Catatan Misa 13 Agustus

Tadi pagi aku misa—dengan sedikit buru-buru. Sering sekali aku begitu. Awalnya pengin misa jam 5.30, tapi telat bangun. Aku malas misa jam 7.00. Entah kenapa misa jam 7 pagi itu tidak menarik. (Misa kok pakai menarik atau tidak menarik, sih?) Akhirnya menjelang jam 7, kuputuskan misa jam 7.30 di Kapel Belarminus saja. Belakangan aku suka misa di sana karena seperti “pulang”—ingat zaman kuliah aja sih karena kapel tersebut berada di lingkungan kampusku dulu.

Aku agak terlambat datang. Aku datang pas lagu pembukaan. Ternyata hari ini adalah Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga. Ini adalah perayaan penting bagi umat Katolik. Bacaan Injilnya adalah tentang Maria mengunjungi Elizabet.

Khotbahnya menarik. Dikatakan bahwa untuk menjumpai Elizabet, Maria harus berjalan sejauh 100-an kilometer. “Kalau dihitung-hitung, sekitar sini sampai Demak kalau ke utara. Kalau ke selatan, sampai Pacitan,” begitu kata Romo untuk memberi gambaran. Menurutku, penting untuk memberikan gambaran antara isi Alkitab dengan keadaan masyarakat sekarang dalam homili. Rentang masa, jarak, dan budaya yang begitu jauh kadang membuat umat tidak paham sisi mana saja yang harus digarisbawahi.

Sesampainya di rumah, aku membaca beberapa buku yang kurasa bisa lebih menjelaskan keadaan zaman Yesus dulu. Di buku Sketches of Jewish Social Life (hal. 46-47), dikatakan bahwa zaman itu orang biasa bepergian dengan jalan kaki dan berombongan. Sepertinya di sana lazim orang bisa menginap di sebuah rumah yang dilewatinya. Hotel belum banyak seperti zaman sekarang, kan? Jadi, ada kebiasaan orang memasang tirai di depan pintu rumah, untuk mengindikasikan masih ada kamar bagi tamu.

Kupikir Maria adalah pribadi yang menarik. Ketika masih muda, dia punya niat mengunjungi kerabatnya dengan berjalan jauh. Benar-benar jalan kaki, lo. Kurasa dia pasti seorang yang pemberani. Hatinya pasti lembut, mudah tersentuh sekaligus memiliki kemauan keras. Tidak heran jika gereja Katolik sangat menghormati Bunda Maria.

Malaikat Pamomong dan Sowan “Ibuk”

Ketika masih kecil dulu, aku belum punya jam beker. Aku baru punya jam beker itu ketika SMP. Pemberian. Sepertinya bukan kado ulang tahun atau peristiwa penting. Tapi aku lupa. Yang jelas, jam beker itu masih kupakai sampai sekarang. Pernah rusak sekali, tapi diperbaiki dan bisa berjalan lagi sampai sekarang. Awet ya.  Aku suka sekali dengan jam beker itu.

Ketika belum punya jam beker, sesekali aku mesti bangun pagi-pagi banget kalau aku harus mengikuti suatu kegiatan atau acara. Misalnya, mau berangkat darmawisata dan naik bus pagi-pagi. Malamnya aku biasanya mbanyaki dan takut kalau bangun kesiangan. Ibuk dan Bapak biasanya akan ngayem-ngayemi dan bilang akan membangunkanku. Tapi namanya tukang mbanyaki dan mbingungi, aku tetap cemas. Kalau aku ketinggalan bus gimana? Biasanya Ibuk lalu bilang ke aku begini: “Minta sama malaikat pamomong supaya membangunkan kamu jam 4.” Agak tidak percaya, tapi tetap kulakukan.

Dan berhasil!

Selalu berhasil seingatku. Aku selalu bangun persis atau kira-kira kurang 5 menit dari waktu yang kuminta.

