Hiburan untuk Seorang Teman

Semalam aku bermobil dengan teman masa kecilku. Kami mengingat-ingat hal-hal yang silam. Dulu aku hampir setiap hari ke rumahnya. Berkat dia aku bisa baca Lima Sekawan, STOP, Candy Candy, dll. Hampir semua buku bagus masa kecil yang kubaca itu koleksinya. Gimana aku nggak demen temenan sama dia? Haha.

Semalam aku bertanya padanya: Anakmu sudah pacaran? Anaknya cewek dan sudah mau masuk SMA. Kebayang dong anak umur segitu kan sedang mulai naksir-naksiran. Dan aku penasaran pengin tahu bagaimana dia menghadapi anak remajanya itu. Tapi akhirnya kami malah nostalgia membahas cowok gebetan masa remaja. (Sekarang di mana mas ganteng yang bikin deg-deg an itu ya?)

Dia bilang, masa-masa itu adalah masa terindahnya. Aku pun merasa begitu.

Sekarang kami bertemu lagi dalam suasana yang berbeda. Semalam, saat hujan deras, aku menemani dia mengantar nasi berkat ke beberapa kerabatnya. Nasi berkat peringatan 7 hari ayahnya. Sebetulnya aku sedang tidak selo-selo amat. Tapi aku merasa perlu menemani dia. Aku merasa cuma itu yang bisa kulakukan mengingat sumbangan uang yang kuberikan padanya tidak banyak. Waktu ayahnya sakit aku tidak sempat bezuk, dan tahu-tahu dikabari ayahnya sudah meninggal.

Di antara tawanya yang renyah mengingat masa lalu kami dan kendati beberapa kali mengatakan bahwa ayahnya sudah bahagia, dia beberapa kali mengatakan bahwa dia sekarang sudah tidak punya papa lagi. Aku merasa tidak bisa memberikan hiburan yang sepantasnya dan secukupnya. Apakah cerita nostalgia kami itu cukup menghibur?

Kepada semua orang dia menyebutku sahabat masa kecilnya. Bagiku, istilah sahabat itu lebih dari sekadar teman. Ya, kami cukup dekat dulu. Tapi seiring berjalannya waktu, ada masa kami jauh dan tak berkabar. Ketika ayahnya berpulang kemarin, aku merasa tidak banyak membantu. Sahabat macam apa aku ini? Jadi, ketika dia mengajakku supaya menemani mengantar nasi berkat, aku langsung mengiyakan. Setidaknya aku punya waktu untuk menemaninya sebentar.

Aku berjanji berdoa buat dia. Semoga ini bisa jadi hiburan.

Advertisements

Hidup Impian vs Pekerjaan Impian

Kemarin aku ketemu teman lama. Dia menjelaskan sebuah bisnis kepadaku yang pada intinya dia menawariku ikut MLM. Ini soal hidup impian, katanya. “Mungkin kamu punya pekerjaan impian saat ini, tapi mungkin hidup yang kamu impikan belum tercapai.”

Ucapannya itu seperti sebuah tamparan. Mungkin lugasnya demikian: “Pekerjaanmu memang terdengar keren dan menarik. Tapi kalau kulihat-lihat, kayaknya kok kamu nggak kaya-kaya?”

Aku pernah sampai pada titik memiliki pekerjaan impian. Tapi entah kenapa ya, ketika sampai pada titik itu, aku tidak bisa mengelak dari rasa jenuh. Aku sempat mempertanyakan apa manfaat positif hasil kerjaku untuk orang lain. Ada buku-buku yang ketika kukerjakan itu membuatku terus bertanya-tanya, “Kenapa aku mengerjakan ini? Apakah ini membuat hidup orang lain berubah?”

Kupikir-pikir, aku butuh mengetahui bahwa apa yang kukerjakan membawa dampak positif pada orang lain. Dampak positif itu tidak sekadar perasaan senang, tetapi hasil pekerjaanku itu benar-benar membantu. Misalnya, tentu berbeda ketika seseorang membuat kerupuk dari tepung, pewarna buatan, dan tambahan micin dibanding ketika seseorang membuat kerupuk dari tepung non gluten, tanpa pewarna buatan, tanpa tambahan perasa. Sama-sama kerupuk, tetapi beda segmen. Beda dampaknya.

Aku kadang merasa yang kukerjakan itu biasa-biasa saja. Selama ini aku menerjemahkan buku atau artikel; memenuhi pesanan tulisan artikel. Namun, setelah aku coba-coba menulis cerita anak, aku merasa kok lain ya? Misalnya ketika aku tahu buku yang kutulis itu bisa membantu seorang anak belajar membaca, penasaran dan ingin membuat masakan seperti yang ada di bukuku, aku merasa hal ini sangat menyenangkan dan memuaskan. Namun, menulis buku anak sayangnya tidak bisa kukerjakan dengan cepat. Aku selalu lama memikirkan ide, karakter, objektif, dan segala printilan tulisan.

