Agama yang Membosankan

Di sebuah arisan yang kuikuti, ada seorang ibu yang tampaknya selalu berusaha menjadi bintang tamu. Sebut saja namanya Bu Alamakjan. Bu Alamakjan ini terkesan ramah di awal. Dia suka menyapa, tanya kabar. Ng… basa-basi sih. Tapi kesan ramah itu segera berubah. Di balik keramahannya itu dia sering curhat lebay. Dia sering merasa menjadi korban menurutku.

Suatu kali, tak lama setelah dia datang arisan, dia menggelar drama. Dia cerita bahwa di lingkungan tempat tinggalnya ada yang memelihara tuyul. Dan dia cerita heboh banget. Sampai mau nangis. Lalu dia bilang bahwa memelihara tuyul itu terlarang bagi agama, bahwa hanya Tuhan yang patut disembah, bahwa hidup di dunia ini hanya sebentar, jadi apalah gunanya menuhankan harta? Tak lupa dia mengutip ayat kitab sucinya bla… bla… bla. Di akhir cerita dia bilang semoga pemelihara tuyul itu segera bertobat. Ya, ya … Bu Alamakjan ini paling sering membahas agama. Hampir semua bidang kehidupan dia pandang dari sudut pandang agama. Semua dia kaitkan dengan ayat-ayat.

Biasanya kalau dia sudah mulai berceramah soal agama, aku tak ambil pusing. Dia mau bilang bahwa agamanya yang terbaik pun, aku iyain saja. Maksudku biar dia segera ganti topik sih. Kupingku sudah cukup tebal mendengar pembicaraan soal agama. Tapi tidak soal petasan. Petasan? Ceritanya, pada bulan puasa lalu, anak lelaki yang selalu dia banggakan itu menyalakan petasan di dekat rumahku. BOOOM! BOOOM! BOOOM! Suaranya menggelegar. Biyuuuh! Aku kaget pol. Aku sudah bisa menebak, tak akan ada orang di sekitar rumah kami yang protes dengan suara petasan itu. Apalagi kalau yang menyalakan petasan adalah anak Bu Alamakjan. Sudah jadi pengertian tidak tertulis bahwa jangan sampai membuat perkara dengan Bu Alamakjan sekeluarga. Salah-salah bakalan dimusuhi seumur hidup. Tapi entah apa yang merasukiku saat itu, aku langsung menyampaikan keberatanku padanya. Kubilang aku terganggu dengan suara petasan yang sangat keras itu. Apa coba jawabannya? “Tolong dimaklumi ya. (Membunyikan petasan) Itu termasuk dalam kebiasaan kami menjalankan agama.” Aku lupa bagaimana persisnya ucapan dia. Tapi pada intinya, membunyikan petasan itu tidak bertentangan dengan ajaran agamanya. Kira-kira begitu ucapan dia. Sumpah aku mau ngakak. Heloo… petasan disebut di ayat mana sih? Jadi menimbulkan polusi suara itu boleh ya?

Sungguh, aku semakin tak tertarik dengan orang yang sering sekali membahas agama. Kendati dia hapal ribuan ayat dan bisa mencocokkan setiap aspek kehidupan dengan ayat-ayat yang dia baca, aku tak tertarik.

Kurasa orang seperti Bu Alamakjan itu selalu ada di sekitarku. Barusan di perkumpulan bapak-bapak, ada seorang bapak yang begitu datang langsung menyampaikan khotbah. Melakukan ini dosa, melakukan itu larangan bagi agama, bla… bla. Padahal sebelum bapak itu datang, para tamu membahas cara menanam pisang yang baik, pengaruh hujan untuk penanaman padi, dan hal-hal praktis di sekitar tempat tinggalku.

