75

Aku tak ingat nomor ponselmu secara lengkap. Aku hanya ingat nomor terakhirnya. 75. Dua angka itu saja. Mungkin karena angka itu mengingatkanku pada bakpia favorit Simbah putri.

Ah, ya. Kau ingat simbah putriku kan? Aku yakin kau ingat. Kau pernah mampir ke rumah Simbah, dan kau mendengarkan cerita Simbah dengan sabar. Seingatku, setelah itu Simbah selalu menanyakan dirimu.“Ning, pacarmu sing tau nggawakne aku bakpia kae ning endi saiki? Mbok dijak mrene meneh.” Aku selalu terkesiap setiap kali Simbah putri menanyakanmu. Dengan pertanyaan itu seolah Simbah putri sudah memberikan restu kepada kita. Mungkin itu hanya asumsiku.

Senja ini aku kembali teringat padamu. Ah, kapan aku tak ingat padamu? Selalu ingat. Selalu ingin menyentuh deretan angka berakhiran 75 itu lalu mendengar suaramu.

Ingatanku selalu mengantarkanku pada suaramu. Pada percakapan ringan yang kita nikmati. Pada petang yang sering kita lalui dengan diawali janji lewat telepon.
“Dik Ning, nanti kujemput pukul 6 ya?”
Ya, ya… aku ingat betul intonasimu; tegas sekaligus lembut ketika menyebut “Ning.” Dik Ning. Cuma kamu yang memanggilku Ning. Tak mungkin aku lupa. Dadaku berdebar ketika benakku mengantarkan kenangan kita.

Sore ini aku kembali ingin meneleponmu. Mendengar suaramu. Rinduku sudah bertumpuk-tumpuk. Ah, tapi kutunggu saja teleponku berdering. Lalu terbaca namamu yang muncul di layar.

Menguping Obrolan Dua Wanita

Siang itu aku naik sebuah mikrolet. Angkot itu tak banyak penumpangnya. Hanya lima orang termasuk aku. Empat yang lain adalah anak sekolah. Di dekat sebuah mal, naik dua wanita. Salah satu dari mereka menggendong bayi dan menuntun seorang bocah perempuan sekitar dua tahun. Aku bergeser ketika mereka di mulut pintu angkot itu. Kulihat ibu yang menggendong bayi itu agak kerepotan karena selain harus menggendong bayi, dia pun perlu mengangkat anak perempuannya naik tangga angkot yang cukup tinggi. Sesampai di dalam angkot, mereka langsung menempati bangku yang kosong. Si ibu bayi persis duduk di sebelahku, sedangkan wanita satu lagi di seberangnya. Sepertinya mereka bersaudara–mungkin kakak-adik.

Tak lama mereka pun langsung memenuhi angkot dengan suara percakapan mereka. Ibu itu angkat bicara, “Duh repot deh bawa dua anak. Sekarang (aku) nggak pernah bisa pergi-pergi.” Wanita di seberangnya hanya mendengarkan. Termasuk aku ikut menguping. Eh, tidak menguping ya kalau suara mereka cukup keras, dan mau tak mau telingaku menangkap pembicaraan mereka.

Bocah perempuan kemudian merengek minta duduk, yang dijawab si ibu: “Mau duduk di mana? Sudah penuh.” Anak itu lalu berlendotan di dekat kaki ibunya. Kemudian ibunya mengamati hidung si bocah. “Waduh, kamu ingusan pula.” Dibersihkannya ingus anaknya dengan jari, tanpa tisu atau sapu tangan. Bocah itu tertawa-tawa. Kemudian dia menunjuk-nunjuk tas tantenya.
“Mau apa?” tanya si tante.
Bocah itu hanya menunjuk-nunjuk bulatan kecil warna perak penghias tas si tante.
“Itu nggak bisa diambil,” jawab ibunya. Dan… menangislah si bocah.
“Aduh, kamu minta apa sih? Bilang dong,” ujar tantenya lagi. Anak itu hanya menunjuk-nunjuk tidak jelas. “Oh, tisu? Bilang yang bener dong.”
(Dalam hati aku bertanya-tanya, anak itu sudah bisa bicara atau belum ya?) Setelah diberi tisu, anak itu asyik mengutik-utik hidung dan ingusnya dengan tisu. Wajahnya gembira.

