Di Antara Mendung, Gerimis, dan Hujan

Mendung, gerimis, hujan datang mengusir debu musim kemarau. Lalu seperti biasa, memoriku berlari-lari berteduh pada kenangan tentang dirimu. Tentang masa-masa tiga puluhan tahun silam, ketika seragamku masih putih abu-abu, ketika dirimu hadir lalu hari-hariku tak lagi kelabu. Lalu tanpa kusadari gelombang kita terjalin begitu padu.

Dan aku ingat, malam itu kamu mengatakan padaku, “Aku harus tugas ke kota lain.”

Mendung, gerimis, hujan mengguyurku. Aromanya mengingatkanku pada pertemuan kita malam itu, di tepi sawah, dekat hutan jati.

“Lalu bagaimana aku bisa bertemu lagi denganmu?” tanyaku tercekat.

Hujan mengguyur hatiku. Mataku basah. Dan kamu memelukku erat-erat.

Bulan berganti. Kita pun berjumpa beberapa kejap di berbagai kota. Lalu kita berpisah sekian lama. Begitu selalu. Kita menabur sendu dan rindu yang kian merimbun.

Hari-hari ini diwarnai mendung, gerimis, hujan. Memoriku tak sekadar berlari-lari, tetapi melesat pada setiap kenangan yang kita buat di tepi-tepi jalan: ciuman, pelukan, dan gairah yang bersatu. Aroma hujan pertama, hawa dingin yang terbawa air menyelimutiku rapat-rapat, menimbulkan tanya: Apakah kita masih satu gelombang?

“Dik Ning, kapan terakhir kita bertemu?” tanyamu siang tadi lewat teks.
“Setahun yang lalu.”
“Kamu mau kita bertemu?”
“Kapan?”
“Sekarang.”
“Mas Tok! Jangan bercanda.”
“Aku sedang bersama Ibu di kotamu.”

Kupandangi dirimu yang sedang menyetir. Saat seperti ini aku ingin menghentikan waktu.
“Hari-hari hujan kemarin mengingatkanku padamu, Mas Tok. Aku ingat perjumpaan kita dulu. Lalu aku bertanya-tanya, mungkinkah kita bertemu? Rasanya tak mungkin. Jauh sekali jarak kita. Tapi dirimu ada di sini sekarang. Rasanya seperti mimpi.”
“Aku masih mencintaimu, Dik Ning. Sangat.”
“Jadi, apakah gelombang kita masih sepadu?”
“Apakah perlu kau tanyakan lagi, Dik?”

Jejak Cerita Lama

Kupikir dulu pandemi akan berakhir dalam hitungan 2-3 bulan saja. Semua akan berjalan baik-baik saja tanpa ada sesuatu yang berarti. Optimis sekali aku saat itu. Memang ada kekhawatiran, tetapi rasanya tidak perlu membesar-besarkan ketakutan.

Bulan berganti menjadi tahun. Lalu muncul berita si A sakit, si B harus isolasi, si C tidak bisa pulang, dsb. Tapi waktu itu si A, B, C itu orang jauh yang tak kukenal. Makin lama, mulai ada kenalanku yang terkena covid dan dampaknya. Awalnya hanya kenalan, selanjutnya orang yang kukenal baik. Rasanya setiap hari perlu mengabsen dan saling kabar untuk memastikan bahwa teman-teman, keluarga, dan orang-orang yang menempati tempat khusus di hatiku baik-baik saja. Sayangnya kenyataan kadang tidak demikian.

Kemarin beberapa teman mengabarkan kepergian seorang bapak. Sebut saja Pak SD. Mendengar berita itu lalu berkelebat-kelebat muncul di kepalaku ingatan beberapa dekade silam tentang sosok lelaki muda, usia SMA. Wajahnya sedikit panjang, dagunya lancip. Rambutnya lurus, rapi, belah samping. Matanya sedikit sipit, dan belakangan kuketahui dia memakai kacamata. Bibirnya lebar, tipis, dan mudah sekali tersenyum. Aku masih ingat betul garis wajahnya.

