Kamu Masih Ngeblog?

Blog ini termasuk dari beberapa hal yang kusayangi dan menjadi bagian dari identitasku. Jika sayang, mestinya aku meluangkan waktu untuk merawat blog ini, ya. Tapi sungguh, aku punya banyak alasan untuk membiarkannya berdebu. Karena setrikaanku menggunung, karena memasak lebih penting, karena masih harus mengedit dan mengerjakan printilan yang seperti menghantuiku, dan seterusnya… dan seterusnya.

Sejak tinggal di Jogja, kendalaku adalah soal koneksi internet. Plus sejak pindahan, entah kenapa colokan USB di PC-ku ngadat. Sering tidak nyambung. Dan aku tak terbiasa ngeblog memakai android untuk ngeblog. Tapi mestinya kalau sayang, gunung pun akan didaki dan laut akan diselami. Iya kan?

Yah, begitu banyak alasan. Mau tak mau harus diakui, alasan yang bertumpuk-tumpuk itu adalah tanda aku tak betul-betul sayang. Semacam kalau kita bilang cinta, tapi kita suibuuuk teruuus dan tidak memberi waktu kepada orang yang (katanya) kita cintai.

Tapi aku kangen mengisi blog ini. Ada banyak cerita sebetulnya. Ada hal-hal yang perlu kucatat dan kusyukuri: bertemu teman-teman baru yang menyenangkan, soal aku mulai kecanduan craft, soal rajutan dan syal, soal bakmi Jawa di Babadan yang maknyus, dan buanyak lagiii. Tapi pada intinya: aku bahagia.

Semoga aku bisa mencuil waktu dan mengurangi alasan yang menghalangiku untuk ngeblog.

Tradisi 3 Januari

Tradisi 3 Januari ini memang kubikin sendiri. Niatnya semata-mata agar aku punya tanggal khusus, saat aku mendorong diriku sendiri menulis di sini.

Baiklah… ini tulisanku yang pertama. Tulisan yang tidak kurancang. Asal ketik saja.

Pergantian tahun kemarin kulewatkan dengan tidur. 😀 Aku sudah tidak berminat begadang dan menanti pergantian tahun. Dulu pas masih SMP atau SMA, aku menunggu pergantian tahun dengan berkumpul bersama teman-teman. Beli terompet, membakar jagung, dll. Sekarang? Sepertinya semua itu paling enak dinikmati dalam mimpi. 😀 Apakah ini pertanda aku tidak muda lagi?

Hal yang berbeda dari tahun ini adalah, aku tidak punya kalender baru. Tahun-tahun kemarin aku masih menyempatkan diri membeli kalender baru. Sekarang? Aku lupa mau beli.Tidak punya kalender baru itu rasanya agak aneh. Aku kadang agak bingung untuk mengetahui hari apa saat ini. Meski aku bisa melihat hari dan tanggal di ponsel, tetap saja tidak punya kalender di rumah itu tidak enak. Seperti ada yang kurang.Mungkin besok aku perlu mengagendakan untuk beli kalender.

Kamu sendiri, sudah punya kalender?

Belajar Iklas

Sudah dua hari ini aku bersin-bersin. Hidung meler. Tidak enak sekali. Kemarin ketika aku merasa kondisiku tidak membaik, kuputuskan mencari dokter. Tapi justru di Jogja aku tidak punya dokter langganan. Dulu waktu aku masih kerja di Jogja, dokter selalu dari kantor. Lalu terakhir aku ganti-ganti dokter kalau sakit. Dokter yang beberapa kali kutuju adalah seorang dokter perempuan, dokter forensik. Dokter itu biasa praktik “pelayanan” di sebuah pastori pendeta GKJ tak jauh dari rumah. Kemudian kemarin sore aku memutuskan ke rumahnya. Iseng-iseng berhadiah, pikirku. Siapa tahu dokter itu mau memeriksa aku walaupun bukan jam praktiknya.

Tapi sesampainya di sana, suami bu dokter mengatakan bu dokter tidak bisa memeriksa aku. Tidak disebutkan alasannya. Aku pun berpikir, setiap orang berhak atas waktu pribadinya. Termasuk bu dokter itu.

Aku lalu berpikir, dulu Ibu Maria ditolak berapa kali ya sampai akhirnya melahirkan di kandang Betlehem? Mungkin pemikiranku terlalu berlebihan… hehe. Tapi kemarin waktu aku tahu bu dokter tidak bersedia memeriksa, aku sempat bertanya pada hatiku sendiri: Apakah aku sakit hati? Jawaban hatiku: tidak.

