Mengiur Waktu

Bulan puasa tahun ini lain rasanya. Kuamati tetanggaku sudah tidak menyalakan petasan lagi. Aku baru menyadarinya kemarin. Kok tumben setelah buka, tidak ada bunyi dar der dor. Biasanya suara yang membikin aku melompat dan menyumpah-nyumpah itu terus berdentuman walau sudah diprotes. Aku bersyukur atas hal itu. Entah mereka akhirnya sadar diri atau memang sedang berhemat sehingga tidak membeli petasan.

Hal lain lagi yang berbeda adalah dibagikannya takjil setiap setiap sore dari rumah ke rumah. Tahun-tahun sebelumnya takjil dibagikan di musola, sehingga otomatis warga muslim saja yang menikmati dan bergiliran membuat takjil. Karena setiap sore aku menerima bingkisan takjil berisi lauk, aku jadi tidak enak sendiri. Tidak urunan kok dikasih melulu? Rasanya semacam menerima “nasi tonjokan” dari orang yang punya hajat. Kalau sudah menerima nasi tonjokan, secara tersirat wajib menyumbang. Kalau tidak menyumbang, tidak tahu malu namanya.

Jadilah aku kemudian berinisiatif tanya kepada salah seorang tetangga. Singkat kata, aku mau ikut urunan. Tapi aku kan sebenarnya bertetangga dengan kakak (dan ipar) sendiri. Awalnya yang mau urunan cuma aku, tapi aku jadi berpikir, masak saudara sendiri tidak diajak? Akhirnya aku mengajaknya dan aku merasa ada sedikit miskomunikasi, yang membuatku merasa diabaikan atau jadi semacam makhluk invisible yang unrecognized. Rasanya aku memang mudah baper untuk hal seperti itu. Ya, aku memang cenderung berada di belakang layar. Tidak suka tampil. Suaraku juga tidak cukup lantang. Jadi mestinya wajar kalau tidak didengar. Ah, sudahlah. Aku berusaha ngepuk-puk diriku sendiri. It’s OK to be not OK, kan? Aku hanya ingin menangis untuk diriku sendiri. Menangisi kekonyolanku sendiri. Ini semua kutuliskan untuk ngudar rasa. Semacam melepaskan simpul di hati supaya tidak terus-menerus menyakiti hati sendiri.

Balik ke soal takjil tadi. Untuk takjil yang dibagikan, ada beberapa warga yang membentuk kelompok lalu urunan dan memasak bersama. Untuk urusan kebersamaan, boleh lah. Yang top banget adalah mereka memasak dalam jumlah banyak dalam kondisi puasa. Aku lupa pernah membaca di mana, sebenarnya puasa itu saat untuk “beristirahat” atau mengurangi kegiatan sehingga kemudian orang akan punya waktu untuk beribadah. Lagi pula, kurasa saat puasa kondisi fisik seseorang semestinya tidak sekuat kalau tidak puasa. Jadi tidak perlu melakukan pekerjaan berat yang menguras tenaga semacam angkat-angkat barang berat. Yang kuamati kemarin saat rewang untuk pembuatan takjil, tukang masaknya puasa semua. Dan memasak dalam jumlah banyak itu tidak mudah. Mesti mengangkat wajan besar atau baskom besar berisi bahan yang tidak ringan. Dan semua itu dilakukan perempuan! Tak ada bapak-bapak yang membantu sama sekali. Duh, Dek… Aku jadi bertanya-tanya, kenapa seperti ini ya? Apa sih yang dicari? Urunan uang membuat takjil saja tidak enteng bagi sebagian orang pada masa pandemi seperti sekarang. Ditambah mesti melakukan pekerjaan fisik yang menguras tenaga. Sebagai kaum rebahan dan tukang ketik seperti aku, hal seperti itu tidak masuk dalam pikiran. Namun, aku tahu dan paham betul bahwa tuntutan dari masyarakat sangat besar dan berat sehingga nyaris tak bisa terhindarkan. Seperti urusan “nasi tonjokan” itulah. Orang yang kuat pasti bisa dengan cueknya tidak peduli dengan hal seperti ini. Tapi buat orang yang berhati lemah atau yang biasa-biasa saja, pasti mau tak mau bakal kepikiran. Hidup di kampung tidak selamanya mudah sih.

Aku bisa bernapas lega urusan takjil ini selesai kemarin. Seharian kemarin aku sudah merelakan waktu yang mestinya kupakai untuk menyelesaikan terjemahan dan tulisan. Aku sudah urunan waktu dan tenaga serta sedikiiit uang. Mungkin tak berarti buat mereka. Jadi, sekarang mau balik ke laptop lagi. Ada yang mesti kukerjakan supaya aku tidak kehilangan pekerjaan.

Di Sini Saja Cukup

Aku merasa menulis di blog ini merupakan kewajiban kecil terhadap diriku sendiri. Aku butuh catatan untuk mengingat-ingat. Ingatan sering kali menjadi harta karun yang membuat senyum terkembang. Kadang aku terheran-heran, bagaimana bisa aku membuat tulisan seperti itu.

Belakangan aku merasa tidak perlu menyebarkan tulisan di blog ini lewat akun medsosku karena kebanyakan ini hanya catatan untuk diriku sendiri. Kalau sesekali ada orang yang ikut membacanya, silakan. Tetapi tulisan-tulisan di sini terutama untuk diriku sendiri.

