Sebuah Pertanyaan dan Tentang Mengumpulkan Harta di Surga

Kadang ada satu pertanyaan yang tiba-tiba muncul di kepalaku. Pertanyaan itu terus membayangi sampai ditemukan jawaban yang cukup memuaskan. Kadang jawaban itu lama sekali baru ketemu. Kadang ketemunya tidak langsung utuh, tetapi satu-satu. Kadang pertanyaan itu muncul, kadang pergi lagi.

Belakangan ini, ada satu pertanyaan yang muncul: Apa yang sebenarnya aku inginkan?

Aku mencoba menebak-nebak mengapa muncul pertanyaan ini. Mungkin aku ini terlihat sibuk tapi tidak jelas tujuannya. Tidak fokus. Oh, ya betul, mungkin karena tidak fokus itulah pertanyaan itu datang. Aku memang sering tidak fokus. Mau ke sini, ke sana, tapi akhirnya tidak ke mana-mana. Lalu, apa yang sebenarnya aku inginkan? Apa tujuan yang di depan?

Samar-samar ada sih jawabannya. Tetapi ya gitu, masih samar.

Sampai pagi ini.

Aku takjub aku bisa bangun sepagi itu tanpa alarm padahal semalam aku tidur larut. Sebelum tidur aku memang berkata dalam hati. “Aku ingin ikut misa harian besok pagi.” Dan pas jam 5 aku bangun. Melawan dinginnya pagi yang membekukan, aku berangkat ke gereja Banteng.

Bacaan misa hari ini adalah tentang mengumpulkan harta di surga. “Bukan tentang menjadi apa atau siapa,” begitu khotbah Romo, “tetapi apakah kita sudah mengupayakan seluruh usaha kita untuk mengumpulkan harta di surga.” Harta di surga di sini maksudnya adalah keutamaan-keutamaan hidup. Karena di mana harta kita berada, di situlah hati kita berada.

Aku seperti mendapat sedikit pencerahan dari apa yang kudengar dan apa yang kualami pagi ini. Pertama, ketika aku bisa bangun pagi tanpa menunda-nunda, itu berarti aku sudah tahu apa yang kuinginkan: Misa pagi. Kedua, soal mengarahkan keinginanku, yaitu pada keutamaan-keutamaan hidup. Ini PR besar dan mesti dibuat lebih detail.

Ditambah aku pagi ini mendapat telepon, dan suara di seberang bertanya soal pembuatan sabun. Lalu aku bercerita bahwa tempo hari aku menunjukkan demo pembuatan sabun di sebuah paroki di sini.

Samar-samar aku mendapat jawaban apa yang kuinginkan. Tidak hanya keinginan pribadi sih, tetapi aku lebih dari itu. Maksudnya, supaya yang kuinginkan, yang kulakukan tidak menguntungkan aku pribadi, tetapi memberi manfaat pada banyak orang.

Advertisements

Butuh Membuat Jarak

Kemarin aku membaca di status temanku begini kira-kira: Sesuatu yang kamu benci itu mungkin sesuatu yang membutuhkan lebih banyak cinta darimu.

Membaca itu aku jadi tertegun.

Hari-hari belakangan ini aku sedang bruwet. Aku marah, kesal, dan benci dengan beberapa kerabat ibuku. Mungkin sudah sampai tahap muak. (Aku jarang banget kan nulis seperti ini. Tapi aku butuh “tempat sampah” dan apa yang terjadi akhir-akhir ini perlu kuingat untuk pembelajaran.) Mengapa mereka hanya memikirkan materi dan bahkan sampai menyengsarakan orang lain? Yang membuatku muak adalah semua itu dibungkus dengan kata-kata agamis dan dilakukan orang-orang yang menyandang gelar tinggi.

Tapi ketika membaca status temanku itu, aku rasanya jadi sangat sedih. Aku sedih mengingat mereka dan diriku sendiri. Aku sempat bertanya-tanya pada diriku sendiri, apa yang sebenarnya terjadi. Apa yang sebenarnya kurasakan? Do we lack of love? Aku sampai benar-benar kehilangan kepercayaan terhadap orang-orang yang mestinya kuhormati.

Ya, mungkin aku yang kurang mencintai mereka. Tetapi aku butuh diam dan membuat jarak sejenak.

Adakah Kabar Baru dari Masa Lalu?

Aku tadi membaca di status teman: Tak ada kabar baru dari masa lalu dan tak ada kabar kepastian dari masa depan. Jadi, hiduplah saat ini.

Aku seperti ditampol membaca status itu.

Iya, betul juga. Tak ada kabar baru dari masa lalu.

Kadang aku masih berharap ada kabar baru. Tapi yang lalu memang sudah berlalu walau menyisakan rasa sampai saat ini. Detail peristiwanya juga sebagian sudah terlupa, tapi ada rasa yang tertinggal. Apakah kamu mengalami hal yang sama?

