Bubur Ayam dan Bonus Cerita Seorang Nenek

Sudah sejak bulan puasa lalu aku “puasa” makan bubur ayam. Aku cukup suka bubur, dan kadang-kadang beli bubur di abang penjual bubur yang tiap pagi lewat depan rumah. Tetapi bulan puasa lalu, abang penjual bubur ini ikut libur. Mungkin ia berpikir tak akan ada yang membeli buburnya karena banyak orang puasa. Padahal, aku sebenarnya masih mau beli buburnya untuk sarapan.๐Ÿ™‚

Selain abang penjual bubur yang lewat depan rumah, tak terlalu jauh dari rumahku, di jalan Tenggiri, ada kedai bubur. Di bagian depan tertulis bubur ceker. Awalnya aku tertarik karena ada embel-embel “ceker” tersebut. Tetapi belakangan aku justru lebih memilih bubur telor. Jadi, di bubur ini diceploki telor ayam kampung yang masih mentah. Lalu telor yang masih mentah itu “dikubur” dengan bubur yang masih panas. Dengan begitu telor itu menjadi setengah matang. Karena aku suka telor setengah matang, aku belakangan lebih memilih bubur telor daripada bubur ceker. Kurasa tidak semua orang suka bubur telor semacam itu. Sebagian orang yang kutemui mengatakan tidak suka. Amis katanya. Dan memang harganya lebih mahal daripada bubur gerobakan yang dijual oleh abang-abang. Yah, selera orang memang beda-beda ya. Aku dari kecil memang suka telor setengah matang. Bahkan waktu kecil, waktu sakit aku diminta makan telor ayam kampung yang masih mentah. Dan, doyan-doyan saja tuh. Dan puji Tuhan, selama ini tidak mengalami efek yang tidak mengenakkan setelah makan telor mentah atau setengah matang. Memang aku tidak sering memakannya. Belum tentu juga sebulan makan satu telor setengah matang. Bahkan belum tentu juga dalam seminggu makan telor. Loh, kok malah membahas telor sih? Hehehe.

Jadi, sudah beberapa hari ini aku pengin makan bubur ayam. Tapi aku bukan orang yang langsung menuruti keinginan yang muncul begitu saja. Walaupun tiap pagi mendengar abang bubur memukul-mukul mangkuknya, aku tetap bergeming. “Ah, besok saja deh makan buburnya,” begitu pikirku selalu.

Pagi tadi aku sengaja ikut jalan suamiku. Tiap pagi dia mesti keluar gang lalu menunggu angkot yang akan membawanya ke terminal, tempat ia biasa naik bus patas ke kantor. Aku lalu ikut dia sampai di ujung jalan tempat biasa menunggu angkot. Tapi aku tidak ikut naik angkot, aku lanjut jalan pagi di seputar jalan Tawes. Katanya jalan kaki itu olahraga yang bagus, kan? Siapa tahu jadi agak kurusan hehe. Tapi sebelum berangkat, suamiku memberiku uang untuk beli bubur. Hehehe. Baik kan dia?๐Ÿ˜€ Dan kali ini aku beli bubur telor di jalan Tenggiri.

Waktu sampai di kedai bubur itu, si mbak yang biasa melayani pembeli tidak ada. Tak pembeli yang lain pula. Walaupun aku sudah bilang “Permisi…” beberapa kali ke arah dalam (di situ tak ada bel), tak ada tanda-tanda orang yang muncul. Aku duduk sebentar, berharap si mbak muncul. Karena tak muncul juga, aku memberanikan diri masuk ke dalam. Kulihat ada nenek sang pemilik rumah. “Oh, sebentar ya!” katanya ramah. “Maaf tidak dengar. Dan saya sedang sakit kaki nih,” katanya.

Aku pun menunggu lagi. Tak lama si mbak mengangsurkan bubur telor kepadaku. Saat aku hampir selesai makan, sang nenek datang dan duduk di sebelahku. Dia lalu cerita sudah beberapa hari kakinya sakit. “Pegel banget,” ujarnya. Aku tanya, apakah ia habis jatuh. Dia mengatakan tidak. “Barangkali karena umur,” jawabnya sambil terkekeh. Nenek ini berbadan kecil dan berkulit kuning langsat. Wajahnya masih menunjukkan kecantikan di masa muda. “Entah kenapa kaki saya tiba-tiba sakit. Umur saya sudah 70 tahun, jadi barangkali wajar kalau sakit. Tetapi Kakek itu umurnya sudah 74 tahun; dia tidak pernah sakit. Tidak pernah ada keluhan apa-apa,” ujarnya.

“Memang Kakek itu makannya sehat,” tambahnya. “Tiap pagi makan havermot dan minum susu. Masih olahraga. Dan sampai sekarang masih diperbantukan di kantornya. Naik mobil juga kadang tak mau pakai sopir; nyetir sendiri,” demikian cerita nenek itu. Ada nada bangga terhadap suaminya. “Dia juga mengurangi makan daging. Kalau ikan, dia suka.”

