul Ompung Odong-Odong. Buku dengan subjudul Membingkai Kenangan, Merangkai Makna itu menampung semua tulisannya, termasuk status-status beliau di FB. Aku selalu terhibur dan bisa terkekeh sendiri saat menelusuri buku ini. Memang sih, kalau mau gratis, bisa baca di blognya, tak perlu baca bukunya. Tapi entah kenapa ya, aku merasa perlu membeli buku ini. Untuk mengenang beliau. Agar bisa setiap saat menarik semangatnya. Agar bisa selalu belajar kejujuran dalam menulis–walaupun hanya tulisan di blog.

Hmmm … pada akhirnya aku mau ngomong apa sih? Apa pesan moral dari tulisan ini? (Halah, penting ya ada pesan moral? :D) Walaupun aku kurang suka dengan embel-embel pesan moral, aku cuma mau mengingatkan pada diriku sendiri lewat tulisan ini. Semoga saja hal ini juga ada gunanya untuk kalian, para pembaca blogku. Begini, pertama dari tulisan ini aku mau mengingatkan diriku sendiri supaya pantang menyerah. Walaupun ada penghalang, tetap maju terus. Entah penghalang itu berupa penyakit, kerusakan alat, cuaca, dan teman-temannya, terus maju ya. Jangan berhenti dan kecil hati. Kedua, menulislah! Bagikan semangatmu, bagikan pengalamanmu, bagikan pengetahuanmu. Untung lo sekarang ada blog. Bisa ngeblog gratis pula. Tidak perlu menunggu dimuat di koran. Walaupun kalau di koran kita bisa dapat honor, tapi orang menulis untuk berbagi tidak perlu diiming-imingi honor dulu kan? 🙂 Apa yang kita tuliskan dapat menjadi hal berharga yang bisa dinikmati orang lain. Jadi, mari kita ngeblog … Yuk, mareee!

Cerita Sekantong Sayur, Terima Kasih, dan Selamat

Beberapa hari yang lalu temanku, Mbak Melani, mengabariku lewat FB bahwa dia akan diwawancarai Green Radio pukul 15.15 sore. Menjelang pukul 15.00 aku sudah mengganti saluran radioku ke saluran 89.2 FM. Ternyata dia diwawancarai seputar aktivitasnya: tentang sayuran organik.

Mbak Melani sudah kira-kira satu tahun berbinis sayur organik. Kebunnya ada di Purwakarta, seminggu bisa panen dua kali. Dia biasanya menjual langsung kepada konsumen dan kalau tidak salah ke kantor-kantor di sekitar Sudirman, Jakarta. Hasil panennya macam-macam, di antaranya bayam, selada, pok cay, sawi. Intinya yang dijual adalah sayuran yang bisa ditanam di dataran rendah. Selain dari hasil panen kebunnya, dia juga bekerja sama dengan kebun sayur organik di Sarongge. Jadi, untuk sayur dataran tinggi seperti wortel, Mbak Melani mengambil dari Sarongge.

Nah, setahuku kebun sayur Sarongge ini binaan dari Green Radio. Jelasnya bagaimana, aku masih kurang tahu. Mungkin kapan-kapan aku perlu menanyakannya lebih lanjut soal ini.

Dari wawancara itu aku tahu bahwa Green Radio juga menjual sayuran organik hasil panen dari Sarongge. Karena langsung dari petani, sayur organik yang dijual di Green Radio ini harganya bisa lebih terjangkau dibandingkan harga sayur di supermarket. Ini berita menyenangkan buatku. Kenapa? Karena jarak rumahku dengan Green Radio tidak terlalu jauh. Cukup naik metromini 46 satu kali, paling lama 30 menit sudah sampai (itu biasanya metromininya plus ngetem dan jalanan macet sedikit). Jadi, bisa dapat sayur organik yang cukup murah tanpa terlalu bercapek-capek mengarungi lalu lintas Jakarta.

