Tempat Ngopi Paling Enak?

Belum lama ini aku ditanya oleh seorang teman, “Di mana tempat ngopi paling enak?”

Aku menggeleng. Terus terang aku sudah lama tidak ngopi di luar.

Dulu, aku bisa dengan cepat menjawab bahwa Klinik Kopi adalah tempat ngopi yang asyik. Tapi itu dulu. Dulu, ketika Klinik Kopi menempati PSL Sanata Dharma di belakang Toga Mas. Tempatnya asyik, lapang, di antara pohon-pohon jati. Menurutku ini semacam oase di tengah Jogja yang semakin sumpek oleh hotel-hotel dan macet. Sekarang setelah Klinik Kopi menempati tempat yang baru, aku malah jarang ke sana. Padahal lebih dekat rumah.

Akhir bulan lalu, ada teman yang mengajakku ke Klinik Kopi. Jika tidak mengingat teman-teman ini tinggal di luar Jogja, aku rasa aku akan menolak ajakan mereka. Setelah AADC memang Klinik Kopi makin banyak dikenal. Banyak orang ingin mencoba mencicipi kopi di sana. Namun, aku teringat kunjungan terakhirku ke sana. Waktu itu aku merasa Klinik Kopi tidak seperti dulu. Terlalu ramai. Sentuhan personalnya semakin jauh berkurang.

Tapi baiklah… aku coba ke sana lagi. Aku tiba di Klinik Kopi pukul 15.30, setengah jam lebih awal dari jam bukanya. Kupikir aku akan dapat urutan pertama. Ternyata sudah ada orang yang datang lebih dulu. Beberapa waktu kemudian, orang-orang mulai berdatangan–sementara Klinik Kopi belum buka. Klinik baru buka pukul 16.00. Dari pengalamanku, sebaiknya datang awal ke Klinik Kopi. Soalnya antrinya banyaaaak. Malesin dah.

Menjelang pukul 16.00, gembok pagar Klinik Kopi mulai dibuka. Sesuai urutan, aku dapat antrian nomor 2. Waktu kami dilayani, kami masuk berempat termasuk satu anak temanku. Orang-orang makin banyak yang datang. Mas Pepeng masih mengenaliku. Tapi dari caranya melayani kami, aku merasa seolah tergesa-gesa. Iya, iya yang datang sudah banyak. Yang butuh diladeni banyak. Wajar kalau cepat. Tapi dulu Klinik Kopi tidak seperti itu.

Dulu di Klinik Kopi orang bisa saling mengenal. Dari yang semula tidak kenal sama sekali, karena kopi kami jadi bisa saling berbincang. Tapi sekarang suasana itu tak kurasakan lagi.

Klinik Kopi makin berkembang, makin dikenal. Aku ikut senang menyaksikannya. Tetapi secara pribadi aku berkata pada diriku sendiri, aku tidak akan ke sana lagi. Mungkin kalau ada teman yang minta diantar, aku masih mau mengantar. Tapi hanya sebatas mengantar. Tidak ngopi di sana lagi.

Teman Unik dan Kebetulan

Sudah tanggal 4 Januari. Aku terlambat memenuhi kebiasaanku untuk menulis di blog ini setiap tanggal 3 Januari. Baiklah, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Tanggal 1 kemarin aku bertemu dengan teman lama, Ayung. Dulu kami seasrama. Sebenarnya agak unik pertemanan kami. Semasa di asrama, aku tidak terlalu dekat. Tidak pernah satu unit. Biasa saja.

Aku mulai sering berkontak dengannya saat tahun-tahun terakhir aku tinggal di Jakarta. Rumahnya dan kontrakanku tidak terlalu jauh. Naik angkot dua kali kalau tidak salah. Plus jalan kaki sedikit. Beberapa kali kami ketemu untuk makan dan ngobrol ngalor ngidul cukup lama. Dari obrolan itu aku tahu bahwa ternyata adiknya adalah mahasiswa kakakku. Dia pun bercerita punya kakak yang tinggal di Jogja. Tapi aku belum kenal kakaknya waktu itu.

Waktu aku pindah ke Jogja, aku mulai berkontak kembali dengan beberapa teman lamaku. Dari kontak-kontakan itu, aku akhirnya terhubung dengan kakaknya Ayung. Dan, tak hanya itu, suamiku, sekarang jadi guru (informal) anak-anak kakaknya Ayung. Anak-anak itu homeschooling, dan suamiku membantu mereka belajar matematika plus plus. Plus main boardgame, plus baca buku, plus mancing ikan. Macam-macam deh. Kalau dibilang guru, rasanya kok tidak “guru banget”. Menurutku sih, ya. Seperti teman bermain sambil belajar.

