Kisah Warna-Warni

Alkisah, ada satu perusahaan. Sebut saja perusahaan itu namanya Warna-Warni Asri. Disebut begitu karena yang bekerja di perusahaan itu terdiri dari dari beberapa kelompok orang yang kulit tubuhnya warna-warni. Ada tujuh kelompok warna. Karena ini dongeng, kelompok orang-orang ini kulitnya sungguh unik, yaitu berwarna hijau, kuning, merah, biru, ungu, cokelat, dan putih.

Hubungan antar kelompok yang berwarna-warni di dalam perusahan itu baik-baik saja. Dari dulu mereka suka saling berkunjung kalau ada rekan yang sakit, apa pun warna kulitnya. Kalau ada yang gembira, mereka juga saling berbagi kebahagiaan. Saling bantu, saling dukung, itu biasa bagi mereka. Selain itu, mereka punya semboyan, “Majukan Warna-Warni Asri!” Mereka sudah bekerja lama sekali di perusahaan itu. Banyak dari mereka yang bekerja secara turun-temurun. Tapi itu tidak masalah. Bahkan perusahaan itu semakin mendunia.

Perusahaan itu didominasi kelompok orang yang berwarna merah. Nah, orang-orang merah ini karena bawaan orok, suka sekali apa saja yang berwarna merah. “Semua harus merah!” Jadi mereka takut-takut berbaur dengan warna yang lain karena khawatir warna mereka bisa pudar. Mereka takut jadi berkulit merah muda jika dekat-dekat dengan orang dari golongan kulit putih. Takut jadi biru, kalau dekat-dekat dengan orang golongan kulit hijau. Ya, begitulah. Entah mengapa mereka bisa seperti itu. Mungkin karena gen bawaan membuat mereka takut.

Suatu kali tiba saatnya pemilihan direktur yang baru. Direktur lama sudah sakit-sakitan. Sudah pikun dan sering membuat keputusan yang ngawur. Nah, karena kelompok orang-orang berkulit merah ini mendominasi, mereka ingin sang direktur terpilih nanti berkulit merah. Memang sih selama ini direktur Warna-Warni Asri ini selalu dari kelompok orang kulit mereka. Tapi sebetulnya orang dari kelompok lain, banyak yang baik dan mampu menjadi pemimpin.

Suatu hari Pak Pendek dari kelompok merah berkata berkata kepada orang-orang kelompok enam warna lainnya, “Teman-teman, kalian ingin perusahaan ini semakin maju bukan? Bagaimana kalau direktur yang kita pilih nanti dari kelompok kami saja? Kami pasti melindungi dan menjaga kelompok kalian. Kami sayang pada kalian. Tapi, kami cuma mau direktur perusahaan ini berasal dari kelompok merah. Lihat, ini Pak Jambul, dia sudah pengalaman dalam menjalankan berbagai mesin. Dia pasti bisa menjadikan perusahaan ini semakin maju.”

Pak Nggambleh dari kelompok ungu menjawab, “Pak Pendek, kami punya jagoan yang sama pandainya dengan Pak Jambul. Lihat ini Pak Jangkung, dia pandai mengatur keuangan perusahaan. Kalau Pak Jangkung tidak hemat dan cermat dalam mengatur uang, perusahaan ini sudah hancur dari dulu. Lagi pula, apa salahnya jika Pak Jangkung dari kelompok ungu yang menjadi direktur?”

Bu Mlenuk dari kelompok merah langsung menjawab, “Pak Nggambleh, kami ini sayang dengan kalian semua. Kami tidak punya maksud buruk. Tapi dalam kelompok kami ada tertulis peraturan bahwa pemimpin terbaik adalah dari kelompok merah. Tidak bisa tidak.”

Sontak orang-orang dari kelompok lain berbisik-bisik dan tampak bingung. Bagaimana bisa kelompok merah itu mengatakan sayang kepada kelompok lain, tapi mereka tidak mau menerima jika perusahaan itu dipimpin oleh orang yang juga cerdas dan dapat mengayomi dari kelompok lain? Kali ini memang Pak Jangkung yang ditolak. Tapi kelompok hijau punya Bu Sumeh yang dapat mendengarkan keluhan para karyawan lain dengan dengan baik plus bisa memberi solusi yang baik. Dari kelompok putih, ada Pak Botak yang pengetahuannya dalam bidang manajemen sudah diakui dunia. Dari kelompok biru ada Bu Rambut Bob yang mumpuni dalam bidang pemasaran produk. Dari kelompok kuning ada Pak Sentir (karena ke mana-mana bawa sentir) yang sangat cerdik dalam membuat strategi. Dari kelompok cokelat ada Bu Poni yang sangat kreatif dalam membuat produk-produk baru yang sangat laris.

