Nostalgia Belanja

Aku tak terlalu ingat, sejak kapan aku mulai benar-benar ke pasar. Maksudku, benar-benar belanja sendiri, memilih dan menawar sayur, bahan untuk lauk, bumbu dan semacamnya.

Ketika aku masih kecil, ibuku rasanya ke pasar hanya pada saat akan masak besar atau mau mencoba menerapkan resep baru. Kadang-kadang saja aku ikut Ibu ke pasar. Yang paling kuingat, aku senang jika Ibu belanja di Pasar Kawak (kawak = lama, bahasa Jawa). Pasar itu tidak terlalu besar dan sebenarnya agak jauh dari rumah. Aku tak terlalu ingat mengapa aku suka ke sana. Mungkin jika ke sana, di benakku berdering makna itu berarti ibuku akan mencoba resep baru atau hendak memasak makanan favorit.

Untuk makanan sehari-hari, ada tukang sayur yang sejak pagi pasti sudah meletakkan bakulnya yang penuh dengan berbagai sayur, bumbu, daging, jajanan pasar, dan semacamnya di teras depan. Yu Nem demikian keluarga kami memanggilnya. Aku pun ikut-ikut memanggilnya demikian. Kini kupikir-pikir aku tak seharusnya memanggilnya begitu karena “Yu” itu kependekan dari “Mbakyu” (kakak perempuan), padahal dia ibu-ibu setengah baya. Mungkin sebaiknya aku memanggilnya Mbok atau Bu Nem. Tapi sudahlah, namanya juga anak kecil, bisanya cuma ikut-ikutan. Dia juga tidak protes aku ikut memanggilnya demikian. 😀

Untuk makanan sehari-hari, kami berbelanja pada Yu Nem itu. Nyaris tak pernah ganti tukang sayur, kecuali jika Yu Nem tak datang karena sakit atau ada keperluan tertentu. Yang berbelanja pada Yu Nem seringnya bukan ibuku, tetapi Mak’e–pengasuhku sekaligus pengurus dapur keluarga kami.

Acara belanja itu biasanya mulai sekitar pukul 06.30. Yu Nem biasanya sih datang pukul 06.00. Dia akan meletakkan bakulnya yang besar dan penuh sayuran, yang terdiri dari dua lapis. Lapis pertama adalah bakul lebar dan tak terlalu dalam, biasanya berisi bumbu-bumbu dapur dan jajan pasar. Lalu yang kedua adalah bakul besar, yang menopang bakul pertama tadi. Nah, di situlah tersimpan segala macam sayur: kangkung, bayam, gori (nangka muda), keluwih, kelapa, beberapa potong daging yang dibungkus daun jati, daging ayam, setumpuk daun jati untuk membungkus, dan entah apa lagi aku lupa. Selain itu dia masih menenteng beberapa keranjang ikan pindang. Meriah, deh. Dan aku senang sekali memerhatikannya mengeluarkan berbagai dagangannya. Mak’e biasanya membawa baskom untuk tempat belanja. Zaman itu tas kresek masih sangat jarang dipakai. Pun penjual tak pernah memberikannya kepada pembeli sebagai tempat belanja. Jadi orang yang belanja mesti membawa baskom atau keranjang belanja sendiri.

Aku paling suka jika libur sekolah karena aku bisa ikut nimbrung berbelanja di teras rumah. Kadang-kadang, kalau aku sedang tidak enak badan sehingga tak masuk sekolah, aku ikut nimbrung belanja pula. Hehehe. Nakal ya, harusnya istirahat di dalam rumah malah ikutan ngobrol di depan rumah. Padahal, aku takut juga kalau-kalau ada teman sekolahku yang lewat di depan rumah lalu nanti melaporkan bahwa aku malah duduk-duduk di depan rumah. Aku mendengarkan obrolan mereka sembari duduk di balik badan Mak’e yang gendut. Obrolan mereka selalu hangat walaupun seringnya mempercakapkan hal-hal remeh–soal harga beberapa bahan kebutuhan yang naik, wayang yang mereka dengarkan, dan yang lebih seru lagi adalah soal nomor buntut! 😀 Itu lo, waktu masih ada SDSB, Porkas, dll.

Enaknya ikut nimbrung saat Mak’e berbelanja adalah aku bisa memilih jajan yang akan dibeli. Yu Nem memang selalu membawa jajan. Yang ia bawa bervariasi: getuk, tiwul, gatot, bolang-baling, kue moho (aku tidak tahu apa bahasa Indonesianya), grontol (pipilan jagung rebus yang diberi parutan kelapa), bakpau, kue jongkong (lagi-lagi aku tidak tahu apa sebutan bahasa Indonesianya), kue lapis, bolu kukus. Beberapa jajanan itu dibungkus daun jati, jati saat hendak dimakan, tercium aroma khas daun jati. Sayang sekali saat ini daun jati jarang dipakai untuk membungkus. Padahal ini termasuk pembungkus yang ramah lingkungan dan memiliki bau yang khas.