Sewaktu mengobrol kemarin, aku dan Ayung merasa lucu menyaksikan kebetulan-kebetulan di antara kami itu. Sepertinya keluargaku dan keluarganya terkait hubungan guru dan murid. “Jangan-jangan di kehidupan kita yang dulu, kita punya hubungan apa gitu, ya?” kata Ayung. Haha. Aku hanya tertawa. Mungkin juga. Semuanya seperti kebetulan. Tidak terencana.

Aku merasa pertemanan kami unik. Semoga tetap unik. 😉

Pertemuan di Bawah Rumpun Bambu

Harus kuakui aku pelupa. Aku lupa kapan terakhir kita bertemu. Lima tahun? Kurasa lebih. Pasti lebih.

Samar-samar kuingat pertemuan terakhir kita. Kita belanja di ITC, bukan? Lalu pulangnya naik taksi bersama. Aku pun samar-samar ingat kita sempat ke gereja bersama. Sungguh aku lupa apakah benar kita sempat misa bersama sebelum kamu pulang. Tapi beberapa kali kita memang misa bersama. Aku ingat kita naik bajaj berdua dan kamu membayari ongkosnya. Dari situ aku belajar menaksir berapa ongkos bajaj yang wajar. Aku tahu, kamu tetap memberikan ongkos yang semestinya pada tukang bajaj–tidak kemahalan, tidak pula kemurahan.

Ya, aku banyak lupa kejadian pada saat pertemuan terakhir kita. Yang kuingat adalah beberapa kali kita berkabar lewat SMS. Lalu aku sempat meneleponmu sebentar. Seingatku kamu hanya mengatakan kondisimu sedikit kurang baik karena sulit berjalan? Ya, ampun. Aku sungguh lupa. Tapi saat itu aku sadar kamu pasti memang tidak baik-baik saja. Mestinya aku pergi dan menengokmu. Tapi aku memang punya seribu alasan yang menahanku untuk tidak pergi melihatmu. Mungkin kamu tahu sekarang karena kurasa tak ada lagi yang bisa kusembunyikan darimu.

Seandainya kamu masih punya waktu, mestinya kemarin kita masih bisa berkabar. Oh, tentu saja aku punya banyak pertanyaan untukmu. Bukan pertanyaan basa-basi. Aku tak bisa benar-benar berbasa-basi padamu karena denganmu aku selalu punya banyak cerita yang bisa dibagi. Mungkin aku akan sengaja membeli nomor khusus agar bisa meneleponmu cukup panjang. Hei, kamu pernah juga kan membeli nomor dari provider tertentu agar kita mengobrol cukup lama? Aku ingat kok.

Hari ini, setelah lewat lima tahun, aku baru “berani” dan berkesempatan datang menemuimu. Sebelumnya aku membayangkan akan duduk berdua saja denganmu. Bayanganku, “rumahmu” hanya bata tertata rapi, di bawah naungan rumpun bambu. Tapi ternyata lebih bagus. Kurasa kalau kamu bisa memilih, kamu akan memilih tegel keramik yang warna biru, kan–seperti warna kesukaanmu? Tapi ternyata tegel “rumahmu” berwarna pink. Dalam hati aku tertawa. Mungkin kalau bisa berseloroh langsung padamu, aku akan bilang, “Haiyah, jebule warnane pink, Mbak! Hehe.”

Kamu memilih rumah terakhir yang syahdu, dikelilingi bambu petung yang besar-besar. Aku takjub bambu-bambu yang begitu gagah di sekeliling rumahmu. Bambu-bambu itu jauh lebih besar daripada bambu yang tumbuh tak jauh dari rumahku. Kamu masih ingat, kan?

Di rumahmu masih ada sisa bunga tabur yang sudah layu. Itu artinya belum lama ini ada yang menyambangimu. Ada yang mendoakan dan mengajakmu berbincang dalam hati. Kamu memang dikelilingi orang-orang yang mencintaimu, setiap orang seolah menyimpan ruang untuk memajang kenangan yang baik tentang dirimu.

Sebenarnya aku takut akan butuh banyak tisu saat datang mengunjungimu. Mungkin itu pula yang menahanku untuk datang berkunjung. Tapi hari ini aku mesti berbangga pada diriku sendiri bahwa aku cukup bisa menguasai diri.

