Bahagia?

Aku kadang memperhatikan iklan beberapa produk. Salah satunya adalah iklan produk makanan. Biasanya iklan yang ditayangkan menggambarkan suasana kekeluargaan–saat keluarga duduk santai bersama. Lalu, untuk menyemarakkan suasana, dimunculkan produk tersebut. Jadi, produk itu identik dengan kegembiraan, kebahagiaan, atau sukacita kebersamaan.

Melihat iklan itu, kadang aku berpikir bahwa para produsen suatu produk itu mencoba mendefinisikan kebahagiaan kita. Kebahagiaan itu bisa berarti kebersamaan bersama keluarga, atau saat berdua dengan kekasih, atau saat berkumpul bersama teman-teman.

Nah, saat akhir minggu kemarin, aku dan suamiku memutuskan untuk menginap ke rumah salah satu omku yang di Bekasi. Acara kumpul-kumpul ini semakin meriah setelah satu per satu keluarga tanteku datang, lalu disusul keluarga omku yang lain. Tempat untuk kumpul-kumpul itu tak jauh-jauh dari depan TV dan meja snack. Tanteku memang top deh kalau urusan makanan. Meja pendek di depan TV itu penuh dengan berbagai kue, kacang-kacangan, dan buah. Gimana aku nggak tambah gendut kalau di sana? :p

Seketika ingatanku melayang pada iklan-iklan yang ada di televisi itu. Aku berpikir, apakah ini yang namanya kebahagiaan? Sebenarnya apa yang aku rasakan?

Diam-diam aku mencoba meraba hatiku. (Yaelah! Bahasaku ini lo!) Apakah aku senang? Apakah ada semacam getar-getar gimanaaaa gitu?

Sebenarnya … kok aku tidak merasakan apa-apa ya? (Duh, jangan-jangan bisa dipentungin om-om dan tante-tanteku ya kalau jawabanku seperti itu?) Maksudku, perasaanku datar-datar saja. Tidak seneng buanget, tetapi juga tidak sedih.  Ya kadang kalau ada yang melucu, aku ikut tertawa.  Tapi, lalu aku berpikir apakah ini ya yang namanya bahagia? Atau parameter perasaanku saja yang dodol? Entahlah.

Karena aku sendiri tidak puas dengan jawabanku itu, aku lalu berpikir ulang lagi. Jadi sebenarnya, bagaimana caranya supaya aku bisa merasakan kebahagiaan seperti yang ditayangkan oleh iklan-iklan itu?

Setelah mencoba merenung di sela-sela keriuhan obrolan keluarga itu, aku menemukan jawabannya. Aku tak tahu ini jawaban klise atau jawaban ala kadarnya. Tapi setidaknya aku cukup puas. Caranya adalah menikmati setiap detik yang berlangsung. Hmm … sesederhana itukah? Aku tidak tahu. Tapi mungkin saja begitu. Setidaknya dengan menikmati setiap detik yang berlangsung, aku jadi merasa semuanya tidak tergelincir begitu saja. Mungkin ini seperti kalau kita makan, kita tidak cuma mengunyah dan langsung menelan makanan. Tetapi benar-benar menyecap setiap rasa yang mampir di lidah.

Aku lalu teringat kata-kata temanku. Kata dia, satu detik memiliki kedalaman waktu yang sangat luas. Itu katanya lo. Tapi mungkin ada benarnya juga.

 

Advertisements

Akan Ada Paus dari Indonesia?

Hari Minggu kemarin (22 November 2009), aku dan temanku, Joanna sengaja ikut misa di Gereja St. Anna, Duren Sawit (Jakarta Timur). Biasanya kami misa di kapel dekat rumah yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Awalnya sih, dia cuma bilang kalau di St. Anna ada laki-laki ganteng bazar seusai misa. Baiklah, aku sih oke-oke saja mau misa di mana.

Setelah parkir motor, kami masuk pelataran gereja dan aku melihat Bapak Uskup Mgr Julius Darmaatmadja SJ sedang keluar dari mobil. Wah, misa yang cukup meriah sepertinya nih. Dasar aku nggak ngeh kalau misa kali ini adalah misa ulang tahun paroki St. Anna yang ke-25.

Sesampai di dalam gereja, Joanna bilang bahwa gereja ini dulu pernah dibom. Itu lo, waktu musim pengeboman pas misa Natal beberapa tahun lalu. Dan aku kembali terheran-heran, gereja seperti ini dibom? He? Nggak salah? Bayanganku, kalau orang mau ngebom, dia pilih gereja yang dekat dengan jalan raya dong. Kalau St. Anna ini, gerejanya agak masuk, agak jauh dari jalan raya, dan dekat sekali dengan kompleks perumahan. Berarti dulu si pengebom itu, memang niat banget ya. Sampai jalan masuk-masuk pun dijabani.

