Menjaga Kehidupan dan Kesehatan

Sekitar tiga hari terakhir ini aku kerap ke Betesda. Mertua kakakku–Bu Sri–terserang stroke akut, jadi beliau harus dirawat intensif di rumah sakit. Ruang perawatan untuk stroke di rumah sakit ini kulihat cukup baik, terutama ramah bagi para keluarga yang menunggu. Ada sebuah kamar khusus untuk setiap keluarga pasien. Di situ tersedia tempat tidur ukuran single serta ada sebuah lemari kecil. Kalau penunggunya lebih dari seorang, bisa membawa tikar tambahan sendiri. Setiap pagi kamar tunggu untuk keluarga pasien itu dipel oleh petugas. Jadi, ruangan ini bersih dan cukup mengurangi stres keluarga kurasa.

Di sini pasien diletakkan di ruangan khusus untuk dipantau secara intensif selama 24 jam. Keluarga tidak diperkenankan melihat langsung atau menemani di samping pasien kecuali pada jam bezuk. Jadi, sebenarnya kamar untuk penunggu yang kuceritakan di atas memang semata-mata untuk menunggu. Tidak ada hal lain yang bisa dilakukan selain duduk, mengobrol, tidur, baca buku, atau makan cemilan.

Aku baru menengok Bu Sri pada hari kedua. Dia terlihat tenang dan seperti tidur nyenyak sekali. Dokter mengatakan bahwa terjadi penurunan kesadaran akibat pendarahan otak. Banyak selang yang terpasang di tubuhnya dan di sisi atas kepalanya ada monitor yang memantau beberapa hal. Aku kurang tahu apa saja yang dipantau, yang jelas salah satunya adalah detak jantung.

Saat menjenguk Bu Sri ini aku berpikir, “Sebegitunya ya kita manusia ini menjaga dan mempertahankan kehidupan.” Banyak hal dilakukan dan diupayakan. Namun, di sisi lain, ketika dalam kondisi sehat, orang kadang (atau malah sering?) mengabaikan kehidupan itu sendiri. Soal makan misalnya, aku masih suka makan sembarangan. Kadang memakai excuse “Ah, nggak apa-apa”, “Ah, cuma sedikit”, “Sekali-sekali nggak apa-apa dong” dan sebagainya. Kita berpikir kesehatan hanya urusan kita sendiri–bukan orang lain. Nyatanya, kalau orang sakit dan harus masuk rumah sakit, yang repot tidak hanya diri sendiri, tetapi juga orang-orang di sekitar kita mesti pontang-panting dan kadang harus merelakan kesehatannya sendiri demi pasien yang mondok. Misalnya, karena ikut menjaga pasien, mesti tidur di bawah sehingga masuk angin atau flu.

Kesehatan tidak melulu urusan pribadi. Kesehatan memiliki dampak sosial. Sayangnya hal seperti ini jarang disadari dan hanya memikirkan kenikmatan pribadi. Kalau makan makanan kurang sehat, mungkin kita perlu ingat bahwa keluarga terdekat kita bisa kena imbasnya kalau kita sampai kenapa-kenapa. Lagi pula, sakit itu tidak enak kan?

Merawat Mimpi = Merawat Cinta?

Tadi aku ikut sebuah acara di LIP. Di situ salah seorang pembicara bercerita tentang keinginannya yang menggebu-gebu untuk sekolah ke luar negeri. Namun, ada beberapa hal yang menjadi kendala. Bukan soal kendala atau bagaimana cara dia menggapai impiannya yang ingin kutulis di sini. Yang menarik adalah bagaimana dia terus merawat impiannya itu.

Dalam perjalanan pulang, aku mengobrol dengan suamiku. Dia menceritakan bagaimana teman kuliahnya dulu merawat mimpinya sebagai film maker. “Walaupun mimpinya sebagai film maker ‘dibelokkan’ orang tuanya dengan menyuruhnya kuliah di jurusan teknik, dia tetap menjaga agar mimpinya terus menyala. Dia bergabung di komunitas-komunitas film. Dia terus menulis skrip film sampai akhirnya skripnya dilirik sutradara.”

