Kangen Angkot

Tahukah kamu, Jogja itu kalau siang puanasnya muinta ampyun. Kulit seperti ditusuk-tusuk saking panasnya. Dan jangan dikira Jogja tidak ketularan macet. Aku berusaha keras menghindari Gejayan pada siang hari. Itu neraka, Sodara-sodara! Sudah panasnya menyengat, macet pula. Halahiyuuung!

Hal seperti itu yang membuatku rindu naik angkot. Naik angkot itu kan tinggal naik, bayar.

Memangnya di Jogja tidak ada angkot?

Ada. Tapi menurutku kondisinya menyedihkan. Rasanya angkot di Jogja zaman aku kuliah (sekitar tahun ’96) masih lebih mendingan dibanding sekarang. Dulu angkot-angkot kecil masih ada yang cukup banyak melintas. Sekarang? Seingatku aku melihat angkot kuning kecil terakhir di daerah Minomartani. Aku hampir yakin mobil angkot itu usianya sudah 20-an tahun. Tua, nggrik-nggriken, melas deh tampangnya. Perasaanku ketika melihat angkot itu seperti melihat simbah-simbah yang bungkuk, berkeriput, jalannya terseok, tapi masih menggendong tenggok isi sayuran. Iba, melas. Kasihan, deh.

Warga Jogja memang kebanyakan mengandalkan sepeda motor untuk bepergian. Sekarang sepertinya populasi mobil semakin banyak seiring bertambahnya pendatang (ini hanya pengamatan sekilas ya, enggak pakai riset). Jadi, tidak heran kalau semakin hari Jogja semakin mangcet.

Ya, ya… aku merindukan angkot—terutama ketika hari hujan dan aku harus keluar rumah; atau ketika hari panas banget dan aku mesti pergi ke suatu tempat. Dulu ketika tinggal di Jakarta, ke mana-mana aku naik angkot. Plus jalan kaki kalau jaraknya nanggung (maksudnya kalau naik angkot kemahalan, tapi kalau jalan, ya capek juga). Naik angkot itu terasa enak kalau pas aku capek. Tinggal melambaikan tangan pada angkot yang lewat, lalu naik.

Angkot memang sering dibilang terlalu mahal, jika dibandingkan ongkos bensin sepeda  motor. Memang sih, mungkin aku akan tetap lebih sering naik sepeda motor walau di Jogja ada angkot. Tapi kalau ada angkot, setidaknya ada alternatif kendaraan lain.

Kamu sendiri, suka naik angkot atau naik sepeda motor? Atau enggak dua-duanya?

Advertisements

Teka-Teki di Balik Pengamen

Hari ini dua kali aku naik metromini. Pertama, naik 46, dan kedua naik 49. Dua metromini itu melewati jalan Utan Kayu. Biasanya setiap kali melewati jalan itu, ada pengamen yang naik. Tadi juga begitu. Biasanya aku agak enggan menyisihkan uang receh untuk para pengamen soalnya suara mereka biasanya ya … biasa saja lah. Tapi hari ini tidak.

Dua pengamen yang kutemui suaranya lumayan. Pengamen yang pertama menyanyikan lagu bergaya Melayu. Cengkoknya yang membuatku mau membuka dompet dan mencari receh dengan nilai yang paling besar–lima ratus rupiah. Jumlah yang sedikit barangkali ya? Pengamen kedua menyanyikan lagu keroncong. Entah bagaimana suara, pilihan lagu, dan penampilannya mengingatkanku pada bapak-bapak yang hendak berangkat ke sawah, yang kadang kutemui ketika pulang kampung. Padahal jelas bapak-bapak yang mau berangkat ke sawah itu tidak sambil mendendangkan lagu keroncong. Tapi begitulah pikiranku. Pikiran itu muncul begitu saja. Aneh memang ya. Mungkin karena keduanya memancarkan suatu semangat.

Menurutku, suara kedua pengamen itu bagus dibandingkan para pengamen lain yang suaranya cenderung pas-pasan. Aku bersedia memberi angka delapan untuk suara mereka. Kalau mereka punya kelompok musik, mungkin bisa tampil di kafe-kafe. Mungkin sih ya.

Ketika menuliskan pengalaman bertemu mereka tadi, aku jadi merenungkan, sebetulnya apa yang membuatku mau memberi mereka uang? Padahal aku termasuk pelit lo untuk memberi uang kecil kepada pengamen atau pengemis. Kalau pengemis sih, aku sudah hampir tidak pernah memberi. Kalau pengamen, masih pilih-pilih. Kalau suaranya bagus, ya aku kasih. Tapi, sebetulnya pemberian itu terdiri dari komponen apa saja? Setelah kupikir-pikir, pemberian itu terdiri dari rasa kagum dan kasihan. Ya, kasihan. Mungkin rasa kasihan itu sampai 60%. Loh, jadi lebih banyak rasa kasihan? Sepertinya begitu. Kasihannya itu karena mereka sebetulnya punya kemampuan lumayan, tapi kehidupan hanya mengantarkan mereka di atas panggung bernama metromini (atau bus-bus lain). Kalau dibandingkan dengan para penyanyi yang sering tampil dalam acara-acara musik di televisi zaman sekarang, suara mereka tidak kalah. Barangkali mereka kurang beruntung. Mereka belum menemukan koin keberuntungan seperti Paman Gober. Meskipun sekarang banyak kontes-kontes yang dapat mengantarkan ke panggung nasional, seperti misalnya, Indonesian Idol, tapi barangkali energi mereka untuk ke sana masih belum cukup. Entahlah.