Lalu aku teringat bahwa kadang aku terlalu berharap pada manusia. Ketika sedang butuh pertolongan, aku beberapa kali merasa yakin bahwa si A mau menolong, si B pasti tidak menolakku dsb. Tapi aku sering melupakan campur tangan Tuhan sendiri.

Tiba-tiba aku berpikir, kenapa aku tidak terlalu sakit hati ditolak dokter kemarin? Mungkin aku teruji oleh penolakan-penolakan kecil: sms yg tidak terjawab, telepon yg tidak diangkat, email yg tidak berbalas, permintaan tolong yg diabaikan, dll.

Kupikir pada akhirnya yang dibutuhkan adalah keikhlasan hati dalam berbagai keadaan: sakit, sehat, senang, sedih, atau biasa-biasa saja. Dan… tetaplah mengucap syukur atas segala hal.

Semangat Pagi

Entah apa yang membuatku tadi pagi ingin bersepeda keliling kampung. Tapi memang harus kuakui, kalau melihat sepeda, aku rasanya pengin menjajalnya. Kebetulan di rumah ada satu sepeda lipat. Keinginan untuk bersepeda sering muncul, tapi selalu kalah dengan kemalasan. Kemalasanku memang jempolan… parahnya!

Oke, jadi ceritanya tadi pagi aku bangun sekitar pukul 5.30. Aku tak mengira tubuhku sudah mengajak mataku melek sepagi itu. Semalam aku tidur agak larut padahal. Begitu melihat jam, aku mendadak ingin tidur lagi. Tapi mataku malas merem lagi. Jadi, aku hanya membaca novel yang ada di samping bantal. Aku baca-baca lagi Burung-burung Manyar pada bagian-bagian favoritku–ketika Teto dan Atik bertemu lagi. Gemes deh mengikuti relasi mereka! Penasaran? Silakan membacanya sendiri. Di sela-sela membaca, aku melirik ke jendela yang masih tertutup korden. Kulihat sinar matahari pagi mulai muncul. Lalu tiba-tiba pikiranku teringat sepeda yang ada di garasi. Mendadak aku merasa tubuhku membutuhkan matahari pagi.

Dan… melajulah aku menaiki kereta angin itu. Awalnya aku agak kurang nyaman karena sadelnya kurang tinggi. Tapi sudahlah, aku malas untuk berhenti sejenak menaikkan sadel. Aku mencoba menikmati keadaan sekeliling. Rumput-rumput pinggir jalan sebagian masih berselimut embun. Sesekali ada satu dua bunga rumput warna kuning menyembul. Kelopaknya yang kecil bergoyang tertiup angin lembut, mengingatkanku pada anak-anak yang bersemangat hendak berangkat sekolah. Sederhana, cantik, dan bersemangat. Aku lalu berbelok ke jalan kampung yang lebih sepi. Aku tahu di jalan itu ada belokan yang menuju sawah. Aku tak sabar menghirup udara segar sawah. Menurutku sawah di pagi hari memiliki aroma yang berbeda. Aku kadang menyebutnya aroma hijau. Tapi aneh ya? Aroma kok hijau. Kalau dibilang segar, bukan sekadar segar. Aromanya khas. Aroma hijau itu aroma kesegaran yang bisa mengirimkan sinyal kegembiraan ke otak. Memang agak sulit menjelaskannya. Pokoknya begitulah. Oya, jalan kecil itu menyimpan satu bagian istimewa, yaitu jembatan tua dengan betonan rendah yang sudah berlumut. Di mataku jembatan itu eksotik … seperti bapak-bapak sederhana ramah yang menyimpan banyak kisah. Sungai di bawahnya mengalir tenang. Dangkal memang, tapi airnya jernih dan tampak satu dua batu besar. Aku membayangkan, dinginnya air sungai itu pasti bisa mendinginkan kaki sampai lutut. Tapi aku sudah cukup puas menyaksikan aliran sungai dari atas.

Aku melanjutkan mengayuh sepeda. Di sebelah kiri kulihat sepetak kebun cabai. Buah cabai itu masih hijau kekuningan, beberapa bergerombol menyembul di antara daun-daun kecilnya yang hijau. Di sebelah kanan, berjajar tanaman kacang panjang dengan daunnya yang hijau tua. Tampak satu-dua kacang panjang yang menjulur. Aku teringat, Bapak pernah berkata bahwa kacang panjang paling enak jika dimakan sesaat setelah dipetik. Aku belum pernah mencoba. Tapi mungkin memang benar.

