Cerita Lebaran 2018

Seperti biasanya, Idulfitri kulalui dengan di rumah saja. Maksudnya, aku tidak ke luar kota. Membayangkan penuhnya kendaraan umum membuatku enggan untuk mudik. Hanya berkunjung ke tetangga kiri-kanan. Kebiasaan ini rasanya tidak bisa ditinggalkan ya. Walau tidak merayakan Idulfitri, aku dan keluargaku tetap ikut “ujung-ujung” ke tetangga. Yang dekat-dekat saja, terutama yang sudah sepuh. Selain itu aku ke rumah Maya (iparku) di Ngasem untuk bertemu Budhe dan Tante yang berlebaran.

Saat lebaran, suguhan yang paling ditunggu-tunggu biasanya adalah tape ketan. Tapi kali ini tape ketan kurang terasa gregetnya karena tape buatanku ternyata lebih enak. Hahaha. Aku mencicipi tape di dua rumah tetanggaku, dan agak kecewa. Tape itu kurasa belum terlalu lama diperam. Teksturnya kurang lembut dan kurang berasa alkoholnya.

Lebaran kali ini keluargaku mendapat opor, krecek, kering tempe, lontong, dan ketupat. Semuanya itu dari tetangga dan Budhe. Jadi, aku tidak perlu memasak setidaknya selama 1 hari. Padahal aku sudah menyetok sayuran, takut nanti pas lebaran tidak ada yang jual makanan dan sayuran segar. Sebelum lebaran hari H aku sudah bertanya ke penjual makanan yang biasa kudatangi. Ada yang sebagian sudah buka pada H+2. Kulihat rata-rata penjual bakso sudah buka juga. Jadi, sebetulnya cukup aman jika aku tidak masak pun.

Opor dan teman-temannya itu menghiasi meja makan di rumah sampai 2 hari. Setelah itu, mulut dan perut rasanya kangen sayuran. Untungnya di kebun belakang bisa memetik kecombrang dan sayur pepaya papua (entah apa nama latinnya, yang jelas ini sayur andalan kalau lagi malas pergi beli sayur di pasar/warung). Tinggal beli toge, wortel, dan tempe. Sambel pecel masih ada di kulkas.

Nah, bagaimana lalu lintas Yogya selama lebaran? Saat H-1, jalanan agak lengang. Hari itu aku pergi ke rumah temanku di dekat Plengkung Wijilan. Aku tidak mengalami kemacetan yang berarti. Malah rasanya agak lengang. Ini di daerah kota ya. Tapi menurut laporan temanku yang lain, ring road lumayan macet. Mungkin jalanan mulai dipenuhi oleh para pemudik dari luar kota.

Waktu lebaran hari pertama, jalanan benar-benar sepiii. Seneng deh. Jadi, aku ke Ngasem cukup cepat. Nggak ada macet-macetnya sama sekali.

Lebaran hari kedua, aku nggak pergi-pergi. Lebaran hari ke-3, malamnya aku pergi nonton Ketoprak Conthong yang judulnya Sang Presiden di Societet. Jalanan maceeet. Beneran aku takjub melihat Yogya bisa semacet itu. Untungnya aku naik motor, jadi bisa mlipir lewat gang dan jalan kampung. Bahkan sampai pukul 11 malam pun jalanan di tengah kota masih ramai. Mobil-mobil luar kota memenuhi jalanan. Dalam hati aku bertanya-tanya, “Kalau semacet ini, apanya yang mau dinikmati?” Dan sayangnya kendaraan umum di Yogya ini buruk. Amat sedikit. Jadi, tidak heran kalau jalanan penuh mobil pribadi.

Ah, kalau aku sih… libur lebaran paling enak sebetulnya di rumah saja. Hasilnya? Ada terjemahan yang selesai dan beberapa potong sabun. Hehe. Bagaimana cerita lebaranmu?

Saatnya Penerbit Turun Gunung

Entah sudah berapa kali aku mendengar pembicaraan soal menurunnya penjualan buku dan majalah. Oplah menurun. Majalah banyak yang tutup. Ada yang bilang sekarang adalah zaman senjakala bagi penerbit. Kadang ikut deg-degan ketika mendengar kabar seperti itu.

Beberapa kali aku berpikir bahwa penerbit mungkin ada baiknya “turun gunung” menyapa langsung para pembacanya. Bukan sekadar lewat toko buku. Bukan hanya waktu ada acara peluncuran buku. Tapi benar-benar datang dan mengajak sebanyak mungkin orang untuk membaca.

Apa itu membaca? Menurutku membaca itu tidak hanya soal mengeja. Membaca itu menangkap makna. Jadi, kalau ada tulisan: Tini makan singkong, perlu juga dilihat konteksnya. Singkong dimakan Tini sebagai kudapan? Sebagai makanan sehari-hari? Sebagai ganjal perut setelah dua hari tidak makan?

Balik lagi ke soal penerbit yang mengajak orang untuk membaca. Kadang kupikir penjualan buku menurun, minimnya minat baca, itu juga karena penerbit kurang turun gunung. (Habis gini ditoyor editor.) Sebenarnya buku bagus itu banyak. Yang ingin membaca kurasa juga banyak. Tapi kenapa buku-buku itu seperti tidak sampai ke (calon) pembaca yang haus bacaan? Ini semacam cinta tak sampai. Ngenes kan? Bikin buku yang bagus itu tidak mudah, biayanya pun tidak sedikit. Tapi begitu terbit, penjualannya kadang (atau sering?) mak plekenyiiik… Puk puk editor. Apalagi katanya minat baca masyarakat rendah. Jadi, bisnis buku itu kesannya suram.

Namun, kalau kita peduli soal gizi untuk tubuh, mestinya kita peduli pula soal “gizi” untuk otak. Hei, kamu tahu nggak kalau otak itu organ terpenting di tubuh kita? Kalau otak kita hanya dijejali ide-ide sampah, hidupmu bakal suram. Makanan untuk otak salah satunya adalah buku yang bagus. Buku yang menginspirasi. Buku yang menambah wawasan. Lalu, kalau daya serap buku di masyarakat makin berkurang, bukan tidak mungkin ini tanda-tanda kemunduran peradaban. Jadi, balik lagi ke tadi… membaca buku itu penting.

