Kue Pisang Kukus Perdana

Tak jauh dari tempat tinggalku ada sebuah toku kue. Beberapa kali aku membeli kue yang itu-itu saja dari toko itu, yaitu kue pisang. Di kemasannya sih tertulis banana bread (roti pisang), tapi suamiku bilang, kalau dilihat dari jenisnya itu namanya banana cake (kue pisang), bukan bread (roti). Baginya, roti berbeda dengan kue. Tapi bagiku yang ilat Jowo (lidah Jawa) begini, keduanya tidak ada bedanya. Podo wae, yang penting enak. Jadi, aku tidak akan protes ketika ada yang bilang: roti tar, bukan kue tar. Yang ada di kepalaku, jenis makanan yang seperti roti tawar (bread) dan aneka kue (cake) itu sama saja. Haha, dasar ilat Jowo.

Yah, pokoknya begitu. Pada intinya aku suka banget kue pisang–kue yang memakai bahan dasar pisang. Setiap kali beli kue dari toko kue tersebut, aku selalu membatin, “Suatu saat aku akan buat sendiri–yang lebih enak dan murah.” Kalau bisa buat sendiri, biasanya jadinya lebih banyak kan? Soal enak dan tidak, itu masalah lidah. 😀 😀

Beberapa hari yang lalu seorang teman di FB, Mbak Ella, memajang foto kue pisang buatannya. (Dalam postingan itu dia menyebutnya banada bread. Apa pun lah namanya, yang penting bahan dasarnya pisang.) Dia mengatakan bahwa kue itu mudah sekali bikinnya. Tanpa mikser! Wih… aku langsung penasaran. Dan dia menyertakan tautan resepnya. Kubaca-baca, kok kayaknya gampang. Sebetulnya aku punya mikser, tapi sudah lama sekali tidak kupakai. Sepertinya ada bagian yang karatan, jadi aku rasa mikser itu memang sudah pensiun.

Niat untuk membuat kue pisang semakin menggebu ketika aku masih memiliki pisang raja serta pisang ambon yang kulitnya sudah mulai menghitam. Pisang ambon itu sudah manis sekali dan terlalu matang buatku. Sebetulnya aku bisa saja memakannya begitu saja atau dibuat smoothie, misalnya. Tapi niat bikin kue pisang itu sudah tak tertahankan. Apalagi aku ingat, kira-kira sebulan lalu Tante memberiku mentega Wijsman sekaleng (200gr). Kalau untuk oles-oles roti tawar sih, rasanya bakal tidak habis-habis deh mentega sekaleng kecil begitu.

Di resep yang diberikan Mbak Ella, kue pisang itu dipanggang. Tapi aku tidak punya panggangan (oven). Aku terpikir untuk buat kue pisang kukus saja. Akhirnya, kemarin sore aku membuka blog masak andalanku: justtryandtaste dan menemukan resep kue pisang kukus. Dengan niat yang sudah bulat dan sok pede, aku menggabungkan dua resep itu. Kupikir, kalau tidak jadi, biarlah. Kue bantat pun akan tetap kumakan. 😀 😀

Beginilah jadinya penampakan kue pisang kukusku.

Kue pisang kukus ini sepertinya cepat sekali masuk perut.
Kue pisang kukus ini sepertinya cepat sekali masuk perut.

Ini resepnya:
300 gr pisang (Kira-kira 6 pisang yang sudah kupas. Kemarin aku pakai 2 pisang ambon dan 4 pisang raja.)
175 gr gula (Kalau kurang suka manis, bisa dikurangi.)
4 butir telur
200 gr tepung terigu
1 sdt soda kue
150 gr mentega dicairkan (kalau di resep blog justtryandtaste, pakai 100 gr mentega dicairkan; bisa juga pakai minyak goreng)

Cara membuat:
1. Cairkan mentega. Biarkan dingin.

2. Pisang dikupas, dihancurkan dengan memakai garpu. Tidak terlalu halus tidak apa-apa. Aku malah suka yang tidak terlalu lembut, jadi pas kuenya matang, masih ada potongan pisang kecil-kecil.

3. Campurkan mentega cair dengan bubur pisang tadi.

4. Ayak tepung. Campur dengan soda kue.

5. Kocok telur dan gula. Kemarin aku mengocoknya cuma pakai garpu. Kalau di resep justtryandtaste, dikocok dengan mikser sampai putih. Tapi ya, karena mikserku sudah pensiun, ternyata dikocok manual begitu pun tetap bisa. Toh di resep dari Mbak Ella, juga tidak pakai mikser, kan?

