Dua yang Pergi

Seminggu terakhir ini ada dua orang di lingkunganku yang meninggal. Yang pertama meninggal mendadak, yang kedua sebenarnya sudah sakit sekitar semingguan.

Kalau dibilang sedih, mungkin tidak sedih banget karena jujur saja aku tidak punya kedekatan emosi yang kuat dengan keduanya. Tapi aku kenal baik dengan dua bapak tersebut. Aku hanya merasa seperti ada yang kosong.

Aku nyaris tidak pernah bertemu Pak W, bapak yang meninggal pertama itu. Sejak pandemi, aku tidak pernah ikut kegiatan di lingkungan. Hampir tidak ada kegiatan juga, sih. Dan aku tidak pernah ketemu beliau misa di gereja (sejak adanya misa luring). Dasarnya aku juga jarang misa sejak pandemi, sih.

Berbeda dengan Pak A, aku beberapa kali bertemu beliau di gereja karena beliau biasanya bertugas tata laksana (yang membantu umat menemukan nomor kursinya). Aku yang biasanya datang mepet dan agak lari-lari masuk gereja, sering merasa lega ketika melihat Pak A. Beliau biasanya membantuku menemukan nomor kursiku. Jadi, aku bisa duduk sebelum romo muncul di altar. Seminggu sebelum beliau meninggal, aku sempat bertemu dengannya di gereja.

Menurutku, dua bapak ini meninggal dalam waktu yang cepat. Bisa dibilang mendadak. Yang satu beneran mendadak karena sebelumnya tidak sakit. Yang satu lagi, mendadak stroke dan akhirnya pergi. Betapa tipis jarak antara ada dan tiada–antara hidup dan mati.

Selama mengikuti doa memule (peringatan orang meninggal), aku mengamati ada orang-orang yang tinggalnya agak jauh, yang rajin ikut doa. Bahkan termasuk mereka yang kurang dekat dengan kedua almarhum. Kehadiran orang-orang seperti ini sungguh menguatkan. Ya, cuma hadir saja sudah cukup membantu. Karena kalau yang datang doa sedikit, mesti rasa duka itu akan terasa lebih menggigit.

Dari peristiwa meninggalnya dua bapak tersebut, aku merasa bahwa ketika seseorang meninggal, yang diingat sering kali bukan hal-hal besar atau tindakan heroik mereka. Yang sering membekas justru hal kebaikan yang sederhana, kecil, dan sepertinya sepele.

Apakah Menunggu Pesanan Martabak Telur Adalah Saat yang Membahagiakan?

Pertanyaan “Apakah aku bahagia?” muncul beberapa waktu lalu, tepatnya ketika aku menunggu pesananku martabak telur dibuat. Ketika akan berangkat, aku agak terburu-buru karena kulihat mendung sudah cukup gelap. Sementara itu, aku harus mengirim paket sabun, membeli roti tawar, dan ya itu tadi: membeli martabak telur untuk tambahan lauk makan malam. Aku tahu bisa kehujanan kalau aku kurang efisien menata waktu. Dan aku amat sangat menghindari hujan. Aku tak suka kedinginan di jalan–walau aku bisa memakai jas hujan supaya tidak kehujanan, tapi sungguh aku tak suka kehujanan. Apalagi hujan membuat pandanganku kabur.

Membeli martabak adalah urutan terakhir. Yang pertama tentu saja mengirim sabun supaya paket itu bisa segera diterima pembeli. Dan aku sebetulnya mulai tak sabar ketika menunggu martabak pesananku matang. Aduh, kenapa lama matangnya? Lalu sesekali aku mendongak, melihat apakah hujan sudah benar-benar akan turun. Aku sedikit agak lega ketika kulihat orang di jalanan tidak bergegas. Berarti belum hujan. Dan muncullah pertanyaan itu: Apakah aku bahagia?

Sebetulnya apa itu bahagia?

