Cerita Mengantri (di Quiznos)

Adakah orang yang senang mengantri? Aku tidak. Mungkin kebanyakan orang juga tidak. Tapi entah kalau ada ya. Mengantri gajian, mungkin lain ceritanya. Kamu pernah? Aku belum, hehe. Yang pernah sih antri mendapatkan uang ganti ongkos transport. Itu pun tidak sepenuhnya mengantri alias berjajar di depan pintu untuk masuk ruangan. Yang kulakukan adalah mengobrol dengan beberapa teman biar tidak terasa kalau benar-benar menunggu.

Soal mengantri, aku punya cerita baru. Ceritanya kemarin malam Oni mengajakku ke Quiznos. Beberapa kali dia menyebut nama itu dan pengin mencoba ke sana. Waktu googling, ternyata tempatnya tidak terlalu jauh dari rumah. Oke, deh cobain.

Waktu masuk ke sana, kulihat lumayan juga antriannya. Di sisi kanan, antrian agak rapi: orang berjajar menunggu dilayani oleh kasir. Yang di deretan kiri, berjubel tidak jelas. Karena sebenarnya tidak tahu mesti mengantri di sebelah mana, jadi kami antri di sisi kanan yang rapi itu. Kupikir model antrinya kaya di KFC atau McD, yang setelah bayar, kita nunggu sebentar trus makanan bisa langsung kita bawa ke meja. Rupanya tidak begitu. Ternyata setelah mengantri membayar di kasir, kami mesti ikut berjubel antri di lajur kiri untuk mengambil pesanan makanan.

Kami dapat nomor 210, sementara tidak jelas yang dilayani sudah sampai nomor berapa. Pelayan di belakang meja awalnya tidak menyebutkan angka. Mereka hanya sibuk membungkus. Pantas saja orang berjubel. Semua mau dilayani lebih dulu, kan? Namanya juga orang Indonesia. Susah disuruh tertib. Akhirnya Oni tanya-tanya ke pembeli lain, dan ternyata ketahuan yang dilayani baru nomor 195. Weh, suwi ki, batinku. Memang benar-benar lama. Keju nek kon ngadeg terus, cah! Seingatku baru setelah sampai angka 201, pelayan di balik layan menyerukan angka. Waktu sedang antri, sambil bercanda aku bilang sama Oni: “Mbak-mbak petugasnya tuh kalau ibarat main dinner dash, udah game over.” Lha suwine pol, jeee. Entah karena kurang cepat melayani, entah alat untuk pemanggangnya yang mesti ditambah atau gimana, aku nggak tahu deh. Namanya pembeli kan tahunya makanan disajikan dengan cepat, enak. Begitu kan?

 

IMG_20150726_190441
Antri dengan kemruyuknya…

Akhirnya tiba saatnya nomor kami disebutkan. Yang melayani adalah petugas yang tidak memakai seragam seperti karyawan lain. Mungkin atasan mereka? Entahlah. Dia pakai baju garis-garis vertikal. Saat sedang melayani sub pesanan kami, aku tanya: “Apakah selalu antri banyak begini?” Dia menjawab, “Iya, kalau weekend selalu begini.” Yeah… berarti kesimpulannya mereka tidak memberlakukan sistem mengantri yang lebih baik dong. Iya kan? Iya kan? Dan ini bukan kejadian yang pertama. Artinya, mereka tidak belajar. Apakah menunggu para pembeli punya inisiatif untuk tertib sendiri? Hihi. Tidak akan mungkin lah. Situ ngimpi apa ngelindur?

Mongomong, Quiznos ini apa sih? Kalau kata Om Wiki, Quiznos ini adalah restoran waralaba makanan cepat saji, yang pusatnya di Denver, Colorado. Utamanya mereka menyediakan toasted submarine sandwiches. Ini semacam roti tangkup trus diisi entah daging, keju, sayur. Silakan googling kalau mau tahu foto-fotonya karena aku kemarin malas memotret. Sudah capek antri, mesti memfoto makanannya juga? Keburu lapaaar…

Quiznos Sub ini lokasinya di Jalan Pemuda, Rawamangun. Sebelah baratnya Arion. Kalau nggak tahu barat sebelah mana, bawa kompas ya. 😀 😀 Kafe ini sebelahan dengan pom bensin. Tempat parkirnya lumayan luas, tempat duduk di dalam juga cukup banyak, plus ada tempat di atas. Tapi aku tidak naik, jadi tidak tahu bagian atasnya seperti apa.

