Upin Ipin, Fizi, dan Pengangkut Sampah

Upin dan Ipin barangkali merupakan film cerita anak-anak yang cukup fenomenal saat ini. Aku sendiri tidak tahu sampai seberapa jauh film ini sudah merasuk pada anak-anak zaman sekarang. Namun yang jelas, saat ini kerap kali aku melihat beraneka mainan atau buku dengan gambar tokoh Upin dan Ipin. Sebenarnya, aku tidak terlalu suka dengan menjamurnya tokoh Upin dan Ipin di berbagai mainan anak-anak itu. Tetapi harus kuakui, aku menikmati menonton film anak-anak tersebut. Lucu, cerdik, dan khas anak-anak adalah kesan yang menempel setiap kali usai menyaksikan film tersebut. Walaupun satu film sudah diputar berulang kali, aku tak terlalu bosan menontonnya. Hmm, barangkali karena aku tidak punya televisi ya? Jadi aku menontonnya pun jarang-jarang, hanya pada saat mudik, berkunjung ke rumah teman atau saudara yang punya televisi

Salah satu adegan film yang aku ingat betul adalah ketika Cik Gu (Bu Guru) memberi tugas kepada Upin Ipin serta serta teman-temannya di seluruh kelas untuk menggambarkan cita-cita mereka. Yang aku ingat, Jarjit menempelkan gambar polisi yang menangkap pencuri. Apakah Jarjit bercita-cita jadi polisi? Oh, tidak. Lalu, dia jadi pencurinya dong? Tidak juga. Rupanya dia ingin jadi pembawa berita di televisi. Ceritanya, ia akan mengabarkan kejadian semacam itu di televisi. Cara penyampaian yang unik. Lalu keunikan yang kedua adalah cita-cita Fizi. Dia menggambarkan dirinya sedang naik di belakang mobil pengangkut sampah. Awalnya, tentu dia ditertawakan oleh seluruh kelas. Tetapi Cik Gu dengan bijaknya memberi penjelasan bahwa cita-cita Fizi itu mulia. Coba kalau tidak ada petugas pengangkut sampah? Apa jadinya lingkungan kita? Bakalan bau dan jelas tidak sehat.

Siang ini baru saja gerbang halaman depan rumahku dibuka. Rupanya tukang sampah datang. Lelaki berkaus cokelat itu mengambil kantong-kantong plastik berisi sampah dari tong sampah di dekat pohon kelapa dekat pagar. Kantong-kantong itu ia kumpulkan dalam satu keranjang bambu. Setelah itu, ia menyapu bagian dalam tong sampah dan membuang air hujan yang menggenang di dalamnya. Tak sampai 10 menit ia melakukan itu semua. Kemudian ia membawa sampah-sampah kami dalam gerobak sampahnya.

Aku tak tahu, apakah Fizi pernah menyaksikan petugas pengangkut sampah yang biasa bertugas di lingkungan tempat tinggalku. Hmm, barangkali bukan Fizi secara literal ya? Maksudku, sang penggagas cerita tersebut tentunya. Cerita Upin dan Ipin memang buatan Malaysia, dan barangkali di sana petugas pengangkut sampah tampak lebih rapi. Barangkali, lo ya? Wong aku belum pernah ke Malaysia.🙂

Aku rasa, dari sekian banyak anak yang bersekolah di Indonesia tidak ada yang bercita-cita menjadi petugas pengangkut sampah seperti lelaki yang kusaksikan siang ini. Mungkin, pengangkut sampah itu pun tidak menghendaki anaknya meneruskan pekerjaan ayahnya. Siapa sih yang ingin berkotor-kotor mengangkut sampah? Kupikir, semulia-mulianya pekerjaan mengangkut sampah, pekerjaan itu dianggap pekerjaan kelas bawah.

Bagaimanapun, sampah itu perlu dikelola. Banyak hal yang aku pikir bisa dilakukan untuk itu. Yang paling gampang adalah dengan memilah sampah. Dengan memilah sampah itu saja, petugas pengangkut sampah kupikir sudah cukup terbantu pekerjaannya. (Dari pengalamanku, dipisahnya sampah organik dan nonorganik membuat bak sampah menjadi relatif tidak berbau.) Yang kedua barangkali para petugas pengangkut sampah ini bisa lebih diberdayakan lagi. Mereka tak hanya mengangkut sampah, tetapi bisa membuat bank sampah. Bank sampah adalah suatu wadah di mana warga bisa mengumpulkan sampah nonorganik dan mereka bisa mendapatkan uang (karena sampah anorganik itu bisa didaur ulang dan menghasilkan uang). Soal bank sampah ini bisa dilihat di sini.