Dia selalu tampil rapi setiap misa–bahkan untuk misa harian. Biasanya dia memakai kaus berkerah, bukan kaus gombor. Celana jinnya memang agak belel, tapi masih rapi. Seingatku kukunya pun selalu rapi, tak pernah kulihat ia berkuku panjang. Atau aku salah ingat?

Yang jelas, aku tidak salah ingat dengan nama panjangnya. Aku pernah menghapal namanya, termasuk huruf mana yang dobel, dan suku kata mana yang mesti ditambah “h”. Aku tahu itu karena dia pernah kuminta menuliskan biodatanya di agendaku. Aku dulu pasti konyol sekali waktu memintanya menulis biodatanya di agendaku bersampul putih itu. Sama konyolnya ketika temanku AS mengompori untuk main ke rumah si mas itu. Ya ampun! Heran aku kenapa bisa seberani itu? Dia menemui kami di ruang tamunya yang luas dan rapi. Sumpah, aku masih ingat betapa deg-degannya hari Minggu itu.

Masa deg-degan itu perlahan-lahan berakhir ketika si mas akhirnya melanjutkan kuliah di Surabaya. Kami tak pernah bertemu lagi. Sesekali dia pulang waktu Natal atau Paskah, dan aku melihat dia misa bersama keluarganya. Rasanya seperti dapat kado sinterklas kalau melihat dia misa Natal. Sueneeeng pol! Haha. Konyol ya? Padahal cuma melihat dari jauh. Kalau beruntung aku bisa bersalaman mengucapkan selamat Natal ketika bubaran misa.

Tahun berganti. Jejak mas berdagu lancip itu tak kudengar. Aku hanya pernah mendengar ayahnya bercerita pada Bapak bahwa anak lelakinya itu sekarang bekerja di instansi bonafid di Jakarta. Kadang ia bekerja sampai larut malam. Aku membayangkan, mas berambut rapi itu seorang pekerja keras, dan sungguh amat keren. Ketika aku tinggal di Jakarta, sempat aku berharap bisa berjumpa dengannya di sekitar Kuningan, Sudirman, atau Thamrin … di daerah perkantoran yang cukup elit. Kadang ketika sedang ke mal dan naik lift bersama rombongan (yang tampaknya) karyawan, aku meneliti wajah mereka dan berharap mendapati senyum lebarnya. Tapi tak sekali pun aku berjumpa dengannya. Aku tak pernah mendengar kabar dia menikah. Tapi kurasa kini dia sudah menikah. Perempuan mana yang akan menolak senyum manisnya? Mungkin istrinya cantik, keibuan. Mungkin dia kini tinggal di kompleks perumahan yang cukup bagus di salah satu pojok ibu kota–mengingat dia seorang pekerja keras, pasti punya gaji lumayan untuk membeli rumah yang bagus.

Gelombang kami tidak pernah senada. Dia benar-benar jauh dari jangkauan. Jejaknya tersapu arus kehidupan. Kehidupan kami tak pernah beririsan sejak dia mulai jarang kulihat di gereja di kotaku, dan aku pun sudah beranjak ke kota lain.

Kemarin diberitakan Pak SD meninggal, menyusul istrinya yang berpulang tujuh tahun silam. Dia adalah ayah dari mas yang selalu berbaju rapi dan bermotor astrea itu. Aku pun mencoba mencari jejak si mas yang sempat membuatku deg-degan setiap kali masuk gereja. Tapi hanya namanya yang terpampang di layar pencarianku. Lalu aku mendadak merasakan sebuah kesedihan yang tipis. Beberapa pertanyaan bermunculan, tapi aku tak tahu ke mana mencari jawabannya. Semoga mas berdagu lancip itu dapat melewati masa duka dengan baik.

Aku tidak berharap kami bisa bertemu lagi. Dan harapanku memang bukan untuknya lagi.

Warna Agustus

Belakangan kupikir Agustus adalah bulan kita. Iya, Agustus. Bukan Juli, ketika kita mengawali perjalanan hati. Beberapa hari ini memori di media sosialku berisi tentang perjumpaan-perjumpaan kita. Hei, kita menyusuri jalanan Borneo bulan Agustus kan dulu? Dua puluh Agustus, sepuluh tahun silam.

