Tentang “Pulang” dan Secuil Cita-cita

Beberapa minggu lalu, aku melihat spanduk yang menyebutkan Gramedia Sudirman Jogja sedang mengadakan diskon besar. Aku pikir, nanti deh aku ke sana. Tapi aku ke Gramedia hanya dua kali. Itu pun menjelang diskonan berakhir. Sebetulnya aku pikir aku hanya akan lihat-lihat saja. Bokek lama-lama beli buku melulu. Timbunan makin tinggi saja. Fyuh… #ngekep dompet kenceng-kenceng. Tapi entah kenapa aku selalu luluh melihat harga buku anak dan resep yang miring. >,< Aku selalu nggak tahan dengan dua macam buku itu. Hiks. Kalau beli buku anak, alasannya: untuk belajar. Yaelah, buku referensi sudah banyak, tapi yang keluar baru seuprit. Hmm, biar seuprit tapi menyabet Second Prize Winner di ajang Samsung Kidstime Author’s Award, Singapore. Uyeaaah! *sombong.

ini si Widi dan bubur merah putihnya

ini si Widi dan bubur merah putihnya

Oke, menang sih senang ya. Tapi mestinya aku tidak hanya berhenti di situ. Bikin lagi, kek! Nggak hanya jago bikin alasan. Iya, kan?

Hmm, sampai mana tadi? Oh, ya aku sempat membeli buku di Gramedia. Yang diskon, tentunya ya. Nah, waktu melihat buku-buku yang digelar itu, aku dikejutkan oleh suara sapaan. Eh, tidak disangka aku bertemu temanku semasa kuliah. Dia tinggal di Kupang, dan waktu itu dia sedang mengantar istrinya yang orang Jogja untuk melihat-lihat buku. Senang juga ketemu teman lama. Tapi yang agak menohok, dia bilang dia pangling melihatku karena aku sekarang lebih gemuk. Hihihi. Ya, harus diakui, memang begitulah kenyataannya. (Jadi ingat mesti lebih rajin jalan pagi di Embung, deh.) Lalu, dia tanya, apakah aku melanjutkan studi sampai S2. Aku jawab tidak.

Dulu, ada masa aku ingin sekolah lagi. Tapi seiring berjalannya waktu, keinginan itu menguap. Mungkin karena aku kurang gigih berjuang. Tapi mungkin juga aku tidak punya “objektif” yang kuat. (Kok kaya membahas penyusunan karakter dalam naskah fiksi, ya?) Dulu aku pikir, kalau bisa sekolah lagi, keren aja. Iya, keren. Biar kaya orang-orang. Biar bisa foto-foto dengan latar luar negeri. Kaco banget, deh.

Tapi sekarang aku tidak berminat sekolah lagi. Mungkin karena aku malas belajar sebenarnya. Dan setelah kurenungkan, cita-citaku bukan itu. Bukan sekadar bisa foto-foto dengan latar yang cantik. Indonesia juga punya pemandangan yang cantik, kali. Tergantung kelihaian fotografernya saja.

Setelah aku ikut workshop yang diadakan Room to Read tahun lalu, rasanya cita-citaku seperti diperjelas. Cuma ya itu, semangatnya itu loh… susah banget mompanya, ya? Pompa semangat itu kutemukan lagi ketika beberapa hari lalu aku bertemu dengan teman-teman dari Book for Mountain. Mereka ini kegiatannya berkeliling ke desa-desa untuk mengajak anak-anak membaca. Kurang lebih begitu. Aku setidaknya itu yang kutangkap dari obrolan kemarin. Mereka kesulitan menemukan buku yang pas untuk disajikan pada anak-anak di desa. Mereka menginginkan buku anak yang Indonesia banget dan berkualitas. Waktu aku tunjukkan buku-buku hasil workshop Litara-Room to Read, mereka bilang, ya buku-buku seperti itulah yang mereka butuhkan. Tapi buku-buku seperti itu cari di mana dong? Buku yang kutulis di bawah payung Litara itu sayangnya tidak dijual. Dibagi gratis ke beberapa sekolah yang dipilih oleh Room to Read. Di toko buku, beberapa buku anak yang ada berupa kumpulan cerita (jadi tebal) atau kadang malah buku terjemahan. Kendala buku anak yang terjemahan itu–konon–nama tokoh yang sulit diucapkan bagi anak yang sedang belajar membaca. Plus latar belakang budaya yang berbeda juga. Semacam kurang “gue banget”.