Aku meraba perasaanku dan merenungkan kembali hidupku. Aku merasa cukup nyaman berada di kota ini, tinggal di daerahku sekarang. Aku bisa dengan mudah menjangkau warung, toko, kedai, atau apa pun itu namanya, yang menjual barang kebutuhanku. Aku punya kendaraan yang layak untuk kupakai. Jaket yang kupakai saat itu memang sudah butut, tapi sudah sangat cukup membantu melawan angin atau udara dingin. Kacamataku masih bisa kupakai–walau aku mulai berpikir untuk memeriksakan mataku lagi: Jangan-jangan minus atau plusnya tambah? Sejauh ini, sampai ketika aku menunggu martabakku matang, aku merasa semua yang kumiliki sudah cukup. Lalu, apakah aku sudah bahagia?

Kupikir, perasaan cukup yang kuamati petang itu, membuatku berpikir bahwa aku sudah cukup bahagia. Entah apa pun itu definisi bahagia, aku rasa tidak perlu-perlu amat mencocokkan antara definisi dan perenunganku sore itu. Aku rasa, aku berhak menentukan standar dan definisi bahagiaku sendiri.

Aku melirik ke dalam kedai, dan kulihat martabakku sudah mulai diiris. Aku segera berdiri, mengambil dompet di dalam tas, dan menghitung jumlah uang. Tak terlalu banyak jumlahnya, dan mestinya aku perlu mengambil uang lagi di ATM. Aku mencoba mengingat-ingat berapa saldo terakhirku. Aku hanya berharap, semoga selalu ada rejeki secukupnya. Berapa pun uang yang masuk dan keluar perlu disyukuri. Begitu kutipan yang kubaca di medsos beberapa hari lalu.

Apakah aku masih bahagia ketika mengingat saldo terakhir di rekeningku?

Kupikir, cukuplah bahagiaku sore itu. Kupacu motorku sebelum hujan benar-benar datang. Hujan turun persis ketika aku memasukkan motor ke dalam garasi.

Hitunglah berkat-berkatmu, agar semua terasa cukup dan menghangatkan hati.

Belajar Bersyukur Saat Hujan

Beberapa malam yang lalu, hujan deras. Deras banget. Lengkap dengan angin kencang dan mati lampu. Saat itu aku dan semua orang serumah sedang di luar rumah, makan bakmi godhog di warung langganan. Tempat makannya di teras rumah si penjual, di tepi jalan pinggiran kampung yang tidak terlalu ramai.

Waktu hujan semakin deras, meja tempat kami makan terpaksa digeser agak ke dalam supaya tidak kena tempias hujan. Awalnya kupikir hujan biasa, tapi makin lama makin deras dan aku terpaksa memakai jaket supaya kausku tidak basah.

Bakmi godhog yang semula jadi “comfort food”, jadi tidak nikmat. Bakmi rebus dengan irisan ayam kampung dan kaldu yang gurih itu jadi kehilangan rasanya gara-gara hujan badai di depan mata.

Sembari makan, aku mengingatkan diriku bahwa semua badai pasti berlalu. Entah cepat atau lambat. Lampu juga akan menyala lagi. Banyak hal yang masih bisa disyukuri: kami tidak kehujanan, masih bisa makan enak, makannya juga bareng-bareng. Kami juga akan pulang tanpa berhujan-hujan karena kebetulan bawa mobil perginya. Tapi entah kenapa aku tidak tenang. Aku lalu ingat kucingku yang di rumah sendirian. Aku bertanya-tanya apakah ada ruangan yang bocor lagi di rumah? Bagaimana kalau hujan deras ini tidak berhenti sampai pagi? Apakah kami harus menginap di emperan begini? Kuakui ini memang lebay.

Aku lalu menyadari bahwa aku memang suka overthinking. Pikiranku suka lari ke mana-mana. Memang saat itu keadaan tidak nyaman, tetapi sebenarnya tidak perlu khawatir banget karena toh aku tidak kehujanan dan masih bisa makan enak. Aku justru fokus pada kondisi luar, dan melupakan hal yang sebenarnya bisa kusyukuri dan kunikmati.

