Refleksi Akhir Tahun

Aku tidak ingat kalau hari ini adalah hari terakhir tahun 2021. Kalau tadi tidak belanja ke warung Bu Nanik dan ditanya: “Nanti malam mau bakar-bakaran apa, Mbak?”, aku tidak akan ngeh kalau malam ini malam tahun baru. Kupikir tahun baruannya masih minggu depan. 😀

Lalu aku jadi ingat bahwa aku alpa menulis di blog ini dari bulan Oktober sampai November. Rasanya tidak ada yang istimewa. Jadi, tidak ada yang perlu ditulis–walau sebenarnya kalau niat, pasti ada saja yang bisa ditulis, kan?

Aku mencoba mengingat-ingat hal menarik apa yang kualami selama tahun 2021. Apa, ya? Sepertinya kami sekeluarga bisa melewati tahun ini tanpa sakit yang berarti adalah salah satu mukjizat. Meskipun aku sempat ketemu dan kontak erat dengan teman yang akhirnya tepar karena Covid-19, aku tidak mengalami sakit.

Aku tidak menghasilkan buku tahun ini dan sempat kecewa karena hal itu. Tapi yah, harus diakui aku kurang berusaha. Semoga tahun depan bisa keluar buku. Amin! (Aduh, kenapa aku grogi sendiri ketika mengaminkan permohonan ini? Bisa nggak sih?)

Selama setahun ini aku cukup rutin latihan yoga. Yeay! Sepertinya itu satu-satunya pencapaianku–kalau rutin latihan dianggap suatu prestasi. Sepele sekali, ya? Dan bukankah olahraga adalah kebutuhan tubuh yang sudah selayaknya dipenuhi? Aku merasa butuh yoga. Kalau tidak berlatih dalam beberapa hari, ada yang “menowel-nowel” hatiku supaya menggelar matras, mengambil balok dan tali yoga. Minimal melakukan peregangan lah. Kalau tidak begitu, kakiku berteriak-teriak dan rasanya jadi tidak nyaman sama sekali. Aku merasa sedikit lebih lentur sekarang. Kaki kananku yang semula nyeri karena sindrom piriformis menjadi lebih enakan. Paling tidak, tidak semakin parah.

Oiya, akhir tahun ini aku senang bisa bertemu dengan teman-teman lama: teman-teman asrama dan teman kuliah dulu yang pernah ikut retret bareng di Salam. Rasanya seperti balik umur 20-an lagi 😀 😀

Lalu apa harapanku tahun depan?

Aku berharap tetap sehat, rejeki lancar, dan bisa bertemu orang(-orang) yang kukasihi dalam keadaan baik. Semoga pandemi segera berakhir ya. Aku kangen jalan-jalan.

Apakah Ada Rindu?

Tadi pagi FB mengingatkanku dengan menampilkan foto 2 tahun lalu, yaitu foto pelataran gereja yang basah. Pasti foto itu kuambil sepulang misa harian pada 3 Januari 2 tahun silam.

Hari ini tanggal 3 Januari jatuh pada hari Minggu dan aku belum bisa misa di gereja. Jadwal misaku adalah minggu depan. Aku mulai menimbang-nimbang apakah aku akan berangkat misa luring atau tetap di rumah saja.

Pandemi tidak berakhir hanya dengan mengganti kalender. Misa tidak bisa berlangsung dengan kehadiran umat sebanyak dulu. Kini semua siapa yang akan misa dijadwal dan diberi barcode.

Aku diam-diam menelisik hati, apakah aku memiliki kerinduan untuk ke gereja dan ikut misa? Apa yang kurindui sebenarnya?

Bagaimanapun aku rindu masuk gereja pagi-pagi sekali. Saat udara terasa menggigit kulit dan aku harus merapatkan syal serta jaket. Lalu tenggelam dalam keheningan yang memeluk dengan kuatnya.

