Cerita Hati

Ning

Kadang malam tidak bersahabat denganku. Ketika semua orang sudah terlelap, mataku tidak mau terpejam. Badan yang telah lelah, tak membuat mata langsung terpejam ketika menyentuh bantal.

Kepalaku penuh dengan aneka ide dan persoalan. Namun, badanku lelah. Aku tak sanggup memilah isi kepala. Aku berusaha memejamkan mata. Kata orang, jika kita lelah, ingatlah saat-saat yang menyenangkan. Dan seketika itu pula, dirimu hadir. Dirimu dalam senyum sambil menyapa, “Ada apa, Dik?” Mataku seperti menghangat. “Mas Tok,” bisikku. “Temani aku dengan doa-doamu.” Kulihat kamu masih tersenyum.

Aku teringat bayang-bayang pepohonan jati. Berkelebat-kelebat semua perjalanan kita muncul ke permukaan. Aku tak ingat sampai sejauh mana kita berjalan, tetapi kamu pasti bisa merasakan, kita bukan sekadar kawan. Ada yang tumbuh dan mengakar di hati kita. Menghadirkan tetes-tetes rindu, yang kadang tak terbendung. Apakah aku harus meneleponmu saat dini hari seperti ini?

 

Tok

Ibu bilang, hati tak pernah berbohong dan memiliki jalurnya sendiri. Aku percaya itu. Kadang mendadak kurasakan ada desakan-desakan lembut pada saat-saat yang tak terduga. Seperti ketika aku melihat sekotak bakpia khas dari Jogja, ingatanku seketika melayang kepada Ning.

Ning. Dik Ning, begitu aku biasa memanggilnya. Sesosok gadis yang hadir dua puluh lima tahun silam, menggetarkan darah mudaku. Dia begitu polos, dan lembut. Tapi jangan salah, dia bisa bergolak. Marah dan meledak-ledak. Aku tak mengira, aku jatuh cinta pada gadis semuda itu. Cinta pertama kah? Buat Ning, pasti iya.

Hanya karena melihat sekotak bakpia itu, aku seperti terdorong merogoh ponsel dan memencet nomor yang telah kuhapal.

“Dik Ning, apa kabar?”
Tak perlu kumenunggu lama, kudengar suara lembutnya.
“Mas Tok! Kok pas betul. Aku beberapa kali ‘mbatin’, lho!”
“Mbatin apa?”
“Kangen.”
Lalu terdengar tawanya yang renyah.

Bukan Ning jika tak punya seribu cerita. Bisa ditebak, ceritanya pun mengalir. Tentang ini dan itu. Tentang hal-hal sepele, yang membuat hatiku teduh.

Aku mesti mengakhiri percakapan kami ketika seorang teman masuk ruangan.
“Dik, sudah dulu ya. Ini ada teman datang.”
“Ya. Mas Tok, I love you!”
“Sama-sama ya, Dik!”

Advertisements

Rasa yang Selalu Ada

Kadang telingaku seperti tak tahu sopan. Contohnya sekarang ini. Tanpa sadar aku mendengarkan obrolan di kafe, percakapan dua orang di belakangku.

“Serius Nin, kau masih menyimpan rasa cinta pertamamu?” Suaranya mengingatkanku pada penyiar radio. Renyah.
“Iya. Konyol ya? Dia itu tidak pernah terganti,” jawab suara yang lebih cempreng.
“Walaupun jalan hidup kalian sudah tak sejalan?” tanya si “penyiar radio” itu lagi.

Seketika ingatanku terbawa kepada Mas Tok. Dia tidak pernah terganti. Sama sekali tak akan pernah. Rasanya aku ingin ikut nimbrung obrolan dua perempuan di belakangku itu. Aku akan ikut bilang, bahwa cinta pertama itu tidak pernah mati. Sungguh, aku yakin mengenai hal itu. Ya, walaupun Mas Tok berada di pulau nan jauh. Walaupun tak selalu ada ucapan cinta di antara kami, tapi aku merasa apa yang kami miliki dulu masih hidup di dalam dada. Tersembunyi di antara kesibukan yang mengepung. Tersembunyi di balik norma-norma.