Malam ini, seolah kenangan demi kenangan keluar dari kotaknya. Berserak melingkupiku. Menyergapku dengan kepungan rasa. Aku memang lupa bagaimana pertemuan-pertemuan terakhir kita. Tapi tentu saja aku ingat bagaimana kita berjalan keluar dari unit lalu naik ke kafe untuk makan siang setelah kita “mager” lalu tertidur di unit, padahal mestinya kita lebih rajin menggarap skripsi. Aku ingat kita pernah menyusuri jalan Solo, membeli klepon. Aku ingat teh hangat yang kamu buatkan. Rasanya aku pun masih ingat aroma losion yang kamu pakai setelah mandi.

Malam ini, aku teringat “pertemuan” kita tadi siang di bawah rumpun bambu. Aku tak ingin lupa, jadi aku perlu mencatatnya sedikit di sini. Aku juga sempat memotret fotomu yang dipajang di ruang tamu. Boleh kan kusimpan di sini untuk kenang-kenangan?

Mbak Tut...

Mbak Tut…

Hari ini aku merasa lega karena pada akhirnya aku bisa datang menyaksikan rumah peristirahatanmu yang terakhir. Aku perlu berterima kasih pada Mbak Rini. Tanpanya aku mungkin tak akan pernah berani datang berkunjung.

Tentu saja aku masih kangen padamu. Kusadari kini bahwa setiap rasa kangen tak selalu harus dituntaskan. Kurasa kangen itu perlu. Kangen itu menjaga kenangan agar tetap hidup di dalam hati.

Oya, selamat Natal ya. Pesta natalmu di sana pasti lebih meriah karena dalam keabadian kamu pasti telah merasakan cinta.

 

 
26 Desember 2016.
Tulisan untuk mengenang kunjungan ke makam Mbak Tutik (S. Yuni Hariastuti).

Agama yang Membosankan

Di sebuah arisan yang kuikuti, ada seorang ibu yang tampaknya selalu berusaha menjadi bintang tamu. Sebut saja namanya Bu Alamakjan. Bu Alamakjan ini terkesan ramah di awal. Dia suka menyapa, tanya kabar. Ng… basa-basi sih. Tapi kesan ramah itu segera berubah. Di balik keramahannya itu dia sering curhat lebay. Dia sering merasa menjadi korban menurutku.

Suatu kali, tak lama setelah dia datang arisan, dia menggelar drama. Dia cerita bahwa di lingkungan tempat tinggalnya ada yang memelihara tuyul. Dan dia cerita heboh banget. Sampai mau nangis. Lalu dia bilang bahwa memelihara tuyul itu terlarang bagi agama, bahwa hanya Tuhan yang patut disembah, bahwa hidup di dunia ini hanya sebentar, jadi apalah gunanya menuhankan harta? Tak lupa dia mengutip ayat kitab sucinya bla… bla… bla. Di akhir cerita dia bilang semoga pemelihara tuyul itu segera bertobat. Ya, ya … Bu Alamakjan ini paling sering membahas agama. Hampir semua bidang kehidupan dia pandang dari sudut pandang agama. Semua dia kaitkan dengan ayat-ayat.

Biasanya kalau dia sudah mulai berceramah soal agama, aku tak ambil pusing. Dia mau bilang bahwa agamanya yang terbaik pun, aku iyain saja. Maksudku biar dia segera ganti topik sih. Kupingku sudah cukup tebal mendengar pembicaraan soal agama. Tapi tidak soal petasan. Petasan? Ceritanya, pada bulan puasa lalu, anak lelaki yang selalu dia banggakan itu menyalakan petasan di dekat rumahku. BOOOM! BOOOM! BOOOM! Suaranya menggelegar. Biyuuuh! Aku kaget pol. Aku sudah bisa menebak, tak akan ada orang di sekitar rumah kami yang protes dengan suara petasan itu. Apalagi kalau yang menyalakan petasan adalah anak Bu Alamakjan. Sudah jadi pengertian tidak tertulis bahwa jangan sampai membuat perkara dengan Bu Alamakjan sekeluarga. Salah-salah bakalan dimusuhi seumur hidup. Tapi entah apa yang merasukiku saat itu, aku langsung menyampaikan keberatanku padanya. Kubilang aku terganggu dengan suara petasan yang sangat keras itu. Apa coba jawabannya? “Tolong dimaklumi ya. (Membunyikan petasan) Itu termasuk dalam kebiasaan kami menjalankan agama.” Aku lupa bagaimana persisnya ucapan dia. Tapi pada intinya, membunyikan petasan itu tidak bertentangan dengan ajaran agamanya. Kira-kira begitu ucapan dia. Sumpah aku mau ngakak. Heloo… petasan disebut di ayat mana sih? Jadi menimbulkan polusi suara itu boleh ya?