Jalanan agak menurun setelah pertigaan kecil. Di kejauhan kulihat beberapa batang pepaya. Ada satu pohon yang buahnya bergerombol. Pohon yang tampak ringkih itu seperti seorang ibu muda yang digelendoti anak-anaknya. Mungkin itu tanaman pepaya California. Sayang semua buahnya masih hijau. Mungkin aku perlu menyempatkan waktu melewati jalan ini untuk melihat ketika pepaya yang genteyongan itu berubah kekuningan mengilat. Pasti lebih cantik.

Ketika hendak meneruskan perjalanan, kulihat di ujung jalan terpasang sebuah tenda. Lamat-lamat kudengar suara orang mendaraskan doa. Ada yang meninggal kurasa. Sejenak aku tersentak, di antara kehangatan kehidupan yang kurasakan pagi ini, aku diingatkan bahwa hidup yang penuh warna ini suatu saat akan berakhir. Hmmm… mungkin tidak sepenuhnya berakhir, tapi beralih wujud? Seperti musim semi yang kemudian menyerahkan dirinya pada musim gugur. Atau seperti debu musim kemarau yang sangat mendambakan hujan, dan ketika titik-titik air itu turun, debu itu lenyap menyerah pada air.

Aku berbalik arah, kembali ke jalan yang tadi kulewati. Menyusuri sawah berbau hijau, jembatan tua, lalu mengarah ke jalan besar. Tak lama aku sampai di jalan menurun. Sepedaku meluncur tanpa perlu kukayuh. Wuuusss … aku seperti berselancar menembus angin. Udara segar dan kehangatan matahari menyapu kulit. Melayangkan ingatanku pada kenangan-kenangan masa lalu yang membahagiakan, pada tawa dan obrolan dengan sahabat-sahabat hati, pada kisah cinta melankolis Teto dan Atik dalam novel Burung-burung Manyar yang kubaca sesaat sebelum aku bersepeda pagi ini, pada Sang Mahacinta yang seolah tak pernah bosan jatuh cinta kepadaku. Pengalaman bersepeda pagi ini membuatku bersyukur… Sungguh, pagi selalu menyembulkan harapan, menyelipkan semangat, membawakan Cinta. Aku memang tidak membawa kamera untuk merekam pemandangan pagi tadi, tapi aku akan merekamnya dalam ingatan.

Bibi

Ada beberapa hal yang untuk mengawalinya rasanya maleees banget, tapi kalau sudah dilakukan, sebetulnya sangat menguntungkan dan membuat nyaman. Dua di antaranya adalah mandi dan nyapu/ngepel rumah. Kalau mandi, sebetulnya aku lebih rajin dibanding suamiku. 😀 Dan paling senang kalau bisa mandi air hangat. Cuma, aku sering nggak sabar kalau harus masak air dulu. Untuk nyapu/ngepel, itu ada kaitannya dengan bertempur melawan diri sendiri. Haiyah, bahasaku… 🙂 Tahu kan maksudku? Setelah rumah dibersihkan, disapu dan dipel, rasanya kan nyaman. Nah tapi untuk mulai beres-beres, mengambil sapu di belakang, dan seterus … dan seterusnya sampai lantai rumah terasa bersih, itu butuh kemauan. Dulu aku pernah berniat menyapu dan mengepel rumah sehari dua kali. Tapi acara itu hanya berlangsung paling pol satu minggu. Niatnya adalah sekalian olahraga. Tapi kemalasanku memang tidak ada duanya! Hehehe. Setelah itu, standarnya diturunkan jadi sehari sekali. Kalau penyakit malas mulai menggerogoti sedikit, maka acara nyapu dan ngepel menjadi dua hari sekali. Nah, kalau sudah lebih dari itu, berarti memang akunya lagi error. Hihi. Padahal menyapu dan mengepel rumah yang kutinggali saat ini (di Jakarta), tidak terlalu makan waktu dan tenaga. Wong rumah seuplik gitu. Tinggal set… set… set… bersih deh.

Waktu masih tinggal di Jogja, seorang kakak sepupuku memberiku saran, “Cari pembantu saja. Jadi kamu pulang kerja, rumah sudah bersih. Kaya aku nih… aku sengaja cari pembantu pocokan (tidak menginap atau pulang hari-red), tugasnya cuma nyapu, ngepel, nyuci baju, setrika. Pulang kerja sudah nggak sibuk lagi ngurus rumah.”

