Kewajiban Lima Tahunan

Apa itu? Mengurus perpanjangan SIM.

Tahun ini aku mesti memperpanjang SIM C. Ini tahun yang istimewa dalam pengurusan SIM karena aku pindah alamat. Lebih tepatnya, KTP-ku ganti. Alamatnya sih ya di situ-situ saja. Cuma dulu KTP-ku selalu Madiun (tempat tinggal asalku) dan waktu tinggal di Jakarta aku tidak ganti KTP karena mahal! Awal aku tinggal di Jakarta belum zamannya Ahok, sih. Jadi, Pak RT mematok tarif Rp250.000 untuk mengurus KTP baru. Ogah dong, ya. Lagian aku tidak ingin menetap di Jakarta. Lupakan saja punya KTP Jakarta. Menjelang aku pindah baru deh ada Ahok. Itu pun sudah hampir pergantian gubernur (yang akhirnya Ahok dilengserkan).

Jadi, singkat kata aku sekarang punya KTP Jogja. Eh, Sleman ding tepatnya. SIM-ku yang dulu adalah SIM dari Madiun. Nah, aku berniat mengganti dari SIM C Madiun menjadi SIM C Jogja.

Bagaimana caranya?

Aku pikir aku mesti ke Madiun, mengurus pencabutan berkas, lalu mengurus perpindahan SIM C di Samsat Sleman. Untungnya sekarang zaman internet. Aku sempat googling dan ternyata tidak perlu seperti itu. Caranya mudah saja, yaitu cukup mengurus di Samsat tempat tinggalku sekarang–Samsat Sleman.

Karena rada-rada tidak percaya awalnya, bulan lalu aku datang ke Samsat Sleman untuk tanya-tanya. Oleh petugas aku diminta untuk cek online dan ternyata untuk mengurus perpanjangan SIM baru bisa dilakukan kira-kira dua minggu sebelum SIM tersebut habis masa berlakunya. Jadi, ketika aku datang bulan Mei yang lalu, aku datang terlalu awal. Bulan Juni inilah aku mesti mengurusnya. Dan sebelum SIM-ku benar-benar kedaluarsa, dua hari yang lalu aku mengurus perpanjangannya.

Nah, begini cara perpanjangan SIM pindah alamat:
1. Datang ke Samsat tujuan (kalau aku berarti di Samsat Sleman) kira-kira dua minggu sebelum SIM habis masa berlakunya.
2. Cek online. Cek online ini waktunya tidak lama. Cuma antri sebentar lalu kita akan dapat selembar kertas kecil yang tulisannya kuecil-keciiil.
3. Cek kesehatan. Untuk cek kesehatan ini, siapkan foto kopi KTP dan SIM lama. Biasanya di sekitar tempat cek kesehatan ini ada jasa foto kopi. Kalau belum punya foto kopinya, bisa foto kopi di situ. Biaya administrasinya sebesar Rp 25.000, dan dibayarkan di tempat cek kesehatan tersebut. Yang diujikan pada tes kesehatan adalah cek mata, cek tekanan darah, cek buta warna.
4. Bayar biaya perpanjangan SIM di BRI. Kalau di Samsat Sleman ada BRI di depan pintu masuk pengurusan SIM. Biayanya sebesar Rp 75.000.
5. Mengisi formulir.
6. Foto, cap jari, tanda tangan, dan ditanya alamat plus pekerjaan sama petugas.
7. Mengambil SIM yang sudah jadi. Untuk mengambil SIM baru ini wajib menyerahkan SIM lama.

Tidak sulit, kan? Yang lama adalah antrinya. Awalnya aku terkaget-kaget melihat antrian yang banyak sekali. Tetapi aku sudah niat mengurus sendiri dan ternyata tidak terlalu lama menurutku. Aku tiba di kantor Samsat sekitar pukul 8.30. Sekitar jam 12-an sudah selesai. Pengurusan perpanjangan SIM dilayani pukul 8.00 – 11.00. Sedangkan untuk mengurus SIM baru dilayani pukul 8.00 – 10.00.