Balik lagi ke soal pekerjaan impian vs hidup impian tadi. Aku pikir, aku tidak bisa menikmati hidup impian jika aku tidak memiliki pekerjaan impian yang memuaskan dan menyenangkan. Sulit buatku untuk mengerjakan sesuatu yang tidak bisa kunikmati dan semata-mata tujuannya adalah uang. Mungkin ada yang bilang, kan nggak melulu uang. Iya memang, tapi sayangnya iming-iming yang ditawarkan di awal adalah materi yang berlimpah.

Mungkin aku naif kalau bilang nggak butuh uang. Aku cuma merasa aku belum melihat apa perlunya aku bergabung dalam bisnis itu. Katakanlah itu sambilan, aku kok nggak percaya ya. Dari pengalamanku selama ini, yang memberikan hasil terbaik adalah jika dikerjakan secara fokus. Nggak disambi-sambi. Aku pikir, saat ini aku memutuskan untuk berkata tidak pada bisnis tersebut. Entah kalau nanti.

Dan satu hal yang kusayangkan dan membuatku bertanya-tanya: Kenapa ya kalau teman lama mengajak bertemu, ada saja yang lalu menawari bisnis MLM? Aku tidak sering mengalaminya, tetapi hal seperti ini tidak terlalu menyenangkan buatku. Kamu pernah mengalami hal yang sama?

Teman Pada Suatu Masa

Aku menemukan permenungan di bawah ini pada sebuah blog.

Reason, Season, or Lifetime

People come into your life for a reason, a season or a lifetime.
When you figure out which one it is,
you will know what to do for each person.

When someone is in your life for a REASON,
it is usually to meet a need you have expressed.
They have come to assist you through a difficulty;
to provide you with guidance and support;
to aid you physically, emotionally or spiritually.
They may seem like a godsend, and they are.
They are there for the reason you need them to be.
Then, without any wrongdoing on your part or at an inconvenient time,
this person will say or do something to bring the relationship to an end.
Sometimes they die. Sometimes they walk away.
Sometimes they act up and force you to take a stand.
What we must realize is that our need has been met, our desire fulfilled; their work is done.
The prayer you sent up has been answered and now it is time to move on.

Some people come into your life for a SEASON,
because your turn has come to share, grow or learn.
They bring you an experience of peace or make you laugh.
They may teach you something you have never done.
They usually give you an unbelievable amount of joy.
Believe it. It is real. But only for a season.

LIFETIME relationships teach you lifetime lessons;
things you must build upon in order to have a solid emotional foundation.
Your job is to accept the lesson, love the person, and put what you have learned to use
in all other relationships and areas of your life.
It is said that love is blind but friendship is clairvoyant.

Diambil dari: Acts of Faith by Iyanla Vanzant.

Lalu aku teringat pada hal yang kurenungkan akhir-akhir ini. Ada teman yang pindah ke kota lain. Ada teman yang mulai jarang ketemu. Aku merasa setiap pribadi yang kujumpai itu datang dan menemaniku pada masa tertentu. Misalnya, ketika aku di asrama, aku bertemu Mbak Tutik. Dia bahkan menemaniku sampai aku bekerja. Dia sempat tinggal di rumahku, lalu akhirnya dia pindah ke kota lain, dan akhirnya dia pindah ke “dunia lain” lebih dulu.

Ada suatu masa ketika aku sulit menerima kepergian teman-teman–terutama teman-teman yang dulunya hampir setiap hari ketemu, beraktivitas bersama, lalu karena pindah kota atau pindah pekerjaan akhirnya kami berpisah. Ada kalanya timbul perasaan ditinggalkan.

Namun, sekarang kurasa… memang begitulah hidup. Ada kalanya aku harus menggenggam, ada kalanya aku harus membuka tangan untuk melepaskan. Ketika menggenggam, awalnya aku ragu. Aku lebih banyak mengamati dan berusaha tidak tergesa-gesa. Lalu ketika akhirnya harus melepaskan, aku baru menyadari genggaman itu terasa kuat sehingga benar-benar kehilangan.

Yah, begitulah hidup.

Aku lalu teringat obrolan dengan seorang teman yang punya kemampuan menolong arwah supaya menemukan “jalan pulang”. Saat seseorang meninggal, kadang jalannya terhambat. Yang menghambat adalah jika ada yang belum dilepaskan, belum dimaafkan/memaafkan, atau ada yang belum ikhlas dia pergi. Ternyata melepaskan itu penting. Pada akhirnya hidup adalah soal menerima dan memberi; menggenggam dan melepaskan. Hidup itu mestinya ikhlas, penuh cinta, dan bersedia mengampuni setiap saat.