Rindu itu bisa hadir dalam bentuk apa pun. Mungkin sah-sah saja jika yang dirindui dari pergi ke gereja adalah membeli jajanan di pelataran gereja.

Sekilas tentang 2020

Rasanya belakangan ini isi kepalaku cukup penuh dan waktu begitu sempit sehingga aku sulit menulis blog, bahkan aku kehilangan selera memasang foto di IG. Malam menjelang tahun baru ini pun waktu semakin terasa sempit, mengingat tenggat semakin dekat tetapi ada saja hal-hal masih membingungkan bagiku terkait soal pekerjaan yang ada di depan mata ini.

Karena aku tak ingin kehilangan kesempatan menulis pada akhir tahun 2020 ini, aku berusaha menulis sesempatku, sebisaku. Kalau aku mengingat-ingat tenggat, tak akan ada waktu untuk menulis walau hanya sebaris.

Aku masih ingat pada awal pandemi, sekitar bulan Maret, aku masih merayakan ulang tahun seorang teman di Rocky, dilanjutkan menikmati gelato. Aku masih menyangsikan apakah pandemi di Wuhan sana bakal sampai Jogja. Eh, ternyata minggu berikutnya mulai ada lockdown.

Aku ingat, waktu itu aku masih bisa jalan pagi di sebuah ledok, tak jauh dari rumah. Pemandangan di ledok itu cukup bagus, pohon-pohon masih banyak. Jadi, sejuk banget! Tapi tak lama kemudian, ledok itu ditutup karena kampung tempat ledok itu berada menerapkan lockdown. Setelah itu aku beralih jalan pagi di sekitar rumah saja. Murah, meriah, yang penting sehat.

Sebelum pandemi, aku sebenarnya ikut yoga bersama ibu-ibu lingkungan. Berhubung ada lockdown di kampung-kampung, yoga tiap Sabtu pun dihentikan. Aku, yang merasa perlu mengolahragakan kaki, sebenarnya merasa kehilangan sejak yoga bersama itu dihentikan. Tapi kemudian kupikir aku mau ambil privat yoga saja. Acara privat yoga itu berjalan 2 kali, dan akhirnya diteruskan dengan yoga bersama di rumah Mbak Ira. Aku sih senang bisa yoga bareng begitu. Pertama, rumahku dengan Mbak Ira dekat. Kedua, yoga bersama (berempat atau berlima, bahkan kadang hanya bertiga) itu menumbuhkan semangat. Awalnya seminggu sekali, tetapi karena Mas Yanuar merasa perlu latihan lebih sering, kami yoga dua kali seminggu. Jatuhnya lebih mahal sih biayanya, tapi untungnya ada saja rejeki yang kudapat, sehingga yoga dua kali seminggu bisa kuikuti. Aku merasa yoga menjadi suatu kebutuhan buatku, terutama bermanfaat buat kaki kananku yang sering nyeri.

Jadi, apa cerita tahun 2020 ini bagiku? Tahun ini aku sempat merasa galau bin nano-nano pas tahu bahwa pandemi ini akhirnya sampai juga ke Jogja. Tapi tahun ini aku merasa senang bisa terlibat dalam proyek pembuatan modul pembelajaran. Aku yang sempat ragu bakal bisa beryoga lagi, ternyata malah bisa ikut yoga lebih rutin, dekat rumah lagi. Thanks to Mbak Ira!

Pertengahan tahun ini, ng … tidak tengah banget sih, sekitar Agustus, aku mendapat kejutan pertemuan yang mengesankan. Hmm … I will keep the story for myself. Sedikit kutulis di sini supaya tak terlupa. Thanks to you for beautiful and warm “reunion”.

Oiya, awal Desember kemarin aku sempat mencoba menyetir Salatiga-Jogja. Sempat takut-takut. Tapi ternyata tidak semenakutkan yang kukira. Yeah! Semoga bisa lanjut ke kota-kota lain.

