Karenina dan Berbagai Pertanyaan

Awal Desember lalu, aku mendapat keponakan baru. Adik suamiku, Desy, melahirkan. Dan itu adalah pengalamanku yang pertama menunggui seorang perempuan yang melahirkan. Sebetulnya tidak terlalu menunggui banget sih, karena aku datang saat detik-detik terakhir. Oke, jadi begini ceritanya. Kamis tanggal 6 Desember lalu, suamiku ditelepon adiknya yang mengabarkan dia sedang ke RS. Carolus. “Sudah mau melahirkan, ya?” tanyaku. Katanya sih sudah flek-flek, tapi belum mules. Hari itu suamiku libur, jadi begitu mendapat kabar itu, dia langsung ke Carolus.

Aku mendadak agak mules juga, soalnya “singa matiku” sudah hampir menggeliat bangun untuk menerkamku. (Singa mati = plesetan dari kata “deadline” alias tenggat waktu. Ingat, ya bukan dateline. Dateline adalah garis tanggal internasional; an imaginary line that goes from the north pole to the south pole, to the east of which the date is one day later than it is to thewest–Longman Dictionary.) Walaupun tinggal membaca ulang hasil terjemahanku, tetap butuh waktu juga.

Ternyata Desy tidak harus opname dan kata dokter masih seminggu lagi. Aku ikut bernapas lega. Tapi besok paginya (Jumat 7 Desember), Desy menelepon dan mengatakan sudah mulai mules. Hiyaaa … kayaknya mesti gotong-gotong laptop ke rumah sakit, nih pikirku. Untung aku kemarin sudah minta tambahan waktu kepada editorku. Tapi aku membayangkan mungkin aku akan beberapa kali ke RS juga.

Paginya, aku mengantarkan sarung yang hendak dipinjam Desy untuk dibawa ke RS. Untung tempat tinggalnya dekat. Jadi, cukup jalan kaki. Dia sudah bersiap ke Carolus dengan suaminya. Aku pamitan bahwa aku barangkali akan ke RS agak sorean. Seharian itu aku merasa waktu seperti berlari. Pekerjaanku belum selesai dan aku harus beres-beres rumah supaya kalau kami agak lama di RS, kondisi rumah tidak terlalu seperti kapal pecah.

Sampai sore, belum ada kabar dari Desy jika dia sudah sudah melahirkan. Aku pun berangkat ke Carolus selepas magrib. Sampai di RS, aku bertemu suamiku, Jerry (suami Desy), dan Desy yang sedang mules-mules, bukaan tiga. Sampai pukul 20.00 bukaanya belum bertambah. Hmmm … jangan-jangan tengah malam baru lahir? Dan aku sudah kelaparan, sodara-sodara. Begitu pula dengan suamiku. Akhirnya kami berdua keluar RS untuk cari makan. Di luar, kulihat jalanan masih supermacet. Memang jalan depan Carolus itu kalau sore-malam macetnya mengerikan. Apalagi itu hari Jumat.

Suamiku mengajakku cari makan ke arah RS Thamrin. Oke saja deh. Untuk mencapai tempat makan yang kami pilih, kami melewati Seven Eleven (Sevel). Banyak anak muda duduk-duduk. Kulihat banyak sampah bertebaran. Wealah, ternyata sama saja. Jelas anak-anak muda yang nongkrong di Sevel itu bukan orang miskin, dan pasti cukup berpendidikan. Tapi kalau urusan sampah, sama saja! Mungkin mereka berpikir, toh nanti akan disapu sama petugas. Atau, toh aku sudah bayar (?). Parah ya? Aku rasa selama untuk urusan sesepele sampah saja belum beres, masyarakat kita tidak bisa maju.

Selesai makan, kami kembali lagi ke Carolus dan … jalanan masih macet! Padahal itu sudah sekitar pukul 21.00. Wuedan tenan Jakarta! Sesampainya di ruang bersalin, Imanuel, aku berpikir … betapa absurdnya hidup ini ya. Di depan sana, jalanan begitu padat. Orang saling menyerobot, saling berebut jalan, bahkan bisa dibilang separuh menggadaikan nyawa. Sementara itu, di salah satu bangsal belakang RS ini, suasana cukup sepi, seorang wanita berjuang menahan lara untuk mengantarkan bayinya ke dunia yang ruwet ini.

Tak lama kemudian, Desy sudah bukaan 9. Para medis sudah mengerubunginya untuk membantu melahirkan. Aku masih menghadapi ribuan huruf di depan komputer. Walaupun tidak bisa berkonsentrasi penuh, tapi aku berusaha tetap bekerja. Lha daripada bengong atau hanya menonton televisi? Mending bekerja, kan?

Allegra Karenina Godeliva Manuel umur 2 hari
Allegra Karenina Godeliva Manuel umur 2 hari

Di ruang sebelah kudengar suster memberi aba-aba supaya Desy mengejan. Lalu dalam hitungan menit, kudengar tangis bayi. Allegra Karenina Godeliva Manuel–yang dipanggil Nina–sudah lahir (aku sih memanggilnya Pipi, karena pipinya gembil hihihi. Maksa ya!). Dengan terkantuk-kantuk aku kemudian masuk ke kamar bersalin untuk menengok. Kulihat si bayi yang baru berumur beberapa menit itu sedang melakukan IMD (Inisiasi Menyusui Dini). Pipinya gembil, kulitnya masih merah, matanya masih agak terpejam. Aku bersyukur kelahirannya lancar.