Mendengar cerita ini aku pun jadi gerah. Kenapa sih kelompok merah ini tidak mau dipimpin orang dari kelompok lain? Padahal toh dari kelompok lain juga sama-sama baik dan pasti bisa memajukan perusahaan Warna-Warni Asri. Kalau mereka benar-benar sayang dengan kelompok lain dan mau memajukan perusahaan, mengapa mesti curiga kepada yang lain? Ah, entahlah. Aku juga tidak mengerti. Semoga perusahaan Warna-Warni Asri itu tetap maju. Sayang kalau bubar … Apalagi jika bubar hanya karena kebencian dan prasangka yang tidak perlu.

biar beda-beda, kalau rukun kan cakep. walaupun sederhana, tetap menarik. iya nggak sih?

 

Foto: koleksi pribadi; lokasi Pantai Depok, Yogyakarta.

Aras-arasen

Libur Lebaran sudah lewat. Banyak orang ini barangkali adalah hari pertama masuk kantor. Mungkin masih banyak aras-arasen? Aras-arasen adalah istilah bahasa Jawa yang artinya kira-kira enggan untuk memulai suatu aktivitas. Biasanya aras-arasen itu kita rasakan saat kita baru bangun tidur atau bisa juga setelah liburan–entah libur panjang atau pendek sama saja. Artinya dekat dengan malas, tapi menurutku aras-arasen agak beda dengan malas. Barangkali ada teman-teman yang bisa menjelaskan istilah ini dengan lebih ciamik? Monggo kemawon, bisa jadi bahan postingan lo. 🙂

Aras-arasen ini memang susah-susah gampang mengatasinya. Mungkin kalau diibaratkan orang bangun tidur, aras-arasen ini kondisi yang kata orang disebut: “nyawanya belum ngumpul.” Nah, jadi bagaimana mengatasinya? Kalau orang baru bangun sih caranya bisa dengan cuci muka atau malah mandi sekalian. Jadi segar kan? Atau mulai beraktivitas kecil-kecil, seperti jalan-jalan di halaman sebentar. Asal kena udara luar sedikit dan sinar matahari yang hangat, biasanya rasa itu akan hilang. Itu kalau aku sih.

Nah, tapi kalau aras-arasen ini melanda kita di tempat kerja, bagaimana dong? Masalahnya, aku sudah lama tidak ngantor sih, jadi lupa deh. He he. Tapi aku sebagai orang yang bekerja di rumah juga pernah dilanda aras-arasen kok. Kalau dulu di kantor, lihat teman yang dengan rajinnya bekerja di depan komputer, aras-arasen itu biasanya perlahan-lahan mulai hilang. (Kayaknya rajin itu menular deh ya?) Sekarang biasanya aku akan mulai baca-baca lagi pekerjaan yang aku tinggalkan. Kalau aras-arasennya agak parah, biasanya aku memaksa diri untuk mengambil sapu. Hehe, jadi OB. Sepertinya menggerakkan badan bisa jadi obat.

Lalu, kalau aras-arasen ini berkaitan dengan ngeblog bagaimana? Males nulis dan tidak tahu mesti posting apa. Kalau ini lebih gampang cara menanggulanginya. Caranya adalah dengan blogwalking. Terutama berkunjung ke teman-teman yang rajin posting. Biasanya jadi terpicu deh. Lihat si A sudah posting sekian puluh dalam seminggu (eh, ada nggak sih orang yang kaya gini?), kita jadi semangat kan?

Betewe, sebenarnya siang aku ini juga aras-arasen. Sepertinya ini karena tidur siang. Padahal nggak lama lo tidurnya. Bangun tidur pengennya cuma baca-baca novel. Gimana pekerjaan mau rampung kalau begitu? Makanya aku memaksa diri untuk nulis. 😀 😀 Dan sampai di pengujung tulisan ini, sepertinya rasa aras-arasen ini sudah mulai berkurang. Yeaaaah! Mari mulai bekerja lagi. 🙂

Kamu pernah aras-arasen juga? Bagaimana mengatasinya?

Catatan Seputar Lebaran (dan Puasa)

Aku tidak merayakan Lebaran. Jadi, ini hanya tulisan sambil lalu atau sekadar catatan pengamatanku saat masa puasa dan Lebaran kemarin.