6. Masukkan tepung dan bubur pisang ke dalam kocokan telur dan gula. Masukkan secara bergantian sambil terus diaduk.

7. Sementara itu, siapkan kukusan/dandang. Isi air secukupnya sehingga cukup untuk mengukus selama 45 menit. Taruh kukusan di atas kompor sampai air di bagian bawahnya mendidih.

8. Masukkan adonan ke dalam loyang. Karena aku tidak punya loyang, aku pakai wadah seadanya. Aku pakai wadah kaca dan mangkuk kecil. Sebelumnya, kuolesi bagian dalam wadah tersebut dengan mentega.

9. Masukkan loyang berisi adonan ke dalam kukusan. Masak sampai 45 menit. Jangan lupa, tutup dandang dilapisi serbet supaya air tidak menetes ke dalam adonan kue. Jangan dibuka-buka selama memasak ya, karena panasnya bisa tidak maksimal. Setelah 45 menit, buka dan coba tusuk kue dengan tusuk gigi. Kalau tidak ada bagian yang menempel, berarti kue sudah matang.

Gampang kan?

Silakan dicoba, ya! Kalau aku sih, jadi ketagihan bikin lagi. Enak sih! 😀

Advertisements

Otak-Atik Tempe

Untuk urusan masak, aku menganggap diriku amatiran. Asal bisa. Karena merasa “asal bisa” dan merasa perlu menambah ilmu, salah satu hal yang kulakukan adalah koleksi buku resep masakan dan suka melihat-lihat atau memperhatikan ketika ada orang memasak. Kadang kalau pas lagi pulang ke Jogja, aku bisa menonton TV dan menyaksikan acara masak. Salah satu acara masak yang kusukai adalah Gula-gula yang dipandu Bara Pattiradjawane. Menurutku, masakan dia sederhana. Aku memang kurang suka masak yang terlalu ribet. Kalau bisa mudah dan enak, kenapa tidak? Berkutat di dapur itu butuh waktu dan tenaga. Masalahnya, kemalasanku kan tiada tandingannya hahaha. *Duh, malas saja dibanggakan.*

Setelah sekian lama berusaha untuk bisa memasak, aku berpikir memasak itu berkaitan dengan kreativitas (“kreativitas” pakai “v” ya, bukan pakai “f”; kalau “kreatif“, baru deh pakai “f”). Plus keberanian. Mungkin ibarat menulis, huruf yang tersedia dari A sampai Z kan hanya 26 biji, tapi bisa dijadikan bertumpuk-tumpuk buku, dokumen, makalah, dan sebagainya. Butuh kreativitas kan untuk mengotak-atik 26 huruf itu? Memasak juga begitu. Kalau memasak, bumbu, sayur, dan bahan makanan yang ada di dapur kadang itu-itu saja. Kadang bosan karena yang kita masak juga begitu-begitu saja. Menurutku, itulah gunanya buku resep. Kadang aku membaca buku resep untuk benar-benar meniru apa yang tertulis di situ, kadang ya diotak-atik sendiri resepnya–terutama jika menu yang sudah cukup kita kenal, misalnya sup atau tumis sayur. Misalnya soal tumis sayur, kadang bosan kalau hanya menumis kangkung. Lalu kenapa nggak dicoba menambahkan sedikit potongan ikan tuna atau pipilan jagung? Begitu deh kurang lebihnya. Tapi yaaa, sekali lagi, aku ini amatiran. Untuk mengubah resep kadang masih belum berani.

Ceritanya, kemarin aku menemukan tempe yang kubeli sudah on the way busuk alias semangit. Kalau di rumahku dulu, tempe kadang sengaja dibuat jadi tempe bosok lalu dibuat bumbu. Masalahnya, aku kurang suka tempe bosok. Aku kurang suka baunya. Dan selama ini aku tidak pernah memasak dengan memakai tempe bosok. Mungkin dari seluruh anggota keluargaku, cuma aku yang tidak suka. (Setahuku, orang Jawa memang suka memasak dengan tempe bosok. Setahuku sih, ya. Aku tidak tanya pada keluarga Jawa yang lain sih.) Nah, karena tempe yang ada di kulkas sudah semangit (sudah kecokelatan dan agak bau), aku berpikir mau diapakan tempe ini? Untunglah aku kemarin berhasil mengalahkan kemalasanku (karena ingat akhir-akhir ini tempe termasuk barang mahal). Akhirnya, aku membuatnya jadi semacam perkedel tempe. Dari pengalamanku, jika dibuat perkedel begitu, bau tempe yang semangit itu sudah jauh berkurang. Soalnya kan sudah ditambah bumbu dan telor. Bagaimana cara membuatnya?