Aku melirik telepon pintarku. Aku lihat tanggalnya. Tiga puluh Juli. Tanggal ini peringatan penting buat Mas Tok. Refleks kupencet nomornya. Aku tak yakin dia akan mengangkat.

“Halo, Ning!”
Sepersekian detik aku terdiam. Aku terkejut dia cepat sekali mengangkat telepon.
“Mas Tok. Ng… aku tadi mengirim sesuatu untukmu. Ini salah satu hari pentingmu, kan?”
“Kamu ingat, Dik Ning?”
Aku ingin menjawab, aku ingat semua tentang kamu, Mas Tok.
“Terima kasih, ya,” katanya lagi. “Dik, tapi ini aku sedang ditunggu untuk makan bersama rekan-rekan. Terima kasih ya sudah menelepon.”
“Ya, Mas Tok. Aku senang mendengar suaramu lagi.”

Ya, tak ada taburan kata cinta dalam percakapan kami. Tapi aku bisa merasakan, ada rasa yang masih hidup. Rasa yang ada sejak puluhan purnama lalu.

Mengulang 1 Juli

“Apa kabar?”

Dua kata ini muncul di layar telepon pintarku. Darimu. Ini kejutan. Bisa dibilang, beberapa waktu ini kamu lumayan sering menghubungiku. Belum lama ini kamu menghubungiku, mengucapkan selamat ulang tahun. Kita berbincang cukup lama. Aku mengendap masuk di lorong kantor yang sepi supaya tak ada yang menguping pembicaraan kita. Mendengar suaramu adalah kado ternikmat buatku.

Dan ini, tumben kamu menyapaku lagi. Menanyakan kabar. Bukankah kamu tahu, kabarku selalu kangen?

Lalu muncul kalimat-kalimat selanjutnya yang membuat hatiku seperti lagu Vina Panduwinata: Membikin hatiku melompat, seperti melodi yang indah…

“Dik Ning, aku ke kotamu. Apakah kamu pulang?”

Deg.

Kutoleh kalender. Juni mencapai hari terakhirnya. Besok adalah 1 Juli.

Hatiku seperti diremas. Tugas kantor memaksaku berada ribuan kilometer dari kota kelahiranku.

“Seandainya kau pulang, kita ulangi lagi 1 Juli,” begitu lanjut kalimatmu.

Aku tak sabar. Kutekan nomormu.
“Mas Tok! Kok tidak mengabari dari kemarin?”

Kudengar tawamu di seberang. Mendadak, begitu alasanmu. “Aku tiba-tiba mendapat kabar bahwa bulikku sakit. Aku sempatkan ke rumahnya untuk menengok. Kupikir kamu pulang, Dik. Ini satu Juli, kan?” Kudengar suaramu yang empuk, tapi kali ini membuatku kecewa. Seandainya aku tahu, aku pasti pulang. Seandainya… seandainya.

Mataku memanas.

Malam itu, kutulis surat cukup panjang buatmu. Ya, surat yang akan kukirim Lewat pos. Seperti belasan tahun lalu, kita saling berkirim surat. Dengan itulah kuulangi 1 Juli.

Mimpi Jauh Sekali

Makan siang ini kantin tak seberapa penuh. Bulan puasa memang selalu begini. Hanya aku dan Tia duduk di tengah bangku-bangku kantin.

Entah bagaimana mulanya, Tia bertanya. “Apa mimpi terbesarmu, Ning?”

Aku tergagap. Aku sudah melupakan mimpi-mimpiku. Dan lama sekali tak ada yang menanyakan mimpiku. Tetapi seminggu ini aku terusik oleh sebuah mimpi. Mimpi Mas Tok dengan ibunya. Begitu pagi tiba, aku bangun dan merasakan kerinduan yang jauh terpendam. Ya, kupendam dan kubalut doa. Kami nyaris tak berkontak berbulan-bulan.