Tips:
1. Makan kenyang sebelum berangkat dan bawa minum. Soalnya cukup lama kan antrinya, jangan sampai kelaparan di sana.
2. Kalau bisa datang lebih pagi, lebih baik.
3. Pakai pakaian berkerah yang rapi. Jangan pakai kaos oblong ya. Soalnya ini kan mau foto resmi untuk SIM. Seingatku kemarin ada yang diminta keluar untuk ganti baju rapi karena orang itu pakai kaos oblong dan celana selutut.
3. Bawa bacaan supaya tidak bosan selama menunggu.
4. Siapkan ponsel yang sudah diisi daya penuh.
5. Siapkan hati untuk antri yang panjang.

Advertisements

Yang Perlu Kamu Tahu Sebelum Belajar Membuat Sabun (Cold Process)

Dulu aku takjub ketika tahu bahwa ternyata kita bisa membuat sabun sendiri. Dan ternyata bisa to sabun itu “diisi” macam-macam, mulai dari kopi sampai lidah buaya. Mulai dari susu sampai kelor. Terserah mau bikin sabun apa saja bisa. Wow!

sabun-sabunku

Aku sempat googling di mana bisa belajar membuat sabun. Ada beberapa orang mengadakan kelas pembuatan sabun bagi pemula. Ternyata cukup mahal bagi kantongku. Aku sempat melupakan mimpi bisa membuat sabun sendiri. Tetapi ternyata aku cukup beruntung karena ada teman yang mau mengajari. Sempat juga ikut workshop. Aku sempat kecele ikut workshop ini. Di awal dibilang workshopnya gratis, tetapi ternyata mesti membeli kit dengan harga tertentu. Cukup mahal buatku waktu itu. Tapi ya sudahlah.

Setelah itu aku mulai bereksplorasi sendiri. Eksperimen demi eksperimen kulakukan. Aku tidak ingat berapa liter minyak mahal (untuk ukuranku) yang kubeli dulu. Mulai dari minyak biji anggur sampai minyak zaitun. Aneka minyak itu kubeli karena aku penasaran. Apakah aku pernah gagal? Pernah dong. Tidak sayang beli minyak mahal-mahal? Yah, namanya juga penasaran.

Sekarang setelah aku cukup rutin membuat sabun–walaupun sempat libur beberapa waktu–dan menjualnya, ada satu dua orang yang bilang ke aku, “Ajari dong!” Aku pernah sekali mengajari teman membuat sabun, tetapi waktu itu kami barter ilmu. Aku mengajari dia membuat sabun, sementara dia mengajariku membuat shibori. Selain itu, pernah juga aku diminta menunjukkan cara pembuatan sabun di hadapan sekumpulan ibu-ibu. Lokasinya agak lumayan jauh dari rumahku. Dan aku mesti membawa sendiri aneka peralatan membuat sabun. Rempong! Sejak saat itu aku berpikir, aku akan berpikir-pikir jika diminta mengajari membuat sabun (apalagi kalau gratisan). Ternyata repot juga membawa alat-alat sendiri dan cukup menyita waktu. Selain itu, beberapa komunitas memintaku mengajari membuat sabun dari minyak jelantah. Untuk hal ini aku sekarang cenderung menolak karena merugikan aku. Banyak orang lalu mengira sabun-sabun yang kubuat dan kujual itu dari minyak jelantah. Promosi yang buruk, pikirku. Jadi, kutolak saja.

Mengingat pengalamanku yang dulu, aku ingin menuliskan beberapa hal yang perlu diperhatikan jika kamu ingin belajar membuat sabun (cold process).
1. Walaupun ada berbagai varian sabun, sebenarnya bahan dasar pembuatan sabun adalah minyak, air, dan soda api. Yang lain-lain itu adalah tambahan. Tanpa ketiga bahan utama tersebut, tidak akan jadi sabun. Kecuali kamu pengin membuat sabun dengan bahan deterjen, lain ceritanya ya. Aku tidak tahu mengenai hal itu. Silakan cari informasi sendiri, ya.

2. Ada macam-macam minyak (soft oil) yang bisa digunakan untuk membuat sabun. Siapkan dana yang cukup untuk membeli minyak-minyak tersebut. Sebetulnya sih, bisa juga pakai minyak kelapa dan minyak sawit saja. Tetapi kurasa hasilnya pasti beda kalau kita menggunakan soft oil.

