Minyak Jelantah Menjadi Berkah

Di rumah aku berusaha memilah sampah organik dan anorganik. Yang gampang busuk, kubuang di kebon belakang. Plastik dan teman-temannya yang sulit busuk kubuang lewat jasa tukang sampah yang datang dua hari sekali. Yang agak repot adalah ketika akan membuang minyak goreng bekas (jelantah). Walaupun tidak banyak, cukup merepotkan.

Aku tidak ingat bagaimana awalnya aku memanfaatkan minyak jelantah tersebut menjadi sabun. Yang kuingat, suatu siang, aku, bersama dua orang teman–Mbak Imel, dan Mbak Ira–mencoba mengolah minyak jelantah di rumah Mbak Ira untuk dijadikan sabun. Ng… mungkin waktu itu untuk persiapan percobaan di Pasar Sasen? Mungkin ya. Aku lupa.

Sempat bertanya-tanya juga dulu soal cara menjernihkan minyak jelantah supaya baunya yang tidak enak itu bisa berkurang. Setelah googling, ada beberapa cara menjernihkan minyak jelantah. (Silakan googling sendiri, ya.) Cara penjernihan yang paling mudah menurutku memakai arang.

Aku sudah beberapa kali mencoba membuat sabun minyak jelantah ini. Mulai dari jelantah bekas warung penyetan sampai jelantah rumah tangga. Ada yang baunya ikan banget, ada yang baunya gorengan tempe. Hasilnya pun macam-macam. Awalnya sabun jelantah yang kami buat baunya masih kurang enak. Namun belakangan sudah lumayan. Terakhir aku memakai air pandan sebagai cairan pembuat sabun, maka setelah jadi, sabun warnanya kehijauan dan ketika samar-samar ada aroma pandan juga.

Sabun jelantah bisa dipakai untuk mencuci piring, mencuci baju, atau sekadar cuci tangan. Menurutku sabun tersebut cukup kesat dan bersih.

Begini cara membuat sabun jelantah.

Bahan:
– Minyak jelantah setengah liter (kurang lebih 450 gram)
– Arang secukupnya. Ditumbuk atau jadikan potongan kecil-kecil.
– Soda api 61 gram
– Pandan 5 lembar, rajang supaya mudah diblender
– Air 123 gram (jangan menggunakan air PAM)

Alat yang dibutuhkan:
* Hand blender
* Timbangan (lebih baik memakai timbangan digital supaya mendapatkan angka yang presisi)
* Wadah stainless steel atau wadah plastik yang tahan panas (jangan memakai wadah dari aluminium). Wadah ini dipakai pada saat mencampur soda api + air, dan saat mencampur larutan soda api + minyak
* Cetakan silikon. Jika tidak punya cetakan silikon, bisa memakai cetakan puding, tetapi alasi dulu dengan plastik tahan panas supaya ketika sabun sudah jadi, mudah dilepas.

Alat pengaman:
+ Masker
+ Kacamata pelindung
+ Sarung tangan

Cara membuat:

Selama proses pembuatan sabun gunakan alat pengaman, ya. Jangan sampai air soda api terkena mata atau kulit.

(1) Masukkan arang ke dalam minyak jelantah. Untuk mudahnya dua-duanya dalam kondisi dingin. Alternatif lain: masukkan arang yang membara ke dalam minyak jelantah. Biarkan dingin. Setelah dingin lalu saring. Belakangan arang kudiamkan selama semalam di dalam minyak jelantah, baru disaring.

(2) Buat air pandan: blender pandan dengan air, lalu saring. Takar airnya menjadi sebanyak 123 gram.

(3) Masukkan soda api ke air pandan. Jangan terbalik: Jangan sampai air pandan yang dituang ke soda api karena bisa meledak. Aduk soda api sampai benar-benar larut lalu biarkan dingin atau sampai suhu ruang. Uap yang keluar selama proses ini jangan sampai terhirup dan jangan sampai airnya terpercik ke mata. Jadi, penting untuk memakai masker serta kacamata pelindung. Selain itu, lakukan proses ini di tempat yang berventilasi bagus.