Teh Mint

“Lasti, kamu masih punya teh?” Kudengar suara serak di seberang telepon.

“Ke sini aja,” jawabku singkat.

Tak sampai lima menit Aning telah muncul di dapur. Matanya merah, mukanya sedikit pucat.

“Kamu flu?” Mestinya aku tak perlu bertanya.

Aning mengangguk.

Aku segera menuang air panas ke cangkir lalu kucelupkan satu kantong teh.

“Itu teh yang dikirim Lani kemarin kan, Las?” suara Aning terdengar semakin serak. Sengau pula.

Ganti aku yang mengangguk. “Cuma teh Lani yang enak,” kataku.

“Benar. Biasanya pagi-pagi begini, kita ngumpul bertiga sambil minum teh di rumah Lani, ya.”

Serempak kami menoleh ke rumah depan yang kosong.

“Itu kan alasan supaya ada yang mengasuh bayinya sebentar,” kataku. Kami tertawa bersama. “Nih, semoga seenak buatan Lani,” aku menyorongkan secangkir teh kepada Aning.

“Hmm… wangi.” Aning menghirup teh sambil terpejam. “Sayangnya cuma satu yang kurang.”

“Apa?” tanyaku cepat.

“Daun mint!”

Cuma Lani yang selalu berhasil menanam mint. Dan teh mint jadi minuman andalannya.

“Coba ada Lani, ya,” suara serak Aning seperti membentur cangkir.

Aku terdiam. Sejak rumah depan itu kosong, seperti ada yang kosong pula dalam hatiku.

 

Kling…

Ding…

 

Suara ponsel kami berbunyi bersamaan. Kami bersamaan melirik ke ponsel. Muncul foto dan pesan di bawah nama Lani:

“Tanpa kalian minum teh mint rasanya ada yang kurang deh…”

“Haha!” Seketika wajah Aning sumringah.

“Kangen juga dia,” sahutku.

Malaikat Pamomong dan Sowan “Ibuk”

Ketika masih kecil dulu, aku belum punya jam beker. Aku baru punya jam beker itu ketika SMP. Pemberian. Sepertinya bukan kado ulang tahun atau peristiwa penting. Tapi aku lupa. Yang jelas, jam beker itu masih kupakai sampai sekarang. Pernah rusak sekali, tapi diperbaiki dan bisa berjalan lagi sampai sekarang. Awet ya.  Aku suka sekali dengan jam beker itu.

Ketika belum punya jam beker, sesekali aku mesti bangun pagi-pagi banget kalau aku harus mengikuti suatu kegiatan atau acara. Misalnya, mau berangkat darmawisata dan naik bus pagi-pagi. Malamnya aku biasanya mbanyaki dan takut kalau bangun kesiangan. Ibuk dan Bapak biasanya akan ngayem-ngayemi dan bilang akan membangunkanku. Tapi namanya tukang mbanyaki dan mbingungi, aku tetap cemas. Kalau aku ketinggalan bus gimana? Biasanya Ibuk lalu bilang ke aku begini: “Minta sama malaikat pamomong supaya membangunkan kamu jam 4.” Agak tidak percaya, tapi tetap kulakukan.

Dan berhasil!

Selalu berhasil seingatku. Aku selalu bangun persis atau kira-kira kurang 5 menit dari waktu yang kuminta.

Kemarin aku bertemu teman lama. Ngobrol ngalor ngidul. Panjang kali lebar. Ngobrol sama dia enaknya tidak dihakimi–bahwa aku mesti begini, begitu. Tidak saling mengunggulkan bahwa aku sudah begini, kamu pun mestinya juga sudah mencapai ini dan itu. Sebenarnya aku berangkat menemui dia dalam kondisi tidak fit. Hidung meler dan tenggorokan sudah berteriak-teriak karena hampir radang. Tapi pas mengobrol dengannya, aku seperti mendapat energi cukup positif sehingga bisa duduk beberapa jam untuk saling mendengarkan.

Lalu sampailah kami pada suatu obrolan lama tentang “unfinished business” dengan beberapa orang di masa lalu dan masa sekarang. Salah satu saran darinya mengingatkanku pada pesan ibuku: “Cobalah ajak bicara sang malaikat pelindung—alias malaikat pamomong. Ajak bicara dalam tataran jiwa.”

Haish! Berat amat ya.