Sejak aku tinggal di Jakarta, aku memang tidak pernah berniat untuk ikut mudik lebaran. Meskipun suamiku libur cukup lumayan (satu minggu), tapi rasanya sayang sekali mengeluarkan uang untuk beli tiket ke Jogja. Rasanya terlalu mahal buat kami. Dan suasana mudik pasti kan riuh plus desak-desakan. Males banget. Jadi, jauh-jauh hari aku dan suamiku sudah memutuskan tidak akan ke mana-mana saat libur Lebaran ini–termasuk memutuskan untuk tidak beranjangsana ke rumah saudara. Bukan apa-apa sih, capek macetnya itu lo. Saudara-saudaraku yang merayakan Idulfitri tinggalnya di Jakarta coret. Dari pengalaman yang sudah-sudah, jalan menuju ke sana padat juga. Dan boleh kan aku sekali-sekali menikmati libur Lebaran dengan santai di rumah tanpa mengikuti keriuhannya? Cukuplah menikmati ramainya Lebaran dengan mendengar suara petasan yang tidak pernah berhenti itu.

Sejak masa puasa sebulan yang lalu, aku mesti berhati-hati saat akan bepergian. Aku mesti tahu betul kapan jalanan macet karena orang-orang buru-buru pulang hendak buka puasa. Dan ini karena itu juga aku jadi agak jarang makan di luar hehe. Muales banget jika sampai terjebak kemacetan. Dan biasanya saat jam buka puasa, berbagai tempat makan jadi penuh dan ramaiii sekali. Suatu kali aku dan suamiku pergi belanja lalu pulangnya mampir cari makan. Kami sengaja menunda makan malam sampai pukul 8 malam. Biar lebih sepi. Dan memang tempat makan yang kami tuju sudah tidak terlalu ramai. Waktu kami duduk dan pesan makan, kulihat para pelayan di restoran itu sibuk menyapu dan mengepel. Tahu kenapa? Lantainya penuh dengan tisu! Padahal jika hari biasa, restoran itu bersih. Jadi aku heran saja kenapa begitu kotor sekarang. Waktu kutanya pelayannya, dia bilang memang itu “wajar” jika saat jam buka puasa. 😦 Aku heran deh. Apa susahnya sih mengumpulkan tisu bekas pakai itu di atas piring kotor?

Itu tadi pengamatan pertama. Pengamatan kedua adalah … saat buka puasa, banyak keluarga makan bersama. Nah, selesai makan, biasanya mereka masih duduk-duduk sambil menikmati minuman. Itu masih oke, tapi kulihat beberapa orang bapak tampak merokok, sementara anggota keluarga yang lain ada di dekatnya. Itu termasuk anak-anaknya lo. Sedih deh melihatnya. Mengapa sepertinya sulit sekali menahan diri untuk tidak merokok di dekat anggota keluarga yang lain sih? Apalagi ada anak kecil. Ini bisa dibilang meracuni anak-anak nggak ya? Mbok ya ditahan sebentar keinginan merokoknya. Racuni dirimu sendiri, jangan racuni juga keluargamu.

Terus terang dua hal itu mengusik pikiranku. Sepertinya kok menahan diri untuk tidak membuang sampah sembarangan dan tidak merokok itu sulit sekali ya?

Ini pengamatan berikutnya saat hari Lebaran. Lebaran ini memang bisa dibilang aku dan suamiku tidak “ke mana-mana”. Tapi kami menyempatkan diri mengunjungi teman kami di Cilebut (satu stasiun sebelum Bogor). Hanya itu. Pertimbangannya adalah karena untuk ke sana cukup mudah aksesnya dan tidak perlu menginap. Toh kereta ke Bogor cepat dan banyak. Jadilah pada Lebaran hari pertama kami pergi. Saat di perjalanan, aku mengamati Jakarta tidak sepenuhnya kosong. Jalan-jalan di sekitar makam biasanya padat karena banyak orang berkunjung ke makam. Dan jalanan di pinggiran Jakarta lumayan padat. Pemandangan itu kulihat dari kereta. Jadi memang jalanan utama Jakarta lengang, tapi daerah pinggiran tetap macet. Untung deh aku naik kereta jadi tidak kena macet. Dan lagi, kereta tidak terlalu padat. Kami masih dapat tempat duduk.

Para penumpang kereta itu tampaknya hendak berlebaran ke rumah sanak saudara/teman. Kalau dilihat-lihat, sepertinya baju-bajunya masih baru. Kan kelihatan tuh kalau baru–bagian pinggir jahitannya masih agak menggembung, tanda belum sering disetrika; warnanya juga masih ngejreng, dan baju itu belum pas betul di badan si pemakai. Selain baju baru, alas kakinya pun rata-rata masih baru. Label harga dan ukurannya ada yang belum dilepas, warnanya masih kinclong. Anak-anak perempuan banyak yang memakai sepatu/sepatu sandal warna merah muda plus hiasan berkilauan di alas kakinya itu. Warna dan modelnya hampir seragam. Ibu-ibu mengenakan sepatu/sandal berhak agak tinggi. Hal itu agak merepotkan saat hendak masuk atau turun dari kereta–karena kereta tidak berhenti pas di peron yang tinggi. Namun kulihat, orang rata-rata tampak sumringah. Senang dan gembira.