Selain Mak’e kadang ada juga tetangga yang ikut berbelanja di tempat kami. Jadi, halaman rumahku jadi “jujugan” atau salah satu tempat tujuan berbelanja. Ditambah lagi di depan rumahku ada dokter anak yang praktek pagi dan sore. Ia punya pembantu namanya Pak No. Yang aku ingat, Pak No bertugas membersihkan bagian depan tempat praktik merangkap tukang parkir dan jualan balon untuk anak-anak. Pak No ini juga kerap ikut nimbrung di halaman depan untuk mengobrol ala kadarnya. Walaupun tak ramai-ramai amat yang berbelanja, tetapi yang menyenangkan adalah rasa gayeng yang muncul saat orang-orang ini datang.

Sekarang jika kurenungkan, Yu Nem ini besar sekali jasanya bagi keluargaku. Kami tak perlu keluar ongkos ke pasar dan kami bisa mendapatkan bahan makanan segar setiap hari. Maklum, saat itu kami tidak punya lemari es. Jadi, bahan makanan yang dibeli hari itu, habis pada hari itu pula. Memang ada kalanya Yu Nem tidak berjualan karena sakit atau ada keperluan keluarga. Biasanya kalau hendak libur, ia memberitahukan beberapa hari sebelumnya. Jadi kami pun bersiap belanja di tukang sayur lainnya.

Yu Nem sendiri merupakan gambaran perempuan yang kuat. Ia bekerja untuk membantu perekonomian keluarga. Jarang kudengar ia mengeluh. Setiap hari ia bangun dini hari lalu ke pasar, selanjutnya ia belanja untuk dijual lagi. Bakul (bahasa Jawa: tenggok) yang ia gendong tidak ringan. Pekerjaan itu ia lakoni dengan berjalan kaki. “Seragam” yang kenakan juga khas: kebaya sederhana, jarik, dan sandal jepit. Rumahnya cukup jauh dari pasar besar dan dari rumahku, yaitu di daerah Winongo. Mungkin kalau naik sepeda dengan santai memakan waktu 15-20 menit. Entah sepanjang hari itu ia berjalan berapa lama dan berapa jauh. Aku tak pernah menanyakannya.

Kini, aku tak tahu Yu Nem ada di mana. Semenjak Mak’e meninggal, dia mulai jarang ke rumahku. Jika sekarang masih hidup, barangkali ia sudah tua sekali. Aku berharap, di masa tuanya ia bahagia dan tidak sakit.

SMS yang Tak Terkirim

Untuk urusan SMS, aku berbeda dengan suamiku. Dia rajin menghapus inbox di hpnya. Jika SMS sudah agak menumpuk, ya kira-kira barangkali 20 SMS, dia akan menghapusnya. Kalau ada yang penting, disimpan. Tapi itu pun sangat sedikit.

Aku sebaliknya. Beberapa kali inbox-ku penuh. Penyebabnya, aku tidak serajin suamiku dalam menghapus SMS. Apalagi kalau SMS itu dari orang-orang dekatku–entah isinya penting atau tidak–maka biasanya SMS itu akan bercokol di hpku sampai lama.

Akhir tahun lalu sampai awal tahun ini, sepupuku datang setelah bertahun-tahun tinggal di negerinya Om Obama. Begitu sampai di Jakarta, dia dan suaminya segera membeli kartu telepon. Awalnya mereka tidak hendak membeli hp, karena mereka membawa hp dari sono. Tapi rupanya hp itu tidak bisa dipakai di sini. Singkat kata, setelah sempat dipinjami hp oleh saudara-saudaranya yang ada di Jakarta lalu membeli hp sendiri, mereka pun bisa bersms dan bertelepon ria. Setelah lama tidak bertemu, tidak disangka kami bisa ngobrol cukup akrab–baik dalam obrolan bertemu muka, maupun lewat SMS.

Sekitar bulan Maret mereka kembali ke Kanada. Sampai sekarang masih ada SMS dari kakak sepupuku tersimpan di hpku. Tentu tidak semuanya kusimpan. Hanya yang membuatku tersenyum geli saat mengingat kebersamaan kami. Oke, memang ada yang sudah mulai kuhapus sih. Tetapi masih ada beberapa yang tersisa.

Kalau SMS dari suamiku, jangan ditanya. SMS darinya paling banyak yang kusimpan, walaupun isinya singkat-singkat, seperti dia sedang ada di mana.

