Dari Payung Sampai Say Hello To Yellow

Baru kemarin posting, sekarang sudah posting lagi. Tumben rajin ya?😀

Sebetulnya aku cuma ingin menuliskan beberapa hal yang kuanggap penting; daripada besok-besok kelupaan.

Rumah-Gloria

Oke, aku ingin bercerita tentang beberapa hal yang kualami kemarin. Kemarin aku datang ke MOI (Kelapa Gading), ada ICRE (Indonesian Christian Retail Expo) /pameran buku Kristen. Sebetulnya acaranya sudah berlangsung dari hari Kamis tanggal 10 lalu. Tapi kemarin ada teman yang hendak memutar film pendek di sana, jadi aku sengaja datang hari Senin.

Sebelum ke MOI aku harus mampir ke kantor distributor buku Gloria dulu. Waktu aku beli buku di sana tempo hari, payungku ketinggalan. Bagiku, payung adalah salah satu “harta” karena dia adalah teman yang bisa diandalkan di hari panas dan hujan. Dulu aku kurang begitu peduli dengan payung. Tapi sejak di Jakarta, payung adalah andalanku. Kalau panas menyengat, payung itu bisa melindungi kepalaku. Lumayanlah ketimbang langsung terpapar sinar matahari. Lagi pula, kantor itu searah kalau aku mau MOI.

Setelah dari Gloria, aku melanjutkan perjalanan untuk ke MOI. Jadi aku mesti keluar dari kompleks pertokoan dan berjalan menyeberangi perempatan Jalan Perintis ke arah Kelapa Gading. Menyeberangi jalan itu bagaikan menyeberangi samudera menurutku. Lebar dan ya ampun … kendaraan seperti tumpah. Sumpe deh, menyeberangi jalan itu dengan jalan kaki di bawah sinar matahari terik bukan hal yang menyenangkan.

Saat akan menyeberang, kulihat ada seorang pedagang yang memakai sepeda (entah jualan apa) yang juga menyeberang. Aku berusaha untuk ikut dengan si bapak itu. Lumayan kan kalau ada teman menyeberang. Ketika sampai di separator jalan, ada satu bapak tukan sol sepatu yang mau menyeberang juga.

Entah kenapa ya, aku jadi terharu melihat dua bapak ini. Aku sendiri cuma membawa tas yang kuselempangkan di pundak, dan tujuanku selanjutnya adalah ke mal, untuk menonton pameran. Tapi dua bapak itu? Mereka berpanas-panas untuk mencari penghidupan. Aku sendiri sebetulnya tidak menikmati menyeberangi jalanan yang bagaikan samudera di bawah matahari yang terik. Tapi angkot yang akan kutumpangi ada di seberang. Mau tak mau mesti jalan kaki kan?

Kendaraan umum vs Kendaraan pribadi

Pengalamanku menyeberang jalan ini entah bagaimana mengingatkan aku pada pertanyaan yang dilontarkan tetanggaku ketika pertama kali dia pindah ke kontrakan sebelahku.
“Tidak punya kendaraan ya, Mbak?”
“Enggak.”
“Kenapa?”
“Oh, saya ke mana-mana naik kendaraan umum kok. Itung-itung untuk mengurangi kemacetan Jakarta.”

Dan tetangga baruku itu lalu melanjutkan dengan menjelaskan bahwa dia punya dua mobil karena dia bekerja di bank. Dan dia bertugas untuk mencairkan dana yang jumlahnya milyaran. Jadi, biar kliennya percaya, maka dia mesti naik mobil, gitu deh. Eh ini beneran omongan dia sendiri lo. Cuma yang membuatku heran, kenapa tiap hari yang dia pakai ke kantor adalah sepeda motornya ya? Yang menurutku ajaib adalah, di sela-sela jam kantornya, dia selalu sempat pulang ke rumah kira-kira 1 jam untuk manasi mobil. Baru kali ini aku lihat ada pegawai bank yang bisa pulang untuk sekadar manasi mobil. Aku mulai kepo deh! Hihihi. Ya sutra lah, biar itu urusan tetanggaku. Kali dia memang yang punya bank.😀

Jawabanku kedengarannya terlalu idealis barangkali. Dan memang sampai sekarang aku dan suamiku belum berminat untuk membeli kendaraan sendiri. Entah ya, kok rasanya punya kendaraan sendiri di Jakarta itu tidak terlalu menarik. Kenapa? Membayangkan harus mengendarai kendaraan sendiri di tengah kemacetan? Oh no! Membayangkannya saja sudah capek duluan. Mendingan aku menyeberang jalan panas-panas saja deh. Kalau badan masih kuat ya naik kendaraan umum. Kalau tidak, sediakan saja uang ekstra untuk naik taksi. Kalau tidak, ya di rumah saja.😀