Kemarin aku bertemu teman lama. Ngobrol ngalor ngidul. Panjang kali lebar. Ngobrol sama dia enaknya tidak dihakimi–bahwa aku mesti begini, begitu. Tidak saling mengunggulkan bahwa aku sudah begini, kamu pun mestinya juga sudah mencapai ini dan itu. Sebenarnya aku berangkat menemui dia dalam kondisi tidak fit. Hidung meler dan tenggorokan sudah berteriak-teriak karena hampir radang. Tapi pas mengobrol dengannya, aku seperti mendapat energi cukup positif sehingga bisa duduk beberapa jam untuk saling mendengarkan.

Lalu sampailah kami pada suatu obrolan lama tentang “unfinished business” dengan beberapa orang di masa lalu dan masa sekarang. Salah satu saran darinya mengingatkanku pada pesan ibuku: “Cobalah ajak bicara sang malaikat pelindung—alias malaikat pamomong. Ajak bicara dalam tataran jiwa.”

Haish! Berat amat ya.

Pengalaman dibangunkan pagi-pagi dulu membuatku percaya bahwa malaikat pelindung itu ada dan kita bisa minta tolong kepadanya. Entah bagaimana teorinya, tapi aku mau mencoba. Setidaknya, obrolan kami kemarin mengingatkanku untuk lebih banyak berdoa–hal yang akhir-akhir ini rada mbleret dan mbuh ra karuan.

Jadi, ya… aku mau coba memulai lagi sesuatu yang sudah lama kutinggalkan. Plus mau sowan Ibuk Maria lagi–yang pasti cuma geleng-geleng kepala melihatku yang masih begitu-begitu saja.

Sancta Maria, Mater Dei, ora pro nobis peccatoribus, nunc et in hora mortis nostrae.

 

Hal-Hal yang Berlalu dan Menyambut Perubahan

Waktu berlalu. Aku sering tidak menyadari hal itu. Tiba-tiba saja aku sampai pada suatu masa ketika yang ada di masa lalu sudah tidak ada. Misalnya saja ketika aku mendengar bahwa kerabatku meninggal. Beberapa hari yang lalu aku dikabari bahwa Mbah Jan–saudara kakekku–meninggal. Memang usia Mbah Jan sudah cukup tua, tapi menurutku belum tua-tua amat. Waktu aku ke Ambarawa beberapa bulan lalu, aku masih bertemu dengannya. Sepertinya tidak pernah sakit serius. Tapi kematian kadang tidak butuh sakit serius. Kalau waktunya sudah habis, ya habis. Ibarat ponsel yang baterainya habis sama sekali, biar tombol power-nya dipencet-pencet, tetap tidak bisa menyala.

Selain itu beberapa hari lalu, aku dikabari bahwa Bu Siska, guruku SD, meninggal. Kabarnya karena sakit. Soal Bu Siska ini, aku merasa dia guru yang tegas–kalau tidak mau dikatakan guru yang galak. Mungkin di masa kecil, aku menganggap orang yang bersuara keras itu galak. Tapi kurasa kalau aku tidak merasakan didikannya yang tegas, aku tidak bisa cepat membaca.

Ketika menyadari orang-orang yang pernah punya hubungan denganku itu meninggal, aku selalu terkaget-kaget. Eh, kok mereka bisa meninggal sih? Jujur aku lupa bahwa manusia bisa (sewaktu-waktu) sakit lalu meninggal.

Dalam hidup memang semua bisa berlalu. Bisa habis masanya. Begitulah hidup. Tidak bisa tidak, semua akan berubah. Semua bisa berhenti lalu tiada. Ketika aku tahu bahwa beberapa majalah sudah tidak beredar lagi, aku masih protes. Kenapa dihentikan? Lalu bagaimana kalau generasi adik-adik atau anak-anak kita nanti tidak mengenal dengan majalah dan hanya tahunya gadget melulu? Apa itu tidak mengerikan?