Tahun 2020 tidak buruk buatku. Justru aku menemukan keberuntungan-keberuntungan kecil yang menghangatkan. 🙂 Semoga tahun depan lebih baik.

Satu Mei

Ning kepada Tok

Aku sudah lupa apakah hari benar-benar berganti. Apakah minggu berganti bulan sejak adanya pandemi ini. Apakah kita hanya menghitung jam yang hanya jalan di tempat?

Kadang aku tak ingat, apakah sebagai manusia, kita ini menguasai waktu atau waktu yang mengikat kita?

Dan sejak pandemi, kadang waktu memupus harapan.

Tetapi lagu First of May kirimanmu tadi siang membuatku memiliki harapan lagi. Minggu benar-benar telah berganti menjadi bulan.

Terima kasih ya atas lagu First of May-nya The Bee Gees, ya Mas Tok.

 

Tok kepada Ning

Minggu-minggu pandemi sering kali membuatku merasa sepi. Banyak kegiatan yang harus kuhabiskan di dalam ruangan sendiri. Memang sesekali aku meeting lewat internet, bertemu banyak wajah. Tetapi seperti kubilang padamu, Ning, rasanya sepo. Hambar.

Harus kuakui sapaanmu yang nyaris setiap hari, seperti membuka harapan. Ada hatimu yang mencinta, yang memberi rasa pada kehampaan.

Ning yang manis, terima kasih atas pelukan doamu.

Ngalor Ngidul Tahun Baru

Tahun baru sudah berjalan 15 hari. Aku ingat, mestinya aku mengawali menulis di blog ini tanggal 3 kemarin. Tapi ada saja yang mesti kukerjakan. Salah satunya adalah ngebut menyelesaikan sulaman. Sulaman itu mesti selesai tanggal 10 Januari karena tanggal 11 akan diikutkan pameran bersama teman-teman Seven Needles.

Kesibukan lainnya? Bikin sabun! Euy… ternyata banyak PR yang harus kubuat berkaitan dengan sabun ini. Persediaan sabun di rak tinggal sedikit. Jadi, aku mesti mulai membuat lagi. Aku bikinnya tidak banyak karena keterbatasan tenaga dan tempat untuk curing. Semua kukerjakan sendiri. Mulai dari belanja sampai membungkus sabun, hingga mengirim ke pemesan. Biasanya aku bikin sabun kalau ada pesanan atau kalau sabun-sabun yang banyak peminatnya mulai habis. Sekarang rak sudah mulai terisi lagi walau belum begitu banyak. Tapi lumayan lah ada isinya. Kalau ada yang mau beli setidaknya aku punya jawaban sabun apa saja yang ada. :))

Tahun baru kali ini aku berpikir soal menua. Aku benar-benar menyadari bahwa orang-orang di sekitarku sudah tidak muda lagi: Bapak, Ibu, kakakku, dan beberapa kerabatku. Kadang aku sedih teringat hal ini. Ketika Natal kemarin aku menyempatkan diri untuk pulang. Kupikir aku mesti sering pulang, walau sebetulnya aku agak asing dengan kota kelahiranku. Mungkin karena tidak banyak lagi teman di sana. Aku juga tidak banyak kegiatan kalau pulang. Paling-paling ikut membantu menjaga warung ibuku. Aku merasa Yogya adalah tempatku sekarang karena di sini aku bisa melakukan banyak aktivitas yang memang kusukai. Masih cukup banyak teman di sini juga. Teman ngobrol, teman beraktivitas.

Tahun baru kemarin aku di rumah saja. Tidur! Aku sudah tidak tertarik lagi begadang menanti pergantian tahun. Buatku tahun baru memang hanya masalah ganti kalender. Aku ikut misa awal tahun pas tanggal 1. Tanggal 3 aku sempat misa pagi (lagi). Sebetulnya masih pengin misa harian pagi lagi. Tapi beberapa hari ini begini polanya: Jam 4.30 bangun. Bukannya aku siap-siap misa, tapi malah bergelung di balik selimut lagi. Haha. Keinginan daging memang lebih kuat ya. Parah betul.

