Tantangan Menanam Padi Organik di Negara Agraris

Samar-samar masih kuingat percakapanku dengan ibuku lewat telepon beberapa bulan yang lalu. Waktu itu Ibu bertanya kepadaku apakah aku punya kenalan petani padi organik. Seingatku, jika yang dimaksud adalah kenalan langsung, aku tidak punya. Yang mungkin bisa kucari adalah temanku yang punya akses langsung kepada petani padi organik.

Jadi, begini ceritanya. Kakek dan nenekku punya sawah di Dungus (kira-kira 12 km dari Madiun). Sawah itu dulunya tidak digarap sendiri oleh keluargaku. Dan seingatku, soal sawah itu baru kuketahui setelah aku SMA (atau SMP?). Soal penggarapnya dulu aku juga kurang jelas. Tapi akhirnya setelah Mbah Kakung dan Mbah Putri meninggal, sawah itu jadi tanggung jawab keluarga besar dari pihak ibuku. Dan karena anak dari simbah yang tinggal di Madiun saat ini adalah ibuku, maka akhirnya sawah itu dikelola oleh ibuku.

Pada awalnya, sawah itu ditanami padi biasa (bukan padi organik). Tapi belakangan ini ibuku tertarik menanaminya dengan padi organik. Dan karena tidak punya pengalaman langsung menanam padi organik, maka masih perlu belajar banyak. Sayangnya, para petani di sekitar sana masih belum ada yang menanam padi organik. Jadi, bisa dikatakan ibuku (dan bapakku) single fighter. Bisa kubayangkan betapa sulitnya menjadi “berbeda”.

Sebetulnya, saat pertemuan dengan keluarga besar, ibuku sudah mengutarakan maksudnya untuk menanami sawah itu dengan padi organik. Semua pada dasarnya setuju. Tapi kan yang benar-benar terjun ke sawah cuma orang tuaku. Dan rata-rata keluarga ibuku “orang kota” semua. Tidak ada yang punya pengalaman menggarap sawah. Bahkan aku juga kurang yakin apakah di antara para om, tante, pakde, budeku ada yang punya kenalan petani organik. Akhirnya terjadilah percakapan dengan ibuku soal petani padi organik. Waktu itu di sawah memang ada masalah, yaitu banyak sekali tumbuh gulma. Gulma itu bentuknya seperti kubis kecil (aku lupa namanya). Sepertinya kalau di kolam air tawar suka ada deh. Nah, saking banyaknya orang tuaku bingung bagaimana mengatasinya.

Waduh, mesti tanya siapa nih, pikirku. Salah satu cara paling gampang adakah mencoba melihat daftar teman-teman berikut nomor teleponnya di telepon genggamku. Iseng-iseng kutanya temanku, seorang wartawan di sebuah radio berita. “Mbak, punya kenalan petani organik?” tanyaku padanya. Dan temanku ini cepat sekali memberi jawaban. Dia kemudian memberikan nama seorang petani organik berikut nomor telepon petani tersebut. Dan seperti gayung bersambut, orang tuaku jadi bisa berguru langsung pada bapak tersebut sampai akhirnya datang berkunjung ke rumah beliau plus melihat sawahnya. Ibu mengatakan dia puas bisa datang ke sana. Kata petani itu, padi organik miliknya jika sudah dewasa, tingginya bisa setinggi orang. Wah!

“Guru” petani organik yang didatangi orang tuaku ini tinggalnya di Jawa Barat. Lumayan jauh dari Madiun. Kemudian aku baru sadar jika teman-teman dari Yayasan Sahabat Gloria di Jogja juga melakukan pendampingan pada para petani organik. Nah, ini kan cukup terjangkau dari Madiun. Lagi pula, mereka kan teman sendiri. 😀 😀 Jadi, sekarang orang tuaku juga suka tanya-tanya ke mereka.

Dari pengalaman orang tuaku, aku jadi sadar bahwa menanam padi organik tidak mudah. Banyak tantangannya. Yang paling dirasakan adalah saat memulainya, karena seolah-olah harus berjuang sendiri. Masih banyak petani sekitar yang lebih suka menanam padi biasa. Jadi, akan sangat terbantu jika petani padi organik itu ada komunitasnya.

Entah bagaimana pengalaman orang tuaku menanam padi organik ini membuatku teringat pada beberapa petak sawah yang biasa kulewati saat menuju rumahku di Jogja. Dulu, untuk menuju rumah, aku mesti melewati persawahan yang cukup luas. Tapi sekarang, sawah-sawah itu sebagian sudah menjadi bangunan. Entah rumah, entah ruko. Tak jarang kulihat pula sawah yang diapit rumah-rumah besar dan bagus. Kurasa sebentar lagi sawah itu akan berubah menjadi rumah pula. Aku selalu sedih melihat hal itu. Sedih karena menurutku semestinya sawah itu tidak hilang begitu saja. Dan memang nasib petani di negara (yang katanya) agraris bernama Indonesia ini tidak menyenangkan. Hasil sawah tidak selalu menguntungkan dan mendatangkan banyak uang. Sementara itu petani tetap harus mengeluarkan uang untuk menyekolahkan anak, membangun/memperbaiki rumah, membeli susu untuk anaknya, dan lain-lain, yang mana semua itu tidak cukup dibayar dengan beberapa lembar uang seribuan.

Selain itu, siapa sih yang ingin jadi petani? Coba kita tanya kepada anak-anak sekolah sekarang. Berapa banyak yang ingin bekerja di sawah? Bahkan dari para mahasiswa yang mengenyam pendidikan di bidang pertanian, berapa banyak yang betul-betul ingin membaktikan hidupnya untuk mengembangkan pertanian Indonesia? Kurasa masih banyak yang ingin bekerja kantoran atau pegawai swasta ketimbang harus bergelut dengan lumpur di sawah.

