Nyontek? Itu Sih Biasa…

Hari Minggu kemarin, aku misa di kapel stasi Yoakhim dekat tempat tinggalku. Waktu berkhotbah, Rm Sudrijanta SJ yang memimpin misa, seperti biasa turun dari altar dan berinteraksi dengan umat dengan melontarkan beberapa pertanyaan. Salah satu pertanyaannya adalah: “Punya kebiasaan buruk apa?” Nah, waktu itu yang ketiban sampur mendapat pertanyaan itu adalah beberapa anak usia SD yang duduk di bangku depan. Mungkin karena melihat wajah mereka yang agak bingung mau menjawab apa, Romo lalu menambahkan pertanyaan lagi kepada mereka, “Suka menyontek?” Mereka hampir bersamaan menjawab, “Tidaaaak? sambil menggelengkan kepala. “Bagus, ini generasi yang lebih baik dibandingkan para profesor itu.” Beberapa umat pun tertawa kecil menanggapi pernyataan itu. Untung aku sempat “diup-date” berita oleh suamiku, jadi aku mudeng ucapan Romo itu. Maklum beberapa hari ini aku tidak bisa koneksi internet selancar dulu, jadi ketinggalan berita deh. Rupanya baru-baru ini ada kabar bahwa ada profesor yang melakukan plagiat ya?

Ngomong-ngomong soal plagiat (bahasa cemennya: nyontek atau ngepek), aku punya pengalaman yang tidak terlupakan soal contek-menyontek ini. Hmm, ya … aku pun pernah menyontek waktu sekolah dulu. Ngaku nih! πŸ˜€ Tapi yang lebih sering kulakukan adalah memberi contekan. Alasan konyolnya adalah: kasihan pada teman. Hal ini menyelamatkanku juga dari label: tidak setia kawan. Entah mengapa waktu itu, label itu kok rasanya tidak mengenakkan sekali ya. Dibilang, “Sombong, nggak mau ngasih tahu temen sendiri.” Yaaa … daripada dibilang seperti itu, mending kasih contekan deh. Dan mungkin dulu pengawasan guru kurang ketat (alesan :p), jadi kupikir tak ada salahnya memberi keuntungan sedikit kepada teman. Ini jelek banget sebenarnya. Jangan ditiru ya!

Kebiasaan semacam itu mulai terjadi ketika aku SMP, dan semakin menjadi ketika SMA. Waktu SMP sih, hanya di saat-saat yang mendesak saja kegiatan menyontek itu dilakukan. Nah, waktu SMA entah kenapa sepertinya hal itu jadi makin mudah. Uh, memalukan ya. Tapi menyontek itu benar-benar berakhir ketika aku kuliah. Setahuku, waktu kuliah tak ada temanku yang menyontek. Itu setahuku loh … πŸ˜€ Mungkin karena sudah sadar semua (soalnya kuliah di SADHAR juga sih hihihi), bahwa menyontek itu tidak baik. Dan mungkin juga karena semua teman tidak menyontek, jadi kalau mau menyontek kan malu sendiri. Sebenarnya ujian dengan tidak menyontek itu lebih melegakan sih. Tidak deg-degan dan lebih puas dengan hasil ujian.

Nah, selesai kuliah … aku pun mulai hunting kerjaan. Semua dicoba. Semua lowongan pekerjaan berusaha dimasuki. Yang ada di pikiranku saat itu adalah bagaimana caranya supaya mandiri, punya uang sendiri dan tidak lagi minta dari orang tua. Aku hampir setiap hari melihat korang lokal dan koran nasional, melihat apakah ada lowongan pekerjaan yang sekiranya bisa kumasuki. Waktu itu, usaha mencari pekerjaan itu kujalani dengan seorang teman kuliahku, Ike. (Hai, Ke! Kita lama nggak ketemu ya! :D) Kebetulan kami lulusnya hampir bersamaan dan ke mana-mana aku sering bareng dia. Jadi, kalau ada lowongan pekerjaan, kami melamarnya bersama-sama.

Saat sedang semangat-semangatnya mencari pekerjaan, aku dan Ike waktu itu melihat sebuah lowongan pekerjaan yang menarik: Dibutuhkan tenaga untuk bidang penelitian. Kira-kira begitu deh bunyi lowongannya. Wah, boleh dicoba nih, pikir kami. Kami pun melamar ke sana, dan tak lama kemudian kami mendapat panggilan untuk tes.

Sesampai di tempat tujuan, aku dan Ike sempat terbengong-bengong, karena kantor yang dimaksud hanya berupa rumah biasa di sebuah kompleks perumahan. Yah, waktu itu aku membayangkan yang namanya pekerjaan itu ya mesti di kantor (padahal sekarang aku kerja di rumah hihihi). Di tempat itu ada beberapa komputer dan pegawainya pun cuma satu atau dua orang saja. Kami sama sekali tidak bisa menebak, ini instansi di bidang apa? Apa yang mereka teliti? Tak lama kemudian, sang pemilik muncul dan melihat sekilas fotokopian IP dan ijazah kami (hmm, aku lupa waktu itu ijazah atau hanya surat tanda lulus saja ya?). Setelah omong-omong singkat, dia langsung menawarkan pekerjaan berupa … membuatkan skripsi orang! Kami ditawari bayaran berapa ya waktu itu? Kalau tidak salah sekitar 3 jutaan. Uang itu kami terima jika kami berhasil membuatkan satu buah skripsi pesanan orang, dan orang itu bisa lulus. Gubraaak! Yang terlintas di pikiran kami waktu itu adalah: Gileeee, baru aja kami capek-capek menyelesaikan skripsi, sekarang malah disuruh membuatkan skripsi orang lain? No way! Yang bener aje! Lagi pula, ini kan pekerjaan yang tidak benar. Jadi, lupakan bayaran yang sampai jutaan itu. Kami pun segera pergi dari tempat itu.

