Bagaimana Membuat Blog?

Jujur saja, aku jarang mendapat pertanyaan seperti ini. Yang justru sering kukatakan adalah, “Kamu bikin blog dong!” Dan biasanya orang yang kukasih saran seperti ini manggut-manggut. Ada yang kemudian langsung membuat blog–walaupun jarang ini terjadi. Ada yang setelah kuberi tahu langkah-langkah untuk membuat blog, orang itu tidak kunjung memunculkan blognya. Hmm, barangkali disetel jadi private? Entahlah.

Tapi kira-kira dua atau tiga minggu yang lalu seorang teman bertanya kepadaku: “Bagaimana sih caranya membuat blog? Pengin deh punya blog yang bagus.”

Menurutku pertanyaan ini sederhana jawabannya: “Just do it!” Maksudku, kalau mau membuat blog, ya buat saja. Bikinnya bisa sekarang, tidak perlu nanti. Menurutku, untuk memiliki blog, caranya semudah membuat akun e-mail. Itu menurutku lo, ya. Karena aku kan pakai blog gratisan. 😀 Jadi, tinggal buka penyedia blog gratis, lalu buat akun di situ. Misalnya dengan membuka akun di wordpress.com atau blogger.com. Sederhana kan? Lebih baik kalau kamu sudah punya persediaan tulisan (dalam bentuk file MS Word atau notepad) dan/atau foto. Begitu sudah punya akun blog, pasang deh tulisan atau foto-foto tersebut.

Barangkali yang agak “menakutkan” untuk orang yang baru hendak membuka akun blog, itu adalah perintah-perintah di dalam blog itu sendiri. Eh, iya begitu nggak sih? Ini sih aku sok tahu saja. Hehe. Mungkin ada yang masih belum mengerti, bagaimana sih caranya agar memiliki blog dengan tampilan ciamik, meling-meling, dan membuat semua orang terpesona? Mungkin ada bertanya soal apa itu header, widget, blogroll, dll … tenang, semua itu ada petunjuknya kok kalau kita sudah membuka akun blog. Kalau masih belum mengerti, silakan bertanya kepada narablog kawakan yang bertebaran di dunia maya ini. Banyak kok narablog yang akan dengan senang hati membagikan ilmunya.

Ya, penampilan blog yang cantik atau ganteng itu tergantung si pemilik. Maksudku, ini sebetulnya tergantung apakah si pemilik pintar mendandani blognya atau tidak. Kalau aku sih barangkali termasuk pemilik blog yang sederhana saja. Masih kurang pinter berdandan. 😀 Aku sendiri lebih menyukai “isi” blog ketimbang “dandanannya.” Kalau blog itu tampak cemerlang, bagiku itu karena tulisannya atau bobot isinya. Soal warna dan gambar yang dipasang, itu kurang penting bagiku. Mungkin karena aku lebih menikmati tulisan ya. Aku pribadi lebih suka blog dengan penampilan sederhana, tapi tulisannya menarik, unik, memberi inspirasi, atau memberi pengetahuan baru. Ibaratnya, tidak apa-apa deh cuma pakai bedak saja, tidak usah pakai eye-shadow atau lipstik, asal inner beauty-nya bisa terlihat. Lagi-lagi, itu kalau menurutku lo ya. Setiap orang pasti punya pendapat masing-masing.

Maka, menurutku … membuat blog itu sederhana saja. Siapkan tulisan dan/atau foto. Buka akun blog. Pasang tulisan dan/atau fotomu di situ. Selanjutnya, yang lebih penting lagi adalah ketelatenanmu dalam merawat blog tersebut, salah satunya adalah dengan rajin memuat tulisan dan/atau foto yang baru. Selain itu penting juga membangun jejaring dengan narablog yang lain dengan berkunjung dan berkomentar pada blog teman yang lain. Kurasa seiring dengan berjalannya waktu kita akan lebih cerdas lagi dalam mengelola blog kita sendiri.

Jadi, bagaimana caranya membuat blog? Buat saja!

