Have A Little Faith: Kisah Hebat Dua Orang Sederhana

Rasanya aku sudah agak terlambat mendapatkan buku ini. Sebenarnya aku sudah lama melihatnya dipajang di rak toko buku, tetapi aku selalu menunda membelinya. Kupikir aku akan mudah mendapatkannya. Tapi dugaanku keliru. Entah aku yang kurang teliti mencarinya di sela-sela buku, entah memang buku ini habis di toko, aku baru mendapatkan buku tulisan Mitch Albom ini dua tahun kemudian sejak dicetak untuk pertama kalinya dalam edisi bahasa Indonesia.

Aku kenal tulisan Mitch Albom yang pertama lewat bukunya Tuesday With Morrie (Selasa Bersama Morrie). Kakakku yang pertama kali membawa buku ini kepadaku. Dia bilang, buku ini bagus banget. Memang ada dua orang yang bisa benar-benar membujukku membaca buku tertentu: kakakku dan suamiku. Jadi, aku percaya saja waktu dia berkata begitu. Sejak mengenal Mitch dalam kisahnya tentang profesornya, Morrie, aku jadi membeli buku-buku Mitch yang terbit kemudian. Terakhir buku Have A Little Faith (Sadarlah) inilah yang kubeli kira-kira seminggu yang lalu.

Aku agak lama membaca buku ini. Pelan-pelan; karena aku takut buku ini cepat habis kubaca dalam sekejap. Buku setebal kira-kira 270 halaman ini sebenarnya kalau aku tidak ingat punya cucian kotor, terjemahan, dan mesti memasak serta nyapu-ngepel, bisa selesai yaaa 2 hari lah. Selain itu, entah kenapa ya, aku justru suka memelankan kecepatan bacaku kalau aku merasa buku tersebut menarik dan bisa membenamkanku.

Dan, sore ini aku selesai membacanya–dengan diiringi air mata. Huh, cengeng memang aku ini. Nonton film anak-anak yang lucu macam Totoro saja aku sempet mewek kok, apalagi baca Have A Little Faith. 😀 😀 Sebenarnya yang membuatku menangis adalah mengingat buku ini mengangkat kisah nyata.

Dalam Have A Little Faith ini Mitch bercerita tentang Reb–Rabi Albert Lewis–dan seorang pendeta Henry Covington. Awalnya, Mitch diminta sang Reb untuk menyampaikan eulogi saat beliau meninggal. Mitch adalah seorang Yahudi, dibesarkan dalam tradisi Yahudi, tetapi dia akhirnya menikah dengan perempuan Kristen. Well, aku kurang tahu seperti apakah persisnya agama Yahudi itu dan bagaimana masyarakat di barat (Amerika) memandangnya. Tapi kalau kubaca dari buku ini, rasanya di barat (Amerika) semacam ada sinisme terhadap orang Yahudi. Yah, barangkali semacam pertentangan antar agama lah kalau di sini. Mungkin lo, ya. Tapi barangkali aku keliru. Mitch sendiri dalam perjalanannya menjadi manusia dewasa memiliki sinisme terhadap orang-orang beragama. Dia sendiri mengaku bahwa ketika ia masih kecil dan harus mengikuti pelajaran agama di sinagoga, dia merasa ingin lari dari Reb.

Awalnya aku mengira Reb ini orang yang tegas banget, kaku, dan kurang menyenangkan. Aku berpikir begitu karena kok Mitch ini pengennya lari melulu dari Reb. Tapi semakin ke sini, aku melihat kebalikannya. Aku merasa, Reb ini baiiiik banget. Aku bertanya-tanya dalam hati, “Ah, tokoh di buku kan memang suka dilebih-lebihkan. Mana ada orang yang baik banget?” Tapi aku beberapa kali mengingatkan diriku sendiri bahwa tokoh Reb ini memang pernah hidup. Namanya juga kisah nyata kan?