Sebenarnya usaha plagiat; usaha membuatkan paper, skripsi, thesis bukan barang baru lagi. Di Jogja, hal seperti itu buanyaaak! Dulu, waktu aku masih kuliah, di shopping banyak sekali paper atau skripsi yang dijual. Aku tidak tahu kalau sekarang bagaimana. Tapi sebenarnya mudah sekali mengenali usaha orang yang mau membuatkan kita paper atau semacamnya; biasanya mereka memasang iklan dengan penawaran semacam ini: Anda kesulitan dengan skripsi? Bimbingan skripsi dibantu sampai selesai. De el el. Aku kadang masih menjumpai iklan semacam itu di koran-koran atau plakat-plakat di pinggir jalan.

Jadi, kalau ada berita bahwa ada profesor yang melakukan plagiat, itu sebenarnya berita basi. Setidaknya itu tidak mengagetkan lagi bagiku. Ibaratnya ini adalah usaha yang mana orang sudah tahu sama tahu, dan mudah sekali mendapatkan orang yang punya usaha macam itu. Kurasa yang perlu dipertanyakan adalah mengapa hal itu bisa terjadi? Mungkin ini terkait nilai-nilai yang dijunjung oleh masyarakat. Masyarakat kita masih sangat menghargai dan mudah sekali membanggakan hasil. “Ini lo, anakku baru lulus, nilainya A semua.” Lagi pula, hampir semua orang sepertinya bangga jika bisa sekolah yang setinggi-tingginya. Padahal kupikir, tidak semua orang mampu sekolah sampai jenjang yang tinggi. Apalagi kalau itu cuma demi gengsi.

Advertisements

Prakarya SD

Kemarin teman kecilku, Fani, datang ke rumah. Memang kemarin adalah jadwalnya dia untuk belajar bersamaku. Selama ini aku membebaskan dia mau bawa pelajaran apa saja. Tapi aku sama sekali tidak menyangka saat dia ke rumahku dengan membawa … seruling! Wah … wah … bagaimana ini? Dia sama sekali tidak membawa buku pelajaran lain. Padahal aku kan sama sekali tidak bisa main musik. Aku hanya penikmat musik. Satu-satunya alat musik yang pernah “kusentuh” adalah gitar. Itu pun sekarang sudah banyak lupa karena satu-satunya gitar yang dulu kubeli dengan uang sakuku tidak dikembalikan oleh seorang kawan lamaku. Huh! Padahal dulu kan aku meminjaminya karena kasihan sama dia yang sering bengong di rumah. E … lha kok diambil jadi hak milik. Waktu diminta malah nggak terima. Piye to cah iki? Ah sudahlah, besok aku beli lagi saja kalau memang niat πŸ˜€

Balik ke teman kecilku itu tadi. Karena aku tidak bisa bermain seruling, aku membiarkan dia “ngak… ngik… ngok” sendirian meniup seruling. Akhirnya daripada aku cuma bengong memandanginya berlatih main seruling, aku kemudian mengambil pekerjaan tanganku berupa kerajinan tusuk silang–kruissteek–yang sudah beberapa lama kuabaikan. Waktu awal-awal, aku semangat sekali mengerjakannya. Tapi belakangan agak bosan. Dan baru kemarin kusentuh lagi. Melihat aku mengerjakan tusuk silang, Fani pun berhenti bermain seruling lalu ingin ikut mengerjakan tusuk silang. Wah, dia senang sekali waktu kuajari.

Sambil mengerjakan tusuk silang, dia berkata, “Besok aku suruh bawa batang kayu yang biasa untuk es krim.”
“Buat apa, Fan?” tanyaku.
“Buat prakarya. Mau bikin tempat pensil.”
“Wah, asyik dong!” sambungku.

Kruissteek dan obrolan pendek itu mengingatkanku pada prakarya-prakarya yang pernah kukerjakan ketika aku masih SD dulu. Sampai sekarang, masih ada yang bisa dipakai loh! Salah satunya adalah sarung bantal dengan hiasan (lagi-lagi) tusuk silang. Rasanya tusuk silang adalah salah satu prakarya yang paling aku kuasai deh. Soalnya sampai sekarang, masih bisa membuatnya. Kalau prakarya yangΒ  lain sepertinya sudah lupa deh. Hihihi. Hmm… tapi prakarya apa saja ya yang pernah kukerjakan semasa SD? Aku ingat-ingat ya:
1.Menyulam. Waktu itu aku membuat taplak meja. Sebenarnya aku suka menyulam, tapi aku merasa dibandingkan pekerjaan teman-temanku, hasil sulamanku kok kurang rapi ya? Jadi, belakangan agak males gitu deh…
2.Menjahit. Dulu aku pernah membuat sarung bantal, dengan hiasan sulaman. Aku cukup suka menyulamnya, tapi aku kurang suka menjahit. Sepertinya susah sekali menggunting kain dengan lurus lalu menjahitnya dengan rapi. Hmmm, rasanya aku lebih baik meminta tolong tukang jahit keliling saja deh.