Padahal, semua orang masih butuh makan. Sebagian besar penduduk Indonesia masih makan nasi. Jika sawah-sawah itu akhirnya menjadi ruko atau rumah, dan para petani tidak semakin baik nasibnya, bagaimana dong? Kurasa jika pertanian di Indonesia diperbaiki dan ditingkatkan, kita–masyarakat pada umumnya–juga akan merasakan manfaatnya. Coba kalau semua petani menanam padi organik, kita tiap hari bisa makan nasi enak bukan? Lebih sehat pula. Jadi, kita pun bisa ekspor hasil tanaman pangan ke negara lain, bukannya malah bangga kalau bisa membawa makanan hasil pertanian/perkebunan dari negara lain. Rakyat juga kan yang untung? 🙂

Advertisements

Junk Food/Fast Food VS Makanan Indonesia

Aku tak terlalu ingat jelas, kapan aku mulai kenal yang namanya junk food dan fast food. Mungkin pas remaja. Dan memang waktu itu di kotaku, makanan seperti itu hampir tidak ada. Yang ada ya makanan biasa, seperti soto, pecel, rawon, rujak petis, tahu telor, mi (goreng/rebus), bakso, dll. Waktu aku kecil, belum ada yang namanya ayam goreng Kentucky atau semacamnya. Jadi, kalau orang tuaku mengajak kami sekeluarga makan di luar, biasanya ya makannya soto atau bakso. Seingatku, yang paling sering kami kunjungi adalah soto atau bakso Pak Jan, depan kolam renang Purboyo. Sering itu bukan berarti setiap akhir pekan kami andok makan di luar. Tidak. Bisa bangkrut nanti. Tapi mungkin ya … sebulan sekali.

Kadang-kadang kalau tidak pergi keluar bersama-sama, Bapak akan pergi ke Kedai Pak Jan itu sambil membawa rantang aluminium untuk beli soto atau bakso di situ. Lebih ramah lingkungan ya? 🙂

Nah, menginjak remaja, seingatku mulai ada iklan-iklan tentang makanan cepat saji. Dan entah bagaimana aku mulai tahu tentang ayam dan kentang goreng, yang disajikan dengan minuman bersoda. Kalau lihat di iklan, kok tampaknya enak betul. Karena di kotaku belum ada makanan seperti itu, aku hanya bisa menikmatinya kalau sedang liburan ke Jogja. Seingatku dulu di Jalan Solo, dekat Museum Affandi ada Gelael dan di situ ada gerai ayam goreng Kentucky. Tapi bukan berarti, setiap ke Jogja lalu makan ayam goreng itu. Tidak. Tapi rasanya aku suka sekali kalau diajak makan ayam goreng itu. Rasanya seperti “naik pangkat”, mendadak seperti mbak-mbak atau mas-mas cakep di iklan-iklan makanan cepat saji itu. *Halah, lebay!*

Suatu ketika, dikabarkan ada gerai CFC hadir di kotaku. Mendadak gerai itu jadi tempat makan favorit. Senengnya minta ampun kalau bisa makan ke situ.

Sekarang waktu tinggal di Jakarta, aku jadi sangat biasa menjumpai gerai makanan semacam itu. Apalagi di sini di tiap sudut jalan ibaratnya ada mal. Dan di dalam mal, pasti ada gerai makanan cepat saji. Lalu apakah aku jadi lonjak-lonjak kegirangan kalau lihat dan mampir makan di gerai semacam itu? Sayangnya tidak. Kalau aku makan ayam goreng atau mampir makan di gerai makanan cepat saji, itu berarti selera makanku lagi error. Kacau. Alias, aku tidak tahu mau makan apa. Dan kadang aku makan di tempat seperti itu semata-mata karena tidak punya pilihan lain atau karena diajak teman (dan temanku maunya cuma makan ayam goreng).

Kalau mau jujur, sepertinya aku sudah sampai tahap bosan melihat fast food dan junk food itu. Bukan bosan karena dulu sering makan. Enggak juga. Wong nyatanya aku juga tidak sering makan junk food/fast food. Mungkin kebosananku itu karena menurutku, makanannya begitu-begitu saja. Dan belakangan, aku sering bermasalah dengan rasa gurihnya. Menurutku makanan-makanan itu terlalu asin. (Padahal aku suka makanan asin dan gurih.) Atau vetsinnya sudah terlalu banyak ya? Entahlah.

Akhirnya sekarang kalau makan di luar dengan suamiku, kami justru lebih memilih makanan Indonesia. Favorit kami adalah masakan Padang atau masakan Menado. Menurutku, makanan Indonesia rasanya lebih nendang. Rasanya juga lebih kaya, mungkin karena bumbunya macam-macam.

Hmm … kalau kamu, suka fast food/junk food atau makanan Indonesia?

Solitaire dan Sendiri

Pernah bermain solitaire? Kurasa bagi kebanyakan orang yang biasa berhadapan dengan komputer, permainan solitaire adalah permainan yang sudah diakrabi. Itu lo, game di mana kita mesti mengurutkan kartu dari As sampai King. Tapi kalau bicara solitaire, entah kenapa aku jadi ingat ketika bermain solitaire memakai kartu remi biasa. Dulu, ini adalah permainan yang rasa-rasanya cukup sering aku mainkan waktu di asrama–zaman kuliah dulu.

Begini, waktu di asrama dulu, komputer masih dirasa sebagai barang mewah. Waktu aku kuliah, komputer yang umum waktu itu sebutannya masih begini nih: 386 atau 486. Bingung kan? Hehehe… Itu sebutan untuk prosesornya. Kalau sekarang sih komputer sudah jauh lebih maju. Nah, karena komputer masih dianggap barang mewah, di asrama komputer masih dibatasi. Memang sih, di asrama ada komputer. Tapi itu pun dipakai oleh anak yang sudah skripsi. Dan kalau pakai, kita pun mesti bayar. Sistemnya seperti rental komputer, tapi Suster memberi harga lebih murah untuk sewanya dibanding kalau kita rental komputer di luar. Jadi, tak ada ceritanya main game di komputer. Kita memakai komputer memang untuk tugas kuliah saja. Lalu? Ya, akhirnya kita tidak terbiasa main game di komputer dong. Dan kartu remi menjadi salah satu “pelarian” untuk bersenang-senang bersama.