Syukurlah setengah jam kemudian hujan mulai reda. Kakakku pun mengambil mobil yang diparkir di seberang jalan dan kami pulang. Begitu sampai rumah dan membuka pintu garasi, kucingku langsung menyambut. Listrik masih belum menyala, tapi hujan tinggal gerimis tipis. Rasanya lega bisa sampai rumah. Pengalaman ini menjadi pelajaran buatku supaya untuk rajin latihan melihat hal-hal yang masih bisa disyukuri selagi ada masalah di luar serta selalu mengingat: Semua badai pasti berlalu.

Di Sini Saja Cukup

Aku merasa menulis di blog ini merupakan kewajiban kecil terhadap diriku sendiri. Aku butuh catatan untuk mengingat-ingat. Ingatan sering kali menjadi harta karun yang membuat senyum terkembang. Kadang aku terheran-heran, bagaimana bisa aku membuat tulisan seperti itu.

Belakangan aku merasa tidak perlu menyebarkan tulisan di blog ini lewat akun medsosku karena kebanyakan ini hanya catatan untuk diriku sendiri. Kalau sesekali ada orang yang ikut membacanya, silakan. Tetapi tulisan-tulisan di sini terutama untuk diriku sendiri.

Dulu aku merasa “butuh” banyak pembaca. Aku mengalami masa ketika aku beberapa kali bertemu teman sesama narablog. Tetapi aku lagi-lagi lebih suka berdiam di balik layar.

Kini aku menulis seperti ini saja. Sesukaku. Kadang lama tidak menulis. Sekalinya menulis, aku tidak “woro-woro”. Sempat aku terpikir untuk memiliki buku harian. Tetapi aku malas menyimpan tumpukan buku. Rakku sudah penuh dan aku tak ingin menambahnya dengan berjilid-jilid buku harian. Jadi, di (blog) sini saja cukup.

Mengenang Mangga: Mengingat Penyelenggaraan Tuhan

Kuakui, aku bukan orang yang selalu berpikiran positif. Kadang aku mesti berjuang untuk memunculkan pikiran positif saat situasi sekelilingku tampak buruk (di mataku). Hal ini menjadi sulit ketika aku dikuasai kecemasan dan rasa takut.

Memasuki tahun 2020 ini, aku melihat bumi ini tampak menua. Cuaca ekstrem mulai menampakkan taringnya, dan aku cemas. Apa yang akan terjadi dengan lingkungan sekitarku kalau aku tua nanti? Siapa yang akan menolong, kalau badan sudah semakin ringkih dan aku tidak punya siapa-siapa atau tak punya apa-apa lagi. Buatku ini mengerikan.

Aku lalu berusaha mengingat-ingat penyelenggaraan Tuhan dan bagaimana Dia menemaniku selama ini. Aku lalu teringat peristiwa beberapa bulan lalu, ketika musim mangga tiba. Waktu itu Mbak Rus, pramurukti yang merawat mendiang Bu Sri–mertua kakakku–mengatakan di kampungnya sedang panen mangga. Dia sendiri punya pohon mangga yang siap panen. “Coba icipi,” katanya sambil memberikan beberapa butir mangga. Ada beberapa macam mangga: arum manis, mangga putih, dan entah apa namanya. Aku sendiri tidak familiar dengan jenis mangga putih, tapi rasanya mengingatkanku pada mangga Indramayu. Manis bercampur asam sedikit. Segar. Beda dengan mangga arum manis yang manis sekali, tak ada jejak rasa asam.

Mangga-mangga itu tak ada harganya di kampungnya sana. Dibawa susah-susah ke pasar terdekat, harganya jeblok. Soalnya, hampir semua rumah punya pohon mangga yang sedang berbuah. Jadi, harga mangga di sana pun tidak bagus.