Penuhnya inboxku itu sebenarnya entah karena aku malas menghapus, entah merasa sayang. Aku tak tahu. Mungkin dua-duanya.

Nah, di hp itu kan ada inbox dan ada sent box. Aku sengaja mengatur SMS yang terkirim tersimpan dalam bagian sent box. Tetapi sent box ini lebih jarang lagi kubuka. Belum lama ini aku iseng-iseng membuka sent box di hpku. Kulihat rupanya ada satu SMS yang belum terkirim. Mendadak aku merasa ngilu. SMS itu untuk seorang teman dekatku, yang minggu lalu menghadap Bapa. Isinya berupa kata-kata gurauan sekaligus menyemangatinya yang sedang sakit. Dia memang sedang sakit parah waktu itu, dan karena jarak serta kondisiku, aku tak bisa menjenguknya. (Dia opname di Semarang, sedang aku masih tak bisa berkutik di Jakarta.) Entah mengapa sejak tahu dia sakit, aku tak pernah terpikir bahwa ia akan kalah melawan sakit yang dideritanya.

Oya, nama temanku itu Tutik. Serapina Yuni Hariastuti. Kami dulu seasrama, satu unit, dan satu kamar. Dua tahun aku tinggal sekamar dengannya. Tempat tidur kami atas bawah–dia di bawah, aku di atas. Rasanya dari sekian banyak teman asrama, aku merasa dia sudah seperti kakakku sendiri. Mungkin karena selepas dari asrama, dia pernah sekantor denganku dan sempat tinggal di rumahku di Jogja. Walaupun kemudian dia ditugaskan di Jakarta, dan aku tetap di Jogja, toh kami tetap berkomunikasi. Aku ingat dulu kami beberapa kali berkirim surat dan saling telepon. Kalau aku dapat tugas di Jakarta, dia satu-satunya teman yang kuandalkan.

Entah kenapa aku merasa kami ini punya kemiripan. Bukan karena sama-sama lahir di bulan Juni dan punya zodiak sama, tetapi rasanya lebih dari itu. Yang jelas, kami cocok dalam berbincang. Istilahnya, dia itu teman terbaik dalam hal teng-teng crit alias tenguk-tenguk crita (duduk santai sambil mengobrol). Bukankah pertemanan kebanyakan diisi dengan obrolan? Apa saja bisa kami obrolkan. Jangan heran kalau aku cukup familier dengan cerita lucu seputar tetangga-tetangga di kampungnya, soal adik-adik dan orang tuanya, soal saudara-saudaranya, soal teman sekampusnya, dan masih banyak lagi. Begitu pun dia familier dengan nama-nama kerabatku serta orang-orang di sekitarku. Saking seringnya kami mengobrol, kami kadang memakai acara apa pun untuk mengobrol, termasuk saat dulu mencuci baju di asrama. Kadang aku menemani dia mencuci dengan mengajaknya ngobrol, begitu pula sebaliknya.

Tanggal 22 Juli lalu dia mengirim SMS mengabarkan bahwa kondisinya memburuk. Namun, aku tetap berpikir positif. Selama di asrama dulu, dia anak yang sehat, dibandingkan aku yang beberapa kali kena radang tenggorokan atau kambuh asma. Aku selalu berpikir, dia akan baik-baik saja. Meski begitu, aku mencoba meneleponnya. Aku yang banyak bicara waktu itu, dia hanya bilang dia sulit berjalan. Suaranya agak lirih. Ah, dia pasti sembuh, begitu pikirku. Dan selama ini dia jarang sekali mengeluh. Aku tak berpikir buruk.

Namun, akhirnya tanggal 13 Agustus kemarin, sekitar pukul 13.30 dia pergi untuk selamanya. Rasanya antara percaya dan tidak, karena dua hari sebelumnya dia SMS aku, mengabarkan bahwa kondisinya membaik. Aku ikut lega. Aku kemarin-kemarin berpikir, nanti setelah Lebaran aku akan menjenguknya. (Menanggapi keinginanku untuk menjenguknya, dia selalu bilang kira-kira begini, “Jangan bilang menjengukku. Nanti kita ketemu wisata kuliner yuk! Yang kuharapkan adalah doa darimu.” Hampir tak ada nada keluhan, bukan?) Kadang aku masih beranggapan sekarang dia masih ada, hanya saja dia sudah tak bisa membaca SMS lagi.