Tak lama kemudian si tante bertanya, “Dari turun angkot nanti, naik ojek berapa ongkosnya?”
“Mana gue tahu,” jawab si ibu.
“Masak elu kagak tahu?”
“Gue kagak pernah pergi-pergi lagi.” Dia menunduk memandang si bayi. “Duh, untung ya dulu gue udah puas mainnya sebelum kawin. Setelah kawin gue kagak bisa pergi-pergi. Ngurusin dua ini,” tambahnya.
“Ha… ha… ha… Untung di gue ya?” jawab si tante. “Gue belum kawin. Biar aja orang tanya, ‘Kapan?’ ‘Kapan?’ Ah, peduli amat.”
“Iya, puas-puasin deh main sebelum kawin. Ntar biar nggak nyesel setelah kawin.”

Terdengar bunyi dering telepon genggam. Rupanya itu bunyi ponsel si tante. Sementara itu ponselku berbunyi. Ada SMS masuk. Kubaca sekilas lalu kusimpan ponselku. Aku tak terlalu menyimak kata-kata si tante yang sedang bertelepon. Tapi si tante tak lama berbicara.

“Siapa?” tanya si ibu.
“Biasa, abang lu.”
“Ngapain?”
“Ah…” si tante mendecakkan lidah. “Makin parah dia sekarang,” tambahnya. Binar matanya mendadak pudar. Mungkin ada yang tidak menyenangkan, pikirku.

Kulihat pemandangan di luar angkot. Aku hampir sampai. “Pojok depan, ya Bang!” seruku kepada sopir angkot. Aku turun.

Pembicaraan dua wanita itu masih terekam di benakku. Aku lalu teringat obrolan dengan seorang teman beberapa waktu lalu. “Aku pengin kawin,” katanya ringan. Aku tertawa mendengar kata-katanya. Bukan apa-apa, kawanku ini beberapa kali pacaran dan putus terus. “Memangnya sekarang pacarmu siapa? Mbok aku dikenalin.” Kalau dia bilang pengin kawin, asumsiku dia sudah punya pacar.
“Nggak punya pacar aku.” Dan ngakaklah aku.
“Asem, malah diketawain,” ujarnya.
“Emang kenapa kamu kok tiba-tiba bilang pengin kawin?”
“Semua temanku sudah menikah. Tinggal aku yang belum. Mereka kalau ketemu ngomongin soal anak dan istri atau suaminya. Lha trus aku ngomongin apa? Pacar nggak punya. Kerjaan ya begini-begini saja.” Mestinya temanku itu mendengar pembicaraan dua wanita di angkot tadi.

Seseorang memasuki pernikahan dengan impian di kepalanya. Yang namanya impian, tentunya indah-indah kan? Tapi barangkali ketika semua debar yang mengiringi rasa jatuh cinta itu usai, tinggallah kenyataan. Kenyataan itu bisa lebih baik dari impian yang dibayangkan sebelum memasuki pernikahan, bisa juga lebih buruk. Lalu aku teringat kalimat yang kulontarkan kepada kawanku sebelum kami mengakhiri obrolan tak jelas kami, “Serius, kamu pengin kawin?” Menurutku, pernikahan itu tidak wajib. Pernikahan itu mungkin perlu dipasangi embel-embel: “Menikahlah bila perlu–dan bila mau memperjuangkan keyakinan bahwa hidupmu akan jadi lebih baik dengan menikah.”

Sepeda: Sebuah Kerinduan dan Kebebasan

Kapan kamu mulai bisa naik sepeda? Dibanding teman-teman sebayaku, aku lebih lambat. Baru ketika naik kelas 4 SD aku bisa naik sepeda. Sebelumnya aku takuuut! Memang dasar penakut aku ini. Sebelumnya aku sudah pernah belajar naik sepeda, tapi aku beberapa kali jatuh dan kapok. Jatuhnya sih tidak seberapa. Tapi waktu itu kuku jempol kakiku sempat nggasruk aspal, sehingga copot dan berdarah-darah. Jadi, aku sempat mandeg tidak mau latihan naik sepeda cukup lama.