Balik ke soal sekolah tadi, aku rasa saat ini aku hanya ingin “pulang”. Sekolah menjadi sesuatu yang jauh dan aku membayangkan betapa malasnya aku jika harus duduk di kelas dan mengerjakan tugas. Aku lebih ingin duduk-duduk di rumah, baca buku, lalu akhirnya bisa menulis lagi. Karena dalam suasana rumahan, pikiran jadi lebih tenang, dan jadi punya waktu untuk merenung.

Lagi pula, biaya sekolah mahal sekali. Untuk berjuang mendapatkan beasiswa, aku lebih malas lagi. Saingannya banyak. Muda-muda. Dan pasti mereka lebih punya semangat tinggi. Mungkin saat ini pilihanku berbeda dan tidak membanggakan. Tapi tidak apa-apa, kan?

Yang Kunikmati

Beberapa bulan lalu aku membaca buku dan menjumpai pertanyaan: Apa yang paling kamu sukai?

Apa ya?

Belum lama ini aku dikontak oleh temanku. Ceritanya, dia sekarang tinggal di luar Jawa. Dia menjadi kepala sekolah di sana. Dia bilang, dia ingin menambah koleksi buku untuk perpustakaan sekolahnya. Karena pulau yang dia tinggali itu jauh dari mana-mana, dia mau minta tolong aku untuk membelikan buku (dananya dari uangnya pribadi). Aku menyanggupi.

Dan tibalah hari ketika aku mulai belanja buku.

Ternyata, aku menikmati sekali berburu mencari buku yang bagus. Apalagi kan yang dicari adalah buku untuk anak. Selama ini aku koleksi buku anak, jadi hunting buku anak itu nikmat sekali.

Kupikir-pikir, belanja buku–walaupun bukan untukku sendiri–memberi kenikmatan tersendiri buatku. Semacam ada kepuasan jika menemukan buku bagus. Lalu aku membayangkan jika buku-buku itu jadi rebutan dan anak-anak jadi bertambah wawasan.

Kurasa, belanja buku adalah salah satu hal yang paling kunikmati. Dan aku bisa beneran lupa waktu.

Catatan Akhir Juli

Bingung mau memberi judul apa pada tulisan ini, kupikir judul seperti itu saja cukup.

Tidak terasa Juli hampir berakhir. Aku sudah ngapain aja? Ng… apa ya? Niat menulis, belum juga produktif. Malu kalau mau mengaku aku sudah menulis seberapa banyak. Masih sedikit. Sedikiiit sekali. Mungkin aku perlu lebih rajin ke toko buku untuk mendapat suntikan semangat. Biar lebih panas kalau melihat buku-buku yang sudah terbit.

Yang sedikit lebih rajin adalah soal membuat kefir. Beberapa waktu lalu aku sempat agak lama malas membuat kefir sendiri. Tetapi kupikir, aku perlu lebih rajin. Jadi, sekarang tiap kali kefir di lemari es hampir habis, aku menyempatkan pergi ke toko di Peternakan UGM untuk membeli susu segar. Aku pun semakin menyukai rasa kefir yang kucampur selai nanas. Lagi pula tidak sulit membuatnya. Lumayanlah untuk minuman.

