Malam Mingguan di Jogja

Kisah malam mingguku rata-rata biasa. Nyaris flat–mulai dari ketika di asrama zaman kuliah dulu sampai sekarang. Kalau zaman SMP atau SMA, kayaknya agak meriah.

Ketika di asrama, aku biasanya tetap di unit (di kamar) ketika malam minggu. Walau saat itu pernah punya pacar, tapi pacarku itu nyaris enggak pernah ngapeli. Hahaha. Keciaaan! Soalnya dia tidak punya motor atau kalaupun ada motor, dia mesti berbagi dengan saudaranya. Ini bodonya aku atau gimana ya? Pilih pacar kok enggak bermodal gini? Wkwkwk. Pernah juga punya pacar yang lumayan cakep, aku diperlakukan seperti putri, kalau malam minggu rajin datang, e… tapi tidak lama kemudian putus karena beda agama dan aku sudah dapat warning dari orang tuaku. Ya sutra lah. Mau gimana lagi, daripada nanti malah sakit hati semua, ya kan? Intinya, selama kuliah, aku lebih sering nonton teman yang diapeli pacarnya di asrama ketimbang dipanggil ke ruang tamu karena ada tamu spesial.

Karena malam minggu menjomblo begitu, aku kadang ikut teman-teman jalan-jalan ke Jalan Solo atau ke Mirota. Itu adalah hiburan anak asrama waktu itu. Ke Jalan Solo untuk beli gethuk lindri di depan Ginza atau sekadar lihat-lihat di Gardena. Kalau ke Mirota, tujuannya untuk belanja bulanan atau sekadar window shopping.

Aku tidak terlalu banyak tahu (atau malah memang tidak tahu?) suasana malam minggu di pusat kota Jogja. Sungguh pergaulanku tidak keren, ya? Seingatku, paling aku ikut mengajar di YSS, lalu pulang diantar oleh relawan-relawan lain. Waktu itu memang belum dibolehkan membawa sepeda motor sendiri di asrama. Mesti ada izin khusus dari Suster. Dan aku baru bawa motor ketika menjelang lulus. Tapi seingatku aku agak jarang keluar asrama waktu itu. Jadi, memang aku kurang update mengenai suasana malam minggu di Jogja.

Itu tadi cerita zaman masih muda. Sekarang? Kalau sekarang, aku malah hampir selalu ngumpet di rumah ketika malam minggu atau long weekend. Alasannya sudah jelas: Jogja ramaiii pol! Banyak bus wisata dan kendaraan dari luar kota yang memenuhi jalan. Mau ke tempat makan penuh. Di jalan macet. Jadi, ketimbang cari masalah di luar, lebih baik tinggal di rumah saja. Aku aman, tentram, dan bahagia bersama kucing-kucingku.

Namun, semalam aku keluar dari kebiasaanku mengumpet saat malam minggu. Aku mesti ke Stasiun Tugu menjemput orang tuaku. Aku agak cemas, meskipun jalan menuju ke sana bukan rute sulit. Tapi aku tak bisa membayangkan kemacetannya. Dari rumah (rumahku di utara) sampai mendekati Jetis, perjalanan masih lumayan lancar. Ada kemacetan di beberapa titik, tapi lumayan lah. Tidak parah. Lalu, sampailah aku di jalan Mangkubumi dan hampir dekat stasiun. Astaga! Aku meratapi kebodohanku ketika baru sadar bahwa pintu keluar stasiun ada di Jalan Pasar Kembang. Baiklah, aku mesti ke arah Jembatan Kewek, lalu mengikuti jalan memutar ke arah Malioboro. E… lha kok ternyata jalan menuju Malioboro ditutup! Alamakjang! Aku mesti jalan sampai Kridosono, nih pikirku. Tapi ternyata jalan ke arah Malioboro yang dekat Kafe Legend itu ditutup juga. Pusing dong aku membayangkan mesti ke arah perempatan Tugu lagi karena macetnya di titik itu lumayan bikin pegel kaki menekan kopling.

Akhirnya aku jalan sampai Samsat, lalu ke selatan ke arah Ngampilan. Aku pikir, gila aja ya kalau aku mesti muter sampai PKU lalu masuk ke jalan Bayangkara. Sungguh rute yang panjang menuju stasiun. Aku pun menelepon teman “penguasa” yang tinggal di daerah sekitar situ untuk minta petunjuk arah. Aku kemudian belok ke arah Yamie Pathuk. Yihaaa… di jalan sesempit itu aku berpapasan dengan bus pariwisata yang segede bagong. Tapi aku bisa melewati tantangan itu dengan baik. Lalu aku belok ke arah Jalan Bayangkara. Ternyata kemacetan di sekitar Tugu dan jalan Mangkubumi tidak ada apa-apanya dibanding Jalan Bayangkara. Kendaraan besar kecil semua merayap. Kaki kiri yang menginjak kopling sudah menjerit-jerit. Saat itulah aku bisa berempati pada supir-supir taksi di Jakarta yang setiap hari menghadapi kemacetan.