Aku berharap kelak ada film (anak-anak) yang menggambarkan tentang pengolahan sampah. Jadi Fizi tak hanya bercita-cita menjadi pengangkut sampah, tetapi menjadi pengolah sampah. Semoga pula orang-orang yang kini telah mengelola sampah terus menjadi inspirasi bagi kita. Dan kita semua akhirnya menjadi lebih bijak dalam memandang dan mengurus sampah.

17 thoughts on “Upin Ipin, Fizi, dan Pengangkut Sampah

  1. seharusnya mengikuti Jepang, pengangkutan sampah berbeda harinya. Kalau sampah dapur/yg bisa terbakar semisal hari senin, kamis. Yang tidak terbakar, kaleng/plastik hari selasa,jumat. RT juga dipaksa untuk memilah sampah dgn hukuman tidak akan diambil sampahnya jika tidak dipilah🙂 Di sini begitu loh

    EM

    • Imelda,
      Ini juga yang terjadi di Brisbane (Aussie)…saat saya mau pulang ke Indonesia, si sulung tak bisa antar ke bandara, karena hari itu bertugas menunggu tukang sampah. Tukang sampahnya menggunakan mobil, sampah dibedakan tiga jenis. Walau saya beberapa kali ke Malaysia, namun karena tinggal di hotel, juga tak mengamati bagaimana cara pengangkutan sampah di sana.

  2. Aha! Dari tulisan ini aku jadi punya gambaran tentang bagaimana menggali sebuah ide cerita. Aku belum pernah menyaksikan episode di kelas tersebut. Tetapi dari tulisan ini, karena sedang menggarap skenario animasi semacam Upin Ipin, aku jadi tercerahkan.

    Nggak pa-pa ya, komentarnya dari sudut pandang lain. Tapi makasih banget🙂

    • Ayo…tulis…..
      Kapan-kapan pengin ngobrol sama DM..keponakanku sekarang penulis freelance di group Kompas…dia buat buku perjalanan ke LN (semoga perjalanan DM ke Tibet kemarin jadi buku). Dia juga menulis berbagai hal seperti budaya dll… mungkin DM kenal, dia isterinya Andre Vltchecks, buku perjalanan nya “Surat dari bude Ochie”.

  3. Saleum,
    Ada baiknya ada sineas film yang mau menghidupkan kembali tokoh Unyil dkk tapi versi animasi supaya kita dan anak2 diberi warna baru, gak melulu cuma upin dan ipin.
    saleum dmilano

  4. Ini persoalan anggapan sebenernya… di sini orang pengolah sampah digaji gede…
    Bangsa kita terlalu berambisi jadi politisi atau ahli agama🙂

  5. Upin-Ipin adalah film yang bagus buat kita dan anak-anak, tidak ada unsur kekerasannya dan tidak ada kejelekan. Yang ada belajar di sekolah dan taat pada oarang tua

  6. Aku membiasakan diri memilah sampah organik dan non organik. Semua tetanggaku nggak ada yang berbuat sama😦
    masih banyak orang sini yang suka buang sampah sembarangan, lempar ke parit, lempar ke tanah kosong… *huhuhuhu….

    Biar pun sendirian, aku tetep memilah sampahku..

  7. Episod Cita-cita ini sudah sering diputar ulang di MNC, dan saya sampai hapal juga nontonnya. Benar sekali, kesannya memang remeh ya, tapi kalau tak ada yang mau jadi tukang sampah, lalu siapa yang akan angkat sampah2 itu?
    Beberapa hari lalu, saat saya keluar dari rumah, pas sekali bapak tukang sampah sedang mengangkat sampah. Ah, saya terharu melihatnya. Dia begitu kumal, begitu tua dan kotor, kulitnya legam. Saya berikan dia tip sedikit sambil mengucapkan terima kasih karena saya tahu dia mungkin tak pernah berpikir akan menjadi tukang sampah. Ah, kalau sudah melihat begitu, saya bersyukur atas rezeki yang diberikan Tuhan pada keluarga kami.

  8. Hahaha, sama dengan Zee, sampai bosan nonton episode ini. Gimana nggak mau nonton, tipi dipantengin anak-anak terus kalau ada serial Upin Ipin.
    Senang nonton Upin Ipin karena banyak pesan moral yang disampaikan.

    Pesan moralnya sampai, dan tidak menggurui. Itu kesanku dg Upin Ipin

  9. Di Malaysia, sampah diurus/ditangani oleh pemerintah kota.
    Setiap hari ada truk sampah mengambil sampah dari tpt-tpt sampah rumah.
    Mereka dibayar dari pajak bumi dan bangunan.
    (pintar gak mereka)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s