Lama aku mengubur keinginan untuk bisa naik sepeda. Ketika menyaksikan teman-teman sebayaku bisa naik sepeda, kok aku jadi pengin ya? Akhirnya aku mencoba latihan lagi. Aku ingat, dulu aku latihan naik sepeda di dekat stadion. Di sana ada lapangan kecil yang cukup rindang dan sepi. Seingatku aku tidak terlalu lama latihan dan akhirnya bisa. Mungkin saking penginnya, jadi akhirnya cepat bisa. Meskipun begitu, aku tidak pernah bisa memboncengkan teman. Tidak pernah latihan. Sampai sekarang pun aku tidak bisa. Aku hanya bisa memboncengkan orang lain saat naik sepeda motor.

Selama ini, sepeda yang kumiliki tidak pernah sepeda yang baru. Aku selalu dapat lungsuran. Sepeda pertamaku adalah sepeda mini merah bekas milik kakakku. Ketika aku memakai sepeda mininya, dia punya sepeda jengki. Setelah dia melanjutkan SMA di Jogja, aku ganti memakai sepeda jengkinya. Dulu sempat pengin sepeda federal (waktu aku SMP, sepeda model itu lagi tren), tapi tidak pernah kesampaian. Sepeda-sepedaku dibarui hanya dengan dicat ulang. Warnanya memang jadi kinclong dan membuatku pangling.

Ya, sejak kelas 4 SD sampai aku SMA, sepeda adalah salah satu bagian hidupku. Hampir selalu aku naik sepeda untuk beraktivitas ke sekolah dan ke gereja. Waktu SMA, aku memang mulai naik sepeda motor, tapi untuk ke sekolah aku tetap naik sepeda atau jalan kaki.

Ketika aku kuliah di Jogja, aku tidak membawa sepeda. Waktu itu aku merasa cukuplah aku naik angkot dan jalan kaki. Tapi dalam hati, aku kangen juga naik sepeda. Entah kenapa aku waktu itu tidak memutuskan membawa sepeda, aku tak ingat. Mungkin karena aktivitasku hanya di kampus dan asrama. Lalu setelah lulus, aku mulai naik sepeda motor di Jogja. Sepeda motor jadi bagian yang tak terpisahkan. Menurutku, Jogja kurang bersahabat kendaraan umumnya. Tidak bisa diandalkan. Jadi, kalau mau lebih leluasa ke sana-sini, paling enak naik sepeda motor.

Sekarang aku tinggal di Jakarta dan… aku suka kangen naik sepeda. Tapi aku tetap tidak membawa sepeda ke sini. Aku pikir, tidak terlalu efektif. Lagi pula, kota ini terlalu besar untuk dikelilingi dengan sepeda dan lalu lintasnya kurang bersahabat. Belum lagi polusinya. Jadi males deh bawa-bawa sepeda ke sini.

Rasa-rasanya, ceritaku tentang sepeda tadi biasa saja. Aku pun selama ini merasa, perempuan sepertiku bisa naik sepeda itu hal yang biasa. Begitu pula soal kekangenanku naik sepeda yang sekarang seringnya kutumpahkan saat aku pulang ke Jogja. Itu pun juga kalau bangunku tidak kesiangan. Lalu apa istimewanya ceritaku soal sepeda itu? Aku tersadar bahwa aku bisa naik sepeda semasa kecil dulu adalah hal yang istimewa ketika menyaksikan film Wadjda kemarin di Erasmus Huis. Aku tidak punya ekspektasi apa pun saat akan menyaksikan. Malahan aku agak bingung waktu membaca sinopsis film itu pada awalnya. Dikatakan bahwa Wadjda (si tokoh utama di film itu) pengin beli sepeda. Apa istimewanya keinginan anak perempuan punya sepeda? Hampir semua anak bisa naik sepeda kan? Tapi rupanya sepeda itu adalah simbol. Simbol kebebasan.

Jadi, ceritanya ada anak perempuan di Arab Saudi bernama Wadjda. Dia masih SD. Kesanku, anak itu bandel. Tapi yaaa… bandelnya anak-anak. Biasa. Menurutku, dia agak lain daripada teman-temannya yang lain. Dia berani dan punya kemauan keras. Dan sepertinya dia tidak ingin cepat-cepat dinikahkan seperti hal kebiasaan yang lazim di sana. Dia cuma pengin sepeda warna hijau agar bisa berlomba naik sepeda dengan Abdullah, temannya yang suka menggoda dia. Di film itu terlihat hanya dia yang punya teman laki-laki. Sepertinya di sana memang dibatasi pertemanan antara laki-laki dan perempuan–bahkan untuk anak-anak.

