Merasa Dicintai

Aku menemukan puisi ini sekian belas tahun lalu. Entah di mana ya dapatnya, aku lupa. Menurutku menyentuh sekali. Puisi ini kutulis di sampul sisi dalam Puji Syukur-ku

Yesus, aku mencintai Engkau yang terlahir sebagai bayi
dalam kandang dan palungan
Kala itu Kau menangis
karena dinginnya hatiku
dan bekunya pikiranku

Yesus, aku mencintai Engkau yang tergantung pada salib
terbilang sebagai penyamun dan penjahat
Kala itu Kau mengeluh
karena aku meninggalkan Kau sendiri
tak berkawan, tak tersapa

Namun, Yesus, aku lebih mencintai Engkau
yang berada di atas patenaku
digenggam oleh tanganku yang berlumur dosa
Engkau tidak menangis dan mengeluh
Dikunyah oleh mulutku yang berbusa salah
Engkau tidak menegur dan meradang
dalam hatiku sekhianat Yudas
Engkau diam seribu bahasa…

Penggalan puisi ini sering terngiang di telingaku setelah aku menyantap komuni. Rasanya Yesus begitu dekat, dan betapa tidak pantasnya aku. Lebih dari sekadar mendengar seseorang yang berkata, “Aku mengasihimu”. Tidak hanya begitu, tapi Dia melebur dalam kefanaanku.

Sulit rasanya aku menjelaskan.

Tapi rasanya seperti dicintai sepenuh-penuhnya. Cinta yang sederhana dan menguatkan.

Advertisements

Teman Pada Suatu Masa

Aku menemukan permenungan di bawah ini pada sebuah blog.

Reason, Season, or Lifetime

People come into your life for a reason, a season or a lifetime.
When you figure out which one it is,
you will know what to do for each person.

When someone is in your life for a REASON,
it is usually to meet a need you have expressed.
They have come to assist you through a difficulty;
to provide you with guidance and support;
to aid you physically, emotionally or spiritually.
They may seem like a godsend, and they are.
They are there for the reason you need them to be.
Then, without any wrongdoing on your part or at an inconvenient time,
this person will say or do something to bring the relationship to an end.
Sometimes they die. Sometimes they walk away.
Sometimes they act up and force you to take a stand.
What we must realize is that our need has been met, our desire fulfilled; their work is done.
The prayer you sent up has been answered and now it is time to move on.

Some people come into your life for a SEASON,
because your turn has come to share, grow or learn.
They bring you an experience of peace or make you laugh.
They may teach you something you have never done.
They usually give you an unbelievable amount of joy.
Believe it. It is real. But only for a season.

LIFETIME relationships teach you lifetime lessons;
things you must build upon in order to have a solid emotional foundation.
Your job is to accept the lesson, love the person, and put what you have learned to use
in all other relationships and areas of your life.
It is said that love is blind but friendship is clairvoyant.

Diambil dari: Acts of Faith by Iyanla Vanzant.

Lalu aku teringat pada hal yang kurenungkan akhir-akhir ini. Ada teman yang pindah ke kota lain. Ada teman yang mulai jarang ketemu. Aku merasa setiap pribadi yang kujumpai itu datang dan menemaniku pada masa tertentu. Misalnya, ketika aku di asrama, aku bertemu Mbak Tutik. Dia bahkan menemaniku sampai aku bekerja. Dia sempat tinggal di rumahku, lalu akhirnya dia pindah ke kota lain, dan akhirnya dia pindah ke “dunia lain” lebih dulu.

Ada suatu masa ketika aku sulit menerima kepergian teman-teman–terutama teman-teman yang dulunya hampir setiap hari ketemu, beraktivitas bersama, lalu karena pindah kota atau pindah pekerjaan akhirnya kami berpisah. Ada kalanya timbul perasaan ditinggalkan.

Namun, sekarang kurasa… memang begitulah hidup. Ada kalanya aku harus menggenggam, ada kalanya aku harus membuka tangan untuk melepaskan. Ketika menggenggam, awalnya aku ragu. Aku lebih banyak mengamati dan berusaha tidak tergesa-gesa. Lalu ketika akhirnya harus melepaskan, aku baru menyadari genggaman itu terasa kuat sehingga benar-benar kehilangan.

Yah, begitulah hidup.