(4) Masukkan larutan soda api ke dalam minyak jelantah yang telah disaring. Aduk dengan hand blender sampai mencapai kekentalan yang menyerupai susu kental manis atau mayones.

(5) Tuang ke dalam cetakan yang telah disiapkan. Diamkan semalam. Potong sabun menjadi ukuran yang diinginkan, lalu angin-anginkan di tempat yang berventilasi bagus. Setelah 3-4 minggu, sabun bisa digunakan.

 

Seperti ini hasil jadinya

Aku mendapat pertanyaan-pertanyaan umum berkaitan dengan pembuatan sabun minyak jelantah ini:
1. Bagaimana kalau minyak berbau ikan?
Dari pengalamanku, aku pernah memakai minyak jelantah yang berbau ikan. Untuk mengurangi bau, campur dengan minyak jelantah bekas gorengan non-ikan. Tapi rata-rata, aku mencampur berbagai minyak jelantah yang kudapat dari teman-teman. Kalau masih ragu, pakailah minyak jelantah yang tidak bekas untuk menggoreng ikan. Pemakaian arang di awal berguna untuk mengurangi aroma yang kurang enak dalam minyak.

2. Bagaimana kalau tidak memakai hand blender?
Sebenarnya bisa saja memakai mikser, tapi dari pengalamanku butuh proses lebih lama untuk mencapai kekentalan yang pas. Sebagai perbandingan, jika memakai hand blender, proses pengadukan butuh waktu 2-3 menit. Jika memakai mikser setidaknya butuh waktu 15-20 menit. Konon kalau diaduk manual (tanpa mesin alias pakai tangan) bisa 1 jam. Yang penting, pisahkan alat yang biasa dipakai untuk membuat sabun dengan alat masak lainnya.

3. Apakah sabun ini aman, mengingat salah satu bahannya adalah soda api?
Aman. Dalam proses pembuatan sabun, larutan soda api yang tercampur dengan minyak akan mengalami saponifikasi dan akhirnya jadilah sabun. Agar soda api benar-benar hilang, sabun yang baru jadi perlu diangin-anginkan selama 3-4 minggu. Setelah itu aman dipakai. Silakan googling mengenai penggunaan soda api dalam pembuatan sabun. Sudah banyak yang memberi penjelasan di luar sana.

Selamat mencoba!

Catatan:
Dalam mengutak-atik resep ini, aku perhitungkan minyak jelantahnya dari minyak sawit semua.

Sepotong Cerita Titu dan I Belog dari Balik Layar

Tahun lalu, pada bulan September, aku ikut workshop penulisan cerita anak yang diadakan Room to Read dan Provisi. Awalnya aku tidak terlalu berminat ikut karena dua tahun yang lalu aku sudah pernah ikut, bukuku sendiri yang berjudul Kue Ulang Tahun Widi sudah terbit, dan memenangi Second Prize Winner di ajang Samsung Kidstime Author’s Award, Singapore. Aku tidak punya ide. Tapi entah bagaimana aku dapat wangsit ide cerita dan akhirnya terdorong ikut audisi. Ndilalah ceritaku lolos audisi, jadi akhirnya aku berangkat. (FYI, mengikuti workshop penulisan cerita anak tersebut gratis, hanya saja kami harus lolos audisi. Kalau ceritamu dianggap bagus oleh panitia, kamu bisa ikut workshop. Jadi, ada unsur kerja keras dan keberuntungan agar bisa ikut workshop tersebut.)