Pertama-tama aku mengukus tempe itu karena sudah semalam di dalam kulkas dan agak keras. Dengan dikukus, tempe jadi agak lunak dan mudah dihancurkan. Jadi, setelah dikukus kira-kira 5-10 menit (aku lupa sih sebetulnya berapa lama, jadi kira-kira saja), tempe dihaluskan.

Siapkan bumbunya: bawang merah dan putih. Perbandingannya lebih banyak bawang merahnya daripada bawang putih. Misalnya, bawang merah 3, bawang putih 2 atau kurasa 1 siung juga bisa. Banyaknya bawang merah dan bawang putih ini tergantung seberapa banyak tempenya ya. Kemarin tempe yang kumasak hanya sedikit, jadi aku hanya pakai 3 bawang merah dan 1,5 siung bawang putih. Pokoknya kira-kira saja. Setelah itu, ulek/haluskan semuanya dengan ditambah garam.

Setelah bumbunya siap, campurkan dengan tempe yang sudah dihaluskan. Lalu diceplokin telur atasnya. Campur sampai merata dan bisa dibentuk seperti perkedel. Setelah itu, digoreng. Gampang kan?

Oya, kalau kamu punya tahu, enak juga kalau dicampurkan. Jangan lupa tahunya dihaluskan terlebih dulu. Kalau malas menggoreng, kadang aku pakai cetakan apem untuk memanggangnya. Kalau punya sedikit daging cincang, kurasa enak juga dicampurkan. Aku belum pernah sih, tapi bayanganku enak juga. 😀

giginya... eh, perkedel tempenya tinggal dua. :D yang lain sudah masuk perut.
giginya… eh, perkedel tempenya tinggal dua. 😀 yang lain sudah masuk perut.

Makanan Selingan di Jam Kantor

Dulu, waktu aku masih kerja kantoran, di kantorku ada OB (office boy) bernama Pak Mar. Sebenarnya tidak pas disebut “office boy” karena dia tidak lagi “boy“, tapi “man“. Hehe. Tugasnya setiap pagi adalah membuatkan teh hangat untuk para karyawan. Teh buatannya itu “nagih”. Entah bagaimana perbandingan teh dan gulanya. Tapi menurutku pas banget. Tidak terlalu kental dan tidak terlalu manis. Dan itu terasa nyaman di perut saat diseruput pagi-pagi–setelah menembus jalanan yang cukup padat dan udara pagi yang dingin.

Pak Mar ini selama bekerja di Jogja menginap di kantor. Dia tidur di lantai empat waktu itu. Kadang dia pulang kampung. Dan kadang pula dia membawa oleh-oleh berupa singkong. Biasanya dia akan mengeluarkan singkong rebus di sela-sela jam kantor. Seingatku sih kira-kira pukul 3 sore–saat nasi yang disantap saat makan siang sudah hampir tidak terasa di perut dan mulut sudah kangen untuk mengunyah lagi. Jadi, pas sekali. Apalagi singkong itu masih hangat mengepul dan waktu digigit langsung hancur, jatuh di lidah dan terasa manis. Wuenak! Sederhana memang. Tapi tidak semua singkong “mempur” (empuk/mudah hancur) kan? Jadi, singkong oleh-oleh Pak Mar ini terasa istimewa.

Kini, aku bekerja di rumah dan tentu tidak mendapat teh manis serta singkong rebus dari Pak Mar. (Lagi pula, dia sudah mengundurkan diri dari kantorku dulu. Jadi, saat aku main ke bekas kantorku, jelas tidak bisa bertemu dia lagi.) Kadang kangen juga menyeruput teh hangat di pagi hari. Maksudnya, aku tidak harus bikin sendiri gitu lo. 😀 Dan memang menurutku, teh buatan Pak Mar itu khas. Kalau dia tidak masuk dan digantikan OB yang lain, rasa tehnya beda.