Belakangan kupikir kalau sebuah majalah dihentikan peredarannya lalu (katanya) berubah menjadi bentuk digital, mungkin memang sudah seharusnya begitu. Kapan terakhir aku membeli majalah baru? Rasanya setahun belakangan ini aku tidak membeli majalah baru. Majalah bekas kadang masih beli. Saat mau beli yang baru, aku mikir-mikir. Mahal. Kalau aku saja tidak beli karena alasan mahal, berapa orang yang berpikir begitu? Perubahan majalah menjadi bentuk digital mungkin suatu cara terbaik untuk bertahan hidup zaman sekarang. Arus perubahan dunia sudah menuju ke sana. Mau tidak mau. Siapa yang membuat perubahan itu? Kurasa kita pun ikut andil–sekecil apa pun andilnya. Yang tinggal di dunia ini kan kita-kita juga. Kalau kita berubah, dunia pun berubah.

Hidup selalu berubah. Ada yang selalu berlalu dan hilang. Ada yang habis dan pergi. Aku sering gamang melihat perubahan itu. Aku takut. Aku gelisah melihat hal-hal yang hilang itu. Namun, aku sering lupa, ada hal-hal baru yang akan muncul dari perubahan tersebut. Mungkin saking takutnya, aku lupa cara menyambut kebaruan itu. Mungkin aku perlu belajar menyadari bahwa perubahan tak selamanya menakutkan.

 

catatan: tulisan itu salah satunya terinpirasi oleh tulisan di sini.

 

Perubahan

Beberapa waktu ini aku di-add di grup WA SMP. Grup itu cukup ramai. Yang kurasakan dari grup itu adalah seperti berada di kelas pada jam kosong. Ruamee. Kalau kata guruku dulu, ramainya seperti di pasar. Selain itu aku merasa, teman-temanku kok nggak terlalu banyak berubah, ya? Gayanya sewaktu chatting, sama seperti gayanya mengobrol zaman SMP dulu. Sekarang hanya lebih saru aja. 😀 😀

Aku kadang berpikir, apakah aku juga sebenarnya tidak terlalu banyak berubah?

Secara fisik aku pasti berubah. Semua orang pun begitu. Dari muda menjadi tua. Keriput, beruban, mungkin ditambah sakit encok atau sakit-sakit lain. Namun, apakah batin kita berubah? Ketika masuk grup WA teman-teman SMP, aku merasa kebanyakan sepertinya tidak berubah. Yang mereka sampaikan di grup dan gaya chattingan mereka sepertinya tidak terlalu berubah. Walau misalnya ada yang pindah agama, tapi aku merasa perubahannya tidak terlalu drastis–setidaknya soal cara berpikir, ya. Kalaupun berubah, rasanya “seperti bisa ditebak”. Bukan seperti twist akhir cerita yang mengejutkan. Kalau baju, ada yang berubah sih. Tapi hidup kurasa tidak hanya soal perubahan baju atau tampilan fisik.

Aku tak yakin diriku banyak berubah. Ini baik atau buruk? Entah. Kurasa begitu pula dengan banyak orang di sekitarku. Hal ini agak menenteramkan karena ketika aku hendak bertemu teman lama, kadang aku khawatir jika orang itu berubah dan perubahannya menjauhkan kami. Kalaupun berubah, mungkin sebenarnya perubahan itu menunjukkan jati diri yang sebenarnya.

Antara Ingin dan Harus

Sungguh, aku merasa waktu cepat sekali berjalan. Rasanya baru kemarin Senin, sekarang sudah Sabtu.

Beberapa waktu lalu aku melayat ibunya kawanku. Ibu itu meninggal pada usia 65 tahun. Menurutku belum terlalu tua. Tapi orang meninggal tidak tergantung tua atau muda, kan? Kalau waktunya sudah habis, ya habis. Saatnya pulang. Saat melayat itu aku teringat hal-hal belum selesai yang harus kukerjakan: editan, terjemahan, tulisan, cucian, baju yang mesti disetrika…. Jujur saja aku sering bosan melakukan “keharusan-keharusan” itu. Kalau boleh memilih, aku ingin mengalokasikan waktuku untuk mencoba resep baru, jalan-jalan, membuat kerajinan tangan, baca novel. Tapi entah kenapa kadang aku merasa yang “harus” kukerjakan banyak sekali.