3.Membuat bunga dari kertas crepe. Betul nggak ya tulisan nama kertas itu? Itu lo, kertas tipis yang kalau kena air bisa luntur. Sepertinya membuat bunga adalah prakarya yang paling sering kubuat.

4.Membuat tempat pensil. Ada beberapa bahan yang bisa dipakai untuk membuat tempat pensil ini, misalnya kaleng bekas susu atau kertas karton. Zamanku SD batang kayu es krim sepertinya masih agak jarang dipakai untuk prakarya semacam ini.

5.Merajut. Nah, ini juga salah satu pekerjaan tangan yang cukup membekas. Paling tidak, aku masih ingat bagaimana membuat tusuk rantai hehehe.

6.Membuat hiasan tusuk silang. Hasil karyaku berupa tusuk silang yang masih tersimpan adalah sarung bantal dan serbet. Keduanya masih ada di rumah tuh. Bahkan sarung bantalnya masih sering dipakai, walaupun warnanya sudah pudar hehe.

Dulu guruku kadang membebaskan kami untuk membuat prakarya apa saja. (Mungkin guruku waktu itu bingung juga mau memberi tugas apa ya, hehe.) Ini justru menantang, karena kalau dibebaskan begitu, aku mesti mikir mau buat apa ya, tentunya dengan bahan yang murah, dan nanti kalau sudah jadi, hasilnya bagus. Kalau sudah begitu, aku lalu mencari-cari bahan yang ada di sekelilingku. Kalau ada karton yang masih separo, ya diusahakan dipakai lagi. Kalau ada kertas crepe yang tersisa, dibawa lagi. Tapi kalau sudah mengubek-ubek kamar dan tidak menemukan apa-apa, aku kemudian menelepon teman, “Besok mau bikin apa?” Kadang bukannya dapat ide, tetapi justru jadi tambah bingung karena temanku juga tidak tahu mau bikin apa. Nah lo!

Bagiku pelajaran prakarya itu kadang menyenangkan, tetapi kadang menjengkelkan juga. Menjengkelkan jika aku sudah berusaha keras, e … hasilnya jelek. Menyenangkan kalau pekerjaan tangan itu mudah, bisa terpakai, dan hasilnya bagus?nilainya bagus juga dong! πŸ™‚
Ngomong-ngomong apa prakarya favoritmu semasa SD?

Macet Itu … Indah Ya!

Ketika pertama kali datang ke Jakarta, salah satu hal yang harus kuterima dan aku harus beradaptasi dengannya adalah kemacetan lalu lintas. Maklum, wong ndeso … jadi kemacetan termasuk barang baru bagiku. Di tempat tinggalku dulu, kemacetan lalu lintas bukan merupakan menu wajib yang mau tak mau harus kusantap jika berkendaraan di jalan. Yaaa, memang kadang-kadang aku menemui kemacetan sih, tetapi nggak tiap hari lah. Lagi pula, kadarnya tidak “akut” seperti di Jakarta ini.

Kalau di Jogja belum tentu sebulan sekali aku menemui kemacetan. Di sana, kemacetan biasanya terjadi di sekitar Jalan Malioboro. Biasanya itu terjadi saat akhir pekan atau long weekend karena Jogja kebanjiran turis dari kota lain. Karena sudah tahu begitu, biasanya aku tidak akan ke Malioboro di saat-saat seperti itu. Mendingan tidur atau leha-leha di rumah. Selain itu, kemacetan juga terjadi saat menjelang buka puasa. Salah satu titik kemacetan akut terjadi di Bundaran UGM. Nah, kalau sedang bulan puasa, biasanya aku memilih pulang tepat waktu atau justru berlama-lama di kantor sampai jam buka puasa.

Dulu ketika ada teman dari Jakarta datang dan bercerita soal kemacetan lalu lintas, aku tidak terlalu paham mengapa kemacetan lalu lintas bisa menjadi penghambat yang signifikan dan menjadi alasan keterlambatan yang mudah diterima. Nah, ketika sudah tinggal di Jakarta, barulah aku tahu betapa tersiksanya berada dalam kemacetan. Apalagi kalau sedang naik kendaraan umum yang berjubel dan tidak ber-AC. Panas, capek, kesel, semuanya bercampur jadi satu. Masih mending kalau dapat tebengan kendaraan pribadi yang joknya empuk, ber-AC, dan ada musik lembut yang mengalun dari tape. Syukur-syukur jika masih ada camilan yang bisa dimakan. Paling-paling yang cenut-cenut kepalanya adalah si pemilik mobil karena bensinnya bakal lebih boros :p (Inilah penebeng yang kurang ajar hehehe.) Dan satu lagi hal yang agak kurang menyenangkan jika terjebak dalam kemacetan, yaitu kebelet pipis. Huaaa … itu siksaan bener deh!

