Mengenang Mangga: Mengingat Penyelenggaraan Tuhan

Kuakui, aku bukan orang yang selalu berpikiran positif. Kadang aku mesti berjuang untuk memunculkan pikiran positif saat situasi sekelilingku tampak buruk (di mataku). Hal ini menjadi sulit ketika aku dikuasai kecemasan dan rasa takut.

Memasuki tahun 2020 ini, aku melihat bumi ini tampak menua. Cuaca ekstrem mulai menampakkan taringnya, dan aku cemas. Apa yang akan terjadi dengan lingkungan sekitarku kalau aku tua nanti? Siapa yang akan menolong, kalau badan sudah semakin ringkih dan aku tidak punya siapa-siapa atau tak punya apa-apa lagi. Buatku ini mengerikan.

Aku lalu berusaha mengingat-ingat penyelenggaraan Tuhan dan bagaimana Dia menemaniku selama ini. Aku lalu teringat peristiwa beberapa bulan lalu, ketika musim mangga tiba. Waktu itu Mbak Rus, pramurukti yang merawat mendiang Bu Sri–mertua kakakku–mengatakan di kampungnya sedang panen mangga. Dia sendiri punya pohon mangga yang siap panen. “Coba icipi,” katanya sambil memberikan beberapa butir mangga. Ada beberapa macam mangga: arum manis, mangga putih, dan entah apa namanya. Aku sendiri tidak familiar dengan jenis mangga putih, tapi rasanya mengingatkanku pada mangga Indramayu. Manis bercampur asam sedikit. Segar. Beda dengan mangga arum manis yang manis sekali, tak ada jejak rasa asam.

Mangga-mangga itu tak ada harganya di kampungnya sana. Dibawa susah-susah ke pasar terdekat, harganya jeblok. Soalnya, hampir semua rumah punya pohon mangga yang sedang berbuah. Jadi, harga mangga di sana pun tidak bagus.

“Coba kubantu jualin sini, Mbak,” aku menawarkan padanya. Aku lalu ingat temanku yang biasa berjualan buah secara online. Aku pikir, dia akan bisa membantu menjualkan. Lalu aku ingat sepupuku yang tinggal di perumahan tak jauh dari rumahku, kupikir dia bisa menjualkan mangga-mangga itu ke tetangganya. Tapi rupanya perhitunganku meleset. Temanku bilang dia tidak bisa menjualkan mangga. Alasannya a, b, c, d. Macam-macam. Ah, sudahlah. Kemudian aku mencoba mengontak sepupuku. Apa jawabnya? “Aku tidak pernah makan mangga arum manis. Apa benar enak?” Ah, mbelgedes. Jelas-jelas dia bilang beberapa minggu sebelumnya dia beli mangga arum manis kok.

Terang saja aku disergap cemas. Aku mesti menjual mangga-mangga itu kepada siapa? Padahal Mbak Rus sudah membawakan dua karung mangga! Matiiik akuuu. Aku takut kalau mangga-mangga itu nantinya membusuk di garasi rumahku sebelum laku terjual.

Aku diam-diam berdoa dalam hati (dengan hati yang penuh kekhawatiran) semoga Tuhan mengirimkan para pembeli mangga. Aku pun berusaha menjual mangga dengan menawarkannya ke beberapa grup WA plus memasang status WA lengkap dengan foto mangga. Tak ada respons. Hanya satu orang yang respons, itu teman yang rumahnya di ujung selatan sana. Waduh, kalau dia beli, mesti mengantarkan ke sana dong. Lumayan juga jauhnya. Tapi akhirnya kusanggupi mengantar mangga ke rumahnya. Tak baik menolak pembeli pertama, kan? Sekalian main, pikirku.

Tak lama, satu dua teman mengontak mau membeli mangga. Ada yang langsung 5 kilo belinya, ada yang 1 kilo. Puji Tuhan, mangga-mangga itu laku semua. Bahkan sampai stok mangga habis, masih ada yang menanyakan.

Aku berhasil menjual mangga sampai 50 kilo lebih. Prestasi tersendiri buatku. Meskipun tidak untung banyak, tetapi aku senang. Aku ambil untung tipis, sebagian besar uang kuserahkan ke Mbak Rus. Dia senang, aku pun lega. Bonusnya, aku bisa makan mangga sepuasnya.

Ingatan tentang jualan mangga itu menguatkanku ketika memasuki tahun 2020 ini. Kurasa, asal kita mau berusaha, ada saja rejeki yang mengalir. Mungkin tidak banyak, tetapi cukup. Cukup untuk membuatku tidak kelaparan, cukup untuk berbagi.