Sungguh, aku semakin tak tertarik dengan orang yang sering sekali membahas agama. Kendati dia hapal ribuan ayat dan bisa mencocokkan setiap aspek kehidupan dengan ayat-ayat yang dia baca, aku tak tertarik.

Kurasa orang seperti Bu Alamakjan itu selalu ada di sekitarku. Barusan di perkumpulan bapak-bapak, ada seorang bapak yang begitu datang langsung menyampaikan khotbah. Melakukan ini dosa, melakukan itu larangan bagi agama, bla… bla. Padahal sebelum bapak itu datang, para tamu membahas cara menanam pisang yang baik, pengaruh hujan untuk penanaman padi, dan hal-hal praktis di sekitar tempat tinggalku.

Agama buatku lebih pas kalau langsung dipraktikkan. Buat apa membaca kitab suci berkali-kali, tapi perilakunya menjadi batu sandungan bagi orang lain? Khotbah, dakwah, atau apa pun namanya hanya akan tampak menggelikan jika tak dibarengi perilaku yang dilandasi akal sehat. Kurasa tak perlu terlalu sering mengutip ayat. Cobalah persering memakai akal sehat. Atau barangkali memakai akal sehat lebih sulit? Entahlah.

Ketika Kembali ke Kampus Lagi…

Hari ini akan kucatat sebagai hari yang penting dalam hidupku. Hari ini pertama kalinya aku diundang untuk berbagi pengalaman sebagai penerjemah dan penulis di kelas mahasiswa S2 Kajian Bahasa Inggris Sanata Dharma.

Aku sebenarnya tidak jago-jago amat dalam menerjemah. Pengalamanku sedikit sekali dibandingkan para begawan penerjemah di luar sana yang telah menghasilkan segepok dolar. Aku sempat bertanya-tanya, bakalan grogi tidak ya berhadapan dengan teman-teman mahasiswa? Aku hampir tidak pernah mengajar. Pengalamanku sebagai guru les hanya satu kali dan aku merasa tidak cocok sebagai guru. Aku merasa tidak bisa mengajar dan kurang cerdas menghadapi pertanyaan yang tidak terduga.

Beberapa hari sebelumnya aku sudah diberi kisi-kisi apa saja yang perlu kubahas di kelas tersebut. Aku sempat browsing dan mencatat sedikit poin-poin yang perlu kusampaikan tadi pagi sebelum berangkat. Kelas dimulai pukul 11 dan aku mesti menemui bapak dosen. Jadi, aku mesti berangkat lebih awal. Sempat terbayang, bagaimana kalau tengah-tengah kelas aku lapar? Ooow… tak kubayangkan jauh dari kulkas dan dapur. >,<

Sebelum ke Sanata Dharma aku mampir ke Kanisius menemui editor untuk membahas nasib naskahku. Beberapa komentar yang kuterima tentang naskahku yang semata wayang itu memang sempat membuatku baper dengan suksesnya. Namun, pertemuan dengan editor hari ini membuatku sedikit lega.

Oke, balik ke urusan kampus. Aku pun menuju kampus. Saat mendekati kampus, aku merasa semacam “pulang” ketika menghirup aroma khas bunga mahoni (?). Ya, semacam itulah. Bagi yang pernah kuliah di Sadhar kurasa bisa paham aroma khas itu. Wangi lembut dan segar. Selain itu untuk mengantisipasi kelaparan, aku mampir beli bakso Dab Supri di kantin. Suasana kampus Realino yang sudah cukup kukenal mengurangi sedikit rasa grogiku.

Pada awal sesi berbagi pengalaman itu, aku menceritakan bagaimana aku bisa kesasar menjadi penerjemah. Ya, aku menjadi penerjemah karena aku menghindar menjadi guru. Begitu lulus kuliah, lowongan yang banyak muncul adalah lowongan untuk menjadi guru, lowongan kerja di Jakarta, dan lowongan di luar Jawa. Ketiganya adalah hal yang kurang menarik buatku. Aku tidak suka menjadi guru, aku malas pergi ke Jakarta, dan aku tidak membayangkan jika terdampar di luar Jawa. Cemen? Iya. Haha.

