Perubahan

Beberapa waktu ini aku di-add di grup WA SMP. Grup itu cukup ramai. Yang kurasakan dari grup itu adalah seperti berada di kelas pada jam kosong. Ruamee. Kalau kata guruku dulu, ramainya seperti di pasar. Selain itu aku merasa, teman-temanku kok nggak terlalu banyak berubah, ya? Gayanya sewaktu chatting, sama seperti gayanya mengobrol zaman SMP dulu. Sekarang hanya lebih saru aja. 😀 😀

Aku kadang berpikir, apakah aku juga sebenarnya tidak terlalu banyak berubah?

Secara fisik aku pasti berubah. Semua orang pun begitu. Dari muda menjadi tua. Keriput, beruban, mungkin ditambah sakit encok atau sakit-sakit lain. Namun, apakah batin kita berubah? Ketika masuk grup WA teman-teman SMP, aku merasa kebanyakan sepertinya tidak berubah. Yang mereka sampaikan di grup dan gaya chattingan mereka sepertinya tidak terlalu berubah. Walau misalnya ada yang pindah agama, tapi aku merasa perubahannya tidak terlalu drastis–setidaknya soal cara berpikir, ya. Kalaupun berubah, rasanya “seperti bisa ditebak”. Bukan seperti twist akhir cerita yang mengejutkan. Kalau baju, ada yang berubah sih. Tapi hidup kurasa tidak hanya soal perubahan baju atau tampilan fisik.

Aku tak yakin diriku banyak berubah. Ini baik atau buruk? Entah. Kurasa begitu pula dengan banyak orang di sekitarku. Hal ini agak menenteramkan karena ketika aku hendak bertemu teman lama, kadang aku khawatir jika orang itu berubah dan perubahannya menjauhkan kami. Kalaupun berubah, mungkin sebenarnya perubahan itu menunjukkan jati diri yang sebenarnya.

Advertisements

Minyak Jelantah Menjadi Berkah

Di rumah aku berusaha memilah sampah organik dan anorganik. Yang gampang busuk, kubuang di kebon belakang. Plastik dan teman-temannya yang sulit busuk kubuang lewat jasa tukang sampah yang datang dua hari sekali. Yang agak repot adalah ketika akan membuang minyak goreng bekas (jelantah). Walaupun tidak banyak, cukup merepotkan.

Aku tidak ingat bagaimana awalnya aku memanfaatkan minyak jelantah tersebut menjadi sabun. Yang kuingat, suatu siang, aku, bersama dua orang teman–Mbak Imel, dan Mbak Ira–mencoba mengolah minyak jelantah di rumah Mbak Ira untuk dijadikan sabun. Ng… mungkin waktu itu untuk persiapan percobaan di Pasar Sasen? Mungkin ya. Aku lupa.

Sempat bertanya-tanya juga dulu soal cara menjernihkan minyak jelantah supaya baunya yang tidak enak itu bisa berkurang. Setelah googling, ada beberapa cara menjernihkan minyak jelantah. (Silakan googling sendiri, ya.) Cara penjernihan yang paling mudah menurutku memakai arang.

Aku sudah beberapa kali mencoba membuat sabun minyak jelantah ini. Mulai dari jelantah bekas warung penyetan sampai jelantah rumah tangga. Ada yang baunya ikan banget, ada yang baunya gorengan tempe. Hasilnya pun macam-macam. Awalnya sabun jelantah yang kami buat baunya masih kurang enak. Namun belakangan sudah lumayan. Terakhir aku memakai air pandan sebagai cairan pembuat sabun, maka setelah jadi, sabun warnanya kehijauan dan samar-samar ada aroma pandan juga.

Sabun jelantah bisa dipakai untuk mencuci piring, mencuci baju, atau sekadar cuci tangan. Menurutku sabun tersebut cukup kesat dan bersih. Kalau mencuci alat masak yang berminyak banget memang tidak sekesat kalau pakai sabun cuci piring cair yang ada di pasaran. Namun, untuk mencuci piring bekas makan, bersih kok. Yang jelas, sabun ini tidak pakai deterjen. Mungkin perlu dicoba dipakai oleh orang yang memang alergi banget dengan sabun yang mengandung deterjen.

Begini cara membuat sabun jelantah.

Bahan:
– Minyak jelantah setengah liter (kurang lebih 450 gram)
– Arang secukupnya. Ditumbuk atau jadikan potongan kecil-kecil.
– Soda api 61 gram
– Pandan 5 lembar, rajang supaya mudah diblender
– Air 123 gram (jangan menggunakan air PAM). Lebih baik memakai akuades atau air distilasi. Karena di rumahku air sumurnya masih bagus, aku pakai air sumur biasa.