Pengamatan yang terakhir, dan ini kurasa perlu diapresiasi, adalah soal kendaraan umum TransJakarta dan KRL. Dua angkutan umum masih beroperasi saat hari Lebaran dan ini kurasa sangat menolong masyarakat kecil untuk bersilaturahmi. Tarifnya juga tidak dinaikkan. Aku acungi jempol untuk hal ini.

Akhir kata, selamat merayakan Idulfitri untuk teman-teman yang merayakannya. 🙂 Agak terlambat tidak apa-apa kan?

Kenangan Upacara dan Doa untuk Indonesia

Ketika zaman sekolah dulu, tanggal merah pada angka 17 di bulan Agustus tidak kusambut dengan gegap gempita layaknya tanggal-tanggal merah lainnya. Eit, jangan salah paham dengan maksudku ya. Maksudku, meskipun tanggal 17 itu merah, tapi aku tidak bisa bangun siang dan santai-santai di rumah. Pada tanggal itu aku mesti tetap berangkat pagi dengan seragam lengkap untuk … upacara!

Senangkah? Ya, namanya anak-anak. Senang dan nggak senang sih. Mungkin banyak malasnya juga.

Dulu, tanggal 17 Agustus itu bisa berarti upacara di sekolah atau jadi utusan sekolah untuk upacara di alun-alun. Sebetulnya terselip rasa bangga juga jika aku bisa terpilih untuk upacara di alun-alun. Memang lebih capek sih ya. Karena biasanya upacaranya lebih lama. Jadi, stamina harus fit. Aku ingat betul untuk urusan stamina itu. Waktu itu, ada temanku yang jatuh pingsan karena tidak sarapan sebelum berangkat upacara. Dan dia itu berdirinya tidak jauh dariku. Wuah … kaget aku ketika aku tiba-tiba mendengar bunyi “bruk!” Peristiwa itu benar-benar menyadarkan aku soal pentingnya sarapan. Yang jelas, jika kita jatuh pingsan, hal itu akan merepotkan teman-teman yang lain, bukan?

Zaman aku sekolah, dari SD sampai SMP, yang namanya upacara itu adalah suatu hal yang harus kulalui setiap hari Senin, setiap tanggal 17, dan pada hari-hari peringatan yang penting. Jujur saja, ada keengganan waktu itu. Apalagi waktu SD aku ini langganan jadi petugas pembawa teks Pancasila. Jadi, aku tidak bisa berdiri bareng teman-temanku yang lain. Kurang enak rasanya. Lebih enak jika aku bisa bersama mereka. Waktu SMA kelas 1, aku masuk siang. Jadi, kami tidak harus ikut upacara pada pagi hari. Waktu kelas 2 dan 3 SMA seingatku aku upacara juga pada hari Senin. Tapi kok rasanya waktu itu upacaranya kurang khidmat ya? Apa karena halaman sekolahku tidak cukup luas sehingga kami mesti berdiri berdempet-dempet? Entahlah. Aku lupa. Yang jelas, aku suka iri dengan cerita kakakku soal upacara semasa dia SMA. Sepertinya DV bisa cerita lebih banyak soal upacara tersebut karena kakakku dan DV satu alumni (tapi beda angkatan sih …).

Kalau kupikir-pikir, zaman aku sekolah dulu upacara, apalagi saat tanggal 17 Agustus, kesanku kok cukup meriah ya? Meriah itu dalam artian upacaranya beda. Ya, barangkali aku saat itu lebih merasakan gregetnya ulang tahun Indonesia. Selain itu, di gereja biasanya biasanya ada misa khusus 17-an. Di gereja kami juga semacam ada “upacara” dan kalau tidak salah ada sesi penghormatan terhadap bendera merah putih. (Lagi-lagi ingatanku juga sudah samar-samar. Dasar pelupa!) Lagu Indonesia Raya juga sempat dinyanyikan.