“Dik, maaf aku tidak mampir ke kotamu. Waktuku pendek sekali.”
Sebersit kekecewaan mengapung di udara. Aku sudah mengosongkan hari-hari setelah ulang tahun ibumu. Aku teringat kehadiranmu setahun yang lalu. Namun, sudah kuantisipasi kekecewaan itu.

“Oh, ya. Tak apa. Aku pun sedang banyak pekerjaan,” tukasku setengah berbohong. Ya, ada pekerjaan memang, tapi semua bisa kugeser jika kau datang. “Jam berapa besok pesawatmu, Mas?”

“Pagi. Setengah delapan sudah take off.”

“Hati-hati selama di perjalanan ya, Mas. I love you.”

I love you, too, Dik.”

End call.
Aku merasa Agustus ini membiru.

Berburu Vaksin

Awal-awal ada berita soal vaksin covid-19, aku sudah cukup antusias. Aku mau divaksin! Aku sudah capek hidup dalam kecemasan bakal amprokan sama mbak corona dan akibatnya yang mengerikan. Memang ada kekhawatiran juga vaksin itu akan berdampak tidak menyenangkan pada tubuh. Tapi setelah aku membaca beberapa artikel, aku pikir kekhawatiranku itu bisa diminimalkan.

Aku pun menunggu-nunggu kapan vaksin covid-19 mulai disebar ke masyarakat. Ketika kelompok lansia dan golongan pekerja khusus (guru, pemuka agama, dll.) mulai dapat vaksin, aku semakin tidak sabar. Di kampungku sendiri, vaksinasi kelompok lansia dikoordinir oleh kader PKK. Baguslah, pikirku. Soalnya kalau membayangkan simbah-simbah itu mesti mengisi formulir online atau mesti mendaftar sendiri ke RS, rasanya kasihan juga, ya. Bagi yang punya anak cucu dan melek internet, urusan formulir online tidak masalah. Tapi bagi yang buta internet, urusan vaksin bisa jadi gagal karena masalah pendaftaran lewat internet tersebut. Untungnya para kader PKK bisa mengoordinir simbah-simbah untuk vaksin bersama.

Kupikir setelah kelompok lansia dikoordinir untuk menerima vaksin, pengurus wilayah (RT/RW/Dukuh) akan segera mengurus penerima vaksin golongan usia berikutnya. Namun, rupanya harapan tinggal harapan. Sepertinya pemangku kebijakan dari pusat pun tidak memberikan perintah agar urusan vaksin itu dikoordinir sampai wilayah terkecil. Jadi, diadakanlah vaksinasi massal di beberapa titik, selain di beberapa RS tertentu.

Singkat cerita, vaksin covid-19 harus diburu sendiri-sendiri. Aku sendiri berpikir akan mendaftar ke RS terdekat. Tapi rupanya ada teman yang berbaik hati mendaftarkan aku. Aku nebeng komunitas gereja. Hampir saja aku gagal vaksin karena beberapa hari sebelumnya, temanku mengabari bahwa ia positif covid. Waduh! Padahal selang 2 hari sebelumnya aku baru ketemu dia, ke rumahnya, sempat ngobrol-ngobrol juga. Kabar bahwa temanku itu positif kuterima ketika aku agak pilek. Berbagai pikiran muncul. Jangan-jangan … jangan-jangan … Mesti isoman dong?

Aku pun segera tes untuk mengecek diriku sendiri. Untungnya aku negatif. Legaaaa banget. Aku kemudian menambah jam tidur, makan yang banyak, menambah asupan vitamin dan buah. Dalam kurun waktu yang tidak terlalu lama, aku tidak pilek lagi dan saat hari H vaksin, aku lebih fit.