Setelah melewati lautan kendaraan, sampailah aku di stasiun. Total perjalanan dari rumah plus muter-muter tidak karuan itu adalah 1,5 jam. Padahal wajarnya 45 menit saja sudah cukup.

Untung, pulangnya jalanan sudah cukup lancar. Hanya beberapa titik saja yang padat. Tapi Gejayan arah utara masih tetap memegang juaranya macet. 😀 😀 Aku sampai rumah sekitar pukul 10 malam.

Bagi orang yang tidak tinggal di Jogja, mungkin akan sulit membayangkan nama jalan atau daerah yang kusebut di atas. Namun, pendek kata, kalau kapan-kapan ingin ke Jogja dan malam mingguan di sini, terutama di daerah Malioboro dan sekitarnya, persiapkan mental menghadapi kemacetan. Kurasa kemungkinan akan sulit juga mengorder ojol. Kecuali kalau mau wisata kemacetan. 😀

Lalu, bagi orang yang naik kereta dan turun di stasiun Tugu pada hari Sabtu, terutama Sabtu malam, mungkin bisa mempertimbangkan naik kereta yang turunnya di Lempuyangan.

1 Juli: 29 Tahun Berlalu

Ning kepada Tok:
Aku mengingatmu berhari-hari
berminggu-minggu
berbulan-bulan
bertahun-tahun.
Setiap detik aku mengingatmu.

Mas Tok, beberapa minggu lalu aku bertemu Pak Min. Ya, Pak Min, lelaki yang pernah bertugas di tempat kerjamu. Dia bilang padaku bahwa dia ingat tentang kita. Tentang dirimu yang menitip ratusan surat untukku. Tentang aku yang sering datang siang-sore menjumpaimu. Dua puluh sembilan tahun berlalu, dan Pak Min masih ingat tentang kita.

Mas Tok, kalau Pak Min saja ingat tentang kita, aku tak perlu menjelaskan lagi padamu bahwa segala tentang dirimu selalu segar dalam ingatan.

Tok kepada Ning:
Dik Ning, aku takjub dengan kesetiaanmu. Rasaku padamu bertambah setiap waktu.

Dua yang Pergi

Seminggu terakhir ini ada dua orang di lingkunganku yang meninggal. Yang pertama meninggal mendadak, yang kedua sebenarnya sudah sakit sekitar semingguan.

Kalau dibilang sedih, mungkin tidak sedih banget karena jujur saja aku tidak punya kedekatan emosi yang kuat dengan keduanya. Tapi aku kenal baik dengan dua bapak tersebut. Aku hanya merasa seperti ada yang kosong.

Aku nyaris tidak pernah bertemu Pak W, bapak yang meninggal pertama itu. Sejak pandemi, aku tidak pernah ikut kegiatan di lingkungan. Hampir tidak ada kegiatan juga, sih. Dan aku tidak pernah ketemu beliau misa di gereja (sejak adanya misa luring). Dasarnya aku juga jarang misa sejak pandemi, sih.

Berbeda dengan Pak A, aku beberapa kali bertemu beliau di gereja karena beliau biasanya bertugas tata laksana (yang membantu umat menemukan nomor kursinya). Aku yang biasanya datang mepet dan agak lari-lari masuk gereja, sering merasa lega ketika melihat Pak A. Beliau biasanya membantuku menemukan nomor kursiku. Jadi, aku bisa duduk sebelum romo muncul di altar. Seminggu sebelum beliau meninggal, aku sempat bertemu dengannya di gereja.

Menurutku, dua bapak ini meninggal dalam waktu yang cepat. Bisa dibilang mendadak. Yang satu beneran mendadak karena sebelumnya tidak sakit. Yang satu lagi, mendadak stroke dan akhirnya pergi. Betapa tipis jarak antara ada dan tiada–antara hidup dan mati.

Selama mengikuti doa memule (peringatan orang meninggal), aku mengamati ada orang-orang yang tinggalnya agak jauh, yang rajin ikut doa. Bahkan termasuk mereka yang kurang dekat dengan kedua almarhum. Kehadiran orang-orang seperti ini sungguh menguatkan. Ya, cuma hadir saja sudah cukup membantu. Karena kalau yang datang doa sedikit, mesti rasa duka itu akan terasa lebih menggigit.