Jadi, untuk bisa menyampaikan eulogi saat Reb meninggal, Mitch akhirnya berusaha mengenal diri Reb dengan baik–selama delapan tahun terakhir hidup Reb. Mereka bersahabat. Barangkali seperti guru dan murid relasi mereka. Guru dan murid yang dekat. Dari kedekatan mereka itulah Mitch mengisahkan nilai-nilai yang dipegang Reb: soal kesederhanaan, menghormati orang lain yang punya keyakinan berbeda, mengasihi. Semua itu tak hanya dikhotbahkan Reb, tetapi dijalaninya dengan setia. Tampaknya mudah dan sederhana ya? Tapi kalau membaca detailnya, aku seperti malu sendiri. Beneran. Salah satunya tentang relasi Reb dan Teela Singh. Teela ini adalah perawat kesehatan Reb sekaligus teman belanjanya Ketika berkendara untuk ke sebuah tempat perbelanjaan, Teela biasa menyetel musik rohani Hindu dan Reb menikmatinya serta meminta syair lagu itu diterjemahkan untuknya. Teela biasanya akan menjelaskan soal reinkarnasi berkaitan dengan pandangannya. Reb kemudian akan mengajukan beberapa pertanyaan, lalu minta maaf karena tidak memahami banyak soal agama Hindu (hal. 169). Di situ terlihat Reb sangat menghargai keyakinan agama lain, dan dia tidak memaksakan orang lain menganut keyakinan seperti dirinya.

Sedikit berbeda dengan kisah Reb, kisah Henry Covington–seorang pendeta dari gereja I Am My Brother’s Keeper–dimulai dari masa muda Henry yang terlibat dalam banyak kejahatan. Dia pernah mengedarkan narkoba, merampok, dan berbagai kejahatan lain semata-mata demi mendapatkan banyak uang. Ia sempat masuk penjara, lalu kembali lagi ke dunia hitam. Tapi suatu peristiwa, setelah merampok bandar narkoba, ia lalu sadar. Bahasa rohaninya: bertobat. Kalau aku bilang sih, ia bertobat 100%. Ia meninggalkan kehidupan lamanya, lalu melayani para tunawisma. Ia lalu menjadi pendeta di gereja I Am My Brother’s Keeper tersebut. Agak panjang sebenarnya cerita lengkapnya (jadi, baca bukunya saja deh untuk lebih jelasnya). Banyak tunawisma yang diselamatkan oleh Henry. Ia memberi mereka tumpangan, pakaian, makanan. Padahal saat itu Henry juga kondisinya miskin. Tapi entah bagaimana, dia bisa saja memberikan diri untuk melayani para gelandangan itu.

Buku ini penuturannya mengalir. Ceritanya berganti-ganti, pertama cerita Reb, lalu cerita tentang Henry. Ceritanya banyak memasukkan percakapan. Yang menarik sebenarnya, dua orang itu–Reb dan Henry–tidak hanya bicara dan berkhotbah di atas mimbar, tetapi mereka menjalani hidup sesuai dengan keyakinan mereka, dan hal itu memberikan dampak yang luar biasa terhadap orang-orang di sekeliling mereka. Barangkali, seperti itulah kasih yang tulus. Dan satu hal lagi yang menurutku “hebat” adalah, keduanya sama sekali tidak pernah membujuk orang untuk berganti keyakinan. Tapi dari kehidupan mereka sendiri, aku yakin banyak orang yang akhirnya terpesona dengan keyakinan mereka. Juga, keduanya tak memiliki kebencian. Aku membayangkan, hidup Henry yang melayani para tunawisma itu pasti tidak mudah. Begitu pula Reb sebagai orang Yahudi, kurasa banyak orang yang memiliki praduga tidak mengenakkan terhadap dirinya. Tapi, mereka tidak membenci siapa pun. Heran deh. Setidaknya begitu yang ditulis oleh Mitch dalam buku ini.

Dan, ketika di akhir buku ini dikisahkan Reb meninggal. Hiks hiks … nangis deh aku. Rasanya seperti ikut kehilangan. Lebay ya? Hihi. Mungkin kalau dua tokoh ini hanya rekaan seperti halnya dalam buku fiksi, aku tidak akan begitu terpukau. Masalahnya, dua orang ini ada betulan (Henry masih hidup, sedangkan Reb sudah meninggal).

Buku ini membagikan banyak hal berkenaan tentang hidup dan spiritualitas. Kalau kubilang, pantas untuk dapat empat bintang (dari total lima bintang). Benar-benar memperkaya wawasan soal hidup; soal relasi dengan orang-orang di sekeliling kita.