Apakah setelah aku vaksin, selesai begitu saja? Tentu tidak. Beberapa orang di rumah belum vaksin dan kami pun lanjut berburu vaksin. Ternyata tidak semudah itu mendaftar untuk vaksin. Ketika mau daftar ke RS, mesti antri dan dapatnya masih lama sekali. Daftar bulan ini, dapatnya bisa sebulan atau dua bulan lagi. Kelamaan, Bro! Ketika dapat info ada vaksinasi massal dan ada link atau nomor kontaknya, tidak serta-merta bisa dikontak. Tapi akhirnya aku dapat info dari teman bahwa kalau mau vaksin di PKU kota, bisa daftar H-1, asal mau datang pagi-pagi sekali. Subuh sudah sampai sana. Benar juga, setelah antri ambil nomor jam 4 pagi, dapat deh nomor untuk vaksin besoknya.

Nah, seluruh orang di rumah sudah vaksin.
Sudah selesai?
Oh, belum.

Ada satu temanku yang kesulitan mendapatkan vaksin. Dia sudah berusaha mencari ke RS terdekat, tapi pendaftaran sudah penuh. Orang yang mau vaksin ternyata banyak sekali. Waktu kuberi tahu bisa mendaftar ke PKU asal datang subuh-subuh, dia tidak berani keluar rumah sepagi itu. Hm, ya … maklum sih. Memang butuh keberanian untuk menyusuri jalan saat hari masih gelap.

Aku kemudian menawarkan diri mencarikan vaksin. Awalnya memang mau ke PKU, tapi ada teman yang berbaik hati memberikan slot vaksinnya (karena dia sendiri sudah dapat dari teman yang lain).

Hari ini aku cukup lega orang-orang terdekat dan teman-temanku banyak yang sudah vaksin. Semoga segera terbentu herd immunity. Semoga pandemi bisa segera dikendalikan.

Hari Raya yang Personal

Lebaran hari kedua, berapa nastar yang sudah masuk mulut?

Aku tak banyak makan nastar kali ini. Enggak beli, enggak bikin, enggak pula dapat kiriman. Hanya kemarin saja nebeng makan nastar di rumah Budhe. Paling banyak 10 biji nastar kayaknya. 😀

Lebaran kali ini sepi. Karena pandemi, masih banyak pembatasan di sana-sini. Jadi, acara kunjung-kunjung pun sangat berkurang. Kali ini aku hanya berkunjung ke rumah Budhe. Budhe-nya Maya sebenarnya, bukan Budhe asli dari keluargaku. Sebenarnya ada pula Pakdhe, kakaknya Ibuk yang merayakan lebaran yang harus dikunjungi. Tapi aku sudah mengunjungi Pakdhe sebelum lebaran. Hanya demi mengatur waktu saja, sih. Kalau dalam sehari mengunjungi 2 rumah, rasanya capek dan memakan waktu. Tidak mungkin hanya datang dan 10 menit kemudian pulang. Kalau mengunjugi Budhe (dan Tante) tak bisa sebentar. Pasti ada acara makan dan mengobrol. Dan aku senang dengan Budhe karena beliau selalu hangat kepadaku meskipun aku bukan keponakan asli.

Sebenarnya aku cukup senang dengan lebaran kali ini yang sepi. Bukan karena aku tidak merayakan, tetapi karena apa ya … aku merasa hari raya yang sepi itu lebih personal rasanya. Bahkan untuk hari Paskah atau Natal, aku senang yang sepi-sepi saja. Dulu (sebelum pandemi), paling hanya pulang ke rumah orang tua.

Sebelum pandemi, ada satu acara yang masih terasa canggung untuk kulakukan meskipun dulu waktu masih kecil, tiap tahun selalu kulakukan. Apa itu? Sungkeman. Sungkeman tidak bisa dilepaskan dari keluarga besarku sejak kecil. Rasanya itu salah satu kebiasaan orang Jawa. Waktu Simbah masih sugeng, kami semua akan sungkem urut dari Simbah sampai ke om dan tante. Ini masih mending buatku karena toh mereka masih ada hubungan darah. Yang kurang kusukai dari acara sungkeman di keluargaku adalah tangis-tangisannya. Aduh, aku terganggu sekali. Sungkem selalu diwarnai dengan derai air mata. Mungkin meminta maaf dan minta restu dari orang yang lebih tua itu terasa menyentuh hati ya? Tapi aku tidak suka. Aku tidak suka suasana yang mengharu biru. Pokoknya tidak suka aja.