Soal rasa makanan, hmmm… lumayan. Rotinya enak, empuk. Tapi entah kenapa, di lidahku after taste-nya agak gimanaaa, gitu. Mungkin dressingnya keasinan? Entahlah. Kalau soal rasa begini, kurasa subyektif. Aku pesan yang Traditional kemarin. Ukuran rotinya 6 inchi. Oh, iya, untuk ukuran ini sebenarnya aku agak kurang sreg. Orang Indonesia kan tidak biasanya dengan ukuran inchi ya? Kenapa mereka memakai kata inchi waktu bertanya ke pembeli? Kalau bilang, kira-kira 15 senti, begitu kan orang lebih cepet nangkapnya.

Harga makanannya mahal, menurutku. Kemarin kami habis 60-an ribu hampir 70 ribu. Itu kami hanya pesan satu plus air mineral botol. Dengan mengeluarkan uang yang kira-kira hampir sama, kami bisa makan di Restoran Padang Sederhana dengan lauk yang meriah. Hahaha. Nggak apple to apple sih kalau membandingkan jenis makanannya. Ini hanya membandingkan besaran uang yang mesti dikeluarkan dan tingkat rasa kenyang, kok.

Apakah aku akan balik ke sana? Hmm… kalau ditanya begitu, aku kayaknya akan mikir-mikir deh. Kalau ada yang mentraktir, kalau tidak pakai nunggu lama, kalau tidak pas lapar banget, mungkiiiin… masih mau. Tapi kalau enggak, kok kayaknya aku mending ke tempat makan yang lain ya? Mungkin aku bukan termasuk sasaran pasar mereka sih, karena yang jelas Quiznos ini membuatku mesti merogoh kantong agak dalem, dan jelas ini akan sangat jarang kulakukan. Plus karena antrinya itu membuat maleeezz. Namanya restoran cepat saji, masak nunggu makanannya pakai lama? Mending beli nasi Padang kan? Lebih cepet, lebih meng-Indonesia. 😀 😀

Advertisements

Ujian Tujuh Tahun

Bulan lalu, ketika aku ulang tahun, salah satu yang mengucapkan selamat adalah seorang teman lama. Teman SD-SMP. Aku agak surprised waktu menerima ucapan darinya. Sebenarnya ucapannya biasa saja, tapi tahu bahwa dia masih ingat diriku dan ingat tanggal ulang tahunku, itu surprising. Aku sendiri, masih selalu ingat tanggal ulang tahunnya–semata-mata karena kami ulang tahun di bulan yang sama. Hanya selisih kira-kira satu minggu. Tapi memang sih di antara banyak teman sekolah dulu, hanya satu-dua orang yang masih berkontak denganku, salah satunya ya dia itu. Walaupun tidak sering kontaknya, paling tidak pas aku pulang, aku sesekali masih main ke rumahnya.

Pernah, suatu kali aku ditanya suamiku, “Kalau bisa balik ke masa lalu, kamu mau balik ke masa kapan?” Aku segera menjawab: “Masa SMP.” Bagiku, masa SMP itu asyik banget. Aku mendapat teman-teman yang menyenangkan. Guru-gurunya juga asyik. Mungkin kalau anak sekarang bilang: Guru-gurunya gaul. Salah satu ulang tahun terbaik yang pernah kualami adalah masa SMP—dirayakan pas malam satu suro, kalau nggak salah, trus waktu itu entah gimana ada beberapa teman melekan di sekolah. Hadiah yang kuterima waktu itu adalah sisir yang guedeee banget!. Haha. Aku masih ingat sampai sekarang.

Soal pertemanan, belakangan aku merasa sepertinya aku lebih banyak berteman lewat dunia maya–lewat FB dan belakangan WhatsApp (WA). Kalau di FB, teman-teman di ada di daftarku rata-rata teman sekolah dulu, teman blog, sesama penerjemah, beberapa teman penulis, teman asrama, teman eks kantor. Kalau di WA, aku ikut—lebih tepatnya diikutkan—beberapa grup. Tapi hanya dua yang biasanya aku cukup aktif nimbrung: grup teman kuliah di Sastra Inggris dulu dan grup Litara Sista—teman dari grup Litara yang pernah ikut workshop awal tahun lalu.