Barangkali ketika aku merogoh dompet koinku, aku seperti melihat perjalanan hidup manusia pada umumnya. Aku yakin mereka punya punya cita-cita setinggi bintang atau mungkin cita-cita sederhana seperti orang pada umumnya–menikah, punya keluarga, dapat menghidupi keluarga dengan baik. Tapi kehidupan kadang-kadang memangkas cita-cita kita. Apakah sebagai manusia kita kurang berusaha? Mungkin iya, mungkin tidak. Atau barangkali dalam cita-cita yang terpangkas itu terpendam suatu teka-teki yang menuntut untuk diselesaikan, barulah setelah itu kita dapat naik ke tingkat yang lebih tinggi? Entahlah. Hidup ini sendiri kadang-kadang juga bagaikan teka-teki. Mungkin yang perlu kita lakukan adalah berjuang sekuat tenaga dan saling mendukung satu sama lain.

Wong awalnya hanya menyaksikan pengamen, kok ujung-ujungnya serius begini ya?

Pentingnya Naik Kendaraan Umum di Jakarta

Selama di Jakarta, aku ke mana-mana naik kendaraan umum. Ini termasuk sesuatu yang baru bagiku karena sebelumnya saat masih di Madiun atau di Jogja, aku biasanya naik sepeda ontel atau sepeda motor. Waktu tinggal di asrama aku juga naik kendaraan umum ding. Tapi itu untuk jarak yang tidak terlalu jauh. Dan begitu keluar asrama, aku kembali bermotor ria.

Dan kini, setelah sekian belas tahun terbiasa naik sepeda motor ke mana-mana, aku mesti membiasakan diri naik kendaraan umum? Rasanya? Aneh. Hehehe. Awalnya rasanya tidak bebas dan ini bisa dibilang salah satu cara untuk melatih kesabaran. Sungguh. Soalnya kita mesti menunggu datangnya kendaraan umum yang (seringnya) tidak bisa diprediksi–kecuali memang kendaraannya banyak sih. Dan belum lagi soal kelakuan sopir dan para penumpangnya yang kadang ajaib. Kalau ketemu sopir yang anteng mengemudikan kendaraannya, Anda mesti bersyukur. Yang sering kujumpai adalah sopir dan para penumpang yang merokok. 😦 Bayangkan, dalam kendaraan umum yang padat, kadang masih saja ada penumpang yang merokok. Pengen kubanting deh rasanya tuh orang. Mbok ya jangan egois to. Sudah di dalam angkot itu kita berebut oksigen, e … masih ditambahi asap rokok.

Sabtu pagi yang lalu, ada temanku yang posting di FB cerita tentang anaknya yang “mengomel” karena sang ibu (ya temanku itu tadi) mengajak anaknya naik kendaraan umum ketika mau ke pusat perbelanjaan. Si anak bilang, coba kalau ibu mau belajar menyetir, kan mereka tidak perlu “menderita” di dalam angkot. Yah, memang harus diakui bahwa naik kendaraan umum di Jakarta–dan kupikir di Indonesia pada umumnya–itu bukan pengalaman yang kurang menyenangkan. Tapi ya, kalau kita mau ambil sisi positifnya selalu bisa saja sih. Itu tergantung kreativitas kita saja kan? 😉

Nah, dari postingan temanku itu tadi, aku bertanya-tanya, “Sebetulnya anak perlu nggak diajak atau diperkenalkan naik kendaraan umum?” Pertanyaan ini berlaku bagi orang yang punya kendaraan pribadi atau yang selalu punya uang lebih untuk naik taksi. Menurutku, meskipun naik kendaraan umum itu tidak enak, kurasa seorang anak perlu diajak naik kendaraan umum. Kenapa? Karena inilah wajah Indonesia yang sebenarnya. Hihihi … segitunya! Rasanya memang tidak terlalu berlebihan sih aku ngomong begitu. Karena dalam kendaraan umum kita bisa tahu “O … ternyata sopir angkot itu suka ngebut karena harus berebut penumpang. yang kalau dihitung kasar, rata-rata itu seharga dua atau tiga ribu rupiah (saja).” Yaaa … pemikiran-pemikiran semacam itulah. Ini Indonesia banget kan ya? 😀 Dan sungguh, perlu kutegaskan lagi, naik kendaraan umum itu adalah salah satu cara terampuh melatih kesabaran. 😀