3. Siapkan peralatan yang memadai. Jangan lupa pakai masker, sarung tangan, dan kalau bisa pakai kacamata pelindung. Bagaimanapun, pembuatan sabun melibatkan soda api yang cukup berbahaya kalau kena mata, kena kulit langsung, atau terhirup. Jangan memakai alat dari bahan aluminium.

4. Kalau kamu hanya penasaran dan ingin coba-coba saja, saranku lihat dulu cara pembuatan sabun di youtube. Atau, kalau ada soapmaker yang mengadakan kelas “demo”, ikut saja. Biasanya biayanya lebih murah daripada kelas “hands on”.

5. Kalau kamu memang sudah mantap akan rutin membuat sabun, siapkan peralatan penunjang seperti: timbangan digital, hand blender, baskom dari stainless steel atau plastik, cetakan silikon atau cetakan kayu, pemotong sabun (soap cutter), dan rak untuk mengangin-anginkan sabun. Siapkan dana yang cukup untuk semua itu.

Sementara itu dulu ya. Nanti kalau kuingat ada hal lain yang perlu diperhatikan, akan kutambahkan lain waktu.

Mimpi Jauh Sekali

Makan siang ini kantin tak seberapa penuh. Bulan puasa memang selalu begini. Hanya aku dan Tia duduk di tengah bangku-bangku kantin.

Entah bagaimana mulanya, Tia bertanya. “Apa mimpi terbesarmu, Ning?”

Aku tergagap. Aku sudah melupakan mimpi-mimpiku. Dan lama sekali tak ada yang menanyakan mimpiku. Tetapi seminggu ini aku terusik oleh sebuah mimpi. Mimpi Mas Tok dengan ibunya. Begitu pagi tiba, aku bangun dan merasakan kerinduan yang jauh terpendam. Ya, kupendam dan kubalut doa. Kami nyaris tak berkontak berbulan-bulan.

“Apa ya mimpi terbesarku?” aku balik bertanya pada diriku sendiri sambil menatap Tia. Lalu tatapanku beralih ke meja, pada serangkaian kunci bergantungan kunci bulat dengan pinggir keemasan, bertuliskan Lourdes-France. Bagian tengahnya terdapat gambar Maria yang menampakkan diri pada Bernadette.

“Ada kaitannya dengan Lourdes?” tanya Tia seolah membaca pikiranku.

“Aku lama sekali tak memikirkan apa mimpiku, Tia. Hanya saja seminggu ini aku memimpikan seseorang …”

“Pacarmu?” tebak perempuan di depanku ini.

Aku tertawa kecil. Pacar? Kutarik napas panjang. Mengingat namanya saja selalu menggetarkan hatiku. Ada perih bercampur bahagia, dan teraduk-aduklah isi dadaku. Kenangan bersamanya muncul berkelebat-kelebat. Hutan jati. Malam-malam yang syahdu. Perjalanan Sintang-Nanga Pinoh. Perjalanan di kereta. Sendangsono. Perjalanan saat bulan purnama. Pertengkaran-pertengkaran kecil. Ah!

“Teman lama, Tia. Lagi pula entah di mana dia sekarang. Kami jarang sekali berkontak.”

“Mungkin dia ingin menghubungimu lewat mimpi,” ujar Tia.

Kami terdiam cukup lama. Kubiarkan gejolak hatiku sedikit mereda.

“Dia mimpi terbesarmu?” tanya Tia hati-hati setelah beberapa menit berlalu.

Aku menunduk. Jangan sampai mataku menjelaskan semua ini pada Tia.

“Kami pernah punya mimpi bersama,” jawabku. “Entah dia ingat atau tidak.”

Sampai sore percakapan dengan Tia masih terngiang. Begitu pula ingatan pada mimpi-mimpiku belakangan ini, menghadirkan adukan emosi yang tak bisa kujelaskan.

Di kamar kos aku memain-mainkan gantungan kunci pemberian Mas Tok. Lourdes-France. Apakah dia ingat mimpi yang kami bangun bersama dulu? Dan kenapa dalam mimpiku ada ibu Mas Tok? Ah, Ibu yang lembut hati. Betapa aku tak sanggup mengoyakkan ketentramanmu demi kuraih mimpiku bersama Mas Tok.

