Acara Pernikahan Murah Meriah

Beberapa waktu lalu, saat aku sedang membongkar kardus-kardus yang ada di rak ruang depan, aku mendapati sebuah amplop cokelat. Penasaran, kubuka amplop itu. Ternyata isinya undangan pernikahanku dulu. Seketika aku teringat saat-saat menyiapkan pernikahan kami waktu itu. Barangkali, aku dan suamiku adalah calon pengantin yang cuek. Tak mau ribet, itu prinsip kami. Dan kalau bisa, semurah mungkin. Masalahnya, tabungan kami tak banyak-banyak amat. Lagi pula, kami sadar masih banyak hal penting lain yang membutuhkan banyak uang selepas acara resepsi. Walaupun disokong pula oleh orang tua, tetapi aku tak ingin mereka menghambur-hamburkan terlalu banyak uang hanya demi resepsi yang berlangsung sehari. Rasanya kok sayang ya menyelenggarakan pesta yang cukup besar, tetapi di kemudian hari justru tak punya uang untuk hal-hal yang lebih penting.

Aku ingat, waktu itu aku tak seheboh calon pengantin lain dalam menghadapi pernikahan. Dalam membuat undangan, misalnya. Aku tak terlalu peduli dengan tampilan yang “wah”. Yang penting–lagi-lagi–murah. Lagi pula, aku sudah bosan dengan model undangan yang selama ini pernah kuterima. Kebanyakan dari mereka hanya bermain dalam soal penampilan, warna, jenis kertas, dan semacam itu. Tapi aku tak mau dong sama seperti itu. Apa gunanya hobi menghambur-hamburkan kata kalau tak dimanfaatkan untuk soal seperti ini? Akhirnya, aku dan suamiku sepakat untuk membuat undangan dengan banyak kata. Intinya sih mau bikin semacam cerita singkat. Dan, sesingkat-singkatnya kata, bagiku minimal mesti dituangkan dalam kertas kira-kira ukuran folio atau kuarto. Maka, itulah akhirnya yang kubuat. Dan agar ekonomis, kami memakai kertas samson. (Kertas cokelat yang biasa untuk bahan amplop.) Hasilnya, undangan kami harganya per lembar tak lebih dari tiga ratus rupiah saja. Hehehe. Murah kan?

Itu baru soal undangan. Belum lagi soal gaun pengantin, dandanan di hari H, dan pernak-pernik yang menyertainya. Aku ingat, aku bahkan usul ke orang tuaku supaya kami diperbolehkan memakai baju batik saat acara pemberkatan dan resepsi sederhana. Terang saja, orang tuaku tak memberi izin. Hihi. Tapi toh aku tak mau ribet untuk urusan gaun. Aku mau membuat kebaya yang nantinya bisa tetap dipakai untuk acara lain. Intinya sih, nggak mau rugi dong … Hahaha! Jadi, kalau ada temanku yang bercerita mereka membuat gaun pengantin sepotong sampai 1 juta, aku dengan bangga mengatakan bahwa kebayaku tak sampai 500 ribu totalnya.

Seperti yang sudah kujelaskan di atas tadi, alasanku membuat acara pernikahan yang semurah mungkin adalah tak ingin kelabakan tak punya uang untuk hal-hal setelah pesta usai. Cerita seperti itu sudah sering kudengar dan kubaca. Aku ingat betul, dulu aku pernah membaca blog seseorang–entah siapa, aku lupa–yang bercerita soal pernikahan temannya yang sangat mewah. Entah berapa puluh juta uang yang habis untuk pesta itu. Tetapi, ternyata di kemudian hari, sang pengantin baru itu mesti berutang ke sana kemari untuk kontrak rumah. Atau bahkan yang lebih konyol, pasangan itu tak punya uang saat sang istri harus melahirkan. Jadi, uangnya sudah habis untuk resepsi pernikahan saja. Dan itu masih belum selesai: uang susu anak masih minta orang tua, tiap bulan masih dapat sokongan dari orang tua, dan seterusnya.

Aku tak mau seperti itu. Dan aku yakin, hal seperti itu tak hanya dialami satu dua orang, mengingat karakter masyarakat kita. Maksudku, orang kerap kali tak mau kalah dengan orang lain atau tak tahan jika jadi bahan omongan karena saat menikahkan anaknya, hanya sederhana saja. Barangkali juga, tekanan untuk bisa sama dengan orang lain terlalu besar. Akibatnya, orang tak berani tampil beda. Tak berani tampil jujur, bahwa sebenarnya mereka cuma mampu mengadakan resepsi yang biasa-biasa saja.

Resepsi pernikahan itu baru awal mula perjalanan. Orang boleh heboh ketika sang kedua mempelai memulai perjalanan mereka. Tetapi, menurutku, yang lebih penting adalah ketika pasangan itu bisa bertahan sampai beberapa puluh tahun kemudian. Mereka masih bahagia, mesra, saling perhatian, rukun, sampai usia tua. Dan kalau mereka punya anak, anak-anak mereka memiliki karakter yang baik, mandiri, berbakti kepada orang tua dan orang-orang di sekitar mereka bisa merasakan dampak positif dari kehadiran mereka. Kupikir orang akan lebih mengenang bagaimana sebuah pasangan menjalani pernikahan mereka, bukannya bagaimana resepsi mereka dulu. Toh, pesta meriah bukan jaminan bahwa pernikahan mereka akan langgeng dan bahagia, kan? Tapi kalau sang mempelai dan orang tua punya duit berlebih sih, mau bikin acara pernikahan yang habis beberapa milyar sih, tak apa. Asal nggak utang ke tetangga dan nggak dibayar … :p