Memang sih, yang namanya asrama, pasti banyak teman kan? Masak mau main sendiri? Satu unit rata-rata isinya 4-8 orang. Jadi, mestinya tak perlu khawatir kesepian dan bisa main kartu remi ramai-ramai. Eit, tapi, jangan salah. Di asrama pun kita bisa sendirian di unit. Kok bisa? Aku ingat, saat malam minggu kadang bisa jadi saat yang tidak menyenangkan. Apalagi kalau tidak punya pacar, tidak ikut komunitas apa-apa, tidak ada teman yang mengajak ikut suatu kegiatan, malas ikut nonton tivi di ruang tamu, teman-teman seunit pergi (diapeli, pulang kampung, atau ikut acara di kampus), naaah … bisa kesepian tuh. Hihihi, kasiaaaan deh! Jadi, kadang di saat seperti itulah aku kadang bermain solitaire dengan kartu remi.

Tapi ngomong-ngomong soal solitaire, aku jadi ingat ketika pertama aku bepergian ke luar kota sendiri. Kapan itu? Waktu SD seingatku. Waktu itu, Mbah dari ibuku masih hidup dan tinggal di Jogja. Jadi saat liburan tiba, aku biasa berlibur ke rumah Mbah. (Waktu itu aku masih di Madiun). Karena kedua orang tuaku bekerja dan tidak bisa meninggalkan pekerjaan, maka aku mesti pergi sendiri. Kadang sih ya aku pergi dengan kakakku, kadang ditemani pengasuhku, tapi ada kalanya aku pergi sendiri. Memang sih, waktu itu aku perginya naik travel. Jadi, tak perlu khawatir kesasar. Tapi ya, namanya pertama kali pergi ke luar kota sendiri, masih usia SD, rasanya deg-degan juga. Awalnya, Bapak yang menelepon travel, lalu menanyakan apakah masih ada jatah kursi untuk keberangkatan ke Jogja. Ternyata ada. Jadi, aku mulai mengepak baju-bajuku sendiri. Kupilih beberapa baju yang kusukai dan yang kubutuhkan, lalu kumasukkan ke dalam tas yang sudah disiapkan Ibu. Malamnya aku jadi susah tidur membayangkan perjalanan esok harinya. Aduh, jadi deg-degan betul! Aku membayangkan, besok sebelahku orangnya seperti apa ya? Bagaimana kalau travelnya ngebut? Bagaimana kalau sampai di rumah Mbah sudah malam (karena travel waktu itu mesti mengantar penumpangnya satu per satu, dan bisa jadi aku dapat jatah diantar paling terakhir)? Terus terang aku lupa bagaimana perjalanan pertamaku sendiri ke Jogja. Tapi rasanya aman-aman saja. Terbukti aku beberapa kali naik travel Madiun-Jogja pp. Kalau aku kapok atau mengalami kejadian tidak enak, pasti pengalaman itu tidak kuulangi kan? 🙂

Perjalanan sendiri ke Jogja dengan travel itu tidak menjadi perjalanan yang terakhir. Akhirnya aku jadi terbiasa pergi ke Jogja sendiri. Tapi kemudian, ketika aku sudah mulai kuliah, travel ke Jogja tidak menjadi pilihanku lagi, karena biayanya lebih mahal dibandingkan naik bus atau kereta api.

Jika perjalanan ke Jogja itu menjadi latihanku untuk mandiri, lalu hal apa yang tidak bisa kulakukan sendiri? Jawabannya adalah, pulang malam sendiri di Jakarta. Ketika awal aku akan pindah ke Jakarta, aku selalu berpikir bahwa aku bisa pergi sendiri, termasuk pulang malam sendiri. Yang kudengar waktu itu adalah, Jakarta kota yang selalu ramai, termasuk di malam hari. Dan saudaraku pernah mengatakan bahwa di malam hari pun selalu ada kendaraan umum. Jadi, tak perlu takut tak bisa pulang di malam hari. Tapi, waktu aku sudah di Jakarta, aku jadi berubah pikiran. Entah kenapa, aku merasa tidak nyaman jika pergi sendiri sampai malam. Padahal ya tidak sampai malam banget lo. Paling sampai pukul 8. Jika aku pergi sendiri, dan jam sudah menunjukkan pukul 8, aku jadi gelisah. Jadi, sebisa mungkin aku pergi siang hari. Dan kalaupun sampai malam, biasanya pulangnya aku janjian dengan suamiku atau minta dijemput. Itu pun sangat jarang, dan sebisa mungkin kuhindari.

Aku tak tahu kenapa kalau di Jakarta aku tidak bisa pulang malam sendiri. Padahal dulu, semasa di Jogja (dan sampai sekarang kalau aku di Madiun atau di Jogja), pulang malam bukan jadi hal besar bagiku. Di Jogja, rumahku ada di daerah utara dan kalau pulang aku mesti lewat daerah yang persawahan yang sepi. Tapi, kalau masih pukul 9 malam, aku bisa pulang sendiri tanpa minta dijemput kakakku. Bahkan, aku ingat, aku pernah pulang malam pukul 22.00 lewat, naik motor sendiri. Memang sih, aku tidak setiap hari pulang malam. Tapi setidaknya, aku merasa baik-baik saja jika memang harus pulang malam sendiri. Yah, ternyata sebuah kota membawa perubahan dalam diriku. Aku menyadarinya sekarang ….

Ngomong-ngomong, apa yang tidak bisa kamu lakukan sendiri? Dan apa pula yang bisa kamu lakukan sendiri? Yuk, berbagi cerita.

Tulisan ini diikutsertakan dalam perhelatan Giveaway: Pribadi Mandiri yang diadakan dua nyonya: Imelda Coutrier dan Nicamperenique. 😀

Mudik dan E-KTP

Sekitar dua minggu yang lalu, Ibu meneleponku memintaku supaya pulang ke Madiun. Wah, padahal aku belum ada rencana pulang dalam waktu dekat. Dan pekerjaanku masih banyak. Kalau aku pulang, akan banyak waktu yang terpotong di perjalanan. Belum lagi capeknya. Aku tak ingin bercapek-capek kalau sedang banyak pekerjaan. Walaupun bisa membawa pulang pekerjaan, biasanya tak bisa bekerja dengan maksimal.

Tapi Ibu bilang, ini urusan e-ktp.
Wah, e-ktp sudah sampai Madiun, ya?

