Belajar Iklas

Sudah dua hari ini aku bersin-bersin. Hidung meler. Tidak enak sekali. Kemarin ketika aku merasa kondisiku tidak membaik, kuputuskan mencari dokter. Tapi justru di Jogja aku tidak punya dokter langganan. Dulu waktu aku masih kerja di Jogja, dokter selalu dari kantor. Lalu terakhir aku ganti-ganti dokter kalau sakit. Dokter yang beberapa kali kutuju adalah seorang dokter perempuan, dokter forensik. Dokter itu biasa praktik “pelayanan” di sebuah pastori pendeta GKJ tak jauh dari rumah. Kemudian kemarin sore aku memutuskan ke rumahnya. Iseng-iseng berhadiah, pikirku. Siapa tahu dokter itu mau memeriksa aku walaupun bukan jam praktiknya.

Tapi sesampainya di sana, suami bu dokter mengatakan bu dokter tidak bisa memeriksa aku. Tidak disebutkan alasannya. Aku pun berpikir, setiap orang berhak atas waktu pribadinya. Termasuk bu dokter itu.

Aku lalu berpikir, dulu Ibu Maria ditolak berapa kali ya sampai akhirnya melahirkan di kandang Betlehem? Mungkin pemikiranku terlalu berlebihan… hehe. Tapi kemarin waktu aku tahu bu dokter tidak bersedia memeriksa, aku sempat bertanya pada hatiku sendiri: Apakah aku sakit hati? Jawaban hatiku: tidak.

Lalu aku teringat bahwa kadang aku terlalu berharap pada manusia. Ketika sedang butuh pertolongan, aku beberapa kali merasa yakin bahwa si A mau menolong, si B pasti tidak menolakku dsb. Tapi aku sering melupakan campur tangan Tuhan sendiri.

Tiba-tiba aku berpikir, kenapa aku tidak terlalu sakit hati ditolak dokter kemarin? Mungkin aku teruji oleh penolakan-penolakan kecil: sms yg tidak terjawab, telepon yg tidak diangkat, email yg tidak berbalas, permintaan tolong yg diabaikan, dll.

Kupikir pada akhirnya yang dibutuhkan adalah keikhlasan hati dalam berbagai keadaan: sakit, sehat, senang, sedih, atau biasa-biasa saja. Dan… tetaplah mengucap syukur atas segala hal.

Berapa Lama Kamu Sanggup Tidak Ngeblog?

Lama tidak membuka blog ini, rasanya seperti punya utang. Seperti punya kebun yang lama tidak diurus, lalu ketika mengunjunginya lagi seperti melihat rumput yang sudah meninggi karena lama tidak dibabat.

Hampir dua bulan aku tidak menyentuh blog ini. Cuma menengok sekilas kalau ada notifikasi komentar. Tapi untuk menulis? Hmmm… nanti dulu. Sebenarnya penyebab utamanya karena bulan November lalu, kira-kira tiga minggu lamanya, aku (meminjam istilah seorang teman) “me-Rawaseneng-kan diri”–menyepi ke Rawaseneng, di biara pertapaan Santa Maria, tempat para rahib OCSO. Tidak hanya aku sendiri sih, tapi dengan suamiku aku ke sana. Ya, kami ingin menyepi lagi, dan kali ini agak lama. Di sana aku agak kesulitan konek internet. Sebelumnya, selama ini aku memakai XL untuk konek internet. Tapi waktu di sana, sinyal XL jelek sekali. Untung sebelumnya aku sudah ganti provider, yaitu pakai Telkomsel. Tapi tetap saja lemot kalau untuk internetan. Kalau hanya untuk SMS dan telepon, sih tidak masalah. Jadi, begitulah, selama kami di sana, hubunganku dengan dunia maya tidak semulus biasanya.

Bagaimana rasanya tidak terlalu banyak terhubung dengan dunia maya? Awalnya aneh. Ada sesuatu yang hilang–walaupun tidak hilang total. Tapi karena biasanya kalau di Jakarta koneksi internetku cukup memuaskan, lalu selama di Rawaseneng koneksi jadi sangat pelan, awalnya terasa terganggu. Mau kirim email dengan attachment, tidak semulus biasanya. Padahal aku masih membawa sisa pekerjaan ke sana. Akhirnya, lama-lama aku bisa adaptasi. Ya sudah, akhirnya aku bisa berlapang dada menerima koneksi internet superlemot itu. Salah satu imbasnya, aku jadi mulai jarang membuka blogku ini.

Sekembalinya dari Rawaseneng, aku ke Jogja. Tapi keinginan untuk ngeblog rasanya mulai berkurang. Akhirnya, ya begini ini. Hehehe. Lama tidak posting apa-apa di blog. Padahal ada beberapa hal yang ingin kutulis. Tapi entahlah, apakah aku akan menuliskannya atau tidak. Lihat saja nanti, deh…