Aku lalu teringat obrolan dengan seorang teman yang punya kemampuan menolong arwah supaya menemukan “jalan pulang”. Saat seseorang meninggal, kadang jalannya terhambat. Yang menghambat adalah jika ada yang belum dilepaskan, belum dimaafkan/memaafkan, atau ada yang belum ikhlas dia pergi. Ternyata melepaskan itu penting. Pada akhirnya hidup adalah soal menerima dan memberi; menggenggam dan melepaskan. Hidup itu mestinya ikhlas, penuh cinta, dan bersedia mengampuni setiap saat.

Teh Mint

“Lasti, kamu masih punya teh?” Kudengar suara serak di seberang telepon.

“Ke sini aja,” jawabku singkat.

Tak sampai lima menit Aning telah muncul di dapur. Matanya merah, mukanya sedikit pucat.

“Kamu flu?” Mestinya aku tak perlu bertanya.

Aning mengangguk.

Aku segera menuang air panas ke cangkir lalu kucelupkan satu kantong teh.

“Itu teh yang dikirim Lani kemarin kan, Las?” suara Aning terdengar semakin serak. Sengau pula.

Ganti aku yang mengangguk. “Cuma teh Lani yang enak,” kataku.

“Benar. Biasanya pagi-pagi begini, kita ngumpul bertiga sambil minum teh di rumah Lani, ya.”

Serempak kami menoleh ke rumah depan yang kosong.

“Itu kan alasan supaya ada yang mengasuh bayinya sebentar,” kataku. Kami tertawa bersama. “Nih, semoga seenak buatan Lani,” aku menyorongkan secangkir teh kepada Aning.

“Hmm… wangi.” Aning menghirup teh sambil terpejam. “Sayangnya cuma satu yang kurang.”

“Apa?” tanyaku cepat.

“Daun mint!”

Cuma Lani yang selalu berhasil menanam mint. Dan teh mint jadi minuman andalannya.

“Coba ada Lani, ya,” suara serak Aning seperti membentur cangkir.

Aku terdiam. Sejak rumah depan itu kosong, seperti ada yang kosong pula dalam hatiku.

 

Kling…

Ding…

 

Suara ponsel kami berbunyi bersamaan. Kami bersamaan melirik ke ponsel. Muncul foto dan pesan di bawah nama Lani:

“Tanpa kalian minum teh mint rasanya ada yang kurang deh…”

“Haha!” Seketika wajah Aning sumringah.

“Kangen juga dia,” sahutku.

Catatan Misa 13 Agustus

Tadi pagi aku misa—dengan sedikit buru-buru. Sering sekali aku begitu. Awalnya pengin misa jam 5.30, tapi telat bangun. Aku malas misa jam 7.00. Entah kenapa misa jam 7 pagi itu tidak menarik. (Misa kok pakai menarik atau tidak menarik, sih?) Akhirnya menjelang jam 7, kuputuskan misa jam 7.30 di Kapel Belarminus saja. Belakangan aku suka misa di sana karena seperti “pulang”—ingat zaman kuliah aja sih karena kapel tersebut berada di lingkungan kampusku dulu.

Aku agak terlambat datang. Aku datang pas lagu pembukaan. Ternyata hari ini adalah Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga. Ini adalah perayaan penting bagi umat Katolik. Bacaan Injilnya adalah tentang Maria mengunjungi Elizabet.

Khotbahnya menarik. Dikatakan bahwa untuk menjumpai Elizabet, Maria harus berjalan sejauh 100-an kilometer. “Kalau dihitung-hitung, sekitar sini sampai Demak kalau ke utara. Kalau ke selatan, sampai Pacitan,” begitu kata Romo untuk memberi gambaran. Menurutku, penting untuk memberikan gambaran antara isi Alkitab dengan keadaan masyarakat sekarang dalam homili. Rentang masa, jarak, dan budaya yang begitu jauh kadang membuat umat tidak paham sisi mana saja yang harus digarisbawahi.

Sesampainya di rumah, aku membaca beberapa buku yang kurasa bisa lebih menjelaskan keadaan zaman Yesus dulu. Di buku Sketches of Jewish Social Life (hal. 46-47), dikatakan bahwa zaman itu orang biasa bepergian dengan jalan kaki dan berombongan. Sepertinya di sana lazim orang bisa menginap di sebuah rumah yang dilewatinya. Hotel belum banyak seperti zaman sekarang, kan? Jadi, ada kebiasaan orang memasang tirai di depan pintu rumah, untuk mengindikasikan masih ada kamar bagi tamu.

Kupikir Maria adalah pribadi yang menarik. Ketika masih muda, dia punya niat mengunjungi kerabatnya dengan berjalan jauh. Benar-benar jalan kaki, lo. Kurasa dia pasti seorang yang pemberani. Hatinya pasti lembut, mudah tersentuh sekaligus memiliki kemauan keras. Tidak heran jika gereja Katolik sangat menghormati Bunda Maria.