Aku perlu mengingat hal ini lagi: Hiduplah sepenuh-penuhnya pada masa sekarang.

Dan jangan lupa memaafkan orang lain dan diri sendiri.

Hadiah pada Minggu Pagi

Minggu pagi kemarin aku sebenarnya sudah memasang alarm agar bisa bangun sebelum jam 5. Alarm berbunyi, tapi aku tidur lagi. 😀 Kupikir tambah tidur 5 menit lagi deh. Eh… kok bablas sampai hampir jam 5.15. Yah, kesiangan deh kalau mau misa jam 5.30 pikirku.

Aku pikir, aku mau misa jam 7.00 saja. Tapi aku keasyikan di depan komputer, dan terlalu mepet kalau mau misa di Banteng. Akhirnya kuputuskan misa di Kapel Belarminus, Mrican. Itu pun aku agak buru-buru. Duh, aku memang buruk soal manajemen waktu. Padahal sudah mandi awal, lo. Tapi kok ya menunda-nunda berangkatnya. Menyebalkan betul aku nih.

Aku tiba di Kapel Belarminus ketika misa sudah dimulai. Untung sepi, jadi aku masih dapat tempat duduk di sayap timur. Efek lebaran mungkin. Jadi, masih banyak orang yang mudik. Gereja ikut berkurang umatnya.

Bacaan Injil kemarin adalah perumpaan kerajaan Allah. Kerajaan Allah itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di tanah. Setelah ditaburkan ke tanah, tanpa disadari oleh sang penabur, biji itu tumbuh dan menjadi lebih besar daripada segala sayuran lain serta mengeluarkan cabang-cabang yang besar pula. Romo menjelaskan bahwa kerajaan Allah itu merupakan suatu daya yang luar biasa di mana Tuhan bekerja di dalamnya. Mungkin kita tidak menyadarinya, tetapi hasilnya tampak dan berlimpah-limpah. Contohnya adalah Bunda Teresa di Kalkuta. Yang ia lakukan sebenarnya sederhana, yaitu menolong orang miskin yang sekarat. Hmm, nggak sederhana juga kali, ya? Ini mah, luar biasa. Tapi ia tentu tidak bercita-cita membuat gerakan yang besar. Intinya sih, lakukan suatu karya baik, dan lihatlah hasilnya di kemudian hari. Biasanya karya baik akan bergulir dan menular. Begitulah.

Mendengar hal itu, aku lalu ingat hal-hal yang ingin kukerjakan, tetapi masih banyak keragu-raguan yang membuatku mandeg. Setidaknya, khotbah Romo kemarin memantik semangatku.

Menjelang komuni, Romo memberi pengumuman: “Yang berulang tahun bulan ini, silakan maju ke dekat altar.” Aduh, aku deg-degan. Maju nggak ya? Selalu begitu deh. Aku malu untuk urusan maju dan tampil di depan begitu. Tapi aku akhirnya maju. Ternyata sudah ada beberapa orang yang maju. Lumayan banyak temannya–walau nggak kenal juga. Dan… pas komuni, kami boleh menerima komuni dalam dua rupa: roti dan anggur. Huhuhu… sukses mau nangis deh. Tapi aku tahan-tahan.

Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku menerima komuni dalam dua rupa. Yang kuingat, dulu pas di asrama pernah “nyicip” anggur pas unitku tugas. Itu sudah berapa tahun yang lalu? Dua puluh tahun lebih? Dulu aku sempat berpikir, rasanya tidak ada lagi kesempatan untuk menerima komuni dua rupa. Waktu sakramen pernikahan dulu aja enggak. Kapan lagi? Tak ada momen misa khusus lagi, pikirku. Tidak kusangka aku bisa menerima roti dan anggur.

Kali ini aku benar-benar merasakan “pelukan” yang sangaaaat erat. Terima kasih, Yesus! Cinta-Mu membuatku meleleh.

Sisa Kenangan

Natal kemarin kulalui di Madiun. Ya, tiba-tiba saja aku pengin pulang. Seperti ada yang memanggilku pulang.

Di rumah aku “meneruskan” flu, batuk, pilek. Heran, kali ini sakit fluku cukup lama. Aku sampai empat kali ke dokter untuk memeriksakan flu yang nggak sembuh-sembuh ini. Sebetulnya yang mengganggu “hanya” batuk yang kemudian mengakibatkan sesak napas. Beberapa malam aku tak bisa tidur nyenyak karena batuk-batuk. Ternyata batuk itu capek, ya.

Sesampainya di Madiun, aku pun ke Dokter Andi, dokter langganan sejak kecil, untuk periksa. Kulihat ruang tunggu dan ruang periksanya masih seperti dulu. Hanya kursi di ruang tunggu yang agak berubah. Di meja masih ada Alkitab yang kurasa bisa dibawa pulang. Aku sempat tergoda ingin mengambil satu eksemplar, tapi kupikir… ah di rumah aku sudah punya Alkitab.

