Dua Puluh Tujuh

Ning, semalam kulihat bulan.
Seperti yang kita saksikan 27 tahun yang lalu, Mas Tok?
Seperti yang selalu kulihat di matamu.

 

Ning
Aku tak pernah mengira bisa menjalani hari-hari tanpamu selama ini. Dua puluh tujuh tahun bukan waktu yang singkat. Sejak kau meninggalkan kotaku, pertemuan kita bisa dihitung dengan jari. Mungkin sepuluh kali lebih, tapi belum tentu tiga atau empat tahun sekali kita bertemu.

Aku menyaksikanmu dari kejauhan. Seperti menatap elang yang terbang gagah di awan. Meliuk, berputar dengan sayap nan panjang terentang. Dirimu begitu jauh dari jangkauan.

Namun aku seperti menemukanmu lagi hari-hari ini. Dalam layar kaca, dalam gadget kecil yang bisa kubawa-bawa. Kita melemparkan harap. Mereka-reka rencana jika ada perjumpaan–seperti lagu Dinda di Mana. Kau pupus rinduku satu-satu, dengan suaramu yang kudengar dari jauh.

Tok
Aku tak pernah lupa padamu. Sesosok gadis malu-malu yang duduk di sudut halaman parkir gereja. Dan aku jatuh hati padamu.

Siapa yang bisa melarang seseorang jatuh hati? Walau semua akan menyebutkan seluruh batasan di antara kita, tetapi kita toh sempat mencuri waktu. Menggenggam tangan dalam beberapa perjalanan. Menatap bulan di tepi sawah, pinggir hutan jati.

Ning, kata novel yang kubaca, sebaiknya seseorang menikah dengan cinta pertamanya.

 

Seandainya bisa, Mas Tok. Seandainya keberanian ini tumbuh sejak dulu kala. Seandainya bisa.
Mestinya kau culik diriku, lalu kita terbang bersama ke balik awan. Melupakan segala apa kata orang dan mewujudkan impian.

Seberapa Dalam?

Tok
Seberapa jauh ingatanmu dan seberapa kuatnya perasaanmu tentang kita?

Ning
Aku tak pernah mengukur. Tapi denganmu walau setelah berlalu belasan tahun, rasa itu masih sangat kuat, Mas. Aku kadang merasa, hanya aku sendiri yang merasakannya. Banyak hal dan kesibukan yang menggulungmu. Kurasa aku sendirian…

Tok
Sebenarnya sampai sekarang aku masih merasakannya, Dik Ning. Jangan merasa sendirian lagi. Rinduku pun tidak ringan.

 

Sepotong Teks di Pagi Mendung

Ning kepada Tok

Mendung sejak pagi. Hatiku ikut murung. Aku mencoba mencari semangat dengan membuka akun media sosialmu. Kulihat ada beberapa video yang kamu buat. Tetapi sepertinya membuka akunmu itu bukan pilihan yang tepat. Aku seperti terhantam meteor rindu bertubi-tubi, sehingga aku malah ingin bergelung sambil menangis mengingat dirimu.

Kukirim teks pendek. “Apakah mencintaimu itu suatu kebodohan dan kesia-siaan, Mas Tok?”

Lama tak ada jawaban. Aku berpikir, kamu sudah memulai kesibukan. Jadi barangkali kiriman teks pendekku tak akan terbaca atau malah “nyrimpet-nyrimpeti” langkah. Tapi sesungguhnya aku hanya mencari rengkuhan hangatmu dari jauh.

Sarapan pagiku kulewati dengan sedikit tergesa karena aku terlalu lama di tempat tidur. Rapat daring akan segera dimulai dan pikiranku masih berkelana padamu. Tulisan yang harus kupresentasikan kubaca sekilas. Sementara itu otakku mulai meluncurkan kata-kata tentang dirimu. Tentang pertanyaan-pertanyaan yang harusnya kusampaikan kepadamu tetapi sepertinya mandeg ketika sampai di mataku sehingga menimbulkan sumber air mata.