Nah, ketika doa Syukur Agung, telingaku mendengar nama Mgr Ign Suharyo Pr disebut-sebut. Mendadak aku jadi bertanya-tanya, “Aku sedang di Jogja atau di Jakarta sih ini?” Perlu diketahui, pada doa Syukur Agung, ada bagian yang menyebut nama uskup setempat dan Paus. Setahuku, Mgr Ign Suharyo Pr, kan uskup Keuskupan Agung Semarang (dan Jogja masuk keuskupan Semarang). Sedangkan aku ini kan sedang di Jakarta (Keuskupan Agung Jakarta–KAJ), mestinya yang disebut nama Mgr Julius Darmaatmadja SJ saja dong. Apakah aku mendadak berpindah ke Jogja? Halah, lebay deh!

Sepulang dari misa di St. Anna dan puas makan nasi tumpeng, aku pun browsing di Internet. Dan ternyata Mgr Ign. Suharyo Pr. sejak tanggal 25 Juli kemarin secara ditunjuk sebagai Uskup Koajutor atau uskup pembantu. Jabatan Uskup Koajutor bisa secara otomatis menjadi uskup bila uskup sebelumnya pensiun (emeritus) Jadi, beliau ini on the way menggantikan Mgr Julius Darmaatmadja SJ yang akan emeritus atau pensiun.

Mgr Ign Suharyo Pr ini dilahirkan di Sedayu, Yogyakarta, tanggal 9 Juli 1950. Beliau adalah putra dari Bapak Florentinus Amir Hardjodisastra (alm.) dan Ibu Theodora Murni Hardjodisastra. Beliau ini lahir sebagai dalam keluarga besar–10 bersaudara. Dari 10 bersaudara itu, seorang sudah meninggal. Jadi, tinggal 6 putra dan 3 putri. Sepertinya keluarga Bapak Florentinus Amir Hardjodisastra itu cukup religius, karena 2 putranya menjadi pastor, yaitu Pst. Suitbertus Sunardi, OCSO dan 2 putrinya menjadi suster/biarawati, yaitu Sr. Marganingsih dan Sr. Sri Murni. Aku cuma mikir, dua putranya itu kok bisa jadi pastor yang “tidak umum”, yang satu jadi uskup, dan yang satunya lagi menjadi pertapa. Itu kalau pertemuan keluarga, yang diobrolkan apa ya?

Aku tidak terlalu mengenal Mgr Ign. Suharyo Pr ini, tetapi aku ingat saat aku di Asrama Syantikara dulu setiap Rabu dan Jumat ada misa di kapel asrama. Kalau misa hari Rabu, pastor yang memimpin misa (zaman aku masih di sana lo), pastornya itu-itu saja–Romo Padmo. Tapi kalau hari Jumat, pastornya ganti-ganti. Nah, salah satunya dulu yang kadang memimpin misa di sana adalah Pastor Ign. Suharyo itu. Yang aku ingat dari beliau adalah, beliau kalau bicara itu tertata sekali. Nada bicaranya datar dan halus. Tipikal orang Jawa lah.

Nah, suatu kali dikabarkan bahwa Keuskupan Agung Semarang (KAS), uskupnya ganti. Aku cuma dengar suster asrama mengatakan bahwa yang menjadi uskup adalah Romo Haryo. “Jangan-jangan yang jadi uskup, romo yang kadang misa di asrama ya?” pikirku. Dan ternyata memang begitulah kenyataannya. Aku sama sekali tidak menduga kalau pastor yang berwajah baby-face dan yang bicaranya halus itu menjadi Uskup KAS.

Dan sekarang, ketika aku tahu bahwa Mgr Ign Suharyo Pr akan menggantikan Mgr Julius Darmaatmadja SJ, aku jadi berpikir, “Bisa-bisa besok beliau bisa menjadi Kardinal.” Dan jika menjadi Kardinal, maka beliau bisa terpilih menjadi Paus. Hmmm, besok jangan kaget ya kalau ada Paus dari Indonesia 😉

*Foto pinjam dari sini.

Kenangan di Hari Hujan

Hari hujan dan suasana yang dingin dengan sempurna melemparkanku untuk menyusuri lorong-lorong waktu di masa lalu. Dan kemarin sore, setelah berhujan-hujan sepulang dari rumah teman, aku mandi lalu duduk di depan komputer–seperti biasa. Hujan memang paling nyaman dinikmati di dalam rumah. (Asal rumahnya nggak bocor atau kebanjiran ya?)

Lalu, kenangan seperti apa yang muncul saat hari hujan?

Kenangan yang pertama kuingat adalah kenangan saat aku berada di Madiun. Aku ingat, saat hari hujan, aku lalu berdiri di ruang tamu. Lalu dari balik jendela kaca, aku menikmati curahan air hujan yang menitik deras di halaman. Konyolnya, aku menganggap titik-titik air hujan itu seperti kodok yang sedang berlompatan dengan riangnya. Bukan kodok yang jorok dan muram, tetapi kodok “kartun” yang sering kulihat di buku bergambar anak-anak. Kodok yang tersenyum lebar, dan melompat sambil bernyanyi. Seolah-olah ada yang memegang gitar dan memulai koor. Bener-bener kartun deh isi kepalaku ini. He he!