Bagaimanapun ketika membaca SMS di sent box-ku, aku jadi terkejut. La, ternyata SMSku masih pending? Entah laporan di HPku itu salah atau benar, aku berharap dia bisa membaca SMSku. Kadang aku masih merasa sedih atas kepergiannya, tetapi akhirnya aku sadar bahwa ini yang terbaik buat dia. Dia sudah terbebas dari sakit yang mengungkungnya. Ia sudah bertemu dengan Sang Mahacinta yang bisa memeluknya dengan cinta yang jauh lebih hangat daripada teman dan kerabatnya, yang bisa melepaskan seluruh deritanya. Sudah seharusnya aku ikut bahagia bukan?

Saat bersama Mbak Tutik di Bali. (kiri-kanan: Mbak Tutik, Yusi, aku.) Foto oleh: Maxda

Akan kusimpan banyak cerita buatmu, Mbak Tut.
Simpan ceritamu tentang negeri yang damai itu ya! 

Karnaval Tujuhbelasan

Di bulan Agustus, frasa “tujuhbelasan” atau kalau bahasa Jawa “pitulasan” mulai sering kudengar. Dalam benakku, tiap kali mendengar frasa ini, yang terlintas adalah karnaval (pawai) yang meriah.

Ketika aku masih kecil, mendengar kata karnaval membuatku gembira. Rasanya tak sabar untuk menonton. Aku mulai bertanya-tanya, kapan karnaval diadakan? Aku pun menghitung hari tak sabar ingin ikut berdesak-desakan dengan warga kota lainnya, berusaha berdiri paling depan untuk menyaksikan pawai keliling kota. Meski matahari bersinar terik, kegembiraan itu tidak menguap. Yang kurasakan tetap kegembiraan yang membuncah; penasaran untuk menjadi saksi acara meriah yang diselenggarakan tiap tahun di kota kecilku.

Biasanya dari rumah kami akan berangkat beramai-ramai. Karena dulu rumahku dihuni oleh banyak kerabat, maka kami pun berangkat bersama–dan aku adalah yang termuda dari rombongan itu. Bekal yang kami bawa adalah air minum dalam botol dan payung. Waktu itu belum ada air mineral kemasan, yang sering dijajakan hanyalah semacam air minum kotakan seperti teh kotak, sari buah, dan es lilin. Jika tak bawa minum, mesti beli, dan itu berarti pengeluaran lebih. Payung juga penting untuk dibawa karena itu adalah peneduh otomatis yang bisa langsung dibuka ketika panas matahari membakar pucuk kepala. Tetapi aku biasanya tak pernah peduli dengan panas matahari yang menyengat. Yang kuinginkan adalah berdiri paling depan–walaupun sebenarnya itu sulit karena tubuhku yang kecil ini kerap tersikut dan terhimpit oleh orang yang badannya lebih besar.

Jalan terdekat dari rumah yang dilalui karnaval itu adalah Jalan Pahlawan. Waktu tempuhnya kira-kira 15 menit berjalan santai. Dulu aku sering berharap jalan depan rumahku juga dilewati karnaval, tetapi nyatanya harapan itu tak pernah terkabul. Di Jalan Pahlawan itu ada kantor Telkom, tempat budeku berkantor. Gedung Telkom itu rasa-rasanya gedung tertinggi di kotaku. Tingkat empat kalau tak salah waktu itu. Pernah suatu kali Bude menawarkan aku ikut masuk ke kantornya, dan mengajakku ke tingkat paling atas. Wah senangnya! Aku pikir aku bisa melihat karnaval tanpa susah payah. Namun karena aku masih sangat pendek, aku hanya bisa berjinjit dan melihat dari balik jendela. Itu pun masih kurang jelas karena yang tampak justru kepala orang-orang. Tidak seasyik yang kukira rupanya. Selanjutnya aku pun ikut berdesak-desakan lagi di antara para penonton.

Salah satu hal yang aku ingat adalah, biasanya karena kerumunan semakin lama semakin banyak, maka orang cenderung untuk maju. Akibatnya, jalanan jadi menyempit. Lalu tak lama kemudian ada sepeda motor besar dengan sirine nguiiing… nguiiiing lewat di dekat penonton agar mereka mundur ke belakang. Tetapi tentu saja itu tak terlalu ada gunanya, karena setelah sepeda motor itu lewat, para penonton mulai maju lagi agar bisa menyaksikan karnaval lebih jelas.