Oiya, hari Kamis yang lalu, tanggal 28 Juli, aku ikut misa tahbisan di Gereja St. Antonius, Kotabaru. Ini adalah misa tahbisan kedua yang pernah kuikuti. Duluuuu aku pernah menghadiri misa tahbisan di Surabaya. Tapi itu sudah lama sekali. Dan kini setelah belasan tahun berselang, aku datang ke misa tahbisan lagi. Yang ditahbiskan adalah teman suamiku. Kami tidak dapat undangan, tapi pengin datang saja. Lagi pula kami di Jogja, jadi cukup dekat. Seperti yang sudah kuperkirakan, misa tahbisan berlangsung sekitar 2 jam lebih. Karena bukan tamu undangan, aku duduk di luar, di sayap utara.

Misa tahbisan kemarin itu temanya bagus, tentang dua murid yang berjalan (bersama Yesus) ke Emaus. Dikisahkan dalam cerita tersebut, hati kedua murid itu berkobar-kobar selama perjalanan. Dan kok aku juga semacam ikut berkobar-kobar ya? Aku terharu, senang, kagum… melihat orang yang berkaul menjadi pastor. Sempat terbersit dalam pikiranku, andai aku laki-laki, mungkin aku akan memilih menjadi pastor. Haiyah… Preeet.  Haha. Aku geli sendiri dengan pemikiranku itu.

Segini dulu deh catatanku. Ini catatan penting-nggak-penting. Tulisan ini sebagai pengingat untuk diriku sendiri bahwa aku tersentuh saat menghadiri misa tahbisan. Selain itu, masih banyak hal yang harus kukerjakan untuk mengejar ketinggalan-ketinggalanku.

Yang Dibutuhkan Penulis

Judul ini sudah terlintas di kepalaku lama sekali. Aku mau menuliskan hal ini dari dulu, tapi urung terus.

Aku sering sekali membaca tulisan pendek tentang tips-tips untuk penulis. Misalnya, bagus kalau bisa menulis dengan gaya “show don’t tell“. Pakailah kata-kata sifat yang bisa membangkitkan emosi. Hmm… apa lagi ya? Aku lupa.

Aku rasa yang dibutuhkan penulis itu bukan (hanya) tips seperti itu. Iya, tips seperti itu memang bagus kok kalau diketahui, diingat, dan diaplikasikan dalam tulisan. Tapi aku ada hal lain yang menurutku krusial–setidaknya untukku sendiri–yaitu teman-teman yang mau membaca tulisan kita pertama kali dan memberikan masukan yang jujur. Teman-teman yang mau bilang jelek kalau tulisan kita tidak ada ide dasar yang kuat. Teman-teman yang punya kemampuan mengupas tulisan kita. Jadi, bukan hanya teman yang bilang: Ini bagus. Tapi juga teman yang bisa menjelaskan, bagusnya di sebelah mana. Atau yang mengatakan: Ini jelek, tapi sekaligus menyebutkan jeleknya itu apanya. Misalnya karakternya tidak kuat, plot twist-nya kurang nendang.

Penulis itu ibarat penjahit. Minimal bisa menjahit baju untuk dirinya sendiri. Begitu pula penulis, setidaknya dia bisa menulis untuk dirinya sendiri. Tulisan yang memang ingin dia baca dan menimbulkan rasa senang saat dia sendiri membacanya. Aku membayangkan, penjahit itu untuk mengepaskan baju mesti bercermin. Dengan demikian, dia akan tahu bagian mana yang mesti diperbaiki. Apakah lehernya terlalu rendah? Apakah bagian pinggang masih kedodoran? Apakah baju itu terlalu panjang? Begitu pun dengan tulisan. Penulis yang baik akan bisa merasakan bahwa tulisannya masih bisa dipangkas, kurang fokus, karakternya kurang kuat, dll. Tapi sering kali untuk bisa melihat kekurangan, yang bisa menunjukkan adalah orang lain. Ya, itulah gunanya teman yang bisa memberi masukan.

Aku pikir, berbahagialah penulis yang punya teman-teman yang mau memberi masukan jujur. Yang tidak hanya menyemangati dengan bilang, “Ayo terus menulis,” tetapi juga yang bisa bilang, “Ini kurang pas. Endingnya terlalu cepat, ini bisa dibuat plot twist yang keren setelah diulik bagian ini… itu…”

Dan aku berterima kasih untuk teman-temanku yang menemani dan memberi masukan ini itu untuk tulisanku. Terima kasih. Nama kalian akan selalu kusimpan di dalam hati.