Aku memang masih ber-KTP Madiun walaupun tiga tahun terakhir ini tinggal di Jakarta. Sengaja aku tidak pindah KTP, karena pak RT di tempat tinggalku dulu (di Klender) mematok tarif Rp 250.000 untuk mengurus KTP baru. Aku mau mengurus sendiri tidak boleh. Katanya, “Sama saja, nanti di kelurahan akan dimintai uang juga.” Jadi, Pak RT tak mau memberiku surat jalan. Ya sudah. Aku urung pindah KTP. Menurutku, itu sudah termasuk korupsi. Kalau aku membayarnya, berarti aku menyetujui tindakannya. Selain itu di tempat tinggalku yang sekarang, kata beberapa tetangga, Pak RTnya juga sama matrenya. (Aku heran, kenapa di ibu kota ini untuk mengurus KTP saja mesti berhadapan dengan “preman” ya?) Akhirnya aku tetap ber-KTP Madiun saja. Toh sejak awal aku tidak berniat menghabiskan sisa hidupku di ibu kota. Jadi masih akan pindah-pindah.

Sebenarnya aku ingin menunda untuk urusan e-ktp ini. Tetapi kupikir, daripada ribet di kemudian hari, aku sendiri yang repot. Selama bisa menghindari berurusan dengan pemerintah, sebaiknya tidak cari masalah kan? Akhirnya aku pun pulang.

Akhirnya Jumat tanggal 14 lalu aku pulang ke Madiun. Dari Jakarta pukul 15.00 naik kereta Senja Kediri. Keretanya bersih, dan walaupun kereta bisnis pedagang tidak ikut terus dalam kereta. Pedagang hanya masuk kalau kereta berhenti di stasiun besar. Lagi pula berhentinya tidak lama. Setelah kereta jalan, para pedagang itu pun turun. Ini berbeda dengan kereta bisnis jurusan ke Jogja. Dalam kereta bisnis ke Jogja biasanya pedagang masuk dan ikut terus dalam kereta sepanjang perjalanan. Tidak nyaman. Dan kurasa ini mengganggu keamanan kereta.

Aku sampai Madiun hari Sabtu pukul 02.30 dini hari. Sampai di rumah langsung tidur lagi. Pagi aku bangun, badanku pegal-pegal. Duh, begini deh kalau naik kereta malam. Tidurnya tidak nyenyak. Aku lalu bilang ke ibuku mau jalan-jalan pagi. Ibu lalu menjawab mau menemaniku jalan-jalan. Oke deh. Ibu lalu mengajakku jalan sampai Lapangan Gulun. Kira-kira 15 menit jalan kaki dari rumah. Ternyata lapangan Gulun ini sekarang jadi lapangan yang dipakai untuk jalan kaki masyarakat. Cukup ramai juga. Kebanyakan yang jalan kaki adalah orang yang sudah berumur. Ada juga kakek-kakek yang sedang belajar jalan lagi (tampaknya habis kena stroke). Di salah satu sisi lapangan ada bagian yang diberi batu kerikil, semacam untuk pijat refleksi. Dan di situ cukup banyak orang memakainya. Setelah kira-kira 30 menit jalan keliling lapangan, aku mencoba bagian yang berkerikil tersebut. Wuah, rasanya nyos banget! Hehe. Setelah jalan-jalan dan kena matahari pagi, badan jadi lebih segar. Gejala masuk angin sudah hilang. Ternyata obat masuk angin itu mudah saja ya. Jalan pagi dan kena sinar matahari.

Sorenya untuk urusan e-ktp ini, aku diminta datang ke kelurahan Oro-oro Ombo hari Sabtu pukul 18.00-20.00. Untung di rumah aku masih ada baju hem, jadi tak perlu pinjam atasan. Aku membayangkan, antriannya bakal panjang. Mesti duduk berjam-jam menunggu giliran. Tetapi ternyata tidak. Waktu aku sampai di sana, aku hanya perlu mengantri satu orang. Sebelumnya aku menyampaikan kepada petugas bahwa nama yang tercantum di KTPku terakhir keliru. Kurang, lebih tepatnya. Nama belakangku hanya ditulis Widyaning, bukannya Widyaningsih seperti dalam akte kelahiran. Petugas yang ada saat itu kebanyakan adalah anak muda. Sepertinya mahasiswa. Mereka awalnya kurang paham waktu aku menjelaskan bahwa namaku keliru. Kata bapakku, petugas yang dulu mengatakan nama dalam KTPku keliru karena tidak cukup tempatnya. Repot memang kalau punya nama cukup panjang. Sebenarnya aku lebih suka disingkat saja. Mbak-mbak petugas yang masih muda itu mengatakan sepertinya permintaanku itu tidak bisa dipenuhi. Si Mbak mengatakan, “Kalau kemarin itu ada kasus, minta ditambah gelar. Itu bisa. Tapi kalau namanya diperbaiki, belum pernah.”
Aku dengan sedikit ngeyel berkata, “Lha kalau nama saya disingkat trus dikasih gelar, bagaimana?”
“Kayaknya nggak bisa, Bu.”
Wah, bagaimana dong? Padahal bagiku, gelar itu tidak penting. Tapai kalau agar namaku bisa diperbaiki, aku harus mencantumkan gelar, ya apa boleh buat? Dan aduh, kok aku dipanggil Bu ya sama mbak-mbak itu? Tampangku sudah tua ya? Hehe. Memang sih, rambutku sudah banyak yang putih, tapi kan masih berjiwa muda 😀

Sewaktu aku memberi penjelasan panjang lebar itu (dengan ditambah penjelasan dari kedua orangtuaku yang ikut juga saat itu), tiba-tiba datang seorang bapak-bapak. Mbak-mbak petugas di garda depan itu lalu berkata, “Nah, ini ada Bapak X. Dia petugasnya Bu,” katanya.

Ibuku yang melihat bapak-bapak itu langsung berkata, “Lo, Dik X to yang bertugas? Njenengan yang mengurusi e-ktp?”
“Inggih, Bu,” jawabnya sopan.
Woalah … ternyata dia temannya ibuku waktu masih berkantor dulu. Bapak itu kemudian mengatakan bahwa namaku bisa diganti sesuai dengan akta kelahiran, asal aku belum difoto.

Akhirnya tak lama kemudian aku difoto, diambil sidik jari, tanda tangan, dan foto iris. Untuk foto iris ini, alatnya semacam teropong. Untuk itu semua hanya memakan waktu sekitar 5-10 menit. Rasanya lebih lama eyel-eyelan dengan petugas tadi daripada untuk foto dan lain-lain itu.