Dari peristiwa meninggalnya dua bapak tersebut, aku merasa bahwa ketika seseorang meninggal, yang diingat sering kali bukan hal-hal besar atau tindakan heroik mereka. Yang sering membekas justru hal kebaikan yang sederhana, kecil, dan sepertinya sepele.

Cerita Yogurt

Karena sering sekali makan yogurt, hampir bisa dipastikan aku selalu memiliki persediaan yogurt di lemari es. Selain itu, aku juga selalu punya persediaan susu UHT di lemari persediaan makanan. Jadi, kalau persediaan yogurt menipis, aku bisa langsung membuat yogurt yang baru.

Dulu, aku memakai yogurt yang dijual di swalayan untuk sebagai biang. Yang paling sering kupakai adalah merek Biokul plain. Banyak yang merekomendasikan merek itu sebagai starter, dan aku tidak tertarik mencoba merek lain. Kenapa ya? Takut gagal sepertinya, sih. Namun, belakangan aku mencoba memakai bibit berbentuk serbuk. Dulu aku takut-takut mencoba memakai bibit serbuk. Pertama, karena aku tidak tahu seperti apa rasa yogurt jika memakai bibit serbuk. Kedua, rata-rata harga starter bubuk agak mahal ya dibandingkan Biokul. Ketiga, aku khawatir pembuatan yogurt memakai bibit serbuk harus memakai yogurt maker. Sebenarnya aku punya yogurt maker, tetapi dulu jarang kupakai karena pertama kali mencobanya, yogurtku tidak jadi seperti yang kuharapkan. Jadi, yogurt maker itu menganggur lama sekali. Aku pikir, o … barangkali karena yogurt maker ini harganya murah (tidak sampai 100 ribu), jadi yogurt yang dihasilkan tidak bagus.

Suatu kali, aku browsing di marketplace dan entah bagaimana aku sampai di lapak penjual bibit yogurt yang berbentuk serbuk. Di situ ditunjukkan caranya membuat yogurt. Ternyata mudah sekali, seperti cara yang kupakai selama ini, yaitu hanya memakai stoples kaca yang diselimuti handuk/serbet. Melihat harganya per bungkus yang tidak terlalu mahal (sekitar 20-an ribu), aku lalu membelinya.

Sejak saat itu, aku selalu membuat yogurt dengan menggunakan starter serbuk. Menurutku starter serbuk ini lebih praktis karena aku bisa menyimpan starter yang masih bungkusan di dalam freezer. Kalau Biokul kan masa kedaluarsanya lebih pendek dan tidak bisa disimpan di freezer. Jadi, starter serbuk lebih praktis penyimpanannya dan masa kedaluarsanya lebih lama.

Setelah itu, aku berani mencoba memakai starter bubuk lain. Suatu kali, aku membeli starter merek lain (dari lapak lain). Ketika kucoba kubuat, … jeng jeng … kok hasilnya tidak seperti yang kuharapkan? Padahal, masa fermentasinya sudah sesuai petunjuk. Seingatku sudah 12 jam lebih, deh. Yogurt itu masih belum set dan rasanya masih kurang asam. Lalu aku teringat yogurt maker yang sudah ngendon lama di lemari. Segera kutuang yogurt yang sedang difermentasi itu ke yogurt maker. Dalam waktu sekitar 2 jam, yogurt itu jadi! Yeay! Jadinya bagus sekali. Kental dan tidak terlalu asam. Sejak saat itu, aku selalu membuat yogurt memakai yogurt maker murah yang lama nganggur itu.

Oya, begini caraku membuat yogurt.
Tanpa yogurt maker:

  1. Siapkan susu UHT atau susu pasteurisasi.
  2. Siapkan pula starter yogurt. Bisa pakai Biokul plain, starter serbuk, atau yogurt sebelumnya.
  3. Panaskan susu, tapi tidak sampai mendidih. Kalau punya termometer khusus untuk makanan, cek suhunya sekitar 42 derajat Celsius. Jangan terlalu panas, supaya starter yogurt tidak rusak/mati.
  4. Masukkan starter ke dalam susu hangat, lalu aduk.
  5. Tuang susu yang sudah diberi starter tersebut ke dalam stoples kaca bersih.
  6. Tutup stoples. Selimuti dengan handuk atau serbet. Tujuannya supaya susu di dalam stoples tersebut tetap hangat selama proses fermentasi.
  7. Diamkan susu sekitar 8 jam sampai menjadi yogurt.
  8. Cek kekentalan dan rasa yogurt. Kalau dirasa sudah jadi, masukkan yogurt ke dalam lemari es.