Tak perlu lah kusebut siapa orang itu, yaaa, tapi cukup punya namalah orang itu. Dari cerita itu, aku menarik kesimpulan bahwa mimpi itu seperti cinta. Jika dia dirawat, dia akan menemukan jalannya sendiri sampai akhirnya terwujud. Kadang ada orang-orang terdekatmu yang berusaha membelokkan impianmu, tetapi yang menentukan apakah mimpi akan terwujud atau tidak adalah kekonsistenan kita dalam merawat impian itu. Salah satu bagian penting dalam merawat mimpi adalah langkah-langkah mewujudkannya. Seperti impian film maker tersebut, dia tetap berusaha berkenalan dengan komunitas film dan terus menulis skrip film.

Lalu, bagaimana aku sendiri merawat mimpiku? Harus kuakui, belakangan ini aku agak tak peduli dengan impianku. Aku merasa begini saja cukup. Selain itu, ada beberapa pekerjaan yang menuntutku. Kebanyakan alasan ya?

Mungkin aku kurang mencintai mimpiku, ya. Tapi obrolan tadi sore dengan seorang teman, mengusikku. Dua butiran Milo ini kalau bertemu ngobrolnya seputar naskah dan buku. Apa lagi? Jadi, kapan butiran Milo ini bakal mewujudkan mimpi?

Separuh Rindu yang Tuntas

Deru angin di luar mengetuk jendela kamarku. Begitu pula ingatan tentang dirimu mengetuk-ngetuk isi kepalaku, sekali lagi menancapkan akar rindu lebih dalam. Refleks kucari dirimu di deretan nomor kontak ponselku. Sepersekian detik aku bertanya-tanya, apakah kamu sedang bisa ditelepon (mengingat dirimu adalah manusia paling sibuk sedunia)? Tak ada salahnya mencoba menjangkaumu.

Hatiku kusiapkan untuk tidak mendengar suaramu. Namun, dua kali nada panggil berubah menjadi suara empuk pereda hujan rindu.
“Mas Tok …”
“Dik, apa kabar?” tanyamu kemudian.
Sejurus kutahu kamu masih berbaring, menuntaskan tidur siang.
“Aku mengganggu tidurmu?”
“Tidak. Tapi mungkin lebih baik kalau kamu juga ada di sebelahku.”
Mas Tok masih seperti dulu, hangat merayu.
“Haha, aku telepon karena ingin menanyakan sedikit referensi terkait naskah yang sedang kutangani. Mas Tok bisa kutanyai sedikit?”
“Tentu saja bisa.”

Aku menanyakan beberapa hal padanya. Sebenarnya aku bisa menemukan jawabannya dengan menelusuri dunia maya. Namun, rindu selalu menemukan jalan untuk dituntaskan, bukan?

Aku tidak tahu bagaimana dulu Mas Tok menanamkan benih rindu yang mengakar begitu kuat sampai hari ini.
“Apakah kamu menaburkan benih rindu lewat mimpi, atau lewat berbatang-batang cokelat yang kaubawakan untukku dulu?” tanyaku.
“Ya, dan kusuntikkan penguat rindu lewat genggaman, pelukan di atas laju motor, dan ciuman yang kucuri dengan menembus pagar norma-norma.”
“Kita harus mengulanginya lagi.”
“Apakah kamu akan ke sini, Dik?”
“Rawatlah mimpi akan perjumpaan kembali, Mas Tok. Suatu saat aku akan menggenggam tanganmu lagi.”

Hujan berhenti. Dan rindu ini tuntas separuh.

Apakah Aku Mesti Ikut Kulwap?

Zaman sekarang memang zamannya WA dan kulwap jadi menjamur. Kulwap alias kuliah di grup WA rasa-rasanya makin sering kudengar. Misalnya kemarin di sebuah grup yang kuikuti, Bu Admin memprovokasi anggota grup untuk ikut kelas membuat sabun. “Kali ini kelasnya offline, ya,” begitu ocehnya di grup. Lalu, beberapa anggota grup mulai mengajukan usul, “Bikin kelas online dong, Bu. Biar yang dari luar kota bisa ikutan.”

