Perubahan

Beberapa waktu ini aku di-add di grup WA SMP. Grup itu cukup ramai. Yang kurasakan dari grup itu adalah seperti berada di kelas pada jam kosong. Ruamee. Kalau kata guruku dulu, ramainya seperti di pasar. Selain itu aku merasa, teman-temanku kok nggak terlalu banyak berubah, ya? Gayanya sewaktu chatting, sama seperti gayanya mengobrol zaman SMP dulu. Sekarang hanya lebih saru aja. 😀 😀

Aku kadang berpikir, apakah aku juga sebenarnya tidak terlalu banyak berubah?

Secara fisik aku pasti berubah. Semua orang pun begitu. Dari muda menjadi tua. Keriput, beruban, mungkin ditambah sakit encok atau sakit-sakit lain. Namun, apakah batin kita berubah? Ketika masuk grup WA teman-teman SMP, aku merasa kebanyakan sepertinya tidak berubah. Yang mereka sampaikan di grup dan gaya chattingan mereka sepertinya tidak terlalu berubah. Walau misalnya ada yang pindah agama, tapi aku merasa perubahannya tidak terlalu drastis–setidaknya soal cara berpikir, ya. Kalaupun berubah, rasanya “seperti bisa ditebak”. Bukan seperti twist akhir cerita yang mengejutkan. Kalau baju, ada yang berubah sih. Tapi hidup kurasa tidak hanya soal perubahan baju atau tampilan fisik.

Aku tak yakin diriku banyak berubah. Ini baik atau buruk? Entah. Kurasa begitu pula dengan banyak orang di sekitarku. Hal ini agak menenteramkan karena ketika aku hendak bertemu teman lama, kadang aku khawatir jika orang itu berubah dan perubahannya menjauhkan kami. Kalaupun berubah, mungkin sebenarnya perubahan itu menunjukkan jati diri yang sebenarnya.

Antara Ingin dan Harus

Sungguh, aku merasa waktu cepat sekali berjalan. Rasanya baru kemarin Senin, sekarang sudah Sabtu.

Beberapa waktu lalu aku melayat ibunya kawanku. Ibu itu meninggal pada usia 65 tahun. Menurutku belum terlalu tua. Tapi orang meninggal tidak tergantung tua atau muda, kan? Kalau waktunya sudah habis, ya habis. Saatnya pulang. Saat melayat itu aku teringat hal-hal belum selesai yang harus kukerjakan: editan, terjemahan, tulisan, cucian, baju yang mesti disetrika…. Jujur saja aku sering bosan melakukan “keharusan-keharusan” itu. Kalau boleh memilih, aku ingin mengalokasikan waktuku untuk mencoba resep baru, jalan-jalan, membuat kerajinan tangan, baca novel. Tapi entah kenapa kadang aku merasa yang “harus” kukerjakan banyak sekali.

Melayat ibu kawanku membuatku ingat bahwa manusia punya batas usia. Waktunya terbatas. Hmm… ya, aku tahu itu. Tapi tahu dan benar-benar sadar adalah hal yang berbeda. Kemarin itu rasanya aku seperti dihadapkan pada kenyataan itu—kenyataan yang membuatku tertegun. Seperti hal baru yang mengejutkan. Padahal kan mestinya aku sadar akan hal itu dari dulu kan?

Aku mudah terbuai dengan pemikiran: Besok bisa diubah lagi; besok bisa dilakukan lagi; besok bisa ketemu lagi… dan semacamnya. Padahal siapa yang tahu jika saat ini adalah kesempatan terakhir? Aku jadi ngeri sendiri.

Hari-hari ini aku merenungkan hal-hal yang ingin aku lakukan dan yang harus aku lakukan. Ya, tidak semua keinginan harus dituruti. Tapi jika keharusan membuat hidup perlahan-lahan kering, bagaimana dong? Tentunya kelak aku tidak ingin mati “penasaran” karena tidak melakukan hal-hal yang kuinginkan. Lagi pula, keinginanku tidak semua buruk.

Tapi pagi ini aku terbangun dan mesti membereskan hal yang harus kubereskan sendiri.