Aku sempat berpikir, bagaimana ya pelaksanaan e-ktp di Jakarta? Jika di Madiun, hampir tak banyak kendala. Kata ayahku, untuk satu RT di daerah kami, memang tidak semua diminta datang saat yang sama. Bergilir. Dan saudaraku yang rumahnya tak jauh dari kami, diminta datang pukul 20.00. Jarak rumah dengan kelurahan tempat untuk foto itu juga tak jauh. Naik motor lima menit sampai, deh.

Dari pengalamanku pulang kemarin itu, aku bersyukur besar di kota kecil. Di kota kecil, apa-apa mudah dan relatif aman. Ke pasar dekat, fasilitas penunjang kesehatan juga mudah dijangkau. Biaya hidup juga relatif murah. Jalanan di Madiun cukup lebar dan jarang sekali jalanan yang rusak. Mungkin bagi orang yang pertama kali datang ke sana, yang agak membingungkan adalah banyak jalan yang satu arah. Tetapi menurutku itu tak soal, karena arus lalu lintas jadi lebih rapi.

Ngomong-ngomong bagaimana e-ktp di daerahmu? Semoga lancar dan tidak banyak kendala.

Nostalgia Belanja

Aku tak terlalu ingat, sejak kapan aku mulai benar-benar ke pasar. Maksudku, benar-benar belanja sendiri, memilih dan menawar sayur, bahan untuk lauk, bumbu dan semacamnya.

Ketika aku masih kecil, ibuku rasanya ke pasar hanya pada saat akan masak besar atau mau mencoba menerapkan resep baru. Kadang-kadang saja aku ikut Ibu ke pasar. Yang paling kuingat, aku senang jika Ibu belanja di Pasar Kawak (kawak = lama, bahasa Jawa). Pasar itu tidak terlalu besar dan sebenarnya agak jauh dari rumah. Aku tak terlalu ingat mengapa aku suka ke sana. Mungkin jika ke sana, di benakku berdering makna itu berarti ibuku akan mencoba resep baru atau hendak memasak makanan favorit.

Untuk makanan sehari-hari, ada tukang sayur yang sejak pagi pasti sudah meletakkan bakulnya yang penuh dengan berbagai sayur, bumbu, daging, jajanan pasar, dan semacamnya di teras depan. Yu Nem demikian keluarga kami memanggilnya. Aku pun ikut-ikut memanggilnya demikian. Kini kupikir-pikir aku tak seharusnya memanggilnya begitu karena “Yu” itu kependekan dari “Mbakyu” (kakak perempuan), padahal dia ibu-ibu setengah baya. Mungkin sebaiknya aku memanggilnya Mbok atau Bu Nem. Tapi sudahlah, namanya juga anak kecil, bisanya cuma ikut-ikutan. Dia juga tidak protes aku ikut memanggilnya demikian. 😀

Untuk makanan sehari-hari, kami berbelanja pada Yu Nem itu. Nyaris tak pernah ganti tukang sayur, kecuali jika Yu Nem tak datang karena sakit atau ada keperluan tertentu. Yang berbelanja pada Yu Nem seringnya bukan ibuku, tetapi Mak’e–pengasuhku sekaligus pengurus dapur keluarga kami.

Acara belanja itu biasanya mulai sekitar pukul 06.30. Yu Nem biasanya sih datang pukul 06.00. Dia akan meletakkan bakulnya yang besar dan penuh sayuran, yang terdiri dari dua lapis. Lapis pertama adalah bakul lebar dan tak terlalu dalam, biasanya berisi bumbu-bumbu dapur dan jajan pasar. Lalu yang kedua adalah bakul besar, yang menopang bakul pertama tadi. Nah, di situlah tersimpan segala macam sayur: kangkung, bayam, gori (nangka muda), keluwih, kelapa, beberapa potong daging yang dibungkus daun jati, daging ayam, setumpuk daun jati untuk membungkus, dan entah apa lagi aku lupa. Selain itu dia masih menenteng beberapa keranjang ikan pindang. Meriah, deh. Dan aku senang sekali memerhatikannya mengeluarkan berbagai dagangannya. Mak’e biasanya membawa baskom untuk tempat belanja. Zaman itu tas kresek masih sangat jarang dipakai. Pun penjual tak pernah memberikannya kepada pembeli sebagai tempat belanja. Jadi orang yang belanja mesti membawa baskom atau keranjang belanja sendiri.

Aku paling suka jika libur sekolah karena aku bisa ikut nimbrung berbelanja di teras rumah. Kadang-kadang, kalau aku sedang tidak enak badan sehingga tak masuk sekolah, aku ikut nimbrung belanja pula. Hehehe. Nakal ya, harusnya istirahat di dalam rumah malah ikutan ngobrol di depan rumah. Padahal, aku takut juga kalau-kalau ada teman sekolahku yang lewat di depan rumah lalu nanti melaporkan bahwa aku malah duduk-duduk di depan rumah. Aku mendengarkan obrolan mereka sembari duduk di balik badan Mak’e yang gendut. Obrolan mereka selalu hangat walaupun seringnya mempercakapkan hal-hal remeh–soal harga beberapa bahan kebutuhan yang naik, wayang yang mereka dengarkan, dan yang lebih seru lagi adalah soal nomor buntut! 😀 Itu lo, waktu masih ada SDSB, Porkas, dll.

Enaknya ikut nimbrung saat Mak’e berbelanja adalah aku bisa memilih jajan yang akan dibeli. Yu Nem memang selalu membawa jajan. Yang ia bawa bervariasi: getuk, tiwul, gatot, bolang-baling, kue moho (aku tidak tahu apa bahasa Indonesianya), grontol (pipilan jagung rebus yang diberi parutan kelapa), bakpau, kue jongkong (lagi-lagi aku tidak tahu apa sebutan bahasa Indonesianya), kue lapis, bolu kukus. Beberapa jajanan itu dibungkus daun jati, jati saat hendak dimakan, tercium aroma khas daun jati. Sayang sekali saat ini daun jati jarang dipakai untuk membungkus. Padahal ini termasuk pembungkus yang ramah lingkungan dan memiliki bau yang khas.