Masih cerita di hari Sabtu yang lalu, aku naik angkot ke sebuah pusat perbelanjaan dengan suamiku. Angkot yang kami tumpangi itu cukup sepi. Sampai agak jauh, penumpangnya hanya kami berdua. Di depan pak sopir ditemani seorang lelaki setengah baya. Mereka bercakap-cakap dalam bahasa Jawa dengan suara yang agak keras, jadi aku bisa mendengar isi obrolan mereka. Menarik cerita mereka. Ini sedikit kutipan obrolan mereka:
+ Jadi sopir sekarang itu kalau sehari dapat 100-150 ribu, seperti tidak dapat apa-apa. Apalagi kalau keluarga kita ada di sini. Habis sudah uang segitu untuk makan dan keluarga.
– Tapi Bapak kan enak, sudah jadi sopir pribadi.
+ Ah, ya sama saja. Kalau kamu dapat majikan yang baik, itu baru enak. Kalau tidak, kamu ibaratnya cuma bisa menangis.
– Betul juga Pak.

Mendengar percakapan mereka, mendadak aku teringat salah satu isi spanduk seorang calon gubernur DKI. Kira-kira seperti ini isinya: “Enak tinggal di Jakarta. Banyak gratisannya. Sekolah gratis, layanan kesehatan gratis.” Aku jadi penasaran, itu si bapak yang nyalon jadi gubernur pernah naik angkot nggak ya keliling Jakarta? Kalau belum, aku ingin menyarankan, “Pak, coba deh seminggu sekali menyamar jadi warga biasa dan naik kendaraan umum keliling Jakarta. Mungkin Bapak bisa dapat masukan yang lebih cerdas untuk masang tulisan di spanduk.”

Dari Payung Sampai Say Hello To Yellow

Baru kemarin posting, sekarang sudah posting lagi. Tumben rajin ya? 😀

Sebetulnya aku cuma ingin menuliskan beberapa hal yang kuanggap penting; daripada besok-besok kelupaan.

Rumah-Gloria

Oke, aku ingin bercerita tentang beberapa hal yang kualami kemarin. Kemarin aku datang ke MOI (Kelapa Gading), ada ICRE (Indonesian Christian Retail Expo) /pameran buku Kristen. Sebetulnya acaranya sudah berlangsung dari hari Kamis tanggal 10 lalu. Tapi kemarin ada teman yang hendak memutar film pendek di sana, jadi aku sengaja datang hari Senin.

Sebelum ke MOI aku harus mampir ke kantor distributor buku Gloria dulu. Waktu aku beli buku di sana tempo hari, payungku ketinggalan. Bagiku, payung adalah salah satu “harta” karena dia adalah teman yang bisa diandalkan di hari panas dan hujan. Dulu aku kurang begitu peduli dengan payung. Tapi sejak di Jakarta, payung adalah andalanku. Kalau panas menyengat, payung itu bisa melindungi kepalaku. Lumayanlah ketimbang langsung terpapar sinar matahari. Lagi pula, kantor itu searah kalau aku mau MOI.

Setelah dari Gloria, aku melanjutkan perjalanan untuk ke MOI. Jadi aku mesti keluar dari kompleks pertokoan dan berjalan menyeberangi perempatan Jalan Perintis ke arah Kelapa Gading. Menyeberangi jalan itu bagaikan menyeberangi samudera menurutku. Lebar dan ya ampun … kendaraan seperti tumpah. Sumpe deh, menyeberangi jalan itu dengan jalan kaki di bawah sinar matahari terik bukan hal yang menyenangkan.

Saat akan menyeberang, kulihat ada seorang pedagang yang memakai sepeda (entah jualan apa) yang juga menyeberang. Aku berusaha untuk ikut dengan si bapak itu. Lumayan kan kalau ada teman menyeberang. Ketika sampai di separator jalan, ada satu bapak tukan sol sepatu yang mau menyeberang juga.

Entah kenapa ya, aku jadi terharu melihat dua bapak ini. Aku sendiri cuma membawa tas yang kuselempangkan di pundak, dan tujuanku selanjutnya adalah ke mal, untuk menonton pameran. Tapi dua bapak itu? Mereka berpanas-panas untuk mencari penghidupan. Aku sendiri sebetulnya tidak menikmati menyeberangi jalanan yang bagaikan samudera di bawah matahari yang terik. Tapi angkot yang akan kutumpangi ada di seberang. Mau tak mau mesti jalan kaki kan?

Kendaraan umum vs Kendaraan pribadi

Pengalamanku menyeberang jalan ini entah bagaimana mengingatkan aku pada pertanyaan yang dilontarkan tetanggaku ketika pertama kali dia pindah ke kontrakan sebelahku.
“Tidak punya kendaraan ya, Mbak?”
“Enggak.”
“Kenapa?”
“Oh, saya ke mana-mana naik kendaraan umum kok. Itung-itung untuk mengurangi kemacetan Jakarta.”