Kupikir-pikir, hidup ini mesti dijalani dengan benar-benar hidup. Nanti siang sepertinya aku mesti menyempatkan diri mencoba resep baru 🙂

Catatan Minggu Biasa Ke-32

Kemarin aku bangun siang. Kebiasaan buruk. 😦 Tapi aku memang belakangan, entah kenapa lebih suka tidur larut. Akibatnya, bangunku siang. Lalu aku malas misa pagi. Biasanya aku paling suka misa Minggu jam 06.30. Jadi, pulang misa tidak terlalu siang. Meskipun ada misa kedua dan ketiga, aku malas pergi. Aku misa sore saja, pikirku. Risikonya kehujanan. Tapi biarlah, nanti lihat apa kata hatiku. Aku malas misa beneran apa tidak.

Tepat seperti dugaanku, sore kemarin mendung. Herannya, niatku untuk misa tidak surut. Tumben. Biasanya aku mengkeret saat melihat mendung tebal. Pikirku, kalaupun hujan lebat, biar saja. Aku sudah sedia payung di tasku. Toh aku pergi misa untuk “kangen-kangenan” dengan sang pembuat hujan dan mendung. Kalau Dia mau bikin hujan, aku sudah di rumah-Nya.

Bacaan misa kemarin adalah soal janda miskin yang mempersembahkan seluruh nafkahnya (Markus 12:38-44).  Aku sudah sering mendengar bacaan ini. Sudah hafal rasanya. Tapi kemarin rasanya kok bisa seperti mak nyes waktu mendengarnya. Waktu khotbah Romo mengatakan, janda miskin itu tidak lekat dengan hartanya, sehingga dia pribadi yang bebas. Kelekatan hanya akan membuat kita hidup dalam kecemasan dan kekhawatiran. Padahal kita dipanggil untuk menjadi manusia bebas. Kalau aku memparafrase pesan itu, mestinya kita ikhlas dalam memberi dan tidak lekat dengan harta yang kita punya.

Kurasa, kelekatan tidak hanya soal harta. Rasa senang yang berlebihan, kebencian, kecemburuan, sebutlah semua yang membuat kita tidak bebas, akhirnya membuat kita terkungkung dan kerdil.

Lalu aku sendiri bagaimana?

Aku merasa masih banyak PR yang harus kubereskan. Sering kali aku menetapkan syarat dan batasan agar bahagia dan lepas bebas. Mesti bisa begini atau begitu, mesti punya ini dan itu, mesti yang ini terpenuhi, yang itu juga. Jadinya aku melow sendiri dan tidak bebas. Hih, payah betul aku nih.

Kadang aku rasa, hidup ini sebaiknya seperti siap berangkat kapan saja. Tas sudah dikemas dan siap dicangklong. Tak perlu bawa barang banyak, jadi perjalanan terasa lebih enteng. Tapi aku lebih suka menambah isi tas, membongkar isinya dan membuatnya berceceran di sekitar diriku. Lalu aku mengeluh. Dan setiap kali melihat hal yang menarik, aku ingin mengambilnya. Padahal kalau dibawa serta, hanya akan menambah beban perjalanan.

Lalu kemarin aku sempat merenungkan soal rejeki. Rejeki itu apa? Apa mesti uang? Mestinya tidak, ya? Rejeki itu salah satunya adalah aku bisa ikut misa tanpa terlambat dan pulang tidak kehujanan (padahal mendung sudah cukup tebal). Rejeki itu juga kawan-kawan yang lucu-lucu, yang memberi inspirasi, yang menyemangati. Rejeki itu adalah hati yang bebas. Rejeki itu bisa bangun dengan cukup sehat. Rejeki itu masih bisa makan setiap hari walaupun sederhana. Rejeki itu ditelepon Bapak dan Ibu (eh, mestinya aku yang menelepon, ya? Hihi… dasar anak kurang pengertian.) Rejeki itu bisa ketemu Coco—anjing temanku yang lucu dan senang menciumku. Jadi, yaaa… hidup itu mestinya bersyukur. Nggak cuma melow-melow nggak jelas.

Semua itu benar-benar perlu kuingat. Bagaimanapun, hidup ini mestinya memberi arti. Memberi yang terbaik. Berbuat maksimal—seperti janda miskin yang memberikan seluruh nafkahnya itu.