Uniknya, aku bisa ikut workshop itu bersama Oni, suamiku. Kalau kupikir-pikir, lucu juga kami bisa ikut berdua. Kok bisa? Aku sendiri ya heran. Waktu Mbak Rina (dari Provisi) memberitahu bahwa naskah kami lolos dan bisa ikut workshop, yang ditelepon malah suamiku. Usai ditelepon, Oni bilang bahwa aku diminta mengirim data diri ke Provisi. “Loh, kok yang ditelepon kamu?” tanyaku ke Oni. “Naskahku lolos juga,” jawabnya. Astaga, selama ini aku tidak tahu kalau Oni ikut mengirim naskah audisi. Lah, kirain yang minat nulis cerita anak aku doang. Ternyata my roommate tertarik juga. Surprising! Dan aku menyadari kelemotanku karena rupanya waktu mengirim naskah audisi, aku tidak menyertakan form yang berisi data diriku. Duh! Dasar telmi.

Keikutsertaan kami di workshop itu menjadi semacam piknik buat kami. Lumayan kan bisa jalan-jalan sampai Lembang dan dibayari. πŸ˜€ πŸ˜€ Sudah lama nggak piknik soalnya. πŸ˜€ Hal lain yang menguntungkan adalah aku bisa meminjam laptopnya saat laptopku bermasalah. Untung banget, deh!

Workshop bersama Room to Read dan Provisi selalu mengasyikkan: menambah ilmu dan meluaskan jejaring. Buatku sendiri, dengan mengikuti workshop sekali lagi, aku jadi lebih memahami seluk beluk penulisan naskah picture book, terutama untuk anak-anak yang baru belajar membaca (buku level 1 dan 2). Tidak semudah yang kubayangkan dulu. Bikin otak melintir :p. Seperti biasa, kalau Oni ikut belajar, dia biasanya lebih mudeng ketimbang aku. Jadi, aku bisa tanya-tanya lagi sama dia kalau belum mudeng. πŸ˜€ πŸ˜€

Sepulang dari workshop, kami dibagi menjadi beberapa kelompok. Aku dan suamiku masuk ke grup yang didampingi Penerbit Kanisius, Jogja. Selain kami berdua, ada Yuniar Khairani dan Nancy Sitohang yang sekelompok dengan kami.

Setelah melewati masa revisi selama beberapa bulan yang cukup melelahkan, ditambah ikut field testing yang mengasyikkan, akhirnya buku kami jadi juga. Judulnya Titu dan Titi yang diilustrasi oleh Lyly Young. Sedangkan karya suamiku berjudul I Belog yang diilustrasi oleh Dewi Tri Kusumah.

Titu lagi baca buku diintip Tuti
Foto oleh: Mbak Flora.

 

I Belog yang lucu.
Foto oleh: Mbak Flora

Siang tadi, aku mendapat kiriman foto dari beberapa teman berkaitan dengan peluncuran buku kami di AFCC, Singapura. Naskah I Belog dipentaskan pada saat acara pembukaan peluncuran buku tersebut. Senang juga rasanya hasil jerih payah kami bisa mejeng di AFCC–walau kami tidak bisa datang ke sana dan menyaksikannya sendiri. Semoga lain waktu kami punya rejeki dan berkesempatan menghadiri AFCC. Selain itu–ini yang terpenting–semoga buku-buku kami bisa dinikmati anak-anak di Indonesia.

Titu dan I Belog mejeng bareng karya teman-teman yang lain.
Foto oleh: Mbak Flora

 

Pementasan I Belog
Foto oleh: Mbak Eva Nukman

Terima kasih buat teman-teman yang selalu mendukung, terutama Mbak Flora, Mas Widi, dan Mas Saras dari Kanisius. Terima kasih pada Lyly Young sebagai ilustrator yang telah menghidupkan tokoh Titu. Juga terima kasih atas kerja keras Alfredo Santos dari Room to Read, Mbak Rina dari Provisi. Salam literasi!

Pada Sebuah Hari Hujan

Aku tak pernah menyukai hari hujan. Hujan membuat jalan di sekitar kosku becek. Aku pun enggan menembus rintik hujan untuk mengganjal perut.

Tapi mau tak mau aku mesti keluar mencari makan. Aku tak mau sakit maagku kambuh dan mesti meringkuk di kasur beberapa hari lagi.