Dan tetangga baruku itu lalu melanjutkan dengan menjelaskan bahwa dia punya dua mobil karena dia bekerja di bank. Dan dia bertugas untuk mencairkan dana yang jumlahnya milyaran. Jadi, biar kliennya percaya, maka dia mesti naik mobil, gitu deh. Eh ini beneran omongan dia sendiri lo. Cuma yang membuatku heran, kenapa tiap hari yang dia pakai ke kantor adalah sepeda motornya ya? Yang menurutku ajaib adalah, di sela-sela jam kantornya, dia selalu sempat pulang ke rumah kira-kira 1 jam untuk manasi mobil. Baru kali ini aku lihat ada pegawai bank yang bisa pulang untuk sekadar manasi mobil. Aku mulai kepo deh! Hihihi. Ya sutra lah, biar itu urusan tetanggaku. Kali dia memang yang punya bank. 😀

Jawabanku kedengarannya terlalu idealis barangkali. Dan memang sampai sekarang aku dan suamiku belum berminat untuk membeli kendaraan sendiri. Entah ya, kok rasanya punya kendaraan sendiri di Jakarta itu tidak terlalu menarik. Kenapa? Membayangkan harus mengendarai kendaraan sendiri di tengah kemacetan? Oh no! Membayangkannya saja sudah capek duluan. Mendingan aku menyeberang jalan panas-panas saja deh. Kalau badan masih kuat ya naik kendaraan umum. Kalau tidak, sediakan saja uang ekstra untuk naik taksi. Kalau tidak, ya di rumah saja. 😀

Cheng Cheng Po dan Say Hello to Yellow

Oke, lanjut ke perjalananku ke MOI. Akhirnya aku sampai di MOI dan bisa menikmati hawa dingin buatan di dalamnya. Sekitar pukul 15.00, aku sudah bersiap duduk di salah satu kursi-kursi yang ada depan panggung. Ada dua film pendek yang diputar. Yang pertama berjudul Cheng Cheng Po, dan yang kedua berjudul Say Hello To Yellow. Dua-duanya film anak-anak dengan tema besar multikultur.

Film Cheng Cheng Po ini mendapat Piala Citra tahun 2008. Ceritanya tentang seorang anak Cina bernama Han yang kesulitan membayar uang sekolah. Ia terancam tidak bisa mengikuti ulangan umum. Akhirnya teman-teman membantu dengan membuat atraksi barongsai sederhana di dekat lapak bakpau ibu Han. Sederhana sih ide ceritanya. Tapi yang menarik bagiku adalah kreativitas anak-anak membuat barongsai sederhana dari kandang burung. Dan sentuhan terakhirnya juga menarik, yaitu ketika anak-anak membuat musik yang mengiringi tarian barongsai dengan alat musik sekadarnya (kalau tidak salah pakai peralatan dapur), tak jauh dari situ ada musola. Melihat atraksi dan musik itu, si penjaga musola lalu memukul bedug sehingga musik mereka menjadi lebih meriah.

Film kedua, bercerita tentang anak kota yang pindah ke desa. Dia membawa HP yang tampak keren ke sekolah seolah-olah untuk membuat teman-teman barunya menjadi terkesan. Padahal … di situ tak ada sinyal! Hihihi. Orang-orang di kampung itu biasanya naik ke sebuah bukit kalau mau menelepon. Cerita ini menyentil dampak teknologi pada anak-anak. Menurutku, film ini lucu dan cerdas. 😀 Sepertinya bisa kujadikan tontonan saat aku bosan dan bete. :p

Oya, kalau tertarik dengan film ini, mungkin bisa menghubungi teman-teman Yayasan Sahabat Gloria. Setahuku film ini dibagi gratis dan dibuat untuk anak-anak. Bisa dijadikan bahan diskusi pula untuk mereka.

Wah … lumayan panjang ya tulisanku untuk cerita sepele tentang seharian kemarin. 😀

Pendidikan Karakter, Adakah Hasilnya?

Ya ampun, judulnya serius amat sih?

Hari itu siang menjelang sore. Aku dan suamiku hendak ke Jatinegara, ke resto vegetarian favorit kami. Tidak seperti biasanya, kami naik metromini ke sana. Biasanya sih naik mikrolet 02, tapi pengalaman naik 02 terakhir di depan LP Cipinang belakangan suka macet karena ada pembangunan jalur busway dan banyak mobil parkir di depan kantor imigrasi, kami pun naik metromini 46. Pikirnya sih untuk menghindari macet. Yah, tapi sebenarnya sama saja sih, menjelang pasar Jatinegara, macetnya pol-polan. Jakarta macet sudah biasa bukan? Bukan …

Selama naik metromini itu, kami sempat berbincang beberapa hal. Salah satunya sih soal pendidikan karakter di sekolah. Ya ampun, serius banget sih bahan obrolannya? Itu dipicu karena di sekitar Pasar Sunan Giri terjadi kemacetan juga dan kebetulan di situ ada sekolah. Kok sekolah bikin macet sih? Karena banyak mobil parkir di depannya. Jadi jalan yang mestinya bisa untuk dua jalur, jadi cuma bisa satu jalur saja. Dan lagi, kemacetan itu imbas dari lampu merah di simpang Sunan Giri. Yo uwis, rasanya kalau menghadapi kemacetan cuma bisa bersabar ya? Itu kata orang-orang sih. Bukan kataku hihi. Tapi memang ada pilihan lain selain bersabar dan “menikmatinya”? Entahlah. Coba tanya saja pada orang yang tiap hari merasakannya. Aku sih kebanyakan di rumah, jadi jarang kena macet. :p