Agama buatku lebih pas kalau langsung dipraktikkan. Buat apa membaca kitab suci berkali-kali, tapi perilakunya menjadi batu sandungan bagi orang lain? Khotbah, dakwah, atau apa pun namanya hanya akan tampak menggelikan jika tak dibarengi perilaku yang dilandasi akal sehat. Kurasa tak perlu terlalu sering mengutip ayat. Cobalah persering memakai akal sehat. Atau barangkali memakai akal sehat lebih sulit? Entahlah.

Advertisements

Ketika Kembali ke Kampus Lagi…

Hari ini akan kucatat sebagai hari yang penting dalam hidupku. Hari ini pertama kalinya aku diundang untuk berbagi pengalaman sebagai penerjemah dan penulis di kelas mahasiswa S2 Kajian Bahasa Inggris Sanata Dharma.

Aku sebenarnya tidak jago-jago amat dalam menerjemah. Pengalamanku sedikit sekali dibandingkan para begawan penerjemah di luar sana yang telah menghasilkan segepok dolar. Aku sempat bertanya-tanya, bakalan grogi tidak ya berhadapan dengan teman-teman mahasiswa? Aku hampir tidak pernah mengajar. Pengalamanku sebagai guru les hanya satu kali dan aku merasa tidak cocok sebagai guru. Aku merasa tidak bisa mengajar dan kurang cerdas menghadapi pertanyaan yang tidak terduga.

Beberapa hari sebelumnya aku sudah diberi kisi-kisi apa saja yang perlu kubahas di kelas tersebut. Aku sempat browsing dan mencatat sedikit poin-poin yang perlu kusampaikan tadi pagi sebelum berangkat. Kelas dimulai pukul 11 dan aku mesti menemui bapak dosen. Jadi, aku mesti berangkat lebih awal. Sempat terbayang, bagaimana kalau tengah-tengah kelas aku lapar? Ooow… tak kubayangkan jauh dari kulkas dan dapur. >,<

Sebelum ke Sanata Dharma aku mampir ke Kanisius menemui editor untuk membahas nasib naskahku. Beberapa komentar yang kuterima tentang naskahku yang semata wayang itu memang sempat membuatku baper dengan suksesnya. Namun, pertemuan dengan editor hari ini membuatku sedikit lega.

Oke, balik ke urusan kampus. Aku pun menuju kampus. Saat mendekati kampus, aku merasa semacam “pulang” ketika menghirup aroma khas bunga mahoni (?). Ya, semacam itulah. Bagi yang pernah kuliah di Sadhar kurasa bisa paham aroma khas itu. Wangi lembut dan segar. Selain itu untuk mengantisipasi kelaparan, aku mampir beli bakso Dab Supri di kantin. Suasana kampus Realino yang sudah cukup kukenal mengurangi sedikit rasa grogiku.

Pada awal sesi berbagi pengalaman itu, aku menceritakan bagaimana aku bisa kesasar menjadi penerjemah. Ya, aku menjadi penerjemah karena aku menghindar menjadi guru. Begitu lulus kuliah, lowongan yang banyak muncul adalah lowongan untuk menjadi guru, lowongan kerja di Jakarta, dan lowongan di luar Jawa. Ketiganya adalah hal yang kurang menarik buatku. Aku tidak suka menjadi guru, aku malas pergi ke Jakarta, dan aku tidak membayangkan jika terdampar di luar Jawa. Cemen? Iya. Haha.

Karierku sebagai penerjemah dimulai ketika aku menjadi penerjemah inhouse di Gloria (Renungan Harian). Adapun aku mulai menikmati uang dari menulis adalah ketika aku sempat menulis di majalah keluarga Familia (Kanisius) dan ketika tulisanku di web Glorianet dibukukan.

Pertanyaan yang kuterima setelah berbagi pengalaman itu adalah: Bagaimana jika kita yang bukan “siapa-siapa” ini bisa mendapat orderan yang lancar?