Selain Mak’e kadang ada juga tetangga yang ikut berbelanja di tempat kami. Jadi, halaman rumahku jadi “jujugan” atau salah satu tempat tujuan berbelanja. Ditambah lagi di depan rumahku ada dokter anak yang praktek pagi dan sore. Ia punya pembantu namanya Pak No. Yang aku ingat, Pak No bertugas membersihkan bagian depan tempat praktik merangkap tukang parkir dan jualan balon untuk anak-anak. Pak No ini juga kerap ikut nimbrung di halaman depan untuk mengobrol ala kadarnya. Walaupun tak ramai-ramai amat yang berbelanja, tetapi yang menyenangkan adalah rasa gayeng yang muncul saat orang-orang ini datang.

Sekarang jika kurenungkan, Yu Nem ini besar sekali jasanya bagi keluargaku. Kami tak perlu keluar ongkos ke pasar dan kami bisa mendapatkan bahan makanan segar setiap hari. Maklum, saat itu kami tidak punya lemari es. Jadi, bahan makanan yang dibeli hari itu, habis pada hari itu pula. Memang ada kalanya Yu Nem tidak berjualan karena sakit atau ada keperluan keluarga. Biasanya kalau hendak libur, ia memberitahukan beberapa hari sebelumnya. Jadi kami pun bersiap belanja di tukang sayur lainnya.

Yu Nem sendiri merupakan gambaran perempuan yang kuat. Ia bekerja untuk membantu perekonomian keluarga. Jarang kudengar ia mengeluh. Setiap hari ia bangun dini hari lalu ke pasar, selanjutnya ia belanja untuk dijual lagi. Bakul (bahasa Jawa: tenggok) yang ia gendong tidak ringan. Pekerjaan itu ia lakoni dengan berjalan kaki. “Seragam” yang kenakan juga khas: kebaya sederhana, jarik, dan sandal jepit. Rumahnya cukup jauh dari pasar besar dan dari rumahku, yaitu di daerah Winongo. Mungkin kalau naik sepeda dengan santai memakan waktu 15-20 menit. Entah sepanjang hari itu ia berjalan berapa lama dan berapa jauh. Aku tak pernah menanyakannya.

Kini, aku tak tahu Yu Nem ada di mana. Semenjak Mak’e meninggal, dia mulai jarang ke rumahku. Jika sekarang masih hidup, barangkali ia sudah tua sekali. Aku berharap, di masa tuanya ia bahagia dan tidak sakit.

Karnaval Tujuhbelasan

Di bulan Agustus, frasa “tujuhbelasan” atau kalau bahasa Jawa “pitulasan” mulai sering kudengar. Dalam benakku, tiap kali mendengar frasa ini, yang terlintas adalah karnaval (pawai) yang meriah.

Ketika aku masih kecil, mendengar kata karnaval membuatku gembira. Rasanya tak sabar untuk menonton. Aku mulai bertanya-tanya, kapan karnaval diadakan? Aku pun menghitung hari tak sabar ingin ikut berdesak-desakan dengan warga kota lainnya, berusaha berdiri paling depan untuk menyaksikan pawai keliling kota. Meski matahari bersinar terik, kegembiraan itu tidak menguap. Yang kurasakan tetap kegembiraan yang membuncah; penasaran untuk menjadi saksi acara meriah yang diselenggarakan tiap tahun di kota kecilku.

Biasanya dari rumah kami akan berangkat beramai-ramai. Karena dulu rumahku dihuni oleh banyak kerabat, maka kami pun berangkat bersama–dan aku adalah yang termuda dari rombongan itu. Bekal yang kami bawa adalah air minum dalam botol dan payung. Waktu itu belum ada air mineral kemasan, yang sering dijajakan hanyalah semacam air minum kotakan seperti teh kotak, sari buah, dan es lilin. Jika tak bawa minum, mesti beli, dan itu berarti pengeluaran lebih. Payung juga penting untuk dibawa karena itu adalah peneduh otomatis yang bisa langsung dibuka ketika panas matahari membakar pucuk kepala. Tetapi aku biasanya tak pernah peduli dengan panas matahari yang menyengat. Yang kuinginkan adalah berdiri paling depan–walaupun sebenarnya itu sulit karena tubuhku yang kecil ini kerap tersikut dan terhimpit oleh orang yang badannya lebih besar.

Jalan terdekat dari rumah yang dilalui karnaval itu adalah Jalan Pahlawan. Waktu tempuhnya kira-kira 15 menit berjalan santai. Dulu aku sering berharap jalan depan rumahku juga dilewati karnaval, tetapi nyatanya harapan itu tak pernah terkabul. Di Jalan Pahlawan itu ada kantor Telkom, tempat budeku berkantor. Gedung Telkom itu rasa-rasanya gedung tertinggi di kotaku. Tingkat empat kalau tak salah waktu itu. Pernah suatu kali Bude menawarkan aku ikut masuk ke kantornya, dan mengajakku ke tingkat paling atas. Wah senangnya! Aku pikir aku bisa melihat karnaval tanpa susah payah. Namun karena aku masih sangat pendek, aku hanya bisa berjinjit dan melihat dari balik jendela. Itu pun masih kurang jelas karena yang tampak justru kepala orang-orang. Tidak seasyik yang kukira rupanya. Selanjutnya aku pun ikut berdesak-desakan lagi di antara para penonton.

Salah satu hal yang aku ingat adalah, biasanya karena kerumunan semakin lama semakin banyak, maka orang cenderung untuk maju. Akibatnya, jalanan jadi menyempit. Lalu tak lama kemudian ada sepeda motor besar dengan sirine nguiiing… nguiiiing lewat di dekat penonton agar mereka mundur ke belakang. Tetapi tentu saja itu tak terlalu ada gunanya, karena setelah sepeda motor itu lewat, para penonton mulai maju lagi agar bisa menyaksikan karnaval lebih jelas.