Awalnya di tengah kemacetan itu aku tanya ke suamiku soal tawaran menulis buku anak-anak tentang multikultur. Tapi akhirnya nyambung ke pendidikan karakter. Dia bilang, pendidikan karakter sih kayaknya cuma banyak gembar-gembornya saja. Hasilnya belum tentu. Tak usah jauh-jauh, kalau sekolahnya benar, tidak akan ada parkir berderet-deret dan memakan ruas jalan di depan sekolah kan? Idealnya, sekolah yang katanya mencetak manusia jadi lebih beradab, tidak menyulitkan dan merepotkan masyarakat di sekitarnya. Tapi kenyataannya? Mana mungkin? Memang susah sih ya kalau anak sekolah kebanyakan tidak naik kendaraan umum atau yaaa … kalau mau sih jalan kaki atau naik sepeda. Kendaraan umumnya juga nggak jelas. Memang sih, kulihat ada kok anak sekolah yang mau naik kendaraan umum, bahkan yang masih TK. Tapi jumlahnya sedikit dan itu juga mungkin jaraknya dekat. Kebanyakan masih diantar orang tuanya, dan mobil-mobil orang tua itulah yang sepertinya banyak parkir di jalanan depan sekolah. Biarpun di pagar sekolah sudah ditulisi “dilarang parkir”, tetap saja mereka parkir di situ. (Aku sempat bertanya-tanya, apakah mereka menunggui anaknya sekolah ya? Soalnya parkirnya itu bisa sepanjang hari loh.) Kalau seperti ini, apa yang terlebih dahulu harus dibereskan? Semua saling terkait. Untuk urusan parkir dan kemacetan di depan sekolah saja, rantai yang terkait sepertinya panjang betul.

Oke deh … selesai obrolannya.

Ketika sampai di jalan Pramuka, di sekitar Kayu Manis, kulihat ada banyak anak sekolah. Dari seragamnya sih kayaknya anak SMP. Mereka ramai-ramai naik. Mulai rusuh deh. Aku agak khawatir kalau mereka tawuran. Sudah beberapa kali melihat langsung tawuran di jalan, dan awalnya ya sepertinya gerombolan anak sekolah seperti itu. Sebenarnya metromini yang kutumpangi sedikit penumpangnya dan kalau anak-anak itu mau duduk, masih ada tempat. Tapi kebanyakan dari mereka berdiri bergelantungan di depan pintu. Jadi, susah kalau ada orang yang mau naik. Pak sopir sudah menyuruh mereka masuk saja, atau kalau nggak mau mereka sebaiknya turun. Tapi omongan pak sopir tidak didengarkan, bahkan mereka bilang, “Nanti dibayar kok.” Rupanya omongan mereka cuma sesumbar. Tak jauh dari Pasar Pramuka, mereka turun semua dan … tidak ada satu pun yang membayar! Padahal tadi kira-kira yang naik ada deh kalau 10 orang. Kata pak sopir, itu sudah biasa. Kasihan …. Rasanya kalau orang sudah bergerombol dan ramai-ramai begitu, mereka tampaknya sah-sah saja mau berbuat apa saja–termasuk jika perbuatan itu merugikan orang lain.

Aku jadi berpikir, jadi memang sepertinya betul ya, pendidikan karakter di sekolah itu tak ada gunanya. Buktinya sudah kulihat di depan mataku. Kata suamiku, hal seperti itu adalah peristiwa lazim di sini. Kalau hal yang seharusnya tidak patut, tetapi oleh semua orang dianggap wajar, apa yang mau kamu harapkan?

Aku jadi bertanya-tanya, apa iya masyarakat kita sudah “sakit parah”? Dulu rasanya tidak separah ini deh. Kalau di sekolah ada yang mencontek, guru akan menegur dengan keras, memberi hukuman, dan bisa mempermalukan si pencontek di depan kelas. Tapi sekarang, mencontek massal agar dapat nilai bagus, sudah dianggap wajar. Di sekolah dulu selalu diajarkan untuk mematuhi rambu-rambu lalu lintas, tapi di sini sering sekali aku lihat orang menerobos lampu merah sambil memboncengkan anak-anak. Kadang kupikir, orang itu gila apa ya? Itu kan membahayakan nyawanya sendiri? Dan lagi ini jelas bukan teladan yang baik untuk anak-anak yang dibonceng, kan? Jadi rasa-rasanya kok sekarang pelajaran tentang budi pekerti dan pendidikan karakter di sekolah cuma jadi teori saja, ya? Praktik di masyarakat? Entahlah.