Aku melompati genangan kecil. Tak bisa kuhalangi ingatan saat berhujan-hujan dengan Mas Tok kembali muncul. Sesaat mataku memanas. Di manakah Mas Tok? Dalam kesendirian seperti ini pertanyaan dan doa untuk Mas Tok selalu mengambang di permukaan hati.

Mas Tok… Mas Tok…

Aku selalu berharap masih ada gelombang yang menautkan hati kami. Mungkin hanya perjumpaan lima menit pun tak apa.

Aku berbelok di tikungan. Duh, nasi goreng terdekat dari kosku tutup.

Aku meneruskan langkah. Perutku minta diisi makanan hangat.

Di ujung jalan kulihat ada restoran baru. Aku tak pernah ke sana. Tempat itu tampak mahal. Tapi saat hari hujan begini, mau tak mau aku ke sana.

Kututup payungku. Kulangkahkan kaki ke dalam. Sekilas kubaca ada menu soto.

“Soto semangkuk, nasi sedikit ya.”

Pemuda berseragam itu mengangguk cepat. Aku mundur, hendak mencari tempat duduk.

Dug!

Kakiku menabrak orang.

“Maaf!”

“Dik Ning!”

Mendadak aku seperti dilemparkan pada hari-hari hujan bersama Mas Tok; menyusuri pinggiran hutan jati, menghirup aroma dirinya. Doaku terkabul! Masih ada gelombang yang menyatukan kami. Seketika aku merasa hangat dan sembuh.

Saatnya Penerbit Turun Gunung

Entah sudah berapa kali aku mendengar pembicaraan soal menurunnya penjualan buku dan majalah. Oplah menurun. Majalah banyak yang tutup. Ada yang bilang sekarang adalah zaman senjakala bagi penerbit. Kadang ikut deg-degan ketika mendengar kabar seperti itu.

Beberapa kali aku berpikir bahwa penerbit mungkin ada baiknya “turun gunung” menyapa langsung para pembacanya. Bukan sekadar lewat toko buku. Bukan hanya waktu ada acara peluncuran buku. Tapi benar-benar datang dan mengajak sebanyak mungkin orang untuk membaca.

Apa itu membaca? Menurutku membaca itu tidak hanya soal mengeja. Membaca itu menangkap makna. Jadi, kalau ada tulisan: Tini makan singkong, perlu juga dilihat konteksnya. Singkong dimakan Tini sebagai kudapan? Sebagai makanan sehari-hari? Sebagai ganjal perut setelah dua hari tidak makan?

Balik lagi ke soal penerbit yang mengajak orang untuk membaca. Kadang kupikir penjualan buku menurun, minimnya minat baca, itu juga karena penerbit kurang turun gunung. (Habis gini ditoyor editor.) Sebenarnya buku bagus itu banyak. Yang ingin membaca kurasa juga banyak. Tapi kenapa buku-buku itu seperti tidak sampai ke (calon) pembaca yang haus bacaan? Ini semacam cinta tak sampai. Ngenes kan? Bikin buku yang bagus itu tidak mudah, biayanya pun tidak sedikit. Tapi begitu terbit, penjualannya kadang (atau sering?) mak plekenyiiik… Puk puk editor. Apalagi katanya minat baca masyarakat rendah. Jadi, bisnis buku itu kesannya suram.

Namun, kalau kita peduli soal gizi untuk tubuh, mestinya kita peduli pula soal “gizi” untuk otak. Hei, kamu tahu nggak kalau otak itu organ terpenting di tubuh kita? Kalau otak kita hanya dijejali ide-ide sampah, hidupmu bakal suram. Makanan untuk otak salah satunya adalah buku yang bagus. Buku yang menginspirasi. Buku yang menambah wawasan. Lalu, kalau daya serap buku di masyarakat makin berkurang, bukan tidak mungkin ini tanda-tanda kemunduran peradaban. Jadi, balik lagi ke tadi… membaca buku itu penting.