Walau aku menganggap tahun baru adalah soal mengganti kalender, aku pikir ini adalah saat yang tepat untuk melakukan perbaikan-perbaikan. Misalnya, diusahakan lebih rutin olahraga. Paling tidak, seminggu sekali aku mulai yoga (lagi). Selain itu, penginnya mulai jalan pagi lagi. Resolusinya begini: Tahun 2019 ganti ukuran baju! 😀 Terlalu muluk-muluk? Yang penting tetap sehat.

Soal pekerjaan aku penginnya juga lebih fokus. Fokus ini PR bangeeet. Aku suka ke sana-sini soalnya. Pengin ini, pengin itu. Mesti kuakui, karena pengin ini itu, aku bisa ke sana-ke sini. Tapi kurasa aku mesti harus fokus sekarang. Ya, begitu.

Begini dulu ceritaku soal tahun baru.

Kamu Masih Ngeblog?

Blog ini termasuk dari beberapa hal yang kusayangi dan menjadi bagian dari identitasku. Jika sayang, mestinya aku meluangkan waktu untuk merawat blog ini, ya. Tapi sungguh, aku punya banyak alasan untuk membiarkannya berdebu. Karena setrikaanku menggunung, karena memasak lebih penting, karena masih harus mengedit dan mengerjakan printilan yang seperti menghantuiku, dan seterusnya… dan seterusnya.

Sejak tinggal di Jogja, kendalaku adalah soal koneksi internet. Plus sejak pindahan, entah kenapa colokan USB di PC-ku ngadat. Sering tidak nyambung. Dan aku tak terbiasa ngeblog memakai android untuk ngeblog. Tapi mestinya kalau sayang, gunung pun akan didaki dan laut akan diselami. Iya kan?

Yah, begitu banyak alasan. Mau tak mau harus diakui, alasan yang bertumpuk-tumpuk itu adalah tanda aku tak betul-betul sayang. Semacam kalau kita bilang cinta, tapi kita suibuuuk teruuus dan tidak memberi waktu kepada orang yang (katanya) kita cintai.

Tapi aku kangen mengisi blog ini. Ada banyak cerita sebetulnya. Ada hal-hal yang perlu kucatat dan kusyukuri: bertemu teman-teman baru yang menyenangkan, soal aku mulai kecanduan craft, soal rajutan dan syal, soal bakmi Jawa di Babadan yang maknyus, dan buanyak lagiii. Tapi pada intinya: aku bahagia.

Semoga aku bisa mencuil waktu dan mengurangi alasan yang menghalangiku untuk ngeblog.

Tradisi 3 Januari

Tradisi 3 Januari ini memang kubikin sendiri. Niatnya semata-mata agar aku punya tanggal khusus, saat aku mendorong diriku sendiri menulis di sini.

Baiklah… ini tulisanku yang pertama. Tulisan yang tidak kurancang. Asal ketik saja.

Pergantian tahun kemarin kulewatkan dengan tidur. 😀 Aku sudah tidak berminat begadang dan menanti pergantian tahun. Dulu pas masih SMP atau SMA, aku menunggu pergantian tahun dengan berkumpul bersama teman-teman. Beli terompet, membakar jagung, dll. Sekarang? Sepertinya semua itu paling enak dinikmati dalam mimpi. 😀 Apakah ini pertanda aku tidak muda lagi?

Hal yang berbeda dari tahun ini adalah, aku tidak punya kalender baru. Tahun-tahun kemarin aku masih menyempatkan diri membeli kalender baru. Sekarang? Aku lupa mau beli.Tidak punya kalender baru itu rasanya agak aneh. Aku kadang agak bingung untuk mengetahui hari apa saat ini. Meski aku bisa melihat hari dan tanggal di ponsel, tetap saja tidak punya kalender di rumah itu tidak enak. Seperti ada yang kurang.Mungkin besok aku perlu mengagendakan untuk beli kalender.