Ketika aku SD aku punya teman dekat yang berumah di Jalan Pahlawan. Ayahnya seorang dokter tentara, jadi mendapat rumah dinas di jalan protokol tersebut. Nah, rumah kawanku ini jadi markas teman-teman untuk menonton karnaval. Menyenangkan sekali, karena kami tak perlu kerepotan jika di tengah-tengah menonton karnaval kami kebelet pipis atau haus. Tinggal pakai kamar mandi rumah temanku saja kan, dan biasanya temanku akan mengeluarkan minuman dingin dari lemari es. Pokoknya serasa nonton dari depan rumah sendiri deh. Rumah temanku itu berpagar pendek dari beton (sebenarnya agak tinggi untuk ukuranku). Biasanya kami akan memanjat pagar tersebut, lalu berdiri di atasnya. Wah, benar-benar mengasyikkan karena kami bisa berdiri berderet. Kami berdiri bagaikan para jagoan yang berhak atas wilayah istimewa itu. 😉

Aku tak ingat, apa sebenarnya yang kala itu membuatku selalu tertarik menonton karnaval. Rasa-rasanya hanya kemeriahan dan asyiknya menonton beramai-ramai itulah yang membuat kangen. Oya, yang mengasyikan juga adalah kadang-kadang kita mengenali para peserta karnaval, misalnya tetangga, teman, atau bahkan kerabat sendiri. Ayahku kadang ikut karnaval tetapi karena beliau guru, dan mesti mendampingi para murid yang sedang ikut pawai.

Ketika aku SMP, sekolahku ikut karnaval. Dan kala itu pula aku ikut karnaval. Waktu itu yang aku ikuti adalah karnaval jalan, temanya kalau tak salah kerajaan Jawa. Yang melatih adalah guru kesenianku, yang bernama Pak Lambertus, yang memang jago melatih drama dan suka menciptakan lagu. Seingatku, kami dulu berpakaian ala Jawa lalu beramai-ramai menyanyikan lagu dan ada sedikit tariannya. Waktu di depan Bapak Walikota, kami unjuk kebolehan. Capek juga sih sebenarnya, karena mesti berjalan kaki keliling (jalan-jalan besar di) Madiun di bawah terik matahari, mesti pakai kostum pula. Tetapi karena ramai-ramai yaaaa, seneng-seneng aja. Dan akhirnya kelelahan itu dibayar oleh kemenangan kami sebagai juara I. (Aku waktu itu baru tahu kalau rombongan yang ikut pawai itu ternyata ada penilaiannya.)

Karnaval kedua yang aku ikuti adalah ketika SMA kelas 1. Waktu itu anak kelas 1 diwajibkan ikut karnaval jalan kaki. Ada juga yang dipilih untuk karnaval sepeda, tetapi hanya anak tertentu (karena memang pesertanya tidak sebanyak karnanal jalan kaki.) Entah kenapa, karnaval masa SMA ini kurang menarik bagiku. Yang aku ingat adalah capeknya hehehe.

Pernah pula, kaum Mudika (muda-mudi katolik) di gerejaku ikut karnaval. Seingatku aku ikut pula, tapi aku sudah tak terlalu ingat apakah yang aku ikuti karnaval sepeda atau karnaval jalan kaki. Yang aku ingat, aku masih menyimpan foto-foto sebelum dan sesudah karnaval. Sayang foto-foto itu tidak kubawa ke Jakarta, jadi aku tak bisa memasangnya di sini.

Satu hal yang menyenangkan dari menonton dan ikut karnaval adalah karena ada faktor kebersamaan. Semakin kompak rombongan kita, semakin asyik. Mungkin salah satu hal yang membuat rombongan karnavalku di zaman SMP itu menang adalah faktor kekompakan pula. Dan juga ketika aku menonton karnaval bersama teman-teman yang kompak dan seru, itu pula yang menyenangkan.

Selepas dari Madiun aku tidak pernah menyaksikan karnaval tujuhbelasan lagi. Rasanya kok tidak terlalu pengen ya? Hehe, mungkin malas membayangkan mesti berdesak-desakan. Tetapi kalau ada teman yang asyik, dapat lokasi nonton yang oke, dan bisa sekalian hunting foto, boleh juga sih. Jadi, kapan nonton karnaval lagi ya? 😉

Pengingat dalam Hidup

… kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap (Yak 14:4).

Bulan puasa. Sebentar lagi Lebaran. Meski Katolik, aku biasa ikut meramaikan hari raya Idul Firi. Di keluarga besarku ada yang muslim, jadi saat Lebaran aku dan suami pun ikut “ubyang-ubyung” alias ramai-ramai berkunjung ke rumah saudara yang merayakannya. Selama di Jakarta, dua lebaran yang lalu aku lewatkan di rumah om dan tanteku.

Ceritanya, lebaran tahun lalu aku ke Bekasi, berkunjung ke rumah salah satu omku, Om Agus. Rupanya yang ke sana bukan saudara dari jalur keluarga ibuku (omku adalah adik ibu), tetapi juga ada saudara dari tanteku (istri omku), Tante Rida. Aku jarang bertemu dengan saudara-saudara Tante Rida. Namun, karena lebaran itu, kami jadi bertemu, dan aku jadi tahu: “Oh, ini adiknya Tante Rida yang namanya Tante Sussy. Ini suaminya, namanya Om Eddy.” Tampak juga anak-anak Tante Sussy yang sudah akrab dengan sepupuku. Yah, maklum mereka sebaya dan sama-sama tinggal di Jakarta sejak kecil. Kabarnya Om Eddy ini seorang pilot.