Lalu bagaimana dengan peringatan kemerdekaan saat ini? Tadi pagi ceritanya aku ingin bangun pagi agar bisa ikut misa 17-an. Tapi, rupanya kebiasaan bangun siangku sulit dihilangkan. Aku tersadar ketika sudah hampir pukul 06.00 pagi. Lah, sudah sangat terlambat kalau mau misa. 😦 Oke, meskipun aku tidak sempat ikut misa 17-an, aku ingin berdoa secara khusus untuk Indonesia pada hari ini. Semoga masih banyak dan selalu saja ada warga Indonesia yang mencintai negara ini dengan sepenuh hati. Kiranya korupsi dan keserakahan perlahan-lahan mulai berkurang. Semoga keragaman dan kerukunan bangsa Indonesia tetap terjaga. Amin!

Tantangan Menanam Padi Organik di Negara Agraris

Samar-samar masih kuingat percakapanku dengan ibuku lewat telepon beberapa bulan yang lalu. Waktu itu Ibu bertanya kepadaku apakah aku punya kenalan petani padi organik. Seingatku, jika yang dimaksud adalah kenalan langsung, aku tidak punya. Yang mungkin bisa kucari adalah temanku yang punya akses langsung kepada petani padi organik.

Jadi, begini ceritanya. Kakek dan nenekku punya sawah di Dungus (kira-kira 12 km dari Madiun). Sawah itu dulunya tidak digarap sendiri oleh keluargaku. Dan seingatku, soal sawah itu baru kuketahui setelah aku SMA (atau SMP?). Soal penggarapnya dulu aku juga kurang jelas. Tapi akhirnya setelah Mbah Kakung dan Mbah Putri meninggal, sawah itu jadi tanggung jawab keluarga besar dari pihak ibuku. Dan karena anak dari simbah yang tinggal di Madiun saat ini adalah ibuku, maka akhirnya sawah itu dikelola oleh ibuku.

Pada awalnya, sawah itu ditanami padi biasa (bukan padi organik). Tapi belakangan ini ibuku tertarik menanaminya dengan padi organik. Dan karena tidak punya pengalaman langsung menanam padi organik, maka masih perlu belajar banyak. Sayangnya, para petani di sekitar sana masih belum ada yang menanam padi organik. Jadi, bisa dikatakan ibuku (dan bapakku) single fighter. Bisa kubayangkan betapa sulitnya menjadi “berbeda”.

Sebetulnya, saat pertemuan dengan keluarga besar, ibuku sudah mengutarakan maksudnya untuk menanami sawah itu dengan padi organik. Semua pada dasarnya setuju. Tapi kan yang benar-benar terjun ke sawah cuma orang tuaku. Dan rata-rata keluarga ibuku “orang kota” semua. Tidak ada yang punya pengalaman menggarap sawah. Bahkan aku juga kurang yakin apakah di antara para om, tante, pakde, budeku ada yang punya kenalan petani organik. Akhirnya terjadilah percakapan dengan ibuku soal petani padi organik. Waktu itu di sawah memang ada masalah, yaitu banyak sekali tumbuh gulma. Gulma itu bentuknya seperti kubis kecil (aku lupa namanya). Sepertinya kalau di kolam air tawar suka ada deh. Nah, saking banyaknya orang tuaku bingung bagaimana mengatasinya.

Waduh, mesti tanya siapa nih, pikirku. Salah satu cara paling gampang adakah mencoba melihat daftar teman-teman berikut nomor teleponnya di telepon genggamku. Iseng-iseng kutanya temanku, seorang wartawan di sebuah radio berita. “Mbak, punya kenalan petani organik?” tanyaku padanya. Dan temanku ini cepat sekali memberi jawaban. Dia kemudian memberikan nama seorang petani organik berikut nomor telepon petani tersebut. Dan seperti gayung bersambut, orang tuaku jadi bisa berguru langsung pada bapak tersebut sampai akhirnya datang berkunjung ke rumah beliau plus melihat sawahnya. Ibu mengatakan dia puas bisa datang ke sana. Kata petani itu, padi organik miliknya jika sudah dewasa, tingginya bisa setinggi orang. Wah!

“Guru” petani organik yang didatangi orang tuaku ini tinggalnya di Jawa Barat. Lumayan jauh dari Madiun. Kemudian aku baru sadar jika teman-teman dari Yayasan Sahabat Gloria di Jogja juga melakukan pendampingan pada para petani organik. Nah, ini kan cukup terjangkau dari Madiun. Lagi pula, mereka kan teman sendiri. 😀 😀 Jadi, sekarang orang tuaku juga suka tanya-tanya ke mereka.

Dari pengalaman orang tuaku, aku jadi sadar bahwa menanam padi organik tidak mudah. Banyak tantangannya. Yang paling dirasakan adalah saat memulainya, karena seolah-olah harus berjuang sendiri. Masih banyak petani sekitar yang lebih suka menanam padi biasa. Jadi, akan sangat terbantu jika petani padi organik itu ada komunitasnya.