Meskipun di dalam rumah, toh aku masih merasakan kedinginan. Dan aku semakin menggigil meyaksikan anak-anak yang berlari-lari, sengaja berhujan-hujan. Sepertinya mereka senang sekali. Entah sudah sampai mana mereka. Biasanya mereka bergerombol, sekitar tiga atau empat orang. Kadang sambil berteriak-teriak kegirangan. Tapi aku hampir tak pernah melihat ada anak perempuan yang ikut berhujan-hujan. Hanya anak laki-laki. Mungkin anak-anak perempuan yang lain cukup senang melihat hujan dari balik kaca jendela rumah, atau justru dilarang berhujan-hujan karena dikhawatirkan akan masuk angin dan demam sepulang menikmati guyuran hujan.

Kenangan yang kedua adalah saat aku berada di asrama. Waktu di asrama, selama tiga tahun pertama, unitku berada di dekat Sungai Babilon. Keren ya namanya? Padahal cuma sungai keruh yang mengalir di tengah halaman asrama. Kalau tidak salah, sungai itu adalah terusan Kali Mambu yang mengalir di Jalan Batikan. Kebetulan, di tahun kedua dan ketiga, aku bisa memilih tempat tidur dan meja belajar yang dekat dengan jendela. Jadi, sepanjang hari aku bisa mendengar suara aliran sungai. Nah, di saat hari hujan … Sungai Babilon ini airnya semakin tinggi. Alirannya semakin deras saja. Dan aku ingat betul, di tahun pertamaku tinggal di asrama, Sungai Babilon itu meluap sampai airnya masuk ke ruang tidur kami! Tapi waktu itu aku hanya bisa melihat teman-teman dan mbak-mbak asrama hilir mudik mengepel. Aku cuma menonton dari atas tempat tidur karena aku sedang demam. Hi hi…

Sekeluarnya dari asrama, aku dan kakakku menempati rumah di Dusun Krapyak, Wedomartani. Rumah itu cukup dekat dari kampus tempat kerja kakakku yang berada di Paingan. (Hmmm, bagi orang Jogja mungkin bisa menebak, kampus apa yang berada di Paingan itu.) Tapi dari kantorku yang terletak di Kotabaru, rumah itu lumayan jauh. Eh, tak jauh-jauh amat ding. Hanya sekitar 10-11 kilometer saja. Awalnya memang jarak rumah-kantor itu seperti menyeberangi samudera, alias juauhhh. Tapi dibandingkan perjalanan Bu Tutinonka ke tempat kerjanya, tentu perjalananku dari rumah ke kantor tak ada apa-apanya.

Di awal-awal aku menempati rumah di Krapyak itu, aku sering awang-awangen untuk pulang. (Halah, pulang kok awang-awangen to?) Karena jauhnya itu lo! Apalagi membayangkan rumah kami di tempat yang masih sepi, yang (waktu itu) tetangganya baru dua rumah, rasanya kok nglangut ya? Akibatnya, aku jadi sering berlama-lama di kantor. Aku tidak termasuk rombongan teng-go, yang begitu jam kantor usai langsung nggeblas–menghilang. Jadi, aku tetap tinggal di kantor. Kadang cuma baca-baca buku, kadang browsing internet. Tetapi tentu aku tidak sendirian dong, ada seorang kawanku Lena, yang dulu juga sering berlama-lama di kantor. Selain itu, setiap sore kantorku sering dipakai anak-anak muda untuk berbagai kegiatan. Jadi, kantorku tidak sepi di kala sore.

Suatu sore, hujan turun dengan derasnya. Waktu itu aku pikir, ah … nanti juga akan reda dalam satu-dua jam. Perkiraanku, pukul 6 pasti hujan sudah reda. Tapi perkiraanku meleset. Sampai pukul 19.30 hujan masih menggempur Jogja. Weladalah … mau pulang jam berapa ini? pikirku. Sementara itu, perutku sudah melilit. Ya, kantorku memang sebelahan dengan Mirota Bakery, tetapi kalau cuma memenuhi perutku dengan roti, mana kenyang? Maklum perut Jawa, kalau belum diisi nasi, masih berontak minta diisi. Akhirnya, dengan gagah berani aku menembus hujan. Itu berarti aku mesti siap jika motorku mogok. Waktu itu aku masih memakai BMW alias Bebek Merah Warnanya, yang kalau tidak hati-hati, kalau busi terkena air bisa mogok motorku. Wis, tak apa.