Memang bumi ini menua, daya dukung lingkungan makin menurun. Namun kuharap, tangan Tuhan tidak kurang panjang untuk menolong kita semua.

Menjaga Kehidupan dan Kesehatan

Sekitar tiga hari terakhir ini aku kerap ke Betesda. Mertua kakakku–Bu Sri–terserang stroke akut, jadi beliau harus dirawat intensif di rumah sakit. Ruang perawatan untuk stroke di rumah sakit ini kulihat cukup baik, terutama ramah bagi para keluarga yang menunggu. Ada sebuah kamar khusus untuk setiap keluarga pasien. Di situ tersedia tempat tidur ukuran single serta ada sebuah lemari kecil. Kalau penunggunya lebih dari seorang, bisa membawa tikar tambahan sendiri. Setiap pagi kamar tunggu untuk keluarga pasien itu dipel oleh petugas. Jadi, ruangan ini bersih dan cukup mengurangi stres keluarga kurasa.

Di sini pasien diletakkan di ruangan khusus untuk dipantau secara intensif selama 24 jam. Keluarga tidak diperkenankan melihat langsung atau menemani di samping pasien kecuali pada jam bezuk. Jadi, sebenarnya kamar untuk penunggu yang kuceritakan di atas memang semata-mata untuk menunggu. Tidak ada hal lain yang bisa dilakukan selain duduk, mengobrol, tidur, baca buku, atau makan cemilan.

Aku baru menengok Bu Sri pada hari kedua. Dia terlihat tenang dan seperti tidur nyenyak sekali. Dokter mengatakan bahwa terjadi penurunan kesadaran akibat pendarahan otak. Banyak selang yang terpasang di tubuhnya dan di sisi atas kepalanya ada monitor yang memantau beberapa hal. Aku kurang tahu apa saja yang dipantau, yang jelas salah satunya adalah detak jantung.

Saat menjenguk Bu Sri ini aku berpikir, “Sebegitunya ya kita manusia ini menjaga dan mempertahankan kehidupan.” Banyak hal dilakukan dan diupayakan. Namun, di sisi lain, ketika dalam kondisi sehat, orang kadang (atau malah sering?) mengabaikan kehidupan itu sendiri. Soal makan misalnya, aku masih suka makan sembarangan. Kadang memakai excuse “Ah, nggak apa-apa”, “Ah, cuma sedikit”, “Sekali-sekali nggak apa-apa dong” dan sebagainya. Kita berpikir kesehatan hanya urusan kita sendiri–bukan orang lain. Nyatanya, kalau orang sakit dan harus masuk rumah sakit, yang repot tidak hanya diri sendiri, tetapi juga orang-orang di sekitar kita mesti pontang-panting dan kadang harus merelakan kesehatannya sendiri demi pasien yang mondok. Misalnya, karena ikut menjaga pasien, mesti tidur di bawah sehingga masuk angin atau flu.

Kesehatan tidak melulu urusan pribadi. Kesehatan memiliki dampak sosial. Sayangnya hal seperti ini jarang disadari dan hanya memikirkan kenikmatan pribadi. Kalau makan makanan kurang sehat, mungkin kita perlu ingat bahwa keluarga terdekat kita bisa kena imbasnya kalau kita sampai kenapa-kenapa. Lagi pula, sakit itu tidak enak kan?

Merawat Mimpi = Merawat Cinta?

Tadi aku ikut sebuah acara di LIP. Di situ salah seorang pembicara bercerita tentang keinginannya yang menggebu-gebu untuk sekolah ke luar negeri. Namun, ada beberapa hal yang menjadi kendala. Bukan soal kendala atau bagaimana cara dia menggapai impiannya yang ingin kutulis di sini. Yang menarik adalah bagaimana dia terus merawat impiannya itu.

Dalam perjalanan pulang, aku mengobrol dengan suamiku. Dia menceritakan bagaimana teman kuliahnya dulu merawat mimpinya sebagai film maker. “Walaupun mimpinya sebagai film maker ‘dibelokkan’ orang tuanya dengan menyuruhnya kuliah di jurusan teknik, dia tetap menjaga agar mimpinya terus menyala. Dia bergabung di komunitas-komunitas film. Dia terus menulis skrip film sampai akhirnya skripnya dilirik sutradara.”