*Ini hanya sekadar tulisan ala kadarnya dari pemilik blog yang masih dalam tahap belajar. Kalau kalian mau berguru pada blogger yang lebih jago, sangat disarankan. Pasti kalian akan dapat ilmu yang lebih banyak lagi daripada sekadar tulisan sederhana seperti ini.*

Advertisements

Sepatu Sandal, Sahabatku

Aku lupa sejak kapan aku “alergi” memakai sepatu. Mungkin bukan “alergi”, lebih tepatnya “kurang suka.” Lebih halus kan rasanya? Yah, begitulah bahasa. Pintar-pintarlah menyusun kata apalagi untuk menyampaikan sesuatu yang bisa membuat orang lain tersinggung. *Ngomong untuk diri sendiri.*

Oke, balik lagi ke sepatu. Seingatku sejak aku lulus SMA, aku mulai jarang memakai sepatu. Waktu akan masuk kuliah, sempat aku memesan sepatu kulit di Magetan. Tapi entah mengapa, aku kurang nyaman memakainya. Rasanya kakiku jadi lebih mudah berkeringat. Belum lagi saat memakai sepatu baru, tumitku jadi lecet. Mungkin karena aku tidak memakai kaus kaki, ya. Kurasa sejak itulah aku pun mulai suka menggeser sepatu dan mulai memakai sepatu sandal. Saat membuat tulisan ini aku berusaha mengingat-ingat sepatu sandal seperti apa yang kupakai saat kuliah dulu. Kalau tidak salah mereknya Carvil. Eh, ini bukan iklan lo. Sepatu sandal ini agak berat rasanya. Dan kalau kena hujan, agak merepotkan karena bagian alasnya yang berlapis kulit (?) seperti menyerap air dan bau! Payah, deh. Terus terang aku tidak ingat bagaimana menyiasati sepatu sandal yang basah itu. Mungkin kujemur? Atau mungkin aku memakai sepatu sandal yang lain? Lupa.

Ketika aku bekerja kantoran, aku pun memakai sepatu sandal. Seingatku aku tidak pernah memiliki sepatu, kecuali sepatu kets–yang jarang kupakai. Entah mengapa, aku kurang suka belanja alas kaki. Dan sungguh, aku malas sekali ketika harus berburu sepatu sandal baru karena yang lama sudah rusak. Biasanya aku belanjanya di toko yang itu-itu saja. Seingatku aku biasa beli sepatu sandal di sebuah toko di Jalan Solo, Jogja. Aku sendiri lupa nama tokonya. Karena alasan itu, saat aku ngantor dulu, aku menyimpan di bawah meja kerja sepatu sandalku yang khusus kupakai di kantor. Pikirku, kalau terlalu sering dipakai jalan, akan cepat rusak. Kalau hanya dipakai di seputar kantor, kan lebih awet. Rasanya sepatu sandalku memang cukup awet.

Ketika aku pindah ke Jakarta, aku sempat membawa sepatu sandal yang dulu kupakai di kantor. Tapi karena di sini aku lebih banyak jalan kaki, sepatu sandalku yang khas untuk wanita itu terasa kurang nyaman di kaki. Menurutku sepatu sandal khusus untuk wanita itu kurang cocok untuk berjalan-jalan dan naik turun kendaraan umum. Meskipun haknya cukup pendek–mungkin sekitar 3 sentimeter–aku merasa cepat capek kalau pakai sepatu sandal tersebut. Jadi, akhirnya aku hanya memakainya saat ke gereja. Selebihnya aku lebih nyaman pakai sandal jepit. 😀 Parah ya?

Suatu kali aku merasa sudah saatnya aku memiliki sepatu untuk jalan-jalan di Jakarta. Maksudku, aku perlu sepatu yang memang nyaman untuk jalan kaki dan naik kendaraan umum. Kalau bisa yang awet walaupun kena hujan dan panas. *Haiyah, kaya mau jalan keliling Jakarta tiap hari saja.* Saat itu, aku membeli sepatu kain. Enak sih dipakai. Masalah timbul saat hujan turun. Sepatu kain itu seketika menyerap air dan dia mendadak jadi kapal pesiar. Selain itu, belum terlalu lama kupakai, bagian bawah sepatu itu sudah aus.