Aku tak tahu kenapa aku tercipta dengan otak yang memiliki jalan pikiran seperti ini. Yang membuat pikiranku rajin bergulir seputar tentang dirimu. Ingatan akan kenangan masa lalu bersamamu seperti berjalan beriringan dengan masa kini, tentang tepi hutan jati, tentang bulan yang mengintip dari balik awan, tentang genggaman sepanjang jalan ke Sendangsono, tentang berbatang-batang cokelat, tentang diary biru darimu dengan sepotong tulisan di halaman terdepan. Semua beriringan dengan beberapa tumpuk tugas tulisan yang harus kubuat, dengan laporan-laporan, dengan pesanan kue-kue yang mesti selesai akhir minggu, dengan setumpuk cucian, dengan urusan-urusan sepele sehari-hari yang tak pernah selesai.

Dorongan untuk menangis masih berdenyut di ujung mata.

Aku baru saja menyalakan laptop ketika kudengar pesan singkat masuk. “Tentu saja tidak bodoh dan sia-sia, Dik Ning.”

Mas Tok, rindu ini tak akan pernah selesai. Kamu tahu itu.

Di luar kulihat matahari sedikit menyembul. Seperti memberi secercah harapan.

Satu Mei

Ning kepada Tok

Aku sudah lupa apakah hari benar-benar berganti. Apakah minggu berganti bulan sejak adanya pandemi ini. Apakah kita hanya menghitung jam yang hanya jalan di tempat?

Kadang aku tak ingat, apakah sebagai manusia, kita ini menguasai waktu atau waktu yang mengikat kita?

Dan sejak pandemi, kadang waktu memupus harapan.

Tetapi lagu First of May kirimanmu tadi siang membuatku memiliki harapan lagi. Minggu benar-benar telah berganti menjadi bulan.

Terima kasih ya atas lagu First of May-nya The Bee Gees, ya Mas Tok.

 

Tok kepada Ning

Minggu-minggu pandemi sering kali membuatku merasa sepi. Banyak kegiatan yang harus kuhabiskan di dalam ruangan sendiri. Memang sesekali aku meeting lewat internet, bertemu banyak wajah. Tetapi seperti kubilang padamu, Ning, rasanya sepo. Hambar.

Harus kuakui sapaanmu yang nyaris setiap hari, seperti membuka harapan. Ada hatimu yang mencinta, yang memberi rasa pada kehampaan.

Ning yang manis, terima kasih atas pelukan doamu.

Jalan Rindu

Ning

Kurasa di masa wabah seperti ini, salah satu hal tersulit adalah menahan rindu. Tetapi untungnya aku telah terbiasa menimbun rindu–tentu saja padamu. Semakin kecil kemungkinan untuk bertemu. Hanya sesekali kulihat kamu tampil di video singkat yang beredar di internet. Ya, zaman sekarang, siapa pun bisa dengan mudah mengudara di dunia maya. Termasuk kamu, Mas Tok. Itulah pengobat rindu.

Tetapi, seperti yang sudah-sudah, rindu seperti menemukan jalannya sendiri. Sore itu kudengar suaramu dari ujung sana.
“Kamu baik-baik saja, Dik?”
“Iya, aku sehat. Mas Tok pun sehat kan?”
“Suaraku terdengar sehat, kan?”
Ya, ya. Suaramu tidak berubah. Masih seperti dulu. Lalu terbayanglah sosok gagahmu walau kurasa ada bagian dirimu yang sudah dimakan usia.

Mendadak aku teringat ibumu. Berapa ya umurnya sekarang? Menjelang delapan puluh kah? Konon wabah ini mengincar penduduk senior dan/atau yang punya daya tahan tubuh buruk.

“Bagaimana kabar Ibu, Mas Tok?”
Kali ini kamu bercerita panjang tentang Ibu. Bahwa Ibu sempat mengeluh sakit. Batuk tak sembuh-sembu. Bahwa kamu dan adik-adik jadi sangat-sangat khawatir. Tetapi di ujung cerita terdengar nada lega. Ibu kembali pulih.