Bu Admin dengan gegap gempita lalu menanggapi: Setelah gurunya siap, bakal diadakan kelas online. Begitulah Bu Admin yang gemar memprovokasi itu menyenangkan jamaahnya.

Sesungguhnya, aku bertanya-tanya kenapa orang sepertinya haus kelas online dan merasa perlu ikut kulwap. Sepenting apa sih ilmu yang disebarkan di kulwap itu?

Emang aku tidak pernah ikut kulwap?

Pernah dong. Haha. Dan setelah mengikuti kulwap, aku merasa kulwap-kulwap itu tidak penting-penting amat–terutama yang berbayar mahal. Kalau kamu cukup belajar, kulwap mahal itu hanya mengulangi pelajaran yang sudah kamu ketahui.

Aku pernah ikut beberapa macam kulwap. Tidak sering sih, tapi yah 1-2 kali lah. Aku ikut kulwap pertama-tama karena penasaran dengan pemberi materi. Biasanya pemateri sudah punya nama dan dipandang memiliki keahlian tertentu. Dari kulwap-kulwap yang kuikuti, aku merasa aku sudah cukup paham dengan semua yang disampaikan. Lho, tapi kok aku ikut? Ya, begitulah aku. Aku kan orangnya suka penasaran. Selain itu, aku merasa perlu “mengintip” apa sih yang bakal dia omongkan? Apa itu namanya kalau bukan penasaran bin kepo?

Kulwap itu berguna kalau kita ingin tahu sekilas materi yang disampaikan. Misalnya nih, kamu pengin tahu cara membuat sabun dan kamu sama sekali belum pernah tahu cara membuatnya. Kalau seperti itu, bolehlah kamu ikut kulwap. Kalau kamu ingin belajar lebih jauh, mendingan ikut kelas offline. Lagi pula kelas online itu jamaahnya suka ribut dan menanyakan hal-hal yang membutuhkan kesabaran bagi yang ikut menyimak. (Mungkin itu sebabnya aku tidak cocok menjadi guru. Membaca pertanyaan yang jawabannya sudah sangat jelas di awal saja aku merasa senewen.)

Namun, hal lain yang aku pertanyakan kenapa banyak orang gegap gempita ikut kulwap adalah apakah mereka tidak pernah browsing internet lalu membuka YouTube atau situs web yang membagikan hal-hal serius yang ingin mereka pelajari? Semua rasanya ada deh. Mulai dari bikin klepon sampai cara menulis novel. Mulai dari dari memasak sayur lodeh sampai cara belajar bahasa Arab. Semua ada. Lalu kenapa masih ikut kulwap ya? Oh, mungkin orang-orang itu sama penasarannya denganku. 😀

Sekian kali aku ikut kulwap, ada satu hal yang selalu kulakukan setelah masuk grup: mulai berhitung berapa banyak keuntungan yang diraup sang pemateri. Anggaplah tiap peserta membayar Rp50.000 dan jumlah peserta yang ikut kulwap 100 orang. Maka total uang yang diperoleh adalah Rp50.000 x 100 = Rp5.000.000. Lima juta, Sodara-sodara. Uang sebanyak itu diperoleh dalam tempo singkat dan tepat. Begitulah cara cepat untuk mendapatkan uang yang lumayan: Rajin-rajinlah bikin kulwap. Maka tidak heran kalau Bu Provokator itu gemar mengoceh dan mengompori orang untuk ikut kelas yang dia bikin.

Sekarang, kamu jadi pengin ikut kulwap atau malah pengin bikin kulwap?

Ingatan dalam Sepotong Hujan

Tok

Hujan selalu membaurkan berbagai ingatan. Kenangan. Ingatan tentang dirimu. Kenangan tentang kita.

Aku tidak suka hujan. Hujan membuatku sulit menemui kamu–dulu. Membuatku harus mengenakan mantol, dan berbasah-basah saat memencet bel rumahmu. Dan dua batang cokelat yang kusimpan di tasku ikut basah.

Semalam hujan. Tapi aku mengingat kamu. Mengenang kita. Mungkin ingatan itu serupa kabel-kabel tak kasat mata yang menghubungkan antarpulau, sehingga mendadak dalam pekatnya kenangan, kudengar bunyi pesan di ponselku. Apakah itu Ning?

