Ke Mana Lagu Indonesia?

Nggak, aku nggak mengigau kok tanya seperti itu. Aku masih di Indonesia, dan masih suka mendengarkan lagu Indonesia. Lalu kenapa tanya seperti itu?

Begini, selama ini aku kan mengandalkan radio di rumah. Masih belum niat beli televisi sih. Dan kurasa selama aku di Jakarta, radio saja masih cukup. Lagi pula, dengan adanya internet, aku merasa nggak ketinggalan berita banget. Radio dan internet itu cukup bagiku. Nah, lewat radio itu aku mendengarkan lagu-lagu Indonesia. Biasanya sih yang sering aku dengarkan adalah I-Radio. (Sekarang sih jam dengarku tidak selama dulu. Kadang aku pengin suasana sepi, jadi radio kumatikan.) Radio itu hanya menyiarkan lagu-lagu Indonesia. Jadi, aku cukup tahu lah lagu-lagu Indonesia. Nah, jadi pertanyaanku tadi basi dong?

Kayaknya nggak deh. Lalu, kenapa?

Pertanyaan itu muncul ketika aku sedang di luar rumah. Misalnya di tempat perbelanjaan atau di mal. Biasanya yang diperdengarkan adalah lagu asing. Jarang rasanya mendengar lagu Indonesia jadi musik latar yang diputar di mal atau pusat perbelanjaan. Padahal kupikir masih ada lagu Indonesia yang bagus (walaupun jujur saja sekarang muncul lagu-lagu Indonesia yang menurutku musiknya kurang begitu kaya dan begitu-begitu saja). Atau kalau tidak lagu, musik instrumental buatan orang Indonesia ada yang bagus-bagus. Misalnya, karya-karyanya Jubing.

Rasa-rasanya lagu-lagu orang Indonesia yang bagus, juga kurang mendapat tempat. Misalnya, kamu pernah tahu lagu Rasa-Merasa? Bagus sih menurutku. Kurasa lagu ini tidak tampil di acara musik yang sering ditayangkan di televisi, kan? Kaya gini nih lagunya:

Jadi, di mana ya lagu atau grup musik Indonesia yang bagus sering tampil? Ada nggak sih panggung atau media yang menampilkan lagu atau karya-karya anak bangsa yang berkualitas?

Advertisements

Kehidupan Pernikahan yang Normal

Kemarin pagi (Rabu, 2/12/09), listrik yang mengalir ke rumahku mendadak mati. Yaaaa … padahal aku sedang asyik-asyiknya blogwalking sambil mendengarkan radio. Duh, pagi-pagi sudah kena serangan mati listrik. Beberapa tetanggaku bilang listrik bisa mati sekitar 4 jam. Aduuuh! Pagi yang buruk, pikirku.

Tapi untunglah setelah kira-kira bengong selama dua puluh menit, listrik pun menyala. Rutinitas pagi mendengarkan radio kembali kujalani.

Radio langgananku saat pagi adalah I-Radio. Acara Pagi-pagi, oleh Rafiq dan Poetri. Sebelum “kenal” dengan mereka, permulaan hari di Jakarta agak membosankan. Dulu aku masih suka kangen dengan suasana Jogja plus teman-teman seruangan yang kadang begitu kocak dan membuat suasana jadi segar. Nah, begitu sampai Jakarta, ke mana cari suasana seperti itu? Apalagi aku tidak bekerja kantoran. Jadi, sepanjang hari, kalau tidak ada janji ketemu teman, ya di rumah saja sendirian mengerjakan naskah yang ada. Nah, begitu aku kenal dengan acara Pagi-pagi, aku jadi seperti mendapat teman baru. Mereka itu kalau ngomong ceplas ceplos. Dan kadang bahan siaran mereka membuatku geleng-geleng kepala.

Salah satu yang aku sukai dari acara itu adalah jika mereka mulai membongkar rahasia orang. Halah… sok pengen tahu juga rupanya aku. Hihihi. Kemarin itu yang dibahas adalah orang yang menikah sembunyi-sembunyi.

Gara-gara listrik mati, aku tidak bisa mendengarkan dari awal. Padahal sepertinya menarik tuh soalnya sepertinya yang dibahas adalah pernikahan Rafiq (sang penyiar).  Tapi aku benar-benar dapat buntutnya saja saat Poetri bilang ke Rafiq bahwa istrinya Rafiq termasuk berani tuh karena biasanya perempuan kalau menikah biasanya kan pengen ditungguin orang tuanya, bla … bla … bla ….Ah, sayang aku nggak mengikuti dari awal, jadi tidak tahu ceritanya.