“Aku pun sebenarnya ingin pulang,” kataku.
“Ke sini, Dik Ning?”
“Haish, rayuanmu itu Mas Tok…”
“Aku tidak merayu. Sungguhan.”
Aku tertawa. Kamu memang tempat untuk pulang yang sesungguhnya. Timbunan rindu ini pasti akan menemukan jalannya. Seperti perjumpaan via suara kali ini.

“Mas Tok, sudah dulu ya. I love you!”
“Ssh, jangan kencang-kencang. Telepon ini ku-speaker.”
“Kamu takut ketahuan pacar gelap?”
Aku ngakak.
“Tak enak kalau terdengar yang lain. Kamu tahulah isi hati, Dik Ning.”
Ya, tentu saja aku tak perlu dijelaskan.

“Mas, aku kirim lagu ya buatmu. Buat teman tidur.”
(Karena aku tak bisa berada di sampingmu menemani selama masa wabah ini, karena hanya rindu yang kumiliki…)
“Terima kasih. Baik-baik, ya Dik!”

I Wish You Love
I wish you bluebirds in the spring
To give your heart a song to sing
And then a kiss, but more than this
I wish you love
And in July a lemonade
To cool you in some leafy glade
I wish you health, and more than wealth,
I wish you love
My breaking heart and I agree
That you and I could never be
So, with my best, my very best
I set you free
I wish you shelter from the storm
A cozy fire to keep you warm
But most of all, when snowflakes fall
I wish you love
My breaking heart and I agree
That you and I could…

Nyanyian Rindu di Hari Minggu

Seingatku aku dulu selalu tampil baik saat koor semasa berseragam putih dengan rok biru lipit-lipit. Itu dulu, belasan tahun lalu. Tapi sekarang sepertinya kemampuan menyanyiku turun. Meskipun demikian, aku tetap ikut menyanyi.

Akan kucoba memperdengarkan nyanyianku pada Mas Tok. Tentu saja lewat telepon.

“Halo, Dik Ning.” Suara hangatnya terdengar setelah bunyi tuuut kedua.
“Mas Toooook! Kangeeen!” Kuluapkan rasa kangen ini.
“Ya, ya. Maaf ya aku tidak menjawab teleponmu kemarin. Aku di jalan.”
“Iya, iya. Apa sih yang tak kumaafkan darimu?”
Mas Tok tertawa ringan.
“Mas, aku nanti tugas koor. Mau dengar suaraku tidak?”
Kudengar “Hmmm” yang dalam.
“Dengar ya, Mas.”
….Engkaulah gembala, aku domba-Nya…
… ke padang yang hijau aku Kaubawa…

Hening sesaat setelah nyanyianku berhenti.

“Mas, dengar tidak?”
“Dengarlah. Tentu kudengar. Suara nyanyianmu khas sekali, ya Dik. Tadi kurekam.”

Aku memerah. Tapi Mas Tok tentu tak melihat.

“Dik, aku berangkat misa dulu, ya. Selamat hari Minggu.”

Aku yang terdiam sesaat, segera menjawab, “Ya, ya. Doakan aku ya, Mas.”
“Doa apa?”
“Doa supaya bertemu denganmu lagi.”

Mas Tok tertawa.

Separuh Rindu yang Tuntas

Deru angin di luar mengetuk jendela kamarku. Begitu pula ingatan tentang dirimu mengetuk-ngetuk isi kepalaku, sekali lagi menancapkan akar rindu lebih dalam. Refleks kucari dirimu di deretan nomor kontak ponselku. Sepersekian detik aku bertanya-tanya, apakah kamu sedang bisa ditelepon (mengingat dirimu adalah manusia paling sibuk sedunia)? Tak ada salahnya mencoba menjangkaumu.

Hatiku kusiapkan untuk tidak mendengar suaramu. Namun, dua kali nada panggil berubah menjadi suara empuk pereda hujan rindu.
“Mas Tok …”
“Dik, apa kabar?” tanyamu kemudian.
Sejurus kutahu kamu masih berbaring, menuntaskan tidur siang.
“Aku mengganggu tidurmu?”
“Tidak. Tapi mungkin lebih baik kalau kamu juga ada di sebelahku.”
Mas Tok masih seperti dulu, hangat merayu.
“Haha, aku telepon karena ingin menanyakan sedikit referensi terkait naskah yang sedang kutangani. Mas Tok bisa kutanyai sedikit?”
“Tentu saja bisa.”