Belakangan aku berpikir bahwa penerbit itu ada baiknya membuat semacam gerakan meningkatkan minat baca. Ternyata, apa yang selama ini kupikirkan, dilakukan oleh Penerbit Kanisius. Dalam rangka ulang tahunnya yang ke-95, Kanisius membuat gerakan untuk mengajak masyarakat membaca, yaitu dengan membentuk Sahabat Literasi. Salah satu kegiatannya adalah dengan turun ke Malioboro, lalu mengajak orang-orang yang saat itu ada sana untuk membaca. Selain di Malioboro, gerakan ini juga dilakukan di kereta Prameks Jogja-Solo, di bus TransJogja, di sekolah Mangunan. Menurutku ini suatu gerakan yang unik. Kuharap hal ini dilakukan secara berkesinambungan. Dan semoga diikuti oleh para penerbit lain.

Nderek mangayubagyo, Kanisius. Teruslah menerbitkan buku-buku bermutu.

Tempat Ngopi Paling Enak?

Belum lama ini aku ditanya oleh seorang teman, “Di mana tempat ngopi paling enak?”

Aku menggeleng. Terus terang aku sudah lama tidak ngopi di luar.

Dulu, aku bisa dengan cepat menjawab bahwa Klinik Kopi adalah tempat ngopi yang asyik. Tapi itu dulu. Dulu, ketika Klinik Kopi menempati PSL Sanata Dharma di belakang Toga Mas. Tempatnya asyik, lapang, di antara pohon-pohon jati. Menurutku ini semacam oase di tengah Jogja yang semakin sumpek oleh hotel-hotel dan macet. Sekarang setelah Klinik Kopi menempati tempat yang baru, aku malah jarang ke sana. Padahal lebih dekat rumah.

Akhir bulan lalu, ada teman yang mengajakku ke Klinik Kopi. Jika tidak mengingat teman-teman ini tinggal di luar Jogja, aku rasa aku akan menolak ajakan mereka. Setelah AADC memang Klinik Kopi makin banyak dikenal. Banyak orang ingin mencoba mencicipi kopi di sana. Namun, aku teringat kunjungan terakhirku ke sana. Waktu itu aku merasa Klinik Kopi tidak seperti dulu. Terlalu ramai. Sentuhan personalnya semakin jauh berkurang.

Tapi baiklah… aku coba ke sana lagi. Aku tiba di Klinik Kopi pukul 15.30, setengah jam lebih awal dari jam bukanya. Kupikir aku akan dapat urutan pertama. Ternyata sudah ada orang yang datang lebih dulu. Beberapa waktu kemudian, orang-orang mulai berdatangan–sementara Klinik Kopi belum buka. Klinik baru buka pukul 16.00. Dari pengalamanku, sebaiknya datang awal ke Klinik Kopi. Soalnya antrinya banyaaaak. Malesin dah.

Menjelang pukul 16.00, gembok pagar Klinik Kopi mulai dibuka. Sesuai urutan, aku dapat antrian nomor 2. Waktu kami dilayani, kami masuk berempat termasuk satu anak temanku. Orang-orang makin banyak yang datang. Mas Pepeng masih mengenaliku. Tapi dari caranya melayani kami, aku merasa seolah tergesa-gesa. Iya, iya yang datang sudah banyak. Yang butuh diladeni banyak. Wajar kalau cepat. Tapi dulu Klinik Kopi tidak seperti itu.

Dulu di Klinik Kopi orang bisa saling mengenal. Dari yang semula tidak kenal sama sekali, karena kopi kami jadi bisa saling berbincang. Tapi sekarang suasana itu tak kurasakan lagi.

Klinik Kopi makin berkembang, makin dikenal. Aku ikut senang menyaksikannya. Tetapi secara pribadi aku berkata pada diriku sendiri, aku tidak akan ke sana lagi. Mungkin kalau ada teman yang minta diantar, aku masih mau mengantar. Tapi hanya sebatas mengantar. Tidak ngopi di sana lagi.