“Apa ya mimpi terbesarku?” aku balik bertanya pada diriku sendiri sambil menatap Tia. Lalu tatapanku beralih ke meja, pada serangkaian kunci bergantungan kunci bulat dengan pinggir keemasan, bertuliskan Lourdes-France. Bagian tengahnya terdapat gambar Maria yang menampakkan diri pada Bernadette.

“Ada kaitannya dengan Lourdes?” tanya Tia seolah membaca pikiranku.

“Aku lama sekali tak memikirkan apa mimpiku, Tia. Hanya saja seminggu ini aku memimpikan seseorang …”

“Pacarmu?” tebak perempuan di depanku ini.

Aku tertawa kecil. Pacar? Kutarik napas panjang. Mengingat namanya saja selalu menggetarkan hatiku. Ada perih bercampur bahagia, dan teraduk-aduklah isi dadaku. Kenangan bersamanya muncul berkelebat-kelebat. Hutan jati. Malam-malam yang syahdu. Perjalanan Sintang-Nanga Pinoh. Perjalanan di kereta. Sendangsono. Perjalanan saat bulan purnama. Pertengkaran-pertengkaran kecil. Ah!

“Teman lama, Tia. Lagi pula entah di mana dia sekarang. Kami jarang sekali berkontak.”

“Mungkin dia ingin menghubungimu lewat mimpi,” ujar Tia.

Kami terdiam cukup lama. Kubiarkan gejolak hatiku sedikit mereda.

“Dia mimpi terbesarmu?” tanya Tia hati-hati setelah beberapa menit berlalu.

Aku menunduk. Jangan sampai mataku menjelaskan semua ini pada Tia.

“Kami pernah punya mimpi bersama,” jawabku. “Entah dia ingat atau tidak.”

Sampai sore percakapan dengan Tia masih terngiang. Begitu pula ingatan pada mimpi-mimpiku belakangan ini, menghadirkan adukan emosi yang tak bisa kujelaskan.

Di kamar kos aku memain-mainkan gantungan kunci pemberian Mas Tok. Lourdes-France. Apakah dia ingat mimpi yang kami bangun bersama dulu? Dan kenapa dalam mimpiku ada ibu Mas Tok? Ah, Ibu yang lembut hati. Betapa aku tak sanggup mengoyakkan ketentramanmu demi kuraih mimpiku bersama Mas Tok.

Tanpa sadar kufoto gantungan kunci itu, lalu kukirim lewat WhatsApps kepada Mas Tok.

Aku tersadar ketika tengah malam kudengar suara “ting” pelan di telepon pintarku.

“Dik Ning, aku sedang di Lourdes bersama Ibu. Aku masih ingat mimpi kita berdua untuk ke sini.”

Bersama pesan itu terkirim foto dua sosok yang hadir dalam mimpiku beberapa malam belakangan ini. Dan aku menangis.

Sepanjang Jalan Kenangan

Ning

Hari masih dingin. Mbediding, kata orang Jawa. Walau sudah lewat pukul 8 pagi, matahari belum tampak sempurna. Mendung menggantung di arah barat.

Aku melajukan motor berlawanan arah dengan orang-orang yang bergegas ke kantor atau sekolah. Ini tanggal 7 bulan tujuh. Lewat seminggu dari tanggal “jadian” kita.

Hmm, apa iya kata jadian itu tepat?

Samar kuingat perjalanan yang kita lakukan di sebuah petang: Menyusuri persawahan yang panjang. Kamu melajukan motor bebek pinjaman itu dengan setengah ngebut.

“Pelan-pelan saja, Mas Tok,” kataku agak keras dari belakang.
“Aku kebelet,” jawabmu tak kalah keras.

Haiyah. Selalu, batinku.

“Berhenti saja di pinggir sana, dekat pohon-pohon,” jawabku. Rumah Mbak Yuk–adik kesayanganmu–masih jauh. Kupikir kelamaan kalau Mas Tok menahan hasrat ingin buang air kecil.