Kamu sendiri, sudah punya kalender?

Belajar Iklas

Sudah dua hari ini aku bersin-bersin. Hidung meler. Tidak enak sekali. Kemarin ketika aku merasa kondisiku tidak membaik, kuputuskan mencari dokter. Tapi justru di Jogja aku tidak punya dokter langganan. Dulu waktu aku masih kerja di Jogja, dokter selalu dari kantor. Lalu terakhir aku ganti-ganti dokter kalau sakit. Dokter yang beberapa kali kutuju adalah seorang dokter perempuan, dokter forensik. Dokter itu biasa praktik “pelayanan” di sebuah pastori pendeta GKJ tak jauh dari rumah. Kemudian kemarin sore aku memutuskan ke rumahnya. Iseng-iseng berhadiah, pikirku. Siapa tahu dokter itu mau memeriksa aku walaupun bukan jam praktiknya.

Tapi sesampainya di sana, suami bu dokter mengatakan bu dokter tidak bisa memeriksa aku. Tidak disebutkan alasannya. Aku pun berpikir, setiap orang berhak atas waktu pribadinya. Termasuk bu dokter itu.

Aku lalu berpikir, dulu Ibu Maria ditolak berapa kali ya sampai akhirnya melahirkan di kandang Betlehem? Mungkin pemikiranku terlalu berlebihan… hehe. Tapi kemarin waktu aku tahu bu dokter tidak bersedia memeriksa, aku sempat bertanya pada hatiku sendiri: Apakah aku sakit hati? Jawaban hatiku: tidak.

Lalu aku teringat bahwa kadang aku terlalu berharap pada manusia. Ketika sedang butuh pertolongan, aku beberapa kali merasa yakin bahwa si A mau menolong, si B pasti tidak menolakku dsb. Tapi aku sering melupakan campur tangan Tuhan sendiri.

Tiba-tiba aku berpikir, kenapa aku tidak terlalu sakit hati ditolak dokter kemarin? Mungkin aku teruji oleh penolakan-penolakan kecil: sms yg tidak terjawab, telepon yg tidak diangkat, email yg tidak berbalas, permintaan tolong yg diabaikan, dll.

Kupikir pada akhirnya yang dibutuhkan adalah keikhlasan hati dalam berbagai keadaan: sakit, sehat, senang, sedih, atau biasa-biasa saja. Dan… tetaplah mengucap syukur atas segala hal.

Semangat Pagi

Entah apa yang membuatku tadi pagi ingin bersepeda keliling kampung. Tapi memang harus kuakui, kalau melihat sepeda, aku rasanya pengin menjajalnya. Kebetulan di rumah ada satu sepeda lipat. Keinginan untuk bersepeda sering muncul, tapi selalu kalah dengan kemalasan. Kemalasanku memang jempolan… parahnya!

Oke, jadi ceritanya tadi pagi aku bangun sekitar pukul 5.30. Aku tak mengira tubuhku sudah mengajak mataku melek sepagi itu. Semalam aku tidur agak larut padahal. Begitu melihat jam, aku mendadak ingin tidur lagi. Tapi mataku malas merem lagi. Jadi, aku hanya membaca novel yang ada di samping bantal. Aku baca-baca lagi Burung-burung Manyar pada bagian-bagian favoritku–ketika Teto dan Atik bertemu lagi. Gemes deh mengikuti relasi mereka! Penasaran? Silakan membacanya sendiri. Di sela-sela membaca, aku melirik ke jendela yang masih tertutup korden. Kulihat sinar matahari pagi mulai muncul. Lalu tiba-tiba pikiranku teringat sepeda yang ada di garasi. Mendadak aku merasa tubuhku membutuhkan matahari pagi.