Hmm, ngomong-ngomong buku terakhir apa yang kamu baca? Menarikkah?

Data buku:

Judul bahasa Inggris: Have A Little Faith
Judul bahasa Indonesia: Sadarlah
Sub judul: Sebuah kisah nyata tentang perjalanan iman untuk menemukan tujuan hidup
Penulis: Mitch Albom
Terbit dalam bahasa Indonesia: November 2009 (cetakan pertama)
Alih bahasa: Rani R. Moediarta
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Bukan Tradisi Lagi

“Sudah pasang pohon Natal?” tanya temanku lewat YM.

“Belum. Eh, enggak ding.”

“Kok enggak?”

“Iya, sudah lama nggak pasang pohon Natal.”

Sebenarnya memasang pohon Natal itu mengasyikkan. Pernik-perniknya yang mungil dan indah menimbulkan kegembiraan tersendiri saat memasangnya. Tapi aku dan keluargaku sudah lama menghilangkan tradisi memasang pohon Natal.

Aku tak ingat kapan mulanya tradisi itu hilang. Mungkin saat kakakku sudah bersekolah di luar kota. Dulunya sih, kami selalu memasangnya. Kebetulan di depan rumah ada pohon cemara. Jadi, kami memotong sebuah dahannya, dan memasangnya di sebuah pot besar di dalam rumah. Baunya khas sekali. Bau cemara. Wangi. Lalu, Bapak akan mengeluarkan kardus yang berisi hiasan Natal. Tak banyak yang kami miliki, hanya rumbai-rumbai dan lampu kelap-kelip. Kadang aku pengin juga punya pohon Natal plastik, seperti yang dimiliki oleh kebanyakan orang. Tetapi Ibu bilang, pohon Natal kami sudah cantik. Asli. Kalau yang lain kan buatan, begitu alasannya. Tapi memang pohon Natal dari plastik itu cukup mahal untuk ukuran kami waktu itu.

Dulu selain memasang pohon Natal, kami juga suka membuat gua Natal dari kertas sak semen. Kertas sak semen itu lalu dibentuk dan dicat cokelat serta kehijauan. Jadilah gua Natal. Sempat juga dulu Bapak membuat salju-saljuan dari sabun. Aku lupa campurannya. Yang kuingat hanyalah keasyikan dan kegembiraan saat membuatnya.

Sekarang, kami tidak membuat gua dan pohon Natal lagi. Entah ya, aku sendiri merasa hal semacam itu tidak perlu. Selain itu, beberapa tradisi lain seperti membeli baju baru pun sudah tak kami ikuti lagi. Aku merasa, Natal itu yang penting adalah bersama keluarga; bersama Bapak, Ibu, dan keluarga kakakku.

Namun, kurasa ada satu hal yang perlu aku lakukan menjelang Natal: membersihkan hati. Ini yang mungkin lebih sulit. Hidup di zaman yang serbacepat dan banyak tuntutan ini kerap kali membuat hatiku dipenuhi hal-hal yang tidak perlu.

Natal kurang dua minggu lagi. Semoga aku lebih bisa menyiapkan hati.

Di Balik Pasar Pagi

Ini sebenarnya kejadian biasa. Hal rutin. Aku ke pasar, lalu menuju ke beberapa penjual yang sudah menjadi langgananku: bapak penjual tahu di dekat penjual ikan, bapak penjual tempe, mbak penjual kentang, bumbu dapur, buncis, tomat, dan jeruk nipis, mbak penjual sayur yang dengan lincahnya meladeni pembeli, dan ibu setengah baya yang kadang menjual daun ubi. Hanya itu-itu saja yang biasanya aku datangi. Lainnya jarang. Hampir tak pernah malahan.

Entah kenapa aku belakangan ini teringat pada orang-orang ini. Aku bertanya-tanya, apa ya sebenarnya impian dalam hidup mereka? Apakah pekerjaan yang selama ini mereka jalani ini adalah pekerjaan yang mereka rindukan, mereka impikan? Jika tidak, betapa kuat semangat yang mereka pompakan dalam diri mereka sendiri sehingga mampu melayani orang-orang di sekitar kompleks tempat tinggalku ini. Mereka pasti sudah bangun ketika kebanyakan orang masih menikmati tidur, lalu bersiap-siap untuk berjualan di pasar. Bukan hal yang mudah kurasa, dan entah apakah pekerjaan semacam ini diinginkan oleh banyak orang.