Tanpa sadar kufoto gantungan kunci itu, lalu kukirim lewat WhatsApps kepada Mas Tok.

Aku tersadar ketika tengah malam kudengar suara “ting” pelan di telepon pintarku.

“Dik Ning, aku sedang di Lourdes bersama Ibu. Aku masih ingat mimpi kita berdua untuk ke sini.”

Bersama pesan itu terkirim foto dua sosok yang hadir dalam mimpiku beberapa malam belakangan ini. Dan aku menangis.

Memilih Mesin Cuci: Satu atau Dua Tabung?

Aku tidak ingat kapan mulanya aku benar-benar mengenal mesin cuci. Zaman aku masih kecil, mesin cuci adalah barang mewah. Tapi makin lama, mesin cuci dianggap sebagai suatu alat yang wajar di rumah-rumah.

Di keluargaku sendiri, mesin cuci (dua tabung) baru benar-benar hadir di rumah ketika aku duduk di bangku SMP kalau tidak salah. Sebelum ada mesin cuci, kami mencuci manual–alias kucek pakai tangan.

Waktu itu Mak’e (pengasuhku) masih hidup. Begini komentarnya waktu ada mesin cuci di rumah: “Apa ya bisa bersih kalau cuma diputer-puter begitu?” Jadi, dia tetap mengucek sendiri bajunya walau sudah tersedia mesin cuci. Tapi seingatku, lama-lama dia memakai alat itu juga setelah sekian lama. Atau setidaknya, dia hanya pakai alat pengeringnya? Lupa, dah.

Setelah beberapa dekade berlalu, masalah kebersihan mesin cuci masih dipertanyakan oleh seorang sepupuku. Sebetulnya dia punya mesin cuci juga (2 tabung), tapi sampai sekarang dia tidak pernah memakai alat itu. Alasannya sama seperti Mak’e: “Nggak bersih. Kan cuma diputer-puter doang bajunya.” Biasanya komentarnya itu akan disambar oleh kakaknya, “Jadi, orang barat itu bajunya nggak bersih semua? Kan mereka semua nyuci baju pakai mesin cuci.” Tapi si adik biasanya hanya diam saja tak punya jawaban yang cetar membahana untuk menangkis komentar itu. Ia teguh kukuh mengandalkan ucekan. Jadi, meskipun punya cucian bertumpuk-tumpuk, dikejar deadline, mesti mengurus orang sakit di rumah, dia masih mengucek baju yang banyaknya seabrek-abrek.

Aku dulu juga meragukan kemampuan mesin cuci. Karena penasaran, aku googling dong. Apa iya, mencuci pakaian menggunakan mesin cuci bisa bersih? Apakah karena daya bersih sabun saja? Ternyata kuncinya justru pada perputaran air yang konstan selama proses pencucian. Karena adanya perputaran air, kotoran yang ada di antara serat benang yang kecil itu bisa hilang. Tentu saja dengan adanya sabun, proses mencuci jadi lebih maksimal.

Oke, setelah rasa penasaran itu dibereskan, mari kita bahas soal pemilihan mesin cuci. Kamu lebih suka memakai mesin cuci satu atau dua tabung?

Selama beberapa tahun terakhir ini, aku mengandalkan mesin cuci satu tabung di rumah. Dulu ibuku yang membelikan mesin cuci tersebut. Alasannya: “Kan kalian pada sibuk. Kalau pakai yang satu tabung, nyuci bisa ditinggal.” Aku awalnya kurang setuju karena mesin cuci satu tabung lebih mahal. Sayang uangnya. Tapi lama-lama aku menikmati memakai mesin cuci satu tabung.

Bulan lalu mesin cuci yang dibelikan ibuku itu rusak. Tombolnya waktu dipencet tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Waduh, kok ya mesin itu rusak pas rada-rada bokek begini. Tapi aku berpikir, “Ah… dunia belum berakhir walau mesin cuci rusak.” Aku sempat terpikir untuk menservisnya saja. Tapi karena umur mesin cuci itu sudah lama banget (sekitar 10 tahun lebih rasanya), dan belakangan performanya menurun, aku berpikir akan beli mesin cuci baru.

