Teman Pada Suatu Masa

Aku menemukan permenungan di bawah ini pada sebuah blog.

Reason, Season, or Lifetime

People come into your life for a reason, a season or a lifetime.
When you figure out which one it is,
you will know what to do for each person.

When someone is in your life for a REASON,
it is usually to meet a need you have expressed.
They have come to assist you through a difficulty;
to provide you with guidance and support;
to aid you physically, emotionally or spiritually.
They may seem like a godsend, and they are.
They are there for the reason you need them to be.
Then, without any wrongdoing on your part or at an inconvenient time,
this person will say or do something to bring the relationship to an end.
Sometimes they die. Sometimes they walk away.
Sometimes they act up and force you to take a stand.
What we must realize is that our need has been met, our desire fulfilled; their work is done.
The prayer you sent up has been answered and now it is time to move on.

Some people come into your life for a SEASON,
because your turn has come to share, grow or learn.
They bring you an experience of peace or make you laugh.
They may teach you something you have never done.
They usually give you an unbelievable amount of joy.
Believe it. It is real. But only for a season.

LIFETIME relationships teach you lifetime lessons;
things you must build upon in order to have a solid emotional foundation.
Your job is to accept the lesson, love the person, and put what you have learned to use
in all other relationships and areas of your life.
It is said that love is blind but friendship is clairvoyant.

Diambil dari: Acts of Faith by Iyanla Vanzant.

Lalu aku teringat pada hal yang kurenungkan akhir-akhir ini. Ada teman yang pindah ke kota lain. Ada teman yang mulai jarang ketemu. Aku merasa setiap pribadi yang kujumpai itu datang dan menemaniku pada masa tertentu. Misalnya, ketika aku di asrama, aku bertemu Mbak Tutik. Dia bahkan menemaniku sampai aku bekerja. Dia sempat tinggal di rumahku, lalu akhirnya dia pindah ke kota lain, dan akhirnya dia pindah ke “dunia lain” lebih dulu.

Ada suatu masa ketika aku sulit menerima kepergian teman-teman–terutama teman-teman yang dulunya hampir setiap hari ketemu, beraktivitas bersama, lalu karena pindah kota atau pindah pekerjaan akhirnya kami berpisah. Ada kalanya timbul perasaan ditinggalkan.

Namun, sekarang kurasa… memang begitulah hidup. Ada kalanya aku harus menggenggam, ada kalanya aku harus membuka tangan untuk melepaskan. Ketika menggenggam, awalnya aku ragu. Aku lebih banyak mengamati dan berusaha tidak tergesa-gesa. Lalu ketika akhirnya harus melepaskan, aku baru menyadari genggaman itu terasa kuat sehingga benar-benar kehilangan.

Yah, begitulah hidup.

Aku lalu teringat obrolan dengan seorang teman yang punya kemampuan menolong arwah supaya menemukan “jalan pulang”. Saat seseorang meninggal, kadang jalannya terhambat. Yang menghambat adalah jika ada yang belum dilepaskan, belum dimaafkan/memaafkan, atau ada yang belum ikhlas dia pergi. Ternyata melepaskan itu penting. Pada akhirnya hidup adalah soal menerima dan memberi; menggenggam dan melepaskan. Hidup itu mestinya ikhlas, penuh cinta, dan bersedia mengampuni setiap saat.

Advertisements

Teh Mint

“Lasti, kamu masih punya teh?” Kudengar suara serak di seberang telepon.

“Ke sini aja,” jawabku singkat.

Tak sampai lima menit Aning telah muncul di dapur. Matanya merah, mukanya sedikit pucat.

“Kamu flu?” Mestinya aku tak perlu bertanya.

Aning mengangguk.

Aku segera menuang air panas ke cangkir lalu kucelupkan satu kantong teh.

“Itu teh yang dikirim Lani kemarin kan, Las?” suara Aning terdengar semakin serak. Sengau pula.

Ganti aku yang mengangguk. “Cuma teh Lani yang enak,” kataku.

“Benar. Biasanya pagi-pagi begini, kita ngumpul bertiga sambil minum teh di rumah Lani, ya.”

Serempak kami menoleh ke rumah depan yang kosong.