Dan… melajulah aku menaiki kereta angin itu. Awalnya aku agak kurang nyaman karena sadelnya kurang tinggi. Tapi sudahlah, aku malas untuk berhenti sejenak menaikkan sadel. Aku mencoba menikmati keadaan sekeliling. Rumput-rumput pinggir jalan sebagian masih berselimut embun. Sesekali ada satu dua bunga rumput warna kuning menyembul. Kelopaknya yang kecil bergoyang tertiup angin lembut, mengingatkanku pada anak-anak yang bersemangat hendak berangkat sekolah. Sederhana, cantik, dan bersemangat. Aku lalu berbelok ke jalan kampung yang lebih sepi. Aku tahu di jalan itu ada belokan yang menuju sawah. Aku tak sabar menghirup udara segar sawah. Menurutku sawah di pagi hari memiliki aroma yang berbeda. Aku kadang menyebutnya aroma hijau. Tapi aneh ya? Aroma kok hijau. Kalau dibilang segar, bukan sekadar segar. Aromanya khas. Aroma hijau itu aroma kesegaran yang bisa mengirimkan sinyal kegembiraan ke otak. Memang agak sulit menjelaskannya. Pokoknya begitulah. Oya, jalan kecil itu menyimpan satu bagian istimewa, yaitu jembatan tua dengan betonan rendah yang sudah berlumut. Di mataku jembatan itu eksotik … seperti bapak-bapak sederhana ramah yang menyimpan banyak kisah. Sungai di bawahnya mengalir tenang. Dangkal memang, tapi airnya jernih dan tampak satu dua batu besar. Aku membayangkan, dinginnya air sungai itu pasti bisa mendinginkan kaki sampai lutut. Tapi aku sudah cukup puas menyaksikan aliran sungai dari atas.

Aku melanjutkan mengayuh sepeda. Di sebelah kiri kulihat sepetak kebun cabai. Buah cabai itu masih hijau kekuningan, beberapa bergerombol menyembul di antara daun-daun kecilnya yang hijau. Di sebelah kanan, berjajar tanaman kacang panjang dengan daunnya yang hijau tua. Tampak satu-dua kacang panjang yang menjulur. Aku teringat, Bapak pernah berkata bahwa kacang panjang paling enak jika dimakan sesaat setelah dipetik. Aku belum pernah mencoba. Tapi mungkin memang benar.

Jalanan agak menurun setelah pertigaan kecil. Di kejauhan kulihat beberapa batang pepaya. Ada satu pohon yang buahnya bergerombol. Pohon yang tampak ringkih itu seperti seorang ibu muda yang digelendoti anak-anaknya. Mungkin itu tanaman pepaya California. Sayang semua buahnya masih hijau. Mungkin aku perlu menyempatkan waktu melewati jalan ini untuk melihat ketika pepaya yang genteyongan itu berubah kekuningan mengilat. Pasti lebih cantik.

Ketika hendak meneruskan perjalanan, kulihat di ujung jalan terpasang sebuah tenda. Lamat-lamat kudengar suara orang mendaraskan doa. Ada yang meninggal kurasa. Sejenak aku tersentak, di antara kehangatan kehidupan yang kurasakan pagi ini, aku diingatkan bahwa hidup yang penuh warna ini suatu saat akan berakhir. Hmmm… mungkin tidak sepenuhnya berakhir, tapi beralih wujud? Seperti musim semi yang kemudian menyerahkan dirinya pada musim gugur. Atau seperti debu musim kemarau yang sangat mendambakan hujan, dan ketika titik-titik air itu turun, debu itu lenyap menyerah pada air.