Entah bagaimana pengalaman orang tuaku menanam padi organik ini membuatku teringat pada beberapa petak sawah yang biasa kulewati saat menuju rumahku di Jogja. Dulu, untuk menuju rumah, aku mesti melewati persawahan yang cukup luas. Tapi sekarang, sawah-sawah itu sebagian sudah menjadi bangunan. Entah rumah, entah ruko. Tak jarang kulihat pula sawah yang diapit rumah-rumah besar dan bagus. Kurasa sebentar lagi sawah itu akan berubah menjadi rumah pula. Aku selalu sedih melihat hal itu. Sedih karena menurutku semestinya sawah itu tidak hilang begitu saja. Dan memang nasib petani di negara (yang katanya) agraris bernama Indonesia ini tidak menyenangkan. Hasil sawah tidak selalu menguntungkan dan mendatangkan banyak uang. Sementara itu petani tetap harus mengeluarkan uang untuk menyekolahkan anak, membangun/memperbaiki rumah, membeli susu untuk anaknya, dan lain-lain, yang mana semua itu tidak cukup dibayar dengan beberapa lembar uang seribuan.

Selain itu, siapa sih yang ingin jadi petani? Coba kita tanya kepada anak-anak sekolah sekarang. Berapa banyak yang ingin bekerja di sawah? Bahkan dari para mahasiswa yang mengenyam pendidikan di bidang pertanian, berapa banyak yang betul-betul ingin membaktikan hidupnya untuk mengembangkan pertanian Indonesia? Kurasa masih banyak yang ingin bekerja kantoran atau pegawai swasta ketimbang harus bergelut dengan lumpur di sawah.

Padahal, semua orang masih butuh makan. Sebagian besar penduduk Indonesia masih makan nasi. Jika sawah-sawah itu akhirnya menjadi ruko atau rumah, dan para petani tidak semakin baik nasibnya, bagaimana dong? Kurasa jika pertanian di Indonesia diperbaiki dan ditingkatkan, kita–masyarakat pada umumnya–juga akan merasakan manfaatnya. Coba kalau semua petani menanam padi organik, kita tiap hari bisa makan nasi enak bukan? Lebih sehat pula. Jadi, kita pun bisa ekspor hasil tanaman pangan ke negara lain, bukannya malah bangga kalau bisa membawa makanan hasil pertanian/perkebunan dari negara lain. Rakyat juga kan yang untung? 🙂

Makanan Selingan di Jam Kantor

Dulu, waktu aku masih kerja kantoran, di kantorku ada OB (office boy) bernama Pak Mar. Sebenarnya tidak pas disebut “office boy” karena dia tidak lagi “boy“, tapi “man“. Hehe. Tugasnya setiap pagi adalah membuatkan teh hangat untuk para karyawan. Teh buatannya itu “nagih”. Entah bagaimana perbandingan teh dan gulanya. Tapi menurutku pas banget. Tidak terlalu kental dan tidak terlalu manis. Dan itu terasa nyaman di perut saat diseruput pagi-pagi–setelah menembus jalanan yang cukup padat dan udara pagi yang dingin.

Pak Mar ini selama bekerja di Jogja menginap di kantor. Dia tidur di lantai empat waktu itu. Kadang dia pulang kampung. Dan kadang pula dia membawa oleh-oleh berupa singkong. Biasanya dia akan mengeluarkan singkong rebus di sela-sela jam kantor. Seingatku sih kira-kira pukul 3 sore–saat nasi yang disantap saat makan siang sudah hampir tidak terasa di perut dan mulut sudah kangen untuk mengunyah lagi. Jadi, pas sekali. Apalagi singkong itu masih hangat mengepul dan waktu digigit langsung hancur, jatuh di lidah dan terasa manis. Wuenak! Sederhana memang. Tapi tidak semua singkong “mempur” (empuk/mudah hancur) kan? Jadi, singkong oleh-oleh Pak Mar ini terasa istimewa.

Kini, aku bekerja di rumah dan tentu tidak mendapat teh manis serta singkong rebus dari Pak Mar. (Lagi pula, dia sudah mengundurkan diri dari kantorku dulu. Jadi, saat aku main ke bekas kantorku, jelas tidak bisa bertemu dia lagi.) Kadang kangen juga menyeruput teh hangat di pagi hari. Maksudnya, aku tidak harus bikin sendiri gitu lo. 😀 Dan memang menurutku, teh buatan Pak Mar itu khas. Kalau dia tidak masuk dan digantikan OB yang lain, rasa tehnya beda.