                                                                             ***

Kemarin Om Agus pasang status di FB mengabarkan bahwa ada adiknya yang meninggal. Wah, yang mana ya? Dia menyebutkan nama Eddy Purnomo. Aku sejenak mengingat- ingat siapa ya di antara keluarga besarku yang namanya Eddy Purnomo. Lalu, aku tanya ke sepupuku yang kulihat sedang online di dunia maya.

“Siapa yang meninggal sebenarnya, Mbak?”
“Om Eddy, suaminya Tante Sussy yang pilot itu lo.”
“Oh, Tante Sussy yang adiknya Tante Rida? Sakit ya? Perasaan dulu segar bugar aja tuh.”
“Jadi korban kecelakaan helikopter yang jatuh.”
“Welah… ada heli jatuh to?”
“Ada, aku tadi lihat beritanya di situsnya Tempo.”

Memang belakangan ini aku agak jarang mengikuti berita. Rasa-rasanya berita yang beredar lebih sering membuat sakit kepala dan hati kisruh daripada membuatku bangga atas negara ini. Kebanyakan berita yang kurang menyenangkan. Memang di jurnalistik biasanya “bad news is good news.” Tapi, daripada ikut pusing mikirin negara, aku milih tidak terlalu mendengarkan berita. Kalau pun dengar berita, ya sambil lalu saja.

Aku tidak menyangka kalau ada berita yang ada kaitannya dengan keluargaku–tepatnya keluarga Tante. Dan tadi pagi aku menelepon Bapak. Kupikir Bapak di rumah, tetapi rupanya sedang dalam perjalanan bersama Ibu untuk melayat Om Eddy ke Pare.

Sampai saat ini aku masih tak percaya pada berita itu. Aku kemarin-kemarin masih berpikir Lebaran nanti mungkin akan berkunjung ke rumah Om, dan mungkin akan bertemu dengan Tante Sussy dan suaminya, Om Eddy. Tetapi ternyata aku tidak akan bertemu Om Eddy lagi. Aku yang baru bertemu–katakanlah–dua kali dengan beliau saja merasa terkejut dan ikut kehilangan.

Kepergian Om Eddy mengingatkan aku betapa kita sama sekali tidak tahu kapan hidup kita mencapai titik akhir di dunia ini. Jadi, jika hari ini kita masih diberi waktu, kita kiranya bisa memanfaatkannya dengan bijak. Dan selama masih di dunia, bagaimanapun kita mesti siap untuk kehilangan. Meski hal ini sulit, dan lebih mudah diucapkan daripada dipraktikkan. Akhirnya, semoga Om Eddy dilapangkan jalannya, diberi tempat yang layak oleh Tuhan, dan semoga keluarga yang ditinggalkan tabah serta mendapat penghiburan.

Sadarkanlah kami akan singkatnya hidup ini supaya kami menjadi orang yang berbudi (Mzm 90:12 BIS).

Sumber berita dari sini.

Kopdar … Kopdar …

Relasiku dengan internet belakangan ini kurang begitu mulus. Beberapa kali tersendat. Bahkan ngadat. Macet. Yang terakhir adalah karena laptop di rumah yang khusus untuk internet mendadak ngambeg. Jadi, meskipun ada modem yang bisa dipakai, aku tetap tidak mau memakai PC untuk konek internet. Dulu aku sempat memakai PC untuk konek internet, dan entah kenapa rasanya PC-ku ini kurang cocok dengan internet. Suka ngambeg juga. Nah, kalau sudah ngambeg, aku yang repot. Semua data dan pekerjaan ada di situ. Kalau mesti diperbaiki selama beberapa saat, merepotkan banget. Jadi, ya sudah lah. Puasa pakai internet dulu untuk beberapa waktu.

Di masa puasa internetan itu, aku sempat berpikir, Mbak Imelda sudah sampai Jakarta apa belum ya? Apakah ada acara kopdar? Belum sempat aku ke warnet untuk tersambung dengan dunia maya, aku mendapat SMS dari Bu Enny yang mengabarkan bahwa Mbak Imelda akan mengadakan kopdar hari Jumat tgl 29 Juli 2011. Untung juga dulu sempat bertukar no hp dengan Bu Enny, jadi aku dapat info tentang dunia maya walaupun koneksi dengan internet sedang kurang bersahabat denganku.