Cheng Cheng Po dan Say Hello to Yellow

Oke, lanjut ke perjalananku ke MOI. Akhirnya aku sampai di MOI dan bisa menikmati hawa dingin buatan di dalamnya. Sekitar pukul 15.00, aku sudah bersiap duduk di salah satu kursi-kursi yang ada depan panggung. Ada dua film pendek yang diputar. Yang pertama berjudul Cheng Cheng Po, dan yang kedua berjudul Say Hello To Yellow. Dua-duanya film anak-anak dengan tema besar multikultur.

Film Cheng Cheng Po ini mendapat Piala Citra tahun 2008. Ceritanya tentang seorang anak Cina bernama Han yang kesulitan membayar uang sekolah. Ia terancam tidak bisa mengikuti ulangan umum. Akhirnya teman-teman membantu dengan membuat atraksi barongsai sederhana di dekat lapak bakpau ibu Han. Sederhana sih ide ceritanya. Tapi yang menarik bagiku adalah kreativitas anak-anak membuat barongsai sederhana dari kandang burung. Dan sentuhan terakhirnya juga menarik, yaitu ketika anak-anak membuat musik yang mengiringi tarian barongsai dengan alat musik sekadarnya (kalau tidak salah pakai peralatan dapur), tak jauh dari situ ada musola. Melihat atraksi dan musik itu, si penjaga musola lalu memukul bedug sehingga musik mereka menjadi lebih meriah.

Film kedua, bercerita tentang anak kota yang pindah ke desa. Dia membawa HP yang tampak keren ke sekolah seolah-olah untuk membuat teman-teman barunya menjadi terkesan. Padahal … di situ tak ada sinyal! Hihihi. Orang-orang di kampung itu biasanya naik ke sebuah bukit kalau mau menelepon. Cerita ini menyentil dampak teknologi pada anak-anak. Menurutku, film ini lucu dan cerdas.😀 Sepertinya bisa kujadikan tontonan saat aku bosan dan bete. :p

Oya, kalau tertarik dengan film ini, mungkin bisa menghubungi teman-teman Yayasan Sahabat Gloria. Setahuku film ini dibagi gratis dan dibuat untuk anak-anak. Bisa dijadikan bahan diskusi pula untuk mereka.

Wah … lumayan panjang ya tulisanku untuk cerita sepele tentang seharian kemarin.😀

13 thoughts on “Dari Payung Sampai Say Hello To Yellow

  1. waah bagus filmnya, bisa sebagai bahan ngajar mungkin. Durasinya berapa lama?

    Masing-masing sekitar 15-20 menit Mbak. Iya, film ini buat mengajar multikultur ke anak-anak.

  2. mobil itu cocok klo dipake rame2😀
    klo sendirian yaaa paling banter naik motor aja
    atau klo lagi manja ya naik taxi hehehe
    nyetir mobil di jakarta emang tidak nyaman
    macetnya itu lho gak ketulungan😦

    kalau punya sopir pribadi sih agak lumayan kayaknya ya? :p

  3. hahaha niat banget tetangga lu ya, tiap siang pualng rumah buat manasin mobil doang. kenapa juga gak dipanasin pagi2 sebelum berangkat kerja ya?😀

    kenapa nggak dipanasin pagi-pagi? biar siangnya bisa pulang dan manasi mobil kali hihihihi. muter aja ya alasannya :p

  4. Asik, menik mulai rajin nulis! Aku menikmati gaya tulisanmu begini.. Selalu ada hal yang bisa di picked dari kehidupan sehari-hari kita kok…

    Memang, kalau kita jeli banyak yang bisa ditulis🙂

  5. Sepele? Memang cerita sehari-hari, tapi Menik mengemasnya sehingga ada pesan untuk selalu berbagi, memperhatikan orang lain.
    Urusan menyeberang jalan, merupakan urusan yang paling ribet….kalau lagi macet saya suka, karena bisa menyeberang, tapi mesti amping-amp0ing (apa ya bahasa Indonesianya?) didepan mobil, karena sepeda motornya gila-gila an. Kalau jalan lancar, saya suka tunggu orang lain baru menyeberang.

    Film nya kayaknya menarik, diputar bioskopkah? Kita kurang sekali film cerita anak-anak….sekarang lagi berburu CD/VCD lagu anak-anak, untuk cucuku…..lha mosok yang banyak malah lagu bahasa Inggris, dari baby einstein dan baby first.