Belakangan aku berpikir bahwa penerbit itu ada baiknya membuat semacam gerakan meningkatkan minat baca. Ternyata, apa yang selama ini kupikirkan, dilakukan oleh Penerbit Kanisius. Dalam rangka ulang tahunnya yang ke-95, Kanisius membuat gerakan untuk mengajak masyarakat membaca, yaitu dengan membentuk Sahabat Literasi. Salah satu kegiatannya adalah dengan turun ke Malioboro, lalu mengajak orang-orang yang saat itu ada sana untuk membaca. Selain di Malioboro, gerakan ini juga dilakukan di kereta Prameks Jogja-Solo, di bus TransJogja, di sekolah Mangunan. Menurutku ini suatu gerakan yang unik. Kuharap hal ini dilakukan secara berkesinambungan. Dan semoga diikuti oleh para penerbit lain.

Nderek mangayubagyo, Kanisius. Teruslah menerbitkan buku-buku bermutu.

Tempat Ngopi Paling Enak?

Belum lama ini aku ditanya oleh seorang teman, “Di mana tempat ngopi paling enak?”

Aku menggeleng. Terus terang aku sudah lama tidak ngopi di luar.

Dulu, aku bisa dengan cepat menjawab bahwa Klinik Kopi adalah tempat ngopi yang asyik. Tapi itu dulu. Dulu, ketika Klinik Kopi menempati PSL Sanata Dharma di belakang Toga Mas. Tempatnya asyik, lapang, di antara pohon-pohon jati. Menurutku ini semacam oase di tengah Jogja yang semakin sumpek oleh hotel-hotel dan macet. Sekarang setelah Klinik Kopi menempati tempat yang baru, aku malah jarang ke sana. Padahal lebih dekat rumah.

Akhir bulan lalu, ada teman yang mengajakku ke Klinik Kopi. Jika tidak mengingat teman-teman ini tinggal di luar Jogja, aku rasa aku akan menolak ajakan mereka. Setelah AADC memang Klinik Kopi makin banyak dikenal. Banyak orang ingin mencoba mencicipi kopi di sana. Namun, aku teringat kunjungan terakhirku ke sana. Waktu itu aku merasa Klinik Kopi tidak seperti dulu. Terlalu ramai. Sentuhan personalnya semakin jauh berkurang.

Tapi baiklah… aku coba ke sana lagi. Aku tiba di Klinik Kopi pukul 15.30, setengah jam lebih awal dari jam bukanya. Kupikir aku akan dapat urutan pertama. Ternyata sudah ada orang yang datang lebih dulu. Beberapa waktu kemudian, orang-orang mulai berdatangan–sementara Klinik Kopi belum buka. Klinik baru buka pukul 16.00. Dari pengalamanku, sebaiknya datang awal ke Klinik Kopi. Soalnya antrinya banyaaaak. Malesin dah.

Menjelang pukul 16.00, gembok pagar Klinik Kopi mulai dibuka. Sesuai urutan, aku dapat antrian nomor 2. Waktu kami dilayani, kami masuk berempat termasuk satu anak temanku. Orang-orang makin banyak yang datang. Mas Pepeng masih mengenaliku. Tapi dari caranya melayani kami, aku merasa seolah tergesa-gesa. Iya, iya yang datang sudah banyak. Yang butuh diladeni banyak. Wajar kalau cepat. Tapi dulu Klinik Kopi tidak seperti itu.

Dulu di Klinik Kopi orang bisa saling mengenal. Dari yang semula tidak kenal sama sekali, karena kopi kami jadi bisa saling berbincang. Tapi sekarang suasana itu tak kurasakan lagi.

Klinik Kopi makin berkembang, makin dikenal. Aku ikut senang menyaksikannya. Tetapi secara pribadi aku berkata pada diriku sendiri, aku tidak akan ke sana lagi. Mungkin kalau ada teman yang minta diantar, aku masih mau mengantar. Tapi hanya sebatas mengantar. Tidak ngopi di sana lagi.

Kangen Angkot

Tahukah kamu, Jogja itu kalau siang puanasnya muinta ampyun. Kulit seperti ditusuk-tusuk saking panasnya. Dan jangan dikira Jogja tidak ketularan macet. Aku berusaha keras menghindari Gejayan pada siang hari. Itu neraka, Sodara-sodara! Sudah panasnya menyengat, macet pula. Halahiyuuung!

Hal seperti itu yang membuatku rindu naik angkot. Naik angkot itu kan tinggal naik, bayar.

Memangnya di Jogja tidak ada angkot?

Ada. Tapi menurutku kondisinya menyedihkan. Rasanya angkot di Jogja zaman aku kuliah (sekitar tahun ’96) masih lebih mendingan dibanding sekarang. Dulu angkot-angkot kecil masih ada yang cukup banyak melintas. Sekarang? Seingatku aku melihat angkot kuning kecil terakhir di daerah Minomartani. Aku hampir yakin mobil angkot itu usianya sudah 20-an tahun. Tua, nggrik-nggriken, melas deh tampangnya. Perasaanku ketika melihat angkot itu seperti melihat simbah-simbah yang bungkuk, berkeriput, jalannya terseok, tapi masih menggendong tenggok isi sayuran. Iba, melas. Kasihan, deh.

Warga Jogja memang kebanyakan mengandalkan sepeda motor untuk bepergian. Sekarang sepertinya populasi mobil semakin banyak seiring bertambahnya pendatang (ini hanya pengamatan sekilas ya, enggak pakai riset). Jadi, tidak heran kalau semakin hari Jogja semakin mangcet.

Ya, ya… aku merindukan angkot—terutama ketika hari hujan dan aku harus keluar rumah; atau ketika hari panas banget dan aku mesti pergi ke suatu tempat. Dulu ketika tinggal di Jakarta, ke mana-mana aku naik angkot. Plus jalan kaki kalau jaraknya nanggung (maksudnya kalau naik angkot kemahalan, tapi kalau jalan, ya capek juga). Naik angkot itu terasa enak kalau pas aku capek. Tinggal melambaikan tangan pada angkot yang lewat, lalu naik.

Angkot memang sering dibilang terlalu mahal, jika dibandingkan ongkos bensin sepeda  motor. Memang sih, mungkin aku akan tetap lebih sering naik sepeda motor walau di Jogja ada angkot. Tapi kalau ada angkot, setidaknya ada alternatif kendaraan lain.