Akhirnya, ketika pulang ke Jogja, aku kembali mencari sepatu sandal yang pas untukku. Bayangkan, untuk cari sepatu sandal saja aku sampai menunggu pulang ke Jogja. Hebat bener kan? Hehe. Kaya di Jakarta kurang toko sepatu saja. Dan setelah putar-putar, aku menemukan sebuah sepatu sandal. Aku sendiri agak kurang yakin, sandal itu bisa disebut sepatu sandal atau tidak, ya? Orang bilang ini sandal gunung. Tapi aku tidak memakainya untuk jalan-jalan di gunung, tapi di kota. Sesekali saja kuajak dia ke Gunung Agung, Gunung Sahari, atau Gunung Ketur. *Ngelantur.*

IMG_2796
sepatu sandalku selama di Jakarta

Sepatu sandal ini sudah menemaniku kira-kira 3-4 tahun. Lupa persisnya. Memang dari penampilan sepatu sandal ini tidak terlihat cantik. Tapi aku paling suka dengannya. Rasanya nyaman di kaki. Pas. Yang agak masalah hanya saat kena hujan, talinya lama keringnya. Karena itu, saat hari hujan, aku menyimpannya di dalam rumah. Dan kalau terpaksa keluar, aku ganti dengan sepatu sandal lain dari karet yang lebih tahan dengan air. Tapi bagaimanapun, aku paling cocok dengan sepatu sandal itu. Mungkin jika sepatu sandal ini rusak, aku akan mencari yang serupa dengannya. 😀

Ketika Bawang Melambung

Terakhir aku beli bawang kira-kira tiga minggu yang lalu. Waktu itu, sepulang misa hari Minggu aku mampir ke Pasar Rawamangun. Sebetulnya aku cukup suka berbelanja di Pasar Rawamangun karena sayuran di sana bagus-bagus … tapi kesanku lebih mahal dibanding pasar pagi di dekat rumah. Lagi pula, kalau ke Pasar Rawamangun aku mesti naik angkot. Jadi, kalau ke sana biasanya sekalian pulang dari gereja. Oke, balik lagi ke bawang ya. Karena aku ingat persediaan bawang di rumah tinggal sedikit, aku memutuskan untuk membeli bumbu dapur tersebut. “Bawang seperempat, Pak,” kataku kepada penjual bumbu dapur. Dengan cekatan si penjual menimbangnya. “Berapa?” tanyaku kemudian. “Sembilan ribu,” jawabnya. Wuih … mahal amat sih pikirku. Tapi aku bukan orang suka menawar saat di pasar tradisional. Dalam hati sih membatin jika harga bawang di pasar ini lebih mahal. Aku tidak belanja banyak. Hanya beli bawang merah dan tahu.

Beberapa hari kemudian aku membaca berita tentang harga bawang yang melambung. Seketika aku langsung menyesal mengapa tidak beli bawang agak banyak waktu itu. Rasanya aku terlalu cepat menuduh si bapak penjual bumbu itu memberi harga lebih tinggi. Tapi ya sudahlah. Aku menghibur diri dengan mengatakan kepada diriku sendiri bahwa harga bawang sebentar lagi akan turun. Lagi pula Pak SBY katanya mau jualan nasi goreng kan? Kalau harga bawang tidak segera turun, bisa batal dong jualannya. 😀 😀

Tadi pagi, aku ke pasar pagi dekat rumah. Ketika ke penjual bumbu dapur langgananku, aku bertanya, “Bawang putih sekarang berapa, Mbak?”
“Tiga belas ribu, seperempat kilo. Ini sudah turun. Kapan hari sempat lima belas ribu.” Wih, ternyata harga bawang baru turun dua ribu rupiah, Saudara-saudara. Mungkin aku perlu memutar otak untuk menghemat bumbu dapur–bawang merah dan bawang putih. Salah satu caranya adalah dengan… tidak sering-sering memasak. Hahaha. Itu sih males saja deh kayaknya.

