Pisang

Salah satu makanan kegemaranku adalah pisang rebus atau pisang kukus (sama saja nggak sih?). Dan aku paling suka jika pisangnya adalah pisang kepok kuning. Lainnya itu, aku kurang suka sebetulnya. Jadi, tepatnya yang aku sukai adalah pisang kepok kuning rebus.

Di masa-masa awal aku di Jakarta, aku tidak terlalu mudah mencari pisang kepok kuning di pasar. Kalaupun ada, harganya cenderung mahal. (Mungkin aku saja yang kurang pintar mencari pisang kepok di pasar.) Saat itu, aku mulai mencari pisang lain yang bisa kumasak, dan aku menemukan pisang tanduk. Ini pisang baru, bagiku. Bagiku lo ya. Mungkin tidak bagi teman-teman yang lain. Dan memang aku baru makan pisang tanduk itu ya pas aku di Jakarta. Sebelumnya aku hanya tahu pisang susu, pisang raja, pisang kepok, dan pisang uter.

Sejak mengenal pisang tanduk, aku kadang-kadang membelinya saat ke pasar. Karena kurang suka makanan yang digoreng, aku biasanya mengukusnya. Atau kadang aku bakar di atas wajan antilengket, lalu ditaburi keju dan cokelat mesis. Enaaak! Ada satu penjual langgananku dulu saat di Pasar Perumnas Klender. Pisang tanduknya memang tak terlalu besar;biasanya ia jual 5 ribu dapat 3. Biasanya saat bulan puasa, pisang tanduk harganya mendadak melejit. Jadi, aku absen makan pisang tanduk selama bulan puasa. Biar teman-teman yang berpuasa saja yang mengonsumsinya. Aku tak cari camilan yang lain saja. 😀

Selain pisang tanduk, pisang lain yang kukenal pertama kali saat di Jakarta adalah pisang uli. Awalnya karena ada pedagang makanan yang lewat di rumahku dulu. “Buuuus ….!” begitu si bapak menjajakan dagangannya. Aku penasaran dong. Waktu dia lewat, kulihat dia ternyata menjajakan aneka makanan yang direbus, tape ketan, telur asin, dan apa lagi ya? Lupa aku. Yang jelas, dia tidak menjual gorengan. Yang pertama kali menarik perhatianku adalah pisang rebus dan kacang bulat-bulat yang akhirnya aku tahu itu namanya kacang bogor. Dua makanan itu yang akhirnya sering kubeli. Waktu pertama kali memakan pisang rebus itu, aku mikir kok ini pisangnya bukan pisang kepok ya? Tidak seenak pisang kepok kuning sih, tapi lumayanlah. Harganya juga tidak mahal-mahal amat. Seingatku seribu dapat tiga atau dua.

Besoknya waktu beli lagi, aku tanya ke si penjual, “Pak, ini pisang apa sih?”
“Pisang uli,” jawabnya ramah. Dan memang bapak itu ramah serta suka bercanda. Kalau belanjaanku habisnya 3 ribu, dia bilangnya “tiga juta” dengan suara keras dan agak-agak serak. Sejak itu aku jadi pelanggannya. Cukup sering aku beli makanan sama dia. Walaupun ada penjual makanan rebusan selain bapak itu, aku tak pernah beli ke pedagang lain. Selalu dia. Entah kenapa. Sepertinya memang begitu kebiasaanku. Kalau sudah langganan ke satu pedagang, aku malas berpindah ke pedagang lain–kecuali pedagang itu mulai rese atau tidak ramah lagi.

Sejak pindah ke Rawamangun, tidak kudengar lagi suara “Buuuus …!” seperti di Klender. Tapi aku kadang suka beli pisang uli di pasar pagi yang tak jauh dari rumah. Pedagang pisang yang jadi langgananku cuma satu. Si bapak penjual pisang itu tak hanya jualan pisang (uli), tapi justru lebih berjualan sayur. Dan memang aku sering beli sayur sama dia.

Kemarin si bapak penjual sayur itu memajang beberapa sisir pisang uli. Ada satu sisir pisang uli yang tampak cakep. Jadi pengin beli. Lalu kutanya, “Berapa Pak?”
“Lima ribu,” katanya. Hmmm, agak mahal pikirku. Tapi pisang uli itu cukup besar dan satu sisir isinya banyak. Ya sudah deh, aku beli aja. Sudah agak lama aku tidak makan pisang kukus. Malas nawar, lalu ulurkan uang 10 ribu. Dan, ternyata aku dapat kembalian 6 ribu. Hehehe. Memang kebiasaan deh si bapak ini; kalau aku nggak nawar malah biasanya kembaliannya dilebihin. 🙂