Yang Perlu Kuingat (Catatan untuk Hari Ini)

Hari ini rasanya nano-nano. Ada berbagai perasaan yang muncul dan rasanya perasaan-perasaan itu berganti dalam waktu yang sangat cepat. Jengkel, kesal, senang, prihatin (entah kenapa ya kalau menyebut kata ini aku selalu ingat si bapak yang gemuk itu, yang suka bilang, “Saya prihatin.”). Banyak percakapan. Ada satu dua email. Ada pembicaraan di telepon. Ada obrolan soal agama. Soal spiritulitas. Soal minat. Soal pekerjaan. Soal keyakinan. Dan aku mendengar orang mengeluh soal pemerintah, soal harga-harga yang melambung, soal orangtua yang mengasih anaknya, soal keyakinanku begini dan sepertinya keyakinanmu keliru… macam-macam! Ya, banyak kata. Dan kata-kata itu memberi dampak sampai ke perasaan dan pikiran. Bahkan sampai malam ini.

Aku akan mengingat hari ini sebagai sebuah hari yang membuatku jadi mengenal diriku sendiri dan teman-temanku. Ada yang agamanya “njekek”, ada yang abangan, ada yang orangnya lucu, ada yang kalau ngomong hati-hati, ada yang kalau ngomong tajam, ada yang “sersan”–serius tapi santai. Macam-macam. Dan rasanya sehari ini, aku bertemu bermacam-macam orang lewat dunia maya. Aku tak bisa mengatakan ini hari yang melelahkan, hanya saja terasa betul jejaknya. Tapi dari semua itu, aku bersyukur selalu ada orang yang bisa kuajak bicara dari hati ke hati.

Mengingat hari ini, rasanya perlu mengingatkan diriku sendiri soal berikut ini:
– Komentar orang lain tidak mengurangi atau menambah apa pun yang ada dalam diriku. Orang lain boleh berkomentar ini dan itu. Boleh bilang keyakinanku begini begitu, tapi diriku yang tahu sebenarnya apa yang kuyakini.

– Tindakan kita sangat dipengaruhi emosi. Jadi, baik-baiklah mengamati emosi yang sedang dominan, dan pilihlah tindakanmu dengan hati-hati.

– Mengutip kata-kata Paulo Coelho: “Don’t explain. People only hear what they want to hear.”

– Tetaplah rendah hati.

– Miliki kemauan untuk selalu belajar.

– Semua akan baik-baik saja.

Mungkin aku akan menambahkan daftar ini jika ada hal-hal yang perlu kuingat. Tapi setidaknya begitulah catatanku untuk sehari ini.

Inspirasi dari Kesederhanaan

Kurasa, salah satu pengalaman yang betul-betul membekas dalam hidupku adalah saat ikut workshop bulan Januari lalu. Oke, rasanya aku sudah beberapa kali bicara soal workshop. Pasti kalian sudah bosan membacanya. 😀 Hal lain yang membuat pengalaman Januari lalu itu membekas adalah karena aku tanpa sengaja bertemu dengan para karyawan asrama Syantikara yang sedang piknik di Pasar Apung, Lembang. Aku terharu banget ketika (beberapa dari) mereka masih mengenali aku.

Bagiku mereka sangat berjasa selama masa-masa aku tinggal di asrama dulu. Bantuan mereka macam-macam. Mulai dari soal urusan air panas untuk termos kami sampai mengganti lampu yang rusak. Mulai dari mengisi kapas kasur sampai urusan membagi jatah makanan kami setiap hari. Kalau di unit ada hal yang perlu diperbaiki, tinggal lapor, lalu bantuan pun tiba.

Sampai sekarang aku masih sering kangen asrama. Susah move on deh rasanya kalau soal asrama. Banyak kenangannya. Asrama itu semacam rumah kedua. Kalau pas ke Jogja dan lewat jalan Colombo, aku menengok asrama dan rasanya kadang pengin sekali berjalan lagi memasuki halaman asrama lalu menyusuri koridor dan masuk ke unitku dulu. Ketemu teman-teman lama. Duduk, mengobrol, atau nge-teh sore-sore. Tapi tidak mungkin rasanya bisa seperti itu lagi. Asrama itu sudah jadi rumah yang tak bisa kusinggahi lagi sejak aku lulus kuliah dan berjalan melewati gerbang asrama untuk terakhir kalinya dulu, belasan tahun silam.