Dengan yogurt maker:

  1. Siapkan susu UHT atau susu pasteurisasi.
  2. Siapkan pula starter yogurt. Bisa pakai Biokul plain, starter serbuk, atau yogurt sebelumnya.
  3. Masukkan susu ke dalam yogurt maker lalu masukkan pula starter yogurt. Aduk perlahan.
  4. Nyalakan yogurt maker lalu diamkan susu yang sudah diberi starter yogurt tersebut selama sekitar 6-8 jam.
  5. Setelah proses fermentasi selesai, masukkan yogurt yang sudah jadi ke dalam kulkas. Tanda yogurt sudah jadi: sudah set dan rasanya asam.

Dari pengalamanku membuat yogurt selama ini, berikut ini beberapa hal yang kupelajari.

  1. Untuk membuat yogurt, susu sebaiknya dalam kondisi hangat. Itulah gunanya yogurt maker, yaitu menjaga agar susu tetap hangat selama proses fermentasi. Tidak panas, ya, tapi hangat suam-suam. Bakteri yogurt itu suka suhu yang hangat. Kalau terlalu panas, dia bisa mati. Ketika memakai yogurt maker, aku tidak perlu memanaskan susu lebih dulu di kompor. Susu bisa langsung dituang ke yogurt maker, lalu masukkan bibit. Bibit itu bisa dari yogurt sebelumnya, bisa juga bibit baru (serbuk/yogurt yang dijual di pasaran).
  2. Tiap bibit yogurt bisa menghasilkan yogurt yang berbeda rasanya. Ada yang asam sekali, ada yang asamnya sedang. Aku lebih suka yogurt yang tidak terlalu asam.
  3. Yogurt yang sudah jadi tidak bisa set atau misah (banyak sekali whey-nya)? Kemungkinan terlalu lama proses fermentasinya atau susu terlalu panas.
  4. Hasil yogurt terlalu encer? Mungkin hal itu dipengaruhi kualitas susu. Aku pernah memakai susu segar, dan hasil yogurtnya encer sekali. Aku pernah membaca, supaya yogurt yang dihasilkan cukup set/kental, mesti ditambahkan susu bubuk. Aku pernah memakai cara ini, dan memang jadinya yogurt lebih kental. Tapi aku meninggalkan cara ini karena kalau memakai susu cair kemasan (UHT atau pasteurisasi), hasilnya lebih stabil dan aku tidak perlu memanaskan susu lebih dulu. Apakah kalau begini susu segar tidak bisa dipakai untuk membuat yogurt? Bisa kok. Ada beberapa teman yang membuat yogurt dari susu segar dan jadinya bagus. Kurasa waktu itu aku gagal karena susu yang kupakai kualitasnya kurang bagus. Aku pernah membuat yogurt memakai susu dari peternakan biara Rawaseneng dan hasilnya bagus.
  5. Apakah perlu memakai yogurt maker? Tidak juga sih, aku dulu hanya pakai stoples kaca. Tapi belakangan aku memang memilih pakai yogurt maker. Aku merasa hasilnya lebih stabil dan lamanya fermentasi lebih terukur. Dengan yogurt maker, aku biasanya melakukan fermentasi yogurt sekitar 6-8 jam.

Begitulah pengalamanku membuat yogurt selama ini. Apakah kamu pernah membuat yogurt sendiri di rumah?

Apakah Menunggu Pesanan Martabak Telur Adalah Saat yang Membahagiakan?

Pertanyaan “Apakah aku bahagia?” muncul beberapa waktu lalu, tepatnya ketika aku menunggu pesananku martabak telur dibuat. Ketika akan berangkat, aku agak terburu-buru karena kulihat mendung sudah cukup gelap. Sementara itu, aku harus mengirim paket sabun, membeli roti tawar, dan ya itu tadi: membeli martabak telur untuk tambahan lauk makan malam. Aku tahu bisa kehujanan kalau aku kurang efisien menata waktu. Dan aku amat sangat menghindari hujan. Aku tak suka kedinginan di jalan–walau aku bisa memakai jas hujan supaya tidak kehujanan, tapi sungguh aku tak suka kehujanan. Apalagi hujan membuat pandanganku kabur.

Membeli martabak adalah urutan terakhir. Yang pertama tentu saja mengirim sabun supaya paket itu bisa segera diterima pembeli. Dan aku sebetulnya mulai tak sabar ketika menunggu martabak pesananku matang. Aduh, kenapa lama matangnya? Lalu sesekali aku mendongak, melihat apakah hujan sudah benar-benar akan turun. Aku sedikit agak lega ketika kulihat orang di jalanan tidak bergegas. Berarti belum hujan. Dan muncullah pertanyaan itu: Apakah aku bahagia?