Melayat ibu kawanku membuatku ingat bahwa manusia punya batas usia. Waktunya terbatas. Hmm… ya, aku tahu itu. Tapi tahu dan benar-benar sadar adalah hal yang berbeda. Kemarin itu rasanya aku seperti dihadapkan pada kenyataan itu—kenyataan yang membuatku tertegun. Seperti hal baru yang mengejutkan. Padahal kan mestinya aku sadar akan hal itu dari dulu kan?

Aku mudah terbuai dengan pemikiran: Besok bisa diubah lagi; besok bisa dilakukan lagi; besok bisa ketemu lagi… dan semacamnya. Padahal siapa yang tahu jika saat ini adalah kesempatan terakhir? Aku jadi ngeri sendiri.

Hari-hari ini aku merenungkan hal-hal yang ingin aku lakukan dan yang harus aku lakukan. Ya, tidak semua keinginan harus dituruti. Tapi jika keharusan membuat hidup perlahan-lahan kering, bagaimana dong? Tentunya kelak aku tidak ingin mati “penasaran” karena tidak melakukan hal-hal yang kuinginkan. Lagi pula, keinginanku tidak semua buruk.

Tapi pagi ini aku terbangun dan mesti membereskan hal yang harus kubereskan sendiri.

Kupikir-pikir, hidup ini mesti dijalani dengan benar-benar hidup. Nanti siang sepertinya aku mesti menyempatkan diri mencoba resep baru 🙂

Catatan Minggu Biasa Ke-32

Kemarin aku bangun siang. Kebiasaan buruk. 😦 Tapi aku memang belakangan, entah kenapa lebih suka tidur larut. Akibatnya, bangunku siang. Lalu aku malas misa pagi. Biasanya aku paling suka misa Minggu jam 06.30. Jadi, pulang misa tidak terlalu siang. Meskipun ada misa kedua dan ketiga, aku malas pergi. Aku misa sore saja, pikirku. Risikonya kehujanan. Tapi biarlah, nanti lihat apa kata hatiku. Aku malas misa beneran apa tidak.

Tepat seperti dugaanku, sore kemarin mendung. Herannya, niatku untuk misa tidak surut. Tumben. Biasanya aku mengkeret saat melihat mendung tebal. Pikirku, kalaupun hujan lebat, biar saja. Aku sudah sedia payung di tasku. Toh aku pergi misa untuk “kangen-kangenan” dengan sang pembuat hujan dan mendung. Kalau Dia mau bikin hujan, aku sudah di rumah-Nya.

Bacaan misa kemarin adalah soal janda miskin yang mempersembahkan seluruh nafkahnya (Markus 12:38-44).  Aku sudah sering mendengar bacaan ini. Sudah hafal rasanya. Tapi kemarin rasanya kok bisa seperti mak nyes waktu mendengarnya. Waktu khotbah Romo mengatakan, janda miskin itu tidak lekat dengan hartanya, sehingga dia pribadi yang bebas. Kelekatan hanya akan membuat kita hidup dalam kecemasan dan kekhawatiran. Padahal kita dipanggil untuk menjadi manusia bebas. Kalau aku memparafrase pesan itu, mestinya kita ikhlas dalam memberi dan tidak lekat dengan harta yang kita punya.

Kurasa, kelekatan tidak hanya soal harta. Rasa senang yang berlebihan, kebencian, kecemburuan, sebutlah semua yang membuat kita tidak bebas, akhirnya membuat kita terkungkung dan kerdil.

Lalu aku sendiri bagaimana?

Aku merasa masih banyak PR yang harus kubereskan. Sering kali aku menetapkan syarat dan batasan agar bahagia dan lepas bebas. Mesti bisa begini atau begitu, mesti punya ini dan itu, mesti yang ini terpenuhi, yang itu juga. Jadinya aku melow sendiri dan tidak bebas. Hih, payah betul aku nih.