Sekarang aku harus menyediakan sendiri makanan kecil di sela-sela jam kerja. Di “kantorku” sekarang, aku memang merangkap OB plus karyawan, plus bos. Hehe. Di rumah yang jelas, aku mengusahakan untuk ada biskuit. Itu adalah camilan yang mudah didapat dan tidak membuatku batuk. Kalau cemilan berupa keripik apalagi kacang, aku cenderung akan batuk. Malah tidak bisa lanjut kerja kan? Makanan selingan lainnya adalah buah. Paling sering sih pepaya–yang cukup murah, banyak, dan cukup nyamandi perut. Selain itu, suamiku suka beli roti tawar. Biasanya roti itu untuk sarapan paginya. Tapi kadang roti tawar itu masih cukup banyak karena dia tidak sempat sarapan atau memilih sarapan di dekat kantornya. Aku sendiri tidak selalu makan roti tawar. Jadi, roti itu masih agak banyak padahal sudah mendekati deadline … eh, masa kadaluarsa. Lalu bagaimana solusinya? Menurutku, paling mudah adalah dibuat puding.

Aku bagikan ya cara membuat puding roti tawar. Aku buatnya asal saja sih. Jadi jangan berharap istimewa atau cantik dan pantas dipajang saat arisan. Hehe.

Bahan:
600 ml susu cair. Kemarin aku tidak punya susu cair, tapi ada Dancow bubuk. Jadi aku pakai dua sachet dan dicairkan dalam dua gelas air lebih sedikit.

1 bungkus agar-agar. Warna terserah.

2 butir telur, kocok.

2 gelas air. (pokoknya kira-kira 400 ml)

garam sedikit.

gula sesuai selera.

Roti tawar, kira-kira 4-5 lembar

Cara membuat:
1. Rendam roti tawar dalam susu sampai cukup hancur.

2. Masak agar-agar dalam air sampai mendidih. Masukkan gula dan sedikit garam.

3. Masukkan rendaman roti bersama susu dan telur kocok. Masak sampai mendidih, lalu angkat. Kalau mau, bisa ditambahkan vanili atau rhum.

4. Masukkan dalam wadah/cetakan.

Gampang kan?

penampakan puding roti tawar. nggak cantik ya? hehe tapi mengenyangkan

Resep ini kudapat dari hasil mengintip buku Sajian Manis dari Roti Tawar terbitan PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2003 halaman 26. Kalau resep di aslinya sih bahannya tidak cuma roti tawar dan susu. Ada tambahan lain seperti buah kaleng dan cokelat bulat. Tapi aku pakai bahan yang ada di rumah saja. Dan kalau lihat foto di buku itu, hasil pudingnya cantik (halus). Punyaku tidak bisa halus. Mungkin kurang sajen. 😀

Puding ini cukup mengenyangkan buatku dan pas untuk selingan di sela jam kerja. Tapi kok aku masih terbayang singkong kukus hangat dan mempur ya? 😀 😀

Kalau kamu, makanan selingan apa yang tersedia saat jam kerja?

Masak Spageti Yuuuk …

Dulu waktu aku belum menikah dan tinggal berdua saja dengan kakakku, memasak adalah urusan berdua. Jadi, aku dan kakakku sama-sama bisa memasak. Yaaa, nggak jago-jago amat sih. Masak menu sehari-hari saja, yang gampang-gampang. Masak sup, aneka tumis, sayur bening, orak-arik telur dan wortel, sayur asem. Pokoknya yang gampang dan nggak ribet. Namanya juga anak perantauan, jadi maunya yang simpel. Tapi memang selera kakakku dan aku sedikit beda sih. Dia suka masakan bersantan, aku kurang suka. Dia suka pedas, aku kurang suka. Tapi nggak terlalu masalah sih. Nah karena berdua bisa masak ala kadarnya begitu, jadi masaknya bisa gantian. Hal ini paling terasa membantu saat salah satu dari kami sakit. Jadi, yang sakit bisa dimasakin.

Waktu aku menikah, acara masak gantian ini berubah. Suamiku tidak bisa masak. Jadi, ya dia mesti belajar. Yang ngajari? Aku. Haha. Padahal aku masak ya cuma bisa-bisaan. Dan aku bukan guru yang baik, karena nggak sabar sama muridnya. 😀 😀 Cara yang paling sederhana untuk mengajari masak adalah dengan memintanya membantuku saat memasak. Jadi kan tahu tuh seberapa banyak bawang putih yang dipakai, garamnya seberapa, pakai kecap atau enggak. Ya gitu deh. Tapi kadang tidak selamanya dia bisa ikut masak sih. Soalnya dia kan lebih banyak di luar rumah. Pas libur saja bisanya.

Tapi dia sebenarnya murid yang suka berinisiatif. Maunya belajar sendiri! Lalu masak apa dong?