Sebetulnya apa itu bahagia?

Aku meraba perasaanku dan merenungkan kembali hidupku. Aku merasa cukup nyaman berada di kota ini, tinggal di daerahku sekarang. Aku bisa dengan mudah menjangkau warung, toko, kedai, atau apa pun itu namanya, yang menjual barang kebutuhanku. Aku punya kendaraan yang layak untuk kupakai. Jaket yang kupakai saat itu memang sudah butut, tapi sudah sangat cukup membantu melawan angin atau udara dingin. Kacamataku masih bisa kupakai–walau aku mulai berpikir untuk memeriksakan mataku lagi: Jangan-jangan minus atau plusnya tambah? Sejauh ini, sampai ketika aku menunggu martabakku matang, aku merasa semua yang kumiliki sudah cukup. Lalu, apakah aku sudah bahagia?

Kupikir, perasaan cukup yang kuamati petang itu, membuatku berpikir bahwa aku sudah cukup bahagia. Entah apa pun itu definisi bahagia, aku rasa tidak perlu-perlu amat mencocokkan antara definisi dan perenunganku sore itu. Aku rasa, aku berhak menentukan standar dan definisi bahagiaku sendiri.

Aku melirik ke dalam kedai, dan kulihat martabakku sudah mulai diiris. Aku segera berdiri, mengambil dompet di dalam tas, dan menghitung jumlah uang. Tak terlalu banyak jumlahnya, dan mestinya aku perlu mengambil uang lagi di ATM. Aku mencoba mengingat-ingat berapa saldo terakhirku. Aku hanya berharap, semoga selalu ada rejeki secukupnya. Berapa pun uang yang masuk dan keluar perlu disyukuri. Begitu kutipan yang kubaca di medsos beberapa hari lalu.

Apakah aku masih bahagia ketika mengingat saldo terakhir di rekeningku?

Kupikir, cukuplah bahagiaku sore itu. Kupacu motorku sebelum hujan benar-benar datang. Hujan turun persis ketika aku memasukkan motor ke dalam garasi.

Hitunglah berkat-berkatmu, agar semua terasa cukup dan menghangatkan hati.

Belanja di Warung: Seperti Belanja pada Saudara Sendiri

Salah satu tempat favoritku adalah pasar. Iya, pasar tradisional, tepatnya. Asal pasarnya tidak becek-becek amat, aku suka menyusuri gang-gang di dalam pasar. Bagiku pasar adalah tempat untuk mendapatkan energi positif dan semangat. Hampir tak pernah kurasakan suasana sedih ketika aku berada di pasar. Rata-rata pedagang di sini cukup ramah. Ketika pagi-pagi sedang butuh suntikan semangat, aku akan berangkat ke pasar.

Namun, karena jarak pasar dari rumahku agak lumayan, aku lebih sering belanja di warung sayur. Warung sayur ini biasanya buka pagi sampai siang. Tapi ada pula yang bukanya agak siang, lalu tutupnya malam. Warung sayur langgananku ada tiga. Jaraknya tidak terlalu jauh. Yang paling dekat hanya sekitar 5 menit jalan kaki dari rumah. Satu lagi, sekitar 10 menit dari rumah jalan kaki. Yang terakhir, agak jauh, sehingga aku perlu naik motor–mengingat jalan raya depan gang rumahku cukup ramai, tak ada trotoar pula, aku merasa tidak nyaman berjalan kaki sampai agak jauh.

Bahan-bahan yang disediakan di warung sayur ini sebenarnya cukup untuk memenuhi kebutuhan masak harian. Lagi pula, masakanku biasanya hanya membutuhkan sawi, kangkung, bayam, terong, timun, wortel … tahu, tempe. Begitu-begitu saja. Kecuali aku mau masak agak istimewa, barulah aku mancal sepeda motor ke pasar.

Setiap kali ke pasar, aku mesti membawa uang lebih banyak. Soalnya, aku sering tergoda melihat sayur-sayur segar. Atau kalau awalnya mau beli ikan patin, lalu di lapak penjual ikan ada ikan tuna segar atau ikan nila, aku kan jadi tergoda juga. Minimal ada dua lembar uang lima puluhan ribu di dompet, baru aku merasa aman ketika ke pasar.

Berbeda ketika aku ke warung sayur. Karena umumnya sayur di warung tidak semeriah di pasar, aku cukup PD hanya membawa uang dua puluh ribu. Bahkan belanjaku kadang kurang dari dua puluh ribu.

