Sentuhan dari Jauh

Siang yang penat.
Baju-baju yang harus disetrika menumpuk, mengantri dengan sabar.
Baju-baju kotor, seprai, lap-lap kotor, piring dan gelas bekas pakai masih beranak pinak di bak cuci dan ember.
Kertas-kertas nota yang harus direkap baru tersentuh sepersekian.
Aku tak tahu apa yang harus kulakukan.
Tidak, tidak … aku tahu. Hanya saja aku tak ingin melakukannya. Menyelesaikan pekerjaan, menuntaskan semua rutinitas yang kusebut di atas itu agar membentuk sebuah kehidupan harian.
Tapi siang ini sungguh penat.
Aku ingin memejamkan mata semenit-dua menit.
Lalu aku berlari menyusuri lorong kenangan, mencarimu.
Seluruh isi kepalaku mendadak terang benderang, berisi namamu.

Kubuka mataku perlahan. Kusentuh gadget yang tergeletak di samping badanku.
Kutulis satu kalimat: “Mas Tok, seluruh isi kepalaku penuh dengan dirimu.”

Aku bersabar. Pesan itu mungkin akan dibacanya beberapa puluh menit atau bahkan beberapa jam lagi.

Aku pun bangun dan menuju bak cuci.
Piring-piring berebut menyambut.
Setengah jam berlalu.
Isi kepalaku masih tentang dirimu.

Kubuka gadget dan terbaca namamu.
“Sun sayangku buatmu, Dik Ning.”

Malam minggu ini seketika tampak cerah.
Mas Tok, dirimu memang jauh di mata tetapi dekat di hati. Selalu.