“Itu kan alasan supaya ada yang mengasuh bayinya sebentar,” kataku. Kami tertawa bersama. “Nih, semoga seenak buatan Lani,” aku menyorongkan secangkir teh kepada Aning.

“Hmm… wangi.” Aning menghirup teh sambil terpejam. “Sayangnya cuma satu yang kurang.”

“Apa?” tanyaku cepat.

“Daun mint!”

Cuma Lani yang selalu berhasil menanam mint. Dan teh mint jadi minuman andalannya.

“Coba ada Lani, ya,” suara serak Aning seperti membentur cangkir.

Aku terdiam. Sejak rumah depan itu kosong, seperti ada yang kosong pula dalam hatiku.

 

Kling…

Ding…

 

Suara ponsel kami berbunyi bersamaan. Kami bersamaan melirik ke ponsel. Muncul foto dan pesan di bawah nama Lani:

“Tanpa kalian minum teh mint rasanya ada yang kurang deh…”

“Haha!” Seketika wajah Aning sumringah.

“Kangen juga dia,” sahutku.

Malaikat Pamomong dan Sowan “Ibuk”

Ketika masih kecil dulu, aku belum punya jam beker. Aku baru punya jam beker itu ketika SMP. Pemberian. Sepertinya bukan kado ulang tahun atau peristiwa penting. Tapi aku lupa. Yang jelas, jam beker itu masih kupakai sampai sekarang. Pernah rusak sekali, tapi diperbaiki dan bisa berjalan lagi sampai sekarang. Awet ya.  Aku suka sekali dengan jam beker itu.

Ketika belum punya jam beker, sesekali aku mesti bangun pagi-pagi banget kalau aku harus mengikuti suatu kegiatan atau acara. Misalnya, mau berangkat darmawisata dan naik bus pagi-pagi. Malamnya aku biasanya mbanyaki dan takut kalau bangun kesiangan. Ibuk dan Bapak biasanya akan ngayem-ngayemi dan bilang akan membangunkanku. Tapi namanya tukang mbanyaki dan mbingungi, aku tetap cemas. Kalau aku ketinggalan bus gimana? Biasanya Ibuk lalu bilang ke aku begini: “Minta sama malaikat pamomong supaya membangunkan kamu jam 4.” Agak tidak percaya, tapi tetap kulakukan.

Dan berhasil!

Selalu berhasil seingatku. Aku selalu bangun persis atau kira-kira kurang 5 menit dari waktu yang kuminta.

Kemarin aku bertemu teman lama. Ngobrol ngalor ngidul. Panjang kali lebar. Ngobrol sama dia enaknya tidak dihakimi–bahwa aku mesti begini, begitu. Tidak saling mengunggulkan bahwa aku sudah begini, kamu pun mestinya juga sudah mencapai ini dan itu. Sebenarnya aku berangkat menemui dia dalam kondisi tidak fit. Hidung meler dan tenggorokan sudah berteriak-teriak karena hampir radang. Tapi pas mengobrol dengannya, aku seperti mendapat energi cukup positif sehingga bisa duduk beberapa jam untuk saling mendengarkan.

Lalu sampailah kami pada suatu obrolan lama tentang “unfinished business” dengan beberapa orang di masa lalu dan masa sekarang. Salah satu saran darinya mengingatkanku pada pesan ibuku: “Cobalah ajak bicara sang malaikat pelindung—alias malaikat pamomong. Ajak bicara dalam tataran jiwa.”

Haish! Berat amat ya.

Pengalaman dibangunkan pagi-pagi dulu membuatku percaya bahwa malaikat pelindung itu ada dan kita bisa minta tolong kepadanya. Entah bagaimana teorinya, tapi aku mau mencoba. Setidaknya, obrolan kami kemarin mengingatkanku untuk lebih banyak berdoa–hal yang akhir-akhir ini rada mbleret dan mbuh ra karuan.

Jadi, ya… aku mau coba memulai lagi sesuatu yang sudah lama kutinggalkan. Plus mau sowan Ibuk Maria lagi–yang pasti cuma geleng-geleng kepala melihatku yang masih begitu-begitu saja.

Sancta Maria, Mater Dei, ora pro nobis peccatoribus, nunc et in hora mortis nostrae.