Kamu Ingin Menjadi Penerjemah?

Kemarin aku ikut seminar penerjemahan di kampusku dulu. Salah satu pembicara mengompori para peserta supaya menjadi penerjemah. Alasannya menjadi penerjemah itu asyik. Apalagi kalau bisa kerja di rumah. Bisa bekerja sambil pakai daster, mau kerja di mana saja bisa, dan konon penghasilannya besar. Bagi sebagian penerjemah, memang begitu adanya. Zaman dulu, untuk membeli mobil baru, cukup menerjemahkan tiga buku. Tiga buku saja! Iya, benar. Menggiurkan, bukan? Sekarang? No comment.

Masalahnya, bagaimana caranya? Benarkah begitu?

Menurutku tak ada kesuksesan dan kemakmuran yang tidak disertai kerja keras. Apa pun itu. Termasuk kalau kamu jadi penerjemah. Jangan terlalu mudah percaya bahwa menjadi penerjemah adalah jalan mudah untuk kaya. Jangan mudah percaya bahwa menjadi penerjemah lepas itu hidupmu bakal santai. Kalau mau sukses, ya jangan santai. Di mana-mana hukumnya begitu.

Menurutku jadi penerjemah itu untung-untungan. Kalau memang jalanmu di situ, ya jadilah. Kalau tidak, ya susah juga. Kenapa begitu? Pertama-tama karena tidak ada jalur yang jelas untuk menjadi penerjemah. Kalau kamu mau jadi dokter, jelas ada sekolahnya, ada jalurnya. Kalau kamu mau jadi pengacara, jelas ada jalurnya juga. Kalau penerjemah? Pernah dengar ada sekolah vokasi untuk penerjemah? Setahuku yang ada hanya kursus. Setelah kursus, belum tentu kamu bakal langsung bisa praktik dan memasang tarif tinggi. Malah kemungkinan calon klienmu akan menawar tarifmu serendah mungkin. Jangan tersinggung. Banyak kok yang mengalami. Penerjemah senior saja sering diminta menurunkan harga, kok kamu penerjemah kemarin sore mau pasang harga tinggi. Siapa elu? Untuk mengawali karier, kamu bisa iseng menerjemahkan buku atau artikel lalu kamu pajang di akun media sosial atau blog pribadimu. Hitung-hitung promosi dan pamer karya. Namun, kalau kamu berharap bisa langsung dapat klien yang bisa memberimu honor 200 ribu per lembar, rasanya berdoa dan ikut kursus saja belum cukup. Itulah yang kumaksud dengan kerja keras. Jalannya berliku. Rata-rata penerjemah yang kukenal itu tersesat. Awalnya tidak berniat menjadi penerjemah, e… ternyata ada yang menawari pekerjaan. Mulanya hanya satu-dua orang. Lama-lama banyak. Itu yang kumaksud dengan untung-untungan. Kamu mesti sigap menangkap peluang.

Jika ada yang bertanya padaku, bagaimana caranya menjadi penerjemah buku? Jawaban paling gampang adalah melamarlah ke penerbit. Sertakan contoh hasil terjemahanmu dan teks aslinya. Masalahnya, belum tentu lamaranmu bakal langsung ditanggapi. Yang melamar ke penerbit tidak hanya kamu. Buanyaaak! Kamu mesti bersaing dengan para pelamar lain. Belum lagi kalau surat lamaranmu terselip. Atau mungkin sang editor tidak sempat membuka email lamaranmu. Selain itu, penerbit pasti sudah punya penerjemah langganan. Iya kalau hasil terjemahanmu nanti sesuai dengan keinginan editor. Kalau tidak? Analoginya: Kamu punya penjual kue langganan. Biarpun ada toko kue baru yang promosinya gencar, kamu mungkin tetap lebih suka beli kue di penjual kue langgananmu. Kamu sudah tahu kualitas kuenya, harganya juga bersahabat.

