Semangat Pagi

Entah apa yang membuatku tadi pagi ingin bersepeda keliling kampung. Tapi memang harus kuakui, kalau melihat sepeda, aku rasanya pengin menjajalnya. Kebetulan di rumah ada satu sepeda lipat. Keinginan untuk bersepeda sering muncul, tapi selalu kalah dengan kemalasan. Kemalasanku memang jempolan… parahnya!

Oke, jadi ceritanya tadi pagi aku bangun sekitar pukul 5.30. Aku tak mengira tubuhku sudah mengajak mataku melek sepagi itu. Semalam aku tidur agak larut padahal. Begitu melihat jam, aku mendadak ingin tidur lagi. Tapi mataku malas merem lagi. Jadi, aku hanya membaca novel yang ada di samping bantal. Aku baca-baca lagi Burung-burung Manyar pada bagian-bagian favoritku–ketika Teto dan Atik bertemu lagi. Gemes deh mengikuti relasi mereka! Penasaran? Silakan membacanya sendiri. Di sela-sela membaca, aku melirik ke jendela yang masih tertutup korden. Kulihat sinar matahari pagi mulai muncul. Lalu tiba-tiba pikiranku teringat sepeda yang ada di garasi. Mendadak aku merasa tubuhku membutuhkan matahari pagi.

Dan… melajulah aku menaiki kereta angin itu. Awalnya aku agak kurang nyaman karena sadelnya kurang tinggi. Tapi sudahlah, aku malas untuk berhenti sejenak menaikkan sadel. Aku mencoba menikmati keadaan sekeliling. Rumput-rumput pinggir jalan sebagian masih berselimut embun. Sesekali ada satu dua bunga rumput warna kuning menyembul. Kelopaknya yang kecil bergoyang tertiup angin lembut, mengingatkanku pada anak-anak yang bersemangat hendak berangkat sekolah. Sederhana, cantik, dan bersemangat. Aku lalu berbelok ke jalan kampung yang lebih sepi. Aku tahu di jalan itu ada belokan yang menuju sawah. Aku tak sabar menghirup udara segar sawah. Menurutku sawah di pagi hari memiliki aroma yang berbeda. Aku kadang menyebutnya aroma hijau. Tapi aneh ya? Aroma kok hijau. Kalau dibilang segar, bukan sekadar segar. Aromanya khas. Aroma hijau itu aroma kesegaran yang bisa mengirimkan sinyal kegembiraan ke otak. Memang agak sulit menjelaskannya. Pokoknya begitulah. Oya, jalan kecil itu menyimpan satu bagian istimewa, yaitu jembatan tua dengan betonan rendah yang sudah berlumut. Di mataku jembatan itu eksotik … seperti bapak-bapak sederhana ramah yang menyimpan banyak kisah. Sungai di bawahnya mengalir tenang. Dangkal memang, tapi airnya jernih dan tampak satu dua batu besar. Aku membayangkan, dinginnya air sungai itu pasti bisa mendinginkan kaki sampai lutut. Tapi aku sudah cukup puas menyaksikan aliran sungai dari atas.

Aku melanjutkan mengayuh sepeda. Di sebelah kiri kulihat sepetak kebun cabai. Buah cabai itu masih hijau kekuningan, beberapa bergerombol menyembul di antara daun-daun kecilnya yang hijau. Di sebelah kanan, berjajar tanaman kacang panjang dengan daunnya yang hijau tua. Tampak satu-dua kacang panjang yang menjulur. Aku teringat, Bapak pernah berkata bahwa kacang panjang paling enak jika dimakan sesaat setelah dipetik. Aku belum pernah mencoba. Tapi mungkin memang benar.

Jalanan agak menurun setelah pertigaan kecil. Di kejauhan kulihat beberapa batang pepaya. Ada satu pohon yang buahnya bergerombol. Pohon yang tampak ringkih itu seperti seorang ibu muda yang digelendoti anak-anaknya. Mungkin itu tanaman pepaya California. Sayang semua buahnya masih hijau. Mungkin aku perlu menyempatkan waktu melewati jalan ini untuk melihat ketika pepaya yang genteyongan itu berubah kekuningan mengilat. Pasti lebih cantik.

Ketika hendak meneruskan perjalanan, kulihat di ujung jalan terpasang sebuah tenda. Lamat-lamat kudengar suara orang mendaraskan doa. Ada yang meninggal kurasa. Sejenak aku tersentak, di antara kehangatan kehidupan yang kurasakan pagi ini, aku diingatkan bahwa hidup yang penuh warna ini suatu saat akan berakhir. Hmmm… mungkin tidak sepenuhnya berakhir, tapi beralih wujud? Seperti musim semi yang kemudian menyerahkan dirinya pada musim gugur. Atau seperti debu musim kemarau yang sangat mendambakan hujan, dan ketika titik-titik air itu turun, debu itu lenyap menyerah pada air.