Pertanyaannya: Beli mesin cuci satu tabung atau dua tabung?

Awalnya kupikir mau beli yang dua tabung saja. Jauh lebih murah. Ini semata-mata alasan finansial–berhubung rada bokek. Tapi setelah lewat banyak pertimbangan, aku memutuskan beli yang satu tabung. Tak apalah menunda dulu belinya. Sampai uangnya cukup, baru kubeli, begitu pikirku. Ndilalah aku baru dapat transferan royalti buku. Puji Tuhaaan…! Duitnya bisa untuk membeli mesin cuci.

Alasanku memutuskan beli mesin cuci satu tabung adalah:
1. Lebih hemat tempat.
Ternyata tempat yang tersedia tidak cukup untuk mesin cuci dua tabung. Mesin cuci dua tabung lebih lebar, sedangkan mesin cuci satu tabung lebih ramping.

2. Lebih praktis.
Ini alasan yang utama sebenarnya. Kalau mesin cuci dua tabung, mesti ditungguin. Setelah proses cuci dan bilas, kita mesti memindahkan semua baju ke bagian pengering. Tidak bisa langsung beres. Aku benar-benar terbantu dengan kepraktisan mesin cuci satu tabung itu. Begitu mesin cuci bekerja, aku bisa konsentrasi mengerjakan hal lain. Benar-benar mencuci sendiri dan mengurangi capek.

Jadi, kalau bingung memilih mesin cuci satu atau dua tabung, pertimbangkan apa yang lebih kamu utamakan. Kalau mau hemat uang, ya pilih yang dua tabung. Kalau mau hemat waktu plus nggak capek, pilih yang satu tabung. Cus! Silakan memutuskan.

Butuh Membuat Jarak

Kemarin aku membaca di status temanku begini kira-kira: Sesuatu yang kamu benci itu mungkin sesuatu yang membutuhkan lebih banyak cinta darimu.

Membaca itu aku jadi tertegun.

Hari-hari belakangan ini aku sedang bruwet. Aku marah, kesal, dan benci dengan beberapa kerabat ibuku. Mungkin sudah sampai tahap muak. (Aku jarang banget kan nulis seperti ini. Tapi aku butuh “tempat sampah” dan apa yang terjadi akhir-akhir ini perlu kuingat untuk pembelajaran.) Mengapa mereka hanya memikirkan materi dan bahkan sampai menyengsarakan orang lain? Yang membuatku muak adalah semua itu dibungkus dengan kata-kata agamis dan dilakukan orang-orang yang menyandang gelar tinggi.

Tapi ketika membaca status temanku itu, aku rasanya jadi sangat sedih. Aku sedih mengingat mereka dan diriku sendiri. Aku sempat bertanya-tanya pada diriku sendiri, apa yang sebenarnya terjadi. Apa yang sebenarnya kurasakan? Do we lack of love? Aku sampai benar-benar kehilangan kepercayaan terhadap orang-orang yang mestinya kuhormati.

Ya, mungkin aku yang kurang mencintai mereka. Tetapi aku butuh diam dan membuat jarak sejenak.

Setelah Tak Kerja Kantoran, Ngapain?

Beberapa minggu lalu, aku menemui seorang teman yang akan pensiun. Aku merasa cukup berutang budi padanya karena beberapa belas tahun lalu dia telah memberiku kesempatan untuk melakukan kerja sampingan menjadi penyunting lepas untuk majalah yang digawanginya. Aku kurang tahu apakah istilah menyunting sudah tepat. Yang kulakukan adalah memperbaiki kalimat dan mencari kalau-kalau ada salah ketik. Selain menyunting artikel yang akan terbit, aku juga sesekali menulis. Kadang ulasan buku, kadang artikel lepas biasa. Pernah juga dia memberiku pekerjaan berupa terjemahan. Hal itu kulakukan dulu semasa aku masih kerja kantoran.

Kupikir-pikir, dia adalah salah satu orang yang berjasa membuatku merasa lebih PD dalam melakukan pekerjaan yang bersangkutan dengan buku, teks, artikel, dan semacamnya. Dan berkat dia pula, aku punya sedikit uang tambahan selain gaji tetap yang kuterima di kantor.