Sekarang aku harus menyediakan sendiri makanan kecil di sela-sela jam kerja. Di “kantorku” sekarang, aku memang merangkap OB plus karyawan, plus bos. Hehe. Di rumah yang jelas, aku mengusahakan untuk ada biskuit. Itu adalah camilan yang mudah didapat dan tidak membuatku batuk. Kalau cemilan berupa keripik apalagi kacang, aku cenderung akan batuk. Malah tidak bisa lanjut kerja kan? Makanan selingan lainnya adalah buah. Paling sering sih pepaya–yang cukup murah, banyak, dan cukup nyamandi perut. Selain itu, suamiku suka beli roti tawar. Biasanya roti itu untuk sarapan paginya. Tapi kadang roti tawar itu masih cukup banyak karena dia tidak sempat sarapan atau memilih sarapan di dekat kantornya. Aku sendiri tidak selalu makan roti tawar. Jadi, roti itu masih agak banyak padahal sudah mendekati deadline … eh, masa kadaluarsa. Lalu bagaimana solusinya? Menurutku, paling mudah adalah dibuat puding.

Aku bagikan ya cara membuat puding roti tawar. Aku buatnya asal saja sih. Jadi jangan berharap istimewa atau cantik dan pantas dipajang saat arisan. Hehe.

Bahan:
600 ml susu cair. Kemarin aku tidak punya susu cair, tapi ada Dancow bubuk. Jadi aku pakai dua sachet dan dicairkan dalam dua gelas air lebih sedikit.

1 bungkus agar-agar. Warna terserah.

2 butir telur, kocok.

2 gelas air. (pokoknya kira-kira 400 ml)

garam sedikit.

gula sesuai selera.

Roti tawar, kira-kira 4-5 lembar

Cara membuat:
1. Rendam roti tawar dalam susu sampai cukup hancur.

2. Masak agar-agar dalam air sampai mendidih. Masukkan gula dan sedikit garam.

3. Masukkan rendaman roti bersama susu dan telur kocok. Masak sampai mendidih, lalu angkat. Kalau mau, bisa ditambahkan vanili atau rhum.

4. Masukkan dalam wadah/cetakan.

Gampang kan?

penampakan puding roti tawar. nggak cantik ya? hehe tapi mengenyangkan

Resep ini kudapat dari hasil mengintip buku Sajian Manis dari Roti Tawar terbitan PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2003 halaman 26. Kalau resep di aslinya sih bahannya tidak cuma roti tawar dan susu. Ada tambahan lain seperti buah kaleng dan cokelat bulat. Tapi aku pakai bahan yang ada di rumah saja. Dan kalau lihat foto di buku itu, hasil pudingnya cantik (halus). Punyaku tidak bisa halus. Mungkin kurang sajen. 😀

Puding ini cukup mengenyangkan buatku dan pas untuk selingan di sela jam kerja. Tapi kok aku masih terbayang singkong kukus hangat dan mempur ya? 😀 😀

Kalau kamu, makanan selingan apa yang tersedia saat jam kerja?

Rindu Bahasa Ibu dan Jumpa Blogger

Beberapa bulan yang lalu, aku mendapat email dari seorang kakak asramaku yang kini tinggal di Prancis. Dia menanyakan bagaimana caranya membuat blog. Katanya, dia rindu bisa menyampaikan pemikirannya dengan bahasa Indonesia. Ya, kira-kira begitulah. Meskipun dia sudah bermukim di sana belasan tahun dan menguasai bahasa Prancis, tapi dia merasa tidak sefasih orang lokal. Jadi, bisa kubilang dia merindukan bahasa ibunya.

Aku sendiri pernah mengalami hal semacam itu. Pertama kali aku pindah ke Jakarta, mendadak lidahku kangen mengobrol dengan bahasa Jawa. Tapi dengan siapa? Jelas aku tidak bisa bercakap-cakap memakai bahasa Jawa dengan suamiku. Aku menikah bukan dengan orang Jawa. Akhirnya, kerinduanku ini tersalurkan ketika aku bertemu dengan teman-teman bekas kantorku dulu, dengan temanku semasa SMP yang tinggalnya hanya selisih beberapa gang dari rumahku, dan … dengan beberapa pedagang di pasar. 😀 Lucu ya? Memang para pedagang di pasar tak jauh dari tempat tinggalku dulu banyak yang orang Jawa. Jadi, aku bisa bertransaksi dengan bahasa Jawa. Rasanya jadi lebih akrab. Padahal ya cuma beli kangkung, sawi, atau wortel. Dan aku biasanya jadi pelanggan para pedagang Jawa itu.