Aku lalu teringat pada kata-kata pakdeku yang sudah seusia nenek itu. Pakde mengatakan bahwa di usia tua, akan terlihat bagaimana seseorang menjaga kesehatannya di masa muda. Kalau mendengar cerita sang nenek tentang suaminya, memang terlihat bahwa sang kakek menjaga kesehatan. Ia menjaga makanan dan juga masih berolahraga.

Melihat atau mendengar kabar bahwa orang yang sudah tua tetap sehat adalah hal yang menyenangkan bagiku. Sekarang tak jarang kudengar orang yang masih muda pun sakit macam-macam. Ada yang sudah kadar kolesterolnya tinggi, darah tinggi atau kadang darah rendah, atau berbagai keluhan kesehatan lainnya.

Kalau dari cerita nenek tadi tentang suaminya, aku memetik dua hal yang perlu diperhatikan dalam menjaga kesehatan. Yang pertama memperhatikan kualitas makanan yang kita konsumsi, dan yang kedua adalah olahraga. Wah, rasanya dua hal ini pun perlu kucermati dari sekarang. Untuk soal makan, kadang aku masih abai dalam memperhatikan gizinya. Aku sering tergoda untuk mementingkan segi rasa, gizi nomor dua. Yang penting enak. Padahal belum tentu yang enak itu memberi manfaat ke tubuh. Dan memang belum tentu juga sih makanan sehat itu tidak enak. Asal bisa mengolahnya, kurasa enak ya. Aku juga kadang masih malas olahraga. Tapi setidaknya dalam minggu ini aku sudah jalan kaki selama hampir 30 menit sebanyak dua kali lo!๐Ÿ˜€ Untung di sini aku masih bisa jalan-jalan di tempat yang tidak banyak polusinya. Dan semoga acara jalan kaki ini tidak berhenti sampai minggu ini saja, ya.

Kalau kamu, apa yang sudah kamu lakukan untuk menjaga kesehatan? Lebih baik menjaga kesehatan kan daripada membayar mahal untuk ke dokter?๐Ÿ˜‰

18 thoughts on “Bubur Ayam dan Bonus Cerita Seorang Nenek

  1. Di sini dokter gratis hehehe tapi sehat tetap paling menyenangkan๐Ÿ™‚
    Aku jalan kaki dari rumah menuju stasiun dan sebaliknya setiap pagi dan sore, ketika pergi dan pulang dari kantor.

    Ada sih bis menuju ke kantor langsung dari depan rumah, tapi ‘demi’ jalan kaki yang sekitar 4 kilometer ditotal dalam sehari, aku memilih naik kereta.

    Orang2 di sini lebih memilih menggunakan transportasi umum dengan alasan yang klasik dan sama: ingin jalan kaki.

    Bayangkan kalau orang Jakarta berpikir sepertiku, kamu dan seperti orang2 di sini yang enggan memakai mobil pribadinya, barangkali kemacetan bukan milik generasi ini๐Ÿ™‚

    Don, sehat memang menyenangkan.๐Ÿ™‚
    Memang jalan kaki itu olahraga paling sederhana. Sayangnya di Jakarta dan juga kota2 lain di Indonesia, masih sedikit trotoar yang benar-benar nyaman. Seandainya semua jalan di Jakarta ini trotoarnya nyaman, kurasa banyak juga yg mau jalan kaki ketimbang naik angkot.๐Ÿ™‚

  2. Disamping kualitas makanan dan olahraga, juga kualitas udara mbak.๐Ÿ™‚
    Kalo kualitas udara yang dihirup selagi muda bagus, tentu akan lebih sehat di masa tua (tentunya dalam keadaan yang sama, yaitu makanan terjaga dan olahraga).
    Btw, salam kenal ya.๐Ÿ™‚

    Betul, udara yg bersih sangat berpengaruh. Kalau udaranya kotor, banyak polusi, mudah batuk-batuk juga. Dan tentu asupan oksigen untuk tubuh jadi berkurang.

  3. Hahaha…untuk aku..selain mulai memperhatikan asupan makanan, aku mulai memaksa diriku untuk naik tangga semampuku. Jika sudah lelah, baru aku menggunakan lift.

    Dulu pernah aku diajak temanku naik tangga sampai lantai 7. Biyuh! Ngos-ngosan aku. Rasanya aku mentok cuma sampai lantai 5 deh. Tapi yg hebat, temanku itu naik tangga santai banget, dan nggak tampak ngos2an. Hehehe.

  4. sebetulnya seiring dengan bertambah tua, (entah aku saja kali ya) semakin tidak suka makan daging, atau makanan yang berminyak loh. Dari dulu aku tidak begitu makan udang, apalagi jerohan hehehe. Sesekali saja. Semoga deh masih terus sehat sampai tua

    Soal jalan? Ya kalau di sini sih memang harus jalan atau naik sepeda.