Tak perlu lah kusebut siapa orang itu, yaaa, tapi cukup punya namalah orang itu. Dari cerita itu, aku menarik kesimpulan bahwa mimpi itu seperti cinta. Jika dia dirawat, dia akan menemukan jalannya sendiri sampai akhirnya terwujud. Kadang ada orang-orang terdekatmu yang berusaha membelokkan impianmu, tetapi yang menentukan apakah mimpi akan terwujud atau tidak adalah kekonsistenan kita dalam merawat impian itu. Salah satu bagian penting dalam merawat mimpi adalah langkah-langkah mewujudkannya. Seperti impian film maker tersebut, dia tetap berusaha berkenalan dengan komunitas film dan terus menulis skrip film.

Lalu, bagaimana aku sendiri merawat mimpiku? Harus kuakui, belakangan ini aku agak tak peduli dengan impianku. Aku merasa begini saja cukup. Selain itu, ada beberapa pekerjaan yang menuntutku. Kebanyakan alasan ya?

Mungkin aku kurang mencintai mimpiku, ya. Tapi obrolan tadi sore dengan seorang teman, mengusikku. Dua butiran Milo ini kalau bertemu ngobrolnya seputar naskah dan buku. Apa lagi? Jadi, kapan butiran Milo ini bakal mewujudkan mimpi?

Separuh Rindu yang Tuntas

Deru angin di luar mengetuk jendela kamarku. Begitu pula ingatan tentang dirimu mengetuk-ngetuk isi kepalaku, sekali lagi menancapkan akar rindu lebih dalam. Refleks kucari dirimu di deretan nomor kontak ponselku. Sepersekian detik aku bertanya-tanya, apakah kamu sedang bisa ditelepon (mengingat dirimu adalah manusia paling sibuk sedunia)? Tak ada salahnya mencoba menjangkaumu.

Hatiku kusiapkan untuk tidak mendengar suaramu. Namun, dua kali nada panggil berubah menjadi suara empuk pereda hujan rindu.
“Mas Tok …”
“Dik, apa kabar?” tanyamu kemudian.
Sejurus kutahu kamu masih berbaring, menuntaskan tidur siang.
“Aku mengganggu tidurmu?”
“Tidak. Tapi mungkin lebih baik kalau kamu juga ada di sebelahku.”
Mas Tok masih seperti dulu, hangat merayu.
“Haha, aku telepon karena ingin menanyakan sedikit referensi terkait naskah yang sedang kutangani. Mas Tok bisa kutanyai sedikit?”
“Tentu saja bisa.”

Aku menanyakan beberapa hal padanya. Sebenarnya aku bisa menemukan jawabannya dengan menelusuri dunia maya. Namun, rindu selalu menemukan jalan untuk dituntaskan, bukan?

Aku tidak tahu bagaimana dulu Mas Tok menanamkan benih rindu yang mengakar begitu kuat sampai hari ini.
“Apakah kamu menaburkan benih rindu lewat mimpi, atau lewat berbatang-batang cokelat yang kaubawakan untukku dulu?” tanyaku.
“Ya, dan kusuntikkan penguat rindu lewat genggaman, pelukan di atas laju motor, dan ciuman yang kucuri dengan menembus pagar norma-norma.”
“Kita harus mengulanginya lagi.”
“Apakah kamu akan ke sini, Dik?”
“Rawatlah mimpi akan perjumpaan kembali, Mas Tok. Suatu saat aku akan menggenggam tanganmu lagi.”

Hujan berhenti. Dan rindu ini tuntas separuh.

Apakah Aku Mesti Ikut Kulwap?

Zaman sekarang memang zamannya WA dan kulwap jadi menjamur. Kulwap alias kuliah di grup WA rasa-rasanya makin sering kudengar. Misalnya kemarin di sebuah grup yang kuikuti, Bu Admin memprovokasi anggota grup untuk ikut kelas membuat sabun. “Kali ini kelasnya offline, ya,” begitu ocehnya di grup. Lalu, beberapa anggota grup mulai mengajukan usul, “Bikin kelas online dong, Bu. Biar yang dari luar kota bisa ikutan.”

Bu Admin dengan gegap gempita lalu menanggapi: Setelah gurunya siap, bakal diadakan kelas online. Begitulah Bu Admin yang gemar memprovokasi itu menyenangkan jamaahnya.

Sesungguhnya, aku bertanya-tanya kenapa orang sepertinya haus kelas online dan merasa perlu ikut kulwap. Sepenting apa sih ilmu yang disebarkan di kulwap itu?

Emang aku tidak pernah ikut kulwap?

Pernah dong. Haha. Dan setelah mengikuti kulwap, aku merasa kulwap-kulwap itu tidak penting-penting amat–terutama yang berbayar mahal. Kalau kamu cukup belajar, kulwap mahal itu hanya mengulangi pelajaran yang sudah kamu ketahui.