Bisa kebayang nggak Indonesia ke depan mau jadi seperti apa? Semoga masih banyak orang yang mau menjadikan Indonesia menjadi lebih baik. Semoga anak-anak sekolah seperti yang kuceritakan tadi hanya sebagian kecil saja jumlahnya. Semoga …

Hari Nano-nano

Kemarin itu hari gado-gado bin nano-nano buatku. Ceritanya kemarin ada teman dari Bandung, Pak James, datang ke Jakarta untuk hadir di Christian bookfair (pameran buku Kristen) di Citraland. Aku mangu-mangu mau datang ke sana. Utamanya sih karena jauhnya dan memakan waktu. Mesti menghitung waktu dan tenaga. Buatku, bepergian di Jakarta itu butuh tenaga ekstra dan mesti diniati. Kalau tidak, ujung-ujungnya aku pasti tidak berangkat. Sebenarnya tidak hanya ketemu teman dari Bandung itu saja, tetapi juga sekalian ketemu teman lain, Thomdean, si tukang gambar. Sudah lama tidak mengobrol dengannya. Dan kurasa kalau ketemu dengan Pak James dari Bandung dan Thomdean, pasti akan muncul ide-ide untuk berkarya. Oke deh, aku berangkat.

Tapi jujur saja, aku ragu-ragu waktu mau berangkat. Mendung dan angin yang berembus terasa dingin. Pasti akan hujan. Dan kehujanan di jalan itu biasanya sebisa mungkin aku hindari. Tapi kapan lagi bisa bertemu dengan sekaligus beberapa teman? Setelah tanya sana-sini kalau ke Citraland naik kendaraan apa, aku pun berangkat. Aku ke Kampung Melayu dulu untuk naik bus 213. Bus besar ini selalu penuh, jadi mesti berangkat dari Kampung Melayu supaya dapat tempat duduk. Sesampainya di Kampung Melayu, hujan langsung turun. Bres! Aku buru-buru membuka payung dan berlari-lari supaya bisa dapat 213 yang sudah akan berangkat. Dan untung aku dapat duduk yang cukup aman dari terpaan hujan. Maklum, kalau naik bus umum, hujan tetap bisa masuk dari sela-sela jendela dan pintu bus kan tidak pernah ditutup (kecuali bus patas, ya).

Selama ini aku kalau naik bus 213 seringnya cuma sampai jalan Sudirman saja atau pol sampai Slipi. Citraland adalah daerah yang hampir tak pernah aku sentuh sendirian. Aduh, kenapa ya aku ini masih suka deg-degan pergi sendiri di daerah yang jarang sekali aku kunjungi di Jakarta ini. Aku pernah ke Citraland, tapi rasanya cuma sekali. Itu pun sama suamiku. Ndeso sangat ya? Hehe. Aku memang kuper di Jakarta karena jarang keluar rumah (sendiri). Tahunya cuma daerah seputar tempat tinggalku. Kalau dilepas sendirian di Jakarta sepertinya bisa nyasar deh 🙂

Nah, akhirnya aku sampai Citraland dengan selamat. Ternyata bus 213 itu berhenti di samping mal tersebut. Sampai sana tidak hujan, hanya mendung, padahal tadi waktu lewat Sudirman hujan deras banget. Sesampainya di sana, aku ketemu teman-teman bekas kantorku dulu. Tapi aku segera bergabung dengan Thomdean dan Pak James untuk mengobrol soal buku. Memang kalau jadi pekerja lepas begini, mesti mencari teman sendiri, soalnya sehari-hari kan kerja sendirian. Kalau ada event dan bisa bertemu teman, kadang aku datang. Dengan bertemu teman-teman seperti itu, biasanya bisa memacu diri untuk berkarya.

Setelah mengobrol dengan mereka di foodcourt, aku lalu mampir ke stand penerbitan kantorku dulu. Aku cari-cari buku yang pernah kugarap. Banyak buku baru, dan hanya beberapa saja yang ikut kugarap. Buku-buku lama yang pernah kugarap itu ingin kujadikan kenang-kenangan, karena aku lupa, apakah masih menyimpan nomor buktinya. (Nomor bukti = setiap penerjemah atau penyunting akan mendapat buku yang dikerjakannya, buku itu disebut nomor bukti. Aku tidak tahu kalau di penerbit lain, hal itu disebutnya nomor bukti atau tidak.)

Nah, ini buku yang aku beli kemarin:


Buku ini berisi kumpulan kisah pergumulan orang-orang saat berdoa. Menarik sih menurutku. Jadi dikuatkan saat aku menerjemahkannya. Buku ini diterbitkan oleh Gloria Graffa, Oktober 2007 (224 halaman). Kemarin dapat diskon 40%, jadi harganya Rp 22.200.

Kalau yang ini berisi kumpulan kisah seputar Natal. Diterbitkan oleh Gloria Graffa, Oktober 2005 (112 halaman). Karena sudah lama banget, buku ini didiskon heboh, harganya Rp 6.000.