Aku baru kira-kira setahun menjadi pengunjung tetap pasar pagi tersebut. Itu pun tidak setiap hari aku ke sana. Mungkin seminggu dua kali, kadang tiga kali. Aku merasa terbantu dengan kehadiran mereka karena mereka selalu menyajikan sayuran segar dan bahan makanan dengan harga yang relatif lebih murah dibandingkan toko swalayan. Walaupun tidak betul-betul kenal, aku merasa mereka bukan lagi orang yang asing. Mereka memang bukan seperti teman kantor yang duduk di bangku sebelahmu, bukan pula teman diskusi, bukan teman yang kauajak janjian di mal untuk belanja. Komunikasiku dengan mereka hanya singkat. Biasanya hanya seputar pertanyaan sayur ini berapa seikat, permintaan untuk dibungkuskan beberapa macam bumbu, dan semacam itu saja. Namun, pernah pula tiba-tiba pundakku dicolek dari belakang. Rupanya mbak penjual kentang. Ah, tadinya aku memang ingin mampir ke lapaknya, tetapi dia tak ada. Maka aku pindah ke penjual lain. Usai bertransaksi dengan penjual lain itu, aku lalu mampir ke lapaknya. Sebenarnya aku tak ingin membeli apa-apa, tetapi karena dia menyapaku, ya kupikir tak apa jika aku sekadar membeli daun bawang dan seledri darinya. Buat persediaan saja. Waktu kami bertransaksi, dia berkata, “Tadi ke sini ya?”

“Iya, tapi Mbak nggak ada,” jawabku.

“Tadi saya pulang sebentar.”

“Oh, begitu. ”

Rasanya itu adalah percakapan terpanjang yang pernah aku lakukan dengan si mbak. Jujur saja, aku terkejut waktu dia menyapaku. Aku bukan pembeli borongan, paling-paling yang banyak kubeli darinya adalah kentang. Sudah. Itu saja. Itu pun jarang-jarang.

Kembali aku malam ini bertanya-tanya, sebenarnya apa ya mimpi terdalam para penjual di pasar pagi itu? Setiap kali ke pasar, aku selalu melihat semangat yang mereka pancarkan. Aku yakin, mereka pasti lelah bekerja seperti itu. Mungkin mereka pun harus memutar otak untuk mengimbangi naik turunnya harga-harga sayuran dan bahan makanan lainnya. Tapi toh aku belum pernah dilayani dengan lesu oleh mereka. Semangat mereka itu sedikit banyak tertular kepadaku. Kehadiran mereka mungkin seperti mur atau baut kecil dalam kendaraan bernama kehidupan ini. Jika mereka tak ada, sudah ada ratusan toko swalayan yang menjual sayuran segar dan bumbu dapur. Mereka tampil dengan sederhana, menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan keluarga-keluarga di sini. Bagiku mereka itu istimewa.

Cihapit (Antara Pasar Sampai Selai Kacang)

Melanjutkan cerita perjalananku ke Bandung, aku mau bercerita sedikit tentang salah satu pojok Bandung yang kukangeni.

Sebenarnya aku tidak terlalu akrab dengan kota ini. Seingatku, aku pertama kali ke Bandung waktu masih TK, waktu omku menikah dulu. Lalu kedua waktu SMA ada acara darmawisata. Lalu ketiga waktu masih kerja kantoran dulu, aku dan beberapa orang teman mengikuti sebuah acara di Bandung.

Dari ketiga kunjunganku itu, tidak terlalu banyak kesan mendalam dengan kota ini. Waktu masih kecil ke Bandung, aku cuma ingat kami menginap di Lembang. Seingatku ada banyak pepohonan di kiri kanan tempat penginapan kami. Dan oiya, aku sakit di sana. Lupa deh sakit apa, tapi aku ingat disuntik. Sakiiit! Waktu SMA, kami ramai-ramai menginap di gelanggang olahraga (kalau tak salah ingat sih). Dekat BIP deh, pokoknya. Jadi, setiap sore banyak tuh yang jalan-jalan ke BIP. Kesannya? Seneng-seneng aja sih. Namanya juga pergi bareng teman-teman. Kalau ke Bandung saat kerja kantoran dulu, yaa .. so far so good lah. Tapi jujur saja, aku waktu itu belum menemukan tempat yang benar-benar asyik.