Di dua grup WA itu, aku merasa “punya teman.” Ng… maksudnya gini, karena aku lebih sering bekerja sendiri di rumah, tanpa rekan kerja, teman-teman di grup itu jadi semacam teman yang ada di seberang meja yang meramaikan ruang kerjaku. Di grup teman kuliah, bahasannya ngalor ngidul dan teman-teman cukup ramai sahut-sahutan. Akibatnya bagi yang tidak suka keriuhan biasanya meninggalkan grup tersebut. Kalau di grup Litara Sista, yang dibahas macam-macam. Mulai soal tips dan trik nulis sampai soal kontrakan rumah. Beneran kaya punya saudara-saudara perempuan kalau di grup ini. 😀

Dan pagi ini aku menemukan (lagi) kutipan ini: If a friendship lasts longer than 7 years, psychologists say it will last a lifetime. Jika persahabatan berjalan lebih dari 7 tahun, para psikolog mengatakan persahabatan itu akan langgeng seumur hidup. Seketika aku teringat teman-teman lamaku, juga teman-teman di grup WA tersebut. Aku tidak tahu sampai berapa lama teman-teman yang ada di grup WA itu akan bertahan. Lagi pula, WA sendiri bakal bertahan sampai berapa lama? 😀 😀 Tapi mengingat beberapa teman lamaku yang masih berkontak sampai sekarang, rasanya jelas sudah tujuh tahun berlalu kami berteman. Kalau bisa sih, saat usiaku semakin bertambah nanti, aku pengin punya teman-teman lama yang tetap saling mendukung, saling mengingat, saling menyayangi.

Memungut Yang Tercecer dari Akhir Pekan

Beberapa waktu lalu aku menginap di rumah iparku. Bagiku rumahnya cukup jauh. Jauh dari mana-mana pula. Hal itu rasanya semakin diperparah karena kami tidak punya kendaraan sendiri. Jarak rumah ke warung atau toko kelontong terdekat mesti pakai acara jalan kaki minimal 15 menit. Atau lebih ya? Dan itu pun cuma ada satu warung. Kebayang dong kalau barang yang kita butuhkan tidak dijual di warung tersebut? Aku dan suamiku berpikir, mestinya kalau tinggal di kompleks yang jauh dari mana-mana begitu, minimal punya sepeda motor.

Aku yang selama tinggal di Jakarta tidak susah mendapatkan kendaraan umum, jadi merasa semacam gegar budaya. 😀 😀 😀 Segitunya ya. Padahal aku cukup sering mengeluh karena di Jakarta ini aku mesti naik kendaraan umum yang kualitas pelayanannya kadang yaaaa… gitu deh. Tapi ternyata itu masih lebih meding daripada tinggal di kompleks yang tidak dilewati kendaraan umum dan kalau mencari taksi, tidak bisa keluar rumah lalu menunggu taksi yang seliweran di jalan.

Kompleks iparku itu, selain tidak mudah mendapatkan kendaraan umum (memang ada shuttle bus, tapi jamnya terbatas), ternyata cukup jauh pula dari gereja. Naik taksi mungkin habis ongkos 50 ribu? Mungkin. Aku kurang tahu sih. Kalau lihat di google maps, sepertinya jaraknya cukup lumayan. Aku baru kali itu merasa bersyukur sekali karena ternyata selama ini tempat tinggalku selalu relatif dekat dengan gereja. Waktu aku masih kecil sampai remaja dan tinggal di Madiun, jarak dari rumah ke gereja bisa ditempuh naik sepeda sekitar 10-15 menit. Itu sudah dihitung kalau kena lampu merah, ya. Waktu kuliah dan tinggal di Jogja, di asrama ada kapel. Unitku bisa dibilang sebelahan dengan kapel (kecuali dua tahun terakhir, karena aku dapat unit yang dekat gerbang dan jauh dari kapel). Untuk misa minggu, jarak ke kapel yang lebih besar dan gereja, juga sangat dekat. Jalan kaki 10 menit sampai. Waktu kami punya rumah di Jogja, jarak dari rumah ke gereja terdekat, hanya sekitar 1,5 km. Kalau mau misa di gereja lain, jaraknya juga tidak jauh. Saat aku di Jakarta, di kontrakanku yang pertama, jarak ke kapel terdekat, hanya butuh jalan kaki 10 menit. Dan di tempat tinggalku yang sekarang, jarak ke gereja terdekat, hanya sekitar 10-15 menit naik kendaraan umum.

Mestinya dengan jarak yang sangat terjangkau dari rumah ke gereja atau kapel ini membuatku lebih rajin misa, ya. Tapi ternyata tidak hahaha. Kalau misa hari Minggu, sih aku usahakan untuk selalu datang–kecuali sakit atau malas akut. Tapi dulu banget, waktu di Madiun, pada suatu masa, aku cukup rajin misa harian. Dan sebetulnya, misa harian itu lebih “nyes”… Itu buatku, ya. Mungkin ini subjektif.

Sebenarnya aku semakin “dipermudah” dengan jadwal misa Minggu yang lumayan banyak. Minggu pagi saja, jadwal misa sampai tiga kali. Misa minggu sore, dua kali. Jadi, kebangetan kalau aku beralasan tidak sempat misa. Bahkan jika aku bangun siang pun, aku masih bisa ikut misa Minggu pukul 10.30 atau misa sore.