Ceritanya, beberapa waktu yang lalu kami suka makan spageti. Lalu pengin masak sendiri. Sekarang kan banyak tuh bumbu spageti yang sudah jadi. Tinggal beli daging cincang. Sebenarnya kami nggak sering masak spageti itu, karena pertama, mesti beli daging dulu. Dan aku pengennya, kalau bisa, belinya pas mau masak. Jadi masih segar dagingnya. Padahal kadang kan maunya masak pas sore atau malam. Sudah malas deh mau keluar rumah ke swalayan. Dan kedua, daging kan tidak murah to? Jadi mesti hemat-hemat. Tapi kalau pengin spageti, dia bisa masak sendiri. Kan gampang tuh. Aku tidak terlalu banyak membantu.

Akhir tahun kemarin, adik suamiku menikah. Pas acara resepsi, salah satu menunya adalah spageti. Tapi, spageti yang dihidangkan waktu itu tanpa daging. Loh, ternyata bisa ya masak spageti tanpa daging? Sama sekali tanpa pengganti jamur (bukan spageti vegetarian). Jadi, tampilannya cuma putih saja dan ada bawang putih yang masih utuh. Rasanya? Menurut kami sih enak. (Kalau ayahku kurang suka sih… hihihi. Lidah orang beda-beda ya.) Tapi suamiku suka banget tuh.

Sepulang dari sana, penasaran dong dia. Akhirnya googling deh. O…ternyata itu namanya spagetti aglio et olio. Bumbunya sederhana banget, cuma pakai minyak zaitun, garam, bawang putih (digeprek dan dibiarkan utuh), oregano, rosemary. Kalau mau lebih enak lagi, dikasih tomat ceri dan peterseli cincang. Setelah tahu bumbunya sesederhana itu, dia mulai praktik. Dan aku nggak ikut-ikut hihi. Pokoknya cuma nyobain hasil masakan 😀 Awalnya rasanya masih agak kurang pas, tapi nggak pantang menyerah dong. Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya berhasil … berhasil … berhasil! Rasanya sudah mirip dengan masakan di hotel waktu adiknya menikah. Nyam… nyam.

Nah, ceritanya tadi siang, dia masak lagi. Aku cuma bantu menggeprek bawang putih saja, dan meniriskan spageti. Mau kubocorin cara masaknya? Simak baik-baik ya …

Bahan yang perlu disiapkan:
Spageti, kira-kira untuk tiga piring.
Bawang putih. Empat siung (agak besar) dimemarkan lalu diiris tipis-tipis, dan empat atau lima butir (yang agak kecil) dibiarkan utuh.
Garam kira-kira 1 sendok teh kurang dikit, boleh dikurangi kalau tidak suka asin. Tapi menurutku segitu sudah cukup pas. Kalau dia sih cuma pakai jumput tangan.
Minyak zaitun kira-kira 3-4 sendok makan. Biasanya sih nggak pakai takaran, tapi agak banyak. Sedikit lebih banyak dibanding kalau untuk menumis biasa.
Oregano secukupnya.
Rosemary secukupnya.
Tomat ceri 3-4 butir dibelah dua
Daun peterseli cincang. Peterseli ambil dua batang saja, diambil daunnya lalu diiris/dicincang.

Cara masak:
1. Rebus air sampai mendidih. Masukkan spageti. Masak selama 10 menit. Kalau terlalu lama bisa lembek, kurang enak. Setelah matang, tiriskan. Biar tidak lengket, dikasih minyak zaitun sedikit. Mentega juga boleh, tapi lebih enak pakai minyak zaitun. Dikit kok pakainya, paling 1 sendok teh saja.

2. Siapkan wajan teflon. Tuangkan minyak zaitun, dikasih garam, tunggu sampai agak panas. Apinya sedang saja. Lalu masukkan bawang yang utuh dan tomat ceri yang sudah dibelah dua. Tumis, sambil tomat cerinya ditekan-tekan biar agak hancur.

3. Kalau tomat sudah agak lembek, masukkan bawang putih cincang. Tumis. Lalu masukkan rosemary. Kalau suka sih, agak banyak nggak apa-apa. Biar wangi. Masak bawang putihnya mesti hati-hati, jangan sampai berubah warna jadi cokelat. Bisa pahit. Jadi, pas masak jangan pakai api besar ya. Apinya cenderung kecil sih.

4. Kalau baunya sudah harum, masukkan spageti yang sudah ditiriskan tadi. Diaduk-aduk sampai bumbunya merata, sambil ditambahkan oregano dan daun peterseli cincang. Kalau sudah rata, diangkat. Jadi, deh. Siap dihabiskan. 🙂

Spageti oglio et olio siap dihabiskan. 🙂

Gampang kan? Silakan mencoba ya! 🙂