“Coba kubantu jualin sini, Mbak,” aku menawarkan padanya. Aku lalu ingat temanku yang biasa berjualan buah secara online. Aku pikir, dia akan bisa membantu menjualkan. Lalu aku ingat sepupuku yang tinggal di perumahan tak jauh dari rumahku, kupikir dia bisa menjualkan mangga-mangga itu ke tetangganya. Tapi rupanya perhitunganku meleset. Temanku bilang dia tidak bisa menjualkan mangga. Alasannya a, b, c, d. Macam-macam. Ah, sudahlah. Kemudian aku mencoba mengontak sepupuku. Apa jawabnya? “Aku tidak pernah makan mangga arum manis. Apa benar enak?” Ah, mbelgedes. Jelas-jelas dia bilang beberapa minggu sebelumnya dia beli mangga arum manis kok.

Terang saja aku disergap cemas. Aku mesti menjual mangga-mangga itu kepada siapa? Padahal Mbak Rus sudah membawakan dua karung mangga! Matiiik akuuu. Aku takut kalau mangga-mangga itu nantinya membusuk di garasi rumahku sebelum laku terjual.

Aku diam-diam berdoa dalam hati (dengan hati yang penuh kekhawatiran) semoga Tuhan mengirimkan para pembeli mangga. Aku pun berusaha menjual mangga dengan menawarkannya ke beberapa grup WA plus memasang status WA lengkap dengan foto mangga. Tak ada respons. Hanya satu orang yang respons, itu teman yang rumahnya di ujung selatan sana. Waduh, kalau dia beli, mesti mengantarkan ke sana dong. Lumayan juga jauhnya. Tapi akhirnya kusanggupi mengantar mangga ke rumahnya. Tak baik menolak pembeli pertama, kan? Sekalian main, pikirku.

Tak lama, satu dua teman mengontak mau membeli mangga. Ada yang langsung 5 kilo belinya, ada yang 1 kilo. Puji Tuhan, mangga-mangga itu laku semua. Bahkan sampai stok mangga habis, masih ada yang menanyakan.

Aku berhasil menjual mangga sampai 50 kilo lebih. Prestasi tersendiri buatku. Meskipun tidak untung banyak, tetapi aku senang. Aku ambil untung tipis, sebagian besar uang kuserahkan ke Mbak Rus. Dia senang, aku pun lega. Bonusnya, aku bisa makan mangga sepuasnya.

Ingatan tentang jualan mangga itu menguatkanku ketika memasuki tahun 2020 ini. Kurasa, asal kita mau berusaha, ada saja rejeki yang mengalir. Mungkin tidak banyak, tetapi cukup. Cukup untuk membuatku tidak kelaparan, cukup untuk berbagi.

Memang bumi ini menua, daya dukung lingkungan makin menurun. Namun kuharap, tangan Tuhan tidak kurang panjang untuk menolong kita semua.

Menjaga Kehidupan dan Kesehatan

Sekitar tiga hari terakhir ini aku kerap ke Betesda. Mertua kakakku–Bu Sri–terserang stroke akut, jadi beliau harus dirawat intensif di rumah sakit. Ruang perawatan untuk stroke di rumah sakit ini kulihat cukup baik, terutama ramah bagi para keluarga yang menunggu. Ada sebuah kamar khusus untuk setiap keluarga pasien. Di situ tersedia tempat tidur ukuran single serta ada sebuah lemari kecil. Kalau penunggunya lebih dari seorang, bisa membawa tikar tambahan sendiri. Setiap pagi kamar tunggu untuk keluarga pasien itu dipel oleh petugas. Jadi, ruangan ini bersih dan cukup mengurangi stres keluarga kurasa.