Besoknya, aku mau jalan pagi supaya kena matahari pagi. Jakarta mulai dingin sekarang dan sering hujan. Jadi, saat kulihat matahari pagi lumayan hangat, aku memutuskan keluar rumah. Kebetulan saat itu aku bertemu tetangga depan rumahku, Mbak Hanny. Mbak Hanny ini suaminya bekerja di Kbr 68H (masih saudara dan satu kompleks dengan Green Radio). Sekalian kan aku tanya-tanya soal sayur organik. Ternyata pas betul, hari itu adalah jadwal pemesanan sayur organik (dari Sarongge) di kantor suaminya. Aku minta dikirimi email tentang daftar sayur yang akan panen lengkap dengan harganya. Siang itu juga aku pesan. Wah, benar-benar bisa memborong sayur organik. Yang kupesan: bit (1kg), jagung manis (2kg), buncis (1/2 kg), selada (1/2 kg), bayam (1/2 kg). Total harganya Rp 69.000. Dan semua itu bisa nitip ke tetangga. Jadi, aku tinggal ambil di depan rumah saja. Hehe. Asyik kan?

Sayur-sayur itu semuanya kuterima kemarin malam. Wah, ternyata banyak banget. Satu tas plastik besar. Semuanya sudah bersih. Bisa bikin salad tiap hari nih! Yang kelihatan banyak banget adalah selada dan bayam. Aku berani pesan bayam agak banyak karena beberapa waktu yang lalu aku dapat contekan dari Mbak Imelda cara menyimpan sayur supaya awet di sini. Untuk bayam, bisa ditaruh di freezer setelah dikukus sebentar dan dimasukkan ke dalam wadah tertutup atau plastik. Lalu, selada aku simpan di dalam kertas cokelat. Walaupun katanya sayur organik cenderung lebih awet disimpan, sepertinya selada ini mesti segera kami konsumsi, deh. Kebetulan aku senang makan salad. Jadi mungkin akan cepat habis juga hehe. Buncis sebelum masuk kulkas, kubungkus dengan kertas koran. Dulu waktu belum tahu cara menyimpan sayur supaya tidak mudah busuk, aku tidak berani beli banyak sayuran hijau. Kadang kalau sudah terlanjur beli, kusimpan masih dalam plastiknya. Tapi ternyata dengan dibungkus koran, sayuran jadi lebih awet.

Lewat tulisan ini aku mau berterima kasih, pertama pada Mbak Melani yang sudah memberi tahu aku bahwa dia akan diwawancara–dengan begitu aku bisa dapat sayur organik dengan harga terjangkau. Kedua pada tetanggaku, Mbak Hanny dan Mas Doddy, yang memberi info lebih lanjut soal sayur organik di Green Radio dan membawakannya untuk kami. Yang ketiga, terima kasih pada Mbak Imelda yang lewat blognya sudah berbagi cara menyimpan sayur. Dan hari ini Mbak Imelda ulang tahun. Jadi, terima kasih dan selamat ya, Mbak. Semoga Mbak Imelda sehat-sehat jadi bisa terus rajin nulis di Twilight Express. 🙂

Selamat ulang tahun, Mbak Imelda ...

Ngomong-ngomong pernahkah kamu mengonsumsi sayur organik?

Kopdar (Pertama) di Jogja

Seperti yang sudah kuceritakan sebelumnya, aku janjian dengan Septarius (Ata), sang mbaurekso Caty’s House (iya, kan Bu Tuti?) akan ke sana pada hari Senin tanggal 19 Desember. Janjinya, aku dan suamiku akan ke sana pukul 11. Oke, jadi aku masih ada waktu untuk ke bank paginya.

Pagi aku berangkat dari rumah ke bank sekitar pukul 09.00. Belum sampai di perempatan Condong Catur (dari arah utara, dekat terminal) jalanan maceeeet! Astaga! Ini seperti bukan Jogja yang kukenal. Aku mencoba lewat jalan kecil, tapi percuma. Semua jalur penuh dengan kendaraan. Ada apa ini? Apakah ada kecelakaan? Dan ternyata ini cuma macet karena banyaknya kendaraan. Duh biyung! Macetnya Jakarta jangan sampai pindah ke Jogja dong!

Akhirnya aku sampai ke bank juga di daerah Gejayan. Setelah mengurus ini itu, aku lalu mampir ke toko Merah. Ini toko andalanku kalau mau cari alat tulis. Harganya bagus dan barang-barangnya lengkap. Ukuran lengkap ini bagiku lo, ya. Kan yang aku cari paling kertas, buku tulis, alat tulis, atau tempat pensil. Sekeluarnya dari toko Merah, ternyata sudah hampir pukul 10.30. Wah, padahal aku mesti belanja sabun. Keburu nggak ya kalau mau ke Caty’s House pukul 11.00? Aku berniat sms Ata kalau sepertinya akan terlambat. Tapi ya ampun, aku lupa bawa hp! Suamiku yang bawa hp, tapi dia kan tidak menyimpan no hpnya Ata. Ya sudahlah. Semoga telat tak apa. Sementara itu aku mesti ke toko lain untuk mencari sabun serta beberapa kebutuhan rumah. Belanja selesai, aku langsung pulang.