Kamu menuruti saranku. Di tempat sepi, di dekat pepohonan kamu mengentikan motor.

Mendadak tanganku kautarik, ke balik pohon. Aku tak sempat menolak.

“Hei! Sana pipis dulu,” kataku.
“Bukan, aku kebelet mencium aroma bedak dan keringat di pipimu!”

Aku yakin pipiku bersemu merah. Hari itu tanggal 7 bulan tujuh. “Tujuh hari lewat dari tanggal 1 ya,” katamu. “Jadi, aku boleh sering-sering mengajakmu menyusuri sawah seperti ini kan, Ning?”

Hari ini 25 tahun berselang, aku mengingat seluruh perjalanan kita tanpa sengaja. Tugas kantor memaksaku menyusuri jalan ini menemui narasumber. Mendadak semua pertanyaan yang sudah kususun di kepala untuk kuajukan pada sang narasumber melayang. Menguap digantikan kenangan.

Kadang aku bertanya-tanya, apa kabarmu di pulau seberang?

 

 

Tok

Mataku kedutan sejak semalam. Pasti karena kurang tidur. Atau… ?

Kubuka email–seperti biasa, walau belum jam kantor.

Ada denyut pelan yang menjalar sampai ke perut waktu kubuka email teratas.

Mas Tok, apa kabar?
Pagi ini aku dapat tugas liputan tak jauh dari Desa Wonotirto, dekat rumah Mbak Yuk. Aku jadi ingat waktu kamu “kebelet”. Haha.

Aku mampir rumah Mbak Yuk.

Di email itu terlampir foto Ning dan Yuk. Rindu menyesak. Mungkin ini sebabnya mataku kedutan. Gelombang cinta itu sampai ke sini.

Perlahan terngiang lagu lama:
Sepanjang jalan kenangan… kita s’lalu bergandeng tangaaan…

Diam-diam aku menggigil. Aku ingin mendengar suaramu. Itu saja.

Teh Mint

“Lasti, kamu masih punya teh?” Kudengar suara serak di seberang telepon.

“Ke sini aja,” jawabku singkat.

Tak sampai lima menit Aning telah muncul di dapur. Matanya merah, mukanya sedikit pucat.

“Kamu flu?” Mestinya aku tak perlu bertanya.

Aning mengangguk.

Aku segera menuang air panas ke cangkir lalu kucelupkan satu kantong teh.

“Itu teh yang dikirim Lani kemarin kan, Las?” suara Aning terdengar semakin serak. Sengau pula.

Ganti aku yang mengangguk. “Cuma teh Lani yang enak,” kataku.

“Benar. Biasanya pagi-pagi begini, kita ngumpul bertiga sambil minum teh di rumah Lani, ya.”

Serempak kami menoleh ke rumah depan yang kosong.

“Itu kan alasan supaya ada yang mengasuh bayinya sebentar,” kataku. Kami tertawa bersama. “Nih, semoga seenak buatan Lani,” aku menyorongkan secangkir teh kepada Aning.

“Hmm… wangi.” Aning menghirup teh sambil terpejam. “Sayangnya cuma satu yang kurang.”

“Apa?” tanyaku cepat.

“Daun mint!”

Cuma Lani yang selalu berhasil menanam mint. Dan teh mint jadi minuman andalannya.

“Coba ada Lani, ya,” suara serak Aning seperti membentur cangkir.

Aku terdiam. Sejak rumah depan itu kosong, seperti ada yang kosong pula dalam hatiku.

 

Kling…

Ding…

 

Suara ponsel kami berbunyi bersamaan. Kami bersamaan melirik ke ponsel. Muncul foto dan pesan di bawah nama Lani:

“Tanpa kalian minum teh mint rasanya ada yang kurang deh…”

“Haha!” Seketika wajah Aning sumringah.

“Kangen juga dia,” sahutku.