Tetapi seperti yang dikatakan oleh orang-orang yang sudah lama di Jakarta seperti para om dan tanteku, jika menghadapi kemacetan, jurusnya adalah: nikmati saja! Memang nasihat itu bikin gatel di kuping, apalagi kalau terjebak dalam kemacetan yang parah. Tapi rasanya tidak ada cara lain yang bisa dilakukan selain menikmatinya. Mumpung masih di Jakarta, kalau di kota lain kan belum tentu sebulan sekali mengalami macet. Iya to? (Siap-siap dilempar sandal.) Dan karena kemacetan sudah menjadi menu wajib sehari-hari, maka tidak heran jika di Jakarta ada beberapa radio yang menyiarkan laporan kondisi lalu lintas.

Beberapa waktu lalu, aku dan beberapa teman bertemu dengan Om Ibel. Dia menginap di sebuah hotel di daerah Sudirman. Karena di lobi tidak ada tempat duduk yang cukup menampung kami, akhirnya kami mengobrol di kamar Om Ibel. Lumayan, selain bisa ngadem karena AC-nya cukup dingin (dan akhirnya lama-lama aku kedinginan juga), kami juga bisa ikut mencicipi sajian buah-buahan di situ πŸ™‚ Beginilah kalau wong ndeso kesasar ke hotel berkelas, bener-bener kelihatan ndeso-nya. Nah, saat itu kami mengunjungi Om Ibel petang hari kira-kira saat orang-orang pulang kantor. Hari sudah mulai gelap dan dari jendela kamarnya yang terletak di lantai 8, kami bisa melihat jalan raya yang dipadati kendaraan. Saat sedang asyik memandang keluar, Om Ibel menyeletuk, “Kemacetan itu indah ya … kalau dilihat dari atas begini.” Kami tertawa menanggapinya. Dan dilihat dari atas, kemacetan itu memang indah; lampu-lampu kendaraan itu seperti kunang-kunang yang memenuhi jalanan. (Aku jadi ingat kata-kata siapaaa gitu, yang mengatakan bahwa Jakarta itu indah karena banyak lampu.) Apalagi waktu itu kami menikmati kemacetan dari dalam kamar hotel yang dingin dan nyaman, wah … jadi kelihatan semakin indah. Tapi sebenarnya kalau disuruh memilih, aku lebih memilih menikmati bintang yang bertaburan di langit malam yang kelam dibandingkan menikmati lampu-lampu kendaraan yang terjebak dalam kemacetan dari atas sebuah gedung bertingkat dan di ruangan yang nyaman. Bagaimanapun kemacetan itu … melelahkan!

Silakan Merokok, Tapi Jangan Minta Sokongan Duit Negara

Kemarin sore, waktu mendengarkan I-Radio, dikabarkan bahwa Pemprov DKI tidak akan memberikan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Keluarga Miskin (JPK-Gakin) maupun Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) kepada pemegang kartu yang merupakan perokok berat. Tadi pagi, hal serupa diberitakan oleh KBR 68 H. Kenapa bisa begitu? Alasannya adalah 70% perokok (berat) berasal dari kalangan kelas bawah, alias orang miskinlah yang selama ini paling banyak mengonsumsi rokok. Jadi kalau ada perusahaan rokok yang bisa menjadi besar dan kelihatan “wah”, orang-orang yang bekerja di sana sebaiknya berterima kasih kepada orang-orang miskin yang menjadi pelanggan tetap produk mereka. (Du … du … du …. siapa ya? :D) Bahkan bagi mereka, rokok sudah jadi kebutuhan nomor dua–kalau tidak salah setelah kebutuhan untuk membeli makan. Logikanya begini, kenapa pemerintah mesti peduli dengan kesehatan mereka jika mereka sendiri tidak peduli dengan kesehatan diri mereka sendiri? Dengan kata lain, ini kan tindakan meracuni diri sendiri yang disengaja. Lagipula, uang untuk subsidi kesehatan mereka itu kan uang negara. Uang kita-kita juga. Bukan uang yang mak pluk… turun dari langit. Ya, kurang lebih begitulah yang aku dengar dari radio dari kemarin dan pagi tadi.

Aku tak tahu bagaimana pelaksanaannya di lapangan nantinya. Dan bagaimana caranya mengecek apakah si X perokok atau bukan? Aku sendiri kadang kecele ketika melihat seseorang yang dari tampangnya tidak kelihatan perokok, tapi ternyata dia merokok juga. Mungkin tidak sering sih–sesekali saja. Tapi kan tetep saja dia perokok.

Aku memang tidak suka dengan perokok. Tapi lebih jauh lagi kupikir, merokok atau tidak itu pilihan. (Termasuk memilih pasangan yang merokok atau tidak :p) Kalau mau merokok ya silakan saja, asal tidak mengganggu orang lain. Minimal tidak merokok di ruangan publik sehingga mengganggu orang-orang di sekitarnya yang berhak mendapatkan udara bersih. Dan kalau kemudian pemerintah mengeluarkan seperti yang diberitakan oleh radio tadi, itu kudukung banget deh!