Aku menanyakan beberapa hal padanya. Sebenarnya aku bisa menemukan jawabannya dengan menelusuri dunia maya. Namun, rindu selalu menemukan jalan untuk dituntaskan, bukan?

Aku tidak tahu bagaimana dulu Mas Tok menanamkan benih rindu yang mengakar begitu kuat sampai hari ini.
“Apakah kamu menaburkan benih rindu lewat mimpi, atau lewat berbatang-batang cokelat yang kaubawakan untukku dulu?” tanyaku.
“Ya, dan kusuntikkan penguat rindu lewat genggaman, pelukan di atas laju motor, dan ciuman yang kucuri dengan menembus pagar norma-norma.”
“Kita harus mengulanginya lagi.”
“Apakah kamu akan ke sini, Dik?”
“Rawatlah mimpi akan perjumpaan kembali, Mas Tok. Suatu saat aku akan menggenggam tanganmu lagi.”

Hujan berhenti. Dan rindu ini tuntas separuh.

Ingatan dalam Sepotong Hujan

Tok

Hujan selalu membaurkan berbagai ingatan. Kenangan. Ingatan tentang dirimu. Kenangan tentang kita.

Aku tidak suka hujan. Hujan membuatku sulit menemui kamu–dulu. Membuatku harus mengenakan mantol, dan berbasah-basah saat memencet bel rumahmu. Dan dua batang cokelat yang kusimpan di tasku ikut basah.

Semalam hujan. Tapi aku mengingat kamu. Mengenang kita. Mungkin ingatan itu serupa kabel-kabel tak kasat mata yang menghubungkan antarpulau, sehingga mendadak dalam pekatnya kenangan, kudengar bunyi pesan di ponselku. Apakah itu Ning?

Mas Tok sampun sare?

Aku sudah berusaha memejamkan mata. Tapi ingatan tentang kamu ketika dalam dekapan begitu jelas.

“Belum, Dik. Kamu kok belum tidur selarut ini?”

Aku masih harus mengerjakan beberapa hal, Mas. Dan aku kok kangen, ya.

“Sama. Di sini hujan. Aku ingat kamu, Dik Ning.”

Oya?

Iyalah.

Mas Tok selalu ada dalam kepalaku. Dalam ingatanku.

Dik, kamu pun selalu menjadi bagian dari hidupku dan tubuhku.

(Karena rasa kita begitu dalam. Kamu ingat? Pada suatu waktu, saat di luar hujan mengguyur, kulit kita pernah saling menempel, melekat kuat, kurasakan cintamu menguar dari pori-porimu dan kamu melingkupiku diriku dengan gairah yang menggelora. Itu sebabnya, kamu selalu menjadi bagian dari tubuhku.)

Cerita Hati

Ning

Kadang malam tidak bersahabat denganku. Ketika semua orang sudah terlelap, mataku tidak mau terpejam. Badan yang telah lelah, tak membuat mata langsung terpejam ketika menyentuh bantal.

Kepalaku penuh dengan aneka ide dan persoalan. Namun, badanku lelah. Aku tak sanggup memilah isi kepala. Aku berusaha memejamkan mata. Kata orang, jika kita lelah, ingatlah saat-saat yang menyenangkan. Dan seketika itu pula, dirimu hadir. Dirimu dalam senyum sambil menyapa, “Ada apa, Dik?” Mataku seperti menghangat. “Mas Tok,” bisikku. “Temani aku dengan doa-doamu.” Kulihat kamu masih tersenyum.

Aku teringat bayang-bayang pepohonan jati. Berkelebat-kelebat semua perjalanan kita muncul ke permukaan. Aku tak ingat sampai sejauh mana kita berjalan, tetapi kamu pasti bisa merasakan, kita bukan sekadar kawan. Ada yang tumbuh dan mengakar di hati kita. Menghadirkan tetes-tetes rindu, yang kadang tak terbendung. Apakah aku harus meneleponmu saat dini hari seperti ini?