Kamu sendiri, suka naik angkot atau naik sepeda motor? Atau enggak dua-duanya?

Apakah Kamu Masih Mendengarkan Radio?

Tulisanku ini tercipta setelah baca tulisan DV yang ini. Lalu aku teringat akan foto yang pernah kuunggah di akun FB-ku. Foto radio lawas punya Mbah Kung. Radio itu kudapati tergeletak di salah satu kamar rumah Mbah, lalu kufoto. Situasi saat itu, siang hari. Di ruang tamu dan ruang tengah para tamu masih banyak yang datang melayat Mbah Kung.

radio punya Mbah Kakung
radio punya Mbah Kakung

Oke, jadi ceritanya suatu kali aku pulang ke Jogja. Karena selama tinggal di Jakarta aku (dulu) cukup sering menyetel radio, aku pun iseng-iseng pengin dengar seperti apa sih siaran radio di Jogja? Sebelum menyalakan radio, ingatanku mau tak mau terbang ke masa-masa kuliah dulu. Dulu, saat tinggal di asrama Syantikara, salah satu “kekayaan” yang kumiliki adalah radio. Sementara beberapa teman lain punya walkman (duh, itu barang mewah waktu itu), aku sudah cukup puas punya radio. Jangan bayangkan radio kecil imut dan cantik ya. Radioku ukurannya hampir sama dengan radio punya Mbah itu, hanya saja lebih modern sedikit sentuhannya. Lalu kekayaan keduaku adalah earphone. Kenapa? Karena kalau mendengarkan radio di asrama tidak boleh disetel dengan suara keras, bisa mengganggu teman seunit yang sedang belajar. (Satu unit itu terdiri dari dua ruang belajar, masing-masing dipakai oleh empat anak. Jadi, kami belajar bersama.) Padahal sih tanpa radio pun kadang kehadiranku cukup mengganggu teman yang lain karena suka mengobrol dengan Mbak Tutik. Hahaha. *Dijewer Sr. Ben deh.*  Stasiun radio yang sering kudengarkan saat itu: Rakosa, GCD (yang khasnya: “radio Bukit Patuk Gunung Kidul… ting tung ting tung… radio yang sebaiknya Anda tahu.), Yasika, Swaragama (waktu itu radio ini masih baru, jadi sering muter lagu-lagu saja), trus yang terakhir Geronimo (tapi Geronimo itu paling jarang kudengarkan).

Eh, aku melamunnya terlalu lama sepertinya.

Iya, jadi akhirnya aku menyetel radio dan sampai di sebuah stasiun radio. Lagi-lagi aku tidak ingat stasiun radio apa itu… 😀 😀 Tapi yang kuingat betul aku seperti tak bisa membedakan aku sedang mendengarkan radio di mana. Aku yang sehari-hari tinggal di Jakarta dan cukup akrab mendengar gaya bicara penyiar dengan logat dan gaya bahasa orang Jakarta (bukan Betawi, sih menurutku, tapi Jakarta yang lu gue, gitu deh), jadi berkata dalam hati, “Aku ki ning Jogja, je… kok penyiare le ngomong nggo boso Jakarta ki piye jaaal?” (Aku sedang di Jogja, tapi kok penyiarnya bicara dengan logat Jakarta?) Aku tidak terlalu lama menyetel radio itu. Kecewa? Ah, itu istilah yang terlalu berlebihan barangkali. Tapi begini maksudku, yang kuinginkan adalah radio dengan nuansa lokal, tapi ternyata kok…? Mungkin bahasa Jakarta itu sangat menarik bagi sebagian (besar?) orang, sehingga mereka merasa perlu mengadopsinya dan memakainya dalam segala hal. Salah seorang temanku pernah mengatakan bahwa dia lebih nyaman bicara dengan bahasa ala anak Jakarta, padahal dia besar di Jogja. Ealah…! Padahal dari tadi aku ngecipris pakai bahasa Jawa dengannya. Tapi mungkin aku perlu move on. Maksudnya, ya barangkali selera pasar kebanyakan adalah bukan orang seperti aku. Seperti orang-orang Jakarta itulah. Bukan aku yang selera ndeso dan memang ndeso ini. 😀 😀 Harap maklum ya, Teman-teman. Dari dulu sampai sekarang aku sering disindir kalau aku medok saat berbicara dalam bahasa Indonesia. Memang lidah ndeso ini susah untuk diajak lebih berselera kota.

Ngomong-ngomong apakah sampai sekarang aku masih sering mendengarkan radio? Kadang-kadang dan bisa dikatakan jarang. Pun ketika kembali ke Jakarta dan hiburanku kebanyakan adalah lewat radio serta internet, aku sekarang jarang mendengarkan radio. Pertama, karena radioku sempat soak. Jadi males kan kalau dengar radio yang bunyinya kaya tas kresek? Kedua, lama-lama bosan juga dengar radio. Kenapa bosan? Ini sebetulnya mirip dengan alasan kekecewaan ketika menyetel radio di Jogja tadi. Ketika itu aku berpikir, kalau ada orang asing yang datang ke Indonesia lalu mendengarkan radio, kira-kira apa ya pendapat mereka? Banyak kan radio di sini yang memutar lagu-lagu barat? Jangan-jangan mereka akan berkata, “Lha aku ki ning endi to? Ning Indonesia opo ning Amerikah?” (Aku berada di mana ya? Di Indonesia atau di Amerika?) Eh, tentunya dia tidak “mbatin” dalam bahasa Jawa ya–kecuali dia orang Suriname, mungkin? 😀 Ya, terserah saja sih kalau radio-radio itu memutar lagu barat. Nanti kita kuper deh kalau tidak tahu lagu atau kabar dari dunia luar. Tapi sejujurnya, aku kangen mendengarkan lagu-lagu daerah, cerita-cerita lokal dari berbagai penjuru Indonesia, atau apa pun lah yang berbau Indonesia disiarkan lewat radio. Tiap radio memang punya kekhasan masing-masing, sih. Itu terserah mereka. Barangkali aku saja yang ngoyoworo atau terlalu muluk-muluk ingin ada rasa Indonesia yang bisa memenuhi selera ndesoku ini di radio yang kudengar. (Sebetulnya rasa Indonesia itu yang seperti apa ya? Kok aku mendadak bingung?) Tapi aku yakin kok, masih ada radio yang menyiarkan “rasa Indonesia”. Setidaknya kapan hari aku kesasar ke RRI dan mendengar ulasan pernikahan adat suku Sasak. Di situ diputar juga lagu-lagu daerah. Rasanya mak nyes, gitu deh. Halah lebay! 😀

Nah, kamu apakah masih mendengarkan radio? Radio seperti apa yang kamu sukai?