 

Perubahan

Beberapa waktu ini aku di-add di grup WA SMP. Grup itu cukup ramai. Yang kurasakan dari grup itu adalah seperti berada di kelas pada jam kosong. Ruamee. Kalau kata guruku dulu, ramainya seperti di pasar. Selain itu aku merasa, teman-temanku kok nggak terlalu banyak berubah, ya? Gayanya sewaktu chatting, sama seperti gayanya mengobrol zaman SMP dulu. Sekarang hanya lebih saru aja. 😀 😀

Aku kadang berpikir, apakah aku juga sebenarnya tidak terlalu banyak berubah?

Secara fisik aku pasti berubah. Semua orang pun begitu. Dari muda menjadi tua. Keriput, beruban, mungkin ditambah sakit encok atau sakit-sakit lain. Namun, apakah batin kita berubah? Ketika masuk grup WA teman-teman SMP, aku merasa kebanyakan sepertinya tidak berubah. Yang mereka sampaikan di grup dan gaya chattingan mereka sepertinya tidak terlalu berubah. Walau misalnya ada yang pindah agama, tapi aku merasa perubahannya tidak terlalu drastis–setidaknya soal cara berpikir, ya. Kalaupun berubah, rasanya “seperti bisa ditebak”. Bukan seperti twist akhir cerita yang mengejutkan. Kalau baju, ada yang berubah sih. Tapi hidup kurasa tidak hanya soal perubahan baju atau tampilan fisik.

Aku tak yakin diriku banyak berubah. Ini baik atau buruk? Entah. Kurasa begitu pula dengan banyak orang di sekitarku. Hal ini agak menenteramkan karena ketika aku hendak bertemu teman lama, kadang aku khawatir jika orang itu berubah dan perubahannya menjauhkan kami. Kalaupun berubah, mungkin sebenarnya perubahan itu menunjukkan jati diri yang sebenarnya.

Teman Unik dan Kebetulan

Sudah tanggal 4 Januari. Aku terlambat memenuhi kebiasaanku untuk menulis di blog ini setiap tanggal 3 Januari. Baiklah, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Tanggal 1 kemarin aku bertemu dengan teman lama, Ayung. Dulu kami seasrama. Sebenarnya agak unik pertemanan kami. Semasa di asrama, aku tidak terlalu dekat. Tidak pernah satu unit. Biasa saja.

Aku mulai sering berkontak dengannya saat tahun-tahun terakhir aku tinggal di Jakarta. Rumahnya dan kontrakanku tidak terlalu jauh. Naik angkot dua kali kalau tidak salah. Plus jalan kaki sedikit. Beberapa kali kami ketemu untuk makan dan ngobrol ngalor ngidul cukup lama. Dari obrolan itu aku tahu bahwa ternyata adiknya adalah mahasiswa kakakku. Dia pun bercerita punya kakak yang tinggal di Jogja. Tapi aku belum kenal kakaknya waktu itu.

Waktu aku pindah ke Jogja, aku mulai berkontak kembali dengan beberapa teman lamaku. Dari kontak-kontakan itu, aku akhirnya terhubung dengan kakaknya Ayung. Dan, tak hanya itu, suamiku, sekarang jadi guru (informal) anak-anak kakaknya Ayung. Anak-anak itu homeschooling, dan suamiku membantu mereka belajar matematika plus plus. Plus main boardgame, plus baca buku, plus mancing ikan. Macam-macam deh. Kalau dibilang guru, rasanya kok tidak “guru banget”. Menurutku sih, ya. Seperti teman bermain sambil belajar.

Sewaktu mengobrol kemarin, aku dan Ayung merasa lucu menyaksikan kebetulan-kebetulan di antara kami itu. Sepertinya keluargaku dan keluarganya terkait hubungan guru dan murid. “Jangan-jangan di kehidupan kita yang dulu, kita punya hubungan apa gitu, ya?” kata Ayung. Haha. Aku hanya tertawa. Mungkin juga. Semuanya seperti kebetulan. Tidak terencana.

Aku merasa pertemanan kami unik. Semoga tetap unik. 😉

Pertemuan di Bawah Rumpun Bambu

Harus kuakui aku pelupa. Aku lupa kapan terakhir kita bertemu. Lima tahun? Kurasa lebih. Pasti lebih.