Aku menggeleng mendengar saran itu. Kupikir aku masih bisa mengerjakannya sendiri. Lagi pula aku merasa rumah yang kutinggali di Jogja itu tidak terlalu besar (jika dibandingkan rumah keluargaku di Madiun). Untuk menyapu dan mengepel, perlu waktu kira-kira satu jam. Kurang lebih ya. Kalau mau cepat, ya 45 menit. Waktu itu aku tinggal dengan kakakku dan kalau dia tidak terlalu sibuk (nggak sesibuk sekarang), dia mau kumintai tolong untuk menyapu.

Nah, masalah timbul ketika aku pindah ke Jakarta dan hanya kakakku yang menempati rumah Jogja. Sepertinya kebanyakan laki-laki memang tidak terlalu peduli apakah rumah sudah dipel atau belum, ya? Dan dia sudah mulai sangat sibuk. Rumah menjadi jarang kena sentuh sapu dan pel. Kan tidak mungkin mendatangkan aku hanya untuk menyapu dan mengepel rumah? Hehe. *Aku serasa pembantu pocokan saja deh…*

Akhirnya, masalah bersih-bersih rumah itu ditanggulangi dengan mempekerjakan asisten rumah tangga kakak sepupuku. Nama asisten itu Mbak Pur. Awalnya aku tidak terlalu berharap banyak pada asisten. (Iya, aku sudah tinggal di Jakarta sih, tapi kan cukup sering ke Jogja juga.) Dan sebenarnya aku punya semacam kekhawatiran kalau-kalau aku tidak cukup cocok dengan asisten. Sering kan kita dengar perselisihan antara asisten rumah tangga dan pemilik rumah? Kadang masalahnya tidak penting-penting amat, tapi kalau kesalahan kecil yang sama berulang terus, kan nyebelin juga. Iya kan? Nah, aku paling malas tuh berurusan dengan hal-hal seperti itu. Kalau ujung-ujungnya berantem, lebih baik tidak usah. Tapi untuuuung banget, Mbak Pur itu tidak seperti yang kukhawatirkan. Aku sama sekali tidak pernah ada masalah dengan dia. Dan aku puas dengan pekerjaannya. Rapi dan bersih. Plus orangnya tidak neko-neko. Semoga hubungan kerja sama kami awet. Eh tepatnya, yang mempekerjakan Mbak Pur itu kakakku, aku hanya ikut menikmati hasil kerjanya. 🙂

Soal asisten rumah tangga ini aku punya cerita lain. Aku punya teman yang rumahnya tak terlalu jauh dari tempat tinggalku di sini. Kawanku ini punya asisten rumah tangga juga, yang biasa dipanggil Bibi. Entah siapa namanya, tapi kalau menyebut Bibi, ya cuma itu orangnya. Entah bagaimana, aku merasakan suatu kedekatan tersendiri dengan Bibi. Padahal aku jarang sih ke rumah temanku itu. Mungkin karena aku merasa Bibi selalu ramah menyambut aku dan suamiku. Ramahnya tidak dibuat-buat.

Perempuan yang sudah cukup senja usia itu biasanya punya cerita untuk kami. Cerita ketika dia dulu jadi transmigran, ketika dia ngidam pete dan dapat pete buanyak banget, ketika dia minum jamu yang membuat badannya jadi lebih gemuk, dan sebagainya, dan sebagainya. Karena pasar tempat kami belanja, aku pernah satu-dua kali bertemu dia di pasar. “Non, non … kok lama nggak main ke rumah? Ayo mampir,” begitu biasanya dia bilang sambil tersenyum lebar. Aku biasanya hanya cengengesan kalau ditanya begitu. “Iya, Bi. Nanti deh kapan-kapan.” Aku pikir, nanti deh kapan-kapan kan masih bisa ketemu Bibi. Lagi pula habis dari pasar dan menenteng belanjaan trus mampir-mampir kan ribet. Terakhir aku bertemu Bibi ketika dia ada di halaman rumah kawanku dan aku kebetulan lewat. Dia menawariku mampir. “Ayo, aku bikinin teh dulu.” Tapi aku menolak karena waktu itu aku hendak ke rumah adik iparku. “Lain kali deh, Bi.” Setiap kali melewati rumah temanku, aku sering berharap menjumpai Bibi di depan. Bertemu Bibi selalu menyegarkan hati.