Teman Unik dan Kebetulan

Sudah tanggal 4 Januari. Aku terlambat memenuhi kebiasaanku untuk menulis di blog ini setiap tanggal 3 Januari. Baiklah, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Tanggal 1 kemarin aku bertemu dengan teman lama, Ayung. Dulu kami seasrama. Sebenarnya agak unik pertemanan kami. Semasa di asrama, aku tidak terlalu dekat. Tidak pernah satu unit. Biasa saja.

Aku mulai sering berkontak dengannya saat tahun-tahun terakhir aku tinggal di Jakarta. Rumahnya dan kontrakanku tidak terlalu jauh. Naik angkot dua kali kalau tidak salah. Plus jalan kaki sedikit. Beberapa kali kami ketemu untuk makan dan ngobrol ngalor ngidul cukup lama. Dari obrolan itu aku tahu bahwa ternyata adiknya adalah mahasiswa kakakku. Dia pun bercerita punya kakak yang tinggal di Jogja. Tapi aku belum kenal kakaknya waktu itu.

Waktu aku pindah ke Jogja, aku mulai berkontak kembali dengan beberapa teman lamaku. Dari kontak-kontakan itu, aku akhirnya terhubung dengan kakaknya Ayung. Dan, tak hanya itu, suamiku, sekarang jadi guru (informal) anak-anak kakaknya Ayung. Anak-anak itu homeschooling, dan suamiku membantu mereka belajar matematika plus plus. Plus main boardgame, plus baca buku, plus mancing ikan. Macam-macam deh. Kalau dibilang guru, rasanya kok tidak “guru banget”. Menurutku sih, ya. Seperti teman bermain sambil belajar.

Sewaktu mengobrol kemarin, aku dan Ayung merasa lucu menyaksikan kebetulan-kebetulan di antara kami itu. Sepertinya keluargaku dan keluarganya terkait hubungan guru dan murid. “Jangan-jangan di kehidupan kita yang dulu, kita punya hubungan apa gitu, ya?” kata Ayung. Haha. Aku hanya tertawa. Mungkin juga. Semuanya seperti kebetulan. Tidak terencana.

Aku merasa pertemanan kami unik. Semoga tetap unik. πŸ˜‰

Pertemuan di Bawah Rumpun Bambu

Harus kuakui aku pelupa. Aku lupa kapan terakhir kita bertemu. Lima tahun? Kurasa lebih. Pasti lebih.

Samar-samar kuingat pertemuan terakhir kita. Kita belanja di ITC, bukan? Lalu pulangnya naik taksi bersama. Aku pun samar-samar ingat kita sempat ke gereja bersama. Sungguh aku lupa apakah benar kita sempat misa bersama sebelum kamu pulang. Tapi beberapa kali kita memang misa bersama. Aku ingat kita naik bajaj berdua dan kamu membayari ongkosnya. Dari situ aku belajar menaksir berapa ongkos bajaj yang wajar. Aku tahu, kamu tetap memberikan ongkos yang semestinya pada tukang bajaj–tidak kemahalan, tidak pula kemurahan.

Ya, aku banyak lupa kejadian pada saat pertemuan terakhir kita. Yang kuingat adalah beberapa kali kita berkabar lewat SMS. Lalu aku sempat meneleponmu sebentar. Seingatku kamu hanya mengatakan kondisimu sedikit kurang baik karena sulit berjalan? Ya, ampun. Aku sungguh lupa. Tapi saat itu aku sadar kamu pasti memang tidak baik-baik saja. Mestinya aku pergi dan menengokmu. Tapi aku memang punya seribu alasan yang menahanku untuk tidak pergi melihatmu. Mungkin kamu tahu sekarang karena kurasa tak ada lagi yang bisa kusembunyikan darimu.