Suatu kali aku dengan pedenya berangkat ke warung sayur terdekat. Waktu itu aku belum terlalu sering belanja di situ. Aku hanya ingin beli seikat kangkung seharga dua ribu rupiah. Ketika hendak membayar, aku buka bawah jok motorku karena seingatku dompetku belum kupindahkan dari bawah jok. Tapi ternyata dompetku tak ada! Buru-buru aku bilang ke pemilik warung, “Bu, ngapunten. Dompet kula kentun teng griya. Kula wangsul rumiyin mendhet dompet. Kula tinggal kangkunge.” (Bu, maaf. Dompet saya ketinggalan. Saya pulang dulu, ambil dompet. Kangkungnya biar di sini dulu.)

Namun, ibu itu menjawab begini, “Mpun, kangkunge dibeta mawon. Mbayare suk-suk mawon, mboten napa-napa.” (Sudah, bawa saja kangkungnya. Bayarnya besok-besok pun tak apa.)

Aku agak terkejut mendengar jawaban ibu pemilik warung. Kalau di toko (modern), tentu aku tak akan dibolehkan membawa pulang belanjaan tanpa bayar–walau sudah jadi pelanggan tetap sekalipun.

Hal serupa terjadi ketika aku belanja di warung sayur lain, yang lokasinya agak jauh dari rumah. Di situ aku biasa membeli pisang raja. Pisang yang dijual biasanya bagus-bagus. Sebetulnya harganya agak lebih murah dibanding harga pisang raja dengan kualitas sebagus itu di pasar. Tapi namanya pisang raja, kalau bagus, harganya lebih mahal dibanding pisang kepok, misalnya. Kadang ibu pemilik warung bilang begini, “Bawa dulu pisangnya, Mbak. Bayarnya boleh besok.” Aku paling hanya tertawa. Kalau duitku cukup, ya aku beli. Kalau tidak, ya besok aku datang lagi sambil membawa cukup uang. Kalau masih jodoh, biasanya aku masih dapat pisang raja yang bagus.

Selama ini aku tak pernah membawa pulang belanjaan tanpa membayarnya terlebih dahulu, walau si penjual membolehkan atau menawari. Aku hanya takut lupa dan malah lupa bayar. Aku rasa para penjual di sini memiliki kepercayaan cukup tinggi pada pelanggannya. Kenapa, ya? Aku sendiri merasa belanja di warung itu rasanya lebih seperti belanja ke teman atau saudara sendiri. Mungkin begitu pula yang dirasakan penjual terhadap para pelanggannya. Alasan lain belanja di warung adalah bagi-bagi rejeki; biar uangnya berputar ke tetangga terdekat.

Mengapa Beryoga?

Kalau googling apa manfaat yoga, banyak banget ditemukan website yang membahasnya. Tapi kalau tanya padaku, jawabannya tentu personal.

Aku sudah lama ingin bisa yoga, seingatku ketika aku masih tinggal di Jakarta. Tapi selama di Jakarta aku belum menemukan tempat latihan yoga yang terjangkau, baik dari segi jarak dan biaya. Mungkin aku saja yang kurang gigih mencari tempat latihan, ya. Aku icip-icip latihan yoga hanya saat aku pulang ke Jogja. Tapi karena icip-icip, jadinya tidak maksimal. Lagi pula rumah kontrakan yang kutempati selama di Jakarta terlalu kecil dan barangku banyak. Jadi, tak ada tempat yang cukup untuk latihan sendiri.

Ketika aku pindah ke Jogja lagi, aku tidak segera ikut kelas yoga. Alasannya, macam-macam. Ada aja deh. Tapi dalam hati kecilku, aku masih ingin bisa berlatih yoga. Kadang aku melihat pose yoga youtube, kadang baca-baca buku tentang yoga. Aku berpikir, sepertinya bisa deh latihan sendiri di rumah. Kebetulan waktu itu beberapa temanku cerita tentang aplikasi untuk olahraga di rumah.

Suatu ketika–out of the blue–seorang temanku mengajakku untuk yoga di rumahnya. Tanpa babibu, aku langsung mengiyakan. Kebetulan rumah kami dekat, sekitar 5 menit naik motor dari rumahku, dan bisa lewat jalan kampung yang tidak ramai. Kami yoga seminggu sekali dengan didampingi seorang guru. Kegiatan yoga bersama itu sempat berhenti. Tapi kemudian saat awal pandemi kemarin, temanku mengajak yoga lagi. Kali ini seminggu dua kali.