Aku berbalik arah, kembali ke jalan yang tadi kulewati. Menyusuri sawah berbau hijau, jembatan tua, lalu mengarah ke jalan besar. Tak lama aku sampai di jalan menurun. Sepedaku meluncur tanpa perlu kukayuh. Wuuusss … aku seperti berselancar menembus angin. Udara segar dan kehangatan matahari menyapu kulit. Melayangkan ingatanku pada kenangan-kenangan masa lalu yang membahagiakan, pada tawa dan obrolan dengan sahabat-sahabat hati, pada kisah cinta melankolis Teto dan Atik dalam novel Burung-burung Manyar yang kubaca sesaat sebelum aku bersepeda pagi ini, pada Sang Mahacinta yang seolah tak pernah bosan jatuh cinta kepadaku. Pengalaman bersepeda pagi ini membuatku bersyukur… Sungguh, pagi selalu menyembulkan harapan, menyelipkan semangat, membawakan Cinta. Aku memang tidak membawa kamera untuk merekam pemandangan pagi tadi, tapi aku akan merekamnya dalam ingatan.

Bibi

Ada beberapa hal yang untuk mengawalinya rasanya maleees banget, tapi kalau sudah dilakukan, sebetulnya sangat menguntungkan dan membuat nyaman. Dua di antaranya adalah mandi dan nyapu/ngepel rumah. Kalau mandi, sebetulnya aku lebih rajin dibanding suamiku. 😀 Dan paling senang kalau bisa mandi air hangat. Cuma, aku sering nggak sabar kalau harus masak air dulu. Untuk nyapu/ngepel, itu ada kaitannya dengan bertempur melawan diri sendiri. Haiyah, bahasaku… 🙂 Tahu kan maksudku? Setelah rumah dibersihkan, disapu dan dipel, rasanya kan nyaman. Nah tapi untuk mulai beres-beres, mengambil sapu di belakang, dan seterus … dan seterusnya sampai lantai rumah terasa bersih, itu butuh kemauan. Dulu aku pernah berniat menyapu dan mengepel rumah sehari dua kali. Tapi acara itu hanya berlangsung paling pol satu minggu. Niatnya adalah sekalian olahraga. Tapi kemalasanku memang tidak ada duanya! Hehehe. Setelah itu, standarnya diturunkan jadi sehari sekali. Kalau penyakit malas mulai menggerogoti sedikit, maka acara nyapu dan ngepel menjadi dua hari sekali. Nah, kalau sudah lebih dari itu, berarti memang akunya lagi error. Hihi. Padahal menyapu dan mengepel rumah yang kutinggali saat ini (di Jakarta), tidak terlalu makan waktu dan tenaga. Wong rumah seuplik gitu. Tinggal set… set… set… bersih deh.

Waktu masih tinggal di Jogja, seorang kakak sepupuku memberiku saran, “Cari pembantu saja. Jadi kamu pulang kerja, rumah sudah bersih. Kaya aku nih… aku sengaja cari pembantu pocokan (tidak menginap atau pulang hari-red), tugasnya cuma nyapu, ngepel, nyuci baju, setrika. Pulang kerja sudah nggak sibuk lagi ngurus rumah.”

Aku menggeleng mendengar saran itu. Kupikir aku masih bisa mengerjakannya sendiri. Lagi pula aku merasa rumah yang kutinggali di Jogja itu tidak terlalu besar (jika dibandingkan rumah keluargaku di Madiun). Untuk menyapu dan mengepel, perlu waktu kira-kira satu jam. Kurang lebih ya. Kalau mau cepat, ya 45 menit. Waktu itu aku tinggal dengan kakakku dan kalau dia tidak terlalu sibuk (nggak sesibuk sekarang), dia mau kumintai tolong untuk menyapu.