Obrolan Soal Asma

Beberapa waktu lalu, aku ketemu seorang teman. Dia seorang trainer di gym. Atau semacam itu lah, persisnya aku kurang tahu. Dia cerita, dulunya dia penderita asma. Tapi setelah dia rajin olahraga (kalau trainer, mestinya tidak hanya rajin ya? Sudah makanan wajib mungkin), dia tidak lagi asma.

“Pendekatan untuk penanganan asma kan sekarang lewat olahraga,” begitu katanya.

Benarkah?

Aku sendiri tidak melakukan riset saat menulis ini. Jangan ditiru ya, nulis kalau serius itu wajib riset . Tapi aku mau bercerita sedikit soal pengalamanku.

Masa kecilku diwarnai dengan kunjungan rutin ke dokter. Aku tak ingat sampai umur berapa aku rajin ke dokter sebulan sekali. Mungkin yang paling bosan dan membebani soal “kunjungan rutinku” itu adalah Ibu. Dulu Ibu sering bilang, “Mending kamu itu makan yang banyak. Uang kok buat beli obat tiap bulan.” Ya, pasti pengeluaran bapak dan ibuku jadi bertambah gara-gara aku mesti beli obat tiap bulan.

Sebetulnya sakitku ya itu-itu saja. Flu, batuk, pilek… dan ujung-ujungnya asmaku kambuh. Aku tidak sampai harus memakai obat semprot sih, tapi kalau sesak napas tiap bulan itu yaaa… rasanya aduhai juga.

Mengidap asma itu merepotkan. Aku sendiri seperti membatasi diri tidak mau melakukan ini dan itu karena takut asmaku kambuh. Misalnya, aku cenderung tidak mau lari karena kalau lari, napasku cepat sekali sesak. Yang konyol adalah dulu suatu ketika aku merasa batuk dan cenderung sesak napas setelah makan pisang raja. Sejak saat itu aku jadi super hati-hati kalau mau makan pisang. Konyol. Dulu, kalau ada acara kemping, aku hampir tidak pernah ikut. Takut dingin, nanti masuk angin lalu sakit. Kakakku punya sebutan yang menyebalkan untukku: Nggrik-nggriken alias penyakitan. Ke mana pun aku pergi, aku biasa membawa obat asma. Untuk berjaga-jaga kalau aku sakit.

Ketika pindah ke kota yang baru, misalnya ketika awal aku pindah ke Jakarta beberapa tahun lalu, itu berarti aku mesti pintar-pintar mencari dokter yang cocok buatku. Sakitku mungkin sepele bagi banyak orang: flu, batuk, pilek. Tapi kalau dapat obat yang tidak cocok, sakit yang tampak sepele itu jadi ndodro dan berkepanjangan. Bukannya sembuh, malah tambah parah. Jadi, aku semacam parno kalau harus ke dokter yang baru kukunjungi.

Kemarin waktu tinggal di Jakarta, aku bertemu seorang Dokter. Dokter Floren namanya. Dia seorang ahli phytobiophysics. Dari dokter itu aku jadi tahu aku alergi apa saja. Proses mendeteksi alergi sangat cepat dan tidak menyakitkan. Silakan kunjungi webnya saja di sini ya daripada aku mesti menjelaskan panjang lebar. Setelah aku beberapa kali ketemu dr. Floren, asmaku lumayan banyak berkurang.