Karierku sebagai penerjemah dimulai ketika aku menjadi penerjemah inhouse di Gloria (Renungan Harian). Adapun aku mulai menikmati uang dari menulis adalah ketika aku sempat menulis di majalah keluarga Familia (Kanisius) dan ketika tulisanku di web Glorianet dibukukan.

Pertanyaan yang kuterima setelah berbagi pengalaman itu adalah: Bagaimana jika kita yang bukan “siapa-siapa” ini bisa mendapat orderan yang lancar?

Begini, penerjemah itu macam-macam bidang keahliannya. Mau jadi penerjemah di bidang apa? Mau ahli mengalihbahasakan teks bidang hukum, medis, teknik? Macam-macam. Aku pada awalnya banyak bergelut dengan teks rohani, lalu ke fiksi, lalu materi yang umum-umum saja. Pengalamanku sebagai editor inhouse di Gloria sangat membantuku mempertajam keterampilan alih bahasa plus menambah jejaring tentunya. Maka untuk menjawab pertanyaan di atas, aku menyarankan pada mereka yang tertarik sebagai penerjemah untuk pertama-tama melamar sebagai penerjemah di suatu instansi. Ini adalah cara cepat untuk mendapatkan pengalaman. Kurasa ada saja instansi yang membutuhkan orang-orang baru dan masih ingin belajar. Kedua, menjadi anggota di ProZ.com atau Translatorcafe.com. Selain itu, sekarang banyak website yang menjadi perantara freelancer dan end client atau agensi. Ketiga, jadikan akun media sosial kita sebagai etalase yang baik sehingga orang lain mengetahui keterampilan yang kita miliki. Keempat–sayangnya ini lupa kusebutkan–menjadi penerjemah volunter.

Pertanyaan lain yang juga kuingat betul adalah: Apa tips untuk menulis dan membuat buku sampai bisa terbit? Ini pertanyaan klise, tapi menarik. Untuk menjadi penulis yang baik, pertama-tama perbanyak bacaan. Bacaan itu ibarat makanan bagi otak. Soal teknik menulis itu bisa dipelajari dengan cepat jika kita memperbanyak bacaan. Kedua, miliki pembaca pertama (first reader) yang bisa diandalkan. Mereka sangat membantu dalam memberi masukan soal tulisan kita. Mana yang perlu dipangkas, mana yang perlu dieksplorasi lebih dalam, dll. Ketiga, kenal dengan editor secara langsung. Ini agak sulit. Tetapi bukan tidak mungkin. Sekarang zamannya medsos. Untuk kenal dengan editor bisa dengan aktif di grup-grup penulisan yang banyak bertebaran di medsos. Ada saja kok editor yang mencari penulis lewat grup di medsos. Jika kita kenal dengan editor, kita bisa berdiskusi tentang naskah kita langsung dan memolesnya sedemikian rupa sehingga kemungkinan naskah kita dilirik lebih besar.

Setelah sesi sharing pengalaman ini, aku sempat berbincang dengan bapak dosen. Pada kesempatan inilah aku menyampaikan beberapa hal yang berkaitan dengan dunia penerjemahan. Misalnya tentang pentingnya ada kursus penerjemahan di kampus. Ini adalah salah satu cara strategis untuk memperbaiki kualitas penerjemah dan nantinya akan meningkatkan kualitas hasil terjemahan secara menyeluruh (termasuk soal tarif dan kebijakan pemerintah–menurutku).

Ya, bagiku hari ini adalah hari yang penting. Hari ketika aku kembali ke kampus lagi. Yang kubagikan hari ini tidak banyak, tetapi kuharap bisa berguna bagi teman-teman yang mendengarkan pengalamanku tadi.

Pekerjaan

Apa yang kamu bayangkan ketika membaca kata “pekerjaan”? Bagiku, pekerjaan adalah tumpukan file di folder PC. Kadang entah kenapa ketika aku melihat file-file itu saja rasanya sudah capek. Seperti tumpukan baju kotor yang mau tak mau harus kubawa ke ember, kurendam, lalu kucuci. Kalau baju kotor aku bisa mengalihkan pekerjaanku pada mesin cuci. Tapi pekerjaan? Cuma aku dan harus aku. File-file itu bisa berubah menjadi angka-angka di rekeningku dan aku tersenyum. Kebanyakan pekerjaan itu bentuknya file naskah yang harus dialihbahasakan.