Balik ke judul tulisan ini. Kenapa beryoga? Kaki kananku agak sakit. Sepertinya ini karena aku sempat salah posisi duduk cukup lama (tanpa sadar). Kupikir dengan yoga, sakit kakiku akan membaik atau sekurang-kurangnya tidak jadi lebih buruk.

Hanya itu?

Awalnya hanya itu. Tapi setelah latihan yoga selama ini, aku merasa yoga membantuku mengenal tubuhku. Misalnya, aku jadi tahu bagaimana sebaiknya aku berdiri sehingga berat badan tidak ditumpukan ke salah satu bagian saja. Aku dulu sering berdiri tidak imbang, yaitu menekuk salah satu kaki jadi berat tubuhku lebih condong ke kaki yang tegak. Akibatnya kaki bisa panjang sebelah.

Selain itu yoga membantuku mengurai emosi. Ada beberapa pose yoga untuk membuka dada. Pose-pose ini membantu mengurai emosi sedih. Memang tidak langsung hilang sedihnya, tapi jadinya tidak semakin sedih. Maklum, aku cenderung melankolis orangnya. Suatu kali aku merasa sangat sedih karena suatu hal. Lalu aku tidur telentang memasang balok yoga di punggung, di belakang dada. Aku jadi merasa baikan, lho.

Aku belum jago-jago amat berlatih yoga. Banyak pose yang belum kukuasai benar, tapi aku tidak ingin berhenti berlatih.

Refleksi Akhir Tahun

Aku tidak ingat kalau hari ini adalah hari terakhir tahun 2021. Kalau tadi tidak belanja ke warung Bu Nanik dan ditanya: “Nanti malam mau bakar-bakaran apa, Mbak?”, aku tidak akan ngeh kalau malam ini malam tahun baru. Kupikir tahun baruannya masih minggu depan. 😀

Lalu aku jadi ingat bahwa aku alpa menulis di blog ini dari bulan Oktober sampai November. Rasanya tidak ada yang istimewa. Jadi, tidak ada yang perlu ditulis–walau sebenarnya kalau niat, pasti ada saja yang bisa ditulis, kan?

Aku mencoba mengingat-ingat hal menarik apa yang kualami selama tahun 2021. Apa, ya? Sepertinya kami sekeluarga bisa melewati tahun ini tanpa sakit yang berarti adalah salah satu mukjizat. Meskipun aku sempat ketemu dan kontak erat dengan teman yang akhirnya tepar karena Covid-19, aku tidak mengalami sakit.

Aku tidak menghasilkan buku tahun ini dan sempat kecewa karena hal itu. Tapi yah, harus diakui aku kurang berusaha. Semoga tahun depan bisa keluar buku. Amin! (Aduh, kenapa aku grogi sendiri ketika mengaminkan permohonan ini? Bisa nggak sih?)

Selama setahun ini aku cukup rutin latihan yoga. Yeay! Sepertinya itu satu-satunya pencapaianku–kalau rutin latihan dianggap suatu prestasi. Sepele sekali, ya? Dan bukankah olahraga adalah kebutuhan tubuh yang sudah selayaknya dipenuhi? Aku merasa butuh yoga. Kalau tidak berlatih dalam beberapa hari, ada yang “menowel-nowel” hatiku supaya menggelar matras, mengambil balok dan tali yoga. Minimal melakukan peregangan lah. Kalau tidak begitu, kakiku berteriak-teriak dan rasanya jadi tidak nyaman sama sekali. Aku merasa sedikit lebih lentur sekarang. Kaki kananku yang semula nyeri karena sindrom piriformis menjadi lebih enakan. Paling tidak, tidak semakin parah.

Oiya, akhir tahun ini aku senang bisa bertemu dengan teman-teman lama: teman-teman asrama dan teman kuliah dulu yang pernah ikut retret bareng di Salam. Rasanya seperti balik umur 20-an lagi 😀 😀

Lalu apa harapanku tahun depan?

Aku berharap tetap sehat, rejeki lancar, dan bisa bertemu orang(-orang) yang kukasihi dalam keadaan baik. Semoga pandemi segera berakhir ya. Aku kangen jalan-jalan.

Belajar Bersyukur Saat Hujan

Beberapa malam yang lalu, hujan deras. Deras banget. Lengkap dengan angin kencang dan mati lampu. Saat itu aku dan semua orang serumah sedang di luar rumah, makan bakmi godhog di warung langganan. Tempat makannya di teras rumah si penjual, di tepi jalan pinggiran kampung yang tidak terlalu ramai.