Selain dengan Dokter Floren, kalau sakit biasa, aku biasa ke dokter Feli (biasanya praktik di K-24 Balai Pustaka, Rawamangun). Kalau mulai flu sedikit, aku masih berobat dengan pengobatan medis biasa (tidak selalu dengan cara phytobiophysic). Nah suatu kali ketika aku sakit, dr. Feli tidak ada. Daripada kelamaan sakit dan aku sudah mulai khawatir, aku mencoba berobat ke dokter lain. Waktu itu aku memilih ke Balkesmas Carolus. Seperti biasa, ketika aku bertemu dokter baru, aku selalu bilang bahwa aku punya kecenderungan asma. Lalu, setelah dokter meresepkan obat, aku akan bertanya obat yang diberikan kepadaku itu apa saja. Apakah ada obat asmanya, apa saja nama obatnya. Ketika itu, dokter di Balkesma tersebut tidak meresepkan obat asma, tetapi obat anti alergi. Waduh, aku mulai khawatir lagi. Khawatir kalau sepulang dari dokter, asmaku malah muncul. Tapi dokter itu menjelaskan bahwa untuk mencegah asma itu muncul, caranya diberi obat anti alergi itu.

Oke, baiklah. Aku pulang masih deg-degan juga.

Tapi ternyata memang benar sih. Asmaku tidak kambuh.

Singkat kata, aku akhirnya berkesimpulan bahwa asma itu erat kaitannya dengan daya tahan tubuh. Orang bisa alergi karena daya tahannya kurang baik. Ehm, itu lagi-lagi aku nggak riset ya. Jadi, kalau ada yang lebih paham soal medis, bisa memberi wawasan lebih. Balik ke laptop… Nah, untuk memperbaiki daya tahan tubuh itu memang salah satunya kita perlu mengetahui sebetulnya kita alergi apa saja. Kalau kita sudah sembuh alerginya, biasanya asma juga akan sangat berkurang.

Daya tahan tubuh itu bisa diperbaiki dengan pola hidup sehat: olahraga, makan yang cukup dan bergizi, banyak makan buah dan sayur, istirahat cukup, tidak memforsir tubuh. Soal ini rasanya bisa googling sendiri ya. Balik ke paragraf awal tadi; temanku bilang bahwa pendekatan untuk penanganan asma sekarang lewat digalakkan olahraga. Kurasa itu ada benarnya. Sekarang sih aku berusaha untuk lebih rajin olahraga. Kalau tidak kuat lari, minimal jalan kaki. Ini sangat membantu untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Cuma mengatasi kemalasanku itu yang PR bangeeet. Tapi untungnya kalau di Jogja aku sudah menemukan persawahan dan embung (semacam danau buatan) untuk lokasi jalan-jalan pagi. Lokasi itu dekat rumah dan cukup menyenangkan. Semacam jadi penyemangat untuk acara jalan-jalan pagi.

Memang sih agar memiliki daya tahan tubuh yang baik, kadang butuh usaha yang tidak mudah. Tapi itu bisa dilakukan. Singkatnya sih, aku mau bilang, kalau mau sembuh dari asma, kita perlu tahu kita alergi apa saja. Lalu, obati alerginya itu plus meningkatkan daya tahan tubuh. Oke sekian. Begitu sekilas pengalamanku.

Pertemuan

Tok

“Jadi kita bertemu di mana?”

Pertanyaan Ning itu memacu otakku untuk berpikir. Kami jarang bertemu, jadi setiap pertemuan haruslah sempurna. Sesempurna senyumannya membuyarkan konsentrasiku.

“Nanti kupikirkan,” jawabku singkat. Aku masih mengurus laporan dan harus berkemas saat Ning menelepon memastikan kedatanganku.

Senyum Ning semakin memenuhi kepalaku.

 

Ning

Aku belajar memasak belum lama. Yang kutahu adalah, Mas Tok penggemar makanan enak. Jadi, setiap aku memasak, yang terlintas adalah Mas Tok.

Mas Tok mengajak bertemu. Entah di mana. Tapi aku sejujurnya ingin memberikan sepiring atau semangkuk hasil masakanku. Tapi Mas Tok suka es krim. Aku belum berhasil membuat es krim. Duh…

Aku gugup. Semua terasa seperti mimpi. Mas Tok akan datang!