Begitu menyusuri jalan pulang, aku betul-betul deg-degan. Lha wong, aku hampir tak bisa melihat jalan. Hujan itu begitu deras, dan ada beberapa jalan yang tergenang air. Aku tak tahu mana jalan yang berlubang. Aku cuma berusaha jalan di tengah, kalau terlalu minggir, bisa-bisa kecemplung got. Hujan itu membuat pandanganku kabur. Aku berusaha keras menjaga gas motorku supaya tidak mogok. Sungguh suatu perjuangan yang membuatku mau tak mau ndremimil berdoa sepanjang jalan! Aku berdoa supaya tidak kecemplung got, tidak masuk lubang jalanan yang tertutup air, supaya tidak menabrak atau ketabrak orang. Rasa-rasanya dua putaran rosario selesai kudaraskan deh. Hihihi. Akhirnya, setelah berjuang selama empat puluh menit, aku pun sampai di rumah. Leganyaaaa…!

Kenangan pulang kantor dengan berhujan-hujan tentunya tidak hanya sekali itu saja. Beberapa kali aku terpaksa pulang menembus hujan. Tetapi ritual ndremimil berdoa sepanjang jalan itu rasanya tak berubah, sampai-sampai aku memasukkannya dalam bukuku Tuhan, Ngobrol Yuk! (Ah, buku pertamaku itu bagaimana kabarnya ya? Sudah lama sekali aku tidak melihatnya. Dan sudah lama sekali aku tidak mengumpulkan tulisan-tulisanku. Apakah ini berarti sudah waktunya untuk memulai sebuah proyek untuk membuat buku lagi ya? Hujan memang punya sejuta arti…)

Teman-teman, di hari hujan, kenangan apa yang menempel kuat di benak kalian?

Ketemu Presiden SBY di Metromini?

Sudah setahun lebih aku tinggal di Jakarta. Judulnya ikut suami. Ya, begitu menikah aku langsung memutuskan untuk keluar dari pekerjaanku di Jogja lalu langsung ngibrit mengikuti suami yang bekerja dan kuliah di ibu kota ini.

Seperti layaknya penghuni baru sebuah kota, aku mesti beradaptasi. Dari yang dulu tinggal di kampung yang sepi, sekarang mesti tinggal di sebuah perkampungan yang cukup padat. Dari yang dulu di mana-mana bisa bicara dengan bahasa Jawa dengan banyak orang, sekarang mesti berbahasa Indonesia. Dan di Jakarta ini bahasa Indonesianya adalah bahasa Indonesia yang gaul, yang lu-gue itu loh! Sumpah, sampai sekarang aku tidak bisa menggunakan bahasa Indonesia ala Jakarta yang disebut gaul oleh banyak orang. (Sebenarnya aku bingung, apa maksudnya gaul dalam hal ini.) Lalu, salah satu adaptasi yang kurasa cukup signifikan adalah dari aku yang dulu ke mana-mana naik sepeda motor, sekarang ke mana-mana harus mengandalkan kendaraan umum.

Ampun!

Bagiku, ke mana-mana naik kendaraan umum adalah adaptasi yang butuh waktu lama. Sepertinya sampai sekarang aku juga masih adaptasi. Nggak pinter-pinter nih. Jadi, ceritanya begini, kalau naik motor sendiri, aku bisa langsung memperkirakan, kalau mau ke suatu tempat, umpamanya mau ke X tuh cuma butuh waktu ya, kira-kira 15 menit lah. Tapi begitu aku harus naik kendaraan umum, ternyata perkiraanku salah! Bisa setengah jam, bisa 45 menit. Dan di sini, perjalanan yang memakan waktu satu jam itu dibilang dekat. Doooh! Mau tahu kenapa bisa begitu? Karena kendaraan umum itu–entah mikrolet, metromini, atau KWK–tak bisa ditebak. Kadang mereka ngetem, kadang jalannya seperti keong, kadang nggak segera muncul, kadang ngebut nggak karuan. Aku sering geregetan kalau sudah begini. Pengin tak sopiri sendiri–sayangnya nggak bisa.

Salah satu kendaraan umum yang sering kupakai jasanya adalah metromini. Itu loh, bus yang warnanya oranye, yang kadang seperti keong tetapi juga suka ngebut itu. Di jam-jam orang berangkat dan pulang kantor, bus oranye jelek itu sering penuh. Penumpangnya kadang terpaksa harus merasa deg-degan karena berdiri di tepi pintu. Dan si sopir yang entah belajar nyopir di mana itu, dengan seenak udelnya terkadang mengerem dan mengegas busnya dengan mendadak. Biyuh… biyuh!

Selain metromini, kendaraan umum lain yang kadang kupakai adalah TransJakarta (TJ). Nah, naik TJ ini ada triknya. Kalau mau nyaman, jangan naik di jam berangkat dan pulang kantor. Lalu, kalau bisa, naiklah di halte pemberangkatan, misalnya di Dukuh Atas, Harmoni, atau Pulogadung karena di situ kita masih bisa mendapatkan tempat duduk, atau mencari tempat berdiri yang cukup nyaman. Nah, yang menyebalkan adalah jika kita buru-buru, dan TJ yang kita tunggu-tunggu tidak muncul. Atau kalaupun dia muncul, lewat begitu saja–tidak mengangkut penumpang yang sudah merindukannya di halte.