    EM

    aku juga sekarang jarang sekali makan daging. belum tentu sebulan sekali mengonsumsi daging. makanan yang berminyak juga kuhindari karena aku mudah sakit tenggorokan. rasanya sudah bertahun-tahun aku nggak makan gorengan di pinggir jalan. senang ya mbak bisa naik sepeda. aku sebenarnya juga suka naik sepeda. tapi kalau di jakarta, aku masih kurang punya nyali untuk naik sepeda hehehe.

  5. Sayangnya jalan kaki pagi menjadi berbahaya kalau lewat jalan besar, karena salah-salah bisa ditubruk sepeda motor :((

    Bubur ayam? Kalau begitu kapan-kapan bisa ketemuan di American Grill Menik….
    Baca ceritamu jadi pengin mencoba bubur ayam nenek tadi.

    bu, saya kalau jalan2 pilih lewat jalan kecil. untung di dekat tinggal saya masih ada jalan2 seperti itu. masih agak sepi dan masih cukup hijau. tapi memang harus hati-hati ya. wah american grill itu tempat makan favorit saya bu!๐Ÿ˜€ bisa makan salad banyak dan buburnya juga enak. jadi, kapan kita kopdar sambil makan bubur?๐Ÿ˜‰

    • Ntar ya Menik…ini waktu penantian bagiku ..masih deg2an..jadi ngulon apa tidak? Kalau ya, berarti waktu saya akan tersita sampai tanggal 12 Nopember…..ditambah sebelumnya mesti merapihkan kerjaan yang tertunda selama Lebaran (bikin bahan ajar, buat soal pre test dan post test…juga belanja untuk keperluan ngulon baru selesai sebagian….dan yang utama, masih punya hutang 2 kegiatan lagi).

      Pertengahan Nopember kali ya…ntar kita ajak Yoga dan lainnya yang mau.

  6. saya suka jalan kaki ke mana-mana mbak. lebih sehat buat badan dan juga buat kantong. dan gara-gara baca ini jadi ingin bubur telur ayam kampung tadi๐Ÿ˜€

    kalau di jakarta, untuk jarak dekat aku juga kadang jalan kaki. kalau acara jalan kaki di pagi hari ini, memang sedikit memaksa diri untuk olahraga. yuk kapan2 kopdar sambil makan bubur๐Ÿ˜€

  7. iya harus selalu jaga makan dan olahraga ya biar terus sehat.. karena kesehatan itu mahal harganya!

    betul! itu adalah hal sederhana untuk menjaga kesehatan. tapi banyak godaan untuk mengabaikannya๐Ÿ˜€

  8. Untuk menjaga kesehatan? Saya lari pagi dua hari sekali, dan di antara dua hari itu saya melakukan skipping (lompat tali).๐Ÿ™‚
    Juga, saya menjaga pola makan saya, menjaga makanan yg masuk ke dalam tubuh. Saya amat mengurangi makanan yg digoreng, dan cenderung memilih kukus, rebus, atau bakar.๐Ÿ™‚

    wah sehat betul pasti ya๐Ÿ™‚ aku nggak kuat lari, jadi ya jalan kaki saja. aku juga lebih suka mengukus makanan. karena itu minyak goreng di rumahku awet banget. hehe. sekarang aku hampir nggak pernah menggoreng tempe/tahu. lebih suka tempe/tahu kukus.

  9. jalan tawes? jalan tenggiri?
    kok seperti nama2 jalan di dekat sini?
    apakah lokasinya ada di utara jakarta? I doubt it! *lho?*

    saya banget tuh mba, usia belum uzur tapi entah penyakit apa aja๐Ÿ˜€
    padahal ga suka daging
    tapi doyan bubur banget yang biasanya enak klo pake jeroan kan?hhehehe

    ini settingnya di seputaran rawamangun.๐Ÿ™‚ di jakarta utara pakai nama2 ikan juga ya jalannya? bubur dengan jeroan aku juga suka, tapi jarang banget makan. yg agak sering ya bubur telor itu.

  10. dulu ada bubur telor ngetop banget di cikini
    jualannya malam doang, yang beli pada makan dalam mobil sampai antri
    sekali itu aja aku coba makan ….. nggak doyan telor soalnya…

  11. Wahahaha, baca komentar Om Donny, jadi malu. Dia tibake mlaku 4 km berangkat dan pulang kerja…

    Balik soal makanan untuk kesehatan di hari tua, saya terkadang juga merasa menyesal sehabis melahap banyak makanan tak sehat. Tapi ya, merasa menyesalnya itu kok sehabis makan ya, Mbak? Nggak rela rasanya kalo menyisakan makanan lezat. Hahahaha….

  12. saya memang sangat menjaga makanan yang masuk mbak….maklum udah mulai banyak pantangan. Apalagi seperti saat ini, pantangan makannya adalah di tempat yang Mahal…. hahahaha …piss

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s