Di sini pasien diletakkan di ruangan khusus untuk dipantau secara intensif selama 24 jam. Keluarga tidak diperkenankan melihat langsung atau menemani di samping pasien kecuali pada jam bezuk. Jadi, sebenarnya kamar untuk penunggu yang kuceritakan di atas memang semata-mata untuk menunggu. Tidak ada hal lain yang bisa dilakukan selain duduk, mengobrol, tidur, baca buku, atau makan cemilan.

Aku baru menengok Bu Sri pada hari kedua. Dia terlihat tenang dan seperti tidur nyenyak sekali. Dokter mengatakan bahwa terjadi penurunan kesadaran akibat pendarahan otak. Banyak selang yang terpasang di tubuhnya dan di sisi atas kepalanya ada monitor yang memantau beberapa hal. Aku kurang tahu apa saja yang dipantau, yang jelas salah satunya adalah detak jantung.

Saat menjenguk Bu Sri ini aku berpikir, “Sebegitunya ya kita manusia ini menjaga dan mempertahankan kehidupan.” Banyak hal dilakukan dan diupayakan. Namun, di sisi lain, ketika dalam kondisi sehat, orang kadang (atau malah sering?) mengabaikan kehidupan itu sendiri. Soal makan misalnya, aku masih suka makan sembarangan. Kadang memakai excuse “Ah, nggak apa-apa”, “Ah, cuma sedikit”, “Sekali-sekali nggak apa-apa dong” dan sebagainya. Kita berpikir kesehatan hanya urusan kita sendiri–bukan orang lain. Nyatanya, kalau orang sakit dan harus masuk rumah sakit, yang repot tidak hanya diri sendiri, tetapi juga orang-orang di sekitar kita mesti pontang-panting dan kadang harus merelakan kesehatannya sendiri demi pasien yang mondok. Misalnya, karena ikut menjaga pasien, mesti tidur di bawah sehingga masuk angin atau flu.

Kesehatan tidak melulu urusan pribadi. Kesehatan memiliki dampak sosial. Sayangnya hal seperti ini jarang disadari dan hanya memikirkan kenikmatan pribadi. Kalau makan makanan kurang sehat, mungkin kita perlu ingat bahwa keluarga terdekat kita bisa kena imbasnya kalau kita sampai kenapa-kenapa. Lagi pula, sakit itu tidak enak kan?

Belajar Hal Baru: Salah Satu Cara Mengenal Diri Sendiri

Katanya, untuk mencegah pikun, kita perlu belajar hal baru. Ini hal yang menantang buatku. Aku merasa makin ke sini, aku semakin malas menghadapi sesuatu yang baru. Penginnya tetap berada di zona nyaman. Tidak ngapa-ngapain, tetapi bisa terus berkembang. Eh, tapi mana bisa ya? Kalau enak-enak terus, manusia sepertinya cenderung akan mandeg. Dan mungkin bisa jadi, akan berumur pendek (?)

Namun, syukurlah ada beberapa hal yang selalu baru, yang menuntutku untuk belajar. Menerjemahkan artikel/buku membuatku mau tidak mau membaca dan membuka kamus. Tapi jeleknya, aku sering hanya mengambil teks yang sangat familiar buatku. Misalnya, aku hanya akan mengambil teks tentang memasak, cerita anak, kekristenan, atau yang gampang-gampang menurutku. Sebetulnya hal ini bisa disiasati dengan banyak membaca. Tapi, aku belakangan selalu punya alasan untuk tidak membaca. Mulai dari setrika sampai mengantuk. Sangat tidak elit, ya.

Selain terus belajar dalam dunia penerjemahan, beberapa bulan ini aku mau tidak mau mesti belajar menyetir mobil. Bagi kebanyakan temanku, menyetir adalah hal mudah. Mungkin ketika dulu aku belajar naik motor, teman-temanku belajar menyetir. Jadi, di usia ketika yang lain sudah lanyah nyetir, aku masih gagu.