Alat yang dibutuhkan:
* Hand blender
* Timbangan (lebih baik memakai timbangan digital supaya mendapatkan angka yang presisi)
* Wadah stainless steel atau wadah plastik yang tahan panas (jangan memakai wadah dari aluminium). Wadah ini dipakai pada saat mencampur soda api + air, dan saat mencampur larutan soda api + minyak
* Cetakan silikon. Jika tidak punya cetakan silikon, bisa memakai cetakan puding, tetapi alasi dulu dengan plastik tahan panas atau kertas cokelat yang biasa untuk bungkus nasi supaya ketika sabun sudah jadi, mudah dilepas. Dulu aku pernah bikin sabun memakai cetakan puding plastik, hasilnya sabun sulit dilepas dari cetakan.

Alat pengaman:
+ Masker
+ Kacamata pelindung
+ Sarung tangan

Cara membuat:

Selama proses pembuatan sabun gunakan alat pengaman, ya. Jangan sampai air soda api terkena mata atau kulit. Kalau terkena kulit, akan terasa sedikit gatal dan panas seperti terbakar.

(1) Masukkan arang ke dalam minyak jelantah. Untuk mudahnya dua-duanya dalam kondisi dingin. Alternatif lain: masukkan arang yang membara ke dalam minyak jelantah. Biarkan dingin. Setelah dingin lalu saring. Belakangan arang kudiamkan selama semalam di dalam minyak jelantah, baru disaring.

(2) Buat air pandan: blender pandan dengan air, lalu saring. Takar airnya menjadi sebanyak 123 gram.

(3) Masukkan soda api ke air pandan. Jangan terbalik: Jangan sampai air pandan yang dituang ke soda api karena bisa meledak. Aduk soda api sampai benar-benar larut lalu biarkan dingin atau sampai suhu ruang. Uap yang keluar selama proses ini jangan sampai terhirup dan jangan sampai airnya terpercik ke mata. Jadi, penting untuk memakai masker serta kacamata pelindung. Selain itu, lakukan proses ini di tempat yang berventilasi bagus.

(4) Masukkan larutan soda api ke dalam minyak jelantah yang telah disaring. Aduk dengan hand blender sampai mencapai kekentalan yang menyerupai susu kental manis atau mayones.

(5) Tuang ke dalam cetakan yang telah disiapkan. Diamkan semalam. Potong sabun menjadi ukuran yang diinginkan, lalu angin-anginkan di tempat yang berventilasi bagus. Setelah 3-4 minggu, sabun bisa digunakan. Lebih bagus lagi kalau didiamkan sampai 2-3 bulan.

 

Seperti ini hasil jadinya

Aku mendapat pertanyaan-pertanyaan umum berkaitan dengan pembuatan sabun minyak jelantah ini:
1. Bagaimana kalau minyak berbau ikan?
Dari pengalamanku, aku pernah memakai minyak jelantah yang berbau ikan. Untuk mengurangi bau, campur dengan minyak jelantah bekas gorengan non-ikan. Tapi rata-rata, aku mencampur berbagai minyak jelantah yang kudapat dari teman-teman. Kalau masih ragu, pakailah minyak jelantah yang tidak bekas untuk menggoreng ikan. Pemakaian arang di awal berguna untuk mengurangi aroma yang kurang enak dalam minyak.

2. Bagaimana kalau tidak memakai hand blender?
Sebenarnya bisa saja memakai mikser, tapi dari pengalamanku butuh proses lebih lama untuk mencapai kekentalan yang pas. Sebagai perbandingan, jika memakai hand blender, proses pengadukan butuh waktu 2-3 menit. Jika memakai mikser setidaknya butuh waktu 15-20 menit. Konon kalau diaduk manual (tanpa mesin alias pakai tangan) bisa 1 jam. Yang penting, pisahkan alat yang biasa dipakai untuk membuat sabun dengan alat masak lainnya.

3. Apakah sabun ini aman, mengingat salah satu bahannya adalah soda api?
Aman. Dalam proses pembuatan sabun, larutan soda api yang tercampur dengan minyak akan mengalami saponifikasi dan akhirnya jadilah sabun. Agar soda api benar-benar hilang, sabun yang baru jadi perlu diangin-anginkan selama 3-4 minggu. Setelah itu aman dipakai. Silakan googling mengenai penggunaan soda api dalam pembuatan sabun. Sudah banyak yang memberi penjelasan di luar sana.

Selamat mencoba!

Catatan:
Dalam mengutak-atik resep ini, aku perhitungkan minyak jelantahnya dari minyak sawit semua.