Jadi, akhirnya mungkin terasa berlebihan terharunya saat aku bertemu dengan mbak-mbak dan mas-mas karyawan asrama pada Januari lalu. Mungkin ibarat bertemu teman lama. Mungkin karena itu pula aku merasa amat semedot (kehilangan) ketika kemarin siang aku membaca informasi di grup asrama (Facebook) bahwa salah seorang karyawan asrama Syantikara ada yang meninggal: Mas Bandriyo. Loh, Januari lalu aku masih ketemu dalam kondisi segar bugar, kok delapan bulan kemudian dikabarkan meninggal? Cepat sekali… Kabarnya Mas Bandriyo meninggal dalam tidur selepas kerja bakti di kampungnya. Mudah sekali jalan kepergiannya.

Kalau sedih, tentu aku sedih. Tapi aku pikir kesedihanku dan teman-teman asrama lain tidak akan melapangkan kepergian Mas Bandriyo. Iya, kami sedih, tapi ada satu hal yang membuatku merenung: Orang yang tampak sederhana itu telah menyentuh kehidupan banyak orang—dengan kesederhanaannya, dengan pelayanannya. Mungkin begitulah seharusnya hidup: Sebisa mungkin memberikan sentuhan yang positif terhadap orang-orang sekitar kita.

Perenunganku tersebut diperkuat ketika aku mengingat kejadian tadi siang. Tiba-tiba Mas Handi, tukang pijit langganan Oni, datang. Rasanya Oni tidak meminta dia datang untuk memijat, kok dia datang? Ternyata dia mengantarkan sroto untuk kami. Rupanya dia memenuhi janjinya akan membelikan kami sroto jika suatu saat ketemu penjual sroto. Waktu dia mengatakan itu, awalnya aku dia bercanda. 😀 Eh, ternyata sungguhan. Ya, ampuuuun…

Oni bilang, Mas Handi ini bisa dibilang orang “kaya”. Selain soal sroto tadi siang, beberapa waktu lalu dia menggelar program: “Dibalas dengan pijat.” Jadi, ceritanya dia itu mau membantu membangun musala di kampungnya. Lalu untuk mencari dana, honor jasa pijat yang dia terima dia salurkan untuk pembangunan musala tersebut. Coba kalau aku, maukah aku menyumbangkan honor satu proyek terjemahanku untuk kolekte di gereja? Dudududu… mungkin aku akan berhitung puluhan kali dulu sebelum ikhlas… lega lila menyerahkan sebagian honorku untuk gereja, untuk disumbangkan bagi pihak-pihak yang lebih membutuhkan. Tuh kan, betapa pelitnya diriku. Tapi semoga aku bisa lebih ikhlas dalam hal memberi, ya.

Kebaikan itu bisa dilakukan oleh siapa saja–tidak perlu menunggu jadi orang kaya dulu. Inspirasi itu bisa dilakukan oleh siapa pun–tidak perlu menjadi penggede dulu. Kita bisa… aku juga bisa sebenarnya. Dan “gong” dari perenunganku adalah ketika aku ikut misa 17-an tadi sore. Lagu antar bacaannya sampai sekarang masih terngiang-ngiang: Kamu dipanggil untuk kemerdekaan, maka abdilah satu sama lain dalam cinta kasih. Kemerdekaan itu justru semakin kuat artinya saat kita saling melayani, saling mengasihi. Begitu kan? Semoga kita walaupun punya kekurangan di sana-sini, berani untuk melayani dengan penuh kasih.

Memungut Yang Tercecer dari Akhir Pekan

Beberapa waktu lalu aku menginap di rumah iparku. Bagiku rumahnya cukup jauh. Jauh dari mana-mana pula. Hal itu rasanya semakin diperparah karena kami tidak punya kendaraan sendiri. Jarak rumah ke warung atau toko kelontong terdekat mesti pakai acara jalan kaki minimal 15 menit. Atau lebih ya? Dan itu pun cuma ada satu warung. Kebayang dong kalau barang yang kita butuhkan tidak dijual di warung tersebut? Aku dan suamiku berpikir, mestinya kalau tinggal di kompleks yang jauh dari mana-mana begitu, minimal punya sepeda motor.