Begini, penerjemah itu macam-macam bidang keahliannya. Mau jadi penerjemah di bidang apa? Mau ahli mengalihbahasakan teks bidang hukum, medis, teknik? Macam-macam. Aku pada awalnya banyak bergelut dengan teks rohani, lalu ke fiksi, lalu materi yang umum-umum saja. Pengalamanku sebagai editor inhouse di Gloria sangat membantuku mempertajam keterampilan alih bahasa plus menambah jejaring tentunya. Maka untuk menjawab pertanyaan di atas, aku menyarankan pada mereka yang tertarik sebagai penerjemah untuk pertama-tama melamar sebagai penerjemah di suatu instansi. Ini adalah cara cepat untuk mendapatkan pengalaman. Kurasa ada saja instansi yang membutuhkan orang-orang baru dan masih ingin belajar. Kedua, menjadi anggota di ProZ.com atau Translatorcafe.com. Selain itu, sekarang banyak website yang menjadi perantara freelancer dan end client atau agensi. Ketiga, jadikan akun media sosial kita sebagai etalase yang baik sehingga orang lain mengetahui keterampilan yang kita miliki. Keempat–sayangnya ini lupa kusebutkan–menjadi penerjemah volunter.

Pertanyaan lain yang juga kuingat betul adalah: Apa tips untuk menulis dan membuat buku sampai bisa terbit? Ini pertanyaan klise, tapi menarik. Untuk menjadi penulis yang baik, pertama-tama perbanyak bacaan. Bacaan itu ibarat makanan bagi otak. Soal teknik menulis itu bisa dipelajari dengan cepat jika kita memperbanyak bacaan. Kedua, miliki pembaca pertama (first reader) yang bisa diandalkan. Mereka sangat membantu dalam memberi masukan soal tulisan kita. Mana yang perlu dipangkas, mana yang perlu dieksplorasi lebih dalam, dll. Ketiga, kenal dengan editor secara langsung. Ini agak sulit. Tetapi bukan tidak mungkin. Sekarang zamannya medsos. Untuk kenal dengan editor bisa dengan aktif di grup-grup penulisan yang banyak bertebaran di medsos. Ada saja kok editor yang mencari penulis lewat grup di medsos. Jika kita kenal dengan editor, kita bisa berdiskusi tentang naskah kita langsung dan memolesnya sedemikian rupa sehingga kemungkinan naskah kita dilirik lebih besar.

Setelah sesi sharing pengalaman ini, aku sempat berbincang dengan bapak dosen. Pada kesempatan inilah aku menyampaikan beberapa hal yang berkaitan dengan dunia penerjemahan. Misalnya tentang pentingnya ada kursus penerjemahan di kampus. Ini adalah salah satu cara strategis untuk memperbaiki kualitas penerjemah dan nantinya akan meningkatkan kualitas hasil terjemahan secara menyeluruh (termasuk soal tarif dan kebijakan pemerintah–menurutku).

Ya, bagiku hari ini adalah hari yang penting. Hari ketika aku kembali ke kampus lagi. Yang kubagikan hari ini tidak banyak, tetapi kuharap bisa berguna bagi teman-teman yang mendengarkan pengalamanku tadi.

Pekerjaan

Apa yang kamu bayangkan ketika membaca kata “pekerjaan”? Bagiku, pekerjaan adalah tumpukan file di folder PC. Kadang entah kenapa ketika aku melihat file-file itu saja rasanya sudah capek. Seperti tumpukan baju kotor yang mau tak mau harus kubawa ke ember, kurendam, lalu kucuci. Kalau baju kotor aku bisa mengalihkan pekerjaanku pada mesin cuci. Tapi pekerjaan? Cuma aku dan harus aku. File-file itu bisa berubah menjadi angka-angka di rekeningku dan aku tersenyum. Kebanyakan pekerjaan itu bentuknya file naskah yang harus dialihbahasakan.