Ah, ya … memang naik kendaraan umum di Jakarta ini bisa menimbulkan banyak kesan–dan kadang menjengkelkan. Tapi tahu nggak, selama aku di Jakarta, belum pernah sekalipun aku bertemu Presiden SBY di metromini atau TJ. Ha ha! Mimpi kali yeee? Ya, memang mimpi. Ya jelas tidak mungkin Pak SBY ikut berjejal-jejal di dalam metromini. Dia juga mungkin tidak perlu menembus banjir yang sepertinya belakangan ini mulai berakrab-akrab dengan warga Jakarta. Dia tak mungkin ikut bergelantungan di dalam KRL yang padat. Dia tak mungkin duduk bersebelahan dengan sopir metromini yang sepertinya tak pernah mandi dan terus menerus merokok itu.

Aku cuma berangan-angan, seandainya, seandainya lo ini, jika Pak SBY itu ikut berjejal-jejal di dalam metromini selama sebulan saja, apakah dia bisa mengeluarkan kebijakan yang lebih baik ya? Setidaknya dia ikut merasakan bahwa sebagian besar rakyatnya ini tidak melulu hidup enak. Itu lo, seperti cerita masa kanak-kanak yang menceritakan ada raja yang menyamar dan tinggal bersama rakyatnya. Lalu usai menyamar ia membuat kebijakan yang menguntungkan rakyat kecil, dan ia akan semakin dicintai rakyatnya. Dalam bayanganku raja itu bijaksana sekali. Tapi rasanya nggak mungkin ya Pak SBY itu bertindak seperti raja yang bijaksana? Kupikir-pikir mengapa pemerintah kita sepertinya tidak mengurusi rakyat dan tidak bisa membuat kebijakan yang signifikan, kurasa adalah karena mereka sudah lupa bagaimana rasanya jadi rakyat biasa. Jika para pejabat itu sama-sama ikut menderita bersama rakyat, mungkin akan lain ceritanya. Jadi, bertemu dengan Pak SBY di metromini? Mimpi kali yeee …!

Obat Pengusir Bosan dan Suntuk

Beberapa waktu yang lalu, seorang teman mengajakku chatting. Yah, sebagai teman lama, aku berusaha meladeninya dengan baik. Rupanya dia sedang bosan di tempat kerja. Bosan. Suntuk. Harap diketahui, temanku yang satu itu memiliki sebuah toko dan ia harus menjaga tokonya sepanjang hari. Eh, mungkin tidak sepanjang hari ding. Kalau tidak salah cuma dari pagi sampai sore. Dan begitu terus rutinitasnya setiap hari.

Aku bisa membayangkan bosannya menunggu toko. Sendirian di toko. Apalagi kalau tokonya sedang tidak ramai alias sepi pembeli. Wah, bisa mengantuk. Dan yang jelas, tidak bisa tidur seenaknya dong. Barang jualan atau uang yang ada di toko bisa disamber orang nanti. Kan reffoott….

Dia lalu bertanya kepadaku apa sih obat pengusir suntuk dan bosan?

Pertanyaannya itu membuatku teringat pada dua hal. Oke, kita bahas yang pertama dulu ya. Yang pertama adalah pada kebosanan yang kadang-kadang juga kualami. Aku tak tahu apakah aku termasuk makhluk pembosan atau tidak. Tetapi aku terkadang menganggap diriku pembosan. Kalau berada dalam situasi yang begitu-begitu saja, aku jadi bosan. Apalagi kalau terlibat dalam suasana di mana aku jadi “penonton” saja dan tidak bisa ikut berinteraksi di dalamnya. Misalnya nih, berada dalam obrolan bersama teman dan aku tidak tahu apa yang mereka obrolkan. Yah, kan males banget to? Atau berada di suatu tempat dan mengerjakan hal yang itu-itu terus … lama-lama bosan juga. Misalnya, berada di rumah terus selama lebih dari tiga hari dan aku cuma di depan komputer terus, lama-lama bosan juga.

Lalu, apa yang biasanya kulakukan? Dulu kalau di Jogja, aku biasanya akan menggelandang motorku ke halaman, dan weeerrr … aku lalu pergi ke mana hati ingin pergi. Kadang ke toko buku, kadang iseng ke kos teman, kadang saat di jalan ingat ada barang yang perlu kubeli, ya mampirlah aku ke toko. Dan biasanya baru beberapa ratus meter saja, rasa bosanku sudah hilang. Sudah segar lagi. Jadi, begini jawabanku kepada temanku tempo hari, “Jalan-jalan aja. Ganti suasana.” Nah, sekarang kalau di Jakarta, berhubung tidak punya motor, aku biasanya mengusir rasa bosanku adalah dengan belanja ke pasar. Hi hi. Emak-emak banget ya! Di pasar, walaupun terkadang becek dan kumuh, aku bisa merasakan semangat para penjual yang sepertinya tidak pernah lelah menawarkan barang dagangannya. Asyik juga lo! Karena itu biasanya aku tidak belanja banyak. Jadi, dalam dua atau tiga hari, aku harus ke pasar lagi untuk membeli bahan makanan untuk dimasak.