Tak lama setelah aku mendengarkan radio tadi pagi, majalah Newsweek langganan kami datang. Dan ndilalah, ada sebuah artikel yang pas cocok dengan kebijakan pemerintah tadi. Judulnya: Crimes of The Heart, ditulis oleh Walter C Willet dan Anne Underwood. Apa isi artikel itu? Ini adalah feature tentang kota Albert Lea, Minnesota, Amerika. Jadi ceritanya, penduduk kota itu tahun kemarin tidak lebih sehat daripada penduduk Amerika lainnya. Tapi kemudian kota itu menjadi kota Amerika pertama yang menandatangani AARP/Blue Zones Vitality Project. Itu adalah proyek untuk menjadikan kotanya memiliki kebiasaan yang sehat. Gagasan ini dilontarkan oleh Dan Buettner, yang menulis buku The Blue Zones. Di buku itu dia mengemukakan kebiasaan-kebiasaan yang sehat. Tujuannya? Supaya orang-orang Amerika mengadopsinya. Caranya bagiamana? Bukan dengan memaksa orang untuk berdiet atau berolah raga. Lha terus? Tapi dengan mengubah lingkungan mereka sehingga mendukung gaya hidup yang sehat.

Perubahan apa saja yang sudah dilakukan kota itu? Kota itu membangun jalan yang menghubungkan kompleks perumahan penduduk dengan sekolah dan pusat perbelanjaan. Lalu juga dibuat jalan untuk rekreasi di sekeliling danau dan akan dibuat taman yang bisa dinikmati oleh masyarakat. Restoran-restoran mengganti menu mereka dengan menu yang sehat. Sekolah mengeluarkan larangan bagi murid-muridnya untuk makan di koridor–jadi, anak-anak tidak jajan. Lebih dari 2.600 orang dari 18.000 penduduk menjadi sukarelawan untuk menyeleksi apa saja yang menyehatkan jantung. Piring-piring superbesar yang memungkinkan orang mengonsumsi makanan dalam jumlah besar dieliminasi. Lalu mereka membentuk “walking schoolbuses” untuk mendampingi anak-anak berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. (Kalau naik sepeda sebenarnya asyik juga ya.)

Hasilnya? Dalam 6 bulan, orang-orang yang berpartisipasi dalam kegiatan itu berat badannya turun rata-rata 1,14 kg dan meningkatkan harapan hidup mereka 3,1 tahun. Hal ini bisa terjadi berkat pengaruh jaringan sosial (social network). Sebenarnya diet dan olahraga rutin itu gagal “melakukan tugasnya”–untuk membuat kita jadi lebih sehat–bukan karena kurangnya semangat, tetapi karena lingkungan sekitar tidak mendukung gaya hidup sehat. Sebenarnya kalau lingkungan kita mendukungnya dan semua–atau hampir semua–orang bergaya hidup sehat, sepertinya kita akan jadi terpengaruh untuk menjalankan gaya hidup sehat kan? Misalnya, kalau semua orang di rumah rajin berolahraga, kurasa aku juga akan ikut rajin olahraga juga hehehe. (Ketahuan kalau males olahraga :p).

Dalam gaya hidup sehat, tentu tak ada ruang bagi rokok. Kurasa sih, bukan soal orang (miskin) itu nggak mau berhenti merokok, tetapi karena lingkungan di sekitarnya sangat memungkinkan dia merokok dengan bebas. Harga rokok masih terjangkau. Larangan merokok di area publik tidak ditegakkan. Bahkan pernah aku melihat seorang polisi asyik merokok di dekat tanda dilarang merokok.

Tapi kupikir barangkali ada satu poin yang bisa dikemukakan: gaya hidup sehat itu pilihan. Orang bisa memilih untuk merokok atau tidak. Dan pemerintah memiliki “kuasa” yang sangat cukup untuk mendukung terbentuknya gaya hidup sehat itu. Mungkin ada yang dikorbankan, dan yang penting: mau atau tidak?

Take Something/Someone For Granted

Aku sebenarnya agak kerepotan untuk menerjemahkan istilah take something/someone for granted itu ke dalam bahasa Indonesia. Kalau minjem arti kata dari lelaki panjang alias Longman, penjelasannya begini: to expect that someone will always be there when you need them and never show them any special attention or thank them. Boso Jowo-nya: mengharapkan si X selalu ada pas kamu butuh dia, tapi kamu nggak pernah memberi perhatian istimewa kepadanya atau berterima kasih/bersyukur kepadanya. Intinya sih, dia mesti ada, tapi kita menganggap dia itu biasa-biasa saja. Weleh, kok kedengarannya agak kurang ajar begini ya? Hihihi.

Kalau kupikir-pikir, banyak hal yang ku-take for granted-in. Hal-hal itu keberadaannya kuanggap biasa-biasa saja. Kuanggap wajar. Kuanggap sudah semestinya begitu. Jadi, boro-boro bersyukur atau berterima kasih, dia ada saja kadang aku nggak sadar kok. Biasanya hal-hal itu baru terasa makna dan pentingnya pas kita kehilangan mereka. Manyun, deh!