Eiy… tapi ada juga terselip satu dua naskah yang belum selesai-selesai. Sebetulnya di antara file-file itu, file cerita itu membuatku bergairah. Membuatku ingin melamun, googling mencari bahan, lalu membubuhkan satu-dua kalimat lagi atau menghapus bagian-bagian yang tidak perlu agar lebih padat. Tapi… tapi… kenapa ya, rasanya kok aku seperti merasa bersalah kalau kebanyakan melamun dan mencari ide?

Konon katanya pekerjaan mestinya aktivitas yang membahagiakan. Pekerjaan kita sehari-hari semestinya membuat kita menjadi manusia yang utuh. Tapi kenyataannya tidak selalu begitu kan? Ada yang malah merasa capek setengah mati. Ada yang gara-gara pekerjaan menjadi stres, kehilangan waktu untuk melakukan hal-hal yang diinginkan. Ada yang ketika melihat pekerjaan orang lain, timbul rasa iri. Aku sebenarnya percaya bahwa kita masing-masing punya pekerjaan yang cocok, yang membuat kita bisa merasa menjadi manusia yang utuh, merasa berprestasi, berguna, dan akhirnya bahagia.

Aku sendiri bagaimana dong? Aku hanya ingin mencoba mencatat aktivitasku belakangan ini yang membuatku merasa senang, bersemangat, dan merasa penuh. Pagi ini aku bangun dan menilik sabun-sabun hasil eksperimen yang ada di dalam cetakan. Eh, aku belum bilang ya? Aku belakangan sedang hobi coba-coba membuat sabun. Kali ini aku mencoba memakai cetakan baru. Bentuknya mawar dan hati. Sudah dua hari sabun itu dalam cetakan. Kemarin aku mencoba membukanya, tapi ternyata belum padat benar. Hari ini sudah lebih padat. Yay! Lumayan berhasil. Dan aku suka baunya: pandan bercampur mawar. Masih perlu waktu sebulan lagi agar sabun itu bisa dipakai.

sabun buatan sendiri. aroma pandan dan mawar.

sabun buatan sendiri. aroma pandan dan mawar.

Satu lagi yang membuatku senang adalah ketika aku mendapat kiriman foto dari teman-temanku yang sudah menerima bukuku. Mereka membeli bukuku untuk anak-anaknya. Aku senang ketika mereka mengatakan bahwa anak-anak mereka menikmati bukuku. Yay! Aku sadar, aku masih perlu belajar banyak untuk bisa membuat cerita anak yang menarik. Tapi menerima foto dan kabar bahwa anak-anak mereka menyukai ceritaku, membuatku jadi berbesar hati. Mongkok, Saudara-saudara! Hehe.

Yeay! Akhirnya punya buku baru yang bisa dijual. Hehehe.

Yeay! Akhirnya punya buku baru yang bisa dijual. Hehehe.

Ada hal yang membuatku senang, yaitu eksperimen di memasak. Rasanya deg-degan gimanaaa gitu. Seperti apa nanti hasil masakanku? Enak nggak? Apakah disukai? Aku tidak sering-sering amat melakukan eksperimen di dapur karena memasak perlu waktu lumayan bagiku. Mulai dari persiapan sampai beres-beres. Terakhir aku eksperimen membuat brownies pisang. Bagiku yang jarang bikin kue, mendapat pujian atas brownies yang kubuat itu rasanya sueneeeng.

Dalam rangka menyelamatkan pisang yang sudah terlalu matang, jadilah brownies ini.

Dalam rangka menyelamatkan pisang yang sudah terlalu matang, jadilah brownies ini.

Ah, ya… kadang (atau sering?), kita perlu undur diri sejenak dari pekerjaan yang rasanya bikin gimanaaa gitu. Ya, ya… mestinya sih pekerjaan itu arena untuk bermain-main. Tapi yah… mungkin aku aja yang lagi geje. Jadi, sudahlah, postingan seperti ini untuk mengingatkanku bahwa aku melakukan beberapa hal yang membuatku cukup berprestasi. Merasa berprestasi itu penting lo, supaya kita nggak gampang depresi.