Beberapa tahun lalu, karena aku tinggal di kampung, acara kunjung-kunjung saat lebaran masih menjadi suatu kewajiban. Dan aku mau tak mau harus ikut acara kunjungan ke tetangga serta sungkem itu meskipun bukan kepada kerabatku. Aku merasa canggung dan aneh saja sih rasanya. Mungkin itu hanya sebatas simbol dan penghormatan. Tapi tetap saja aku melakukan itu karena “mau tak mau”. Ketimbang dianggap alien dan jadi gunjingan orang se-RT, mending ikut kebiasaan saja. Dan syukurlah sekarang aku tidak perlu melakukannya dengan alasan pandemi.

Ya, salah satu hal positif dari pandemi ini adalah membuat suasana menjadi personal. Ucapan selamat hari raya kukirim secara personal pula ke teman atau kenalan yang aku rasa tidak akan keberatan jika kuberi ucapan. Dalam ucapan itu kusebut nama, kusampaikan selamat setulus hati. Aku khawatir jangan-jangan ada orang yang kalau dapat ucapan selamat dari orang yang beda keyakinan justru membuatnya tidak damai sejahtera. Dan pandemi membuat hal itu menjadi “sah” dan baik-baik saja. Tidak ada lagi kewajiban untuk beramai-ramai dan terpaksa ikut “rombongan”. Tidak apa-apa kan kalau aku merasa lega?

Doa dalam Helaan Napas

Buatku berdoa tak harus duduk diam lalu mengucapkan kalimat dengan format khusus. Buatku doa bisa dilakukan kapan saja. Ketika napas dan hatiku seperti menyatu dan seiring, lalu kunaikkan sebuah harapan, bagiku itu doa.

Begitu pun pagi ini, tak lama setelah membuka mata, ingatanku melayang padamu. Lembaran rindu luruh dan menumpuk di hati. “Mas Tok,” bisikku. Aku seketika mengingatmu dalam helaan napas. Kuraih ponselku dan kulihat dirimu mengunggah video terbaru. Aku lega dirimu baik-baik saja, seperti yang selalu kuharapkan.

Pandemi belum juga berakhir. Kadang aku diliputi kekhawatiran soal dirimu–meskipun kamu sudah divaksin dua kali. Bagaimana kalau dirimu sakit? Tempo hari di telepon kudengar suaramu sedikit sengau, seperti sedang flu. “Aku capek dan letih, Dik.” Begitu katamu ketika kutanya kabarmu. Lalu bersamaan dengan itu terkirim fotomu sedang istirahat. Untunglah kamu tidak memaksa diri untuk terus beraktivitas. Aku lega. Tapi pandemi yang tak kunjung selesai ini tetap saja membuatku khawatir.

Kubuka jendela dan kubiarkan angin pagi menyegarkan kamar. Dalam tarikan napas, kunaikkan harap dan doa. Aku rindu, aku ingin kita suatu saat nanti bertemu membabat rindu.

-Mas Tok, aku mendoakanmu dalam helaan napasku.
+Doamu selalu melahirkan dan menguatkan rindu, Dik Ning.
-Terima kasih sudah merinduiku.

Vaksin Penghapus Cemas

Dulu kupikir lockdown dan pandemi ini hanya akan berjalan hitungan minggu atau bulan. Dulu kupikir, aku tak akan pernah mendengar orang-orang yang kukenal akan terkena virus yang sulit ditebak efeknya ini. Namun, belakangan ini semakin sering kuterima informasi tentang orang-orang yang terkena imbas virus corona. Tak hanya sakit fisik, sakit nonfisik pun bisa timbul karena virus ini. Kekhawatiran perlahan mulai menembus benteng ketenangan batinku. Satu sosok yang jelas-jelas kukhawatirkan adalah Mas Tok. Pekerjaan masih menuntutnya berjumpa dengan orang-orang. Sungguh aku khawatir.