Dulu aku merasa “butuh” banyak pembaca. Aku mengalami masa ketika aku beberapa kali bertemu teman sesama narablog. Tetapi aku lagi-lagi lebih suka berdiam di balik layar.

Kini aku menulis seperti ini saja. Sesukaku. Kadang lama tidak menulis. Sekalinya menulis, aku tidak “woro-woro”. Sempat aku terpikir untuk memiliki buku harian. Tetapi aku malas menyimpan tumpukan buku. Rakku sudah penuh dan aku tak ingin menambahnya dengan berjilid-jilid buku harian. Jadi, di (blog) sini saja cukup.

Apakah Kamu Berubah?

Banyak orang mengatakan rutinitas hidupnya berubah gara-gara corona. Yang biasanya berangkat ke kantor pagi-pagi, kini bisa bangun lebih siang dan bisa memilih tidak mandi. Mandi dirapel sekalian sore. Aku sempat mengalami perubahan: tidur lebih tertib–tidak lebih dari jam 10 malam; masak setiap hari dan sama sekali tidak absen; jalan pagi setiap pagi, dan lain-lain.

Namun seingatku hal itu hanya berlangsung sekitar pertengahan Maret sampai awal April. Waktu itu aku merasa lebih tegang. Setiap hari membaca berita tentang corona lalu mulai eneg. Eneg secara literal. Jadi, aku merasa pusing dan deg-degan tiap kali ada berita si virus. Tidak bisa tidak membacanya. Mata seperti otomatis mengunyah berita, tapi kepala akhirnya kekenyangan dengan segala macam info.

Sebelum bulan puasa berlangsung, aku sempat mencuri-curi beli makan di luar. Belinya di dekat-dekat sini, misalnya soto di selatan kampung. Hanya saja sekarang kalau beli makan dari luar, aku bawa rantang sendiri dan tidak lupa memakai masker. Namun, aku masih sering memasak kok. Cuma ada hari-hari ketika memasak menu sederhana terasa melelahkan–misalnya hanya sekadar bikin orak-arik.

Awal-awal, aku tiap hari melakukan gerakan yoga suryanamaskar. Minimal 25 menit setiap hari, dilanjutkan jalan pagi sambil berjemur. Rajin kan? Tapi sekarang, rebahan di kasur sambil main game atau membuka medsos betul-betul menggoda. Yang terjadi adalah, aku merasa tidak segesit kemarin-kemarin. Dengan aktivitas harian lebih banyak duduk, rebahan tentu bukan perpaduan yang tepat.

Sepertinya lama-kelamaan, tingkat keteganganku menghadapi corona mulai kendur. Yang kukhawatirkan, aku juga makin tidak waspada. Seperti pernah kubaca dalam sebuah buku, menunggu musuh datang saat perang adalah saat yang membosankan. Padahal kalau masa wabah begini, mestinya jangan sampai si musuh datang. Tak ada yang mau sakit. Tetapi aku masih rajin cuci tangan kok. Untung saja kebiasaan cuci tangan ini menempel cukup erat.

Aku lalu bertanya-tanya, apakah aku berubah? Seperti pendapatku yang dulu-dulu, aku pikir manusia itu sulit berubah. Cenderung begitu-begitu saja. Berubah itu tidak enak. Seperti menyuruh anak kecil yang lagi enak-enaknya main game di sofa, lalu disuruh menyapu seluruh rumah. Lho, gak ndelok aku lagi lapo? Sampeyan ae sing nyapu, Rek! Pasti banyak sekali alasan untuk menolak. Dorongan dari luar memang bisa mengubah seseorang, tetapi kesadaran dari dalamlah yang betul-betul menghasilkan perubahan. Perubahan yang timbul dari kesadaran itulah yang biasanya lebih langgeng.

Di satu sisi, timbul sebersit kesadaran bahwa bila aku rutin beryoga, keluhan pada kakiku akan berkurang–yang mana sangat menguntungkan aku. Namun, menggerakkan kaki dan tangan untuk menggelar matras saja kadang diganduli banyak godaan. Rasa-rasanya butuh niat sebesar galaksi untuk mengusir keengganan.

Satu Mei

Ning kepada Tok

Aku sudah lupa apakah hari benar-benar berganti. Apakah minggu berganti bulan sejak adanya pandemi ini. Apakah kita hanya menghitung jam yang hanya jalan di tempat?

Kadang aku tak ingat, apakah sebagai manusia, kita ini menguasai waktu atau waktu yang mengikat kita?

Dan sejak pandemi, kadang waktu memupus harapan.

Tetapi lagu First of May kirimanmu tadi siang membuatku memiliki harapan lagi. Minggu benar-benar telah berganti menjadi bulan.

Terima kasih ya atas lagu First of May-nya The Bee Gees, ya Mas Tok.

 

Tok kepada Ning

Minggu-minggu pandemi sering kali membuatku merasa sepi. Banyak kegiatan yang harus kuhabiskan di dalam ruangan sendiri. Memang sesekali aku meeting lewat internet, bertemu banyak wajah. Tetapi seperti kubilang padamu, Ning, rasanya sepo. Hambar.

Harus kuakui sapaanmu yang nyaris setiap hari, seperti membuka harapan. Ada hatimu yang mencinta, yang memberi rasa pada kehampaan.

Ning yang manis, terima kasih atas pelukan doamu.