Aku pernah ikut beberapa macam kulwap. Tidak sering sih, tapi yah 1-2 kali lah. Aku ikut kulwap pertama-tama karena penasaran dengan pemberi materi. Biasanya pemateri sudah punya nama dan dipandang memiliki keahlian tertentu. Dari kulwap-kulwap yang kuikuti, aku merasa aku sudah cukup paham dengan semua yang disampaikan. Lho, tapi kok aku ikut? Ya, begitulah aku. Aku kan orangnya suka penasaran. Selain itu, aku merasa perlu “mengintip” apa sih yang bakal dia omongkan? Apa itu namanya kalau bukan penasaran bin kepo?

Kulwap itu berguna kalau kita ingin tahu sekilas materi yang disampaikan. Misalnya nih, kamu pengin tahu cara membuat sabun dan kamu sama sekali belum pernah tahu cara membuatnya. Kalau seperti itu, bolehlah kamu ikut kulwap. Kalau kamu ingin belajar lebih jauh, mendingan ikut kelas offline. Lagi pula kelas online itu jamaahnya suka ribut dan menanyakan hal-hal yang membutuhkan kesabaran bagi yang ikut menyimak. (Mungkin itu sebabnya aku tidak cocok menjadi guru. Membaca pertanyaan yang jawabannya sudah sangat jelas di awal saja aku merasa senewen.)

Namun, hal lain yang aku pertanyakan kenapa banyak orang gegap gempita ikut kulwap adalah apakah mereka tidak pernah browsing internet lalu membuka YouTube atau situs web yang membagikan hal-hal serius yang ingin mereka pelajari? Semua rasanya ada deh. Mulai dari bikin klepon sampai cara menulis novel. Mulai dari dari memasak sayur lodeh sampai cara belajar bahasa Arab. Semua ada. Lalu kenapa masih ikut kulwap ya? Oh, mungkin orang-orang itu sama penasarannya denganku. 😀

Sekian kali aku ikut kulwap, ada satu hal yang selalu kulakukan setelah masuk grup: mulai berhitung berapa banyak keuntungan yang diraup sang pemateri. Anggaplah tiap peserta membayar Rp50.000 dan jumlah peserta yang ikut kulwap 100 orang. Maka total uang yang diperoleh adalah Rp50.000 x 100 = Rp5.000.000. Lima juta, Sodara-sodara. Uang sebanyak itu diperoleh dalam tempo singkat dan tepat. Begitulah cara cepat untuk mendapatkan uang yang lumayan: Rajin-rajinlah bikin kulwap. Maka tidak heran kalau Bu Provokator itu gemar mengoceh dan mengompori orang untuk ikut kelas yang dia bikin.

Sekarang, kamu jadi pengin ikut kulwap atau malah pengin bikin kulwap?

Ingatan dalam Sepotong Hujan

Tok

Hujan selalu membaurkan berbagai ingatan. Kenangan. Ingatan tentang dirimu. Kenangan tentang kita.

Aku tidak suka hujan. Hujan membuatku sulit menemui kamu–dulu. Membuatku harus mengenakan mantol, dan berbasah-basah saat memencet bel rumahmu. Dan dua batang cokelat yang kusimpan di tasku ikut basah.

Semalam hujan. Tapi aku mengingat kamu. Mengenang kita. Mungkin ingatan itu serupa kabel-kabel tak kasat mata yang menghubungkan antarpulau, sehingga mendadak dalam pekatnya kenangan, kudengar bunyi pesan di ponselku. Apakah itu Ning?

Mas Tok sampun sare?

Aku sudah berusaha memejamkan mata. Tapi ingatan tentang kamu ketika dalam dekapan begitu jelas.

“Belum, Dik. Kamu kok belum tidur selarut ini?”

Aku masih harus mengerjakan beberapa hal, Mas. Dan aku kok kangen, ya.

“Sama. Di sini hujan. Aku ingat kamu, Dik Ning.”

Oya?

Iyalah.

Mas Tok selalu ada dalam kepalaku. Dalam ingatanku.

Dik, kamu pun selalu menjadi bagian dari hidupku dan tubuhku.

(Karena rasa kita begitu dalam. Kamu ingat? Pada suatu waktu, saat di luar hujan mengguyur, kulit kita pernah saling menempel, melekat kuat, kurasakan cintamu menguar dari pori-porimu dan kamu melingkupiku diriku dengan gairah yang menggelora. Itu sebabnya, kamu selalu menjadi bagian dari tubuhku.)