Kedua, selain mengingatkanku pada kebosanan dan rasa suntuk yang kadang juga aku alami, pertanyaan temanku tadi mengingatkanku pada kata-kata Mas Yanuar Nugroho saat dia memberi seminar di Driyarkara hari Selasa lalu (10/11/09). Dia mengatakan kira-kira begini, “Jangan terlalu GR kalau menerima SMS sapaan dari seorang teman. Bisa jadi, dia tidak benar-benar ingin menyapa kita. Mungkin dia sedang bosan nunggu bus yang tidak lewat, dan daripada tidak ada kerjaan, mending kirim SMS ke kita. Jadi SMS yang dia kirimkan itu sebenarnya ‘untuk dirinya sendiri’.” Pernyataannya itu membuatku geli. Kadang aku juga begitu soalnya :))

Dengan menjamurnya telepon genggam itu, salah satu hal yang biasa kuamati di tempat umum adalah orang yang sibuk dengan HP-nya. Tidak selalu bertelepon, cuma utak-utik HP. Biasanya sih kalau tidak ber-SMS ya main game. Orang-orang itu jarang sekali ada yang mengajak ngobrol orang yang di dekatnya. Mungkin dengan adanya alat elektronik yang bisa menghubungkan kita dengan dunia maya dan teman atau saudara kita yang berada nun jauh di sana, kita tidak terbiasa untuk saling menyapa dengan orang yang secara fisik berada di dekat kita. Itu perkiraanku loh. Salah satu alasannya barangkali adalah karena kita sering diwanti-wanti untuk tidak berakrab-akrab dengan orang asing, karena bisa jadi orang asing itu akan menyakiti kita. Jadi, cari amannya saja 😉

Kalau boleh tahu, apa sih yang biasanya kamu lakukan untuk mengusir kebosanan? Mengutak-utik HP? Jalan-jalan? Atau apa?

Menulis Juga Butuh Keberanian

Sebenarnya ada berapa banyak tulisan yang sudah kubuat? Aku tak menghitungnya. Ada yang sudah jadi. Ada pula yang kubiarkan saja mereka tidur-tiduran dalam komputer alias ngendon di dalam sini… ya di dalam komputer sini. Ada yang isinya curcol, ada yang bentuknya opini, ada yang fiksi, ada yang baru kumpulan ide, dan ada yang yah … tidak jelas apa bentuknya. Tetapi aku betul-betul tidak menghitungnya.

Saat aku membongkar onggokan file di komputer, aku sering terkaget-kaget melihat aneka ragamnya tulisanku. Kadang aku heran, kok bisa sih aku menulis seperti itu? Ada yang kelihatannya sok bijak (padahal, aduuuuh … siapa sih aku ini? Ngomong eh, nulis aja bisanya. Kalau suruh menjalaninya, belum tentu bisa); ada yang sok puitis (yaelah … serasa bukan aku deh yang nulis); ada yang mencoba melucu tapi sama sekali nggak lucu; ada yang lebay selebay-lebaynya!

Beberapa file tulisanku menunjukkan tulisan yang belum jadi. Ibarat lukisan, aku baru membubuhkan warna dasar dan sket tipis. Niatnya sih pengen menulis yang bisa membuat hati orang tersentuh. (Duh … duh …) Yang bisa mengalirkan kata-kata dengan begitu ajeg dan tidak membosankan. Pengen rasanya bisa memasang kata-kata yang indah tetapi tetapi tidak berlebihan, yang begitu dijejerkan akan membuat hati adem, lalu terkiwir-kiwir mengikuti aliran ceritanya. Sayangnya kok belum mampu ya? Awalnya sih bisa, tapi begitu sampai di tengah, mendadak macet. Ibarat sepeda motor butut yang businya terkena cipratan air hujan. Det…det…det … Haiyah kono ora iso mlaku! (Nah lo, nggak bisa jalan!)

Dari deretan tulisan yang tidak jelas itu sebenarnya ada beberapa tulisan yang sudah jadi. Sayangnya, entah bagaimana aku tidak punya cukup keberanian untuk memasangnya di tempat umum–walaupun hanya di blog atau kutempelkan di notes di FB. Keberanianku untuk memajangnya sama sekali tidak ada. Tak ada bara keberanian sedikit pun! Jenis tulisan yang tidak berani kupasang salah satunya adalah tulisan berisi uneg-uneg. Selain itu juga tulisan fiksi. Untuk yang fiksi, aku masih khawatir kalau tulisanku itu nanti dijiplak orang. Weleh, siapa juga yang mau menjiplak ya? Kualitas belum pasti bagus aja sudah gaya amat! Hihihi. Lalu ada juga tulisan-tulisan yang isinya sok bijak. Halaaah … malu aku kalau membacanya. Aku takut nanti ada orang yang mencibir, “Ah elu, bisanya nulis doang, nggak bisa menjalaninya.” (Hhh … ya, memang kadang aku bisanya menulis doang, menjalaninya ya belum tentu bisa.)