Bawang putih dan bawang merah memang dua bumbu yang sepertinya agak sulit dipisahkan dari menu masakan kita. Tapi di saat harga mereka melambung begini, mungkin kita perlu sedikit kreatif mencari menu yang tidak memakai bawang putih dan bawang merah. Dan … aku menemukan salah satu menu itu. Mau tahu apa? Bukan telor ceplok, kok. 🙂 Menu itu tak lain adalah Bubur Menado (tinutuan). Aku suka membuat bubur ini karena selain mudah, ada beberapa bumbu yang bisa kuambil dari halaman, yaitu sereh dan daun kunyit. Aku paling suka sereh yang masih segar, yang baru diambil.

IMG_4474
sereh dan daun kunyit tinggal memetik dari halaman.

Membuat bubur tinutuan ini cukup mudah. Percaya deh sama aku. Aku ini masih pemula kok kalau masak-memasak. Jadi, kalau kubilang mudah, aku yakin kalian bisa membuatnya juga. Bahan-bahannya sederhana saja:
-Jagung manis (2 bonggol), disisir. Bonggolnya dipotong jadi dua atau tiga. (Nanti bonggol ini dimasukkan ke dalam bubur selama proses memasak. Kata temanku, bonggol ini menambah rasa. Aku sendiri kurang paham benar atau tidaknya. Tapi karena dia lebih sering memasak tinutuan, aku percaya saja. 😀

-Ubi jalar kuning kira-kira 2 biji. Kalau kecil-kecil boleh 3 biji. Kupas, potong kotak-kotak, 2×2 cm.

-Kimpul 2-3 biji. (Ini sejenis talas, tapi lebih kecil.) Kupas, potong kotak-kotak seperti ubi jalar.

-Labu kuning. Biasanya di pasar dijualnya dalam bentuk potongan sepersekian dari labu yang utuh. Biasanya aku beli 1 potong saja. Tapi kalau tidak ada, tidak pakai juga tidak apa-apa. Kupas kulitnya, potong kotak-kotak.

-Kangkung 1 ikat. Siangi.

-Bayam 1 ikat. Siangi.

-Kemangi 1 ikat. Siangi.

-Daun kunyit 1 lembar. Potong jadi empat.

-Sereh 3-4 batang. Digeprek.

-Garam secukupnya.

-Beras 1 atau 1,5 cup. (Cup-nya aku pakai cup bawaan dari rice cooker.) Cuci bersih.

-Air kira-kira 2-3 kali tinggi beras setelah dimasukkan ke panci. (Maap kemarin lupa menakar, tapi jangan terlalu banyak, dan jangan terlalu sedikit. Kalau dari tinggi panci, kira-kira 1/3-nya.)

Cara memasak:
-Rebus beras bersama air sampai kira-kira setengah matang.
-Masukkan kimpul, ubi jalar, labu kuning, jagung pipilan, dan bonggol jangung. Plus daun kunyit dan sereh. Masukkan juga garam. Tidak usah banyak-banyak. Kira-kira 1 sendok teh saja, biar gurih. Oiya, ini dimasak dengan api kecil. Kalau apinya kegedean, bisa gosong. 🙂
-Setelah ubi jalar dan kimpul empuk dan bubur sudah hampir matang, masukkan segala macam sayur: kangkung, bayam, kemangi. Aduk-aduk sebentar sampai cukup layu sayurannya. Selesai deh.
-Nikmati bubur ini selagi hangat dengan sambal roa. Kalau kalian tidak punya sambal roa, bubur ini bisa dimakan dengan teri medan yang digoreng garing atau ikan asin.

Gampang kan? 🙂

IMG_4468
Bubur tinutuan siap disantap.

Semoga harga bawang segera turun.