Tentang “Pulang” dan Secuil Cita-cita

Beberapa minggu lalu, aku melihat spanduk yang menyebutkan Gramedia Sudirman Jogja sedang mengadakan diskon besar. Aku pikir, nanti deh aku ke sana. Tapi aku ke Gramedia hanya dua kali. Itu pun menjelang diskonan berakhir. Sebetulnya aku pikir aku hanya akan lihat-lihat saja. Bokek lama-lama beli buku melulu. Timbunan makin tinggi saja. Fyuh… #ngekep dompet kenceng-kenceng. Tapi entah kenapa aku selalu luluh melihat harga buku anak dan resep yang miring. >,< Aku selalu nggak tahan dengan dua macam buku itu. Hiks. Kalau beli buku anak, alasannya: untuk belajar. Yaelah, buku referensi sudah banyak, tapi yang keluar baru seuprit. Hmm, biar seuprit tapi menyabet Second Prize Winner di ajang Samsung Kidstime Author’s Award, Singapore. Uyeaaah! *sombong.

ini si Widi dan bubur merah putihnya

ini si Widi dan bubur merah putihnya

Oke, menang sih senang ya. Tapi mestinya aku tidak hanya berhenti di situ. Bikin lagi, kek! Nggak hanya jago bikin alasan. Iya, kan?

Hmm, sampai mana tadi? Oh, ya aku sempat membeli buku di Gramedia. Yang diskon, tentunya ya. Nah, waktu melihat buku-buku yang digelar itu, aku dikejutkan oleh suara sapaan. Eh, tidak disangka aku bertemu temanku semasa kuliah. Dia tinggal di Kupang, dan waktu itu dia sedang mengantar istrinya yang orang Jogja untuk melihat-lihat buku. Senang juga ketemu teman lama. Tapi yang agak menohok, dia bilang dia pangling melihatku karena aku sekarang lebih gemuk. Hihihi. Ya, harus diakui, memang begitulah kenyataannya. (Jadi ingat mesti lebih rajin jalan pagi di Embung, deh.) Lalu, dia tanya, apakah aku melanjutkan studi sampai S2. Aku jawab tidak.

Dulu, ada masa aku ingin sekolah lagi. Tapi seiring berjalannya waktu, keinginan itu menguap. Mungkin karena aku kurang gigih berjuang. Tapi mungkin juga aku tidak punya “objektif” yang kuat. (Kok kaya membahas penyusunan karakter dalam naskah fiksi, ya?) Dulu aku pikir, kalau bisa sekolah lagi, keren aja. Iya, keren. Biar kaya orang-orang. Biar bisa foto-foto dengan latar luar negeri. Kaco banget, deh.

Tapi sekarang aku tidak berminat sekolah lagi. Mungkin karena aku malas belajar sebenarnya. Dan setelah kurenungkan, cita-citaku bukan itu. Bukan sekadar bisa foto-foto dengan latar yang cantik. Indonesia juga punya pemandangan yang cantik, kali. Tergantung kelihaian fotografernya saja.

Setelah aku ikut workshop yang diadakan Room to Read tahun lalu, rasanya cita-citaku seperti diperjelas. Cuma ya itu, semangatnya itu loh… susah banget mompanya, ya? Pompa semangat itu kutemukan lagi ketika beberapa hari lalu aku bertemu dengan teman-teman dari Book for Mountain. Mereka ini kegiatannya berkeliling ke desa-desa untuk mengajak anak-anak membaca. Kurang lebih begitu. Aku setidaknya itu yang kutangkap dari obrolan kemarin. Mereka kesulitan menemukan buku yang pas untuk disajikan pada anak-anak di desa. Mereka menginginkan buku anak yang Indonesia banget dan berkualitas. Waktu aku tunjukkan buku-buku hasil workshop Litara-Room to Read, mereka bilang, ya buku-buku seperti itulah yang mereka butuhkan. Tapi buku-buku seperti itu cari di mana dong? Buku yang kutulis di bawah payung Litara itu sayangnya tidak dijual. Dibagi gratis ke beberapa sekolah yang dipilih oleh Room to Read. Di toko buku, beberapa buku anak yang ada berupa kumpulan cerita (jadi tebal) atau kadang malah buku terjemahan. Kendala buku anak yang terjemahan itu–konon–nama tokoh yang sulit diucapkan bagi anak yang sedang belajar membaca. Plus latar belakang budaya yang berbeda juga. Semacam kurang “gue banget”.

Balik ke soal sekolah tadi, aku rasa saat ini aku hanya ingin “pulang”. Sekolah menjadi sesuatu yang jauh dan aku membayangkan betapa malasnya aku jika harus duduk di kelas dan mengerjakan tugas. Aku lebih ingin duduk-duduk di rumah, baca buku, lalu akhirnya bisa menulis lagi. Karena dalam suasana rumahan, pikiran jadi lebih tenang, dan jadi punya waktu untuk merenung.