Waktu hujan semakin deras, meja tempat kami makan terpaksa digeser agak ke dalam supaya tidak kena tempias hujan. Awalnya kupikir hujan biasa, tapi makin lama makin deras dan aku terpaksa memakai jaket supaya kausku tidak basah.

Bakmi godhog yang semula jadi “comfort food”, jadi tidak nikmat. Bakmi rebus dengan irisan ayam kampung dan kaldu yang gurih itu jadi kehilangan rasanya gara-gara hujan badai di depan mata.

Sembari makan, aku mengingatkan diriku bahwa semua badai pasti berlalu. Entah cepat atau lambat. Lampu juga akan menyala lagi. Banyak hal yang masih bisa disyukuri: kami tidak kehujanan, masih bisa makan enak, makannya juga bareng-bareng. Kami juga akan pulang tanpa berhujan-hujan karena kebetulan bawa mobil perginya. Tapi entah kenapa aku tidak tenang. Aku lalu ingat kucingku yang di rumah sendirian. Aku bertanya-tanya apakah ada ruangan yang bocor lagi di rumah? Bagaimana kalau hujan deras ini tidak berhenti sampai pagi? Apakah kami harus menginap di emperan begini? Kuakui ini memang lebay.

Aku lalu menyadari bahwa aku memang suka overthinking. Pikiranku suka lari ke mana-mana. Memang saat itu keadaan tidak nyaman, tetapi sebenarnya tidak perlu khawatir banget karena toh aku tidak kehujanan dan masih bisa makan enak. Aku justru fokus pada kondisi luar, dan melupakan hal yang sebenarnya bisa kusyukuri dan kunikmati.

Syukurlah setengah jam kemudian hujan mulai reda. Kakakku pun mengambil mobil yang diparkir di seberang jalan dan kami pulang. Begitu sampai rumah dan membuka pintu garasi, kucingku langsung menyambut. Listrik masih belum menyala, tapi hujan tinggal gerimis tipis. Rasanya lega bisa sampai rumah. Pengalaman ini menjadi pelajaran buatku supaya untuk rajin latihan melihat hal-hal yang masih bisa disyukuri selagi ada masalah di luar serta selalu mengingat: Semua badai pasti berlalu.

Di Antara Mendung, Gerimis, dan Hujan

Mendung, gerimis, hujan datang mengusir debu musim kemarau. Lalu seperti biasa, memoriku berlari-lari berteduh pada kenangan tentang dirimu. Tentang masa-masa tiga puluhan tahun silam, ketika seragamku masih putih abu-abu, ketika dirimu hadir lalu hari-hariku tak lagi kelabu. Lalu tanpa kusadari gelombang kita terjalin begitu padu.

Dan aku ingat, malam itu kamu mengatakan padaku, “Aku harus tugas ke kota lain.”

Mendung, gerimis, hujan mengguyurku. Aromanya mengingatkanku pada pertemuan kita malam itu, di tepi sawah, dekat hutan jati.

“Lalu bagaimana aku bisa bertemu lagi denganmu?” tanyaku tercekat.

Hujan mengguyur hatiku. Mataku basah. Dan kamu memelukku erat-erat.

Bulan berganti. Kita pun berjumpa beberapa kejap di berbagai kota. Lalu kita berpisah sekian lama. Begitu selalu. Kita menabur sendu dan rindu yang kian merimbun.

Hari-hari ini diwarnai mendung, gerimis, hujan. Memoriku tak sekadar berlari-lari, tetapi melesat pada setiap kenangan yang kita buat di tepi-tepi jalan: ciuman, pelukan, dan gairah yang bersatu. Aroma hujan pertama, hawa dingin yang terbawa air menyelimutiku rapat-rapat, menimbulkan tanya: Apakah kita masih satu gelombang?

“Dik Ning, kapan terakhir kita bertemu?” tanyamu siang tadi lewat teks.
“Setahun yang lalu.”
“Kamu mau kita bertemu?”
“Kapan?”
“Sekarang.”
“Mas Tok! Jangan bercanda.”
“Aku sedang bersama Ibu di kotamu.”

Kupandangi dirimu yang sedang menyetir. Saat seperti ini aku ingin menghentikan waktu.
“Hari-hari hujan kemarin mengingatkanku padamu, Mas Tok. Aku ingat perjumpaan kita dulu. Lalu aku bertanya-tanya, mungkinkah kita bertemu? Rasanya tak mungkin. Jauh sekali jarak kita. Tapi dirimu ada di sini sekarang. Rasanya seperti mimpi.”
“Aku masih mencintaimu, Dik Ning. Sangat.”
“Jadi, apakah gelombang kita masih sepadu?”
“Apakah perlu kau tanyakan lagi, Dik?”