Samar-samar kuingat pertemuan terakhir kita. Kita belanja di ITC, bukan? Lalu pulangnya naik taksi bersama. Aku pun samar-samar ingat kita sempat ke gereja bersama. Sungguh aku lupa apakah benar kita sempat misa bersama sebelum kamu pulang. Tapi beberapa kali kita memang misa bersama. Aku ingat kita naik bajaj berdua dan kamu membayari ongkosnya. Dari situ aku belajar menaksir berapa ongkos bajaj yang wajar. Aku tahu, kamu tetap memberikan ongkos yang semestinya pada tukang bajaj–tidak kemahalan, tidak pula kemurahan.

Ya, aku banyak lupa kejadian pada saat pertemuan terakhir kita. Yang kuingat adalah beberapa kali kita berkabar lewat SMS. Lalu aku sempat meneleponmu sebentar. Seingatku kamu hanya mengatakan kondisimu sedikit kurang baik karena sulit berjalan? Ya, ampun. Aku sungguh lupa. Tapi saat itu aku sadar kamu pasti memang tidak baik-baik saja. Mestinya aku pergi dan menengokmu. Tapi aku memang punya seribu alasan yang menahanku untuk tidak pergi melihatmu. Mungkin kamu tahu sekarang karena kurasa tak ada lagi yang bisa kusembunyikan darimu.

Seandainya kamu masih punya waktu, mestinya kemarin kita masih bisa berkabar. Oh, tentu saja aku punya banyak pertanyaan untukmu. Bukan pertanyaan basa-basi. Aku tak bisa benar-benar berbasa-basi padamu karena denganmu aku selalu punya banyak cerita yang bisa dibagi. Mungkin aku akan sengaja membeli nomor khusus agar bisa meneleponmu cukup panjang. Hei, kamu pernah juga kan membeli nomor dari provider tertentu agar kita mengobrol cukup lama? Aku ingat kok.

Hari ini, setelah lewat lima tahun, aku baru “berani” dan berkesempatan datang menemuimu. Sebelumnya aku membayangkan akan duduk berdua saja denganmu. Bayanganku, “rumahmu” hanya bata tertata rapi, di bawah naungan rumpun bambu. Tapi ternyata lebih bagus. Kurasa kalau kamu bisa memilih, kamu akan memilih tegel keramik yang warna biru, kan–seperti warna kesukaanmu? Tapi ternyata tegel “rumahmu” berwarna pink. Dalam hati aku tertawa. Mungkin kalau bisa berseloroh langsung padamu, aku akan bilang, “Haiyah, jebule warnane pink, Mbak! Hehe.”

Kamu memilih rumah terakhir yang syahdu, dikelilingi bambu petung yang besar-besar. Aku takjub bambu-bambu yang begitu gagah di sekeliling rumahmu. Bambu-bambu itu jauh lebih besar daripada bambu yang tumbuh tak jauh dari rumahku. Kamu masih ingat, kan?

Di rumahmu masih ada sisa bunga tabur yang sudah layu. Itu artinya belum lama ini ada yang menyambangimu. Ada yang mendoakan dan mengajakmu berbincang dalam hati. Kamu memang dikelilingi orang-orang yang mencintaimu, setiap orang seolah menyimpan ruang untuk memajang kenangan yang baik tentang dirimu.

Sebenarnya aku takut akan butuh banyak tisu saat datang mengunjungimu. Mungkin itu pula yang menahanku untuk datang berkunjung. Tapi hari ini aku mesti berbangga pada diriku sendiri bahwa aku cukup bisa menguasai diri.

Malam ini, seolah kenangan demi kenangan keluar dari kotaknya. Berserak melingkupiku. Menyergapku dengan kepungan rasa. Aku memang lupa bagaimana pertemuan-pertemuan terakhir kita. Tapi tentu saja aku ingat bagaimana kita berjalan keluar dari unit lalu naik ke kafe untuk makan siang setelah kita “mager” lalu tertidur di unit, padahal mestinya kita lebih rajin menggarap skripsi. Aku ingat kita pernah menyusuri jalan Solo, membeli klepon. Aku ingat teh hangat yang kamu buatkan. Rasanya aku pun masih ingat aroma losion yang kamu pakai setelah mandi.