Kemarin, aku iseng-iseng memasang status di FB begini: Writing needs a lot of practices. Ya, untuk menulis memang dibutuhkan latihan. Jadi, anggap saja onggokan file berisi tulisan tak berguna itu sebagai ajang latihan. Nah, ada salah satu temanku, Meira, memberi komentar bahwa untuk menulis juga dibutuhkan kepercayaan diri, berani malu. Wah, benar juga ya! Kesannya menulis itu hanya aktivitas biasa di belakang layar. Tapi untuk menampilkan karya kita, memang dibutuhkan suatu kepercayaan diri dan keberanian. Kalau tidak berani, ya akhirnya tulisan-tulisan kita akan ngendon di dalam komputer saja. Menaruh tulisan di blog atau di media umum lainnya itu berisiko loh–bisa dikritik orang, bisa dibilang jelek, tetapi bisa juga disanjung, dipuji ke sana-kemari. Rata-rata orang akan senang jika tulisannya disukai. Tetapi berani nggak sih, demi bisa menghasilkan tulisan yang bagus dan bermutu, kita berani memasang tulisan untuk dinilai, dikritik orang? Beranikah kita memajang tulisan yang berisi opini kita yang “tidak umum” alias bisa menuai kritik karena pendapat kita tidak sama dengan pendapat kebanyakan orang? Beranikah kita memajang tulisan kita yang memang masih berupa hasil latihan, dan tidak bagus-bagus amat jika dibandingkan tulisan orang-orang yang memang sudah mahir dalam menulis, yang jika menulis pasti mendapat pujian? Memang tidak enak sih dikritik. Memang tidak enak jika harus menerima masukan yang mengatakan bahwa tulisan kita tidak menarik. Memang tidak enak mendapati kenyataan bahwa tulisan kita tidak laku.  Tetapi untuk bisa menulis dengan bagus kupikir butuh latihan dan keberanian. Dan ini merupakan tantangan juga buatku 😉

Ngomong-ngomong, butuh apa lagi ya supaya bisa menulis dengan baik?

*Terima kasih buat Meira untuk komentarnya kemarin 🙂

Apakah HP Keluaran Terbaru Akan Membuat Hati Kita Menjadi Baru?

Aku ini termasuk lemot untuk urusan HP. Lemot itu karena aku malas sekali untuk gonta-ganti HP. Biarpun sekarang zamannya HP lebar dan besar, aku tidak (eh … belum kali ya) tertarik untuk mengganti HP tipisku ini dengan model yang terbaru itu. Prinsipku asal baterainya belum soak, ya tidak kuganti. Lagi pula, yang penting ada pulsanya. Kalau punya HP keren tapi nggak ada pulsa? Mau ngapain coba? Manyun aja deh.

Kalau aku sedang berada di tempat umum, katakanlah di dalam bus patas, aku akan dengan mudah melihat orang-orang yang sedang memencet-mencet HP mereka. Tentunya HP yang besar-besar dan lebar itu. Begitu juga kalau di mal-mal, banyak sekali orang asyik dengan HP semacam itu.

Dan yah, harus diakui HP lebar itu sekarang sedang tren. Ini mengingatkanku pada masa SD dulu, ketika hampir semua temanku memiliki tas koper untuk dibawa ke sekolah. “Wah sepertinya keren ya kalau ke sekolah pakai tas koper.” Mendadak sepertinya ada kebutuhan untuk menjadi sama dengan teman-teman yang lain. Aku lupa apakah aku merengek-rengek pada orang tuaku untuk dibelikan tas koper atau tidak, tapi mungkin juga aku merengek dan membuat bising di rumah. Hehehe. Yang jelas, aku akhirnya punya tas koper. Wah, senangnyaaaa …. Kutenteng tas itu dengan penuh kebanggaan. Lalu ketika membukanya, aku lalu membanding-bandingkan bagian dalamnya dengan tas koper milik temanku. Akhirnya aku sama seperti teman-temanku yang lain. Nah, tren ala tas koper itu kupikir tak jauh berbeda dengan tren telepon genggam yang lebar dan besar itu.

Bagi sebagian orang, tidak mengikuti tren mungkin membuat tidak nyaman. Jika tidak mengikuti tren barangkali kita seperti orang yang memakai baju polos, sementara hampir semua orang memakai batik. Kita mendadak merasa tidak nyaman, padahal tidak ada yang mengharuskan kita memakai batik. Kita mendadak merasa tidak nyaman, padahal toh kita masih memakai baju yang rapi, yang warnanya pun masih bagus, yang semua jahitannya masih terkelim dengan baik. Namun, karena kita berbeda dengan hampir semua orang, kita menjadi kagok. Berbeda memang kadang tidak menyenangkan, ya?