Mas Tok sampun sare?

Aku sudah berusaha memejamkan mata. Tapi ingatan tentang kamu ketika dalam dekapan begitu jelas.

“Belum, Dik. Kamu kok belum tidur selarut ini?”

Aku masih harus mengerjakan beberapa hal, Mas. Dan aku kok kangen, ya.

“Sama. Di sini hujan. Aku ingat kamu, Dik Ning.”

Oya?

Iyalah.

Mas Tok selalu ada dalam kepalaku. Dalam ingatanku.

Dik, kamu pun selalu menjadi bagian dari hidupku dan tubuhku.

(Karena rasa kita begitu dalam. Kamu ingat? Pada suatu waktu, saat di luar hujan mengguyur, kulit kita pernah saling menempel, melekat kuat, kurasakan cintamu menguar dari pori-porimu dan kamu melingkupiku diriku dengan gairah yang menggelora. Itu sebabnya, kamu selalu menjadi bagian dari tubuhku.)

Belajar Hal Baru: Salah Satu Cara Mengenal Diri Sendiri

Katanya, untuk mencegah pikun, kita perlu belajar hal baru. Ini hal yang menantang buatku. Aku merasa makin ke sini, aku semakin malas menghadapi sesuatu yang baru. Penginnya tetap berada di zona nyaman. Tidak ngapa-ngapain, tetapi bisa terus berkembang. Eh, tapi mana bisa ya? Kalau enak-enak terus, manusia sepertinya cenderung akan mandeg. Dan mungkin bisa jadi, akan berumur pendek (?)

Namun, syukurlah ada beberapa hal yang selalu baru, yang menuntutku untuk belajar. Menerjemahkan artikel/buku membuatku mau tidak mau membaca dan membuka kamus. Tapi jeleknya, aku sering hanya mengambil teks yang sangat familiar buatku. Misalnya, aku hanya akan mengambil teks tentang memasak, cerita anak, kekristenan, atau yang gampang-gampang menurutku. Sebetulnya hal ini bisa disiasati dengan banyak membaca. Tapi, aku belakangan selalu punya alasan untuk tidak membaca. Mulai dari setrika sampai mengantuk. Sangat tidak elit, ya.

Selain terus belaja dalam dunia penerjemahan, beberapa bulan ini aku mau tidak mau mesti belajar menyetir mobil. Bagi kebanyakan temanku, menyetir adalah hal mudah. Mungkin ketika dulu aku belajar naik motor, teman-temanku belajar menyetir. Jadi, di usia ketika yang lain sudah lanyah nyetir, aku masih gagu.

Ya, ceritanya aku belajar menyetir. Sumpah, aku deg-degan setengah modiaaar… ketika awal duduk di belakang setir. Terus terang, aku takut nabrak. Iso bayaran lak an, Rek! Aku ikut kursus nyetir tak jauh dari rumahku. Latihan pertama, aku ditanya mau di jalan langsung atau di dalam stadion? Langsung aku pilih latihan di stadion dong. Mestinya latihan kedua aku sudah berani di jalan. Ternyata, enggak. Aku tetap di stadion. Buatku, latihan di jalan itu MENGERIKAN. Aku sangat takut.

Setelah kursus nyetir selesai, apakah aku sudah bisa nyetir mobil sendiri? Tentu tidak, dong! 😀 Aku sempat mandeg nggak latihan nyetir selama beberapa bulan. Lalu aku lanjut latihan lagi ditemani seorang kenalanku yang sudah mahir menyetir. Namanya Mas Heru. Lama banget aku sama dia latihan hanya di jalan kecil. Masih takut? Iya lah. Kayaknya Mas Heru sampai bosen melihatku hanya berani di jalan kecil atau jalan kampung saja. Menumbuhkan keberanian itu tidak mudah buatku. Nyaliku kueciiil.

Seingatku, menjelang bulan puasa kemarin, aku berhenti latihan dengan Mas Heru. Karena dia mesti persiapan buka puasa kan? Lagian kasihan kalau sudah seharian puasa, lalu di ujung hari malah latihan kesabaran menghadapi aku yang masih kacrut dalam menyopir.