Setelah mendapat SMS dari Bu Enny, aku mengontak Riris, menanyakan apakah dia datang di acara kopdar itu. Dia bilang dia akan datang, tapi hari Sabtu. Loh? Ada dua acara kopdar? Aduh, benar-benar jadi tulalit kalau tidak bisa konek internet nih. Tapi aku memutuskan untuk datang hari Jumat karena sudah janji dengan Bu Enny. Dari dulu janjian mau kopdar dengan Bu Enny tak pernah sukses. Kali ini mesti sukses dong. Cuma pengen tahu, rumah Bu Enny di Madiun di mana sih? Halah, nggak penting deh ya! Hehe. Aku juga belum pernah ketemu Riris, kalau dia datang Jumat itu, kan sekalian kopdarnya. Tapi rupanya dengan Riris masih belum berjodoh.

Oke, jadilah aku siap-siap berangkat hari Jumat pagi. Kira-kira pukul 10.15 aku berangkat dari rumah. Hmm… rasanya aku kurang pagi berangkatnya. Tapi sudahlah, nanti semoga lancar dapat kendaraan. Lagi pula ini sudah memasuki jam kerja, jadi kemacetan sudah berkurang. Aku memilih naik TransJakarta setelah jalan kaki plus nyambung naik mikrolet sebentar. Sebenarnya bisa saja aku naik bus patas 16 dari terminal Rawamangun, tetapi aku tidak tahu jam berangkatnya. Kalau busnya ngetem lama? Bisa terlambat kuadrat dong! Tak lama kemudian aku sudah dapat TransJakarta dan perjalanan cukup lancar sampai Dukuh Atas. Tapi waktu mau pindah halte, rupanya ada bus yang mogok sehingga antrian jadi panjaaaang sekali. Duh, bisa capek duluan sebelum sampai lokasi nih! Akhirnya aku memutuskan keluar halte dan naik taksi BB. Biar sekalian turun di depan pintu Pacific Place, tak perlu jalan kaki. Hehe. Mulai kumat males jalan kaki nih … siang yang menyengat memang bikin malas jalan kaki.

Sesudah masuk Pacific Place, aku celingak-celinguk. Wih, mall-nya gede amat yak? Norakku mulai keluar deh. Mana Urban Kitchen-nya? Daripada nyasar dan muter-muter nggak karuan, aku tanya kepada sang petugas. Ternyata Urban Kitchen ini ada di lantai 5. Sesampainya di lantai 5, aku celingak-celinguk lagi. Mana ya si dapur kota ini? Akhirnya aku menemukannya. Aku diberi kartu warna hijau oleh petugas dan masuk ke dalam. Wah, ternyata cukup besar juga tempatnya. Mana Mbak Imelda? Sepintas sempat kulihat orang yang sedang kumpul-kumpul, “Ah, itu dia.” Tapi waktu kudekati, “Loh, kok bukan?” Waduh… Piye iki? Tapi untunglah waktu aku celingak-celinguk lagi, kulihat Mbak Imelda melambaikan tangan ke arahku. Lega deh! Dan waktu itu sudah ada Bu Enny dan Mbak Indah Juli. Kali ini aku benar-benar lega karena aku pikir aku sudah sangat terlambat. Dan mereka pun belum sempat pesan makanan. Jadi, kami adalah kloter yang datang pertama.

Kloter pertama (foto oleh Mbak Imelda)

Meja yang kami tempati terletak di dekat kaca yang menghadap keluar. Jadi terang benderang. Di awal Mbak Imelda sudah bilang, “Aku pilih di smoking area ini karena terang. Kalau yang nonsmoking agak gelap.” Okelah kalau begitu. Untung aku sudah nggak sesak napas lagi dan orang-orang yang kopdar juga tak ada yang merokok. Thank, God! 🙂 Di awal memang bau rokok tidak terlalu mengganggu, tetapi begitu siang … hmmm … kalau dirasa-rasa yaaaa gitu deh. Hehe.

Pemandangan latar belakang dari balik jendela

Yang diobrolin apa sih waktu kopdar kemarin? Macam-macam. Kalau Bu Enny, seputar pekerjaan dan keluarga, juga tentang asisten rumah tangganya yang awet. Mbak Indah Juli juga begitu. Dan ternyata, Mbak Indah ini kakak ipar dengan teman sekantorku dulu waktu di Jogja. Ampuuun, dunia sempit betul! Jadi aku lumayan tahu kalau Mbak Indah cerita tentang keluarga yang dikunjungi di Jogja. Tak lama kemudian, bermunculan para blogger lain, yaitu Pak Iksa, Isnuansa, Putri Usagi. Ketiganya ini belum pernah aku jumpai dan blog mereka pun belum kunjungi . Hanya Isnuansa yang pernah aku kunjungi blognya (walaupun jarang hehehe).