Sampai rumah sudah pukul 11.30-an. Wah, benar kan telat janjiannya. Tapi untunglah pas aku lihat hp, ada sms dari Ata yang mengatakan supaya aku datang pas jam makan siang saja, sekitar pukul 12. Oke deh. Jadi, aku bisa duduk-duduk di rumah sebentar.

Pukul 11.50 aku berangkat dari rumah dengan suamiku ke Caty’s House. Tak lama aku pun sampai. Caty’s House ini mudah dicari. Ancer-ancernya Jakal km 9, sebelum lampu merah Gandok yang kalau ke kiri ke Merapi View, ada persewaan game online: Nol. Nah, sampingnya ada perumahan. Masuk situ deh. Caty’s House sudah kelihatan kok dari jalan raya. Aku lupa mencatat alamatnya, yang kuingat hanya nomornya A-3. Tapi bagi yang mencarinya, tak usah khawatir karena ada satpam di depan kompleks yang kurasa pasti tahu guest house punya Bu Tuti ini.

Aku langsung bisa mengenali Caty’s House–karena sudah sering lihat fotonya di blognya Bu Tutinonka. Dan pas kami mengebel rumahnya, Bu Tuti langsung keluar.

Kami masuk ke ruang tamunya yang rapi. Ata sudah menyiapkan empat gelas es. Slruuup … cocok untuk siang yang panas. Kata Bu Tuti, es itu sudah dinamai Uda Vizon, Es Blogroll. 😀 Ada-ada idenya. Rasanya? Enak dong. Bahkan saking enaknya, aku lupa memotretnya. Kalau menurut feelingku, es ini mirip es soda gembira, tapi oleh Ata diberi campuran buah. Jadi makin segar saja rasanya.

Tak lama Bu Tuti mengajak kami makan siang. Rupanya Ata sudah menyiapkan nasi goreng buat kami. Memang jamnya pas. Pas lapar, jadi tawaran makan siang pun jadi pas. 😀

nasi goreng plus-plus

Sambil menikmati sajian di Caty’s House, kami mengobrol. Yang aku ingat, bahan obrolan kami adalah soal pemilihan walikota Jogja beberapa waktu yang lalu. Lalu juga aku cerita soal kemacetan yang kualami pagi tadi. Memang Jogja semakin padat sekarang. Susahnya di Jogja ini, kendaraan umumnya sangat kurang dan tampaknya memang kurang diminati. Masyarakat masih suka naik kendaraan pribadi, baik sepeda motor maupun mobil. (Aku sendiri kalau di Jogja ke mana-mana naik sepeda motor karena sama sekali tidak ada kendaraan umum yang lewat dekat rumahku. Dulu sih ada, tapi sudah lama sekali tidak beroperasi.) Hal seperti ini semestinya tidak boleh dibiarkan. Ruas jalanan tidak akan cukup menampung kendaraan umum kan? Sementara itu, orang semakin banyak dan semakin mudah membeli kendaraan pribadi. Kalau dibiarkan Jogja bisa saingan macetnya dengan Jakarta sekarang. Hiii, serem! Semoga pemimpin yang sekarang terpilih juga memikirkan soal kendaraan umum.

Perbincangan lainnya adalah soal Caty’s House itu sendiri. Walaupun terbilang baru, Caty’s House ini sudah cukup ramai loh. Bahkan untuk libur Natal dan tahun baru ini, sudah dibooking. Setiap hari sudah nolak-nolak tamu. Kurasa ini pasti juga karena guest house ini lokasinya cukup mudah dijangkau, harganya standar, dan nyaman. Guest house ini cocok kalau untuk keluarga atau kalau kita mau menginap bersama teman-teman. Bisa ramai-ramai.