Ya, ceritanya aku belajar menyetir. Sumpah, aku deg-degan setengah modiaaar… ketika awal duduk di belakang setir. Terus terang, aku takut nabrak. Iso bayaran lak an, Rek! Aku ikut kursus nyetir tak jauh dari rumahku. Latihan pertama, aku ditanya mau di jalan langsung atau di dalam stadion? Langsung aku pilih latihan di stadion dong. Mestinya latihan kedua aku sudah berani di jalan. Ternyata, enggak. Aku tetap di stadion. Buatku, latihan di jalan itu MENGERIKAN. Aku sangat takut.

Setelah kursus nyetir selesai, apakah aku sudah bisa nyetir mobil sendiri? Tentu tidak, dong! 😀 Aku sempat mandeg nggak latihan nyetir selama beberapa bulan. Lalu aku lanjut latihan lagi ditemani seorang kenalanku yang sudah mahir menyetir. Namanya Mas Heru. Lama banget aku sama dia latihan hanya di jalan kecil. Masih takut? Iya lah. Kayaknya Mas Heru sampai bosen melihatku hanya berani di jalan kecil atau jalan kampung saja. Menumbuhkan keberanian itu tidak mudah buatku. Nyaliku kueciiil.

Seingatku, menjelang bulan puasa kemarin, aku berhenti latihan dengan Mas Heru. Karena dia mesti persiapan buka puasa kan? Lagian kasihan kalau sudah seharian puasa, lalu di ujung hari malah latihan kesabaran menghadapi aku yang masih kacrut dalam menyopir.

Kemudian aku mulai latihan dengan kakakku. Lumayan, walau tidak setiap hari. Kemudian aku belajar nyetir sendiri ke rumah Mbak Ira, yang tak jauh dari rumahku. Waktu itu, aku masih latihan yoga di rumahnya. Jadi, yoga bisa jadi alasan untuk bawa mobil sendiri.

Butuh waktu beberapa bulan buatku untuk mulai bisa bawa mobil sendiri, tanpa mati mesin di jalan, tanpa grogi kalau diklakson dari belakang, tanpa deg-degan kalau ketemu belokan sempit dan papasan dengan mobil lain. Aku sering buka channel yang membahas latihan mengemudi di youtube.

Saat belajar menyetir mobil aku mulai mengamati diriku sendiri, bagaimana sikapku terhadap hal baru, bagaimana aku mengatasi ketakutan, bagaimana aku belajar, dan sebagainya. Belajar hal baru ini membuat aku menengok ke dalam diri. Aku mulai melihat diriku. Kadang aku menemukan hal-hal baru yang mengejutkan tentang diriku sendiri. O… ternyata aku begini, ternyata aku punya sifat itu, dan seterusnya.

Sepertinya setelah ini aku perlu belajar keterampilan baru lainnya. Berenang? Public speaking? Atau berkebun? Ada usul?

Sebuah Pertanyaan dan Tentang Mengumpulkan Harta di Surga

Kadang ada satu pertanyaan yang tiba-tiba muncul di kepalaku. Pertanyaan itu terus membayangi sampai ditemukan jawaban yang cukup memuaskan. Kadang jawaban itu lama sekali baru ketemu. Kadang ketemunya tidak langsung utuh, tetapi satu-satu. Kadang pertanyaan itu muncul, kadang pergi lagi.

Belakangan ini, ada satu pertanyaan yang muncul: Apa yang sebenarnya aku inginkan?

Aku mencoba menebak-nebak mengapa muncul pertanyaan ini. Mungkin aku ini terlihat sibuk tapi tidak jelas tujuannya. Tidak fokus. Oh, ya betul, mungkin karena tidak fokus itulah pertanyaan itu datang. Aku memang sering tidak fokus. Mau ke sini, ke sana, tapi akhirnya tidak ke mana-mana. Lalu, apa yang sebenarnya aku inginkan? Apa tujuan yang di depan?

Samar-samar ada sih jawabannya. Tetapi ya gitu, masih samar.

Sampai pagi ini.