Ada yang bilang untuk menjadi penerjemah ikutlah asosiasi ini, jadilah member di direktori anu, dan sebagainya… dan seterusnya. Masalahnya, setelah kamu jadi anggota, apakah kamu langsung dapat terjemahan dengan bayaran yang bikin para pegawai kantoran iri? Belum tentu. Kamu tentu harus bisa tampak menonjol sebagai anggota ini dan itu. Inilah yang kumaksud dengan kerja keras. Supaya tampak menonjol dan bisa mendapat kepercayaan, kamu mesti kerja keras. Kamu mesti kreatif. Terserah bagaimana caramu. Mau jadi penerjemah tanpa dibayar dulu kek, bikin website yang postingannya menarik kek, sering-sering menjawab pertanyaan yang dilontarkan di grup kek, sering posting contoh hasil terjemahan kek… terserah. Jangan salah, banyak kok penerjemah yang tidak menjadi anggota asosiasi. Mereka lancar-lancar saja ordernya, tuh. Ada pula yang bilang bahwa dengan menjadi anggota ini atau itu, order akan mengalir. Apa iya? Belum tentu. Bisa juga kamu dicueki. Lagi-lagi, jangan tersinggung ya. Memang begitulah dunia. Iklan selalu terdengar manis.

Ya, untuk jadi penerjemah bisa lewat jalur mana saja. Itu karena belum ada jalur khusus yang sudah terstruktur–begitu menurut pengamatanku sejauh ini. Menjadi penerjemah tersumpah saja sampai sekarang belum jelas jalur dan caranya, kok. Jadi penerjemah itu ibarat kamu ingin jualan kue. Caranya bisa macam-macam. Pokoknya asal para calon pembelimu itu tahu bahwa kamu pembuat kue yang wuenak. Kamu bisa menyebar brosur, bisa jualan kue di depan rumah, bisa kirim kue gratisan ke blogger yang jadi buzzer lalu minta agar kuemu dipromosikan lewat blognya. Terserah, deh. Intinya, kamu harus kerja keras dan itu tidak mudah.

Jadi, jangan tergiur setiap ucapan manis tentang nikmatnya menjadi penerjemah. Semua butuh kerja keras. Sembari kamu berusaha untuk menjadi penerjemah, tetap lakukan hal lain yang kamu sukai, misalnya membatik, memasak, menjahit, menyulam, merajut, jalan-jalan, menulis, dan lain-lain. Jadi, kalau kamu tidak berhasil menjadi penerjemah, kamu tidak galau. Siapa tahu kamu malah sukses menjadi penulis yang bayarannya berkali lipat daripada penerjemah. Siapa tahu hasil rajutanmu lebih laku daripada terjemahanmu. Ya, kan? Ya, kan? Ikutlah kegiatan di luar rumah. Dengan begitu, banyak orang lebih mengenal kamu plus kemampuanmu.

Menurutku menjadi penerjemah hanyalah salah satu pilihan jalan hidup. Masih banyak pilihan lain–yang juga membahagiakan dan memberikan rejeki. Kalau ada yang bilang jadilah penerjemah karena bisa begini dan begitu… tetaplah kembali ke nasihat lama: Semua itu butuh kerja keras. Ora usah gumunan, ojo penginan–jangan mudah terkesima, jangan gampang pengin ini dan itu.

Kamu tetap ingin menjadi penerjemah? Bekerja keraslah. Carilah jalanmu–entah bagaimana caranya. Jadilah kreatif. Kalau setelah jungkir balik kamu merasa tidak bisa menjadi penerjemah sukses, jangan galau. Rejeki itu ada di mana-mana.

Aku sih penginnya jalan-jalan, bikin sabun, masak, nulis picture book. Banyak maunya, ya? Emang.

Sabun lan Tangga

Durung suwe iki, aku iseng-iseng sinau gawe sabun. Nyenengake tenan. Aku iso nggunaake bahan-bahan sing ono ning cedakku: pandan, lidah buaya, kates, susu, lan liya-liyane.

Aku banjur duwe sabun pirang-pirang. Sakwijining dina, ono tanggaku dolan ning omahku, jenenge Mbak N. Deweke weruh sabun pirang-pirang sing tak tata ning ruang tengah. “Kuwi opo?” pitakone. Aku nuli crita yen aku lagi eksperimen gawe sabun. Deweke gumun lan takon piye critane kok aku iso gawe sabun, saka opo bahanne, lan sak teruse. Aku crita opo anane. Pas deweke bali, aku nyangoni sabun. “Ayo dijajal, sapa ngerti cocok.”

Ora let suwe, tanggaku crita yen deweke cocok gawe sabunku. Aku melu seneng amarga sabun gaweanku cocok kanggo deweke. Mbak N usul, “Mbok jajal ditawakne pas arisan.” Sakjane aku ki isinan. Nanging apa salahe dicoba? Idep-idep latihan dodolan lan promosi. Sapa ngerti payu siji-loro.

