Sabun lan Tangga

Durung suwe iki, aku iseng-iseng sinau gawe sabun. Nyenengake tenan. Aku iso nggunaake bahan-bahan sing ono ning cedakku: pandan, lidah buaya, kates, susu, lan liya-liyane.

Aku banjur duwe sabun pirang-pirang. Sakwijining dina, ono tanggaku dolan ning omahku, jenenge Mbak N. Deweke weruh sabun pirang-pirang sing tak tata ning ruang tengah. “Kuwi opo?” pitakone. Aku nuli crita yen aku lagi eksperimen gawe sabun. Deweke gumun lan takon piye critane kok aku iso gawe sabun, saka opo bahanne, lan sak teruse. Aku crita opo anane. Pas deweke bali, aku nyangoni sabun. “Ayo dijajal, sapa ngerti cocok.”

Ora let suwe, tanggaku crita yen deweke cocok gawe sabunku. Aku melu seneng amarga sabun gaweanku cocok kanggo deweke. Mbak N usul, “Mbok jajal ditawakne pas arisan.” Sakjane aku ki isinan. Nanging apa salahe dicoba? Idep-idep latihan dodolan lan promosi. Sapa ngerti payu siji-loro.

Pas dina arisan, aku teka karo nggawa sabun. Aku tawa ning ibu-ibu sing rawuh. Ndilalah pas dina kuwi Mbak N lagi ana keperluan dadi ora isa teka arisan. Nanging ana Bu M sing dadi “lurah”. Lurah-lurahan maksude, ya. Ora ana sing wani nyanggah Bu M kuwi. Kabeh kudu nurut, yen ora nurut isa dijothak saklawase urip. Pas aku nawakne sabunku, jawabe Bu M kaya ngene, “Aku ora tuku wong aku ora sabunan.” Aku mak plenggong… Apa iya to ana wong sing ora sabunan babar blas? Nanging aku banjur kelingan biyen Bu M kuwi tau mbuwak panganan sing tak kei amarga deweke wedi aku nyampuri bahan sing ora halal ning panganan kuwi. Uga deweke wedi aku nganggo peralatan sing ora halal. O… paham aku saiki, deweke mesti khawatir sabun gaweanku ora halal.

Let pirang dina, Mbak N kanda karo aku. “Bu M ra gelem tuku sabunmu, to? Deweke crita karo aku. Deweke wedi yen kowe gawe sabun ora halal soale kowe nonmuslim.”

Dadi wong sing agamane beda ki kadang sok serbasalah. Ning yo ora papa. Saya suwe aku wis biasa ngadepi kaya ngono kuwi. Untunge sing nolak aku mung Bu M.

Malaikat Pamomong dan Sowan “Ibuk”

Ketika masih kecil dulu, aku belum punya jam beker. Aku baru punya jam beker itu ketika SMP. Pemberian. Sepertinya bukan kado ulang tahun atau peristiwa penting. Tapi aku lupa. Yang jelas, jam beker itu masih kupakai sampai sekarang. Pernah rusak sekali, tapi diperbaiki dan bisa berjalan lagi sampai sekarang. Awet ya.  Aku suka sekali dengan jam beker itu.

Ketika belum punya jam beker, sesekali aku mesti bangun pagi-pagi banget kalau aku harus mengikuti suatu kegiatan atau acara. Misalnya, mau berangkat darmawisata dan naik bus pagi-pagi. Malamnya aku biasanya mbanyaki dan takut kalau bangun kesiangan. Ibuk dan Bapak biasanya akan ngayem-ngayemi dan bilang akan membangunkanku. Tapi namanya tukang mbanyaki dan mbingungi, aku tetap cemas. Kalau aku ketinggalan bus gimana? Biasanya Ibuk lalu bilang ke aku begini: “Minta sama malaikat pamomong supaya membangunkan kamu jam 4.” Agak tidak percaya, tapi tetap kulakukan.

Dan berhasil!

Selalu berhasil seingatku. Aku selalu bangun persis atau kira-kira kurang 5 menit dari waktu yang kuminta.

Kemarin aku bertemu teman lama. Ngobrol ngalor ngidul. Panjang kali lebar. Ngobrol sama dia enaknya tidak dihakimi–bahwa aku mesti begini, begitu. Tidak saling mengunggulkan bahwa aku sudah begini, kamu pun mestinya juga sudah mencapai ini dan itu. Sebenarnya aku berangkat menemui dia dalam kondisi tidak fit. Hidung meler dan tenggorokan sudah berteriak-teriak karena hampir radang. Tapi pas mengobrol dengannya, aku seperti mendapat energi cukup positif sehingga bisa duduk beberapa jam untuk saling mendengarkan.

Lalu sampailah kami pada suatu obrolan lama tentang “unfinished business” dengan beberapa orang di masa lalu dan masa sekarang. Salah satu saran darinya mengingatkanku pada pesan ibuku: “Cobalah ajak bicara sang malaikat pelindung—alias malaikat pamomong. Ajak bicara dalam tataran jiwa.”

Haish! Berat amat ya.

Pengalaman dibangunkan pagi-pagi dulu membuatku percaya bahwa malaikat pelindung itu ada dan kita bisa minta tolong kepadanya. Entah bagaimana teorinya, tapi aku mau mencoba. Setidaknya, obrolan kami kemarin mengingatkanku untuk lebih banyak berdoa–hal yang akhir-akhir ini rada mbleret dan mbuh ra karuan.