Aku berbalik arah, kembali ke jalan yang tadi kulewati. Menyusuri sawah berbau hijau, jembatan tua, lalu mengarah ke jalan besar. Tak lama aku sampai di jalan menurun. Sepedaku meluncur tanpa perlu kukayuh. Wuuusss … aku seperti berselancar menembus angin. Udara segar dan kehangatan matahari menyapu kulit. Melayangkan ingatanku pada kenangan-kenangan masa lalu yang membahagiakan, pada tawa dan obrolan dengan sahabat-sahabat hati, pada kisah cinta melankolis Teto dan Atik dalam novel Burung-burung Manyar yang kubaca sesaat sebelum aku bersepeda pagi ini, pada Sang Mahacinta yang seolah tak pernah bosan jatuh cinta kepadaku. Pengalaman bersepeda pagi ini membuatku bersyukur… Sungguh, pagi selalu menyembulkan harapan, menyelipkan semangat, membawakan Cinta. Aku memang tidak membawa kamera untuk merekam pemandangan pagi tadi, tapi aku akan merekamnya dalam ingatan.

Hidup Adalah …

Kemarin pagi aku terbangun dan sayup-sayup kudengar pengumuman dari musala terdekat. Berita duka. Kabar duka lewat masjid atau musala selalu membuatku penasaran. Aku penasaran kalau-kalau aku mengenal nama orang yang disebutkan. Lalu aku mengira-ngira di mana posisi rumahnya. Yang terakhir membuatku penasaran adalah berapa umurnya? Entah kenapa suatu ada “kelegaan” ketika yang disebutkan meninggal itu sudah berumur 70 atau 80 tahun ke atas. Mungkin “lega” bukan kata yang tepat ya. Aku hanya ingin mengatakan bahwa orang meninggal di usia tua adalah hal yang wajar. Bahwa orang itu sudah cukup panjang menjalani hidupnya di dunia ini.

Berita duka yang kudengar kemarin menyebutkan bahwa orang yang meninggal itu berumur 40-an tahun. Aku lupa berapa persisnya. Seketika aku membatin, “Masih muda…”

Aku tidak memikirkan berita duka itu sampai siang harinya. Lalu kemarin siang suamiku membeli karedok tak jauh dari rumah. Pulang-pulang dia membawa dua bungkus karedok dan sebuah kabar: “Yang meninggal tadi pagi itu karena mabuk. Katanya minum oplosan. Anaknya masih kecil-kecil.” Bagi aku yang mendengarnya, hal itu tidak berarti banyak. Toh aku tidak kenal dengan orang itu. Fakta yang menempel di kepalaku adalah: orang itu meninggal di usia yang masih cukup muda karena mabuk. Banyak orang meninggal karena mabuk, dan aku sebagai orang lain yang tidak kenal sama sekali dengannya bisa dengan otomatis mengatakan: “Orang itu bodoh sekali sih?” Tapi sebenarnya bukankah dengan begitu aku menjatuhkan penghakiman? Sama sekali bukan tindakan yang membantu.

Aku teringat lagu Both Side of Story-nya Phil Collins. Setiap kisah punya dua sisi (atau lebih?). Mungkin seseorang melakukan sesuatu yang tampak bodoh karena ada suatu “lubang” dalam hatinya, ada suatu luka batin, ada “sakit” yang tak tersembuhkan. Mungkin dia sedang mencari jati dirinya. Dan kita sebagai bagian dari masyarakat sama sekali tidak cukup panjang tangannya untuk bisa membantu. (Lagi pula kita bukan juruselamat atau semacamnya yang bisa hadir di mana/kapan saja untuk membantu kan? Kita bukan pula Superman atau Batman atau Robin Hood atau Gatotkaca… halah kok malah nggladrah to?)

Lagi-lagi aku dihadapkan pada kenyataan bahwa setiap orang punya kisah masing-masing. Ada yang berakhir mengenaskan di mata orang lain. Ada yang berakhir membahagiakan. Barangkali sebenarnya kita adalah pengelana yang mencari jati diri.

Lalu lagi-lagi aku bertanya, hidup itu apa? Seorang teman di Facebook menuliskan komentar pada status FB-ku “Hidup adalah …” : Bukan seberapa panjang kita hidup di dunia ini, tapi seberapa “hidup” kita selama hadir di dunia ini. Lalu pertanyaannya, sudahkah aku benar-benar menghidupi hidupku? Apa yang membuat kita hidup? Sudah beranikah kita hidup? Mungkinkah pemabuk yang (tampak) mati konyol itu sedang berusaha mencari hidupnya? Siapa tahu? Lalu bagaimana denganku? Bagaimana denganmu?

Kehangatan di Suatu Sore

Hari menjelang senja. Aku tak ingat jam berapa waktu itu, tapi kalau tak salah pukul 17.00-an. Sebuah pesan pendek masuk ke ponselku.

Halo, Kris. Apa kabar? Lama kita tidak berkontak ya. Bolehkah aku meminta alamat emailmu lagi? Kemarin komputerku rusak, dan alamat emailmu tidak bisa kutemukan lagi. Ada tautan yang menarik soal XYZ… Aku ingin mengirimkannya untukmu.