Kadang aku rasa, hidup ini sebaiknya seperti siap berangkat kapan saja. Tas sudah dikemas dan siap dicangklong. Tak perlu bawa barang banyak, jadi perjalanan terasa lebih enteng. Tapi aku lebih suka menambah isi tas, membongkar isinya dan membuatnya berceceran di sekitar diriku. Lalu aku mengeluh. Dan setiap kali melihat hal yang menarik, aku ingin mengambilnya. Padahal kalau dibawa serta, hanya akan menambah beban perjalanan.

Lalu kemarin aku sempat merenungkan soal rejeki. Rejeki itu apa? Apa mesti uang? Mestinya tidak, ya? Rejeki itu salah satunya adalah aku bisa ikut misa tanpa terlambat dan pulang tidak kehujanan (padahal mendung sudah cukup tebal). Rejeki itu juga kawan-kawan yang lucu-lucu, yang memberi inspirasi, yang menyemangati. Rejeki itu adalah hati yang bebas. Rejeki itu bisa bangun dengan cukup sehat. Rejeki itu masih bisa makan setiap hari walaupun sederhana. Rejeki itu ditelepon Bapak dan Ibu (eh, mestinya aku yang menelepon, ya? Hihi… dasar anak kurang pengertian.) Rejeki itu bisa ketemu Coco—anjing temanku yang lucu dan senang menciumku. Jadi, yaaa… hidup itu mestinya bersyukur. Nggak cuma melow-melow nggak jelas.

Semua itu benar-benar perlu kuingat. Bagaimanapun, hidup ini mestinya memberi arti. Memberi yang terbaik. Berbuat maksimal—seperti janda miskin yang memberikan seluruh nafkahnya itu.

Yang Perlu Kuingat (Catatan untuk Hari Ini)

Hari ini rasanya nano-nano. Ada berbagai perasaan yang muncul dan rasanya perasaan-perasaan itu berganti dalam waktu yang sangat cepat. Jengkel, kesal, senang, prihatin (entah kenapa ya kalau menyebut kata ini aku selalu ingat si bapak yang gemuk itu, yang suka bilang, “Saya prihatin.”). Banyak percakapan. Ada satu dua email. Ada pembicaraan di telepon. Ada obrolan soal agama. Soal spiritulitas. Soal minat. Soal pekerjaan. Soal keyakinan. Dan aku mendengar orang mengeluh soal pemerintah, soal harga-harga yang melambung, soal orangtua yang mengasih anaknya, soal keyakinanku begini dan sepertinya keyakinanmu keliru… macam-macam! Ya, banyak kata. Dan kata-kata itu memberi dampak sampai ke perasaan dan pikiran. Bahkan sampai malam ini.

Aku akan mengingat hari ini sebagai sebuah hari yang membuatku jadi mengenal diriku sendiri dan teman-temanku. Ada yang agamanya “njekek”, ada yang abangan, ada yang orangnya lucu, ada yang kalau ngomong hati-hati, ada yang kalau ngomong tajam, ada yang “sersan”–serius tapi santai. Macam-macam. Dan rasanya sehari ini, aku bertemu bermacam-macam orang lewat dunia maya. Aku tak bisa mengatakan ini hari yang melelahkan, hanya saja terasa betul jejaknya. Tapi dari semua itu, aku bersyukur selalu ada orang yang bisa kuajak bicara dari hati ke hati.

Mengingat hari ini, rasanya perlu mengingatkan diriku sendiri soal berikut ini:
– Komentar orang lain tidak mengurangi atau menambah apa pun yang ada dalam diriku. Orang lain boleh berkomentar ini dan itu. Boleh bilang keyakinanku begini begitu, tapi diriku yang tahu sebenarnya apa yang kuyakini.

– Tindakan kita sangat dipengaruhi emosi. Jadi, baik-baiklah mengamati emosi yang sedang dominan, dan pilihlah tindakanmu dengan hati-hati.

– Mengutip kata-kata Paulo Coelho: “Don’t explain. People only hear what they want to hear.”

– Tetaplah rendah hati.

– Miliki kemauan untuk selalu belajar.

– Semua akan baik-baik saja.

Mungkin aku akan menambahkan daftar ini jika ada hal-hal yang perlu kuingat. Tapi setidaknya begitulah catatanku untuk sehari ini.