    Tentang pegawai Bank tadi, bagiku aneh, kalau dia bisa pulang tiap istirahat…atau kantornya di dekat rumahnya? Lha saya yang dulu tak berhubungan langsung dengan klien saja, pergi pagi pulang malam. Tetanggaku, yang anaknya baru masuk (gaya juga udah diberi mobil sendiri, maklum anak tunggal), perginya jam 5.30 wib…pulangnya paling cepat jam 9 malam. Dan menurutku, komentar dia lebay…apa hubungannya dengan klien kok harus punya mobil, dan nyatanya dia ke kantor naik sepeda motor ya…hahaha…biarlah..dia lebay, dan butuh penyaluran…

    Sepertinya lagu dan film anak-anak buatan anak negeri masih kurang sekali di sini ya Bu.
    Hmmm, tetangga saya itu ngakunya berkantor di Bekasi. Menurut saya, Rawamangun-Bekasi itu tidak dekat😀 Hehehe. Lucu sih menurut saya.

  6. tetanggamu kok ajaib to Nik… jadi pengen liat hahaha….
    Itu mobil-mobil cuma dipanasin doang? gak dipake? lha untuk apa dibeli? Hubungannya apa sih antara kerja di bank dan keharusan punya 2 mobil? *lhaaa… kok aku jadi sewot? hahahaha…

    iya, itu mobil dua cuma dipajang di halaman saja Na. lucu kan tetanggaku itu? hihihihi. kalau kupikir-pikir, omongan dia itu lebih lucu dari srimulat hahaha! jane aku pengen ngomong: “Mas nek arep ngapusi mbok dipikir sik.” lucu sangat :p

  7. Kriiiiiis…
    sungguh aku juga tak kuasa menahan gejolak perasaan menghadapi kemacetan di kota JAkarta ituh…hihihi…*lebay*…
    Sampai sekarang masih emosi, kalo inget hampir telat interview cuman gara gara macet doang…hihihi…

    dan tetanggamu ituh memang sangat aneh sekali kelakuannya…
    trus..trus..sebenernya dia gajinya berapa sih sebulan Kris *ikutan kepo*…hihihi..

    Macetnya Jakarta itu aduhai banget yaa. Hehehe. Indah banget dah pokoknya. Kalau cuma nonton di tipi, kurang mak nyos. Memang sesekali harus merasakan dan menikmati sensasinya🙂. Tetanggaku yah? Wah bisa triliunan kali gajinya (dihitung per beberapa ratus tahun).😀😀

  8. Mindset orang kota itu harus punya kendaraan sendiri kali Mbak Kris..Heheheh…
    Mengenai film anak-anak, kalau diperhatikan idenya, ada juga yg kreatif ya. Sayangnya film2 seprti itu gak laku di bioskop😦

    Aku rasa orang kota milih punya kendaraan sendiri karena transportasi publik buruk. Termasuk trotoarnya juga buruk.

  9. whuaaaah akhirnya tau juga tetanggamu yang ajaib itu mba. gimana ga ajaib ketika satu kali dia pk itu mobil, masa keluar dari halaman rumahmu bagian belakang mobilnya dulu (padahal dia bisa muter dulu ya kan halamannnya luas), walhasil dia akhirnya masuk ke halaman rumah datuk dan hampir satu jam hasilnya cuma maju mundur doang. karena kasian doddy akhirnya memandu (whuiiih ini kalimat yus badudu banget :)) dia keluar dari halaman datuk. kesimpulannya itu bukan mobil dia atau dia baru belajar he…he…

    bekasi kan jauh ya, hebat bener dia bisa nyolong waktu siang2 manasin mobil (sekalian bw kliennya biar liat dia punya mobil, ato mo bobo2 ciang he…he… gosip banget deh), kan bisa sebelum ato sesudah pulang kerja ya.

    soal payung gw setuju mb, payung, jaket parasut pk capucon, sm topi barang wajib di tas, di tengah cuaca ga karuan gini. ngomong2 kita pernah nyebrang di Moi ketika ga bawa mobil (ngangkot ke sananya). serem. mobil kaya air ngalir terus.

    hehe, dia itu emang ajaib banget menurutku. kalau siang sempet-sempetnya pulang (dari kantor kali), lalu manasi mobil dan bersihin kandang-kandang binatang peliharaannya. kayaknya sempat tidur juga deh. takjub deh aku! lucu kan dia😉

    emang di depan MOI, rame banget. susah nyebrang. mestinya dibuat jembatan penyeberangan ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s