Peristiwa kelahiran itu kini membuatku sering berpikir, kenapa ya bayi itu kedatangannya dirayakan? Mungkin kita–orang-orang yang sudah dewasa ini–banyak menyimpan harapan kepadanya. Berharap bayi mungil itu akan berubah menjadi anak yang manis, tidak nakal, membanggakan keluarga, pintar, dan segala macamnya. Tapi, bukankah para koruptur itu dulu juga selucu dan seimut keponakanku yang baru lahir itu? Kenapa mereka kini sama sekali tidak lucu? Kenapa mereka kini begitu tamak dan rakus? Dan aku pun teringat kemacetan yang berlangsung persis di depan Carolus tadi. Manusia yang dulunya seorang bayi yang mungkin cantik dan ganteng, seolah berubah tak punya hati dan tak bisa berpikir. Mereka sudah tidak lagi bisa berpikir bahwa peraturan yang semestinya bisa membuat mereka nyaman, justru dilanggar sendiri. Rusak sudah tatanan. Bukankah mereka dulu juga tak berdaya dalam pelukan ibu? Bukankah mereka adalah tumpuan harapan orang tuanya? Kenapa semua harapan itu seolah lenyap? Lalu, apakah sebenarnya manusia ini?

Berbagai pertanyaan itu masih bergelayut di benakku. Mungkin sampai napasku habis, aku belum bisa menjawabnya.

Advertisements

Obrolan Soal “Langit dan Bumi”

Apa yang pertama kali kamu bayangkan ketika mendengar kata Jakarta? Yang jelas, bayanganku sebelum dan sesudah tinggal di Jakarta berbeda sekali. Misalnya, dulu ketika kerabatku yang tinggal Jakarta datang untuk mengunjungi kami (waktu itu aku masih tinggal di Madiun), oleh-oleh yang dibawa adalah makanan yang kerap kulihat di televisi: Dunkin Donuts, Pizza Hut, dll. Waktu itu, makanan seperti itu termasuk makanan mahal dan langka. Jadi, kesanku Jakarta adalah kota yang gemerlap. Semua orang berduit tumplek blek di sana. Singkatnya: tak ada orang miskin di kota itu. Naif banget ya? Namanya juga masih bocah. Hehehe.

Kini setelah sekian tahun berlalu, aku tinggal di kota itu. Terus terang, memang Jakarta itu agak mengagetkan bagiku yang besar di kota kecil. Tak usah kuceritakan panjang lebar keterkejutanku itu. Yang jelas, di Jakarta masih tampak jelas kemiskinan di sana-sini. Membuat miris. Jauh sekali dari pandanganku ketika masih kecil.

Suatu kali aku dan suamiku berjalan-jalan tak jauh dari Mal Grand Indonesia. Dia bilang, “Daerah belakang sini masih banyak yang kumuh lo.” Aku tak percaya. “Masak sih?” Wong depannya magrong-magrong dan gemerlap begini lo, masak belakangnya kumuh? Dan waktu itu, kami kemudian berjalan ke daerah di belakang sekitar Grand Indonesia (dan Plaza Indonesia). Ternyata betul. Di sana rumahnya berdempet-dempet. Kalau dibilang kumuh banget, yaaa … nggak banget-banget sih. Tapi tetep saja sih, kontras dengan mal di depannya yang mewah. Bedanya seperti langit dan bumi.

Kini, aku tidak terlalu terkejut dengan berbagai kekumuhan yang dapat ditemukan dengan mudah di Jakarta. Biasanya tempat-tempat seperti itu berdekatan dengan daerah yang tampak mewah. Kalau kamu melihat kompleks rumah gedong, bisa dipastikan tak jauh dari situ ada sederetan rumah-rumah yang rapat, kecil, dan biasanya berventilasi buruk. Lengkap dengan gang cukup dilalui oleh satu sepeda motor. Tikus got yang hitam dan gemuk pun menjadi penghuni tetapnya.

Kadang aku berpikir, apakah rumah-rumah yang rapat dan terkesan kumuh itu menyangga kehidupan mewah di sebelahnya? Bukannya tidak mungkin jika para penghuni kompleks rumah mewah itu memakai jasa dari orang-orang yang tinggal di daerah yang kurang beruntung itu. Mungkin ada yang menjadi tukang cuci, satpam, tukang kebun, dan lain-lain.

Aku tak tahu ini jenis hubungan macam apa. Apakah ini bisa disebut simbiosis mutualisme? Apakah karena itulah kemiskinan langgeng senantiasa? Jika tidak ada orang miskin, barangkali tidak akan ada lagi pekerja kasar?

Kupikir-pikir, orang tetap miskin karena tidak mendapatkan akses. Akses untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik, akses informasi untuk mendapatkan pekerjaan yang layak, akses untuk mengembangkan diri.

Ah, embuh. Wis bengi. Ngantuk … Yang kaya gini memang cuma “nikmat” untuk diomongin eh … ditulis di blog, maksudku.