Belajar Hal Baru: Salah Satu Cara Mengenal Diri Sendiri

Katanya, untuk mencegah pikun, kita perlu belajar hal baru. Ini hal yang menantang buatku. Aku merasa makin ke sini, aku semakin malas menghadapi sesuatu yang baru. Penginnya tetap berada di zona nyaman. Tidak ngapa-ngapain, tetapi bisa terus berkembang. Eh, tapi mana bisa ya? Kalau enak-enak terus, manusia sepertinya cenderung akan mandeg. Dan mungkin bisa jadi, akan berumur pendek (?)

Namun, syukurlah ada beberapa hal yang selalu baru, yang menuntutku untuk belajar. Menerjemahkan artikel/buku membuatku mau tidak mau membaca dan membuka kamus. Tapi jeleknya, aku sering hanya mengambil teks yang sangat familiar buatku. Misalnya, aku hanya akan mengambil teks tentang memasak, cerita anak, kekristenan, atau yang gampang-gampang menurutku. Sebetulnya hal ini bisa disiasati dengan banyak membaca. Tapi, aku belakangan selalu punya alasan untuk tidak membaca. Mulai dari setrika sampai mengantuk. Sangat tidak elit, ya.

Selain terus belaja dalam dunia penerjemahan, beberapa bulan ini aku mau tidak mau mesti belajar menyetir mobil. Bagi kebanyakan temanku, menyetir adalah hal mudah. Mungkin ketika dulu aku belajar naik motor, teman-temanku belajar menyetir. Jadi, di usia ketika yang lain sudah lanyah nyetir, aku masih gagu.

Ya, ceritanya aku belajar menyetir. Sumpah, aku deg-degan setengah modiaaar… ketika awal duduk di belakang setir. Terus terang, aku takut nabrak. Iso bayaran lak an, Rek! Aku ikut kursus nyetir tak jauh dari rumahku. Latihan pertama, aku ditanya mau di jalan langsung atau di dalam stadion? Langsung aku pilih latihan di stadion dong. Mestinya latihan kedua aku sudah berani di jalan. Ternyata, enggak. Aku tetap di stadion. Buatku, latihan di jalan itu MENGERIKAN. Aku sangat takut.

Setelah kursus nyetir selesai, apakah aku sudah bisa nyetir mobil sendiri? Tentu tidak, dong! 😀 Aku sempat mandeg nggak latihan nyetir selama beberapa bulan. Lalu aku lanjut latihan lagi ditemani seorang kenalanku yang sudah mahir menyetir. Namanya Mas Heru. Lama banget aku sama dia latihan hanya di jalan kecil. Masih takut? Iya lah. Kayaknya Mas Heru sampai bosen melihatku hanya berani di jalan kecil atau jalan kampung saja. Menumbuhkan keberanian itu tidak mudah buatku. Nyaliku kueciiil.

Seingatku, menjelang bulan puasa kemarin, aku berhenti latihan dengan Mas Heru. Karena dia mesti persiapan buka puasa kan? Lagian kasihan kalau sudah seharian puasa, lalu di ujung hari malah latihan kesabaran menghadapi aku yang masih kacrut dalam menyopir.

Kemudian aku mulai latihan dengan kakakku. Lumayan, walau tidak setiap hari. Kemudian aku belajar nyetir sendiri ke rumah Mbak Ira, yang tak jauh dari rumahku. Waktu itu, aku masih latihan yoga di rumahnya. Jadi, yoga bisa jadi alasan untuk bawa mobil sendiri.

Butuh waktu beberapa bulan buatku untuk mulai bisa bawa mobil sendiri, tanpa mati mesin di jalan, tanpa grogi kalau diklakson dari belakang, tanpa deg-degan kalau ketemu belokan sempit dan papasan dengan mobil lain. Aku sering buka channel yang membahas latihan mengemudi di youtube.

Saat belajar menyetir mobil aku mulai mengamati diriku sendiri, bagaimana sikapku terhadap hal baru, bagaimana aku mengatasi ketakutan, bagaimana aku belajar, dan sebagainya. Belajar hal baru ini membuat aku menengok ke dalam diri. Aku mulai melihat diriku. Kadang aku menemukan hal-hal baru yang mengejutkan tentang diriku sendiri. O… ternyata aku begini, ternyata aku punya sifat itu, dan seterusnya.

Sepertinya setelah ini aku perlu belajar keterampilan baru lainnya. Berenang? Public speaking? Atau berkebun? Ada usul?