 

Tok

Dadaku bergemuruh. Siang yang terik tak menyurutkan langkahku menyusuri jalanan Jogja yang menyengat. Ning… Ning… aku merindukan aromamu.

Berkali kubuka peta di android. Jalanan ke rumahmu samar-samar kuingat. Ah, betapa lama aku tak menikmati senyummu, Ning.

 

Ning

“Mas Tok! Cepat sekali datangnya. Tak kusangka Mas Tok ingat rumahku. Aku baru saja selesai masak sayur asem.”

Kehadiran Mas Tok terasa mendadak. Aku tak siap, tapi sekaligus senang. Akhirnya kerinduan ini berujung perjumpaan.

Astaga, aku masih berdaster! Jangan-jangan keringatku terlalu asam di hidungnya?

 

Tok

Bau keringat Ning masih seperti dulu. Namun saat ini berpadu rempah.

Dia masih Ning yang dulu. Hanya kali ini dengan balutan daster kuning, bukan rok lipit rapi yang dia pakai saat memasuki pelataran gereja. Kini terlihat keringat membuat kulitnya mengilat. Seksi!

Kubetulkan kacamataku. “Ning, kamu tidak banyak berubah ya.”

Dadaku bergemuruh. Tak sadar… kulumat bibirnya yang mengembang sempurna.

Kangen Angkot

Tahukah kamu, Jogja itu kalau siang puanasnya muinta ampyun. Kulit seperti ditusuk-tusuk saking panasnya. Dan jangan dikira Jogja tidak ketularan macet. Aku berusaha keras menghindari Gejayan pada siang hari. Itu neraka, Sodara-sodara! Sudah panasnya menyengat, macet pula. Halahiyuuung!

Hal seperti itu yang membuatku rindu naik angkot. Naik angkot itu kan tinggal naik, bayar.

Memangnya di Jogja tidak ada angkot?

Ada. Tapi menurutku kondisinya menyedihkan. Rasanya angkot di Jogja zaman aku kuliah (sekitar tahun ’96) masih lebih mendingan dibanding sekarang. Dulu angkot-angkot kecil masih ada yang cukup banyak melintas. Sekarang? Seingatku aku melihat angkot kuning kecil terakhir di daerah Minomartani. Aku hampir yakin mobil angkot itu usianya sudah 20-an tahun. Tua, nggrik-nggriken, melas deh tampangnya. Perasaanku ketika melihat angkot itu seperti melihat simbah-simbah yang bungkuk, berkeriput, jalannya terseok, tapi masih menggendong tenggok isi sayuran. Iba, melas. Kasihan, deh.

Warga Jogja memang kebanyakan mengandalkan sepeda motor untuk bepergian. Sekarang sepertinya populasi mobil semakin banyak seiring bertambahnya pendatang (ini hanya pengamatan sekilas ya, enggak pakai riset). Jadi, tidak heran kalau semakin hari Jogja semakin mangcet.

Ya, ya… aku merindukan angkot—terutama ketika hari hujan dan aku harus keluar rumah; atau ketika hari panas banget dan aku mesti pergi ke suatu tempat. Dulu ketika tinggal di Jakarta, ke mana-mana aku naik angkot. Plus jalan kaki kalau jaraknya nanggung (maksudnya kalau naik angkot kemahalan, tapi kalau jalan, ya capek juga). Naik angkot itu terasa enak kalau pas aku capek. Tinggal melambaikan tangan pada angkot yang lewat, lalu naik.

Angkot memang sering dibilang terlalu mahal, jika dibandingkan ongkos bensin sepeda  motor. Memang sih, mungkin aku akan tetap lebih sering naik sepeda motor walau di Jogja ada angkot. Tapi kalau ada angkot, setidaknya ada alternatif kendaraan lain.

Kamu sendiri, suka naik angkot atau naik sepeda motor? Atau enggak dua-duanya?

Antara Ingin dan Harus

Sungguh, aku merasa waktu cepat sekali berjalan. Rasanya baru kemarin Senin, sekarang sudah Sabtu.

