Belajar Hal Baru: Salah Satu Cara Mengenal Diri Sendiri

Katanya, untuk mencegah pikun, kita perlu belajar hal baru. Ini hal yang menantang buatku. Aku merasa makin ke sini, aku semakin malas menghadapi sesuatu yang baru. Penginnya tetap berada di zona nyaman. Tidak ngapa-ngapain, tetapi bisa terus berkembang. Eh, tapi mana bisa ya? Kalau enak-enak terus, manusia sepertinya cenderung akan mandeg. Dan mungkin bisa jadi, akan berumur pendek (?)

Namun, syukurlah ada beberapa hal yang selalu baru, yang menuntutku untuk belajar. Menerjemahkan artikel/buku membuatku mau tidak mau membaca dan membuka kamus. Tapi jeleknya, aku sering hanya mengambil teks yang sangat familiar buatku. Misalnya, aku hanya akan mengambil teks tentang memasak, cerita anak, kekristenan, atau yang gampang-gampang menurutku. Sebetulnya hal ini bisa disiasati dengan banyak membaca. Tapi, aku belakangan selalu punya alasan untuk tidak membaca. Mulai dari setrika sampai mengantuk. Sangat tidak elit, ya.

Selain terus belajar dalam dunia penerjemahan, beberapa bulan ini aku mau tidak mau mesti belajar menyetir mobil. Bagi kebanyakan temanku, menyetir adalah hal mudah. Mungkin ketika dulu aku belajar naik motor, teman-temanku belajar menyetir. Jadi, di usia ketika yang lain sudah lanyah nyetir, aku masih gagu.

Ya, ceritanya aku belajar menyetir. Sumpah, aku deg-degan setengah modiaaar… ketika awal duduk di belakang setir. Terus terang, aku takut nabrak. Iso bayaran lak an, Rek! Aku ikut kursus nyetir tak jauh dari rumahku. Latihan pertama, aku ditanya mau di jalan langsung atau di dalam stadion? Langsung aku pilih latihan di stadion dong. Mestinya latihan kedua aku sudah berani di jalan. Ternyata, enggak. Aku tetap di stadion. Buatku, latihan di jalan itu MENGERIKAN. Aku sangat takut.

Setelah kursus nyetir selesai, apakah aku sudah bisa nyetir mobil sendiri? Tentu tidak, dong! 😀 Aku sempat mandeg nggak latihan nyetir selama beberapa bulan. Lalu aku lanjut latihan lagi ditemani seorang kenalanku yang sudah mahir menyetir. Namanya Mas Heru. Lama banget aku sama dia latihan hanya di jalan kecil. Masih takut? Iya lah. Kayaknya Mas Heru sampai bosen melihatku hanya berani di jalan kecil atau jalan kampung saja. Menumbuhkan keberanian itu tidak mudah buatku. Nyaliku kueciiil.

Seingatku, menjelang bulan puasa kemarin, aku berhenti latihan dengan Mas Heru. Karena dia mesti persiapan buka puasa kan? Lagian kasihan kalau sudah seharian puasa, lalu di ujung hari malah latihan kesabaran menghadapi aku yang masih kacrut dalam menyopir.

Kemudian aku mulai latihan dengan kakakku. Lumayan, walau tidak setiap hari. Kemudian aku belajar nyetir sendiri ke rumah Mbak Ira, yang tak jauh dari rumahku. Waktu itu, aku masih latihan yoga di rumahnya. Jadi, yoga bisa jadi alasan untuk bawa mobil sendiri.

Butuh waktu beberapa bulan buatku untuk mulai bisa bawa mobil sendiri, tanpa mati mesin di jalan, tanpa grogi kalau diklakson dari belakang, tanpa deg-degan kalau ketemu belokan sempit dan papasan dengan mobil lain. Aku sering buka channel yang membahas latihan mengemudi di youtube.

Saat belajar menyetir mobil aku mulai mengamati diriku sendiri, bagaimana sikapku terhadap hal baru, bagaimana aku mengatasi ketakutan, bagaimana aku belajar, dan sebagainya. Belajar hal baru ini membuat aku menengok ke dalam diri. Aku mulai melihat diriku. Kadang aku menemukan hal-hal baru yang mengejutkan tentang diriku sendiri. O… ternyata aku begini, ternyata aku punya sifat itu, dan seterusnya.

Sepertinya setelah ini aku perlu belajar keterampilan baru lainnya. Berenang? Public speaking? Atau berkebun? Ada usul?