Ketika aku bertemu dengannya–sebelum sempat aku bertanya–dia mengatakan dia belum tahu apa yang akan dilakukan setelah pensiun nanti. Kalau dilihat perawakannya, dia masih jauh dari definisi tua. Masih segar bugar. Aku jadi membayangkan, kalau aku jadi dia, apa ya yang akan kulakukan? Pengalaman banyak, waktu banyak, tetapi barangkali kurang terbiasa mencari pekerjaan sambilan.

Aku bisa paham jika orang setelah pensiun mengalami post power syndrom. Karyawan biasa saja bisa mengalami itu, apalagi orang yang terbiasa memegang jabatan. Pekerjaan kantoran itu sedikit banyak menempelkan identitas pada kita. Dulu aku pernah merasa useless setelah tak lagi ngantor. Padahal dulu aku sendiri yang memilih mengundurkan diri (resign). Kan ikut suami ke luar kota. Kalau nggak resign, masak kantornya aku bawa? 😀

Tadi pagi, kakakku cerita ia ketemu seseorang yang akan diakhiri kontraknya oleh sebuah NGO. Usianya masih sangat muda. Tapi dia terbiasa kerja ikut orang. Waktu ditanya, apa yang akan dilakukan setelah kontraknya habis? Dia menjawab tidak tahu.

Menurutku mahasiswa dan orang-orang sekolahan sekarang pada umumnya tidak disiapkan untuk mandiri. Setelah lulus, pertanyaan yang muncul adalah: Kerja di mana? Berapa gajinya? Kalau bekerja di perusahaan bonafid dan gaji tinggi, langsung derajatnya melejit. Keren deh. Selain itu, sekarang banyak orang setelah lulus S1 cenderung langsung melanjutkan S2. Mungkin harapannya setelah lulus S2, bisa bekerja di perusahaan yang jauh lebih bonafid dan bergaji jauh lebih tinggi. Semakin keren. Orang-orang seperti ini kurasa yang akhirnya gamang ketika mesti pensiun dini, ketika kontrak tidak diperpanjang. Mungkiiiin, lho ya. Aku bilang begitu karena melihat orang-orang di sekitarku begitu.

Mengalami gamang dan galau setelah tidak ngantor itu biasa. Namanya juga lepas dari sebuah kebiasaan. Tapi kurasa kalau kita masih sehat walafiat, tubuh masih lengkap, masih muda, banyak yang bisa dilakukan. Itu modal yang sangat besar. Kalau bisa sih sebetulnya sebelum hari H pensiun, mesti mulai melakukan sesuatu. Entah itu berkebun, nulis blog, memasak, bikin sabun (eh itu kan aku, ya?) … apa sajalah. Kalau hasilnya bisa dijual, ya dijual. Lumayan bisa untuk tambah-tambah beli garam–begitu kata Ibuk. Yang jadi tantangan adalah kalau uang pensiun tidak cukup untuk hidup dan bayar tagihan. Lalu bagaimana? Ng… aku belum pernah mengalaminya. Jadi tidak bisa memberi solusi.

Aku hanya berpegang pada motto orang Jawa: Ubet, ngliwet. Kalau kita berusaha, pasti hasilnya bisa untuk hidup. Jadi, begitulah.

Don’t worry be happy. Yuk ubet, ben iso ngliwet.

Adakah Kabar Baru dari Masa Lalu?

Aku tadi membaca di status teman: Tak ada kabar baru dari masa lalu dan tak ada kabar kepastian dari masa depan. Jadi, hiduplah saat ini.

Aku seperti ditampol membaca status itu.

Iya, betul juga. Tak ada kabar baru dari masa lalu.

Kadang aku masih berharap ada kabar baru. Tapi yang lalu memang sudah berlalu walau menyisakan rasa sampai saat ini. Detail peristiwanya juga sebagian sudah terlupa, tapi ada rasa yang tertinggal. Apakah kamu mengalami hal yang sama?

Aku perlu mengingat hal ini lagi: Hiduplah sepenuh-penuhnya pada masa sekarang.

Dan jangan lupa memaafkan orang lain dan diri sendiri.