Seandainya kamu masih punya waktu, mestinya kemarin kita masih bisa berkabar. Oh, tentu saja aku punya banyak pertanyaan untukmu. Bukan pertanyaan basa-basi. Aku tak bisa benar-benar berbasa-basi padamu karena denganmu aku selalu punya banyak cerita yang bisa dibagi. Mungkin aku akan sengaja membeli nomor khusus agar bisa meneleponmu cukup panjang. Hei, kamu pernah juga kan membeli nomor dari provider tertentu agar kita mengobrol cukup lama? Aku ingat kok.

Hari ini, setelah lewat lima tahun, aku baru “berani” dan berkesempatan datang menemuimu. Sebelumnya aku membayangkan akan duduk berdua saja denganmu. Bayanganku, “rumahmu” hanya bata tertata rapi, di bawah naungan rumpun bambu. Tapi ternyata lebih bagus. Kurasa kalau kamu bisa memilih, kamu akan memilih tegel keramik yang warna biru, kan–seperti warna kesukaanmu? Tapi ternyata tegel “rumahmu” berwarna pink. Dalam hati aku tertawa. Mungkin kalau bisa berseloroh langsung padamu, aku akan bilang, “Haiyah, jebule warnane pink, Mbak! Hehe.”

Kamu memilih rumah terakhir yang syahdu, dikelilingi bambu petung yang besar-besar. Aku takjub bambu-bambu yang begitu gagah di sekeliling rumahmu. Bambu-bambu itu jauh lebih besar daripada bambu yang tumbuh tak jauh dari rumahku. Kamu masih ingat, kan?

Di rumahmu masih ada sisa bunga tabur yang sudah layu. Itu artinya belum lama ini ada yang menyambangimu. Ada yang mendoakan dan mengajakmu berbincang dalam hati. Kamu memang dikelilingi orang-orang yang mencintaimu, setiap orang seolah menyimpan ruang untuk memajang kenangan yang baik tentang dirimu.

Sebenarnya aku takut akan butuh banyak tisu saat datang mengunjungimu. Mungkin itu pula yang menahanku untuk datang berkunjung. Tapi hari ini aku mesti berbangga pada diriku sendiri bahwa aku cukup bisa menguasai diri.

Malam ini, seolah kenangan demi kenangan keluar dari kotaknya. Berserak melingkupiku. Menyergapku dengan kepungan rasa. Aku memang lupa bagaimana pertemuan-pertemuan terakhir kita. Tapi tentu saja aku ingat bagaimana kita berjalan keluar dari unit lalu naik ke kafe untuk makan siang setelah kita “mager” lalu tertidur di unit, padahal mestinya kita lebih rajin menggarap skripsi. Aku ingat kita pernah menyusuri jalan Solo, membeli klepon. Aku ingat teh hangat yang kamu buatkan. Rasanya aku pun masih ingat aroma losion yang kamu pakai setelah mandi.

Malam ini, aku teringat “pertemuan” kita tadi siang di bawah rumpun bambu. Aku tak ingin lupa, jadi aku perlu mencatatnya sedikit di sini. Aku juga sempat memotret fotomu yang dipajang di ruang tamu. Boleh kan kusimpan di sini untuk kenang-kenangan?

Mbak Tut...
Mbak Tut…

Hari ini aku merasa lega karena pada akhirnya aku bisa datang menyaksikan rumah peristirahatanmu yang terakhir. Aku perlu berterima kasih pada Mbak Rini. Tanpanya aku mungkin tak akan pernah berani datang berkunjung.

Tentu saja aku masih kangen padamu. Kusadari kini bahwa setiap rasa kangen tak selalu harus dituntaskan. Kurasa kangen itu perlu. Kangen itu menjaga kenangan agar tetap hidup di dalam hati.

Oya, selamat Natal ya. Pesta natalmu di sana pasti lebih meriah karena dalam keabadian kamu pasti telah merasakan cinta.

 

 
26 Desember 2016.
Tulisan untuk mengenang kunjungan ke makam Mbak Tutik (S. Yuni Hariastuti).