Menjelang pukul 14.30 kami pamit. Bu Tuti mesti beli pulsa listrik pra bayar. Oya sebelumnya aku sempat lihat-lihat Caty’s House sampai ke atas dan mengintip kamar yang ada di bawah. Nyaman tampaknya. Kalau blogger Jepang, Mbak Imelda, kapan-kapan mau ke Jogja tampaknya cocok tuh. Bisa untuk kopdar dengan banyak orang dan bisa menginap pula. Naaah … jadi kapan kopdarnya? 🙂

Oiya, foto dulu sebelum pulang. 🙂

foto dulu sebelum pulang

Tulisan Pertama Tentang Hari-hari Pertama di Jogja

Ini tulisan pertamaku di tahun 2012. Hmm … bingung deh mau nulis apa. Kelamaan libur ngeblog, jadi pikiranku seperti terblokir juga. Hehe. Bingung apa dulu yang mau akan kuceritakan.

Lumayan lama juga aku libur. Blog kulihat sekilas-sekilas saja, sekalian pas ngecek email. Tapi aku jadi tidak mengunggah tulisan di blog sama sekali. Begitulah sindrom kalau keenakan di rumah. Ya, ya … akhirnya aku mudik (lagi) dari menjelang Natal sampai akhir tahun 2011. Aku berangkat ke Jogja hari Sabtu pagi, tanggal 17 Desember lalu dan baru kembali ke Jakarta tanggal 31 Desember. Dan selama itu aku benar-benar tidak menulis untuk blog ini. Rasanya kalau sudah sampai rumah tuh rasanya seperti berbaring di ranjang yang empuk, berselimut tebal, jadi malas bangun dan nulis. Hehehe. Kebiasaan buruk, ya! Jangan ditiru.

Aku mau cerita soal hari-hari pertama di Jogja. Semoga tidak jadi tulisan yang membosankan.

Aku sampai Jogja sudah sore. Mendung. Waktu keluar dari stasiun, aku agak bingung karena ternyata jalan keluar dari stasiun Tugu ke arah Sarkem mesti lewat terowongan. Loh, terakhir pulang ke Jogja (bulan Oktober) rasanya tidak harus lewat terowongan deh. Katanya aturan itu baru sebulan ini berjalan.

Sesampainya di luar stasiun, aku bingung lagi. Wah, mau naik apa ya? Aku mencoba menelepon sebuah armada taksi yang sudah kukenal, tapi ternyata tidak ada armadanya yang kosong. Mau naik taksi yang ada di sekitar stasiun, aku belum pernah. Entah kenapa ya kalau mau naik taksi di Jogja aku malah bingung. Kebiasaan naik motor kalau di sana, jadi malah kagok kalau mau naik taksi. Takutnya juga mereka nggak mau pakai argo atau dimahalin. Mau naik becak, jelas tak mungkin. Rumahku terlalu jauh, bisa-bisa pak becaknya minta aku gantian ngontel. Hehe. Akhirnya ada taksi kosong yang lewat. Walaupun belum pernah naik taksi dari armada itu, aku dan suamiku naik saja. Sebelumnya tanya dulu sih, mau pakai argo apa tidak. Aku tidak mau kalau tidak pakai argo.

Ternyata walaupun taksinya tidak bagus-bagus amat, sopirnya cukup halus dan kalem kalau menyopir. Beda banget dengan sopir taksi di Jakarta. Aku paling tidak suka kalau nyopirnya ngebut. Selain itu taksinya tidak pakai “argo kuda”. Tarifnya wajar. Aku sampai minta nomor hpnya kalau-kalau besok membutuhkannya. Pak sopir ternyata sudah sedia kartu nama. Jadi, kalau sewaktu-waktu kami butuh naik taksi, kan lebih gampang, begitu pikirku.

Malamnya aku berdua dengan suamiku beli mi jawa di daerah Minomartani. Itu mi jawa paling dekat dengan rumah. Biar hujan, demi mi jawa untuk menghangatkan perut, kami lakoni juga. 🙂

Hari kedua aku di Jogja (Minggu), aku sms Septarius, tanya, bisakah aku berkunjung ke Caty’s House? Jarak rumahku dengan Caty’s House cukup dekat. Naik motor kalau pelan-pelan paling 10 menit. Lagi pula jalannya cuma lurus-lurus. Dan aku mendapat jawaban aku bisa ke sana besoknya. Jadi, jadwal ke sana Senin, tanggal 19. Oke. Sip deh!