Aku takjub aku bisa bangun sepagi itu tanpa alarm padahal semalam aku tidur larut. Sebelum tidur aku memang berkata dalam hati. “Aku ingin ikut misa harian besok pagi.” Dan pas jam 5 aku bangun. Melawan dinginnya pagi yang membekukan, aku berangkat ke gereja Banteng.

Bacaan misa hari ini adalah tentang mengumpulkan harta di surga. “Bukan tentang menjadi apa atau siapa,” begitu khotbah Romo, “tetapi apakah kita sudah mengupayakan seluruh usaha kita untuk mengumpulkan harta di surga.” Harta di surga di sini maksudnya adalah keutamaan-keutamaan hidup. Karena di mana harta kita berada, di situlah hati kita berada.

Aku seperti mendapat sedikit pencerahan dari apa yang kudengar dan apa yang kualami pagi ini. Pertama, ketika aku bisa bangun pagi tanpa menunda-nunda, itu berarti aku sudah tahu apa yang kuinginkan: Misa pagi. Kedua, soal mengarahkan keinginanku, yaitu pada keutamaan-keutamaan hidup. Ini PR besar dan mesti dibuat lebih detail.

Ditambah aku pagi ini mendapat telepon, dan suara di seberang bertanya soal pembuatan sabun. Lalu aku bercerita bahwa tempo hari aku menunjukkan demo pembuatan sabun di sebuah paroki di sini.

Samar-samar aku mendapat jawaban apa yang kuinginkan. Tidak hanya keinginan pribadi sih, tetapi aku lebih dari itu. Maksudnya, supaya yang kuinginkan, yang kulakukan tidak menguntungkan aku pribadi, tetapi memberi manfaat pada banyak orang.

Butuh Membuat Jarak

Kemarin aku membaca di status temanku begini kira-kira: Sesuatu yang kamu benci itu mungkin sesuatu yang membutuhkan lebih banyak cinta darimu.

Membaca itu aku jadi tertegun.

Hari-hari belakangan ini aku sedang bruwet. Aku marah, kesal, dan benci dengan beberapa kerabat ibuku. Mungkin sudah sampai tahap muak. (Aku jarang banget kan nulis seperti ini. Tapi aku butuh “tempat sampah” dan apa yang terjadi akhir-akhir ini perlu kuingat untuk pembelajaran.) Mengapa mereka hanya memikirkan materi dan bahkan sampai menyengsarakan orang lain? Yang membuatku muak adalah semua itu dibungkus dengan kata-kata agamis dan dilakukan orang-orang yang menyandang gelar tinggi.

Tapi ketika membaca status temanku itu, aku rasanya jadi sangat sedih. Aku sedih mengingat mereka dan diriku sendiri. Aku sempat bertanya-tanya pada diriku sendiri, apa yang sebenarnya terjadi. Apa yang sebenarnya kurasakan? Do we lack of love? Aku sampai benar-benar kehilangan kepercayaan terhadap orang-orang yang mestinya kuhormati.

Ya, mungkin aku yang kurang mencintai mereka. Tetapi aku butuh diam dan membuat jarak sejenak.

Adakah Kabar Baru dari Masa Lalu?

Aku tadi membaca di status teman: Tak ada kabar baru dari masa lalu dan tak ada kabar kepastian dari masa depan. Jadi, hiduplah saat ini.

Aku seperti ditampol membaca status itu.

Iya, betul juga. Tak ada kabar baru dari masa lalu.

Kadang aku masih berharap ada kabar baru. Tapi yang lalu memang sudah berlalu walau menyisakan rasa sampai saat ini. Detail peristiwanya juga sebagian sudah terlupa, tapi ada rasa yang tertinggal. Apakah kamu mengalami hal yang sama?

Aku perlu mengingat hal ini lagi: Hiduplah sepenuh-penuhnya pada masa sekarang.

Dan jangan lupa memaafkan orang lain dan diri sendiri.