Pengalaman dibangunkan pagi-pagi dulu membuatku percaya bahwa malaikat pelindung itu ada dan kita bisa minta tolong kepadanya. Entah bagaimana teorinya, tapi aku mau mencoba. Setidaknya, obrolan kami kemarin mengingatkanku untuk lebih banyak berdoa–hal yang akhir-akhir ini rada mbleret dan mbuh ra karuan.

Jadi, ya… aku mau coba memulai lagi sesuatu yang sudah lama kutinggalkan. Plus mau sowan Ibuk Maria lagi–yang pasti cuma geleng-geleng kepala melihatku yang masih begitu-begitu saja.

Sancta Maria, Mater Dei, ora pro nobis peccatoribus, nunc et in hora mortis nostrae.

 

Perubahan

Beberapa waktu ini aku di-add di grup WA SMP. Grup itu cukup ramai. Yang kurasakan dari grup itu adalah seperti berada di kelas pada jam kosong. Ruamee. Kalau kata guruku dulu, ramainya seperti di pasar. Selain itu aku merasa, teman-temanku kok nggak terlalu banyak berubah, ya? Gayanya sewaktu chatting, sama seperti gayanya mengobrol zaman SMP dulu. Sekarang hanya lebih saru aja. 😀 😀

Aku kadang berpikir, apakah aku juga sebenarnya tidak terlalu banyak berubah?

Secara fisik aku pasti berubah. Semua orang pun begitu. Dari muda menjadi tua. Keriput, beruban, mungkin ditambah sakit encok atau sakit-sakit lain. Namun, apakah batin kita berubah? Ketika masuk grup WA teman-teman SMP, aku merasa kebanyakan sepertinya tidak berubah. Yang mereka sampaikan di grup dan gaya chattingan mereka sepertinya tidak terlalu berubah. Walau misalnya ada yang pindah agama, tapi aku merasa perubahannya tidak terlalu drastis–setidaknya soal cara berpikir, ya. Kalaupun berubah, rasanya “seperti bisa ditebak”. Bukan seperti twist akhir cerita yang mengejutkan. Kalau baju, ada yang berubah sih. Tapi hidup kurasa tidak hanya soal perubahan baju atau tampilan fisik.

Aku tak yakin diriku banyak berubah. Ini baik atau buruk? Entah. Kurasa begitu pula dengan banyak orang di sekitarku. Hal ini agak menenteramkan karena ketika aku hendak bertemu teman lama, kadang aku khawatir jika orang itu berubah dan perubahannya menjauhkan kami. Kalaupun berubah, mungkin sebenarnya perubahan itu menunjukkan jati diri yang sebenarnya.

Teman Unik dan Kebetulan

Sudah tanggal 4 Januari. Aku terlambat memenuhi kebiasaanku untuk menulis di blog ini setiap tanggal 3 Januari. Baiklah, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Tanggal 1 kemarin aku bertemu dengan teman lama, Ayung. Dulu kami seasrama. Sebenarnya agak unik pertemanan kami. Semasa di asrama, aku tidak terlalu dekat. Tidak pernah satu unit. Biasa saja.

Aku mulai sering berkontak dengannya saat tahun-tahun terakhir aku tinggal di Jakarta. Rumahnya dan kontrakanku tidak terlalu jauh. Naik angkot dua kali kalau tidak salah. Plus jalan kaki sedikit. Beberapa kali kami ketemu untuk makan dan ngobrol ngalor ngidul cukup lama. Dari obrolan itu aku tahu bahwa ternyata adiknya adalah mahasiswa kakakku. Dia pun bercerita punya kakak yang tinggal di Jogja. Tapi aku belum kenal kakaknya waktu itu.

Waktu aku pindah ke Jogja, aku mulai berkontak kembali dengan beberapa teman lamaku. Dari kontak-kontakan itu, aku akhirnya terhubung dengan kakaknya Ayung. Dan, tak hanya itu, suamiku, sekarang jadi guru (informal) anak-anak kakaknya Ayung. Anak-anak itu homeschooling, dan suamiku membantu mereka belajar matematika plus plus. Plus main boardgame, plus baca buku, plus mancing ikan. Macam-macam deh. Kalau dibilang guru, rasanya kok tidak “guru banget”. Menurutku sih, ya. Seperti teman bermain sambil belajar.

Sewaktu mengobrol kemarin, aku dan Ayung merasa lucu menyaksikan kebetulan-kebetulan di antara kami itu. Sepertinya keluargaku dan keluarganya terkait hubungan guru dan murid. “Jangan-jangan di kehidupan kita yang dulu, kita punya hubungan apa gitu, ya?” kata Ayung. Haha. Aku hanya tertawa. Mungkin juga. Semuanya seperti kebetulan. Tidak terencana.

Aku merasa pertemanan kami unik. Semoga tetap unik. 😉