Belajar Ngopi di Klinik Kopi

Selama ini aku selalu mengatakan bahwa aku bukan peminum kopi. Sebetulnya dulu aku suka kopi. Tapi itu dulu sekali. Tapi kemudian ada suatu pengalaman yang membuatku tidak suka minum kopi, yaitu ketika aku jadi deg-degan dan sakit perut hebat setelah minum kopi Nesc*f*. Sejak itu, aku hampir tidak menyentuh kopi. Paling minum sedikit kadang-kadang kalau suamiku membuat kopi. Tapi peristiwa beberapa minggu lalu barangkali akan mengubah persepsiku tentang kopi.

Ceritanya begini… Waktu itu aku sedang di Jogja, dan tiba-tiba seorang teman lama mengontakku. Aku juga tidak mengira dia mengontakku setelah sekian belasan tahun (kata dia sih sudah 20 tahunan tidak bertemu). Dia adalah Bhuri, teman yang kukenal ketika dulu aku ikut pelatihan jurnalistik di Surabaya zaman SMA. Dia salah seorang peserta dari Malang, dan aku dari Madiun. Setelah pelatihan kami memang sempat surat-suratan, tapi setelah itu surat-surat itu berhenti–entah kenapa. Jangan tanya kenapa, karena rupanya ingatanku tidak seperti gajah. (Sayangnya kami tidak berfoto bersama waktu bertemu kemarin karena Bhuri sepertinya alergi dengan kamera :p.) Ternyata sudah dua tahun ini dia kuliah S2 di UGM–selama ini dia bekerja di Banjarbaru, Kalimantan. (Ealaaaah… kenapa nggak dari kemarin-kemarin bilang kalau kuliah di Jogja?) Lalu bertemulah kami suatu sore di kafe Djendelo, toko buku Toga Mas, Gejayan. Selama ngobrol ngalor-ngidul, aku jadi tahu kalau dia suka ngopi. Waktu itu dia pesan kopi pahit. Dia bilang, kopinya kurang enak. Aku sendiri pesan teh–yang rasanya biasa-biasa saja.

Beberapa hari kemudian, kami ketemuan lagi. Waktu itu aku hendak memberikan bukuku kepadanya. Awalnya bingung juga sih mau ketemu di mana. Karena paling gampang di Toga Mas, ya sudah, ketemulah kami di sana. Tapi setelah itu ke mana? Aku ingat, beberapa hari sebelumnya, aku mendapat informasi tentang Klinik Kopi yang terletak di belakang Toga Mas. Kami pun memutuskan ke sana.

Aku sendiri masih belum tahu persis seperti apa dan bagaimana Klinik Kopi itu. Aku memilih tempat itu semata-mata karena aku tahu Bhuri suka ngopi. Itu saja sih. Siapa tahu tempatnya enak buat ngobrol, itu bisa jadi bonus. Niatnya dari awal cuma mau memberikan buku kok. Ternyata Klinik Kopi memang tidak jauh dari Toga Mas. Ancer-ancernya: Gang pertama sebelah selatan Toga Mas masuk beberapa meter. Di sebelah kiri ada Lembaga Studi Lingkungan Sanata Dharma. Cirinya banyak pohon jatinya, masuk deh ke situ.

Di sinilah Klinik Kopi berada. Di antara pepohonan jati.
Di sinilah Klinik Kopi berada. Di antara pepohonan jati.

Foto hasil minjem dari sini (nggak sempat bawa kamera pas ke sana).

Ketika memasuki pelataran bangunan itu, aku agak ragu. Benar nggak sih tempatnya di sini? Beberapa motor kulihat terpakir di sana. Sudahlah, masuk saja. Klinik Kopi terletak di lantai dua bangunan tersebut. Hari itu masih sore, sekitar pukul 18.30. Kami langsung dapat giliran dilayani. Pertama, kami kenalan dulu sama Mas Pepeng, si pemilik Klinik Kopi ini. Kemudian duduklah kami di hadapan deretan beberapa toples kopi dari beberapa daerah di Indonesia. Seingatku, selain aku dan Bhuri, ada dua (atau tiga orang?) yang duduk bersama kami.

Awalnya aku ditanya Mas Pepeng, mau minum kopi apa. Lhadalah… Apa ya? Bukan peminum kopi kok ditanya mau kopi apa. Aku pun mengatakan bahwa aku bukan peminum kopi. Belakangan minum kopi nunut, maksudnya, kalau suamiku buat kopi, ya aku icip-icip. Kopi yang kuminum terakhir adalah kopi Aroma dari Bandung dan kadang-kadang kopi susu ABC sachet. Kuceritakan juga kalau aku agak bermasalah dengan lambung. Sudah, setelah itu aku manut mau dibuatkan kopi apa. Mas Pepeng sempat menjelaskan beberapa hal tentang kopi. Dan di sinilah keunikan Klinik Kopi itu. Klinik Kopi bukan kafe, tapi di sini semacam tempat belajar tentang kopi. Aku jadi sedikit tahu tentang kopi deh. Yang membuatku sakit perut setelah minum kopi adalah campuran dalam bubuk kopi (jagung, misalnya) dan juga flavour atau perisa (biasanya dipakai dalam kopi sachetan). Selain itu, kopi yang diseduh dengan air dispenser juga kurang bagus untuk lambung. Penawar sakit perut untuk kopi adalah pisang. Dan disarankan minum air putih yang banyak setelah minum kopi karena kopi memberatkan kerja ginjal (apalagi kalau sudah dicampur gula, ginjal akan lebih berat lagi kerjanya). Menurut Mas Pepeng, kopi itu ibarat agama. Tiap orang punya agama masing-masing. Misalnya, orang yang agamanya Bajawa, menganggap kopi tersebut yang paling enak. Tapi orang lain berhak punya “agama” yang lain, misalnya kopi Kalosi.