Aku yang selama tinggal di Jakarta tidak susah mendapatkan kendaraan umum, jadi merasa semacam gegar budaya. 😀 😀 😀 Segitunya ya. Padahal aku cukup sering mengeluh karena di Jakarta ini aku mesti naik kendaraan umum yang kualitas pelayanannya kadang yaaaa… gitu deh. Tapi ternyata itu masih lebih meding daripada tinggal di kompleks yang tidak dilewati kendaraan umum dan kalau mencari taksi, tidak bisa keluar rumah lalu menunggu taksi yang seliweran di jalan.

Kompleks iparku itu, selain tidak mudah mendapatkan kendaraan umum (memang ada shuttle bus, tapi jamnya terbatas), ternyata cukup jauh pula dari gereja. Naik taksi mungkin habis ongkos 50 ribu? Mungkin. Aku kurang tahu sih. Kalau lihat di google maps, sepertinya jaraknya cukup lumayan. Aku baru kali itu merasa bersyukur sekali karena ternyata selama ini tempat tinggalku selalu relatif dekat dengan gereja. Waktu aku masih kecil sampai remaja dan tinggal di Madiun, jarak dari rumah ke gereja bisa ditempuh naik sepeda sekitar 10-15 menit. Itu sudah dihitung kalau kena lampu merah, ya. Waktu kuliah dan tinggal di Jogja, di asrama ada kapel. Unitku bisa dibilang sebelahan dengan kapel (kecuali dua tahun terakhir, karena aku dapat unit yang dekat gerbang dan jauh dari kapel). Untuk misa minggu, jarak ke kapel yang lebih besar dan gereja, juga sangat dekat. Jalan kaki 10 menit sampai. Waktu kami punya rumah di Jogja, jarak dari rumah ke gereja terdekat, hanya sekitar 1,5 km. Kalau mau misa di gereja lain, jaraknya juga tidak jauh. Saat aku di Jakarta, di kontrakanku yang pertama, jarak ke kapel terdekat, hanya butuh jalan kaki 10 menit. Dan di tempat tinggalku yang sekarang, jarak ke gereja terdekat, hanya sekitar 10-15 menit naik kendaraan umum.

Mestinya dengan jarak yang sangat terjangkau dari rumah ke gereja atau kapel ini membuatku lebih rajin misa, ya. Tapi ternyata tidak hahaha. Kalau misa hari Minggu, sih aku usahakan untuk selalu datang–kecuali sakit atau malas akut. Tapi dulu banget, waktu di Madiun, pada suatu masa, aku cukup rajin misa harian. Dan sebetulnya, misa harian itu lebih “nyes”… Itu buatku, ya. Mungkin ini subjektif.

Sebenarnya aku semakin “dipermudah” dengan jadwal misa Minggu yang lumayan banyak. Minggu pagi saja, jadwal misa sampai tiga kali. Misa minggu sore, dua kali. Jadi, kebangetan kalau aku beralasan tidak sempat misa. Bahkan jika aku bangun siang pun, aku masih bisa ikut misa Minggu pukul 10.30 atau misa sore.

Sudah dua kali hari Minggu ini aku misa di jadwal paling akhir: pk 19.00. Sebenarnya alasannya adalah aku terlambat bangun pagi sehingga tidak bisa ikut misa Minggu pagi jam 6.30. Mau yang siang, malas. Misa siang cenderung lebih ramai menurutku. Hari ini aku memilih misa paling akhir. Misa jam 19.00 cenderung lebih sepi. Cocok buatku karena aku lebih suka misa yang paling sepi. Misa yang sepi biasanya membuatku lebih bisa menikmati dan meresapi pesan yang disampaikan saat misa. Dan aku merasa perlu mencatat satu hal yang kurasa penting dari homili hari ini: Buah keheningan adalah doa. Buah doa adalah kasih. Buah kasih adalah tindakan nyata yang penuh kasih. Hal ini mengingatkan aku supaya lebih rajin menyisihkan waktu untuk mencari keheningan. Semoga!