Nah, waktu sudah menikah, suamiku punya teman di Bandung. Rumahnya di sekitar jalan Riau, dekat Cihapit. Rumah temannya itu menempel dengan sebuah penginapan. Kadang aku dan suamiku menginap di sana. Awalnya kami kalau sarapan pesan di penginapan tersebut. Tapi suatu kali aku dan suamiku iseng pagi-pagi jalan ke Pasar Cihapit. Ternyata, di sana banyak penjual makanan. Seingatku ada tahu petis, lalu ada kedai yang menjual nasi bogana, nasi kuning, dan beberapa jenis nasi plus lauknya. Harganya tidak terlalu mahal menurutku. Rasanya pun lumayan. Jadi, ini adalah alternatif untuk sarapan.

Lalu aku iseng-iseng pula masuk ke dalam pasar. Bayanganku, pasar ini seperti layaknya pasar tradisional yang lain: jorok dan tidak rapi. Tapi, bayanganku salah. Pasar ini bersih. Bener deh. Sayuran dan bahan makanan ditata rapi, dan membuatku pengen belanja. 🙂 Tapi buat apa belanja? Kan cuma menginap dua malam di Bandung, makan pun kami beli. Tak perlu belanja kan? Di sekitar pasar, ada toko jadul. Namanya P & D Tjihapit. Toko ini menjual bermacam-macam bahan makanan dan barang-barang kebutuhan sehari-hari. Nah, kemarin kami mampir ke sana. Niatnya sebenarnya pengen cari Kopi Aroma. Dulu seingatku toko ini menjualnya (jadi tidak perlu ke pabriknya). Tapi waktu ke sana, ternyata habis. Selain itu, aku biasanya beli juga Teh Upet. Ini teh lokal yang enak, menurutku sih. Tapi karena di rumah masih banyak persediaan teh, waktu kami ke sana dua minggu lalu, kami tidak beli.

Toko P & D Tjihapit. Dari papannya saja sudah kelihatan kalau jadul kan? 🙂

Waktu sedang melihat-lihat barang-barang yang dijual, kami berpapasan dengan seorang bapak-bapak. Seorang pelayan sedang melayaninya; mencedok semacam krim warna cokelat dari sebuah ember. Melihat kami penasaran, dia lalu menjelaskan, “Ini selai kacang.” Wah, kalau yang ini aku baru tahu. “Ini lebih enak dari selai kacang kemasan, harganya juga lebih murah.” Aku makin penasaran deh. Apalagi suamiku yang memang suka banget selai kacang. Sekilo harganya 26 ribu rupiah. Kalau selai kacang kemasan yang ada di pasaran sekitar 40 ribu satu toplesnya (jelas tidak sampai sekilo dong, mungkin sekitar 500gr). Lalu kami mencoba beli 1/2 kilo. Rasanya pun enak kok.

Di simpang dekat pasar, ada sebuah gerobak yang cukup ramai dikerubuti pembeli. Di sisi luar tertulis Surabi Cihapit. Kami pun ikut antri. Memang sejak pertama kali membelinya dulu, aku cocok dengan rasanya. Sepertinya surabi ini terbuat dari tepung beras. Adonannya lalu dipanggang di cetakan yang cekung (seperti pemanggang apem, tetapi lebih cekung lagi). Surabi ini bisa beli paketan, ada yang paket manis, ada yang asin (gurih). Bisa pula gabungan keduanya. Terakhir aku ke sana, paket manis dan asin harganya 25 ribu rupiah. Aku paling suka surabi oncom telor. Surabi ini lumayan besar, jadi cukup mengenyangkan kalau untuk sarapan.

Aku belum menjelajah sisi-sisi Bandung lebih banyak lagi. Tapi bagiku Cihapit adalah tempat yang wajib kukunjungi saat ke sana. Kasih info dong, mana lagi sisi Bandung yang menarik? Asal jangan mal atau FO, ya. 😉