Indonesia sebetulnya punya jenis kopi yang banyak. Tapi sayangnya, orang Indonesia paling banyak mengonsumsi kopi sachetan. Kopi asli Indonesia kebanyakan diekspor dan kurang dikenal di kalangan masyarakat biasa. Sayang banget ya? Mas Pepeng mendapatkan biji kopi dengan fair trade, langsung dari petani. Semua kopi yang ada di Klinik Kopi adalah kopi asli dari beberapa wilayah Indonesia.

Oke, deh… akhirnya sore itu aku dibuatkan kopi Wamena medium (bukan yang pekat banget). Dan itulah pertama kalinya aku mencoba menikmati kopi tanpa gula. 😀 😀 Rasanya? Awalnya agak aneh karena aku tidak terbiasa minum kopi pahit. Tapi, setelah itu aku malah jadi penasaran dengan kopi yang lain. 😀 😀 Sejauh ini aku sudah mencoba kopi Mandailing, Takengon, dan Bajawa.

Aksi Mas Pepeng waktu membuat kopi.
Aksi Mas Pepeng waktu membuat kopi.

Foto hasil minjam dari BB Mbak Nova.

Sejak itu aku beberapa kali ke Klinik Kopi. Tidak hanya dengan Bhuri, tapi aku juga sempat mengajak my partner in crime, sepupuku, Mbak Nova, yang kebetulan sedang pulang ke Indonesia. Dia pecinta kopi dan lidahnya lebih canggih untuk mencicip kopi. Dua orang ini juga yang sepertinya mempengaruhi lidahku untuk masalah kopi. Keduanya pecinta Bajawa yang wangi sekali aromanya. Akhirnya aku pun jatuh cinta pada Bajawa. (Jadi, agama kami bertiga adalah Bajawa hihihi.)

Akhirnya benar-benar jatuh cinta pada Bajawa yang harum dan pahit. :)
Akhirnya benar-benar jatuh cinta pada Bajawa yang harum dan pahit. 🙂
Ki-Ka: Oni, aku, Mas Pepeng, Mbak Nova, Mas Yitno. (Empat saudara yang sempat mampir ngopi ke Klinik Kopi.)
Ki-Ka: Oni, aku, Mas Pepeng, Mbak Nova, Mas Yitno. (Empat saudara yang sempat mampir ngopi ke Klinik Kopi.)

Foto: hasil minjem dari BB Mbak Nova.
Menurutku, kalau kalian ingin belajar tentang kopi dan menikmatinya, sesekali sempatkan ke Klinik Kopi. 🙂 Layak dicoba. Klinik Kopi buka dari pukul 16.00 dan order terakhir pukul 22. Atau, ikuti @klinikkopi untuk update terbaru. Terakhir-terakhir aku ke sana, antrian di agak panjang, jadi mesti sabar menunggu giliran. Klinik Kopi juga tempat yang asyik untuk bertemu teman-teman baru, sesama pecinta kopi. Jadi, kapan ke Klinik Kopi lagi? (Ah, jadi kangen deh…)

Semangat Pagi

Entah apa yang membuatku tadi pagi ingin bersepeda keliling kampung. Tapi memang harus kuakui, kalau melihat sepeda, aku rasanya pengin menjajalnya. Kebetulan di rumah ada satu sepeda lipat. Keinginan untuk bersepeda sering muncul, tapi selalu kalah dengan kemalasan. Kemalasanku memang jempolan… parahnya!

Oke, jadi ceritanya tadi pagi aku bangun sekitar pukul 5.30. Aku tak mengira tubuhku sudah mengajak mataku melek sepagi itu. Semalam aku tidur agak larut padahal. Begitu melihat jam, aku mendadak ingin tidur lagi. Tapi mataku malas merem lagi. Jadi, aku hanya membaca novel yang ada di samping bantal. Aku baca-baca lagi Burung-burung Manyar pada bagian-bagian favoritku–ketika Teto dan Atik bertemu lagi. Gemes deh mengikuti relasi mereka! Penasaran? Silakan membacanya sendiri. Di sela-sela membaca, aku melirik ke jendela yang masih tertutup korden. Kulihat sinar matahari pagi mulai muncul. Lalu tiba-tiba pikiranku teringat sepeda yang ada di garasi. Mendadak aku merasa tubuhku membutuhkan matahari pagi.

Dan… melajulah aku menaiki kereta angin itu. Awalnya aku agak kurang nyaman karena sadelnya kurang tinggi. Tapi sudahlah, aku malas untuk berhenti sejenak menaikkan sadel. Aku mencoba menikmati keadaan sekeliling. Rumput-rumput pinggir jalan sebagian masih berselimut embun. Sesekali ada satu dua bunga rumput warna kuning menyembul. Kelopaknya yang kecil bergoyang tertiup angin lembut, mengingatkanku pada anak-anak yang bersemangat hendak berangkat sekolah. Sederhana, cantik, dan bersemangat. Aku lalu berbelok ke jalan kampung yang lebih sepi. Aku tahu di jalan itu ada belokan yang menuju sawah. Aku tak sabar menghirup udara segar sawah. Menurutku sawah di pagi hari memiliki aroma yang berbeda. Aku kadang menyebutnya aroma hijau. Tapi aneh ya? Aroma kok hijau. Kalau dibilang segar, bukan sekadar segar. Aromanya khas. Aroma hijau itu aroma kesegaran yang bisa mengirimkan sinyal kegembiraan ke otak. Memang agak sulit menjelaskannya. Pokoknya begitulah. Oya, jalan kecil itu menyimpan satu bagian istimewa, yaitu jembatan tua dengan betonan rendah yang sudah berlumut. Di mataku jembatan itu eksotik … seperti bapak-bapak sederhana ramah yang menyimpan banyak kisah. Sungai di bawahnya mengalir tenang. Dangkal memang, tapi airnya jernih dan tampak satu dua batu besar. Aku membayangkan, dinginnya air sungai itu pasti bisa mendinginkan kaki sampai lutut. Tapi aku sudah cukup puas menyaksikan aliran sungai dari atas.