Lagi pula, biaya sekolah mahal sekali. Untuk berjuang mendapatkan beasiswa, aku lebih malas lagi. Saingannya banyak. Muda-muda. Dan pasti mereka lebih punya semangat tinggi. Mungkin saat ini pilihanku berbeda dan tidak membanggakan. Tapi tidak apa-apa, kan?

Yang Kunikmati

Beberapa bulan lalu aku membaca buku dan menjumpai pertanyaan: Apa yang paling kamu sukai?

Apa ya?

Belum lama ini aku dikontak oleh temanku. Ceritanya, dia sekarang tinggal di luar Jawa. Dia menjadi kepala sekolah di sana. Dia bilang, dia ingin menambah koleksi buku untuk perpustakaan sekolahnya. Karena pulau yang dia tinggali itu jauh dari mana-mana, dia mau minta tolong aku untuk membelikan buku (dananya dari uangnya pribadi). Aku menyanggupi.

Dan tibalah hari ketika aku mulai belanja buku.

Ternyata, aku menikmati sekali berburu mencari buku yang bagus. Apalagi kan yang dicari adalah buku untuk anak. Selama ini aku koleksi buku anak, jadi hunting buku anak itu nikmat sekali.

Kupikir-pikir, belanja buku–walaupun bukan untukku sendiri–memberi kenikmatan tersendiri buatku. Semacam ada kepuasan jika menemukan buku bagus. Lalu aku membayangkan jika buku-buku itu jadi rebutan dan anak-anak jadi bertambah wawasan.

Kurasa, belanja buku adalah salah satu hal yang paling kunikmati. Dan aku bisa beneran lupa waktu.

Catatan Akhir Juli

Bingung mau memberi judul apa pada tulisan ini, kupikir judul seperti itu saja cukup.

Tidak terasa Juli hampir berakhir. Aku sudah ngapain aja? Ng… apa ya? Niat menulis, belum juga produktif. Malu kalau mau mengaku aku sudah menulis seberapa banyak. Masih sedikit. Sedikiiit sekali. Mungkin aku perlu lebih rajin ke toko buku untuk mendapat suntikan semangat. Biar lebih panas kalau melihat buku-buku yang sudah terbit.

Yang sedikit lebih rajin adalah soal membuat kefir. Beberapa waktu lalu aku sempat agak lama malas membuat kefir sendiri. Tetapi kupikir, aku perlu lebih rajin. Jadi, sekarang tiap kali kefir di lemari es hampir habis, aku menyempatkan pergi ke toko di Peternakan UGM untuk membeli susu segar. Aku pun semakin menyukai rasa kefir yang kucampur selai nanas. Lagi pula tidak sulit membuatnya. Lumayanlah untuk minuman.

Oiya, hari Kamis yang lalu, tanggal 28 Juli, aku ikut misa tahbisan di Gereja St. Antonius, Kotabaru. Ini adalah misa tahbisan kedua yang pernah kuikuti. Duluuuu aku pernah menghadiri misa tahbisan di Surabaya. Tapi itu sudah lama sekali. Dan kini setelah belasan tahun berselang, aku datang ke misa tahbisan lagi. Yang ditahbiskan adalah teman suamiku. Kami tidak dapat undangan, tapi pengin datang saja. Lagi pula kami di Jogja, jadi cukup dekat. Seperti yang sudah kuperkirakan, misa tahbisan berlangsung sekitar 2 jam lebih. Karena bukan tamu undangan, aku duduk di luar, di sayap utara.

Misa tahbisan kemarin itu temanya bagus, tentang dua murid yang berjalan (bersama Yesus) ke Emaus. Dikisahkan dalam cerita tersebut, hati kedua murid itu berkobar-kobar selama perjalanan. Dan kok aku juga semacam ikut berkobar-kobar ya? Aku terharu, senang, kagum… melihat orang yang berkaul menjadi pastor. Sempat terbersit dalam pikiranku, andai aku laki-laki, mungkin aku akan memilih menjadi pastor. Haiyah… Preeet.  Haha. Aku geli sendiri dengan pemikiranku itu.

Segini dulu deh catatanku. Ini catatan penting-nggak-penting. Tulisan ini sebagai pengingat untuk diriku sendiri bahwa aku tersentuh saat menghadiri misa tahbisan. Selain itu, masih banyak hal yang harus kukerjakan untuk mengejar ketinggalan-ketinggalanku.