Kadang kerinduan menggempur dada, menimbulkan debar yang membuatku mengetikkan pertanyaan lewat teks atau memencet nomor Mas Tok. Pagi itu aku seperti tak bisa menahan jariku untuk tidak memencet nomor ponselnya. Beberapa detik tak terangkat.

Walau aku khawatir, aku menghibur diri. Mungkin Mas Tok di jalan atau sedang bertugas. Namun, beberapa saat kemudian, kudengar suara teks masuk.

“Dik, aku sedang vaksin.”
Kabar singkat itu menyingkirkan kecemasan yang menggunung beberapa hari ini.

Aku mengirim emotikon senyum dan sebentuk hati untuknya.
“Mas Tok, aku lega banget Mas Tok vaksin. Semoga nanti aku juga bisa dapat vaksin.”

“Lalu kamu ke sini, Dik Ning?”
“Itu sih tak usah ditanya, Mas. Kangenku lebih tinggi daripada Gunung Merapi, tauk!” Kusertakan emotikon tawa.
“Dik, aku pun kangen.”

Aku lega dan ingin segera memeluknya!

Alat Yoga Murah Meriah

Dulu, salah satu alasanku menunda-nunda untuk yoga adalah soal peralatannya. Sebenarnya yang paling utama hanyalah yoga mat. Waktu masih di Jakarta, aku mendapatkan yoga mat yang cukup miring harganya di sebuah apotek waralaba. Buatku, yoga mat itu murah jika dibandingkan yoga mat bermerek. Murah meriah deh, kualitasnya juga setara harganya. Seingatku dulu di bawah 100 ribu. Sekarang harganya berkisar 125.000 ribuan. Buatku harga segitu cukup miring, soalnya mat yang lain harganya bisa 3 atau bahkan 10 kali lipat. Untuk pemula, mat yang murah meriah pun cukup kurasa. Kalau akhirnya serius dan rutin beryoga, baru beli mat yang lebih bagus.

Setelah punya mat, PR selanjutnya adalah soal penyimpanannya. Kalau cuma digulung dan ditaruh di pojokan kamar sih bisa saja. Hanya saja, yoga mat yang dibiarkan tanpa baju cenderung berdebu. Males kan kalau pas mau memakainya malah kita repot bersih-bersih dulu. Mat yang debuan itu malah bisa bikin kita sakit. Jadi, benda kedua yang perlu dibeli adalah tas yoga mat. Kalau kita lihat di olshop, harga tas yoga mat bervariasi. Ada yang di bawah 50 ribu, ada yang sampai seratus ribu lebih. Aku tentu saja tidak mau beli yang mahal-mahal. Demi pengiritan, aku jahitin tas yoga ke penjahit terdekat. Aku lupa berapa biayanya, yang jelas jauh lebih murah. Memang agak repot karena aku mesti beli kain sendiri dan mencari contoh tas yoga mat untuk mendapatkan ukurannya. Tapi hal itu sebanding dengan murahnya. Waktu itu aku jahitin di penjahit kampung. Murah dan rapi. Aku puas. Setelah beli mat kedua, aku beli tas yoga mat yang murah di olshop. Harganya di bawah 50 ribu, tapi kainnya cukup tebal.

Ketika mulai agak rutin berlatih yoga, pelatih yogaku menyarankan aku memakai tali yoga. Sebelumnya aku pakai kain apa saja yang ada. Bahkan aku pernah pakai jarik untuk membantuku meluruskan kaki :D. Bisa sih, tapi kurang praktis. Waktu dipinjami tali yoga oleh pelatihku, aku merasakan kepraktisannya dan sangat membantu memaksimalkan gerakan. Tapi untuk selanjutnya masak mau pinjam terus? Aku lalu buka-buka olshop, dan harganya membuatku malas beli. Tali ukuran 2,5 meter saja harganya bisa di atas 50 ribu. Bahkan ada yang sampai 150 ribu. Aduh. Mahal amit, ya?