Aku melanjutkan mengayuh sepeda. Di sebelah kiri kulihat sepetak kebun cabai. Buah cabai itu masih hijau kekuningan, beberapa bergerombol menyembul di antara daun-daun kecilnya yang hijau. Di sebelah kanan, berjajar tanaman kacang panjang dengan daunnya yang hijau tua. Tampak satu-dua kacang panjang yang menjulur. Aku teringat, Bapak pernah berkata bahwa kacang panjang paling enak jika dimakan sesaat setelah dipetik. Aku belum pernah mencoba. Tapi mungkin memang benar.

Jalanan agak menurun setelah pertigaan kecil. Di kejauhan kulihat beberapa batang pepaya. Ada satu pohon yang buahnya bergerombol. Pohon yang tampak ringkih itu seperti seorang ibu muda yang digelendoti anak-anaknya. Mungkin itu tanaman pepaya California. Sayang semua buahnya masih hijau. Mungkin aku perlu menyempatkan waktu melewati jalan ini untuk melihat ketika pepaya yang genteyongan itu berubah kekuningan mengilat. Pasti lebih cantik.

Ketika hendak meneruskan perjalanan, kulihat di ujung jalan terpasang sebuah tenda. Lamat-lamat kudengar suara orang mendaraskan doa. Ada yang meninggal kurasa. Sejenak aku tersentak, di antara kehangatan kehidupan yang kurasakan pagi ini, aku diingatkan bahwa hidup yang penuh warna ini suatu saat akan berakhir. Hmmm… mungkin tidak sepenuhnya berakhir, tapi beralih wujud? Seperti musim semi yang kemudian menyerahkan dirinya pada musim gugur. Atau seperti debu musim kemarau yang sangat mendambakan hujan, dan ketika titik-titik air itu turun, debu itu lenyap menyerah pada air.

Aku berbalik arah, kembali ke jalan yang tadi kulewati. Menyusuri sawah berbau hijau, jembatan tua, lalu mengarah ke jalan besar. Tak lama aku sampai di jalan menurun. Sepedaku meluncur tanpa perlu kukayuh. Wuuusss … aku seperti berselancar menembus angin. Udara segar dan kehangatan matahari menyapu kulit. Melayangkan ingatanku pada kenangan-kenangan masa lalu yang membahagiakan, pada tawa dan obrolan dengan sahabat-sahabat hati, pada kisah cinta melankolis Teto dan Atik dalam novel Burung-burung Manyar yang kubaca sesaat sebelum aku bersepeda pagi ini, pada Sang Mahacinta yang seolah tak pernah bosan jatuh cinta kepadaku. Pengalaman bersepeda pagi ini membuatku bersyukur… Sungguh, pagi selalu menyembulkan harapan, menyelipkan semangat, membawakan Cinta. Aku memang tidak membawa kamera untuk merekam pemandangan pagi tadi, tapi aku akan merekamnya dalam ingatan.

Sekilas Cerita Liburan Akhir Tahun 2012

Menjelang hari kedelapan di tahun 2013, dan aku baru mau menulis? Astagah! Benar-benar pemalas yaaaa.

Oke, memang hawa liburan ini betul-betul membuai. Padahal niatnya nggak akan libur lama-lama. Libur apaan sih? Kalau freelancer, memangnya kenal musim libur seperti para pekerja kantoran? Sebetulnya enggak sih. Kalau pengen libur, ya libur. Kalau mau kerja, ya kerja. Susah amat sih? Niatnya, aku memang nggak libur-libur amat. Ya, libur … tapi sambil intip-intip kerjaan gitu deh. Tapi apa mau dikata. Dikelilingi orang-orang kantoran yang sedang liburan, akhirnya aku jadi agak susah intip-intip kerjaanku. Yeee, nyalahin orang lain.

Okeh dah … jadi, ceritanya tanggal 20 Desember yang lalu aku dan suamiku berangkat ke Jogja. Yeah, meskipun aku ini aslinya orang Madiun (dan ortuku juga masih tinggal di sana), aku cukup lama menghabiskan waktu di Jogja. Trus apalagi, Ibu dan Bapak akhirnya membuat rumah untuk aku dan kakakku di pinggiran utara Jogja. (Eh, sudah mangsuk Sleman, ding benernya.) Maksudnya, biar kami ini nggak ngekos, dan lagi pula waktu itu kami memang proyeksinya mau tetap di Jogja saja. Sekarang rumah itu ditempati kakakku dan istrinya. Tapi, tetep aja deh, rasanya seperti pulang kalau ke rumah itu. Kakakku bilang, rumah itu memang penghuninya cuma dua orang, tapi sebetulnya ada enam orang yang menguasainya. Horotoyoh! Maksudnya, enam orang itu kakakku dan istrinya, aku dan suami, serta Bapak dan Ibu. Jadi, di rumah itu ada barang-barang milik kami berenam!

Selama di Jogja ke mana saja? Aku biasa menjawab, “Di rumah saja.” Memang sih, nggak bener-bener ngendon di rumah. Yang jelas ya, ke gereja untuk Misa Natal. Trus sempat juga main ke pantai dengan Ata plus main ke Caty’s House-nya Bu Tutinonka dong!. Tapi aku merasa frekuensiku untuk ke kota tidak sesering biasanya. Malas, sih. Soalnya, Jogja macet sodara-sodara. Dan aku sudah cukup kenyang dengan kemacetan yang kualami di Jakarta. Biar para turis itu saja yang menikmati kemacetan Jogja. *Ngikik* Karena rumahku di daerah utara, maka kalau mau ke kota salah satu jalur yang kami tempuh adalah lewat Condong Catur (sekitar terminal Concat situ deh). Sejak musim liburan itu, perempatan Concat itu padat banget. Kalau tidak ada keperluan mendesak, aku tidak mau deh berlelah-lelah lewat sana. Kalau mau nyaman, berangkatnya pagi-pagi. Yaaa, paling cari gudeg gitu deh. Tapi, sebetulnya tanpa harus ke kota, kami bisa kok dapat gudeg yang rasanya lumayan. Yang jelas sih, kemarin aku paling-paling main ke rumah teman. Sempat juga ke Malioboro untuk beli abon. Tapi itu pun tidak lama, dan buru-buru pulang. Btw, pas ke Malioboro pun aku memarkir motorku di Panti Rapih, lalu lanjut naik bus kota jalur 4. Sumpah, aku males naik motor menembus jalanan Jogja yang padat. Meskipun uang yang kami keluarkan untuk transport lebih banyak (plus ongkos parkir dan bus), tapi aku tidak terlalu capek.