Satu hal yang aku take it for granted adalah Gunung Merapi. Dulu, di awal-awal aku di Jogja, gunung yang gagah itu memang kuanggap “wah!”; aku takjub melihatnya. Perasaan takjub itu kurasakan sungguh ketika aku berangkat kuliah pagi-pagi, dan saat turun dari bus kota, aku “disapa” oleh gunung itu. Waktu itu, langit tampak bersih. Tak ada awan. Udara masih sejuk, dan agak dingin. Kendaraan di sekitar jalan Gejayan (sekarang jalan Efendi), memang sudah mulai banyak. Tapi toh aku masih merasakan syahdunya pagi itu. Dan, di situ, kulihat Merapi begitu gagah, kuat, bagaikan cowok cakep berbadan atletis. (Haiyah, sopo kuwi?) Saat itu, aku seperti jatuh cinta pada pandangan pertama pada Mas Merapi itu. (Uhuy!) Beberapa kali Merapi tampak indah seperti itu, tapi kadang samar-samar karena tertutup awan. Seiring berjalannya waktu, aku akhirnya melihat Merapi itu biasa saja. Ya sudah semestinya begitu–dia selalu nongkrong di sisi utara. (Jadi, Merapi itu penanda arah utara termudah di Jogja.) Setiap kali pergi ke utara, terutama jika lewat jalan Kaliurang atau Jalan Gejayan (dua jalan itu yang paling sering aku lewati), aku melihatnya. Dan yah, dia begitu-begitu saja. Tidak berubah.

Merapi dilihat dari depan rumah

Merapi semakin kuanggap biasa keberadaannya saat aku tinggal di Krapyak, Wedomartani. Rumahku menghadap ke utara. Jadi, jika aku berjalan beberapa langkah dari halaman rumah, aku melihat Merapi. Jika aku akan berangkat kerja atau pergi di pagi atau siang hari, kulihat Merapi. Jika aku pulang sebelum hari gelap, dia juga masih tampak. Sejak aku kuliah dan bekerja di Jogja, maka kira-kira sebelas tahunan aku akrab dengan pemandangan Merapi itu. Ya, ya … aku masih menganggap Merapi itu gagah dan ganteng (halah, lebaaaay!). Tapi ya sudah. Memang dia seperti itu. Well, singkat kata, lama-lama aku tidak mensyukuri keberadaannya.

Dan masa itu pun tiba. Masa-masa ketika aku harus mengemasi sebagian barangku yang kuanggap penting. Masa di mana berbagai macam perasaan muncul dan beradu begitu rupa–antara senang, sedih, bahagia, cemas, dan entah apa lagi. Ya, itu adalah masa ketika aku akan menikah, mengikuti suami, dan bersiap meninggalkan Jogja. Rasanya setiap detik begitu berarti. Seperti sepasang kekasih yang berdiri di depan kereta yang akan membawa pergi salah satu dari mereka. “Kemesraan ini, janganlah cepat berlaluuuu…” begitu mungkin lagu yang pas untuk menggambarkannya. (Hiks … hiks kok jadi inget siapaaaa gitu, ya?) Saat itu aku merasa aku begitu mencintai setiap jengkal kota itu. Saat itu aku baru sadar bahwa saatnya akan tiba ketika aku tak bisa memandang Si Gagah itu setiap pagi. Rasanya seperti ingin berdiri lama memandanginya dan merekam setiap lekuknya; dengan bau segar rerumputan dan padi memenuhi hidung. Tapi biar selama apa pun aku berdiri melihatnya, senja akan turun dan hari menjadi gelap. Merapi tak tampak lagi. Dan aku pun harus pergi. (Ya, waktu itu aku meninggalkan Jogja untuk berangkat ke Jakarta pada malam hari, jadi aku tak melihat Merapi pada detik-detik sebelum aku pergi.)

Eh, tapi kenapa sih aku menulis soal Merapi dan take it for granted? Karena beberapa hari kemarin aku bertemu dengan teman lamaku, Om Ibel. Dulu kami seruangan. Tempat duduknya berseberangan denganku. Menurutku dia teman yang enak diajak ngobrol. Kadang dia lucu, kadang tegas, kadang njelehi, kadang keluar bijaknya, kadang nyebelin juga. Tapi dia kawan yang baik. Meskipun dia sudah meninggalkan Jogja dan kini bekerja di kampung halamannya di Sorowako sana, dia masih selalu ingat kami. Setidaknya dia berusaha mengontak dan mengajak kami bertemu jika dia sedang ke Jawa–ke Jogja atau kali ini ke Jakarta. (Eh, Jakarta itu termasuk Jawa apa bukan ya? :p)

Danau Matano di dekat rumah Om IbelKetika kami bertemu, dia memperlihatkan beberapa foto: anaknya, istrinya, rumahnya, mobilnya, mertuanya, kegiatannya, para keponakannya, dan danau dekat rumahnya. “Eh, rumahmu itu deket danau ya Om? Asyik dong!” spontan aku berkata begitu. Aku langsung membayangkan asyiknya duduk di tepi danau setiap sore. Sepertinya menyenangkan ya?
“Iya,” jawabnya.
“Berapa kilo jarak dari rumahmu ke danau, Om?”
“Kilo? Wong cuma beberapa meter kok.”
“Wiiih… asyik banget tuh Om!”
“Iya, awalnya begitu. Tapi lama-lama biasa saja.”