Eiy… tapi ada juga terselip satu dua naskah yang belum selesai-selesai. Sebetulnya di antara file-file itu, file cerita itu membuatku bergairah. Membuatku ingin melamun, googling mencari bahan, lalu membubuhkan satu-dua kalimat lagi atau menghapus bagian-bagian yang tidak perlu agar lebih padat. Tapi… tapi… kenapa ya, rasanya kok aku seperti merasa bersalah kalau kebanyakan melamun dan mencari ide?

Konon katanya pekerjaan mestinya aktivitas yang membahagiakan. Pekerjaan kita sehari-hari semestinya membuat kita menjadi manusia yang utuh. Tapi kenyataannya tidak selalu begitu kan? Ada yang malah merasa capek setengah mati. Ada yang gara-gara pekerjaan menjadi stres, kehilangan waktu untuk melakukan hal-hal yang diinginkan. Ada yang ketika melihat pekerjaan orang lain, timbul rasa iri. Aku sebenarnya percaya bahwa kita masing-masing punya pekerjaan yang cocok, yang membuat kita bisa merasa menjadi manusia yang utuh, merasa berprestasi, berguna, dan akhirnya bahagia.

Aku sendiri bagaimana dong? Aku hanya ingin mencoba mencatat aktivitasku belakangan ini yang membuatku merasa senang, bersemangat, dan merasa penuh. Pagi ini aku bangun dan menilik sabun-sabun hasil eksperimen yang ada di dalam cetakan. Eh, aku belum bilang ya? Aku belakangan sedang hobi coba-coba membuat sabun. Kali ini aku mencoba memakai cetakan baru. Bentuknya mawar dan hati. Sudah dua hari sabun itu dalam cetakan. Kemarin aku mencoba membukanya, tapi ternyata belum padat benar. Hari ini sudah lebih padat. Yay! Lumayan berhasil. Dan aku suka baunya: pandan bercampur mawar. Masih perlu waktu sebulan lagi agar sabun itu bisa dipakai.

sabun buatan sendiri. aroma pandan dan mawar.
sabun buatan sendiri. aroma pandan dan mawar.

Satu lagi yang membuatku senang adalah ketika aku mendapat kiriman foto dari teman-temanku yang sudah menerima bukuku. Mereka membeli bukuku untuk anak-anaknya. Aku senang ketika mereka mengatakan bahwa anak-anak mereka menikmati bukuku. Yay! Aku sadar, aku masih perlu belajar banyak untuk bisa membuat cerita anak yang menarik. Tapi menerima foto dan kabar bahwa anak-anak mereka menyukai ceritaku, membuatku jadi berbesar hati. Mongkok, Saudara-saudara! Hehe.

Yeay! Akhirnya punya buku baru yang bisa dijual. Hehehe.
Yeay! Akhirnya punya buku baru yang bisa dijual. Hehehe.

Ada hal yang membuatku senang, yaitu eksperimen di memasak. Rasanya deg-degan gimanaaa gitu. Seperti apa nanti hasil masakanku? Enak nggak? Apakah disukai? Aku tidak sering-sering amat melakukan eksperimen di dapur karena memasak perlu waktu lumayan bagiku. Mulai dari persiapan sampai beres-beres. Terakhir aku eksperimen membuat brownies pisang. Bagiku yang jarang bikin kue, mendapat pujian atas brownies yang kubuat itu rasanya sueneeeng.

Dalam rangka menyelamatkan pisang yang sudah terlalu matang, jadilah brownies ini.
Dalam rangka menyelamatkan pisang yang sudah terlalu matang, jadilah brownies ini.

Ah, ya… kadang (atau sering?), kita perlu undur diri sejenak dari pekerjaan yang rasanya bikin gimanaaa gitu. Ya, ya… mestinya sih pekerjaan itu arena untuk bermain-main. Tapi yah… mungkin aku aja yang lagi geje. Jadi, sudahlah, postingan seperti ini untuk mengingatkanku bahwa aku melakukan beberapa hal yang membuatku cukup berprestasi. Merasa berprestasi itu penting lo, supaya kita nggak gampang depresi.