Sore tadi, aku mendapat telepon dari kawanku yang mengabarkan bahwa Bibi meninggal hari Minggu kemarin. Aku seperti tak percaya sampai beberapa kali mengulangi pertanyaan apakah Bibi itu yang dimaksud. Lagi pula suara di telepon yang putus-putus memperburuk penyampaian berita itu. Tapi memang benar Bibi sudah meninggal. Hari yang mendung dan dingin ini membuat hatiku semakin kelabu. Ah, Bibi …ternyata aku tidak akan pernah sempat lagi menikmati teh bikinan Bibi. Semoga tenang istirahatmu, Bibi.

Nostalgia Klender

Gara-gara jalan di depan rumah ada acara yang memasang pengeras suara besar-besar, kemarin malam aku “mengungsi” ke rumah temanku, Joanna. Daripada malam tidak bisa tidur dan hanya mendengar suara yang memekakkan telinga, mending kabur kan? Untung benar punya teman yang bersedia menampung aku dan suamiku hehe. Makasih ya, Jo!

Menginap di rumah temanku ini mengingatkan aku saat masih tinggal di Perumnas Klender, kira-kira empat tahun yang lalu. Waktu itu aku pertama kali pindah ke Jakarta. Dan daerah itulah yang pertama kali kukenal. Untung saja tinggalku tidak terlalu jauh dari rumah Joanna. Hanya selisih tiga gang. Oya, Joanna ini temanku SMP dulu. Tapi justru selepas SMP (dia SMEA, aku SMA), kami malah sering main. Karena sama-sama sering di Mudika sih dan entah kok sepertinya ada saja ya yang membuat kami sering main. Setelah lulus SMEA dia bekerja di Jakarta. Dan ketika anak perempuannya lahir, orang tuanya menyusul tinggal di Jakarta. Jadi, ketika aku di Jakarta dan tempat tinggal kami berdekatan, aku merasa cukup lega. Setidaknya seperti ada saudara di dekatku. Dia dan keluarganya sangat membantuku ketika awal-awal aku tinggal di Jakarta. Sekarang aku sudah pindah, tidak lagi di Klender tinggalnya. Tapi tidak terlalu jauh kalau mau ke sana. Cukup naik angkot sekali.

Oya, balik ke acara “mengungsi” tadi ya. Tadi pagi, tak berapa lama setelah bangun, dia tanya ke aku, “Mau ke pasar, nggak?” Aku mengiyakan karena ingin membeli beberapa sayuran.

Tak jauh dari perumnas ini ada pasar yang cukup besar. Dulu, kami punya “ritual” bersama pada hari Sabtu pagi, yaitu ke pasar bersama. Pasar itu lumayan besar. Kalau kita pergi ke pasar sebelum jam enam pagi, di pinggir jalan banyak pedagang sayur grosiran. Murah-murah! Dulu sempat tuh aku dapat wortel satu kantong kresek kecil cukup dengan seribu rupiah. Kalau milihnya cermat, bisa dapat sayur yang bagus-bagus juga. Tadi aku ke pasar sudah jam 7 lebih, masih ada beberapa pedagang sayur grosiran. Akibatnya, jalanan depan pasar muacet! Memang bukan tempat belanja yang menyenangkan, tapi kalau mau murah ya mesti mengesampingkan kenyamanan.

Pergi ke pasar pada Sabtu pagi itu seperti mengetuk-ngetuk kenangan awalku di Jakarta. Perasaan yang muncul campur aduk. Tidak senang, tapi tidak juga sedih. Bagaimana ya? Bingung aku menggambarkannya. Mungkin seperti berpetualang. Semacam memacu adrenalin. *Halah, istilahe rek!* Tapi aku merasa cukup beruntung ada Joanna yang menjadi “pemanduku”. Terutama untuk masalah belanja ke pasar ini, aku selama tinggal di Klender, jadi ikut dia belanja ke mana. Pedagang yang jadi langganannya, akhirnya jadi langgananku juga. Beli sayur di mbak yang medok berbahasa Jawa, beli ayam di ibu di dekat jalan belakang, beli ikan di los agak belakang. Dan yang enak sih, dia pandai menawar! Hehehe. Aku kan tidak tegaan untuk urusan yang satu itu.

