Jejak Cerita Lama

Kupikir dulu pandemi akan berakhir dalam hitungan 2-3 bulan saja. Semua akan berjalan baik-baik saja tanpa ada sesuatu yang berarti. Optimis sekali aku saat itu. Memang ada kekhawatiran, tetapi rasanya tidak perlu membesar-besarkan ketakutan.

Bulan berganti menjadi tahun. Lalu muncul berita si A sakit, si B harus isolasi, si C tidak bisa pulang, dsb. Tapi waktu itu si A, B, C itu orang jauh yang tak kukenal. Makin lama, mulai ada kenalanku yang terkena covid dan dampaknya. Awalnya hanya kenalan, selanjutnya orang yang kukenal baik. Rasanya setiap hari perlu mengabsen dan saling kabar untuk memastikan bahwa teman-teman, keluarga, dan orang-orang yang menempati tempat khusus di hatiku baik-baik saja. Sayangnya kenyataan kadang tidak demikian.

Kemarin beberapa teman mengabarkan kepergian seorang bapak. Sebut saja Pak SD. Mendengar berita itu lalu berkelebat-kelebat muncul di kepalaku ingatan beberapa dekade silam tentang sosok lelaki muda, usia SMA. Wajahnya sedikit panjang, dagunya lancip. Rambutnya lurus, rapi, belah samping. Matanya sedikit sipit, dan belakangan kuketahui dia memakai kacamata. Bibirnya lebar, tipis, dan mudah sekali tersenyum. Aku masih ingat betul garis wajahnya.

Dia selalu tampil rapi setiap misa–bahkan untuk misa harian. Biasanya dia memakai kaus berkerah, bukan kaus gombor. Celana jinnya memang agak belel, tapi masih rapi. Seingatku kukunya pun selalu rapi, tak pernah kulihat ia berkuku panjang. Atau aku salah ingat?

Yang jelas, aku tidak salah ingat dengan nama panjangnya. Aku pernah menghapal namanya, termasuk huruf mana yang dobel, dan suku kata mana yang mesti ditambah “h”. Aku tahu itu karena dia pernah kuminta menuliskan biodatanya di agendaku. Aku dulu pasti konyol sekali waktu memintanya menulis biodatanya di agendaku bersampul putih itu. Sama konyolnya ketika temanku AS mengompori untuk main ke rumah si mas itu. Ya ampun! Heran aku kenapa bisa seberani itu? Dia menemui kami di ruang tamunya yang luas dan rapi. Sumpah, aku masih ingat betapa deg-degannya hari Minggu itu.

Masa deg-degan itu perlahan-lahan berakhir ketika si mas akhirnya melanjutkan kuliah di Surabaya. Kami tak pernah bertemu lagi. Sesekali dia pulang waktu Natal atau Paskah, dan aku melihat dia misa bersama keluarganya. Rasanya seperti dapat kado sinterklas kalau melihat dia misa Natal. Sueneeeng pol! Haha. Konyol ya? Padahal cuma melihat dari jauh. Kalau beruntung aku bisa bersalaman mengucapkan selamat Natal ketika bubaran misa.

Tahun berganti. Jejak mas berdagu lancip itu tak kudengar. Aku hanya pernah mendengar ayahnya bercerita pada Bapak bahwa anak lelakinya itu sekarang bekerja di instansi bonafid di Jakarta. Kadang ia bekerja sampai larut malam. Aku membayangkan, mas berambut rapi itu seorang pekerja keras, dan sungguh amat keren. Ketika aku tinggal di Jakarta, sempat aku berharap bisa berjumpa dengannya di sekitar Kuningan, Sudirman, atau Thamrin … di daerah perkantoran yang cukup elit. Kadang ketika sedang ke mal dan naik lift bersama rombongan (yang tampaknya) karyawan, aku meneliti wajah mereka dan berharap mendapati senyum lebarnya. Tapi tak sekali pun aku berjumpa dengannya. Aku tak pernah mendengar kabar dia menikah. Tapi kurasa kini dia sudah menikah. Perempuan mana yang akan menolak senyum manisnya? Mungkin istrinya cantik, keibuan. Mungkin dia kini tinggal di kompleks perumahan yang cukup bagus di salah satu pojok ibu kota–mengingat dia seorang pekerja keras, pasti punya gaji lumayan untuk membeli rumah yang bagus.

Gelombang kami tidak pernah senada. Dia benar-benar jauh dari jangkauan. Jejaknya tersapu arus kehidupan. Kehidupan kami tak pernah beririsan sejak dia mulai jarang kulihat di gereja di kotaku, dan aku pun sudah beranjak ke kota lain.

Kemarin diberitakan Pak SD meninggal, menyusul istrinya yang berpulang tujuh tahun silam. Dia adalah ayah dari mas yang selalu berbaju rapi dan bermotor astrea itu. Aku pun mencoba mencari jejak si mas yang sempat membuatku deg-degan setiap kali masuk gereja. Tapi hanya namanya yang terpampang di layar pencarianku. Lalu aku mendadak merasakan sebuah kesedihan yang tipis. Beberapa pertanyaan bermunculan, tapi aku tak tahu ke mana mencari jawabannya. Semoga mas berdagu lancip itu dapat melewati masa duka dengan baik.

Aku tidak berharap kami bisa bertemu lagi. Dan harapanku memang bukan untuknya lagi.

Warna Agustus

Belakangan kupikir Agustus adalah bulan kita. Iya, Agustus. Bukan Juli, ketika kita mengawali perjalanan hati. Beberapa hari ini memori di media sosialku berisi tentang perjumpaan-perjumpaan kita. Hei, kita menyusuri jalanan Borneo bulan Agustus kan dulu? Dua puluh Agustus, sepuluh tahun silam.

“Dik, maaf aku tidak mampir ke kotamu. Waktuku pendek sekali.”
Sebersit kekecewaan mengapung di udara. Aku sudah mengosongkan hari-hari setelah ulang tahun ibumu. Aku teringat kehadiranmu setahun yang lalu. Namun, sudah kuantisipasi kekecewaan itu.

“Oh, ya. Tak apa. Aku pun sedang banyak pekerjaan,” tukasku setengah berbohong. Ya, ada pekerjaan memang, tapi semua bisa kugeser jika kau datang. “Jam berapa besok pesawatmu, Mas?”

“Pagi. Setengah delapan sudah take off.”

“Hati-hati selama di perjalanan ya, Mas. I love you.”

I love you, too, Dik.”

End call.
Aku merasa Agustus ini membiru.