Lalu hari Minggu ngapain dong? Kakakku mendadak mengajak ke Pantai Depok. Aku sih sebenarnya seneng-seneng saja. Lagi pula memang tidak ada acara sepulang dari gereja. Cumaaaa, aku tidak kebayang naik motor kira-kira 1 jam. Biasanya di Jakarta naik angkot, eh sekarang suruh naik sepeda motor. Kalau jauh sebenarnya agak malas, sih. Cuma karena tergiur bisa makan ikan banyak-banyak sekalian lihat pantai, mau saja. Waktu berangkat cuaca agak mendung, tapi tidak hujan. Syukurlah, puji Tuhan. Sampai di sana, kami beli ikan dan minta dimasakkan di sebuah warung yang sudah jadi langganan kami. Kata kakakku warung itu cukup enak masakannya dibanding warung-warung lain. Di Pantai Depok memang ada pasar ikan. Jadi biasanya orang-orang akan belanja ikan, kepiting, udang, atau cumi yang masih mentah di pasar itu. Lalu belanjaan itu dibawa ke salah satu warung makan yang ada. Kadang ada pula ibu-ibu setempat yang mendekati para turis domestik pembeli ikan itu dan menawari mau memasakkannya. Sebenarnya sih mereka semacam calo untuk warung-warung makan itu sih. Kalau kami biasanya langsung ke warung langganan.

Sembari nunggu makanan jadi, aku main ke pantai. Suasananya ramai, karena selain itu hari Minggu, saat itu ada Yogya Air Show. Aku cuma melihat-lihat sebentar dan melihat para nelayan yang bersusah payah menarik perahu mereka ke darat.

Para nelayan sedang menarik kapal

Ah, tapi perut sudah lapar. Aku kembali ke warung, lalu kami pun menghabiskan hidangan sea food yang baru saja matang. Kenyang dan puas! Masakannya enak (dan kami selalu pesan supaya tidak pakai vetsin), ongkos masaknya pun juga terjangkau. Total kami berempat makan plus minum teh tawar, kelapa muda, dan soda gembira, kira-kira habis 100 ribu (ini dihitung sekalian beli ikan mentah sendiri).

Kalau pantainya sendiri biasa saja. Menurutku sih, tidak terlalu menarik ya. Di Depok pantainya berpasir cokelat/hitam, sementara aku lebih suka pantai berpasir putih. Aku sih, lebih suka pantai-pantai di Gunung Kidul. Tapi kalau ke sana kan lebih jauh lagi. Mana tahan naik motornya.

Mainan di Pantai Depok. Pasirnya hitam.

Pulangnya kami berniat lewat jalan yang lebih sepi (tidak dilalui bus-bus besar). Kakakku cukup tahu jalan-jalan kampung. Kalau aku jalan sendiri, pasti kesasar deh. Pas setengah jalan, turun hujan lebat. Mau berhenti nanggung, akhirnya terus saja. Aku kedinginan di jalan, meski sudah pakai jaket dan jas hujan. Mendekati tengah kota, di sekitar Gedong Kuning, mendadak aku sakit perut pengen ke belakang. Ah, kupikir bisa ditahan. Paling karena kedinginan naik motor. Tapi ya ampuuun, sakitnya makin melilit. Aku buru-buru berhenti mencoba mencari toilet. Kupikir akan kujumpai SPBU di dekat-dekat situ. Tapi SPBU-nya masih dalam proses dibangun. Lalu aku mau mampir ke rumah makan. Eh, ternyata katanya toiletnya tidak ada kakusnya. Aduuuh. Gimana dong? (Dalam hati aku mikir, masak sih tidak ada kakusnya? Kalau orang-orang di rumah makan itu kebelet gimana dong? Padahal aku sudah mengatakan tidak keberatan kalau harus membayar jasa toilet.) Untung dekat situ ada RS Angkatan Udara. Aku buru-buru ke sana. Sampai di sana, RS-nya sepi dan kamar mandinya kotor (kontras dengan ambulans dengan mobil VW yang diparkir di halaman RS tersebut. Kalau mampu punya ambulans VW, bisa bayar karyawan untuk membersihkan kamar mandi dong?). Tapi ya sudahlah, namanya juga kepepet. Sudah bagus tidak diusir petugas karena mau nunut ke WC doang, haha.

Setelah itu, kami akhirnya pulang. Lega deh bisa sampai rumah.