Obrolan terus berlanjut. Kemudian muncul Clara, Reza (kalau tidak salah teman sekantor Clara, tapi tidak punya blog.) Kalau Clara dulu sudah pernah ketemu waktu tahun lalu Mbak Imelda mudik. Beberapa kali dia mampir ke blogku. Tapi belakangan aku agak jarang ke blognya Clara karena agak susah kalau mau komentar. (Pindah blog aja Clara, hihihi… kompoooor!!).

Tak lama kemudian datanglah Mbak Devi Yudhistira, Mas Necky, kemudian Mbak Monda. Dari ketiga blogger ini hanya Mbak Monda yang blognya cukup sering aku ikuti. Tapi acara ngobrol dengan yang lainnya pun tetap jalan dan masih nyambung. Tak lama kemudian, muncul Mas Nugroho. Wah, blognya Mas Nug ini juga tak pernah aku lihat. Cuma belakangan di FB sempat kulihat di wall Mbak Imelda ada info bahwa FB Mas Nug dihack orang. “Oh, ini to orangnya,” pikirku. Bu Enny sebelumnya sempat cerita bahwa istri Mas Nug banyak membantu waktu adik Bu Enny dioperasi di RS Harapan Kita.

Kai nangis beneran deh... Jangan lama-lama nangisnya ya Kai 🙂

Di sela-sela kami mengobrol Mbak Imelda mesti sibuk mengurus dua krucilnya. Sebenarnya pengen bisa ngobrol juga dengan Riku dan Kai, tetapi tak bisa bahasa Jepang sih. Pakai telepati saja bisa nggak ya? Haha. Kalau Riku sedikit-sedikit bisa ngomong pakai bahasa Indonesia, tetapi kalau Kai sepertinya masih belum bisa deh. (Tolong dikoreksi kalau aku salah, ya Mbak EM.) Riku pengen main di Kidzania, dan Kai sempat gerung-gerung di depan kaca jendela sampai kami kira dia nangis. Ternyata dia main sendiri haha.

Hmm, kenapa ya ngobrol dengan blogger cukup mudah nyambungnya? Karena sudah kenal dengan blognya? Akrab dengan tulisannya? Mungkin ya. Lagi pula yang ditulis di blog kan hal sehari-hari kita alami, tak jauh-jauh dengan keseharian kita. Atau yang kita tulis itu adalah hal-hal yang kita pikirkan. Biasanya kita membaca blog yang kita cocoki bukan, yang sesuai dengan minat kita, atau meskipun tidak nyambung dengan keseharian kita, masih bisa kita nikmati. Mungkin karena itulah kita bisa ngobrol dengan enak.

Ayo foto bareng! (foto oleh Mbak Imelda)

Agak sorean, datang Mbak Yoga. Aku lumayan suka dengan tulisan-tulisan di blog Mbak Yoga. Bu Enny yang sepertinya sudah cukup sering berkontak dengan Mbak Yoga. Mbak Imelda juga sebelumnya sudah pernah bertemu dengannya, jadi obrolan pun tetap nyambung.

Para blogger ini datang dan pergi. Akhirnya di sore hari, ketika beberapa blogger sudah pulang, ada kabar kalau Mbak Ira sang Itik Kecil akan datang. Wah, jauh-jauh dari Palembang lo! Penasaran juga seperti apa sih sang itik kecil ini. Tapi tidak kecil-kecil amat kok. Mbak Ira agak pendiam. Hehe, apa karena masih jetlag ya? 🙂

Mbak Ira tidak terlalu lama bergabung dengan kami. Akhirnya hanya tinggal aku, Bu Enny, Pak Iksa, Witcha, dan tentu saja Mbak Imelda sang host. Riku dan Kai sudah kembali setelah asyik bermain di Kidzania. Riku kemudian pengen sate. Wah, mana ada sate di Urban Kitchen? Tetapi akhirnya Riku setelah putar-putar ke gerai makanan ditemani Witcha, ia memilih piza. Dari sekian banyak blogger ini, hanya Witha yang bisa mengobrol dengan bahasa Jepang dengan Riku dan Kai.

Hari semakin gelap. Adik Mbak Imelda datang. Wah, iya, aku lupa memotretnya. Kemudian aku akhirnya pamit. Bu Enny pun pamit. Aku nebeng sampai jalan Sudirman dengan taksi yang dinaiki Bu Enny.

Aku melanjutkan perjalanan dengan kendaraan. Aku pulang dengan hati senang; bertemu teman-teman maya yang akhirnya jadi teman nyata. Teman-teman maya yang lama maupun yang baru. Hari itu akan selalu ingat. Terima kasih semuanya sudah menambah warna di hari itu 🙂