 

Tok

Ibu bilang, hati tak pernah berbohong dan memiliki jalurnya sendiri. Aku percaya itu. Kadang mendadak kurasakan ada desakan-desakan lembut pada saat-saat yang tak terduga. Seperti ketika aku melihat sekotak bakpia khas dari Jogja, ingatanku seketika melayang kepada Ning.

Ning. Dik Ning, begitu aku biasa memanggilnya. Sesosok gadis yang hadir dua puluh lima tahun silam, menggetarkan darah mudaku. Dia begitu polos, dan lembut. Tapi jangan salah, dia bisa bergolak. Marah dan meledak-ledak. Aku tak mengira, aku jatuh cinta pada gadis semuda itu. Cinta pertama kah? Buat Ning, pasti iya.

Hanya karena melihat sekotak bakpia itu, aku seperti terdorong merogoh ponsel dan memencet nomor yang telah kuhapal.

“Dik Ning, apa kabar?”
Tak perlu kumenunggu lama, kudengar suara lembutnya.
“Mas Tok! Kok pas betul. Aku beberapa kali ‘mbatin’, lho!”
“Mbatin apa?”
“Kangen.”
Lalu terdengar tawanya yang renyah.

Bukan Ning jika tak punya seribu cerita. Bisa ditebak, ceritanya pun mengalir. Tentang ini dan itu. Tentang hal-hal sepele, yang membuat hatiku teduh.

Aku mesti mengakhiri percakapan kami ketika seorang teman masuk ruangan.
“Dik, sudah dulu ya. Ini ada teman datang.”
“Ya. Mas Tok, I love you!”
“Sama-sama ya, Dik!”

Rasa yang Selalu Ada

Kadang telingaku seperti tak tahu sopan. Contohnya sekarang ini. Tanpa sadar aku mendengarkan obrolan di kafe, percakapan dua orang di belakangku.

“Serius Nin, kau masih menyimpan rasa cinta pertamamu?” Suaranya mengingatkanku pada penyiar radio. Renyah.
“Iya. Konyol ya? Dia itu tidak pernah terganti,” jawab suara yang lebih cempreng.
“Walaupun jalan hidup kalian sudah tak sejalan?” tanya si “penyiar radio” itu lagi.

Seketika ingatanku terbawa kepada Mas Tok. Dia tidak pernah terganti. Sama sekali tak akan pernah. Rasanya aku ingin ikut nimbrung obrolan dua perempuan di belakangku itu. Aku akan ikut bilang, bahwa cinta pertama itu tidak pernah mati. Sungguh, aku yakin mengenai hal itu. Ya, walaupun Mas Tok berada di pulau nan jauh. Walaupun tak selalu ada ucapan cinta di antara kami, tapi aku merasa apa yang kami miliki dulu masih hidup di dalam dada. Tersembunyi di antara kesibukan yang mengepung. Tersembunyi di balik norma-norma.

Aku melirik telepon pintarku. Aku lihat tanggalnya. Tiga puluh Juli. Tanggal ini peringatan penting buat Mas Tok. Refleks kupencet nomornya. Aku tak yakin dia akan mengangkat.

“Halo, Ning!”
Sepersekian detik aku terdiam. Aku terkejut dia cepat sekali mengangkat telepon.
“Mas Tok. Ng… aku tadi mengirim sesuatu untukmu. Ini salah satu hari pentingmu, kan?”
“Kamu ingat, Dik Ning?”
Aku ingin menjawab, aku ingat semua tentang kamu, Mas Tok.
“Terima kasih, ya,” katanya lagi. “Dik, tapi ini aku sedang ditunggu untuk makan bersama rekan-rekan. Terima kasih ya sudah menelepon.”
“Ya, Mas Tok. Aku senang mendengar suaramu lagi.”

Ya, tak ada taburan kata cinta dalam percakapan kami. Tapi aku bisa merasakan, ada rasa yang masih hidup. Rasa yang ada sejak puluhan purnama lalu.