Suamiku sendiri kalau pulang ke Jogja sudah punya acara yang tidak bisa diganggu gugat: Mancing! Kebetulan rumahku tidak terlalu jauh dari pemancingan Ledok Gebang. Dan dia lumayan “kerasan” mancing di situ. Kata dia sih, petugas di situ tidak terlalu rese. Memang kalau dari segi harga makanan (kalau hasil pancingan dimasak di situ), harganya lumayan mahal. Tapi karena orang-orang di sana tidak rese, suamiku sih seneng-seneng saja. Malah waktu pertama kali datang kemarin, mas penjaga di sana tanya, “Kok lama nggak mancing ke sini, Mas?” Mungkin itu hanya pertanyaan basa-basi. Tapi sebagai pelanggan, suamiku merasa itu semacam bentuk sapaan yang hangat.

Pemancingan Ledok Gebang
Pemancingan Ledok Gebang

Okeh, kurang lebih begitu sekilas cerita liburanku. Mungkin kalau tidak kumat malesnya, aku mau membuat tulisan lain yang masih ada bau-bau liburan kemarin. Nah, sekarang saatnya bekerja kembali. Yuk!

Junk Food/Fast Food VS Makanan Indonesia

Aku tak terlalu ingat jelas, kapan aku mulai kenal yang namanya junk food dan fast food. Mungkin pas remaja. Dan memang waktu itu di kotaku, makanan seperti itu hampir tidak ada. Yang ada ya makanan biasa, seperti soto, pecel, rawon, rujak petis, tahu telor, mi (goreng/rebus), bakso, dll. Waktu aku kecil, belum ada yang namanya ayam goreng Kentucky atau semacamnya. Jadi, kalau orang tuaku mengajak kami sekeluarga makan di luar, biasanya ya makannya soto atau bakso. Seingatku, yang paling sering kami kunjungi adalah soto atau bakso Pak Jan, depan kolam renang Purboyo. Sering itu bukan berarti setiap akhir pekan kami andok makan di luar. Tidak. Bisa bangkrut nanti. Tapi mungkin ya … sebulan sekali.

Kadang-kadang kalau tidak pergi keluar bersama-sama, Bapak akan pergi ke Kedai Pak Jan itu sambil membawa rantang aluminium untuk beli soto atau bakso di situ. Lebih ramah lingkungan ya? 🙂

Nah, menginjak remaja, seingatku mulai ada iklan-iklan tentang makanan cepat saji. Dan entah bagaimana aku mulai tahu tentang ayam dan kentang goreng, yang disajikan dengan minuman bersoda. Kalau lihat di iklan, kok tampaknya enak betul. Karena di kotaku belum ada makanan seperti itu, aku hanya bisa menikmatinya kalau sedang liburan ke Jogja. Seingatku dulu di Jalan Solo, dekat Museum Affandi ada Gelael dan di situ ada gerai ayam goreng Kentucky. Tapi bukan berarti, setiap ke Jogja lalu makan ayam goreng itu. Tidak. Tapi rasanya aku suka sekali kalau diajak makan ayam goreng itu. Rasanya seperti “naik pangkat”, mendadak seperti mbak-mbak atau mas-mas cakep di iklan-iklan makanan cepat saji itu. *Halah, lebay!*

Suatu ketika, dikabarkan ada gerai CFC hadir di kotaku. Mendadak gerai itu jadi tempat makan favorit. Senengnya minta ampun kalau bisa makan ke situ.

Sekarang waktu tinggal di Jakarta, aku jadi sangat biasa menjumpai gerai makanan semacam itu. Apalagi di sini di tiap sudut jalan ibaratnya ada mal. Dan di dalam mal, pasti ada gerai makanan cepat saji. Lalu apakah aku jadi lonjak-lonjak kegirangan kalau lihat dan mampir makan di gerai semacam itu? Sayangnya tidak. Kalau aku makan ayam goreng atau mampir makan di gerai makanan cepat saji, itu berarti selera makanku lagi error. Kacau. Alias, aku tidak tahu mau makan apa. Dan kadang aku makan di tempat seperti itu semata-mata karena tidak punya pilihan lain atau karena diajak teman (dan temanku maunya cuma makan ayam goreng).

Kalau mau jujur, sepertinya aku sudah sampai tahap bosan melihat fast food dan junk food itu. Bukan bosan karena dulu sering makan. Enggak juga. Wong nyatanya aku juga tidak sering makan junk food/fast food. Mungkin kebosananku itu karena menurutku, makanannya begitu-begitu saja. Dan belakangan, aku sering bermasalah dengan rasa gurihnya. Menurutku makanan-makanan itu terlalu asin. (Padahal aku suka makanan asin dan gurih.) Atau vetsinnya sudah terlalu banyak ya? Entahlah.

Akhirnya sekarang kalau makan di luar dengan suamiku, kami justru lebih memilih makanan Indonesia. Favorit kami adalah masakan Padang atau masakan Menado. Menurutku, makanan Indonesia rasanya lebih nendang. Rasanya juga lebih kaya, mungkin karena bumbunya macam-macam.

Hmm … kalau kamu, suka fast food/junk food atau makanan Indonesia?

Solitaire dan Sendiri

Pernah bermain solitaire? Kurasa bagi kebanyakan orang yang biasa berhadapan dengan komputer, permainan solitaire adalah permainan yang sudah diakrabi. Itu lo, game di mana kita mesti mengurutkan kartu dari As sampai King. Tapi kalau bicara solitaire, entah kenapa aku jadi ingat ketika bermain solitaire memakai kartu remi biasa. Dulu, ini adalah permainan yang rasa-rasanya cukup sering aku mainkan waktu di asrama–zaman kuliah dulu.