Aku lalu berpikir, kalau aku beli tali sendiri dan menjahitkan ke penjahit tas, kurasa lebih murah. Benar dugaanku. Aku cari tali sendiri di toko yang menjual aneka tali beserta gespernya. Lalu aku menjahitkannya ke penjahit tas. Tidak pakai lama, aku sudah punya tali yoga. Biayanya sekitar 20 ribu sudah sekalian dengan ongkos jahit. Kalau mau mendapatkan tali yang lebih bagus, biayanya bisa sampai 25-30 ribu. Yang jelas kita mesti mau repot-repot cari bahan sendiri dan ke penjahit. Kalau mau praktis, beli online. Dari pengalamanku, harga tidak berbohong. Tali yoga 20 ribuan yang ada di olshop rata-rata kurang bagus. Terlalu licin. Jauh lebih baik kalau mau berburu tali sendiri dan menjahitkannya.

Perlengkapan yoga ketiga yang membantuku adalah balok. Seperti halnya peralatan yoga lainnya, balok yoga harganya bervariasi. Ada yang muahal banget, ada yang cukup terjangkau. Dari yang harganya di bawah 50 ribu, sampai ada yang ratusan ribu. Ada yang bahannya dari kayu, ada yang dari gabus. Aku sendiri memilih balok yoga dari kayu.

Pengalamanku, aku bisa mendapatkan balok yoga yang cukup murah dengan memesannya ke tukang kayu terdekat. Yang jelas, aku sudah menyertakan ukuran ketika memesannya. Ukuran balok yoga bisa dicari di internet. Ukurannya kurang lebih sama. Pilih tukang kayu yang karyanya cukup halus. Ini yang agak PR. Tapi kalau malas pesan di tukang kayu, beli di olshop saja. Ada yang harganya di bawah 50 ribu dan sudah bagus. Minimal miliki balok yoga sepasang untuk membantu kita melakukan gerakan yoga.

Doa Kecil Awal Tahun

Awal tahun bukan hanya soal berganti kalender. Jauh-jauh hari aku sudah menyiapkan kalender. Awal tahun adalah tanda pertambahan umur Mas Tok. Begitu pun jauh-jauh hari aku telah merancang kalimat ucapan serta memikirkan hadiah kecil yang pantas. Tapi apakah ada kalimat dan kado yang bisa benar-benar menunjukkan hatiku?

Awal tahun adalah hari-hari tersibuk Mas Tok. Aku paham, tak semestinya aku menelepon Mas Tok pada hari-hari dan jam-jam sibuk atau pada jam-jam istirahatnya. Tidak, tidak. Aku mesti bisa menempatkan diri. Tapi kurasa kiriman teks tentu tidak akan terlalu mengganggunya. Jadi, kukirim ucapan persis dua detik pada pergantian hari, tepat saat ulang tahunnya tiba.

Mas Tok tersayang.
Selamat ulang tahun.
Doaku masih selalu sama: Semoga Mas Tok sehat-sehat dan panjang umur.
Selalu ada cinta yang tak terhitung banyaknya untukmu.
Semoga kita selalu saling menemani meskipun berjauhan. Dan semoga kita bisa berjumpa lagi.

Kuletakkan ponsel di meja samping tempat tidurku. Badanku lelah, tetapi mataku masih berjaga. Aku rasa pesan ulang tahun itu akan dibaca besok pagi-pagi.

Tring!

Alarm tubuhku memaksaku bangun dan meraih kembali ponselku.

Terima kasih ya, Dik Ning.

Aku segera membalasnya.

Terima kasih untuk Ibu juga yang melahirkan Mas Tok. Bagaimana kabar Ibu? Semoga semakin sehat ya setelah sakit kemarin. Siapa yang menemani Ibu saat Natal kemarin?

Iya, nanti kusampaikan. Mestinya Ibu senang jika ditemani calon menantu gagal yang rajin menanyakan kabarnya.

Aku senyum-senyum. Kadang Mas Tok membuat guyonan garing, tetapi entah mengapa aku malah tersenyum. Seandainya bisa kuputar kembali waktu kita, Mas Tok, tentu aku ada di sampingmu dan bersama Ibu.