Perkembangan HP yang cepat itu tanpa sadar mempengaruhi cara kita berpikir dan berperilaku. Model-model HP yang baru menggelitik kita. Sepertinya kok mendadak ada yang kurang ya kalau kita tidak memiliki HP macam itu. Apalagi, teman-teman kita mulai memiliki dan menggunakannya. Bukan sekadar kenalan loh, tetapi kini teman-teman dekat kita sudah memilikinya. Lalu, kita merasa punya kebutuhan untuk menjadi seperti mereka. Dan biasanya orang-orang yang memiliki kesamaan akan memiliki aktivitas yang sama pula. Misalnya, suatu kali aku ditanya oleh seorang teman (lewat FB), “Pinmu berapa?” Dengan bodohnya aku berpikir, gile nih orang, nanya-nanya pin. Masak aku mau memberikan pin ATM-ku? Lalu suamiku mengatakan bahwa yang dimaksud dengan pin itu adalah pin Blackberry (BB). Oalah … aku menertawakan kebodohanku. (Nah, semakin jelas kan ke-lemot-anku dalam soal HP itu?) Coba pikir, kalau semua teman dekatku punya BB, dan mereka bisa chatting dengan leluasa, sementara aku sendiri yang tidak punya, bagaimana coba? Sepertinya dorongan untuk memiliki HP serupa akan begitu kuat. Dan aku yakin, dalam waktu singkat, pertahananku untuk tidak mengganti HP akan jebol juga. Bukan tidak mungkin aku yang semua keukeuh untuk tidak mau mengganti HP sebelum HPku rusak, akan berubah. Aku toh manusia biasa yang kadang masih tidak tahan terhadap godaan loh. Hehehe

Sekarang ini rasanya perkembangan HP semakin cepat saja. Sepertinya dalam hitungan bulan, akan muncul model HP yang baru. Dan entah bagaimana kurasakan manusia seakan semakin “rakus”. Seolah-olah kita tidak pernah puas. Kenapa bisa begitu ya? Karena tanpa sadar kita “dididik” untuk rakus. Tanpa sadar, iklan-iklan yang mejeng di jalanan, di majalah, dan di berbagai di media massa itu seolah-olah mengatakan bahwa barang yang kita miliki ini sudah ketinggalan zaman; sudah saatnya diganti karena sudah ada barang yang lebih bagus. Padahal, barang yang kita miliki (misalnya, HP itu tadi) masih bagus. Masih bisa dipakai. Tidak rusak. Paling-paling hanya warnanya saja yang sudah pudar sehingga tampak kusam saat disandingkan dengan HP keluaran terbaru.

Dulu ketika masih kuliah, saat ada teman yang pulang KKN, biasanya akan ada cerita-cerita yang lucu. Salah satunya adalah di desa yang nun jauh di sana, yang jauh dari kota dan masih belum kebagian listrik, penduduknya cukup kaya karena hasil pertanian mereka bagus. Dan tahu apa yang mereka beli? Yak, betul … mereka membeli lemari es. Loh, padahal pasokan listrik saja belum ada kok mau pasang lemari es? Iya, lemari es itu cuma buat lemari baju. Lemari baju yang keren kan? Ini hal yang aneh, lucu, atau menyedihkan? Entahlah. Tetapi kupikir kalau kita hanya mengikuti tren, mungkin sebenarnya kita pun mirip-mirip dengan mereka. Mungkin lo, ya … pikir saja sendiri bagaimana sebenarnya diri kalian.

Jika kita mau berdiam diri sejenak, mungkin kita tak akan mudah begitu saja mengikuti arus tren. Barangkali kita bisa merenung sejenak sebelum memutuskan untuk berbelanja. Dan sebaiknya sih kita menjadi konsumen yang kritis. Mengapa kita membeli X dan bukan Y? Sebenarnya barang yang kita akan kita beli itu apa sih? Apakah memang perlu? Apakah kita benar-benar butuh? Yaelah … banyak banget pertanyaannya. Jangan-jangan malah nggak jadi beli nantinya. Tetapi bukankah sepertinya memang ada kekuatan yang entah dari mana datangnya, yang seolah-olah menuntut kita untuk membeli ini dan itu, yang mengatakan kepada kita bahwa kita tidak bahagia jika tidak memiliki ini dan itu? Dan jika dikaitkan dengan HP, apakah HP keluaran terbaru akan membuat hati kita menjadi baru?

Eh, tulisan ini lagi-lagi sepertinya tak ada ujungnya dan aku makin tak jelas mau ngomong apa …

(Ini hanya sebuah catatan refleksi ala orang yang otaknya pas-pasan setelah mengikuti Seminar Teknologi Inovasi dan Dampaknya Bagi Kebijakan Publik, Selasa 10 Oktober 2009, oleh Yanuar Nugroho,  PhD, di STF Driyarkara, Jakarta)