Pulangnya, aku bareng Thomdean. Agak lama juga menunggu 213. Ditambah lagi, aku pulangnya jam 4-an, jam pulang kantor. “Semestinya kita menghindari jam-jam seperti ini,” kata Thom. Ya, aku tahu sih. Begini deh, kalau lupa pakai jam tangan. Jadi nggak perhatian dengan waktu. Dan kami sukses naik bus 213. Bus sudah penuh, tidak dapat kursi. Tapi tempat untuk berdiri masih longgar banget. Sembari di jalan dilanjutkan lagi berbincang dengan Thom sebelum dia turun di Slipi. Ternyata dia suka main board game, sama seperti suamiku yang koleksi beberapa board game. Kayaknya mereka berdua harus bertemu dan main board game bareng deh. Soal board game rasanya perlu aku tulis kapan-kapan. 🙂

Bus 213 yang kutumpangi makin penuh. Rasanya berdiri masih cukup manusiawi dibandingkan naik kereta yang penuh saat jam orang berangkat dan pulang kantor, asal berdirinya jangan di depan pintu ya. Yang harus diwaspadai adalah jangan sampai kecopetan. Selepas dari Slipi bus seperti hampir tidak bergerak. Itu kira-kira sampai 30 menit deh. Atau lebih ya? It seemed forever. Capek berdiri, dan aku takjub dengan orang-orang yang harus berdesak-desakan di dalam bus setiap hari! Oh, no! Kalau penuh tapi jalanan lancar, rasanya masih mendingan deh. Tapi kalau tidak dapat tempat dalam kendaraan umum dan mesti terjebak dalam kemacetan, rasanya itu adalah latihan kesabaran yang baik hihi. Aku jadi bersyukur tidak harus mengalami hal seperti itu setiap hari. Bisa cepet kurus kayaknya ya? :p

Aku sudah putus asa; pasti tidak akan dapat tempat nih sampai Salemba. Aku cuma berkata dalam hati, “Tuhan, aku capek sekali. Aku pengin dapat tempat duduk.” Sebenarnya ada satu-dua penumpang yang turun, tetapi tempat duduknya sudah keburu dipakai orang karena tempatku berdiri agak jauh dari penumpang yang turun itu. Tapi waktu sampai Sudirman, mendadak bapak-bapak yang duduk di dekatku turun, dan aku dapat menggantikan tempat duduknya. Leganyaaaa … Sampai aku menulis ini, aku masih takjub kok bisa ya doaku terkabul? Memang doa itu sederhana sekali, cuma minta tempat duduk di dalam bus yang penuh. Tapi aku senang waktu dikabulkan. 🙂

Aku sampai rumah jam 19.30 malam. Wew! Perjalanan yang panjang dan melelahkan. Aku keluar rumah pukul 11.30 siang, dan sampai rumah lagi 19.30. Delapan jam (!) dan rasanya setengahnya aku habiskan di jalan. 😀 Kalau tiap hari seperti ini, memang bisa tua di jalan ya. Tapi aku senang bertemu teman-teman dan dapat buku-buku.

Siapa yang Naik Angkot di Jakarta?

Ini cerita hari Minggu yang lalu. Agak terlambat aku menuliskannya. Jadi begini, suamiku selama dua minggu ke depan dapat tugas dari kantornya untuk mengajar di sebuah sekolah tinggi di daerah Bintaro. Tidak setiap hari, hanya Senin, Rabu, dan Jumat. Ini baru pertama kali dia diminta mengajar di sana. Dia hanya diminta mengajar materi persiapan tes GMAT untuk mendapatkan beasiswa.

Aku selama ini jarang sekali ke Bintaro. Pernah sih ke sana, tetapi selama ini kalau ke sana selalu nebeng saudara yang rumahnya tak jauh dari daerah tersebut. Karena ini terbilang “daerah baru” bagi kami, kami mencari-cari rute yang paling mudah untuk ke sana. Sebenarnya cukup banyak kendaraan ke sana. Bisa naik feeder busway dari depan Ratu Plasa, bisa pula naik kereta komuter. Tapi karena Senin pagi sebelum pukul 8 suamiku harus sudah sampai sana, ini jadi masalah. Kereta yang bisa membawanya ke sana tanpa terlambat adalah kereta pukul 06.25 dari stasiun Tanah Abang. Padahal, jarak dari rumah ke stasiun Tanah Abang cukup lumayan. Jika berangkat pagi-pagi, rasanya agak sulit mengandalkan metromini atau kopaja. Kalau kopajanya ngetem lama, bisa tak dapat kereta kan? Dan siapa yang bisa menjamin kopaja tak akan ngetem?

Oya, untuk mendapatkan informasi tentang jadwal kereta itu pun butuh cara berliku. Awalnya aku tanya ke teman-teman yang rumahnya di Bintaro, tanya juga ke teman yang biasa naik kereta dari dan ke arah sana. Sebagian besar temanku memang menjawab, tetapi ada pula yang tidak. Sebagian besar, hanya mengatakan naik kereta saja dari Tanah Abang lalu turun stasiun Pondok Ranji. Tapi jam berapa saja keretanya? Tak ada yang bisa menjawab. Ya, memang bukan pegawai PT KAI sih, ya… tentu tak hapal jadwal kereta. Hehe. Kebanyakan tahunya adalah jadwal kereta sore ke arah Bintaro/Serpong. Lah, kami kan butuhnya kereta yang pagi. Memang melawan arus sih. Kebanyakan orang pada pagi hari naik kereta dari Serpong ke Jakarta, bukan sebaliknya. Memang melawan arus itu agak repot ya. Hehe. Susah dapat informasinya.