Begini, waktu di asrama dulu, komputer masih dirasa sebagai barang mewah. Waktu aku kuliah, komputer yang umum waktu itu sebutannya masih begini nih: 386 atau 486. Bingung kan? Hehehe… Itu sebutan untuk prosesornya. Kalau sekarang sih komputer sudah jauh lebih maju. Nah, karena komputer masih dianggap barang mewah, di asrama komputer masih dibatasi. Memang sih, di asrama ada komputer. Tapi itu pun dipakai oleh anak yang sudah skripsi. Dan kalau pakai, kita pun mesti bayar. Sistemnya seperti rental komputer, tapi Suster memberi harga lebih murah untuk sewanya dibanding kalau kita rental komputer di luar. Jadi, tak ada ceritanya main game di komputer. Kita memakai komputer memang untuk tugas kuliah saja. Lalu? Ya, akhirnya kita tidak terbiasa main game di komputer dong. Dan kartu remi menjadi salah satu “pelarian” untuk bersenang-senang bersama.

Memang sih, yang namanya asrama, pasti banyak teman kan? Masak mau main sendiri? Satu unit rata-rata isinya 4-8 orang. Jadi, mestinya tak perlu khawatir kesepian dan bisa main kartu remi ramai-ramai. Eit, tapi, jangan salah. Di asrama pun kita bisa sendirian di unit. Kok bisa? Aku ingat, saat malam minggu kadang bisa jadi saat yang tidak menyenangkan. Apalagi kalau tidak punya pacar, tidak ikut komunitas apa-apa, tidak ada teman yang mengajak ikut suatu kegiatan, malas ikut nonton tivi di ruang tamu, teman-teman seunit pergi (diapeli, pulang kampung, atau ikut acara di kampus), naaah … bisa kesepian tuh. Hihihi, kasiaaaan deh! Jadi, kadang di saat seperti itulah aku kadang bermain solitaire dengan kartu remi.

Tapi ngomong-ngomong soal solitaire, aku jadi ingat ketika pertama aku bepergian ke luar kota sendiri. Kapan itu? Waktu SD seingatku. Waktu itu, Mbah dari ibuku masih hidup dan tinggal di Jogja. Jadi saat liburan tiba, aku biasa berlibur ke rumah Mbah. (Waktu itu aku masih di Madiun). Karena kedua orang tuaku bekerja dan tidak bisa meninggalkan pekerjaan, maka aku mesti pergi sendiri. Kadang sih ya aku pergi dengan kakakku, kadang ditemani pengasuhku, tapi ada kalanya aku pergi sendiri. Memang sih, waktu itu aku perginya naik travel. Jadi, tak perlu khawatir kesasar. Tapi ya, namanya pertama kali pergi ke luar kota sendiri, masih usia SD, rasanya deg-degan juga. Awalnya, Bapak yang menelepon travel, lalu menanyakan apakah masih ada jatah kursi untuk keberangkatan ke Jogja. Ternyata ada. Jadi, aku mulai mengepak baju-bajuku sendiri. Kupilih beberapa baju yang kusukai dan yang kubutuhkan, lalu kumasukkan ke dalam tas yang sudah disiapkan Ibu. Malamnya aku jadi susah tidur membayangkan perjalanan esok harinya. Aduh, jadi deg-degan betul! Aku membayangkan, besok sebelahku orangnya seperti apa ya? Bagaimana kalau travelnya ngebut? Bagaimana kalau sampai di rumah Mbah sudah malam (karena travel waktu itu mesti mengantar penumpangnya satu per satu, dan bisa jadi aku dapat jatah diantar paling terakhir)? Terus terang aku lupa bagaimana perjalanan pertamaku sendiri ke Jogja. Tapi rasanya aman-aman saja. Terbukti aku beberapa kali naik travel Madiun-Jogja pp. Kalau aku kapok atau mengalami kejadian tidak enak, pasti pengalaman itu tidak kuulangi kan? 🙂

Perjalanan sendiri ke Jogja dengan travel itu tidak menjadi perjalanan yang terakhir. Akhirnya aku jadi terbiasa pergi ke Jogja sendiri. Tapi kemudian, ketika aku sudah mulai kuliah, travel ke Jogja tidak menjadi pilihanku lagi, karena biayanya lebih mahal dibandingkan naik bus atau kereta api.

Jika perjalanan ke Jogja itu menjadi latihanku untuk mandiri, lalu hal apa yang tidak bisa kulakukan sendiri? Jawabannya adalah, pulang malam sendiri di Jakarta. Ketika awal aku akan pindah ke Jakarta, aku selalu berpikir bahwa aku bisa pergi sendiri, termasuk pulang malam sendiri. Yang kudengar waktu itu adalah, Jakarta kota yang selalu ramai, termasuk di malam hari. Dan saudaraku pernah mengatakan bahwa di malam hari pun selalu ada kendaraan umum. Jadi, tak perlu takut tak bisa pulang di malam hari. Tapi, waktu aku sudah di Jakarta, aku jadi berubah pikiran. Entah kenapa, aku merasa tidak nyaman jika pergi sendiri sampai malam. Padahal ya tidak sampai malam banget lo. Paling sampai pukul 8. Jika aku pergi sendiri, dan jam sudah menunjukkan pukul 8, aku jadi gelisah. Jadi, sebisa mungkin aku pergi siang hari. Dan kalaupun sampai malam, biasanya pulangnya aku janjian dengan suamiku atau minta dijemput. Itu pun sangat jarang, dan sebisa mungkin kuhindari.

Aku tak tahu kenapa kalau di Jakarta aku tidak bisa pulang malam sendiri. Padahal dulu, semasa di Jogja (dan sampai sekarang kalau aku di Madiun atau di Jogja), pulang malam bukan jadi hal besar bagiku. Di Jogja, rumahku ada di daerah utara dan kalau pulang aku mesti lewat daerah yang persawahan yang sepi. Tapi, kalau masih pukul 9 malam, aku bisa pulang sendiri tanpa minta dijemput kakakku. Bahkan, aku ingat, aku pernah pulang malam pukul 22.00 lewat, naik motor sendiri. Memang sih, aku tidak setiap hari pulang malam. Tapi setidaknya, aku merasa baik-baik saja jika memang harus pulang malam sendiri. Yah, ternyata sebuah kota membawa perubahan dalam diriku. Aku menyadarinya sekarang ….

Ngomong-ngomong, apa yang tidak bisa kamu lakukan sendiri? Dan apa pula yang bisa kamu lakukan sendiri? Yuk, berbagi cerita.

Tulisan ini diikutsertakan dalam perhelatan Giveaway: Pribadi Mandiri yang diadakan dua nyonya: Imelda Coutrier dan Nicamperenique. 😀