Selain itu, pengalaman menginap di Klender ini menyisakan penggalan perasaan yang lain. Ceritanya, Joanna selama ini tinggal di situ bersama kedua orang tua, Fani–putri tunggalnya, dan beberapa saudaranya. Tapi beberapa hari lagi kedua orang tua Joanna, Fani, dan keponakannya itu akan pindah ke Madiun. Fani akan melanjutkan sekolah di SMP almamater kami dulu. Rencana ke depan Joanna kemungkinan akan menyusul mereka. Jadi, mungkin ini acara menginapku di Klender semalam yang terakhir, tepatnya saat rumah itu masih terisi lengkap. Beberapa waktu lagi barangkali rumah itu sudah berganti pemilik. Dan aku tidak bisa nostalgia lagi. Sedihkah aku? Hmm … bagaimana ya? Sebetulnya aku ikut senang sih mereka pulang ke Madiun lagi. Toh jika aku pulang ke Madiun, aku masih bisa bertemu mereka. Jadi, tidak sedihlah. Memang kota ini perlu dikurangi penduduknya kok. Hehehe. Tapi satu hal yang aku kenang dari keluarga ini: Mereka menerima aku dengan baik sekali dan sangat membantuku ketika beradaptasi di Jakarta. Menyenangkan jika seorang teman jadi seperti keluarga sendiri. Terima kasih, Jo!

Ketemu di Mana?

Sejak aku tinggal di Jakarta, ada perubahan dalam caraku menanggapi ajakan atau undangan kawan. Misalnya, ketika diajak bertemu kawan. Maka, pertanyaan pertama yang biasanya terlontar adalah, “Ketemu di mana?” Jawabannya bisa membuatku urung untuk mengiyakan undangan atau ajakan tersebut.

Semasa masih tinggal di Jogja atau di Madiun, urusan tempat bertemu kawan sepertinya bukan masalah yang cukup berarti. Bahkan biasanya aku lebih suka bertemu kawan di rumahnya daripada di tempat umum. Ya, kecuali jika memang acaranya di gereja atau di sekolah. Kalau itu sudah jelas. Lagi pula, rumah teman-temanku biasanya mudah ditemukan.

Namun, jika di Jakarta, semuanya berubah. Aku agak mikir-mikir jika hendak bertandang ke rumah kawan. Kenapa? Biasanya cenderung susah dan ribet. Belum kalau rumahnya mesti ditempuh dengan berganti-ganti kendaraan umum. Ancer-ancernya njelimet dan sepertinya harus banyak tanya. Capek deh. (Hanya sedikit rumah kawanku yang pernah kudatangi. Itu karena biasanya jaraknya tak terlalu jauh, tak memaksaku untuk berulang kali ganti kendaraan.)

Pertanyaan “ketemu di mana?” bagiku adalah penting untuk dilontarkan. Jawaban yang membuatku jadi berpikir puluhan kali adalah jika jawabannya (1) menunjukkan suatu daerah yang aku kurang akrab dengan daerah tersebut; (2) menunjukkan daerah yang terkenal karena kemacetannya; (3) jauh–maksudnya lebih dari 1 jam waktu tempuhnya–dan menuntutku untuk berulang kali pindah kendaraan umum (kalau cuma dua kali ganti kendaraan umum, sih itu masih tak apa).

Karena itulah aku lebih suka bertemu kawan di tempat umum. Ujung-ujungnya sih ketemu di mal yang letaknya di tengah-tengah dari lokasi kami masing-masing dan mudah dijangkau (padahal aku tak terlalu suka dengan mal). Tetapi mau bagaimana lagi? Mal atau kafe sepertinya (mau tak mau) menjadi pilihan untuk bertemu teman. Padahal sebenarnya, lebih enak bertandang ke rumah karena suasananya lebih akrab, apalagi jika bertemu dengan teman lama. Dan kalau ke rumah kawan, itu artinya aku tak perlu mengeluarkan uang sampai belasan ribu hanya untuk secangkir teh. He he he.

Aku tak tahu, ada berapa banyak orang yang seperti aku. Maksudnya, yang malas menembus lalu lintas Jakarta yang kemacetan dan polusinya begitu aduhai itu untuk bertemu dengan kawan atau kolega. (Aku tak tahu, barangkali memang ada orang yang menyukai dan benar-benar menikmati kemacetan lalu lintas Jakarta. Barangkali memang ada yang merindukan kemacetan dan menganggapnya aduhai dalam arti literal.) Tetapi kalau tempatnya masih terjangkau, tak apa-apa. Acap kali aku lebih memilih mengurangi pulsa atau chatting di depan laptop sambil duduk menikmati teh tawar hangat plus pisang rebus kesukaanku. Lebih hemat; tidak terlalu capek dan tidak terlalu berat di ongkos 🙂