Akhirnya kami coba browsing internet, mencari jadwal kereta. Sampai di situs PT KAI, kami kesulitan membaca jadwal yang tertulis di sana. Kalau ada yang bisa membaca jadwal kereta di sana dengan mudah, tolong kasih tahu aku ya. Mungkin aku yang terlalu bodoh hanya untuk membaca jadwal. Akhirnya dapat juga infonya, tapi itu pun dari sebuah situs lain.

Untuk memastikan, kami ke stasiun terdekat, yaitu ke Manggarai. Ternyata, di sana justru tidak banyak membantu. Kereta paling pagi ke arah Serpong pukul 7.30-an. Suamiku bisa terlambat dong mengajarnya. Jadi, memang mau tak mau harus ke Tanah Abang pagi-pagi.

Karena Senin kemarin adalah hari pertamanya, maka dia tak ambil risiko. Untung aku punya saudara yang rumahnya tak jauh dari sekolah tinggi tersebut. Akhirnya, aku minta izin untuk menginap supaya Senin pagi suamiku tak kerepotan. Jadi, Minggu sore aku dan suamiku menginap di rumah saudaraku. Karena tak pernah ke sana naik kendaraan umum, aku hanya tanya setelah turun di stasiun Pondok Ranji, nanti naik angkot apa? Saudaraku hanya bilang, nanti banyak angkot warna putih di sana. Naik itu saja, katanya. Kami dikasih pula ancer-ancernya, nanti kira-kira turun mana. Tapi aku tak mendapat informasi, mesti naik angkot nomor berapa, jurusan apa. Maklum, saudaraku ini tak pernah naik kendaraan umum. Selama ini kalau bepergian naik kendaraan pribadi atau taksi, dan baru dua bulan terakhir ini saja naik kereta komuter. Tapi kalau ke stasiun, ya naik kendaraan pribadi.

Aku dan suamiku akhirnya bermodal semangat, “Let’s get lost!” Toh kami bawa peta. Dan kami memang angkoter sejati. Ke mana-mana naik angkot. Lagi pula, ini kan masih Indonesia, kalau tanya masih bisa pakai bahasa Indonesia dan senyasar-nyasarnya paling ke mana sih? Nggak sampai ke daerah antah berantah kan? Hehe. Dan kami tak nyasar. Supir angkot yang kami tanyai tak memberi info keliru.

Namun, dari pengalaman itu, aku jadi bertanya-tanya, sebenarnya siapa sih yang mau naik angkot di Jakarta? Semua orang pasti sudah tahu betapa buruknya layanan kendaraan umum di Jakarta. Sopir metromini yang terkenal suka ngebut, angkot yang penuh dan panas, adanya penodongan dan bahkan belakangan ini pemerkosaan di kendaraan umum, dan kadang kalau belum sampai tujuan kita bisa dioper, dialihkan ke kendaraan lain yang lebih penuh. Sama sekali tidak nyaman. Aku kadang berpikir, kalau orang tua naik kendaraan umum, bagaimana ya? Ibu temanku pernah cerita bahwa ia sampai nangis waktu harus naik turun metromini. Uangnya tak cukup untuk naik taksi atau bajaj. Ia diturunkan dengan buru-buru dan langsung terpapar polusi. Yah, bagi orang yang sudah berumur, pengalaman seperti itu tidaklah mengenakkan. Aku tak sepenuhnya menyalahkan orang yang akhirnya memilih naik kendaraan pribadi. Aku yakin, orang yang mampu pasti memilih naik mobil pribadi daripada harus mengalami kekonyolan-kekonyolan yang tidak penting saat naik kendaraan umum. Tapi sampai kapan akan seperti ini?

Buatku, transportasi umum yang bisa diandalkan itu penting. Kalau tidak, semua orang pasti akan beralih ke kendaraan pribadi. Dan kalau kebanyakan orang naik kendaraan pribadi, jalanan akan makin penuh, kemacetan di mana-mana. Aku merasa, pemerintah tak punya niat baik untuk memperbaiki kendaraan umum. Aku baru tiga tahun di Jakarta, tetapi sama sekali tidak melihat adanya perbaikan yang signifikan dalam hal ini. Bahkan TransJakarta pun kubilang tak bisa diandalkan. Kalau jam sibuk, antrinya bisa setengah jam lebih. Dan lihat saja betapa panjangnya antrian di halte bus TransJakarta. Belum lagi kita akan didorong-dorong saat mengantri. Kadang bus yang ditunggu tak datang-datang. Kadang ada yang lewat, tetapi tidak mengangkut penumpang.

Jadi, sebenarnya siapa sih yang naik kendaraan umum di Jakarta ini? Mestinya kalau kendaraan umum di Jakarta ini bisa diandalkan, para walikota, pak gubernur, dan para pejabat lain kalau ke kantor selalu naik angkot tanpa pengawalan khusus ya? Buktinya, tidak kan?