Aku dibesarkan di Jawa, di lingkungan yang hampir semuanya orang Jawa. Jadi, bahasa ibuku ya bahasa Jawa. Menurutku, aku lebih bisa memasukkan unsur “roso” (rasa) jika aku bicara dengan bahasa Jawa. Aku sulit menjelaskan soal ini. Gampangnya, bicara dengan bahasa Jawa itu seperti mengikutsertakan hati, begtu deh. Hehe. Dan salah satu akibatnya, aku jadi lebih akrab ketika bertukar pikiran atau bercakap-cakap ala kadarnya dengan orang lain dengan bahasa Jawa. Terlalu berlebihan kah? Entahlah. Tapi itulah yang kurasakan.

Dulu aku tidak terlalu merasakan kerinduan bahasa ibu sebelum menikah dan pindah ke Jakarta. Kerinduan bahasa ini semakin kurasakan ketika suatu kali aku ikut pulang suamiku ke Belitung. Di sana, para penduduk kebanyakan berbicara dengan bahasa Melayu dan di kalangan keluarga suamiku, mereka bicara dengan bahasa Kek. Akibatnya … aku plonga-plongo haha! Memang sih, aku masih bisa bercakap-cakap dengan bahasa Indonesia. (Bahasa Melayu kan akarnya bahasa Indonesia, kan? Jadi banyak kesamaannya.) Tapi kok rasanya seperti kurang plong gitu ya? Nah, suatu kali aku bertemu dengan orang Jawa yang tinggal di Belitung. Dan serta-merta aku bicara dengan bahasa Jawa dengan orang tersebut. 😀

Pernah suatu kali aku saking “sakaw”-nya bercakap-cakap dengan bahasa Jawa, aku telepon orang rumah hanya agar bisa menyalurkan kerinduan lidahku itu. Kalau tidak, aku mengirim SMS kepada kakak atau temanku dengan bahasa Jawa.

Kini salah satu kebiasaanku selama tinggal di Jakarta adalah bicara dengan bahasa Jawa saat bertemu dengan sesama orang Jawa. Memang lalu tidak langsung pakai bahasa Jawa terus sih. Masih diselingi bahasa Indonesia. Dan satu hal lagi, aku sulit sekali mengadopsi pemakaian kata ganti “elu” dan “gue”. Entah kenapa, sulit sekali dan cenderung tidak bisa. Ya, pernah sih aku memakai kata “elu” dan “gue”, tapi itu jarang sekali.

Nah, Senin siang yang lalu (tgl 30 Juli), aku mendapat kesempatan bertemu dengan Donny Verdian (DV) di Pacific Place. Begitu dia datang, seketika aku langsung ingin bicara pakai bahasa Jawa dengannya. Dan memang rasanya canggung saat mengobrol pakai bahasa Indonesia dengannya. Tapi, tentu saja kami tidak bisa mengobrol pakai bahasa Jawa, karena selain dengan DV, ada Mbak Imelda, Joyce–istrinya DV, Odilia, dan kemudian suamiku menyusul bergabung bersama kami. Jadi, obrolan dengan bahasa Jawa tertunda dulu. Hanya jadi selingan. 🙂 Aku tidak ingin mereka yang tidak fasih bicara bahasa Jawa jadi bengong.

Aku senang bisa bertemu dengan mereka. Jujur saja, mereka adalah pendorongku saat aku kumat malasnya dalam ngeblog. Tahu sendiri kan, DV selalu bisa diandalkan posting setiap Senin dan Kamis–kecuali jika dia pamit hendak libur. Sedang Mbak Imelda? Jelas, dia rajin sekali nulis blog. Tulisannya di blog entah sudah berapa ribu. Dan barangkali aku mesti menggosok-gosok lampu ajaib supaya dapat bantuan jin cakep agar jumlah postinganku bisa menyaingi Mbak Imelda. 😀 😀

Saat sudah sore dan sudah mendekati jam buka puasa, kami hendak bubaran. Tapi, masih ada satu blogger yang kantornya tidak jauh dari tempat kami kopdar, yang sudah bersiap bertemu dengan kami. Siapa lagi kalau bukan Om NH? Ah, akhirnya setelah sekian lama, aku bisa bertemu dengan si Om penggemar bubur ayam ini. Lengkap sudah acara kopdar kami. Jadi, meskipun aku mesti meluangkan waktu di sela-sela usahaku untuk meringkus singa mati (baca: deadline/tenggat pekerjaan), rasanya tidak sia-sia karena kerinduan untuk bertemu mereka tuntas sudah! 🙂 Semoga aku tetap ingat untuk menambah tulisan di blog. Amin!

Dari kiri ke kanan: Om NH, DV, Mbak Imelda, aku.

Foto: didapat dari “nyolong” koleksi Mbak Imelda. (Pinjem ya Mbaaaak :))