Sudah dua kali hari Minggu ini aku misa di jadwal paling akhir: pk 19.00. Sebenarnya alasannya adalah aku terlambat bangun pagi sehingga tidak bisa ikut misa Minggu pagi jam 6.30. Mau yang siang, malas. Misa siang cenderung lebih ramai menurutku. Hari ini aku memilih misa paling akhir. Misa jam 19.00 cenderung lebih sepi. Cocok buatku karena aku lebih suka misa yang paling sepi. Misa yang sepi biasanya membuatku lebih bisa menikmati dan meresapi pesan yang disampaikan saat misa. Dan aku merasa perlu mencatat satu hal yang kurasa penting dari homili hari ini: Buah keheningan adalah doa. Buah doa adalah kasih. Buah kasih adalah tindakan nyata yang penuh kasih. Hal ini mengingatkan aku supaya lebih rajin menyisihkan waktu untuk mencari keheningan. Semoga!

Sebelum Lebaran Tiba …

Kalau ada satu hal yang kusyukuri setiap kali lebaran tiba adalah soal aku tidak wajib mudik. Simbah yang wajib kusowani pada saat hari raya sudah seda (meninggal) semua. Plus aku tidak merayakan Idul Fitri, jadi Bapak dan Ibu tidak mewajibkan aku untuk pulang. Bagiku, membayangkan mudik saat lebaran itu sesuatu yang “malesin” banget. Mesti rebutan beli tiket yang harganya melejit. Oh, enggak deh. Pertama, aku bukan orang yang suka rebutan. Kedua, kalau bisa pulang saat tiket murah, kenapa mesti pulang saat tiket mahal? Hmmm…

Sudah lebih dari lima kali lebaran kuhabiskan di Jakarta. Awalnya dulu kubayangkan lebaran bakal membuat Jakarta mendadak lengang dan super sepi. Nyatanya tidak persis begitu. Masih ada daerah yang cukup ramai kok. Jalan Sudirman-Thamrin sih wajar kalau sepi. Itu kan daerah perkantoran. Kantor mana yang masih buka di saat lebaran?

Tapi lebaran di Jakarta itu mesti menerapkan tips tersendiri. Tadi pagi aku ke pasar. Niatku hanya membeli sayur untuk kumasak hari ini saja. Lebaran masih hari Jumat depan, kan? Jadi kalau mau menimbun sayuran, kupikir bisa dua hari lagi. Tips pertama yang selalu kuingat adalah belilah sayur cukup banyak sebagai persediaan karena saat lebaran, pasar biasanya sepi. Tapi waktu bertemu dengan penjual sayur langgananku, aku agak heran. Kok sayur bawaannya sedikit? Waktu kutanya, ternyata hari ini dia terakhir berjualan di pasar. Besok sudah libur. Waduh… Sebetulnya masih ada sih beberapa penjual sayur lain. Tapi kalau si bapak sayur ini besok sudah libur, bisa jadi besok beberapa penjual sayur juga libur. Waaaa… pegimana, nih? Dan rencanaku belanja sayur untuk hari ini saja batal. Aku belanja pula beberapa jenis sayur yang bisa tahan disimpan agak lama: wortel, brokoli, kentang… eh, kentang tidak termasuk sayur ya? Untungnya aku bawa uang lebih.

Tips kedua yang wajib dilakukan adalah menyetok persediaan air mineral galonan. Dan puji Tuhan, abang tukang air galonan belum mudik. Ahay! Air minum sebanyak 3 galon kini duduk manis di sudut rumah. Legaaaa.

Yang perlu kupikirkan untuk beberapa hari ke depan adalah menyiapkan persediaan buah-buahan. Hari ini aku masih punya persediaan pepaya agak besar yang mungkin bisa untuk tiga hari. Nah, sebelum lebaran tiba, aku mesti menyetok buah lagi. Semoga harganya tidak mahal banget.

Catatan Kenangan

Dari Tok, untuk Ning
Kau tahu, aku tak pandai berpuisi. Waktu memang berlalu, tapi kata-kataku masih sama: Kau yang pertama dan terbaik.

Dari Ning, untuk Mas Tok
Menunggumu adalah perjalanan dari purnama ke purnama;
mengikatkan hati pada kenangan yang terlukis di tepian hutan jati, dengan bulan di balik bayang-bayang dedaunan.
Kenangan kita menjadi pegangan.
Dirimu tak pernah usang.

Terima kasih untuk segala kenangan. Kapan kita melukis kenangan lagi?