Saking penginnya Wadjda punya sepeda, dia melakukan segala cara. Mulai dari merayu ibunya, jualan gelang buatannya sendiri–yang akhirnya ini pun dilarang oleh gurunya karena dipandang suatu hal yang tidak pantas (atau haram?), menjadi kurir surat teman sekolahnya yang ditujukan kepada teman pria. Suatu hari dia berniat ikut lomba menghapal ayat Al-Quran. Dia pun ikut semacam kegiatan ekstra keagamaan agar bisa berlatih. Alasan utama ikut lomba itu adalah, jika memenangkan lomba menghapal Al-Quran tersebut, uangnya cukup untuk membeli sepeda.

Di situlah aku merasa bahwa sebagai seorang perempuan, aku cukup merasakan kebebasan di negara ini. Aku tidak bisa membayangkan jika untuk hal-hal remeh saja aku dibatasi misalnya tidak boleh naik sepeda, tidak boleh berteman dengan laki-laki. Apa enaknya hidup seperti itu? Terlebih lagi, apa enaknya jadi warga kelas dua?

Pada akhirnya, Wadjda berhasil memenangkan lomba menghapal ayat Al-Quran. Dia jadi juara satu. Terang saja guru-gurunya kagum dan takjub. Anak nakal itu sudah berubah, pikir mereka. Tibalah saat penyerahan piagam dan hadiah. Wadjda dipanggil ke panggung, lalu ditanya uang yang didapatnya itu mau buat apa. Dengan polosnya gadis cilik itu menjawab akan memakainya untuk membeli sepeda. Semua temannya tertawa. Gurunya terhenyak. Ternyata anak ini belum berubah, pikir bu guru bermata tajam itu. Tahu apa yang dilakukan ibu guru itu? Dia memutuskan hadiah uang untuk Wadjda itu disumbangkan ke Palestina. Waktu mendengar keputusan guru itu, aku ikut sebal. Apa-apaan sih? Jelas itu haknya Wadjda. E… enak saja dia mau menyumbangkan uang tersebut. Tapi Wadjda hanya diam menanggapi keputusan sepihak gurunya.

Sesampainya di rumah, Wadjda tidak menjumpai ibunya. Hanya ada ayahnya (yang tampaknya pulang sesekali saja). Ternyata, si bapak hari itu memutuskan akan menikah lagi karena ibu Wadjda yang cantik itu tidak bisa memberikan anak laki-laki. Duh, rasanya pengin nampol si bapak itu deh. Di akhir film itu diperlihatkan Wadjda menjumpai ibunya di loteng sedang merokok. Rambut ibunya yang panjang dan indah sudah pendek. Mungkin itu adalah bentuk perlawanan ibunya setelah suaminya memutuskan menikah lagi. Selain itu, Wadjda akhirnya mendapat sepeda yang diidamkan dari ibunya. Akhir yang manis, menurutku.

Menyaksikan film itu rasanya campur aduk: kesal, geli, marah, dan merasa ngenes. Aduuuh… kenapa ya ada yang seperti itu di belahan dunia lain? Memang itu bukan kisah nyata, tapi itu potret budaya. Film itu disutradarai oleh Haifaa al-Mansour, seorang wanita Arab. Itu adalah film pertama yang syutingnya keseluruhan dilakukan di Arab Saudi, yang mana ini adalah sesuatu yang sangat sulit dilakukan di sana karena budayanya yang sangat didominasi laki-laki.

Aku merasa beruntung menyaksikan film ini. Selain gratis, rasanya kemarin itu adalah satu-satunya kesempatanku untuk menyaksikan Wadjda. Rasanya tak mungkin film seperti ini bisa ditayangkan di bioskop Indonesia. Setelah menyaksikan film itu aku merasa bersyukur di negara ini kaum perempuan masih dihargai dan bisa menikmati kebebasan. Setidaknya waktu kecil, aku bisa naik sepeda dengan gembira keliling kota. Baru kusadari, tidak semua perempuan bisa menikmati bersepeda dengan bebas.

Jika tertarik, silakan menyaksikan wawancara Haifaa al-Mansour di sini dan ini trailernya.

//