Obat dari dr. Andi sebenarnya tak jauh berbeda dengan obat yang kuminum selama dua minggu terakhir kemarin. Tapi dr. Andi membuat racikan yang dimasukkan ke kapsul. Entah karena sugesti atau karena memang sudah waktunya sembuh, batukku membaik.

Selama di rumah Madiun aku jadi berpikir-pikir bagaimana rumah ini kelak. Bagaimana kalau Bapak dan Ibu sudah semakin tua dan kesulitan mengurus rumah ini, sementara kami rasanya tidak terbayang jika harus menetap di Madiun (lagi seperti dulu). Rumah ini adalah rumah keluarga besar sebenarnya. Aku hanya berharap kelak tidak ada perselisihan. Kadang aku agak-agak gimana gitu kalau membayangkan suatu saat nanti aku tidak bisa pulang lagi ke sana. Ada banyak kenangan yang sulit untuk dibiarkan menguap begitu saja. Tapi kakakku bilang, mungkin suatu saat rumah ini mesti kita relakan sebagai kenangan. Terus terang aku mendadak nggrantes.

Kupikir, semakin bertambahnya usia, semakin banyak kenangan, semakin banyak pula yang harus dilepaskan. Harapan masa lalu yang tidak tercapai, keinginan yang jika dipikir-pikir malah memberatkan jika terus digenggam, kenangan–baik yang buruk maupun yang baik. Mungkin selama ini kita menyimpan harapan pada orang (-orang) yang diam-diam kita kasihi, orang (-orang) yang diam-diam kita doakan, tapi entah kenapa mereka sepertinya malah membuat hati kita nggrantes, terluka. You know who lah. Hal-hal seperti itu kurasa perlu direlakan saja. Cuma nyrimpeti jalan kita melulu. Oh, ya… baiklah, mendoakan mereka kurasa tetap baik, tapi menata batin dan hati supaya tersedia hati yang cukup lapang untuk menampung hal-hal penting lain kurasa lebih penting.

Manusia Gelembung

Belakangan aku berpikir bahwa orang sulit untuk benar-benar objektif. Aku membayangkan setiap orang itu seperti berada sebuah gelembung. Lewat balik gelembung itulah seseorang melihat fakta dan dunia di sekitarnya. Di dalam gelembung-gelembung itu isinya bermacam-macam: ideologi, agama, pengetahuan, pengalaman, masa lalu, dan sebagainya.

Ketika dia melihat sebuah kenyataan, dia akan “membacanya” dengan segala yang dia miliki dalam gelembung itu. Misalnya, jika dia melihat orang memakai baju hitam, dari pengalamannya selama ini, orang yang memakai hitam itu ingin menutupi tubuhnya yang gemuk. Lalu dia menilai orang yang berbaju hitam itu seperti itu.

Untuk bisa melihat sesuatu dengan jernih, pertama-tama diperlukan kesadaran. Kesadaran bahwa dirinya tanpa sadar telah memakai kacamata tertentu–agama, pengalaman, ideologi, dll–untuk melihat suatu realita. Kedua, diperlukan keberanian untuk melepaskan kacamata serta keluar dari gelembungnya. Itu sulit. Kebanyakan orang tidak “sadar” dan tidak berani keluar dari gelembung. Berada dalam gelembung itu nyaman. Namun, sesuatu yang nyaman tidak selamanya baik.

Menurutmu sendiri bagaimana?

Merasa Dicintai

Aku menemukan puisi ini sekian belas tahun lalu. Entah di mana ya dapatnya, aku lupa. Menurutku menyentuh sekali. Puisi ini kutulis di sampul sisi dalam Puji Syukur-ku

Yesus, aku mencintai Engkau yang terlahir sebagai bayi
dalam kandang dan palungan
Kala itu Kau menangis
karena dinginnya hatiku
dan bekunya pikiranku

Yesus, aku mencintai Engkau yang tergantung pada salib
terbilang sebagai penyamun dan penjahat
Kala itu Kau mengeluh
karena aku meninggalkan Kau sendiri
tak berkawan, tak tersapa

Namun, Yesus, aku lebih mencintai Engkau
yang berada di atas patenaku
digenggam oleh tanganku yang berlumur dosa
Engkau tidak menangis dan mengeluh
Dikunyah oleh mulutku yang berbusa salah
Engkau tidak menegur dan meradang
dalam hatiku sekhianat Yudas
Engkau diam seribu bahasa…

Penggalan puisi ini sering terngiang di telingaku setelah aku menyantap komuni. Rasanya Yesus begitu dekat, dan betapa tidak pantasnya aku. Lebih dari sekadar mendengar seseorang yang berkata, “Aku mengasihimu”. Tidak hanya begitu, tapi Dia melebur dalam kefanaanku.

Sulit rasanya aku menjelaskan.

Tapi rasanya seperti dicintai sepenuh-penuhnya. Cinta yang sederhana dan menguatkan.