Tepat seperti itulah yang kurasakan dengan Mas Merapi dulu. Awalnya senang, takjub, gembira melihatnya, tapi lama-lama biasa aja tuh! Dan kini Om Ibel mengatakan hal yang serupa mengenai danau di dekat rumahnya. (Duh Om … suer, aku iri denganmu. Punya rumah di dekat danau gitu loooh! Apalagi pemandangan kiri kanannya masih hijau dan menyegarkan.)

Ya, memang manusia punya kecenderungan untuk menganggap semua hal yang di sekelilingnya biasa saja. Wajar. Menganggap sudah begitu adanya. Take it/them for granted. Tapi pengalamanku dengan Merapi mengingatkan bahwa akan tiba saatnya nanti, hal-hal itu atau orang-orang itu akan terasa begitu istimewa. Dan sayangnya, keistimewaan itu muncul ketika kita atau mereka tiada atau akan beranjak pergi. Lalu aku jadi berandai-andai, kok dulu tidak sungguh-sungguh menikmatinya, ya? Kok dulu tidak menyempatkan begini atau begitu, ya? Kok baru sekarang sadarnya, ya? Nah, saat itu kadang aku jadi kumat melankolisnya. Kupikir, senantiasa mensyukuri atau merasakan keistimewaan hal-hal/orang-orang itu adalah cara yang tepat untuk mengurangi pengandaian yang membuatku melankolis itu.

*Foto pertama diambil oleh Oni Suryaman. Foto kedua adalah Danau Matano di dekat rumah Om Ibel, foto itu hasil bidikan temannya. (Makasih Om atas kiriman fotonya :D)

Aku dan Televisi

Sejak di Jakarta ini, aku jarang sekali menonton televisi. Belum tentu seminggu sekali menonton televisi. Kalaupun menonton, paling tak lebih dari satu jam, dan itu pun bukan acara televisi yang kugemari. Kenapa bisa begitu? Karena aku tidak punya televisi. Lebih tepatnya belum memilih atau memutuskan untuk punya televisi. Hare geneeee, kagak punya tipi? Nyang bener aje? Iya, bener… kami, aku dan Oni suamiku, masih memilih untuk mengandalkan internet dan radio. Televisi belum jadi pilihan. Jadi aku paling menonton televisi saat maen ke rumah temanku yang berjarak tiga gang dari rumahku. Tapi itu pun paling yaaaa … seminggu sekali lah. Dan biasanya yang sedang disetel oleh keluarganya adalah sinetron. Lagi pula, jika malam hari apa ada acara lain yang bisa ditonton selain sinetron?

Tidak adanya televisi yang siap disetel dan ditonton setiap saat ini sudah berlangsung hampir dua tahun. Tapi sebenarnya ini bukan kejadian baru. Ketika aku di asrama dulu, menonton tivi juga bisa dibilang sangat jarang kulakukan. Di asrama ada tivi sih, tapi hanya boleh ditonton kalau pas jam berita dan pas malam minggu sampai minggu siang saja. Tapi biasanya pas jam berita pun tak ada anak asrama yang menyetel tivi. Yang paling rame adalah ketika malam minggu. Ruang tamu yang cukup luas itu separonya dipenuhi dengan anak-anak asrama. Jadi, kalau ada teman yang datang di malam minggu, ya jadi kurang nyaman ngobrolnya karena anak-anak asrama yang nonton tivi itu pasti hebooooh. Hehehe.

Beberapa hari yang lalu, anaknya temanku datang ke rumah dan bertanya, “Jadi, Tante tidak menonton tivi?” Terdengar nada heran di suaranya.

“Enggak,” jawabku pendek.

“Trus gimana?” tanyanya lagi.

“Ya nggak gimana-gimana,” jawabku enteng.

Mungkin bagi banyak orang, tidak menonton tivi adalah hal yang tidak biasa. Setiap rumah hampir selalu ada televisi, dan jika ada tamu yang berkunjung, siaran televisi jadi salah satu “hidangan” yang disuguhkan. Jadi, kalau sedang kehabisan bahan pembicaraan, nonton tivi saja bareng-bareng. Itu sudah (dirasa) cukup.

Aku bukan orang yang betul-betul anti dengan siaran televisi. Kalau aku pulang ke Jogja, aku juga masih menonton televisi kok. Yang biasanya kutonton adalah acara memasak, jalan-jalan, dan film kartun! Hihihi. Kalau ada film yang bagus kadang aku tonton juga.

Tapi ada satu hal catatanku kalau menonton tivi: males banget kalau lihat sinetron. Uuuuhhh! Membosankan! Ceritanya wagu dan nggak mutu. Akting pemainnya pun konyol: ada yang suka ngomong sendiri di pojokan, dandannya yang lebay, akting yang pas-pasan. Tapi aku heran, kok sepertinya banyak juga yang nonton ya?