Beberapa waktu lalu aku melayat ibunya kawanku. Ibu itu meninggal pada usia 65 tahun. Menurutku belum terlalu tua. Tapi orang meninggal tidak tergantung tua atau muda, kan? Kalau waktunya sudah habis, ya habis. Saatnya pulang. Saat melayat itu aku teringat hal-hal belum selesai yang harus kukerjakan: editan, terjemahan, tulisan, cucian, baju yang mesti disetrika…. Jujur saja aku sering bosan melakukan “keharusan-keharusan” itu. Kalau boleh memilih, aku ingin mengalokasikan waktuku untuk mencoba resep baru, jalan-jalan, membuat kerajinan tangan, baca novel. Tapi entah kenapa kadang aku merasa yang “harus” kukerjakan banyak sekali.

Melayat ibu kawanku membuatku ingat bahwa manusia punya batas usia. Waktunya terbatas. Hmm… ya, aku tahu itu. Tapi tahu dan benar-benar sadar adalah hal yang berbeda. Kemarin itu rasanya aku seperti dihadapkan pada kenyataan itu—kenyataan yang membuatku tertegun. Seperti hal baru yang mengejutkan. Padahal kan mestinya aku sadar akan hal itu dari dulu kan?

Aku mudah terbuai dengan pemikiran: Besok bisa diubah lagi; besok bisa dilakukan lagi; besok bisa ketemu lagi… dan semacamnya. Padahal siapa yang tahu jika saat ini adalah kesempatan terakhir? Aku jadi ngeri sendiri.

Hari-hari ini aku merenungkan hal-hal yang ingin aku lakukan dan yang harus aku lakukan. Ya, tidak semua keinginan harus dituruti. Tapi jika keharusan membuat hidup perlahan-lahan kering, bagaimana dong? Tentunya kelak aku tidak ingin mati “penasaran” karena tidak melakukan hal-hal yang kuinginkan. Lagi pula, keinginanku tidak semua buruk.

Tapi pagi ini aku terbangun dan mesti membereskan hal yang harus kubereskan sendiri.

Kupikir-pikir, hidup ini mesti dijalani dengan benar-benar hidup. Nanti siang sepertinya aku mesti menyempatkan diri mencoba resep baru🙂

Kamu Masih Ngeblog?

Blog ini termasuk dari beberapa hal yang kusayangi dan menjadi bagian dari identitasku. Jika sayang, mestinya aku meluangkan waktu untuk merawat blog ini, ya. Tapi sungguh, aku punya banyak alasan untuk membiarkannya berdebu. Karena setrikaanku menggunung, karena memasak lebih penting, karena masih harus mengedit dan mengerjakan printilan yang seperti menghantuiku, dan seterusnya… dan seterusnya.

Sejak tinggal di Jogja, kendalaku adalah soal koneksi internet. Plus sejak pindahan, entah kenapa colokan USB di PC-ku ngadat. Sering tidak nyambung. Dan aku tak terbiasa ngeblog memakai android untuk ngeblog. Tapi mestinya kalau sayang, gunung pun akan didaki dan laut akan diselami. Iya kan?

Yah, begitu banyak alasan. Mau tak mau harus diakui, alasan yang bertumpuk-tumpuk itu adalah tanda aku tak betul-betul sayang. Semacam kalau kita bilang cinta, tapi kita suibuuuk teruuus dan tidak memberi waktu kepada orang yang (katanya) kita cintai.

Tapi aku kangen mengisi blog ini. Ada banyak cerita sebetulnya. Ada hal-hal yang perlu kucatat dan kusyukuri: bertemu teman-teman baru yang menyenangkan, soal aku mulai kecanduan craft, soal rajutan dan syal, soal bakmi Jawa di Babadan yang maknyus, dan buanyak lagiii. Tapi pada intinya: aku bahagia.

Semoga aku bisa mencuil waktu dan mengurangi alasan yang menghalangiku untuk ngeblog.