Jadi, ya… aku mau coba memulai lagi sesuatu yang sudah lama kutinggalkan. Plus mau sowan Ibuk Maria lagi–yang pasti cuma geleng-geleng kepala melihatku yang masih begitu-begitu saja.

Sancta Maria, Mater Dei, ora pro nobis peccatoribus, nunc et in hora mortis nostrae.

 

Hal-Hal yang Berlalu dan Menyambut Perubahan

Waktu berlalu. Aku sering tidak menyadari hal itu. Tiba-tiba saja aku sampai pada suatu masa ketika yang ada di masa lalu sudah tidak ada. Misalnya saja ketika aku mendengar bahwa kerabatku meninggal. Beberapa hari yang lalu aku dikabari bahwa Mbah Jan–saudara kakekku–meninggal. Memang usia Mbah Jan sudah cukup tua, tapi menurutku belum tua-tua amat. Waktu aku ke Ambarawa beberapa bulan lalu, aku masih bertemu dengannya. Sepertinya tidak pernah sakit serius. Tapi kematian kadang tidak butuh sakit serius. Kalau waktunya sudah habis, ya habis. Ibarat ponsel yang baterainya habis sama sekali, biar tombol power-nya dipencet-pencet, tetap tidak bisa menyala.

Selain itu beberapa hari lalu, aku dikabari bahwa Bu Siska, guruku SD, meninggal. Kabarnya karena sakit. Soal Bu Siska ini, aku merasa dia guru yang tegas–kalau tidak mau dikatakan guru yang galak. Mungkin di masa kecil, aku menganggap orang yang bersuara keras itu galak. Tapi kurasa kalau aku tidak merasakan didikannya yang tegas, aku tidak bisa cepat membaca.

Ketika menyadari orang-orang yang pernah punya hubungan denganku itu meninggal, aku selalu terkaget-kaget. Eh, kok mereka bisa meninggal sih? Jujur aku lupa bahwa manusia bisa (sewaktu-waktu) sakit lalu meninggal.

Dalam hidup memang semua bisa berlalu. Bisa habis masanya. Begitulah hidup. Tidak bisa tidak, semua akan berubah. Semua bisa berhenti lalu tiada. Ketika aku tahu bahwa beberapa majalah sudah tidak beredar lagi, aku masih protes. Kenapa dihentikan? Lalu bagaimana kalau generasi adik-adik atau anak-anak kita nanti tidak mengenal dengan majalah dan hanya tahunya gadget melulu? Apa itu tidak mengerikan?

Belakangan kupikir kalau sebuah majalah dihentikan peredarannya lalu (katanya) berubah menjadi bentuk digital, mungkin memang sudah seharusnya begitu. Kapan terakhir aku membeli majalah baru? Rasanya setahun belakangan ini aku tidak membeli majalah baru. Majalah bekas kadang masih beli. Saat mau beli yang baru, aku mikir-mikir. Mahal. Kalau aku saja tidak beli karena alasan mahal, berapa orang yang berpikir begitu? Perubahan majalah menjadi bentuk digital mungkin suatu cara terbaik untuk bertahan hidup zaman sekarang. Arus perubahan dunia sudah menuju ke sana. Mau tidak mau. Siapa yang membuat perubahan itu? Kurasa kita pun ikut andil–sekecil apa pun andilnya. Yang tinggal di dunia ini kan kita-kita juga. Kalau kita berubah, dunia pun berubah.

Hidup selalu berubah. Ada yang selalu berlalu dan hilang. Ada yang habis dan pergi. Aku sering gamang melihat perubahan itu. Aku takut. Aku gelisah melihat hal-hal yang hilang itu. Namun, aku sering lupa, ada hal-hal baru yang akan muncul dari perubahan tersebut. Mungkin saking takutnya, aku lupa cara menyambut kebaruan itu. Mungkin aku perlu belajar menyadari bahwa perubahan tak selamanya menakutkan.

 

catatan: tulisan itu salah satunya terinpirasi oleh tulisan di sini.

 

24 Tahun yang Lalu

Harusnya aku melanjutkan pekerjaan terjemahanku, tapi memajang tulisan di blog rasanya lebih menggoda.

Beberapa hari yang lalu seorang teman memasang foto waktu dia liburan di Grape, di daerah Dungus. Sekitar 15 km dari Madiun. Mendadak aku sengkring-sengkring. Hutan jati dan sungai yang banyak batu besarnya itu mengingatkan aku ketika berkemah di bumi perkemahan Kresek (tak jauh dari Grape–seingatku). Saat itu aku masih SMP kelas 3 kalau tidak salah.

Seingatku, itu adalah kemah terakhir yang kuikuti ketika aku masih remaja. Hawa bumi perkemahan sangat dingin bagiku. Kami tidur di tenda dan alasnya hanya tikar. Kalau disuruh mengulang tidur di tenda, rasanya aku akan pikir-pikir deh. Punggungku sekarang lebih menuntut tempat tidur yang nyaman. Beberapa waktu lalu aku pernah tidur di rumah seorang saudaraku dan hanya beralas karpet, dan pas bangun tidur rasanya kaya digebuki. Aku kapok tidur di bawah tanpa alas yang cukup tebal.

Ketika melihat foto temanku yang sedang berlibur tersebut, aku seketika mulai menghitung berapa lama ya aku tidak pergi ke daerah sana lagi? Jelas sudah lama sekali—tapi jejak kenangan itu masih kuingat dengan sangat jelas.

Aku hanya ingat tanggalnya, yaitu 1 Juli 1993. Berarti hari ini sudah 24 tahun berlalu, ya. Aku masih sengkring-sengkring rasanya.