Ngomong-ngomong soal sinetron,Β  duluuuu … waktu televisi-televisi swasta belum ada–waktu TVRI masih jaya-jayanya, aku termasuk pecinta sinetron. Aku masih ingat beberapa sinetron yang aku sukai: Serumpun Bambu, Jendela Rumah Kita, Dokter Sartika, ACI–Aku Cinta Indonesia, mmm…. trus apa lagi ya? Oiya, Losmen. Trus, waktu itu juga dibuat tayangan cerita Sengsara Membawa Nikmat (yang kemudian Sandy Nayoan jadi banyak yang naksir tuh) dan Sitti Nurbaya. (Btw, dua yang terakhir aku sebutkan itu termasuk sinetron apa enggak ya?) Rasanya, dulu aku selalu menanti-nantikan tayangan sinetron deh. Dan dulu sinetron tidak diputar tiap hari. Seminggu sekali kalau tidak salah. Dan kalau aku kelewatan menonton satu seri saja, rasa kehilangan itu dalam sekali rasanya (haiyah, lebay deh!). Rasa-rasanya sinetron zaman dulu ceritanya sederhana tapi mengena. Dan aktingnya cukup bagus. Ini apa karena waktu itu aku masih kecil, jadi hal yang biasa saja sudah tampak bagus ya?

Sekarang, dengan jarangnya aku menonton televisi, aku tak tahu lagi apa saja sinetron, lawakan, atau acara lain yang sedang hit. Aku juga tidak tahu gosip para selebritis yang sedang marak dibicarakan. Walaupun akhirnya tahu, tapi biasanya aku sudah termasuk ketinggalan berita. Tapi meski begitu, kenapa aku rasanya tidak kangen dengan tayangan-tayangan televisi yang ada ya? Anak temanku tadi mungkin tak bisa mengerti kenapa aku tidak merindukan televisi. Dan kurasa tak banyak orang yang bisa mengerti. Tapi bagiku, hari-hari berlalu tanpa televisi, kok rasanya biasa saja ya?

Kalau bagi kalian, sepenting apa sih televisi itu dalam hidup kalian?

Mau Nulis Seperti Apa di Blog?

Sebenarnya aku cuma ingin bercerita tentang kejadian sekitar 1 tahun lalu. Waktu itu aku sedang jalan-jalan di Bandung. Singkat, kata … aku dan suamiku pengen mampir ke sebuah toko buku. Seingatku waktu itu toko buku yang hendak kami datangi itu sedang ada promosi atau apaaa gitu. Lupa deh. Aku cuma baca sekilas informasi itu di milis.

Kupikir orang seantero Bandung tahu tentang toko buku itu. Jadi, sebelum berangkat ke Bandung aku tidak mencatat apa pun tentang alamat atau ancer-ancer lokasi toko buku itu. Nanti gampang lah tanya temen yang kujumpai di Bandung.

Sesimpel itukah? Ternyata tidak, Sodara-sodara!

Waktu itu, sebelum berangkat aku cuma tanya ke seorang teman, “Eh, kamu tahu toko X?” Temanku menggeleng. Yak, jawaban yang singkat dan tepat! Seratus. Oke, nggak apa-apa. Nanti sambil jalan saja tanya orang lagi. Waktu itu aku cuma ingat nama daerahnya. Jadi, aku cuma naik angkot ke daerah itu dan berpikir akan menemukannya dengan mudah. Tapi ternyata tidak ada yang tahu!

Huuu… Gimana nih? So, mesti tanya ke siapa lagi?

Tak lama kemudian, aku melihat ada sebuah warnet. Daripada pusing-pusing, aku masuk ke warnet itu dan bertanya ke mbah Google. Yuhuuu… dalam hitungan detik, aku mendapatkan informasi yang aku butuhkan. Untuk informasi itu, aku cukup membayar 1.000 rupiah. (Tarif minimal warnet segitu kan?) Seingatku, waktu itu aku mendapat informasi itu dari sebuah blog.

Pengalamanku itu masih sangat membekas. Dan ini berkaitan dengan pemikiranku mengenai banyaknya informasi di dunia maya. Tapi kadang saking banyaknya, informasi yang ada justru membuat kita tersesat. Tersesat? Iya, karena kadang informasi yang ada justru hanya sebuah pancingan supaya kita masuk ke situs tertentu yang isinya cuma–sorry–jualan yang nggak jelas. (Jualan di internet sah-sah saja kok. Tapi kalau yang dijual tidak jelas, itu yang bikin males.)

Nah, aku pikir … menulis hal yang berguna di blog, yang berisi informasi penting dengan bahasa yang enak, bisa jadi salah satu pilihan jenis tulisan yang akan diposting di blog. Boleh-boleh saja menulis yg isinya curhat. Tapi kalau bisa sih, curhat yang membangun, yang bisa ditarik manfaatnya oleh orang lain. Apalagi kalau tulisannya enak dimengerti, dengan font yang ramah di mata. Soalnya kadang aku mendapati blog yang amburadul–ya bahasanya, tampilannya, atau isinya. Hiks, dengan sangat terpaksa, aku akan skip blog itu. Baca aja males apalagi mau komentar.

Well, aku mau blogwalking lagi ah…