Mau tak mau, aku jadi ingat hal-hal yang harus aku hadapi saat akan menikah. Yang jelas sih, keluarga besar sudah tahu semua. Dan rasanya kok tidak kepikiran ya menikah diam-diam. Mana bisa? Minimal tetangga kiri kanan tahu lah. Dulu sih pengen nggak rame-rame. Males saja sih harus berdiri cukup lama di atas pelaminan sambil terus menerus tersenyum dan menyalami tamu-tamu. Tapi teman-teman orang tua dan kerabatku yang buanyak itu kabarnya bisa protes jika tidak ada acara resepsi. Ya, sudahlah akhirnya karena kami juga tak ingin acara yang heboh, dibuatlah resepsi sederhana. Tetapi biarpun sudah didesain sesederhana mungkin, tetap saja semua orang tahu. Jadi waktu kemarin mendengar soal menikah diam-diam? Memangnya bisa ya?

Ternyata bisa. Itu kuketahui dari acara Pagi-pagi kemarin. Ada berbagai cerita dari beberapa narasumber. Sebagian sih, karena itu pernikahan dengan istri kedua. (Ternyata ada saja ya perempuan yang mau jadi istri kedua?) Lalu sebagian yang lain karena mereka menikah beda agama, jadi tidak disetujui orang tua. Kawin lari bahasa kerennya.

Dari sekian banyak cerita itu, ada cerita yang aku ingat. Pertama, cerita soal laki-laki Islam yang menikah dengan seorang perempuan Budha. Karena tidak disetujui keluarga, mereka menikah diam-diam secara Islam. Entah bagaimana, si istri ini mungkin merasa tidak sreg dan akhirnya pamit pulang meninggalkan suami serta anaknya. E, ternyata dia tidak pulang. Dia rupanya pergi ke Magelang untuk menjadi biksuni. Owh …! Aku yang mendengarkan cerita yang dikisahkan sang suami jadi trenyuh. Dari suaranya sih, sang suami kedengaran melas banget dan dia bilang masih mencintai istrinya. Sesekali dia masih menengok sang biksuni itu karena baginya, perempuan itu masih istrinya. Wong tidak pernah bercerai. Tapi laki-laki itu kini sudah menikah lagi dengan perempuan pilihan orang tuanya. FYI, istrinya yang sekarang ini (istri kedua) tidak pernah mengetahui bahwa suaminya dulu pernah menikah dan punya anak sebelumnya. Loh kok bisa? Ya, karena pernikahan pertama suaminya itu dilakukan diam-diam. Keluarganya tidak tahu. Dan si laki-laki itu mengatakan bahwa anak tersebut bukan anaknya, tetapi anak dari temannya. Aduh, aduh… kok bisa ya dia menutupi semuanya itu? Aku tak bisa membayangkan betapa sulitnya harus menutupi masa lalu yang mungkin kelam. Dan kupikir, cukup hebat juga si laki-laki itu dalam menutupi pernikahan pertamanya.

Sebenarnya masih ada beberapa kisah lagi. Intinya sih, mereka yang diwawancarai via telepon itu mengatakan bahwa mereka harus menutupi pernikahan mereka karena berbagai hal. Soalnya jika terang-terangan, bisa-bisa mereka tidak jadi menikah. Kandas deh percintaan mereka.

Mendengar cerita-cerita itu, aku kemudian berpikir bahwa sepertinya kehidupan pernikahan yang normal itu mahal harganya. Kehidupan pernikahan normal dalam hal ini adalah pernikahan yang wajar-wajar saja, di mana seorang perempuan bertemu laki-laki dan bisa menikah baik-baik. Pernikahan mereka direstui orang tua. Kalaupun ada perbedaan, hal itu tidak menjadi masalah yang cukup besar sehingga perlu disembunyikan. Aku membayangkan, betapa beratnya menyembunyikan sesuatu yang “tidak wajar”. Tahu sendiri kan, kadang masyarakat begitu kejamnya karena dengan mudahnya memberikan cap begini dan begitu kepada orang-orang yang “berbeda”. Yah, mungkin memang ada yang salah dalam pernikahan-pernikahan itu. Tetapi kupikir, seberapa pun salahnya, setiap orang berhak dicintai.