Belajar Atau Tinggalkan

Ada kata-kata atau kalimat yang menancap di kepalaku. Tidak banyak, tapi ada. Kalimat itu bisa diucapkan oleh orang terdekat, orang yang baru kukenal, atau kalimat yang kubaca entah di mana. Misalnya, suamiku sering bilang: “Kamu jangan terlampau memperhatikan omongan orang lain tentang kamu.” Itu yang sering dia bilang kalau aku mulai tidak bersemangat karena dapat kritikan–entah soal pekerjaan atau yang lain. Maksudnya, aku kerap kali terlalu merenungkan dan memasukkan ke dalam hati omongan orang lain yang bernada mengecilkan. Efeknya? Awalnya aku biasa saja. Tapi lama-lama kok bikin bete, ya? Sebenarnya sih kalau kita bisa menerima kritikan orang lain, mengolahnya, menarik pelajaran dari situ, itu pasti bagus banget. Cuma yaaa… betenya itu loh.

Beberapa waktu lalu, saat aku pulang ke Jogja, dengan kondisi setengah mengantuk, aku mengantarkan suamiku ke Wikikopi, di Pasar Kranggan. Itu adalah tempat kita bisa belajar tentang kopi mulai dari kenalan dengan petani sampai mengelola kafe. Semacam komunitas sih. Untuk lebih jelasnya, kurasa aku perlu bertanya lebih jauh nanti ke teman yang mengelolanya. Oke, bukan soal belajar tentang kopi yang mau kutulis, tapi soal kondisi setengah mengantuk dan kalimat yang akhirnya menancap di kepalaku sampai saat ini. Saat kami tiba di Wikikopi, ternyata di sana sudah banyak orang. Ternyata semacam ada “kuliah singkat”. Terlalu berat kali, ya istilahnya? Diskusi lah. Eh, masih berat? Ya, pokoknya omong-omong gitu deh. Temanya sendiri saat itu aku sudah lupa, tapi membahas soal apa itu seni, apakah kita merasa baik-baik saja pas ngopi di kafe padahal kalau kita mau lebih jauh petani kopi hidupnya masih susah, dan sebagainya… dan sebagainya. Lalu menjelang akhir kuliah singkat itu, terlontar kalimat: Belajar atau tinggalkan.

Ya, belajar atau tinggalkan.

Kalimat itu sampai sekarang menggema, dan walaupun sudah terlepas dari konteks pembicaraan saat itu, aku merasa kalimat itu menggelitikku. Kadang aku tidak cukup sabar bertahan di satu bidang yang kutekuni. Ya, dan hal ini belakangan kurasakan. Entah kurang sabar, entah kurang sreg dengan orang-orang yang sama-sama bergelut di bidang yang sama, entah ini, entah itu… Banyak alasan. Tapi alasan-alasan itu seolah akhirnya berujung pada pertanyaan: Terus mau belajar atau tidak? Kalau tidak, tinggalkan saja, kan?

Belajar atau tinggalkan.

Belajar itu bisa memetik hikmah dari kritikan, bisa dari pengalaman orang lain, bisa dari buku, dari apa saja, dari mana saja.

Akhir-akhir ini aku tertarik merajut–crochet dan knitting. Tahu bedanya, kan? Kalau crochet, pakai satu jarum–hakpen. Kalau knitting, pakai dua jarum. Sebenarnya kalau crochet, pernah kupelajari waktu SD; waktu pelajaran prakarya. Kalau knitting, pernah juga belajar sama teman pas kuliah, tapi mandeg karena mutung nggak bisa-bisa. Belajar merajut ini kulakoni dengan antara niat dan nggak niat. Semacam hangat-hangat tahi ayam gitu, deh. Haha, kebiasaan. Kalau crochet, aku sudah cukup bisa beberapa macam tusukan (stitch). Kalau bikin syal, sih… keciiil. Sombong dikit. 😀 Tapi tetep, ya… aku mesti lebih banyak belajar supaya lebih mahir. Nah, kalau knitting itu seperti pelajaran baru buatku. Aku mesti mulai lagi dari nol. Tapi satu hal yang kupetik dari pengalamanku saat latihan merajut: belajar itu jangan takut salah. Dan memang sih, kalau terus bertahan dalam satu bidang, mau tidak mau mesti mau terus belajar dan meningkatkan kemampuan dalam bidang itu. Kalau tidak, kita yang tertinggal.