Kemudian aku mulai latihan dengan kakakku. Lumayan, walau tidak setiap hari. Kemudian aku belajar nyetir sendiri ke rumah Mbak Ira, yang tak jauh dari rumahku. Waktu itu, aku masih latihan yoga di rumahnya. Jadi, yoga bisa jadi alasan untuk bawa mobil sendiri.

Butuh waktu beberapa bulan buatku untuk mulai bisa bawa mobil sendiri, tanpa mati mesin di jalan, tanpa grogi kalau diklakson dari belakang, tanpa deg-degan kalau ketemu belokan sempit dan papasan dengan mobil lain. Aku sering buka channel yang membahas latihan mengemudi di youtube.

Saat belajar menyetir mobil aku mulai mengamati diriku sendiri, bagaimana sikapku terhadap hal baru, bagaimana aku mengatasi ketakutan, bagaimana aku belajar, dan sebagainya. Belajar hal baru ini membuat aku menengok ke dalam diri. Aku mulai melihat diriku. Kadang aku menemukan hal-hal baru yang mengejutkan tentang diriku sendiri. O… ternyata aku begini, ternyata aku punya sifat itu, dan seterusnya.

Sepertinya setelah ini aku perlu belajar keterampilan baru lainnya. Berenang? Public speaking? Atau berkebun? Ada usul?

Cerita Hati

Ning

Kadang malam tidak bersahabat denganku. Ketika semua orang sudah terlelap, mataku tidak mau terpejam. Badan yang telah lelah, tak membuat mata langsung terpejam ketika menyentuh bantal.

Kepalaku penuh dengan aneka ide dan persoalan. Namun, badanku lelah. Aku tak sanggup memilah isi kepala. Aku berusaha memejamkan mata. Kata orang, jika kita lelah, ingatlah saat-saat yang menyenangkan. Dan seketika itu pula, dirimu hadir. Dirimu dalam senyum sambil menyapa, “Ada apa, Dik?” Mataku seperti menghangat. “Mas Tok,” bisikku. “Temani aku dengan doa-doamu.” Kulihat kamu masih tersenyum.

Aku teringat bayang-bayang pepohonan jati. Berkelebat-kelebat semua perjalanan kita muncul ke permukaan. Aku tak ingat sampai sejauh mana kita berjalan, tetapi kamu pasti bisa merasakan, kita bukan sekadar kawan. Ada yang tumbuh dan mengakar di hati kita. Menghadirkan tetes-tetes rindu, yang kadang tak terbendung. Apakah aku harus meneleponmu saat dini hari seperti ini?

 

Tok

Ibu bilang, hati tak pernah berbohong dan memiliki jalurnya sendiri. Aku percaya itu. Kadang mendadak kurasakan ada desakan-desakan lembut pada saat-saat yang tak terduga. Seperti ketika aku melihat sekotak bakpia khas dari Jogja, ingatanku seketika melayang kepada Ning.

Ning. Dik Ning, begitu aku biasa memanggilnya. Sesosok gadis yang hadir dua puluh lima tahun silam, menggetarkan darah mudaku. Dia begitu polos, dan lembut. Tapi jangan salah, dia bisa bergolak. Marah dan meledak-ledak. Aku tak mengira, aku jatuh cinta pada gadis semuda itu. Cinta pertama kah? Buat Ning, pasti iya.

Hanya karena melihat sekotak bakpia itu, aku seperti terdorong merogoh ponsel dan memencet nomor yang telah kuhapal.

“Dik Ning, apa kabar?”
Tak perlu kumenunggu lama, kudengar suara lembutnya.
“Mas Tok! Kok pas betul. Aku beberapa kali ‘mbatin’, lho!”
“Mbatin apa?”
“Kangen.”
Lalu terdengar tawanya yang renyah.

Bukan Ning jika tak punya seribu cerita. Bisa ditebak, ceritanya pun mengalir. Tentang ini dan itu. Tentang hal-hal sepele, yang membuat hatiku teduh.

Aku mesti mengakhiri percakapan kami ketika seorang teman masuk ruangan.
“Dik, sudah dulu ya. Ini ada teman datang.”
“Ya. Mas Tok, I love you!”
“Sama-sama ya, Dik!”