Ketika aku SD aku punya teman dekat yang berumah di Jalan Pahlawan. Ayahnya seorang dokter tentara, jadi mendapat rumah dinas di jalan protokol tersebut. Nah, rumah kawanku ini jadi markas teman-teman untuk menonton karnaval. Menyenangkan sekali, karena kami tak perlu kerepotan jika di tengah-tengah menonton karnaval kami kebelet pipis atau haus. Tinggal pakai kamar mandi rumah temanku saja kan, dan biasanya temanku akan mengeluarkan minuman dingin dari lemari es. Pokoknya serasa nonton dari depan rumah sendiri deh. Rumah temanku itu berpagar pendek dari beton (sebenarnya agak tinggi untuk ukuranku). Biasanya kami akan memanjat pagar tersebut, lalu berdiri di atasnya. Wah, benar-benar mengasyikkan karena kami bisa berdiri berderet. Kami berdiri bagaikan para jagoan yang berhak atas wilayah istimewa itu. 😉

Aku tak ingat, apa sebenarnya yang kala itu membuatku selalu tertarik menonton karnaval. Rasa-rasanya hanya kemeriahan dan asyiknya menonton beramai-ramai itulah yang membuat kangen. Oya, yang mengasyikan juga adalah kadang-kadang kita mengenali para peserta karnaval, misalnya tetangga, teman, atau bahkan kerabat sendiri. Ayahku kadang ikut karnaval tetapi karena beliau guru, dan mesti mendampingi para murid yang sedang ikut pawai.

Ketika aku SMP, sekolahku ikut karnaval. Dan kala itu pula aku ikut karnaval. Waktu itu yang aku ikuti adalah karnaval jalan, temanya kalau tak salah kerajaan Jawa. Yang melatih adalah guru kesenianku, yang bernama Pak Lambertus, yang memang jago melatih drama dan suka menciptakan lagu. Seingatku, kami dulu berpakaian ala Jawa lalu beramai-ramai menyanyikan lagu dan ada sedikit tariannya. Waktu di depan Bapak Walikota, kami unjuk kebolehan. Capek juga sih sebenarnya, karena mesti berjalan kaki keliling (jalan-jalan besar di) Madiun di bawah terik matahari, mesti pakai kostum pula. Tetapi karena ramai-ramai yaaaa, seneng-seneng aja. Dan akhirnya kelelahan itu dibayar oleh kemenangan kami sebagai juara I. (Aku waktu itu baru tahu kalau rombongan yang ikut pawai itu ternyata ada penilaiannya.)

Karnaval kedua yang aku ikuti adalah ketika SMA kelas 1. Waktu itu anak kelas 1 diwajibkan ikut karnaval jalan kaki. Ada juga yang dipilih untuk karnaval sepeda, tetapi hanya anak tertentu (karena memang pesertanya tidak sebanyak karnanal jalan kaki.) Entah kenapa, karnaval masa SMA ini kurang menarik bagiku. Yang aku ingat adalah capeknya hehehe.

Pernah pula, kaum Mudika (muda-mudi katolik) di gerejaku ikut karnaval. Seingatku aku ikut pula, tapi aku sudah tak terlalu ingat apakah yang aku ikuti karnaval sepeda atau karnaval jalan kaki. Yang aku ingat, aku masih menyimpan foto-foto sebelum dan sesudah karnaval. Sayang foto-foto itu tidak kubawa ke Jakarta, jadi aku tak bisa memasangnya di sini.

Satu hal yang menyenangkan dari menonton dan ikut karnaval adalah karena ada faktor kebersamaan. Semakin kompak rombongan kita, semakin asyik. Mungkin salah satu hal yang membuat rombongan karnavalku di zaman SMP itu menang adalah faktor kekompakan pula. Dan juga ketika aku menonton karnaval bersama teman-teman yang kompak dan seru, itu pula yang menyenangkan.

Selepas dari Madiun aku tidak pernah menyaksikan karnaval tujuhbelasan lagi. Rasanya kok tidak terlalu pengen ya? Hehe, mungkin malas membayangkan mesti berdesak-desakan. Tetapi kalau ada teman yang asyik, dapat lokasi nonton yang oke, dan bisa sekalian hunting foto, boleh juga sih. Jadi, kapan nonton karnaval lagi ya? 😉

Madiun – Jogja

Madiun dan Jogja adalah dua kota penting bagiku. Di kedua kota itulah aku pernah tinggal cukup lama. Madiun tempatku lahir dan menghabiskan masa kecil serta masa remajaku; Jogja adalah kota tempatku kuliah, mulai belajar mandiri, dan masa ketika aku mulai mengenal dunia kerja.

Dua kota itu sebenarnya tak terlalu jauh. Anggapan “tidak terlalu jauh” itu muncul setelah sekarang aku tinggal di Jakarta, sih. Soalnya, kalau dari Jakarta ke Jogja naik kereta api, lama perjalanan yang diperlukan sampai 8 jam, bahkan lebih. Tahu sendiri kan, kereta api itu suka molor. Kalau mau cepat, ya naik pesawat. Waktu tempuhnya kurang lebih 1 jam. Karena itu, dibandingkan dengan perjalanan Jakarta-Jogja, maka Jogja-Madiun waktu tempuhnya jauh lebih singkat. Bisa 2,5 jam kalau naik kereta dan keretanya tidak pakai acara molor. Kalau molor, bisa 3 jam, hampir 4 jam.

Dulu nenek dan kakekku dari pihak Ibu, tinggal di Jogja. Maka, sejak kecil aku sudah sering melakukan perjalanan Madiun-Jogja. Kalau musim liburan, aku biasa main ke Jogja. Dulu sih aku tidak naik kereta kalau ke Jogja, tetapi lebih memilih naik travel. Aku ingat, keluarga kami dulu berlangganan travel, karena akan dijemput dan diantar sampai di tempat tujuan. Praktis, dan ongkosnya pun tidak terlalu mahal jika dibandingkan bus. Tetapi naik travel itu memakan waktu cukup lama. Pertama, itu karena kita mesti siap satu jam sebelumnya dan kita akan diajak putar-putar kota dulu menjemput penumpang lainnya. Kedua, jika sudah sampai di tempat tujuan, bisa jadi kita ikut putar-putar kota untuk mengantar penumpang lain. Paling enak kalau dijemput belakangan dan diantar duluan. Karena mesti ikut acara putar-putar kota itulah, naik travel cenderung lebih lama jika dibandingkan dengan naik kereta atau bus antar kota.

Seingatku, kala masih kecil aku pernah naik travel sendiri dari Madiun ke Jogja. Yah, itung-itung latihan mandiri. 😀 Dulu travel langganan kami ada hadiahnya. Kalau sudah langganan, simpan tiketnya, dan jika sudah terkumpul sampai jumlah tertentu (biasanya 10 lembar) bisa ditukar dengan gelas. Saking seringnya naik travel itu, keluargaku punya sejumlah gelas. Mungkin 1 lusin jumlahnya atau bahkan lebih. Kukira hadiah itu untuk menarik pelanggan, karena saat itu ada beberapa travel Madiun-Jogja.