Pesan pendek itu dari seorang ibu, rekan penerjemah. Kami belum pernah bertemu. Relasi kami bermula ketika ibu itu menjadi penerjemah lepas untuk kantorku dulu. Selanjutnya, kami hanya berkontak lewat email. Memang sudah agak lama aku tidak mendengar kabarnya. Dan kini, meskipun aku sudah lama keluar dari tempat kerja, ibu itu masih mengontakku meskipun hanya untuk “say hello”. Selama ini relasi kami mungkin hanya relasi ringan. Maksudku, aku tidak pernah bercerita tentang hal-hal yang terlalu pribadi kepadanya. Begitu juga dia.

Tapi aku senang ketika ibu itu mengirimiku SMS beberapa hari yang lalu. Mungkin pesan itu sederhana dan biasa saja. Tapi satu hal yang membuatku tersenyum yaitu aku merasa diingat olehnya. Dan aku yakin ibu itu melakukannya dengan tulus. Diingat oleh seorang teman yang jauh ternyata membuat hatiku terasa hangat. Bagiku, ini pelajaran penting. Mengingat teman lama yang jarang sekali kita temui dan menyapa dengan tulus itu bisa membuat orang lain (teman kita) merasa senang. Ini hal sederhana yang bisa dilakukan siapa saja.

Aku pun segera membalas pesan pendek itu tak lupa aku mengucapkan terima kasih kepadanya. Semoga dia juga merasakan kehangatan dari SMS yang kukirimkan sore itu.

Teman di Hari Panas

Hari-hari belakangan ini Jakarta panas sekali. *Kalau hari ini, agak mendung sih.* Poool panasnya! Dan cuaca panas seperti ini sempat membuatku serbasalah. Mau buka jendela lebar-lebar, debu masuk. Apalagi kalau sore, jendela yang terbuka lebar membuat rombongan nyamuk masuk dengan gembira.

Hari yang panas ini membuatku mengubah jadwal mandi. Mandi sekalian siang, jadi pas sudah gerah banget, baru mandi. Segar! Lalu sebelum tidur, kadang kusempatkan mandi. Mandi sebelum tidur itu membuat tidur lebih nyenyak menurutku.

Salah satu aktivitas yang kusukai saat hari cuaca panas adalah… yak, tepat! Mencuci baju. Ini adalah kegiatan “bermain” air yang efektif. Dan lagi biasanya pas cuaca panas begini, tumpukan baju kotor lebih banyak karena lebih sering ganti baju. Banyak berkeringat soalnya.

Di saat cuaca panas, rasanya aku butuh teman yang pas. Di antaranya:

(1) Air cooler.
Orang Jakarta rata-rata punya AC di rumahnya. Tapi aku yang ndeso pol, tidak doyan AC. Kalau kena AC kelamaan biasanya jadi cumleng alias meriang. Kecuali kondisi yang memaksa, seperti misalnya mesti menginap di hotel atau melakukan perjalanan dengan kereta api ber-AC, aku lebih memilih pakai kipas angin atau air cooler (tapi jangan diarahkan langsung ke badan). Menurutku, air cooler saja sudah cukup buatku. Mungkin memang tidak sedingin AC, tapi buatku yang ndeso begini, cukuplah. Setidaknya tidak membuatku tidur lalu bangun bermandi keringat. Penginnya sih buka jendela, tapi mengingat keamanan dan kan katanya angin malam itu tidak terlalu baik untuk kesehatan, jadi ya begitulah adaptasinya.

(2) Air putih yang banyak
Yang ini jelas tidak bisa ditawar.

(3) Buah
Paling enak siang-siang makan buah yang sudah dididinginkan di lemari es. Terakhir aku selalu menyimpan pepaya dan buah naga di kulkas. Buah pepaya selalu jadi andalanku karena murah meriah dan mengenyangkan!

(4) Kaus “folklore”
Mungkin ini kaus tertua yang masih kupakai, mungkin sudah sekitar 20 tahunan umurnya. Kalau cewek, dia pasti sudah kuliah hihi. Ini kaus pemberian. *Mungkin yang memberinya saja sudah lupa.* Kaus ini mengikutiku sejak dari Madiun, Jogja, lalu Jakarta. Kainnya adem. Dulu sih suka kupakai pergi juga, sekarang sih dia jadi teman tidur saja. Sekarang kaus ini sudah ada beberapa bagian yang berlubang. Biar begitu, aku cinta banget sama kaus ini. Entah kenapa ya, sepertinya kaus yang sudah tua itu makin lama makin nyaman dipakai. Adem. Sampai sekarang belum ada keinginan untuk memensiunkan kaus ini. Masih enak sih buat tidur.

kaus "folklore" yang mengundang untuk kupakai.
kaus “folklore” yang mengundang untuk kupakai.

Kamu sendiri, punya kaus tua juga kah?