Nah, masalah timbul ketika aku pindah ke Jakarta dan hanya kakakku yang menempati rumah Jogja. Sepertinya kebanyakan laki-laki memang tidak terlalu peduli apakah rumah sudah dipel atau belum, ya? Dan dia sudah mulai sangat sibuk. Rumah menjadi jarang kena sentuh sapu dan pel. Kan tidak mungkin mendatangkan aku hanya untuk menyapu dan mengepel rumah? Hehe. *Aku serasa pembantu pocokan saja deh…*

Akhirnya, masalah bersih-bersih rumah itu ditanggulangi dengan mempekerjakan asisten rumah tangga kakak sepupuku. Nama asisten itu Mbak Pur. Awalnya aku tidak terlalu berharap banyak pada asisten. (Iya, aku sudah tinggal di Jakarta sih, tapi kan cukup sering ke Jogja juga.) Dan sebenarnya aku punya semacam kekhawatiran kalau-kalau aku tidak cukup cocok dengan asisten. Sering kan kita dengar perselisihan antara asisten rumah tangga dan pemilik rumah? Kadang masalahnya tidak penting-penting amat, tapi kalau kesalahan kecil yang sama berulang terus, kan nyebelin juga. Iya kan? Nah, aku paling malas tuh berurusan dengan hal-hal seperti itu. Kalau ujung-ujungnya berantem, lebih baik tidak usah. Tapi untuuuung banget, Mbak Pur itu tidak seperti yang kukhawatirkan. Aku sama sekali tidak pernah ada masalah dengan dia. Dan aku puas dengan pekerjaannya. Rapi dan bersih. Plus orangnya tidak neko-neko. Semoga hubungan kerja sama kami awet. Eh tepatnya, yang mempekerjakan Mbak Pur itu kakakku, aku hanya ikut menikmati hasil kerjanya. 🙂

Soal asisten rumah tangga ini aku punya cerita lain. Aku punya teman yang rumahnya tak terlalu jauh dari tempat tinggalku di sini. Kawanku ini punya asisten rumah tangga juga, yang biasa dipanggil Bibi. Entah siapa namanya, tapi kalau menyebut Bibi, ya cuma itu orangnya. Entah bagaimana, aku merasakan suatu kedekatan tersendiri dengan Bibi. Padahal aku jarang sih ke rumah temanku itu. Mungkin karena aku merasa Bibi selalu ramah menyambut aku dan suamiku. Ramahnya tidak dibuat-buat.

Perempuan yang sudah cukup senja usia itu biasanya punya cerita untuk kami. Cerita ketika dia dulu jadi transmigran, ketika dia ngidam pete dan dapat pete buanyak banget, ketika dia minum jamu yang membuat badannya jadi lebih gemuk, dan sebagainya, dan sebagainya. Karena pasar tempat kami belanja, aku pernah satu-dua kali bertemu dia di pasar. “Non, non … kok lama nggak main ke rumah? Ayo mampir,” begitu biasanya dia bilang sambil tersenyum lebar. Aku biasanya hanya cengengesan kalau ditanya begitu. “Iya, Bi. Nanti deh kapan-kapan.” Aku pikir, nanti deh kapan-kapan kan masih bisa ketemu Bibi. Lagi pula habis dari pasar dan menenteng belanjaan trus mampir-mampir kan ribet. Terakhir aku bertemu Bibi ketika dia ada di halaman rumah kawanku dan aku kebetulan lewat. Dia menawariku mampir. “Ayo, aku bikinin teh dulu.” Tapi aku menolak karena waktu itu aku hendak ke rumah adik iparku. “Lain kali deh, Bi.” Setiap kali melewati rumah temanku, aku sering berharap menjumpai Bibi di depan. Bertemu Bibi selalu menyegarkan hati.

Sore tadi, aku mendapat telepon dari kawanku yang mengabarkan bahwa Bibi meninggal hari Minggu kemarin. Aku seperti tak percaya sampai beberapa kali mengulangi pertanyaan apakah Bibi itu yang dimaksud. Lagi pula suara di telepon yang putus-putus memperburuk penyampaian berita itu. Tapi memang benar Bibi sudah meninggal. Hari yang mendung dan dingin ini membuat hatiku semakin kelabu. Ah, Bibi …ternyata aku tidak akan pernah sempat lagi menikmati teh bikinan Bibi. Semoga tenang istirahatmu, Bibi.