Malam ini, aku teringat “pertemuan” kita tadi siang di bawah rumpun bambu. Aku tak ingin lupa, jadi aku perlu mencatatnya sedikit di sini. Aku juga sempat memotret fotomu yang dipajang di ruang tamu. Boleh kan kusimpan di sini untuk kenang-kenangan?

Mbak Tut...
Mbak Tut…

Hari ini aku merasa lega karena pada akhirnya aku bisa datang menyaksikan rumah peristirahatanmu yang terakhir. Aku perlu berterima kasih pada Mbak Rini. Tanpanya aku mungkin tak akan pernah berani datang berkunjung.

Tentu saja aku masih kangen padamu. Kusadari kini bahwa setiap rasa kangen tak selalu harus dituntaskan. Kurasa kangen itu perlu. Kangen itu menjaga kenangan agar tetap hidup di dalam hati.

Oya, selamat Natal ya. Pesta natalmu di sana pasti lebih meriah karena dalam keabadian kamu pasti telah merasakan cinta.

 

 
26 Desember 2016.
Tulisan untuk mengenang kunjungan ke makam Mbak Tutik (S. Yuni Hariastuti).

Yang Dibutuhkan Penulis

Judul ini sudah terlintas di kepalaku lama sekali. Aku mau menuliskan hal ini dari dulu, tapi urung terus.

Aku sering sekali membaca tulisan pendek tentang tips-tips untuk penulis. Misalnya, bagus kalau bisa menulis dengan gaya “show don’t tell“. Pakailah kata-kata sifat yang bisa membangkitkan emosi. Hmm… apa lagi ya? Aku lupa.

Aku rasa yang dibutuhkan penulis itu bukan (hanya) tips seperti itu. Iya, tips seperti itu memang bagus kok kalau diketahui, diingat, dan diaplikasikan dalam tulisan. Tapi aku ada hal lain yang menurutku krusial–setidaknya untukku sendiri–yaitu teman-teman yang mau membaca tulisan kita pertama kali dan memberikan masukan yang jujur. Teman-teman yang mau bilang jelek kalau tulisan kita tidak ada ide dasar yang kuat. Teman-teman yang punya kemampuan mengupas tulisan kita. Jadi, bukan hanya teman yang bilang: Ini bagus. Tapi juga teman yang bisa menjelaskan, bagusnya di sebelah mana. Atau yang mengatakan: Ini jelek, tapi sekaligus menyebutkan jeleknya itu apanya. Misalnya karakternya tidak kuat, plot twist-nya kurang nendang.

Penulis itu ibarat penjahit. Minimal bisa menjahit baju untuk dirinya sendiri. Begitu pula penulis, setidaknya dia bisa menulis untuk dirinya sendiri. Tulisan yang memang ingin dia baca dan menimbulkan rasa senang saat dia sendiri membacanya. Aku membayangkan, penjahit itu untuk mengepaskan baju mesti bercermin. Dengan demikian, dia akan tahu bagian mana yang mesti diperbaiki. Apakah lehernya terlalu rendah? Apakah bagian pinggang masih kedodoran? Apakah baju itu terlalu panjang? Begitu pun dengan tulisan. Penulis yang baik akan bisa merasakan bahwa tulisannya masih bisa dipangkas, kurang fokus, karakternya kurang kuat, dll. Tapi sering kali untuk bisa melihat kekurangan, yang bisa menunjukkan adalah orang lain. Ya, itulah gunanya teman yang bisa memberi masukan.

Aku pikir, berbahagialah penulis yang punya teman-teman yang mau memberi masukan jujur. Yang tidak hanya menyemangati dengan bilang, “Ayo terus menulis,” tetapi juga yang bisa bilang, “Ini kurang pas. Endingnya terlalu cepat, ini bisa dibuat plot twist yang keren setelah diulik bagian ini… itu…”

Dan aku berterima kasih untuk teman-temanku yang menemani dan memberi masukan ini itu untuk tulisanku. Terima kasih. Nama kalian akan selalu kusimpan di dalam hati.