Setelah agak besar, aku mulai agak jarang naik travel kalau ke Jogja. Aku memilih naik bus, karena ongkosnya bisa jauh lebih murah daripada travel. Kalau tidak keliru, travel jurusan Madiun-Jogja pun sudah mulai berkurang. Dibandingkan dengan travel, naik bus lebih luwes untuk soal waktu. Mau berangkat jam berapa saja bisa. Mau tengah malam atau dini hari, juga bisa. Lagipula, bus dari Madiun ke Jogja banyak sekali (biasanya jurusan Surabaya-Jogja yang lewat Madiun). Bus-bus yang ke Jogja ini biasanya pemberangkatannya dari Surabaya, jadi kadang waktu di Madiun, tempat duduknya sudah terisi setengah penuh. Bus-bus itu sebagian ada yang dikenal sering ngebut. Salah satu yang terkenal suka kebut-kebutan adalah bus Sumber Kencono. Terakhir aku naik bus ini, ngebutnya parah betul, sampai-sampai aku mengirim SMS ke pihak pengelola bus tersebut untuk melaporkan bahwa sang supir nyetirnya ngawur. Jika ditempuh dengan bus, Madiun-Jogja, bisa memakan waktu 4 jam.

Aku masih sering naik bus jurusan Madiun-Jogja (atau sebaliknya) sampai saat aku kuliah di Jogja. Walaupun sebenarnya aku kurang suka naik bus, tetapi untuk keluwesan waktu dan tarif yang bersaing, bus merupakan pilihan. Aku pernah punya kartu langganan untuk bus tertentu. Aku lupa apakah untuk bus Sumber Kencono atau Mira, ya? Dengan kartu itu kita bisa mendapat potongan harga jika bepergian bukan pada akhir pekan. Satu hal yang menarik, untuk bus jurusan Jogja-Surabaya, sang kondektur sangat teliti untuk urusan karcis. Kadang kala di tengah perjalanan, kulihat dia menghitung jumlah penumpang dan mencocokkan dengan jumlah karcis. Tak jarang, dia meminta kita menunjukkan karcis yang kita pegang. Jadi, akan ketahuan kalau ada yang tidak membayar. Kalau di awal kita belum mendapat kembalian, dia akan mencatat berapa kembalian kita di karcis kita, dan kalau sudah ada uangnya, dia akan mondar-mandir sambil menanyakan kepada para penumpang apakah ada yang belum dapat kembalian.

Selama kuliah aku sering naik bus jika akan pulang dari Jogja ke Madiun. Sampai suatu saat ada temanku yang berkata, “Ih,serem deh kalau naik bus. Banyak yang ngebut. Aku lebih suka naik kereta kalau ke Jogja.” Waktu itu, aku tak pernah membayangkan naik kereta ke Jogja. Lagi pula waktu itu, tak ada kebiasaan di keluargaku yang naik kereta untuk ke Jogja. Selama ini, naik kereta adalah untuk ke Jakarta atau ke Bandung. Sama sekali tak terbayangkan naik kereta ke Jogja. Akhirnya, aku pun mencoba naik kereta. Kereta yang pertama kali kunaiki saat ke Jogja adalah kereta ekonomi. Selama ini aku membayangkan kereta ekonomi itu selalu berjubel dan saat kita naik, tidak akan dapat tempat duduk. Tetapi ternyata tidak. Kereta waktu itu memang agak penuh, tetapi aku masih dapat tempat duduk. Sejak itu, aku mulai sesekali naik kereta.

Naik kereta menjadi kebiasaan baru. Ketika masih kuliah, aku lebih sering naik kereta ekonomi. Kalau dari Jogja, sebenarnya cukup mudah karena ada kereta Sritanjung jurusan Jogja-Banyuwangi, yang lewat Madiun. Itu adalah kereta ekonomi. Nah, karena pemberangkatannya dari Jogja (St. Lempuyangan), aku pasti dapat tempat duduk. Lagi pula, kereta itu gerbongnya cukup banyak. Jadi, tempat duduk selalu dengan mudah didapat.

Sekarang, aku tak pernah lagi naik bus untuk ke Madiun. Aku lebih memilih naik kereta karena rasanya lebih nyaman. Apalagi sekarang ada kereta Sancaka (Jogja-Surabaya yang lewat Madiun). Itu adalah kereta bisnis-eksekutif, jadi lumayan cepat jika dibandingkan kereta ekonomi–karena biasanya didahulukan.

Beberapa bulan belakangan ini, ada juga kereta baru yang ke Jogja, dengan pemberangkatan dari Madiun. Namanya, Maja, kependekan dari Madiun-Jaya.

Maja, hasil jepretan suami 🙂

Kereta ini menjadi alternatif baru. Karena kelas ekonomi, harga tiketnya lebih murah daripada Sancaka. Kalau tak salah, Sancaka sekarang tiketnya sampai 50 ribu lebih, sedangkan Maja–terakhir aku naik–tiketnya masih sekitar 20-25 ribu. Selisihnya lumayan kan? Kelebihannya Maja adalah, walaupun kereta ekonomi, kereta ini masih bagus dan bersih. Interiornya pun agak berbeda dengan kereta-kereta lainnya. (Sumber foto dari sini.)

interior Maja

Kereta ini berangkat dua kali dari Jogja, pagi dan sore (kalau dari Madiun, pagi dan siang). Aku baru dua kali naik Maja. Yang pertama sore hari, dan itu lumayan penuh sampai banyak yang berdiri. Tetapi aku pernah juga naik yang pagi hari, dan dapat tempat dengan mudah. Kabarnya, kalau pemberangkatan sore hari dari Jogja, kereta itu sering penuh. Mungkin karena mendapat limpahan penumpang dari Prameks (jurusan Jogja-Solo).

Nah, sekarang sih rasanya aku akan selalu memilih naik kereta dibandingkan bus atau travel. Rasanya lebih nyaman saja sih.

Ngomong-ngomong, kalau kamu, lebih suka bepergian naik apa?