Pas dina arisan, aku teka karo nggawa sabun. Aku tawa ning ibu-ibu sing rawuh. Ndilalah pas dina kuwi Mbak N lagi ana keperluan dadi ora isa teka arisan. Nanging ana Bu M sing dadi “lurah”. Lurah-lurahan maksude, ya. Ora ana sing wani nyanggah Bu M kuwi. Kabeh kudu nurut, yen ora nurut isa dijothak saklawase urip. Pas aku nawakne sabunku, jawabe Bu M kaya ngene, “Aku ora tuku wong aku ora sabunan.” Aku mak plenggong… Apa iya to ana wong sing ora sabunan babar blas? Nanging aku banjur kelingan biyen Bu M kuwi tau mbuwak panganan sing tak kei amarga deweke wedi aku nyampuri bahan sing ora halal ning panganan kuwi. Uga deweke wedi aku nganggo peralatan sing ora halal. O… paham aku saiki, deweke mesti khawatir sabun gaweanku ora halal.

Let pirang dina, Mbak N kanda karo aku. “Bu M ra gelem tuku sabunmu, to? Deweke crita karo aku. Deweke wedi yen kowe gawe sabun ora halal soale kowe nonmuslim.”

Dadi wong sing agamane beda ki kadang sok serbasalah. Ning yo ora papa. Saya suwe aku wis biasa ngadepi kaya ngono kuwi. Untunge sing nolak aku mung Bu M.

Malaikat Pamomong dan Sowan “Ibuk”

Ketika masih kecil dulu, aku belum punya jam beker. Aku baru punya jam beker itu ketika SMP. Pemberian. Sepertinya bukan kado ulang tahun atau peristiwa penting. Tapi aku lupa. Yang jelas, jam beker itu masih kupakai sampai sekarang. Pernah rusak sekali, tapi diperbaiki dan bisa berjalan lagi sampai sekarang. Awet ya.  Aku suka sekali dengan jam beker itu.

Ketika belum punya jam beker, sesekali aku mesti bangun pagi-pagi banget kalau aku harus mengikuti suatu kegiatan atau acara. Misalnya, mau berangkat darmawisata dan naik bus pagi-pagi. Malamnya aku biasanya mbanyaki dan takut kalau bangun kesiangan. Ibuk dan Bapak biasanya akan ngayem-ngayemi dan bilang akan membangunkanku. Tapi namanya tukang mbanyaki dan mbingungi, aku tetap cemas. Kalau aku ketinggalan bus gimana? Biasanya Ibuk lalu bilang ke aku begini: “Minta sama malaikat pamomong supaya membangunkan kamu jam 4.” Agak tidak percaya, tapi tetap kulakukan.

Dan berhasil!

Selalu berhasil seingatku. Aku selalu bangun persis atau kira-kira kurang 5 menit dari waktu yang kuminta.

Kemarin aku bertemu teman lama. Ngobrol ngalor ngidul. Panjang kali lebar. Ngobrol sama dia enaknya tidak dihakimi–bahwa aku mesti begini, begitu. Tidak saling mengunggulkan bahwa aku sudah begini, kamu pun mestinya juga sudah mencapai ini dan itu. Sebenarnya aku berangkat menemui dia dalam kondisi tidak fit. Hidung meler dan tenggorokan sudah berteriak-teriak karena hampir radang. Tapi pas mengobrol dengannya, aku seperti mendapat energi cukup positif sehingga bisa duduk beberapa jam untuk saling mendengarkan.

Lalu sampailah kami pada suatu obrolan lama tentang “unfinished business” dengan beberapa orang di masa lalu dan masa sekarang. Salah satu saran darinya mengingatkanku pada pesan ibuku: “Cobalah ajak bicara sang malaikat pelindung—alias malaikat pamomong. Ajak bicara dalam tataran jiwa.”

Haish! Berat amat ya.

Pengalaman dibangunkan pagi-pagi dulu membuatku percaya bahwa malaikat pelindung itu ada dan kita bisa minta tolong kepadanya. Entah bagaimana teorinya, tapi aku mau mencoba. Setidaknya, obrolan kami kemarin mengingatkanku untuk lebih banyak berdoa–hal yang akhir-akhir ini rada mbleret dan mbuh ra karuan.

Jadi, ya… aku mau coba memulai lagi sesuatu yang sudah lama kutinggalkan. Plus mau sowan Ibuk Maria lagi–yang pasti cuma geleng-geleng kepala melihatku yang masih begitu-begitu saja.

Sancta Maria, Mater Dei, ora pro nobis peccatoribus, nunc et in hora mortis nostrae.